Rated: T

Disclaimer: These chara is totallu belongs to Mashasi Kishimoto, but this fic is officially mine.

Warning: Bahasa gajelas, alur lompat-lompat, setting gajelas, OOC tingkat dewa, Crack pairing dsb

SasuTen slight ItaTen

Couple words from author:

Yaay! akhirnya author kembali membawa chappy tujuh hehehe, maaf ya gabisa apdet cepet berhubung sedang puasa jadi ya otak agak susah diajak komunikasi, but akhirnya aku bisa melanjutkannya hehehe ._. oke aku mau bales reviews dulu yaa.

Eida-san: Iya mereka emang bener-bener crack ._. gaada hints nya sama sekali di manga tapi siapa tau nanti pas Sasuke pulang ke konoha dia bakal pdkt sama Tenten ._. pengganti Neji begitulah :'( sunshine becomes you? ah! iya aku pernah baca kok ._. tapi cuman sekilas, aku emang ngerasa agak mirip sih ._. gatau hanya kebetulan atau bagaimana :/ tapi yang jelas ceritanya bakal beda banget karena novel sunshine becomes you bakal berakhir sedih, kalo ini engga. aku gamau bikin fic yang charanya ada yang mati ._. wkwkwk .-. kalo Neji kayaknya aku gadapet feelnya dan juga fic ini request dari temenku hihi .-. karena menurut aku meski Neji sama Sasuke sama-sama dingin, ada perbedaannya. Sasuke tuh kayak lebih -ehem- kekanak-kanakan trs yagitu deh (maap ya kalo kamu Sasuke fc ataupun ada yang Sasuke fc ._.) dan Neji tuh kayak lebih dewasa ._. jadi gapantes kan kalo mereka berantem cuman gara-gara hal sepele ._. waduh Hiashi dan Tenten?! O.O gakebayang deh itu terlalu Crack wkwkwk ._.sangat mengerikan, bayangin aja glatin tomat dengan saus tomat -_- betapa asemnya tuh glatin wkwk, choco bon-bon itu kayak permen coklat bulet-bulet yang dipeprek (bahasanya kampung bet ye 'peprek' wkwk) jadi bubuk gitu ._.

Fumiyo Nakayama: huwaa reviewsmu yang pertama masuk kok, pm mu juga udah aku bales. ya itu adalah kesalahannya sendiri yang mau terlibat dengan Sasuke (?) wkwk, iya disini Tenten engga kenal sama Neji ._. ahahaw aku lagi kangen sama Neji makanya nama dia aku masukin beserta haring sobanya juga ._. huahahaha, dan Sasuke sepertinya gasuka Tenten merasakan kenyamanannya dan segera menghancurkan mood Tenten ._. wkwk *plak. Huwaa kalo soal ItaTen di fic ini emang ada kok meskipun slight :p hihi. huwa makasih ya kalo menurutmu ceritanya menarih (: semoga aja bisa login lagi ya, aminn o:)

MORPH: iya ini udah aku apdet, silahkan dibaca. makasih yaa ;)

Yosh! semua udah dibales, okee langsung aja ya chappy 7!

Chapter 7

Secercah sinar matahari pagi berusaha berdesakan masuk lewat celah-celah tirai. Tenten mengerjapkan matanya beberapa kali karena sinar matahari yang menyengat wajahnya. Setelah menggeliat kecil didalam selimutnya, gadis itu merentangkan kedua tangannya dan akhirnya duduk dengan mata yang masih setengah terpejam diatas tempat tidurnya. Setelah menguap lumayan lebar Tenten pun segera beranjak dari tempat tidurnya dan menyeret langkahnya menuju kamar mandi, berdiri didepan wastafel keramik dan memandangi wajah mengantuknya lewat pantulan cermin.

Tenten sedikit kaget ketika mendapati rambut auburnya yang terlihat mencuat kemana-mana, seperti seekor singa. Tenten memutuskan untuk segera menyikat giginya. Setelah menghabiskan beberapa menit membersihkan tubuhnya, Tenten segera meraih tas tangan beserta mantel dan melangkah keluar dari apartemen mungilnya. Tenten melirik kearah jam tangan berwarna coklat yang melilit ditangan kanannya, baru jam tujuh, Tenten masih punya setengah jam untuk mampir ke kedai dango yang berada didekat apartemennya. Ya, satu-satunya kedai dango yang ada di New York city, satu-satunya tempat yang selalu mengingatkan Tenten darimana ia berasal.

Beberapa menit kemudian, Tenten sudah sampai di sebuah kedai mungil. Kedai itu benar-benar kental akan kesan Jepang, membuat Tenten merindukan kampung halamannya, membuat Tenten merindukan panti asuhan tempatnya dibesarkan, membuat Tenten merindukan Tsunade-baa-chan dan teman-teman lainnya. Mata hazel nut Tenten melebar ketika mendapati kedai begitu ramai.

'Kami-sama, aku tidak pernah menduga kedai ini bisa sebegini ramainya.' Batin Tenten, gadis itu harus mengantre dibelakang empat pelanggan lainnya. Padahal biasanya di pagi hari seperti ini hanya ia yang datang. Beberapa menit kemudian, tibalah giliran Tenten untuk memesan dango.

"Paman tiga tusuk dango ya." Ujar Tenten dengan menggunakan bahasa Jepang. Ah bibirnya terasa sedikit aneh ketika berbicara bahasa Jepang, sudah lima tahun Tenten menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-harinya. Tenten melirik kearah jam tangannya, sudah jam tujuh lewat lima belas. Tenten yakin bahwa dirinya pasti terlambat datang kerumah Sasuke dan yang berarti Sasuke akan memberikan tatapan tajam sebagai sambutan.

"Ini dia pesananmu, Tenten. Ada lagi yang bisa kubantu?"

"Ah iya, aku pesan tiga tusuk lagi." Ujar Tenten, berharap dengan membelikan Sasuke beberapa tusuk dango bisa membuat laki-laki itu tidak menatap Tenten dengan tajam, atau setidaknya tidak mengomel.

xXx

'Gadis itu belum datang.'

Sasuke memberengut seraya menatap jam dinding yang bertengger diatas piano tuanya. Sudah pukul delapan tepat dan gadis itu belum juga datang, hebat. Hebat sekali.

Perlu kalian ketahui bahwa Sasuke sudah uring-uringan setidaknya dalam kurun waktu tiga puluh menit belakangan. Dan ia akan tetap uring-uringan sampai ia mendapatkan kopi paginya. Ia butuh kopi. Ia butuh gadis itu untuk membuatkannya kopi. Kalau nyali gadis itu ciut dan tidak datang lagi ke apartemennya, Sasuke terpaksa harus keluar apartemen dan membeli kopi hambar yang beberapa hari yang lalu sempat ia cicipi. Dan ia akan kebingungan lagi saat akan membuka pintu apartemennya dari luar.

Sasuke menatap lurus kearah tuts pianonya dan suasana hatinya kembali suram. Tadinya Sasuke berharap dengan bermain piano atau setidaknya menatap tuts piano akan membuat jiwanya lebih rileks. Tapi tidak. Itu salah. Sangat salah. Sasuke malah semakin frustasi karena tuts itu seolah mengingatkannya akan tangan kanannya yang patah, atau terkilir lebih tepatnya.

Tapi apa pedulinya? Terkilir dan patah, apa yang membuatnya berbeda. Tetap saja Sasuke tidak bisa membuat kopinya sendiri, tetap saja Sasuke tidak bisa memainkan piano sampai setidaknya bulan depan, tetap saja Sasuke tidak bisa bermain di recital dan tetap saja Sasuke harus membayar semua ganti ruginya. Sasuke menghela nafas panjang lalu menggerutu dan berjalan mondar-mandir disekitar ruang duduk.

'Kemana gadis itu?! Bukankah aku sudah mengatakan dengan sangat jelas bahwa gadis itu harus berada disini, disini berdiri disini jam setengah delapan tepat, tidak kurang dan tidak lebih? Apa otaknya kekurangan oksigen saat itu sehingga membuatnya tidak bisa mencerna kata-kata yang terperinci dengan sangat jelas. Sangat sangat jelas. Apa memang dia-'

Bel iterkom berdering keras, membuat lamunan Sasuke buyar. Sasuke melangkah lebar menuju tombol intercom yang berada disamping pintu apartemennya dan menekannya. "Ini aku-" tanpa menunggu kata-kata lain meluncur dari bibir malaikat mautnya, Sasuke segera menekan tombol untuk membuka pintu depan gedung dan menunggu. Dua menit kemudian, bel pintu apartemennya pun berbunyi.

Sasuke membuka pintu dengan satu sentakan cepat dan mendapati malaikat mautnya tengah sibuk dengan ponsel ditelinga dan satu tusuk bola-bola kecil di mulutnya. Begitu melihat aura mematikan yang terpancar dari Sasuke, Tenten segera bergumam. "Baiklah, akan kita bicarakan tentang perpindahan jadwalmu lain kali, Dorris." Alis Sasuke berkerut.

"Kau terlambat." Katanya ketika gadis itu selesai memasukan ponselnya ke saku celana. "Empat puluh tiga menit." Tenten tersenyum kecil, berharap senyuman itu bisa membuat hati Sasuke luluh dan berhenti memberikan tatapan tajam kearahnya. "Aku tahu. Maaf." Ujar Tenten sambil melangkah masuk kedalam apartemen Sasuke dan menjauhkan tusuk dango dari mulutnya.

"Jadi, kau sudah sarapan?" Tanya Tenten seraya menggantungkan mantelnya di gantungan mantel. "Aku tidak butuh sarapan, aku butuh kopi."

Tenten meletakan sekantung plastic diatas meja kopi Sasuke dan melangkah menuju dapur. "Baiklah, akan kubuatkan kopi untukmu."

"Jadi, kenapa kau terlambat? Bukankah aku sudah bilang padamu kau harus berada disini pukul setengah delapan tidak kurang dan tidak lebih."

"Maaf, aku tidak mengira kedai dango nya akan seramai itu."

"Kau bekerja di kedai dango?" Tanya Sasuke sambil menyipitkan matanya.

"Oh tidak, aku selalu mampir ke kedai itu setiap hari rabu untuk membeli beberapa dango dan memakannya diperjalanan sebagai sarapan."

"Hn." Gumam Sasuke seraya melangkahkan kakinya menuju sofa dan menghempaskan tubuhnya disana. Beberapa detik kemudian, laki-laki itu melirik kesamping dan mendapati Tenten masih berdiri disana.

"Apa yang kau lakukan? Kau sendiri yang bilang kau akan membuatkan ku kopi bukan?"

"Oh ya! Benar." Ucap Tenten seraya membalikan badannya dan melangkah menuju dapur, namun ia teringat akan sesuatu dan menoleh kearah Sasuke.

"Omong-omong soal dango, aku tahu kau berasal dari jepang, begitupun denganku, aku yakin kau tidak asing dengan dango bukan? Dan kupikir setelah menetap di negeri orang selama beberapa tahun, kau akan merindukan jepang. Jadi aku membelikanmu beberapa tusuk dango. Lagipula, kau belum sarapan bukan? Kau bisa memakan dango-dango itu selama menungguku membuat kopi." Sasuke mengamati kantung plastic dihadapannya seraya mengernyit kecil. Jujur saja Sasuke masih kurang yakin dengan gadis itu, ia masih khawatir jika malaikat mautnya akan menaruh racun dimakanannya. Dan lagi, selama ia hijrah ke Jepang untuk mengisi waktu liburan, ia tidak pernah mencicipi dango.

"Tidak usah, aku tidak butuh sarapan." Ucap Sasuke datar. "Kau ini bicara apa, semua orang butuh sarapan, tidak mungkin kau hanya meminum kopi sebagai sarapan bukan?"

"Ya."

"Cobalah sedikit."

"Tidak."

"Kenapa? Kau takut aku menaruh racun tikus disana?" Sasuke mendongak ketika mendengar nada kesal yang melengkapi kalimat gadis itu.

"Mungkin." Sahutnya. "Itu bisa saja terjadi." Sasuke mengamati bola mata hazel Tenten yang menyipit serta bibirnya yang terkatup rapat, seolah-olah gadis itu menahan dirinya untuk tidak mencekik Sasuke atau menelan Sasuke bulat-bulat, gadis itu menghela nafas panjang sebelum akhirnya berkata.

"Perlu kau ketahui bahwa tidak ada toko penjual racun disekitar kawasan permukimanku, kau bisa mengeceknya jika kau mau. Lalu kemarin, aku tidak punya waktu sama sekali untuk keluyuran mencari toko racun tikus, kau bisa menanyakan jadwal mengajarku pada pengelola skate rink jika itu perlu."

"Bisa saja kau membelinya dihari ketika kau menubrukku, setelah kakakku yang baik hati mengantarmu pulang, setelah kau membentakku." Tenten mengepalkan tangannya lalu menjawab dengan nada kesal.

"Kami-sama! Makan saja, kau tidak perlu menghabiskannya jika kau tidak mau." Sasuke tidak menjawab, laki-laki itu menatap sekilas kearah bungkusan plastic yang belum tersentuh diatas meja kopinya lalu kembali menatap kearah Tenten. "Mana kopiku?" Mendengar pertanyaan Sasuke membuat Tenten mendengus kesal seraya melangkahkan kakinya menuju dapur.

Beberapa menit kemudian, Tenten sudah kembali dengan secangkir kopi ditangannya. Sasuke masih duduk ditempatnya sambil mencoret-coret sesuatu diatas secarik kertas. Bungkusan plastic berisi kue dango yang ia beli beberapa menit yang lalu masih belum berubah bentuk. Tenten hanya bisa menghela nafas panjang dan meletakkan secangkir kopi diatas meja kopi Sasuke.

Uchiha bungsu langsung meraih kopinya dan menyesapnya. Setelah itu ia menatap kearah Tenten.

"Kau bisa mulai membereskan rumahku, semua yang kau butuhkan ada di lemari disamping dishwasher dan ingat." Sasuke menyipitkan matanya dan melanjutkan kata-katanya. "Jangan sentuh kertas-kertasku."

Tenten hanya mengangguk kecil dan menghambur kearah dapur sementara Sasuke beranjak ke kamarnya setelah menyesap habis kopinya.

Sasuke menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidurnya, tangan kirinya menggenggam sebuah majalah musik yang dibelinya kemarin ketika mengunjungi beberapa sponsor bersama Naruto. Beberapa detik kemudian, suara nyaring penyedot debu tertangkap oleh Sasuke, membuat kepala laki-lai itu berdenyut. Sasuke sangat membenci semua hal yang bising, karena hal yang bising bisa membuat kepalanya berdenyut dan meledak.

Sasuke mendengus kesal seraya meraih headphone beats hitamnya, menaruhnya di kedua telinga dan memutar lagu klasik dengan volume tinggi.

xXx

sasuke melepaskan headphone di telinganya dengan kasar dan membantingnya ke tempat tidur. Laki-laki itu menjauhi keyboard nya dan berjalan mondar-mandir didalam kamarnya. Ini benar-benar menyiksanya. Bermain piano atau setidaknya keyboard dengan satu tangan sangat menyedihkan, ditambah lagi ia belum mendapat inspirasi. Semua ini karena tangan kanannya yang patah oh well terkilir dan tangannya terkilir gara-gara gadis itu. Omong-omong soal gadis itu…

sasuke berhenti melangkah dan menatap pintu kamarnya, ia memiringkan kepalanya, mencoba memasang telinga. Tidak ada suara apapun disana, hening. 'Kemana suara memekakan telinga itu?'

Sasuke melirik kearah jam tangan G-Shock hitam yang melingkar ditangan kirinya. Ternyata sudah cukup lama juga Sasuke mengurung diri dikamar. Awalnya Sasuke berniat untuk melanjutkan lagunya karena sungguh, ia sangat bosan. Tidak ada yang bisa ia lakukan dengan benar di apartemennya. Sasuke mendengus kesal seraya membuka pintu kamarnya, menjulurkan leher jenjangnya keluar pintu. Tidak ada siapa-siapa disana.

'Apa gadis itu sudah pulang?' Sasuke mengangkat kedua bahunya tak peduli seraya melangkahkan kakinya menuju dapur, berharap masih ada sisa kopi disana, dan harapan Sasuke terkabul. Sepertinya gadis itu sengaja menyisakan kopi untuknya. Sasuke membawa secangkir kopi menuju ruang duduk dan menghempaskan tubuhnya disana, hah akhirnya tenang dan damai. Baru saja Sasuke hendak menyesap kopinya, bunyi gemuruh mendera perutnya. Laki-laki itu menjauhkan cangkir dari mulutnya dan mendesah kesal.

Lapar, itu yang ia rasakan. Ia lapar. sasuke lapar dan gadis itu lenyap entah kemana yang berarti Sasuke harus menelpon delivery service atau keluar apartemen dan membeli makanan diluar yang berarti Sasuke harus memikirkan cara agar ia bisa membuka pintu dari luar. Bagus sekali.

Sasuke memutar bola mata onyxnya yang akhirnya secara tak sengaja terpaku pada kantung plastic yang tergeletak di meja kopinya. Sasuke menatap bungkusan itu sejenak, menimbang-nimbang dalam hati.

'Perutku lapar, dan aku harus makan sesuatu apapun itu.' Batin Sasuke. Setelah menghela nafas panjang, laki-laki itu mengulurkan tangannya untuk meraih bungkusan plastic berwarna putih itu dan mengeluarkan isinya. Sebuah kotak kayu berwarna coklat dengan tulisan kanji bertengger di tangannya. Sasuke memiringkan kepalanya, berusaha membaca tulisan kanji itu, hh sepertinya ia sudah benar-benar melupakan jepang. Sasuke mendengus seraya membuka kotak itu, mata onyxnya terpaku pada tiga tusu bola-bola berwarna coklat dihadapannya. 'Jadi ini yang namanya dango.' Gumam Sasuke dalam hati.

Baiklah, ia akan memakan benda ini. Perutnya sangat lapar, ia tidak ingin mengunyah sofa atau menelan pianonya, jadi dia harus memakan dango ini, satu-satunya makanan yang tersedia di apartemennya. Lagipula, gadis itu sudah pergi bukan? Dengan ragu, Sasuke menggigit bola berwarna coklay itu dan mengunyahnya. Hei, rasanya tidaklah buruk, malah menurut Sasuke lumayan enak. Sasuke akhirnya merasa lebih tenang setelah makan.

Tepat ketika Sasuke tengah mengunyah bola dango terakhir, bel pintunya pun berbunyi. Sasuke berdiri seraya berjalan menuju pintu, laki-laki itu merasa bingung kenapa bel apartemennya yang berbunyi, bukan bel interkomnya? Apa salah satu tetangganya datang berkunjung? Tidak mungkin, Sasuke benar-benar mengenal lingkungan tempatnya tinggal, semua tetangganya terlalu sibuk dengan dunianya masing-masing, sama seperti Sasuke ya setidaknya tiga hari yang lalu sebelum malaikat mautnya datang dan membuat tangannya patah. Sasuke membuka pintu dan sedikit tersentak ketika berhadapan langsung dengan malaikat mautnya, malaikat maut yang tengah memeluk satu kantung karton ditangannya. "Hai." Sapa gadis itu kelewat riang, seolah dirinya dan Sasuke sudah berteman sangat sangat lama. Tak lama, gadis itu melangkah melewati Sasuke yang masih berdiri di ambang pintu.

"Kau mau ramen untuk makan siang?" Sasuke mengerjap menatap Tenten yang langsung berjalan menuju dapurnya, seolah Tenten sudah terbiasa melakukan hal itu. Tenten meletakkan bungkus kartonnya keatas counter marmer dan mengeluarkan beberapa bungkus ramen instant.

"Apa ini?" Tanya Sasuke yang berdiri tak jauh dari Tenten. "Tiba-tiba saja salah satu muridku memintaku untuk datang ke ice rink, karena kupikir tugasku membersihkan rumah sudah selesai aku langsung pergi, tadinya aku ingin memberitahumu, tapi saat kuketuk pintu kamarmu tidak ada yang menyahut jadi asumsiku kau sedang beristirahat dan saat aku kembali dari ice rink, kuputuskan untuk mampir ke toko swalayan dan lihat apa yang kutemukan." Tenten meraih sebungkus ramen instant penuh dengan kanji jepang dan menyodorkannya ke wajah Sasuke, seolah Sasuke harus dan wajib melihatnya.

"Top ramen edisi gold! Jarang sekali toko swalayan di New York atau Negara lain selain jepang yang menjualnya!" Seru Tenten yang diakhiri dengan senyuman lebar. Sasuke memalingkan wajahnya seraya menghela nafas panjang. "Lalu bagaimana kau bisa membuka pintu dibawah? Kau membawa kunciku?"

"Tentu saja tidak." Bantah Tenten cepat seraya kembali sibuk membuka bungkus ramen instant dan mulai mengolahnya sambil menggumam tak jelas.

"Apa katamu?" Tanya Sasuke sambil menyipitkan kedua matanya.

"Aku bilang, pintu bawah terbuka lebar." Ujar Tenten, meski begitu Sasuke yakin bahwa bukan itu yang digumamkan oleh malaikat mautnya. "Jadi aku langsung masuk." Tambah Tenten.

"Kau sudah memastikan menutup pintunya setelah kau masuk?"

"Tentu saja." Ujar Tenten yang mulai menuangkan air panas kedalam kemasan ramen instant nya. "Jadi kau membeli ramen?"

"Yap seperti yang kau lihat." Ujar Tenten sambil memindahkan ramennya ke mangkuk berwarna hitam. "Jadi, kau mau ramen untuk makan siang? Atau kau sudah kenyang makan dango?"

Sasuke mengerjap tak percaya, ia terkejut karena gadis itu bisa tahu bahwa Sasuke sudah menghabiskan dango tadi. Tetapi bukan Sasuke namanya kalau tidak bisa menyembunyikan ekspresinya. "Tiga tusuk dango tidak bisa membuatku kenyang." Sasuke membalikan tubuhnya seraya melangkah kearah ruang duduk, namun langkahnya terhenti. "Pastikan saja ada semangkuk ramen di meja makanku dalam waktu lima menit."

Tenten mendengus kesal namun ia tidak menggubris kata-kata Sasuke.

"Oh ya, Sasuke." Laki-laki itu menghentikan langkahnya tanpa menoleh kearah Tenten. "Hn?"

"Eh… omong-omong kau tidak ingin pergi kemana-mana hari ini?"

"Pergi kemana?"

"Entahlah. Maksudku, kalau kau bosan di rumah dan ingin pergi ke suatu tempat err misalnya mengunjungi teman lamamu, atau mengunjungi kakakmu.. atau kemanapun. Aku bisa mengantarmu."

"Kau berniat mengusirku dari rumahku sendiri?" Tenten memejamkan matanya, berusaha menahan gejolak amarah yang mulai terpompa didalam tubuhnya. "Lupakan saja, aku juga tidak tahu mengapa aku bertanya."

Sasuke mengangkat kedua bahunya dan berjalan menuju ruang duduknya. Meski Sasuke berkata begitu, kata-kata Tenten berputar dikepalanya. Bosan dirumah. Meski hal enggan, Sasuke mengakui bahwa ia merasa bosan berada dirumah.

Yosh! chappy 7, bagaimana Minna? apa lebih baik dari yang kemarin? atau malah lebih buruk:(? ohiya! aku lupa bilang. aku mau minta maaf sama minna-san kalo seandainya aku lama apdetnya, berhubung sedang berpuasa dan sudah kembali sekolah yang berarti pr pr sudah berdatangan, aku jadi gabisa apdet terlalu cepet :( harap kalian memaklumiku ya hehehe, tapi janji kok aku pasti bakal apdet hehe, terakhir reviewsnya yaa minna :*