Rated: T

Disclaimer: These chara is totally belongs to Mashasi Kishimoto, but this fic officially mine

Warning: Bahasa gajelas, alur lompat-lompat, setting gajelas, OOC tingkat dewa, Crack pairing, dsb

SasuTen slight ItaTen

Read it with ur own risk(:

Couple words from author:

Hi minna! maaf ya atas absensi author yang kelewat lama ini :( dikarenakan insiden got beberapa hari yang lalu authopr jadi gabisa jalan ke kamar (kamar author dilantai 2) yang berarti gabisa maenan kompi huhuhu :( tapi aku berusaha naik keatas dengan duduk ngesot demi bisa nge apdet fic ini T.T hihihi. oke aku bales reviews kalian dulu yaa.

: hai :) gapapakok makasih ya sudah repot-repot me reviews fic karya amatiran ini :) hehe, waduh kalo soal Sakura aku gaada planing buat masukin dia di fic ini ._. karena tanpa fic ini fic yang berchara Sakura sudah banyak banget hehe ._. (gomenasai kalo kamu salah satu penggemar Sakura ._. *nunduk-nunduk) hehe.

Fumiyo Nakayama: wahaha daripada kelaperan? akhirnya sasuke terpaksa memakan dango pemberian Tenten meski agak gengsi hahaha ._. aduh aku belom pernah nih ._. pengen nyobain juga, kayaknya enak ._. (apalgi pas liat guy-sensei bringas banget makan dango di Naruto SD wkwkwk ._.) nyahaha seperti biasa fic author pasti lebih dari 10 chap ._. hehe, tenang aja pelan-pelan aku mulai dapet ide buat fic NejiTen hehe.

Akira-Ken: makasih sudah aku apdet, maaf ya agak lama hehehe silahkan dibaca yaa :)

MORPH: sudah aku apdet nih silahkan dibacaa hehehe

Plain Vanilla: Yoo long time no see banget nih hehe, waduh haha ._. iya ini fic request pertamaku hehe. wahaha baguslah kalo kamu suka sama pairnya, soalnya banyak yang gasuka dengan SasuTen karena terlalu Crack ._. apalagi dengan hadirnya Itachi ._. menambah ke Crack an fic ini wahaha, nyahaha Itachi di fic ini memang mulai ada rasa-rasa sama Tenten :) kan dia masih kesel sama Tenten yang bikin tangannya -ehem- terkilir, sekarang aku tau bener rasanya terkilir kayak Sasuke sakit bgt :( haha, di chap ini khusus momen ItaTen kok hehe semoga kamu suka yaa (:

Oke semua reviews sudah dibalas, sekali lagi author minta maaf yaa karena apdetnya kelamaan :( okee langsung aja tanpa basa-basi lagi chappy 8..

Chapter 8

Tenten membalas lambaian murid-muridnya yang keluar dari arena ice rink. Setelah memastikan semua muridnya pulang dan semua toko disekitar ice rink sepi,Tenten meluncur kearah tas pinknya yang tergeletak di sudut ice rink, gadis itu mengeluarkan satu keeping CD beserta VCD player portable yang selalu ia bawa ketika mengajar. Tenten meletakan player mungilnya diatas tas dan memasukan kepingan CD kedalamnya. Ia menekan tombol play dan segera meluncur ke tengah-tengah ice rink yang luas. Tak lama, alunan theme songs 007 james bond madley mengalun lembut dan secara naluriah tubuh Tenten pun begerak mengikuti irama.

Saat-saat yang paling membahagiakan bagi Tenten adalah ketika ia bisa kembali meluncur dengan bebas di arena ice rink yang luas. Tenten selalu menunggu saat-saat seperti ini, saat keadaan department store sepi dam tiada siapapun disana, karena dengan begitu Tenten bisa meluncur dengan bebas, tanpa khawatir ada orang yang memergokinya dan membuatnya gerogi. Tenten meluncur ke penjuru ice rink dan bersiap untuk melakukan manuvernya, double axels. Dan dengan secepat kilat, Tenten sudah berputar diudara, tubuhnya terasa ringan, dua kali lebih ringan seolah semua tulangnya lepas, seolah dirinya hanya seenggok kapas. Tenten mendarat dengan sempurna diatas permukaan es yang dingin dan keras, dan akhirnya pertunjukan selama 5 menit dua puluh tiga detik itu diakhiri dengan arabesque penchee yang indah.

Ketika lagu benar-benar berakhir, Tenten mendengar suara tepuk tangan diarah pintu masuk arena ice rink. Tenten menoleh dan mendapati sosok laki-laki bertubuh tinggi dengan mata gelap berdiri disana, melambai kecil kearah Tenten. Laki-laki itu tersenyum ketika Tenten meluncur menghampirinya, membuat pipi serta sekujur tubuh Tenten merasa panas, bahkan Tenten khawatir es disekelilingnya bisa mencair.

"Itu adalah double axels, toe loop, pirouette dan arabesque penchee paling sempurna yang pernah kulihat, tak heran kau menjadi anak emas Clinton Figure Skating School." Tenten mencengkram pembatas arena ice rink dengan kedua tangannya. Gadis itu tersenyum simpul. "Terimakasih, Itachi-senpai. Tapi, kenapa kau bisa tahu semua teknik itu?" Tanya Tenten sambil menyipitkan kedua matanya.

"Aku tahu banyak tentang Clinton Figure Skating School." Ujar Itachi sambil tersenyum miring, Tenten memiringkan kepalanya dan secara tak sengaja melirik kearah pin keemasan yang bertengger di kemeja Itachi. Pin berwarna emas dengan bentuk sepatu ice skating. Tentu saja! Tapi sejak kapan Itachi mengenakannya?

"Kau… lulusan Clinton Figure Skating School?" Tanya Tenten yang tanpa sadar mencondongkan tubuhnya kearah Itachi dengan mata terbelalak kaget, membuat laki-laki berambut panjang itu melangkah mundur.

"Ya, bisa dibilang begitu." Ujar Itachi sambil tertawa renyah. Kedua bola mata Tenten melebar, ia sangat kaget. Tentu saja, siapa yang mengira ternyata Itachi adalah seorang figure skater juga, sama seperti dirinya. Belum lagi, mereka berasal dari sekolah yang sama.

"Tapi kenapa aku tidak pernah bertemu denganmu?" Tanya Tenten yang segera menarik tubuhnya ketika menyadari jaraknya dengan Itachi terlampau dekat. "Itu karena aku adalah seniormu, Tenten. Aku terlebih dulu lulus dari sana." Tenten mengangguk kecil. Ia tidak pernah menyadari keberadaan Itachi di sekolah ice skatingnya itu.

"Kenapa kau bisa berada disini?" Tanya Tenten.

"Aku baru saja selesai memeriksa pembukuan café selama seminggu belakangan, ketika aku mengunci pintu café dan berniat pulang, aku mendengar alunan musik james bond madley lalu akhirnya aku melihatmu tengah meluncur disana." Jawab Itachi yang dilengkapi dengan senyuman manis. Tenten mengangguk kecil.

"Ketika mendengar lagu tadi dan melihatmu… entahlah, itu sangat indah. Indah sekali. tak heran Clinton Figure skating school menobatkanmu sebagai bond woman." Ucap Itachi sambil terkekeh lembut, wajah Tenten kembali terasa panas begitu mendengar pujian dari Uchiha sulung yang berdiri dihadapannya.

Clinton Figure Skating School, adalah salah satu surga bagi para figure skater pemula yang memiliki potensi tinggi dan salah satu sekolah figure skater terkemuka di dunia. Para skater yang lulus dari Clinton Figure Skating School biasanya akan merintis karir menjadi figure skater dunia, bahkan tak jarang ada yang memenangi berbagai kejuaraan skating terkenal didunia, seperti Vancouver misalnya.

Ketika Tenten masih kecil, ia sering melihat olimpiade Vancouver lewat layer kaca. Tenten terhipnotis oleh para skater dunia yang meluncur dan menari diatas sepatu beralas pisau baja itu. Ketertarikan membuat Tenten akhirnya mendalami dunia figure skating, dan saat itu di tengah musim dingin dibulan desember, secara tak sengaja Tenten melihat pertunjukan figure skater yang dibawakan oleh para anak didik dari Clinton Figure Skating School, sejak saat itu impian terbesar Tenten adalah belajar menjadi figure skater disana. Tempat Tenten tinggal yang jauh dari peradaban membuat Tenten kesulitan untuk berlatih, Tenten hanya bisa meluncur diatas es ketika musim dingin datang, bermodal dengan sepatu ice skating usang, Tenten berlatih. Hingga akhirnya suatu hari, Tenten mendapat berita bahwa Clinton Figure Skating School membuka pendaftaran di Tokyo, ibu kota Jepang.

Dengan bermodal tekad yang kuat, Tenten memberanikan diri untuk meninggalkan kampung halamannya menuju Tokyo. Awalnya Tenten sempat minder dengan para figure skater amatir lainnya, mengingat banyak sekali skater amatiran yang mendaftar disana, bisa mencapai ribuan jumlahnya sementara Clinton Figure Skating School hanya akan menerima sekitar 5-7 persen dari total pendaftar. Namun Tenten berhasil membuat para juri berdiri dan bertepuk tangan padanya lewat lagu james bond madley yang mengalun mengiringinya.

Dan hari itu dimana Tenten menerima surat yang menyatakan bahwa dirinya diterima adalah hari yang paling membahagiakan dalam hidupnya. Impiannya terwujud, ia akhirnya bergabung dengan keluarga besar Clinton Figure Skating School yang selalu diimpikannya. Dan tahun-tahunnya meluncur di Clinton Figure Skating School merupakan tahun-tahun terbaik dalam hidupnya. Tenten bersama para skater amatiran lainnya disulap menjadi seorang figure skater professional. Banyak teman-teman sesama figure skaternya yang saat ini sedang meniti karir dengan mengikuti perlombaan musim dingin bergengsi atau olimpiade lainnya, tak jarang ada yang menjadi pelatih skater amatiran dan koreografer yang akhirnya meraih sukses.

Bahkan sebelum lulus dari sekolah skating itu, Tenten sempat mendapat tawaran untuk bergabung dalam satu management terkemuka dan di latih secara eksklusif oleh Jackson Heines, legenda figure skater yang juga lulusan dari Clinton Figure Skating school. Tenten menyanggupi tawaran itu dan sempat mengikuti kompetisi olimpiade world figure skating terkenal didunia, namun suatu insiden membuat segala harapan Tenten pupus.

"Tenten, kau baik-baik saja?" Tenten tersentak kaget, ia lupa bahwa Itachi masih berdiri dihadapannya. "Ya, aku baik-baik saja, Itachi-senpai." Laki-laki dihadapannya hanya tersenyum simpul.

"Ah iya, Itachi-senpai." Laki-laki itu menatap mata hazel Tenten. "Bisa aku bertanya sesuatu padamu?"

"Hn… ya tentu saja." Tenten menggigit bibir bawahnya sebelum akhirnya ia bertanya. "Kenapa kau tidak bergerak dibidang ice skating? Maksudku… kenapa aku tidak pernah melihatmu menyentuh permukaan es lagi, Itachi-senpai." Itachi termenung sesaat, laki-laki itu tak menjawab pertanyaan Tenten dan langsung duduk di salah satu kursi besi yang disediakan oleh pengelola ice rink. Melihat sikap Itachi yang tak wajar, membuat Tenten melankah keluar dari ice rink dan duduk disamping Itachi.

"Maafkan aku kalau pertanyaanku tadi me-"

"Tidak apa-apa Tenten, aku tidak tersinggung sama sekali." ujar Itachi sambil tersenyum simpul.

"Hanya saja, bagiku saat ini… aku lebih menikmati melihat seorang skater meluncur dipermukaan es daripada mendapati diriku meluncur disana."

"Tapi kenapa?" Tenten sedikit terkejut dengan pernyataannya, sungguh sebenarnya ia tidak ingin mendesak Itachi, tapi entah kenapa mulutnya bergerak sendiri. Itachi menatap lurus kedepan, memandangi arena ice rink yang sekarang sudah kosong.

"Ice rink membawa kenangan buruk tersendiri bagiku." Mendengar perubahan suara Itachi membuat Tenten sedikit bergidik, sementara Itachi menghela nafas panjang, berusaha menenangkan kepalanya yang berdenyut, berusaha menghilangkan kenangan yang berusaha masuk kedalam otaknya.

Ya kenangan yang berusaha ia kubur selama lima tahun, entah mengapa meski sudah lima tahun berlalu sejak insiden itu, kenangan itu masih saja berputar di kepalanya, setiap malam sebelum laki-laki itu terlelap. Itachi memejamkan matanya seraya menghela nafas panjang.

"Aku juga mengalami kejadian buruk dengan ice rink." Itachi sedikit kaget dengan nada suara Tenten yang turun satu oktaf dari sebelumnya.

"Tapi… entahlah, aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa menyentuh ice rink." Ujar Tenten sambil tersenyum samar.

"Aku pernah kehilangan seseorang di arena ice rink." Kali ini Tenten yang tersentak kaget, gadis itu menoleh kearah Itachi. Laki-laki itu terlihat sangat berbeda, tidak ada senyuman sejuta watt yang selalu membuat Tenten tersenyum sendiri, tidak ada tatapan hangat yang menyambut Tenten, tidak ada.

"Itachi-senpai?"

"Bisa aku percaya padamu, Tenten?" Tanya Itachi yang membalas tatapan Tenten, gadis itu hanya bisa mengangguk kecil.

"Aku kehilangan tunanganku ketika mengikuti olimpiade di Vancouver, lima tahun yang lalu." Tubuh Tenten menegang, jujur dirinya sangat kaget. Karena ia tidak pernah menyangka Itachi pernah terikat tali pertunangan, Kami-sama! Tenten berani jamin seorang ratu gossip seperti Ino pun pasti tidak akan mengetahui hal ini.

"Dia berusaha melakukan double axels, seperti yang kau lakukan beberapa menit yang lalu, tapi sayangnya pijakan kakinya tak cukup kuat dan membuatnya terjatuh." Itachi menghela nafas panjang, lalu kembali meneruskan ceritanya.

"Ia terjatuh, dengan kepala membentur permukaan es. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, dan karena itulah aku lebih memilih untuk menjauhi ice rink." Tenten hanya bisa terdiam, meski begitu Tenten yakin bahwa jauh didalam lubuk hati Itachi, laki-laki itu masih ingin tetap menjadi seorang figure skater. Tenten pun memutuskan untuk berdiri, gadis itu berjalan kearah rak tempat sepatu ice skating di sewakan, mengambil salah satunya dan meletakannya di samping kaki Itachi.

"Aku tahu kau memiliki alasan yang jelas mengapa kau tidak ingin meluncur lagi, tapi aku yakin jauh didalam lubuk hatimu, kau ingin kembali ke arena ice rink, apakah aku benar? Itachi-senpai?" Itachi hanya bisa menatap mata hazel nut yang membalas tatapannya, jujur dirinya kaget ketika secara tiba-tiba Tenten meletakan sepasang sepatu ice skating disebelah kakinya.

"Itachi-senpai, sudah waktunya kau melupakan masa lalu dan melanjutkan kehidupanmu, melakukan apa yang kau sukai." Kali ini bola mata pekat Itachi terbelalak kaget, entah mengapa ucapan sederhana Tenten membuat hati Itachi tergerak, dan tanpa kehendaknya kedua tangannya meraih sepatu beralas pisau baja dan mengenakannya. Itachi pun berdiri dan mengulurkan tangannya kearah Tenten.

"Kau mau menemaniku meluncur, Tenten?" Pipi Tenten kembali terasa panas, jantungnya bergedup dengan kencang, meski begitu tangan mungil Tenten tetap menyambut tangan besar Itachi. Dan beberapa detik kemudian, Itachi dan Tenten sudah meluncur di arena ice rink. Itachi merasa dua kali lebih baik, seolah setelah meluncur diatas arena ice rink telah membuat beban dihatinya menghilang sementara Tenten, jantungnya tak bisa bergedup secara teratur karena selama mereka meluncur, Itachi tak pernah melepas genggaman tangannya. Itachi merasa, dirinya sangat ringan, dan entah mengapa keberadaan Tenten disebelahnya juga membuatnya sedikit… entahlah, Itachi sendiri tidak bisa mendeskripsikannya, seolah hatinya yang selama bertahun-tahun membeku kini mencair dan itu semua karena keberadaan gadis yang bagaikan matahari disampingnya.

Akhirnya setelah tiga puluh menit meluncur diatas arena ice rink, kedua manusia itu keluar dari arena.

"Sudah malam, kita harus pulang jika tidak ingin dikurung semalaman disini." Ujar Itachi yang akhirnya melepaskan genggaman tangannya ketika mereka berada diluar arena ice rink.

"Ah iya, kau benar." Ucap Tenten sambil menundukan kepalanya. Tiba-tiba saja, Tenten bisa merasakan sebuah tangan yang besar dan hangat menyentuh kepalanya. "Aku lebih suka melihat dua bola kecil dikepalamu, Tenten."

Jantung Tenten kembali berdetak tak beraturan bahkan sekarang dadanya terasa sesak. Tenten menggigit bibir bawahnya seraya mengangkat wajahnya, dan kembali Tenten mendapati bahwa bola mata pekat itu tengah menatap kearah mata hazel nya. 'Kami-sama! Kenapa suasananya jadi seperti ini?!' Pekik Tenten dalam hati. Untungnya suara deringan ponsel membelah kebekuan diantara mereka, Tenten langsung meraih ponselnya.

'Besok buatkan aku kopi jam setengah delapan tepat, tidak kurang dan tdak lebih-Sasuke.' Tenten mendengus kesal, lihat bagaimana Sasuke bisa menghancurkan suasana hati Tenten dengan satu pesan singkat?

"Kau baik-baik saja, Tenten?"

"Ah… tentu saja." Jawab Tenten yang kembali menaruh ponselnya di saku celana. "Let me guess, Sasuke yang mengirimmu pesan? Memintamu untuk kembali kerumahnya pukul setengah delapan tepat?" Tenten menyipitkan matanya. "Darimana kau tahu?"

"Aku sudah mengenal adikku lebih lama dibanding siapapun." Jawab Itachi sambil tersenyum simpul. "Jadi kau akan kembali ke apartemen Sasuke besok?"

"Yah, janji tetaplah janji." Ucap Tenten dengan berat hati, Itachi memiringkan kepalanya, menatap Tenten sejenak sebelum akhirnya mencondongkan tubuhnya. Dan dengan satu gerakan cepat bibir tipis Itachi menyentuh kening Tenten, membuat gadis itu berdiri mematung.

Tubuh mungil Tenten terasa ringan ketika benda lembut nan hangat menyentuh keningnya. Gadis itu hanya bisa terbelalak kaget dan menikmati saat-saat itu. Tak lama kemudian Itachi menarik dirinya menjauh, membiarkan Tenten bernafas. Sedangkan Tenten sendiri berusaha menenangkan degupan jantungnya, dirinya masih sangat kaget dengan aksi tiba-tiba Itachi.

"Itu sebagai ucapan terimakasihku karena sudah menemaniku meluncur tadi." Tangan mungil Tenten menyentuh dahinya, ditempat bibir Itachi berada beberapa menit yang lalu. "Wajahmu merah sekali, apa kau demam?" Tenten hanya bisa menggeleng lemah, lidahnya kelu, dia terlalu shock!

"Baiklah, lebih baik aku pulang sekarang, masih ada beberapa berkas yang harus aku periksa." Ujar Itachi sambil melepaskan sepatu ice skatingnya.

"Kau juga harus segera pulang dan beristirahat, besok pasti akan jadi hari yang sangat melelahkan." Tambah Itachi sambil kembali menepuk kepala Tenten sebelum akhirnya membalikan tubuhnya dan pergi.

Sementara Tenten hanya bisa terpaku disana, mata hazel nya mengikuti siluet Itachi yang semakin jauh. Kemudian seulas senyum kecil muncul di bibir Tenten. Meski enggan Tenten mengakui bahwa dirinya menyukai Uchiha Itachi.

Bagaimana ItaTen nya? hehehe semoga kalian suka dengan chappy ini. semoga chappy ini bisa membayar kesalahan aku huhuhu :( oke segini aja aku harus istirahat lagi biar cepet sembuh hehe, jaa ne minnaa :*