Rated: T
Disclaimer: These chara is totally belongs to Mashasi Kishimoto, but this fic officially mine
Warning: Bahasa gajelas, alur lompat-lompat, setting gajelas, OOC tingkat dewa, Crack pairing dsb
SasuTen slight ItaTen
Read it with ur own risk(:
Couple words from author:
Minna-sann! maaf baru bisa apdet sekarangg. karena udh mulai masuk sekolah aku jadi semakin sibuk maaf ya maaf. sebagai permintaan maaf chap ini agak lebih panjang dari biasanya :) oh iya aku bales reviews dulu yaa..
Fumiyo Nakayama: ahaha aku memang sempat mendalami dunia ice skating makanya fic ini berkisah tentang seorang figure skater hehe, soalnya aku suka banget ice skating (: iyaa, tapi tenang aja Itachi udah mulai bangkit kok dan sepertinya itu karena Tenten juga ... hehe, Neji kan udah milik aku ;p ahaha.. oh iya maaf ya aku baru on sekarang :(
MORPH: makasih makasih, maaf apdetnya lama banget :( ini udah aku apdet silahkan dibacaa hehe..
Princess Louis: Iyaa gapapa kok hehe, ini sudah aku apdet kokk..
Yusvirades1: ahaha syukurlah kalo kamu suka sama pairingsnya hehe, iyaa makasih hehe. maaf ya lama bgt apdetnya hehe.
Chapter 9
Tenten menekan bel intercom dan menunggu Uchiha Sasuke membukakan pintu dari atas seperti biasa, namun kali ini suara laki-laki itu terdengar di intercom. "Tenten?"
"Ya ini aku."
"Kau bawa mobil?"
"Tentu saja, kenapa?"
"Tunggu disana."
Tenten pun akhirnya memutuskan untuk mengikuti kata-kata Sasuke, gadis itu menghempaskan tubuhnya di tangga batu didepan gedung dan menunggu Sasuke. Tenten menghela nafas panjang seraya menopang dagunya dengan kedua tangan, dan secara tiba-tiba ponselnya berdering. Dengan kalang kabut, Tenten mencari ponselnya di saku, setelah berhasil menemukannya Tenten membaca tulisan di layer ponselnya yang berkedip.
"Itachi-senpai? Ada apa?" Kata Tenten riang setelah menempelkan ponselnya di telinga. "Apa kau sedang berada dirumah adikku?"
"Apa? Ya tentu saja, ada apa?"
"Tidak, aku hanya ingin bertanya apa kau akan mengajar nanti siang?"
"Ah, tentu saja aku akan mengajar nanti siang, memangnya kenapa, Itachi-senpai?" Itachi tidak langsung menjawab, laki-laki itu menghela nafas panjang sebelum akhirnya menjawab. "Aku hanya merindukanmu meluncur di depan café ku, Tenten." Seketika itu juga Tenten merasakan pipinya memanas. Gadis itu tertawa kecil. "Ah… Itachi-senpai-"
Tiba-tiba terdengar suara berdeham dibelakangnya. Tenten berbalik dan menengadahkan kepalanya menatap Uchiha Sasuke yang membalas tatapannya dengan kening berkerut.
"Ah.. Itachi-senpai, sepertinya aku harus segera pergi, akan kutelpon nanti." Tenten menjauhkan ponselnya dari telinga, berdiri dan menepuk-nepuk bagian belakang celana jeans abu-abunya. "Jadi, ada apa?" Tanyanya pada Sasuke.
Sasuke terlihat enggan sebelum akhirnya laki-laki itu berdeham sekali dan berkata "Antarkan aku kerumah sakit."
"Kenapa? Apa tanganmu bermasalah? Apa yang terjadi?" Sasuke kembali menatap Tenten dengan dahi berkerut. "Tidak ada, aku hanya ingin dokter memeriksanya dan mengganti perbannya."
"Oh."
"Naruto sedang rapat, dia tidak akan bisa mengantarku, sedangkan Itachi sedang sibuk dengan pembukuan café nya, jadi" Laki-laki itu memalingkan wajahnya. "Pilihannya hanya taxi atau kau." Sasuke kembali melirik kearah Tenten yang masih tak bergeming sebelum akhirnya menghela nafas panjang.
"Mungkin sebaiknya aku memanggil taxi saja." Tenten memutar kedua bola mata hazel nutnya "Sudahlah, aku akan mengantarmu kerumah sakit." Ujar Tenten sambil menuruni tangga batu dan melangkah menuju mobilnya. Sasuke pun mengikuti gadis itu dari belakang, Tenten membuka pintu penumpang dan berkata. "Masuklah."
"Ini mobilmu? Mini cooper? Paceman? Kuning?"
"Ya, ya, ya dan ya. Memang kenapa?"
"Aku tidak bisa naik mobil ini." Tenten mengangkat sebelah alisnya "Mengapa tidak?" Sasuke menunjuk mobil Tenten dengan tangan kirinya yang tidak di bebat. "Tidak akan ada laki-laki yang mau terlihat menaiki mobil ini dan warnanya, kuning!" Tenten menoleh kearah mobilnya sebelum akhirnya kembali menatap Sasuke. "Memangnya kenapa? Mobil ini imut."
"Itulah masalahnya. Imut." Ujar Sasuke dengan penekanan pada kata 'imut'.
"Lalu kau mau kita memakai mobilmu? Boleh saja aku tidak keberatan sama sekali."
"Dan mengambil resiko kau menghancurkan Porche Cayman-ku? Have a dreams!"
"Kalau begitu." Tenten tidak melanjutkan kalimatnya, gadis itu hanya mengayunkan tangannya kearah mobil. "Lagipula bukan kau yang mengemudi, tapi aku. Jadi masuk saja, oke?" Sasuke masih menggerutu ketika akhirnya laki-laki emo itu mau masuk kedalam mobil Tenten. Menurutnya mobil ini terlalu kecil. "Kurasa kakiku bisa kram." Gumamnya.
"Kakimu tak lebih dari dua meter." Kata Tenten datar. "Tunggu! Jangan duduki jaketku!" Tenten meraih jaketnya dengan cekatan sebelum akhirnya menggantungkannya di kursi pengemudi.
"Clinton?" Tanya Sasuke dengan nada tak percaya. "Kau benar-benar lulusan Clinton Musical School atau seseorang memberikanmu jaket ini?"
"Bukan hanya kau yang lulusan Clinton, kau tahu?" Balas Tenten yang akhirnya menghempaskan tubuhnya di belakang kemudi dan memasang sabuk pengaman. "Tolong pasang sabuk pengamanmu."
"Jadi kau benar-benar lulusan Clinton Musical School?" Gumam Sasuke sambil memasang sabuk pengaman lalu tertegun. "Darimana kau tahu kalau aku lulusan Clinton?"
"Itachi bercerita padaku." Jawab Tenten santai. "Kapan?"
"Oh sudah lama sekali, sebelum kau kembali dari recitalmu di Madrid kalau tidak salah." Sasuke masih menatap gadis yang mengemudi disebelahnya.
"Jadi kau lulusan Clinton Musical School? Tapi kenapa kau malah mengajar ice skating?" Tanya Sasuke dengan alis terangkat, Tenten tertawa renyah.
"Baka, tentu saja aku bukan lulusan Clinton Musical School."
"Lalu?"
"Aku lulus dari Clinton Figure Skating School." Jawab Tenten singkat, Sasuke terbelalak kaget. Berarti gadis ini satu sekolah dengan kakaknya? Apa itu berarti kakaknya sudah lama kenal dengan gadis ini? Apa itu sebabnya kakaknya begitu peduli pada Tenten?
xXx
Sasuke keluar dari pemeriksaan dengan bebat baru di tangannya dan pernyataan dari dokter bahwa tangannya tidak akan bisa sembuh secara ajaib dalam waktu dua minggu, dan itu berarti ia harus bersabar. Bersabar? Bagaimana ia bisa bersabar jika setiap hari ia melihat tangannya tergantung tak berdaya? Rasanya ia ingin menghancurkan sesuatu. Sasuke menghela nafas panjang dan menoleh kearah deretan kursi tunggu di depan ruang pemeriksaan. 'Dimana gadis itu? Katanya ia akan menunggu di sini, dikursi tunggu? Tapi kemana dia sekarang?' Sasuke melempar tatapannya ke sekitar lalu mata onyxnya berhenti pada sosok gadis berambut auburn panjang yang berdiri didekat meja perawat. 'Tak salah lagi itu pasti dia.' Gumam Sasuke dalam hati. Gadis itu sepertinya sedang berbicara dengan seorang laki-laki paruh baya berkaca mata tebal ber frame kotak.
Si dokter terlihat menanyakan sesuatu padanya dan Tenten menjawabnya sambil tersenyum, dan tak sengaja gadis itu melirik kearah Sasuke. Mata hazel nut gadis itu melebar sedikit sebelum akhirnya kembali menoleh kearah dokter, berkata sesuatu dan beranjak pergi menghampiri Sasuke. Tapi langkahnya terhenti ketika dokter itu mencengkram tangannya dan mengatakan sesuatu lagi. Gadis itu menyentuh tangan si dokter, membuat dokter itu melepaskan cengkraman tangannya dan membiarkan Tenten pergi.
"Apa kata dokter?" Tanya Tenten ketika sudah berdiri dihadapan Sasuke. Sasuke tidak bertanya tentang topic pembicaraan antara malaikat mautnya dan si dokter, menurutnya itu bukan urusannya dan Sasuke tidak mau terlibat dengan apapun yang berkaitan dengan gadis bernama Tenten yang tak salah lagi berdiri dihadapannya. "Aku masih tidak diperbolehkan menggunakan tanganku."
"Tenanglah, kau akan baik-baik saja." Hibur Tenten.
"Mudah bagimu untuk mengatakannya." Dengus Sasuke. Tenten mengabaikan kata-kata menusuk Sasuke, hei sepertinya ia sudah mulai terbiasa dengan semua itu. "Sekarang kau mau pergi kemana? Pulang?" Tanya Tenten.
Sasuke terdiam sejenak, entah mengapa setelah ia membicarakan Clinton bersama gadis itu tiba-tiba saja ia ingin menemui guru pianonya. Sudah lama sekali ia tidak bertemu guru yang sudah membimbing dulu. Namun belakangan ini Sasuke tidak mempunyai waktu luang untuk sekedar duduk dan berbincang sambil menikmati segelas kopi dan beberapa potong biscuit. Tapi sekarang berbeda. Karena tangannya tidak bisa digunakan yang otomatis membuat Sasuke menjadi seorang pengangguran, ia memiliki seluruh waktu didunia untuk melakukan hal-hal yang belum sempat ia lakukan di tengah kesibukannya. Seperti mengunjungi guru-gurunya dan teman-temannya.
"Aku ingin mengunjungi guruku." Gumam Sasuke.
"Baiklah, dimana rumahnya?" Tanya Tenten sambil mengeluarkan kunci mobil dari saku mantelnya. "Sudah lebih dari jam makan siang." Gumam Sasuke sambil memperhatikan jam tangan G-shock yang melingkar di tangannya.
"Aku berani jamin ia sedang berada di sekolah." Sasuke menurunkan tangannya. "Kita ke Lincoln Centre." Tambah Sasuke.
"Lincoln Centre? Maksudmu kita ke Clinton?"
"Ya."
"Kau tahu, susah sekali mencari parkir disaat seperti ini."
"It's not my business, kau cukup menurunkanku di lobby lalu kau bisa bebas mencari parkir sendiri. Aku akan menelponmu ketika kau sudah selesai." Ujar Sasuke yang berjalan mendahuli Tenten, sementara Tenten hanya bisa menggerutu kesal seraya mengikuti Sasuke dari belakang.
xXx
Mengobrol tentang musik dan hal-hal menyenangkan lainnya dengan orang yang 'sepaham' memang membuat waktu cepat berlalu. Tak terasa hampir dua jam Sasuke mengobrol dengan beberapa guru-gurunya, mengenang masa lalu dan menceritakan tentang kabar masing-masing. Seharusnya Sasuke lebih sering melakukan ini dulu, mengambil waktu luang untuk sekedar bersantai dan berbincang-bincang dan tidak mengurung diri di apartemen selama berhari-hari.
"Senang sekali bisa bertemu denganmu, Sasuke." Salah satu gurunya yang terlihat paling tua diantara yang lain, Mr. Pitterson menyentuh pundak Sasuke ketika laki-laki itu hendak berpamitan. "Datanglah lagi kapan-kapan dan mengobrol denganku, masih banyak hal yang belum kuceritakan padamu atau saat tanganmu sudah sembuh, mungkin kau bisa datang kekelas dan menunjukan kemampuanmu pada murid-muridku, aku yakin mereka akan sangat senang mendapati Uchiha Sasuke menjadi instruktur mereka meski hanya beberapa jam." Sasuke tertawa. "Tentu saja, . terimakasih."
Setelah keluar dari ruang gurunya, Sasuke segera mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan menelpon Tenten. Tetapi tak ada jawaban, Sasuke mencobanya sekali lagi dan lagi. Tetap tidak ada jawaban.
'Dimana dia sekarang?' Tanya Sasuke dalam hati, laki-laki emo itu memasukan ponselnya kedalam saku celana jeans hitamnya. 'Tadi gadis itu sempat berkata bahwa dia ingin menemui beberapa orang sementara aku menemui guru-guruku.' Gumam Sasuke dalam hati, karena ia sedang tidak terburu-buru dan suasana hatinya sedang sangat bagus, Sasuke akhirnya memutuskan untuk melangkahkan kakinya menuju Clinton Skating Figure School buildings yang terletak tepat disebelah gedung ini. Lagi pula Sasuke belum pernah mengunjungi gedung itu. Beberapa menit kemudian Sasuke sampai di gedung Clinton Skating Figure School, gedung itu di dominasi oleh warna putih dengan beberapa patung skater yang sedang melakukan manuvernya.
'Jadi seperti ini sekolah Itachi.' Batin Sasuke, ya sedari dulu Sasuke selalu penasaran tempat seperti apakah Clinton Skating Figure School, sebagus apakah sekolah itu hingga membuat kakaknya begitu tertarik. Sasuke berhenti sejenak, memperhatikan denah yang terletak di madding yang berada di aula sekolah yang luas. Studio figure skater, lantai tiga. Mungkin Tenten ada disana.
Namun gadis itu tidak ada di studio lantai tiga manapun, malah studio-studio itu terlihat sangat sepi. Tetapi salah seorang skater berwajah manis yang ditemui Sasuke berkata. "Seluruh skater senior sedang berada di ice rink belakang, tempat biasa diadakan perlombaan, mungkin orang yang kau cari ada disana." Sasuke tahu ice rink yang dimaksud oleh sigadis, akhirnya setelah mengucapkan terimakasih, Sasuke segera melangkahkan kakinya kesana.
Ice rink luas dan megah dengan kapasitas 997 penonton itu biasanya digunakan untuk perlombaan musim dingin bergengsi diseluruh dunia. Sasuke sendiri pernah datang kesana, ketika Itachi mengundangnya untuk datang ke perlombaan yang diselenggarakan di ice rink itu. Sasuke mendorong pintu tribun dengan hati-hati dan alunan musik klasik nan lembut langsung tertangkap oleh telinga Sasuke. Laki-laki itu menjulurkan lehernya, barisan kursi tribun dihadapannya kosong, tiada siapapun disana. Sasuke memincingkan matanya, dan menemukan beberapa skater tengah berkumpul di arena ice skating. Sasuke menyelinap masuk dan duduk di barisan tribun keempat dari belakang, ia berusaha mencari sosok malaikat mautnya diantara belasan skater itu, tapi tidak menemukannya. Sasuke memincingkan matanya, berusaha melihat para skater itu satu persatu, tetap tidak ada. Sasuke mendengus kesal dan membalikan tubuhnya, hendak pergi ketika tiba-tiba saja alunan musik berhenti.
"Oke! Istirahat sepuluh menit guys!" Seru seorang wanita dengan suara yang menggelegar, membuat Sasuke bertanya-tanya apakah semua instruktur ice skating memiliki suara seperti itu? Sasuke sudah mengulurkan tangannya untuk membuka pintu tribun ketika suara menggelegar itu kembali menyelusup kedalam rongga telinganya.
"Sambil beristirahat, aku ingin mengenalkan kalian pada Tenten." Sasuke mematung, laki-laki itu membalikan tubuhnya. "Dia salah satu murid kebanggaanku ketika bersekolah disini, aku yakin diantara kalian pasti pernah mendengar namanya." Mata onyx Sasuke menangkap sosok Tenten tengah berdiri disebelah wanita bersuara keras itu. Sepertinya Tenten sudah mengganti bajunya dengan tanktop berwarna pink berlapis jaket hitam yang hampir saja Sasuke duduki tadi dan celana hotpants berwarna hitam, hei! Ia bahkan mencepol rambutnya menjadi seperti telinga panda.
"Karena kebetulan ia berkunjung kesini dan aku sudah berhasil membujuknya, ia akan menunjukan beberapa gerakan pada kita semua." Wanita itu menegakan badannya. "Kalian bisa belajar banyak darinya, jadi perhatikan dan pelajari." Tambah wanita itu.
Semua penari terlihat meluncur keluar dari ice rink dan berdiri di belakang pembatas ice rink luas itu dan mengamati Tenten dengan mata berbinar. Sasuke mendapati dirinya melangkah ke barisan tengah tribun dan menghempaskan tubuhnya disana. Ia penasaran. Sebenarnya Sasuke sudah penasaran saat mengetahui gadis itu lulusan Clinton, ditambah lagi sekarang dengan pujian wanita bersuara luar biasa itu.
Tenten menyerahkan sesuatu kepada instruktur, yang menyerahkan apapun itu kepada seorang laki-laki. CD? Entahlah, Sasuke tidak bisa melihat dengan jelas dari sini. Lalu Tenten meluncur ketengah arena ice rink, gadis itu merentangkan tangan kanannya di udara, wajahnya terangkat, mata hazel nya menatap ujung tangannya. Para skater yang sedari tadi berdiri di belakang pembatas mulai berseru tak jelas. Dan akhirnya alunan musik klasik yang sangat familier di telinga Sasuke merambat diudara, memenuhi seisi ice rink serta tribun yang seketika menjadi sunyi.
Telinga Sasuke langsung mengenali alunan lagu klasik itu, Queen Meditation Thais. Begitu nada pertama terdengar, Tenten segera mengayunkan tangannya kebawah dan mulai meluncur dengan menggerakan tubuhnya sesuai dengan irama musik. Gerakan yang halus tetap terkendali, ayunan tangan yang anggun tapi tetap terlihat kuat, membuat Sasuke terpana untuk beberapa detik. Uchiha bungsu itu tanpa sadar melangkahkan kakinya hingga akhirnya berhenti di belakang pembatas tribun. Seluruh tubuhnya bergerak, tubuhnya menari sesuai dengan tempo. Dari jarak yang lumayan dekat, Sasuke bisa melihat perubahan ekspresi Tenten sesuai dengan gerakannya. Tarian yang begitu ekspresif, begitu. Hidup.
Meskipun Sasuke tidak begitu mendalami dunia skating ataupun tari menari, laki-laki itu tahu bahwa teknik Tenten sangatlah bagus, tanpa cela. Gadis itu berputar dengan kecepatan stabil, ia tahu kapan harus mengayunkan tangannya, kapan harus melompat dan kapan harus berputar. Intinya, tarian itu sangat indah. Sasuke pernah melihat olimpiade skating ketika Itachi berlomba disana, dan ketika peristiwa naas itu terjadi. Sasuke pernah melihat beberapa figure skater dunia meluncur di depan matanya secara langsung, intinya Sasuke sudah mengetahui takaran Figure skater yang berbobot dan tidak, yang indah menyejukan hati dan indah membosankan. Kebanyakan figure skater hanya mementingkan teknik serta tempo tapi gadis ini? Ekspresi diwajahnya membuat tarian ini bernyawa, membuat lagu indah ini tidak sia-sia dijadikan back sound. Seolah gadis itu berusaha mencurahkan jiwanya dan hatinya kepada siapapun yang berada disana.
Seperti semua orang yang berada di sekitar ice rink, Sasuke tidak bisa mengalihkan tatapannya dari gadis yang tengah meluncur disana. Setiap gerakan gadis itu seolah menyihir siapapun yang berada disana, membuat mereka semua terpaku. Ketika lagu itu berhenti dan Tenten berhenti bergerak, tidak ada yang bereaksi, tidak ada suara tepukan tangan, siulan atau bunga mawar yang dilempar ke arena ice rink. Segalanya hening. Lalu, seolah baru tersadar dari mantra hipnotis, semua orang mulai bertepuk tangan dan bersorak, bahkan Sasuke pun hampir kehilangan kendali.
Sasuke masih menatapi sosok Tenten dari atas tribun, gadis itu kini tengah dikerumuni oleh beberapa penari yang beberapa detik yang lalu berdiri diluar arena. Tenten terlihat sedikit terengah-engah, namun ia tetap tersenyum kepada orang-orang yang mengelilinginya. Lulusan Clinton memang tidak bisa diragukan, sekolah itu terkenal memproduksi siswa-siswi berbakat tinggi. Dan Tenten salah satunya, gadis itu menari dengan sangat sempurna. Terlihat sekali ia menari dengan sepenuh jiwa dan raganya. Ia berhasil membuat Sasuke yakin bahwa ia pantas mendapat jaket hitam itu, bahwa ia pantas mengenakannya dan berhasil membuat Sasuke yakin bahwa ia adalah figure skater yang sangat berbakat.
Namun hal itu malah membuat Sasuke bertanya-tanya. Seorang figure skater seperti itu saat ini seharusnya tengah mengikuti lomba-lomba olimpiade musim dingin bergengsi didunia, atau mungkin tergabung dalam organisasi atau grup skater senior terkenal didunia. Tapi kenapa gadis itu seperti membuang semua yang ia punya dan memilih untuk mengajar anak-anak kecil di arena ice rink sempit di pusat perbelanjaan biasa?
xXx
"Kami-sama! Celaka!" Tenten terkesiap kaget ketika mengeluarkan ponselnya dari tasnya. Sasuke sudah mencoba menghubunginya berkali-kali, tapi Tenten tidak menyadari karena sedari tadi ponselnya ia taruh didalam tas. Kami-sama! Tenten tak bisa membayangkan bagaimana nasib masa depannya ketika ia bertemu dengan Sasuke nanti. Tenten bergegas mengenakan celana jeans, sepatu kaus dan mantelnya, menyambar tasnya dan segera pamit kepada gurunya yang kembali mengajar para figure skater di arena ice rink.
'Sasuke pasti marah besar! Kami-sama, lindungilah aku.' Batin Tenten seraya mencoba menghubungi Sasuke. Tenten menubruk pintu tribun dengan bahunya dan segera berlari-lari kecil menaiki tangga kearah tribun deretan penonton. Pada deringan kedua suara Sasuke mulai terdengar disebrang sana.
"Kenapa kau tidak menjawab telponku?"
"Maaf." Sergah Tenten cepat. "Aku tidak mendengar ponselku berbunyi."
"Apa kau tahu sudah berapa lama aku menunggu?" Tenten mengernyitkan hidungnya. " Maaf." Ulang Tenten. "Kau ada dimana sekarang, aku akan segera kesana."
"Berhenti." Kata Sasuke tiba-tiba. Tenten otomatis berhenti, gadis itu berdiri mematung meskipun ia sendiri tidak mengerti kenapa Sasuke memintanya –ehem- menyuruhnya berhenti. "Apa?"
"Diam, stay like that." Kata Sasuke. "Sekarang berputar ke kanan." Tenten menuruti perintah Sasuke.
Dan mata Tenten terbelalak kaget ketika mendapati sosok laki-laki emo menyebalkan yang ia kenal betul tengah duduk beberapa kursi dari tempatnya berdiri. Laki-laki itu tersenyum samar, sangat samar kepada Tenten sambil menurunkan ponselnya dari telinga. Tenten mengerjap heran. Pertama, karena Uchiha Sasuke tersenyum. Padanya. Laki-laki itu belum pernah benar-benar 'tersenyum' pada Tenten, ya senyuman hambar, sinis dan merendahkan tidak bisa dihitung sebagai 'senyuman' bukan? Kedua, karena Sasuke berada disana, duduk di kursi penonton, di tribun. Tenten tidak bisa memastikan mana yang lebih membingungkan.
"Kenapa kau bisa berada disini?" Tanya Tenten sambil menolehkan kepalanya kekiri dan kekanan, seolah mencari siapapun yang bisa dimintai jawaban atas semua ini, lalu mata hazel nya kembali menatap Sasuke.
"Sudah berapa lama kau duduk disana?" Sasuke memasukan ponselnya ke saku celana, berdeham sekali lalu berkata dengan ringan. "Kalau aku jadi kau, aku akan menurunkan ponsel itu dari telingaku." Tenten terkesiap dan menyadari bahwa ponselnya masih ia tempelkan ditelinga. Gadis itu buru-buru memasukannya kedalam tas, baru saja ia ingin mengulaingi pertanyaannya namun Sasuke menyelanya.
"Jadi… itu figure skating." Gumam Sasuke sambil menatap lurus kearah arena ice rink, dimana para figure skater tengah di berikan intruksi oleh gurunya, atau bisa dibilang mantan gurunya semenjak Tenten lulus drai Clinton. Tenten tidak tahu apakah Sasuke tengah membicarakannya atau para skater itu. Dan pertanyaan bodoh pun muncul dikepalanya. 'Apakah Sasuke melihatku tadi?'
"Aku tidak menyangka kau mendengarkan lagu era 1800-an." Tambah Sasuke seraya menolehkan kepalanya kearah Tenten, mata onyxnya menatap wajah Tenten. 'Jadi dia melihatku.'
Tenten mengangkat kedua bahunya lalu berbicara dengan santai. "Aku bahkan tidak menyangka kau tahu kalau itu lagu era 1800-an." Sasuke menyipitkan kedua matanya, menatap mata hazel Tenten, menguncinya. Tapi anehnya kali ini Tenten tidak lagi bergidik ngeri, ia tidak merasa terganggu dengan tatapan tajam itu. Dan menurut Tenten, tatapan itu bukanlah tatapan bermusuhan seperti yang selalu Sasuke berikan padanya. Oh ya, satu lagi yang membuat Tenten bingung, Sasuke tidak marah-marah karena menunggu Tenten cukup lama, benar-benar aneh.
"Aku ini pemusik." Sahut Sasuke dengan sebesit nada angkuh. "Tentu saja aku tahu, apalagi lagu itu termasuk lagu klasik, aku tahu semua jenis musik." Tenten ingin membalas kata-kata Sasuke, ia ingin berkata bahwa tidak hanya pemusik yang mengenal jenis lagu, figure skater pun perlu mengetahui karakteristik dan serba-serbi musik. Tetapi saat itu Sasuke berdiri dan beranjak dari deretan kursi penonton, jadi Tenten memutuskan untuk menyingkir sedikit agar laki-laki itu bisa lewat dan mengurungkan niatnya. Sasuke keluar dari ice rink dan Tenten mengikutinya dari belakang.
"Jadi, kau sudah bertemu dengan gurumu?" Tanya Tenten sekedar berbasa-basi." Sasuke mengangguk. "Hn."
"Gurumu masih mengenalimu?"
"Tentu saja." Ujar Sasuke dengan nada tersinggung, seolah semua guru, staff dan murid di Clinton dilarang keras untuk melupakannya. Tenten memutuskan untuk tidak berkata apa-apa.
"Jadi tadi itu gurumu?" Tenten terkesiap, gadis itu melirik ke laki-laki yang berjalan disampingnya. Sungguh laki-laki ini agak berbeda hari ini, oh maksudku dia sangat berbeda hari ini. Kenapa? Coba lihat, Sasuke baru saja membuka topic pembicaraan, ia tidai pernah membuka topic pembicaraan apapun pada Tenten, biasanya laki-laki itu lebih sering menutup mulutnya rapat-rapat, menghemat suaranya seolah tiap satu huruf yang ia ucapkan sangatlah berharga. "Ya." Sahut Tenten singkat. "Salah satunya."
"Dia sangat memujimu tadi."
"Benarkah?" Gumam Tenten, Sasuke menolehkan kepala kearah Tenten dan menatap gadis itu. "Katanya kau salah satu murid kebanggaannya."
"Oh ya?" Tenten mengangkat kedua bahunya. "Ya dia bilang salah satunya bukan? Sementara ia sangat membanggakan semua murid-muridnya. Omong-omomg kau mau kemana sekarang? Pulang? Bagaimana kalau kau menunggu di lobby dan aku akan ke lapangan parkir untuk-"
Sasuke menggeleng dan menyela. "Aku tidak ingin pulang."
"Lalu?" Sasuke berpikir sejenak sebelum akhirnya seulas senyum kecil tersungging dibibir tipisnya. "Aku ingin ke toko musik."
xXx
Tenteng mengenakan salah satu headphone yang disediakan oleh toko musik itu di kedua telinganya dan memilih lagu yang akan didengarkannya. Inilah aktivitas rutin Tenten ketika mengunjungi toko musik, memanfaatkan fasilitas mendengarkan lagu gratis. Sasuke baru saja pergi ke bagian musik klasik, jadi Tenten bisa menikmati musik sendirian untuk sementara. Kalau boleh Tenten jujur, suasana hati Sasuke yang entah bagimana sangat baik hari ini perlahan-lahan seperti mencairkan kekakuan yang selalu muncul diantara mereka. Tidak, mereka tidak bisa atau tepatnya belum bisa dikatakan teman, setidaknya saat ini Sasuke tidak lagi membencinya karena membuat tangannya terkilir. Itu kemajuan yang bagus bukan? Kalau dengan mengobrol dengan guru musik bisa membuat Sasuke sedikit menyenangkan, Tenten akan menaruh laki-laki itu di Clinton atau mungkin mengurungnya seharian disana bersama guru pianonya dan menjemputnya dikeesokan harinya.
Tenten tidak sadar berapa lama ia berdiri disana, tapi ia sama sekali tidak menyadari Uchiha Sasuke tengah berdiri di sampingnya sampai akhirnya laki-laki itu berdeham beberapa kali, membuat Tenten segera melepaskan headphonenya. "Kau sudah selesai?" Tanya Tenten sambil melirik beberapa keeping CD yang di genggam oleh laki-laki itu.
"Apa yang sedang kau dengarkan?" Sasuke balas bertanya sambil memperhatikan kepingan CD yang tengah berputar di dalam kotak kaca. "Dolcenera?" Tenten mengangguk "Com'e straodinaria la vita." Katanya, menyebutkan judul lagu yang didengarnya.
"Sepertinya kau menyukai lagu Italia." Gumam Sasuke. Laki-laki itu memperhatikan deretan kepingan CD yang terpampang dihadapannya.
"Kau sudah pernah mendengarkan lagu Irene Grandi?"
"Cose de grandi?" Tanya Tenten sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Selain itu?" Tenten menggeleng. "Kalau begitu, kusarankan kau dengarkan ini." Kata Sasuke sambil memasukan CD ke kotak dan menekan tombol play. "Kenakan headphone nya."
"Lagu apa ini?" Tanya Tenten sambil mengenakan headphone lagi.
"Alle porte del sogno." Tenten tidak tahu apa artinya, tapi kata-kata itu terdengar bagus ketika Sasuke menyebutkannya. Tenten memejamkan matanya, memincingkan telinga untuk mendengarkan alunan musik yang mulai terdengar, lalu perlahan-lahan sekerkah senyuman terlihat di bibirnya. Lagu itu, terdengar lembut, melankolis tetapi tidak berlebihan. Sangat bagus. Lagu itu sukses membuat jiwa Tenten merasa tentram, membuat bulu kuduk Tenten sedikit meremang. Tanpa kehendaknya, gerakan-gerakan figure skating mulai tercipta dikepalanya. Ah! Dia bisa meluncur dengan lagu seindah ini!
Setelah lagu berakhir, Tenten melepas headphone nya dan menatap Sasuke yang sedari tadi memperhatikan ekspresi Tenten, dan cukup melihat dari ekspresinya, laki-laki itu sudah tahu bahwa Tenten menyukai lagu itu.
"Aku harus mencari lagu ini." Ujar Tenten, mata hazel gadis itu terlihat berkilat-kilat penuh semangat. "Lagu ini… sangat bagus! Kau benar-benar jenius!" Tambah Tenten dengan suara yang naik satu oktaf.
"Terimakasih banyak." Kata Tenten yang dilengkapi dengan senyum lebar kepada Sasuke. Sasuke tertegun, ia baru menyadari bahwa itu adalah senyuman pertama dari Tenten yang ditujukan kepadanya. Ia merasa aneh, gadis itu memang sering tersenyum, kepada siapapun. Dan ia tidak pernah tersenyum pada Sasuke. Tentunya Sasuke tahu akan hal itu, karena ia sendiri tidak pernah memberikan alasan bagi Tenten untuk tersenyum padanya, tidak pernah sejak awal mereka bertemu. Kenapa harus? Kau tidak mungkin menginginkan malaikat mautmu tersenyum padamu bukan?
Tetapi sekarang, ketika gadis itu tersenyum padanya. Sasuke merasa tidak percaya. Ia tidak menyangka bahwa ada seorang malaikat maut yang bisa tersenyum seperti itu. Tenten menoleh kekiri dan kekanan.
"Aku hanya harus mencari.. oh!" Gadis itu melambaikan tangannya. "Um, permisi, apakah kau tidak keberatan menolongku sebentar?" Ujar Tenten berusaha mencegat salah satu pegawai di toko itu.
"Tentu saja, apa yang bisa kubantu?" Seorang pegawai yang mengenakan kaus polo berwarna merah dengan logo nama toko di bagian dada sebelah kanan melangkah menghampiri Sasuke dan Tenten.
Tenten menyodorkan CD yang beberapa detik lalu ia dengarkan kepada si pegawai ketika ia berdiri disamping Tenten. "Bisa kau tunjukan dimana aku bisa menemukan CD ini?"
"Ah, Irene Grandi. Disebelah sini, mari kuantar."
"Terimakasih, kau baik sekali." mereka berdua pergi meninggalkan Sasuke begitu saja. Sasuke mendengus kesal, laki-laki itu akhirnya memutuskan untuk mengenakan headphone yang tadi dilepaskan oleh Tenten dan mendengarkan lagu sambil menunggu. Lima belas menit berlalu dan gadis itu belum juga kembali. Sasuke melepaskan headphone nya dan beranjak mencari Tenten. Akhirnya Sasuke menemukan gadis itu, tetapi bukan di tempat dimana ia mengira album Irene Grandi dipajang. Gadis itu sedang berbincang dengan si pegawai di bagian CD instrumental. Tenten melihat Sasuke ketika laki-laki itu mendekat. "Lihat apa yang ditemukan Dylan untukku."
Sasuke melirik kearah pin yang tergantung di baju si pegawai. Namanya memang Dylan. Sasuke kembali menatap Tenten. "Apa itu?" Tenten tersenyum lebar seraya mengacungkan se keeping CD kedepan wajah Sasuke.
"Albummu! Tadi aku bertanya pada Dylan apakah toko ini mempunyai albummu dan ternyata mereka punya. Aku akan membeli satu karena aku tidak pernah mendengarkan lagu-lagumu." Sasuke mendengus kesal, ia ingin berkata ia bisa memberikan albumnya secara gratis pada gadis itu tapi ia mengurungkan niat, sebaliknya ia malah bertanya. "Memangnya kau mengerti musik instrumental?" Tenten mengerucutkan bibirnya. "Tentu saja."
Saat itu Dylan menatap Sasuke dan mengerjap. "Jadi kau… Uchiha Sasuke?" Sasuke melirik tanpa ekspresi "Ya."
"Keren! Aku juga punya albummu! Boleh kuminta tanda tanganmu?" Tanya Dylan kagum, laki-laki itu melirik kearah tangan Sasuke yang tergantung didepan dada. "Apa yang terjadi dengan tanganmu?" Lagi-lagi Tenten merasakan tatapan tajam menusuk dirinya. Sasuke menghela nafas panjang. "Kecelakaan." Sasuke merasa bahwa menjelaskan kronologi 'kecelakaan' yang sebenarnya pada pegawai ini sangatlah tidak perlu.
"Jadi, kau bilang kau ingin tanda tanganku?"
"Ah benar! Maaf tunggu sebentar, aku akan mengambil CD dan spidolku." Ujar Dylan sebelum akhirnya menghambur pergi meninggalkan Sasuke dan Tenten. "Apa yang kau beli?" Tanya Tenten sambil menatap beberapa kepingan CD yang berada di genggaman Sasuke. Laki-laki itu hanya menunjukannya di depan Tenten, kebanyakan lagu klasik. Tiba-tiba saja mata Tenten tertuju pada satu keping CD dengan cover bertuliskan kanji jepang.
"Lagu Jepang?"
"Pianis Jepang tepatnya, kurasa kau tidak akan mengenalnya."
"Hei, apa kau lupa kalau aku berasal dari Jepang juga." Dengus Tenten, namun tiba-tiba gadis itu menundukan kepalanya. "Meski aku tidak tahu dari mana aku berasal sebenarnya." Gumam Tenten dengan suara serak.
Dan tepat pada saat itu Dylan kembali dengan se keping CD dan spidol di tangannya. Sasuke akhirnya menandatangani buklet yang terdapat didalam album itu dan dengan enggan menyetujui permintaan Dylan untuk berfoto bersama. Tenten terpaksa harus menjadi fotografer dadakan kala itu.
"Dia meminta berfoto denganku dalam keadaan seperti ini." Gerutu Sasuke begitu mereka berdua keluar dari toko. "Tenang saja, aku sudah memastikan tanganmu tak terlihat."
"Terimakasih." Tak lama mereka sampai di mobil Tenten. Sasuke memperhatikan Tenten yang berjalan mengitari mobil Mini Coopernya menuju bagian pengemudi. Sebelum gadis itu masuk kedalam, Sasuke menyelanya dengan berkata. "Eh, ngomong-ngomong, Tenten."
Tenten terkesiap sejenak sebelum akhirnya menoleh kearah Sasuke. "Ya?"
"Menurutku kau memang berasal dari Jepang." Tenten memiringkan kepalanya lalu seulas senyum mengambang di bibirnya.
"Kuharap juga begitu, but Thanks, Sasuke."
Yoo gimana Minna-san? udah mulai keliatan kan disini (you know what i mean) ehehe, aku seneng banget chap ini bisa di apdet, karena jujur aku nulis chappie ini gasampe dua jam loh, semoga minna-san suka sama chap ini ya dan sekali lagi maaf karena tbtb ilang ditelan bumi. Oh iya minna-san, kayaknya aku gabisa sering-sering mengapdet karena kesibukan sekolah :( harap dimaklumi minna, tapi aku usahain untuk apdet secepatnya ehehe. segitu aja deh, makasih yaa. keep reading ;)
