Rated: T
Disclaimer: All of these chara totally belongs to Mashasi Kishimoto, but this fic officially mine
Warning: Bahasa gajelas, setting gajelas, alur lompat-lompat, OOC tingkat dewa, Crack pairing dsb
SasuTen slight ItaTen
Read it with ur own risks(:
Couple words from author:
Yeppeee, author kembali lagi dengan chappy yang baru, seneng deh bisa lanjutin fic ini lagi. Chappy ini dikhususkan untuk ItaTen, jadi buat kalian yang udh nunggu moment mereka berdua wajib baca chappy ini hehe, aku mau minta maaf sama para readers khusunya Ama-chan yang udh nge req fic ini, karena apdet yang sangat-sangat ngaret :( sekali lagi maaf-maaf *nangis guling-guling* oke author mau bales reviews dulu yaa
Leomi no kitsune: Ohoho makasih yaa Leomi :) iya ini udah aku apdet kok chap 10 nya, silahkan dibaca yaa :3
Fumiyo Nakayama: Loh? aku punya buku kawin aku sama Neji loh? #plak! wkwkwk, makasih makasih banget ya Fumiyo *nyengir ala guru guy* ahehe, iya aku emang dari kecil tertarik banget sama ice skating, jadi ya tau beberapa teknik figure skating gt deh hehe :) yakaann akhirnya Sasuke udah ga (terlalu) nyebelin lagii horee ._. hoho, tenang setelah fic ini selesai aku langsung bikin fic NejiTen, aku udh kangen berat sama mereka :( ehihihi.
MORPH: Yooo makasiii dukungannyaa, silahkan dibaca yaa...
Akira Ken: wehee makasih yaa :) aaww tidak, Tenten sama sekali gaada hubungan khusus sama dokter itu ._. hehe, okey tetep baca yaa :3
okay semua reviews sudah dibalas, langsung aja yaa chappy 10!
Chapter 10
Tenten menyenderkan tubuh mungilnya di pembatas ice rink. Kedua tangan gadis itu terulur kebelakang mencengkram pinggangnya yang didera rasa nyeri. Gadis itu menggigit bibir bawahnya, berusaha sekuat tenaga untuk menahan rasa nyeri yang menusuk kaki kanannya.
"Tenten-sensei? Kau baik-baik saja?" Tenten langsung mengangkat wajahnya dan menarik kedua tangannya dari kaki kanannya.
"Ah..Janie… sensei baik-baik saja." Jawab Tenten sambil tersenyum, meski begitu gadis kecil berambut blonde pucat yang beberapa detik yang lalu dipanggil Janie tetap menyipitkan matanya.
"Kau yakin?"
"Err.. ya tentu saja." Lagi-lagi Jenie menyipitkan kedua matanya dan melipat kedua dadanya di depan. "Kalau kau baik-baik saja, kau tidak mungkin bersandar di pembatas rink sambil mencengkram pinggang dan mengigit bibir bawahmu hingga nyaris berdarah." Terang Jenie yang membuat Tenten mengangkat kedua alisnya. Harusnya ia tahu Jenie tidak sepolos anak berumur sepuluh tahun yang lain. "Aku baik-baik saja, Jenie. Sekarang bagaimana kalau kita meluncur satu putaran, setelah itu kau bisa pulang. Aku melihat ibumu sudah menunggu." Ujar Tenten sambil meluncur kearah Jenie dan mendorong lembut tubuh anak itu dari belakang.
"Tapi sensei-"
"Sudahlah, ayo." Kata Tenten yang akhirnya meluncur dihadapan Jenie, gadis berumur sepuluh tahun yang menjadi salah satu muridnya. Menurut Tenten, Jenie adalah anak yang berbakat. Tenten yakin gadis cilik itu bisa menjadi seorang figure skater professional di masa mendatang. Dan yang lebih special, hanya Jenie yang memanggil Tenten dengan sebutan 'sensei'. Karena hanya Jenie yang tahu bahwa Tenten berasal dari Jepang, murid-muridnya yang lain lebih senang memanggil Tenten dengan nama, dan sepertinya gadis berumur dua puluh tahun itu tidak keberatan sama sekali.
Setelah sepuluh menit meluncur mengelilingi ice rink yang berbentuk oval, akhirnya Jenie menepi di pintu masuk area dan keluar. Gadis itu melambai kecil kearah Tenten sebelum akhirnya melepas sepatu ice rink nya dan menggandeng tangan ibunya yang sudah lima belis belakangan duduk menunggu putrinya selesai berlatih. Setelah memastikan gadis cilik itu sudah pergi, Tenten menghela nafas panjang dan meluncur kearah pintu masuk area ice rink.
Dengan lesu Tenten menghempaskan tubuhnya disebuah kursi besi panjang, tempat para murid mengenakan sepatu ice skating mereka. Wajah cantik Tenten meringis ketika rasa nyeri kembali mendera punggungnya, dengan hati-hati gadis berambut auburn itu melepaskan sepatu ice skating putihnya dan kembali meringis ketika merasakan rasa nyeri yang mendera punggungnya semakin menjadi-jadi. Tenten menjulurkan tangannya kesamping, berusaha meraih tas berwarna merah maroon yang biasa ia letakan dibawah kursi besi panjang yang kini ia duduki, dengan gerakan cepat Tenten mengaduk-aduk isi tas nya, gadis itu menghela nafas lega ketika tangan mungilnya menggenggam tabung kaca kecil, Tenten segera menarik keluar tabung itu, memandanginya sebentar sebelum akhirnya mengeluarkan beberapa butir kapsul berwarna merah-putih. Gadis itu segera memasukan kapsul-kapsul itu kedalam mulutnya dan menelannya tanpa bantuan air.
Tenten memejamkan matanya ketika merasakan butiran kapsul meluncur melewati batang tenggorokannya yang agak kering.
"Tenten?" Gadis itu sontak saja membuka matanya ketika mendengar seseorang memaggil namanya, dengan panic Tenten meletakan tabung kapsulnya kedalam tas sebelum akhirnya mengangkat wajahnya untuk melihat siapa gerangan yang memanggil namanya. Sosok laki-laki berambut gelap dengan kedua bola mata yang segelap rambutnya berjalan menghampiri Tenten.
"Itachi-senpai?" Laki-laki itu tersenyum ringan ketika Tenten menyebut namanya. "Kukira kau sudah selesai mengajar."
"Ya, semua muridku memang sudah pulang dan ice rink ini sudah kosong melompong." Ujar Tenten sambil merentangkan tangannya kearah hamparan es yang terbentang disampingnya.
"Kau sendiri apa yang kau lakukan disini? Kukira café sudah tutup?" Itachi terkekeh lembut seraya menghempaskan tubuhnya disamping Tenten.
"Yeah begitulah, aku hanya ingin melihat-lihat arena ice rink sebelum pulang, mengenang masa lalu seperti itulah." Tenten mengangguk kecil lalu menatap lurus kedepan.
"Apa yang terjadi padamu?" Tenten tersentak kaget ketika mendengar pertanyaan Itachi, gadis itu bingung kenapa Itachi bertanya seperti itu.
"Aku? Tidak apa-apa, tidak ada yang terjadi padaku."
"Kakimu kram? Nyeri?" Lagi-lagi Tenten tertawa kecil dan mengangguk, menyetujui pernyataan Itachi meskipun kenyataannya bukan seperti itu. "Darimana kau tahu?"
"Aku ini seorang mantan figure skater, tentu saja aku tahu problem para skaters." Tenten hanya bisa tertawa renyah dan menyikut rusuk Itachi. Itachi tertawa singkat sebelum akhirnya beranjak berdiri dan meraih sepasang sepatu ice skating di tangannya dan mengenakannya.
"Apa yang kau lakukan, Itachi-senpai?"
"Seperti yang kubilang tadi… mengenang masa lalu." Ucap Itachi singkat sebelum laki-laki itu melenggang kearah pintu arena ice rink, membukanya dan menapakan ujung pisau baja kepermukaan es yang keras. Tenten hanya bisa menatap Itachi yang tengah meluncur dengan santai, laki-laki itu meluncur seperti seorang skater amatiran, menggoyangkan tangannya beberapa kali sebelum akhirnya berhenti di tengah arena. Entah bagaimana, Tenten beranjak dari kursi besi dan berdiri dibelakang dinding pembatas. Bisa Tenten lihat laki-laki berambut panjang itu menggenggam ponselnya dengan tangan, menekan sesuatu sebelum akhirnya musik klasik mengalun lembut memenuhi arena ice rink. Tenten tahu lagu ini, S. Rochow. Bells of Moscow.
Laki-laki itu merentangkan kedua tangannya, meluncur dengan lembut dan mengayunkan kedua tangannya dengan ringan, seolah tubuhnya sudah menyerap lagu ini, seolah dirinya sudah tahu dimana waktu yang tepat untuk mengayunkan tangannya keatas atau kesamping.
Di dua menit pertama Itachi dengan mulus berhasil melakukan double axels, disusul oleh triple loop yang indah dan sempurna. Tenten hanya bisa berdiri terpaku menatap sosok laki-laki yang tengah meluncur di hadapannya. Gerakan yang lembut tapi terkesan tegas, pijakan kaki yang mantap, tempo yang tepat, control tubuh yang sempurna, tarian yang nyata dan hidup dimata Tenten.
Itachi melakukan putaran terakhir sebelum akhirnya lagu berhenti dan tubuh Itachi berhenti berputar dengan halus. Tenten hanya bisa mengerjap ketika alunan musik klasik sudah tak terdengar, seolah dirinya baru tersadar dari mantra sihir, sementara Itachi menghela nafas panjang dan membuka matanya. Merasakan betapa ringannya tubuhnya tadi, merasakan bagaimana terpaan angin dingin yang menerjang tubuhnya, merasakan sensasi adrenalinnya terpacu ketika berputar diudara dan mendarat dengan sempurna di permukaan es. Betapa laki-laki itu merindukan semua ini.
"Sangat indah." Itachi menolehkan kepalanya dan mendapati gadis berambut auburn meluncur menghampirinya. Itachi tersenyum kecil lalu menjulurkan tangannya kearah Tenten.
"Dari dulu aku belum pernah berduet dengan gadis manapun, dan kali ini aku ingin kau mau menjadi pasangan pertamaku." Tenten terbelalak kaget, entah mengapa kata-kata Itachi terus mengiang-iang didalam pikirannya, gadis itu hanya bisa tersenyum tipis dan meraih tangan pucat Itachi dan dengan satu gerakan cepat, Itachi menarik tubuh Tenten mendekat ke tubuhnya.
Kehangatan menjalar dari pipi Tenten, gadis itu kesulitan bernafas karena degupan jantungnya yang dua kali lebih cepat dibanding sebelumnya.
"Kita akan meluncur bersama, bukan begitu, Tenten?" Tenten hanya bisa mengangguk kecil. Itachi kembali meraih ponselnya, memilih sebuah lagu. LA'AURA. Setelah nada pertama mengalun, kedua manusia itu meluncur dengan indah diatas permukaan es. Semua terjadi dengan natural, tidak ada persiapan matang sebelum mereka meluncur seindah ini, tidak ada latihan keras yang mereka jalani, tidak ada rentetan koreografi yang harus mereka pelajari, tubuh mereka secara otomatis bergerak sesuai ritme dan irama dari lagu yang indah.
Tenten, dirinya lepas dan bebas ketika Itachi merengkuh pinggangnya dan mengangkatnya keudara, sementara Itachi merasa kehangatan ketika kedua tangan besarnya mencengkram pinggang mungil Tenten. Berani jamin, siapapun yang melihat mereka berdua saat itu akan berdiri dan terpukau selama beberapa saat, tubuh mereka seolah menyatu dalam keharmonisan lagu.
Setelah nada terakhir terdengar dan setelah tubuh mereka benar-benar berhenti, Tenten bisa merasakan kepalanya terasa ringan. Pipinya menghangat karena menyadari Itachi masih merengkuh pinggangnya setelah alunan lagu berhenti. Jarak mereka sangat dekat, saking dekatnya Tenten bisa mendengar degupan jantung Itachi yang menderu.
"Kita hebat kan, Tenten?" Tenten terkekeh lembut. "Tentu saja, skater amatiran sekalipun akan merasa hebat jika meluncur bersama senior sepertimu." Ujar Tenten, akhirnya Itachi melepas rengkuhannya, membiarkan gadis itu menjauh sedikit dari tubuhnya. Itachi memperhatikan sosok gadis mungil yang berdiri dihadapannya. Sementara Tenten berusaha sekuat mungkin untuk mengembalikan degupan jantungnya. Tenten merasa lebih tenang hingga akhirnya Tenten bisa merasakan sebuah tangan lembut dan hangat menyentuh pipinya yang memanas, disusul dengan deru nafas hangat yang menerpa daun telinganya.
"Jangan pernah berkata bahwa kau adalah amatiran Tenten." Itachi tersenyum kecil sebelum akhirnya melanjutkan kata-katanya.
"Karena kau special dimataku."
xXx
Sasuke membekap mulutnya dengan tangan kiri, berusaha menahan batuknya yang sudah mencapai tenggorokan. Laki-laki itu segera mencengkram meja makan dengan tangan kirinya, menyangga tubuhnya ketika merasa tubuhnya mulai limbung. Mata onyx laki-laki itu melirik penuh harap kearah ponselnya yang tergeletak diatas meja makan, tak jauh darinya.
'Dimana gadis itu?!'
Rasa nyeri luar biasa kembali mendera kepala Sasuke, membuat laki-laki itu mengerang kecil. Sasuke kembali meraih ponselnya dan berusaha menghubungi gadis itu lagi. Tidak ada jawaban.
'Demi Tuhan! Dimana dia?!' Batin Sasuke. Laki-laki itu meringis kecil, rahangnya menegang menahan sakit. Ia mengerjapkan matanya, berusaha menghilangkan kunang-kunang yang berterbangan di pandangannya.
Sasuke tetap berdiri sebelum akhirnya ia merasa tubuhnya seperti diterjang angin dan akhirnya jatuh ke lantai kayu.
xXx
Tenten menyentuh daun telinganya dengan tangan kanan. Gadis itu tersenyum kecil ketika samar-samar merasakan deru nafas hangat menerpa telinganya. Gadis itu memejamkan matanya, senyumannya semakin melebar.
'Kami-sama… Itachi-senpai.' Jiwa Tenten masih terbang ke awang-awang hingga sekarang. Dirinya begitu kaget dan senang ketika secara tiba-tiba Itachi berbisik di telinganya, ketika tangan laki-laki itu menyentuh permukaan pipinya. Saat itu, tubuhnya seolah disengat oleh aliran listrik.
'Sepertinya aku benar-benar menyukainya…'
Lamunan Tenten terpotong ketika ponselnya berdering. Gadis itu dengan panic meraih ponselnya di dalam tas dan melihat kearah layarnya yang berkedip.
Sasuke.
'Mau apa laki-laki itu menelponku malam-malam begini.' Ya, tak terasa Tenten dan Itachi meluncur sampai malam, tapi Tenten tidak menyesal, sama sekali tidak. "Halo, Sasuke? Ada apa?"
Tidak ada jawaban.
"Halo? Halo? Sasuke?"
Tidak ada jawaban. Tenten mengerutkan kedua alisnya. Gadis itu menghentikan langkahnya, memincingkan telinganya untuk mendengar suara apapun disebrang sana. Tapi tidak ada. Yang Tenten dengar hanya deru nafas seseorang. 'Kami-sama! Apa yang ia lakukan.'
"Sasuke, ada apa menelponku? Ini sudah malam dan aku lelah, jadi kuharap kau punya alasan yang bagus untuk menelponku."
Tetap tidak ada jawaban.
Tenten mendengus kesal sebelum akhirnya memutuskan hubungan telpon dan memasukannya dengan kasar kesaku mantel.
"Dia itu memang benar-benar aneh, menelponku tapi tidak mengatakan apa-apa." Gerutu Tenten sambil mengeluarkan kunci mobilnya, menekan tombol unlock dan berjalan mengitari mini coopernya. Akhirnya Tenten menghempaskan tubuhnya dibelakang kemudi, gadis itu mengerutkan kedua alisnya. Entah mengapa perasaannya tidak enak.
'Kenapa Sasuke menelponku? Jarang-jarang dia menelpon semalam ini, lalu kenapa diam saja? Biasanya ketika menyuruhku datang ia langsung berbicara, memberitahu tugasku dan menutup telpon tapi kali ini… apa sesuatu terjadi padanya?' Tenten menggelengkan kepalanya seraya memutar kunci mobilnya untuk menghidupkan mesin mobil.
"Sasuke bukan lagi anak-anak dia bisa menjaga dirinya sendiri meski dengan satu tangan." Ujar Tenten untuk dirinya sendiri, namun gadis itu kembali termenung. Meski dengan satu tangan?
Itulah yang Tenten khawatirkan, tangan kanan Sasuke cedera dan bisa saja hal buruk menimpa laki-laki malang sedingin es itu bukan? Tenten kembali menggelengkan kepalanya dan melajukan mobilnya. Sudah terlalu malam untuk mengunjungi Sasuke, mungkin saja laki-laki itu tertidur dan ponselnya kepencet sehingga menelpon Tenten. Dan gadis itu akan mengunjungi apartemen Sasuke besok pagi untuk memastikan bahwa laki-laki itu masih hidup.
Wohoo bagaimana ItaTen nyaa? apaa? masih kurang? tenang-tenang author udah nyiapin ItaTen moment lagi kok tenang aja. kalo ada yang ngerasa agak krik-krik ato ngebosenin maaf bgt yaa :( karena aku ga terlalu kenal sama Itachi, aku jadi bingung gimana menuangkannya bersama Tenten dalam fic ini (halah,halah lebay banget si author) hehe, okee segini aja dulu... see ya on the next chap. jaa! ;3
