Rated: T
Disclaimer: all of this chara is totally belongs to Mashasi Kishimoto, but this fic officially mine
Warning: bahasa gajelas, alur lompat-lompat, setting gajelas, Crack pairing, OOC tingkat dewa, dsb
SasuTen slight ItaTen
read it with ur own risks(:
Couple words from author:
Heioo Minnaa! apakabar semuanya? baikkah? semoga semuanya sehat-sehat yaa. oh iya sekedar info sepertinya fic ini akan berlangsung lama, jadi semoga para pembaca engga bete ya karena fic ini ga tamat-tamat hehehe, author juga akan berusaha untuk bikin fic ini tetep seru dan engga ngebosenin meskipun chapnya banyak hehehe. oh iya aku bales reviews dulu yaap
Leomi no Kitsune: Iya ini udah di apdet hehe(:
MORPH: Hehehe, tenang, aku udh menyiapkan ItaTen moment yang lain hehe..
Akira-Ken: gapapakok, makasih yaa udh nge reviews :D ohohohh, sekarang bagian SasuTen lagi nih hehe, itu masih menjadi misterii, siapa tau aja Tenten cuman sakit pegel linu yakan? (Dikeroyok Tenten, Neji, Sasuke dan Itachi) (?) wkwkwk. iyaa ini udh aku apdet kok, silahkan baca yaa :)
Nah semua reviews udh dibales, langsung ajadehyaa chappy 11
Chapter 11
Setelah memastikan pintu mobilnya sudah terkunci, Tenten memasukan kunci mobil beserta kedua tangannya kedalam saku mantel lalu menyebrangi jalanan yang sepi dikawasan permukiman riverside. Tenten bergidik kecil ketika angina dingin menerpa tubuh mungilnya.
'Kami-sama, harusnya aku mengenakan mantel yang lebih tebal.' Gerutu gadis itu sambil terus berjalan. Samar-samar suara gaduh petir menari-nari di rongga telinga Tenten, pertanda sebentar lagi hujan akan turun. Tenten buru-buru mempercepat langkahnya menyebrangi jalanan dan akhirnya kaki-kaki mungilnya menapaki anak tangga menuju beranda apartemen. Tumben sekali pintu depan apartemen itu terbuka lebar, gadis itu segera melangkah memasuki apartemen, memencet tombol disebelah lift berpintu keemasan dan masuk kedalam lift ketika pintunya terbuka. Berkali-kali Tenten melirik jam tangan Tissot putih yang melingkar ditangan kanannya. Sudah jam sembilan. Tenten yakin Sasuke sudah bangun dan menunggunya untuk membuat kopi di pagi hari. Meski Tenten berpikiran begitu, perasaannya tidak enak. Sejak Sasuke menelponnya kemarin malam, Tenten terus memikirkan laki-laki itu.
Dirinya khawatir sesuatu yang buruk menimpa Sasuke, jujur saja meski Tenten sangat tidak menyukai sifat dingin Sasuke tapi Tenten tetap manusia yang memiliki rasa empati kepada sesama manusia. TING! Lamunan Tenten terhenti karena suara dentingan nyaring lift, gadis itu mengangkat wajahnya dan segera melangkahkan kakinya keluar dari lift. Gadis itu tidak langsung mengetuk pintu merah dihadapannya, ia bimbang. Ia bimbang apakah Sasuke ada didalam atau tidak, setelah menimbang-nimbang sesaat Tenten mengetuk pintu dihadapannya.
Tok, tok, tok. Tidak ada jawaban. Tenten mengernyitkan hidungnya lalu kembali mengetuk pintu apartemen Sasuke lalu menunggu beberapa detik. Tidak ada yang terjadi, pintu dihadapannya tak terbuka. Tenten mencondongkan tubuhnya kearah pintu, menempelkan telinga kirinya ke pintu kayu berwarna merah dan memincingnkan pendengarannya. Sunyi. Tak ada tanda-tanda kehidupan disana. Tenten mengerutkan kedua alisnya.
'Sebenarnya ada apa? Tidak biasanya Sasuke belum bangun jam segini.' Ya setelah dua minggu menjadi 'pengurus rumah' Sasuke, Tenten secara tidak sengaja jadi hafal segala kebiasaan laki-laki itu. Jam berapa laki-laki itu bangun, jam berapa laki-laki itu makan siang, jam berapa laki-laki itu berdiam diri menulis patitur diatas secarik kertas not balok, hingga berapa menit laki-laki itu menghabiskan kopi paginya. Dan yang Tenten ketahui, Sasuke adalah orang yang sangat menghargai waktu, semua aktivitasnya tidak pernah telat satu detik pun, semuanya terkesan teratur dan rapih.
Tenten menjauhkan tubuhnya dari pintu kayu lalu menatap pintu itu dengan tatapan bingung. 'Sebenarnya ada apa sih? Apa Sasuke tidak ada dirumah?' Tenten menyusupkan tangannya kedalam saku celana jeans nya dan meraih ponselnya, setelah menemukan nomor Sasuke dan menekan tombol 'call', Tenten mendekatkan ponselnya ke telinga.
Nada tunggu pertama.
Kedua.
Ketiga.
Keempat.
Kelima. Tenten berdecak kesal lalu menelpon Sasuke sekali lagi. Namun kali ini Tenten termenung, gadis itu menjauhkan ponselnya dari telinga dan memincingkan telinganya, berusaha memperjelas suara yang samar-samar terdengar oleh telinganya. Suara samar itu menuntun Tenten kearah pintu Sasuke. Tak salah lagi, suara itu suara deringan ponsel Sasuke.
Tenten ingat betul ringtone laki-laki dingin itu. Tenten mencengkram daun pintu dengan tangan kanannnya. Setelah menelan air liur yang terasa menggumpal di tenggorokannya, Tenten membuka pintu itu. Dan terbuka. Terbuka? 'Tidak biasanya Sasuke membiarkan pintu apartemennya tak terkunci.' Tenten berjingkat masuk kedalam apartemen Sasuke yang sangat sunyi.
"Sasuke? Apa kau didalam?" Tidak ada jawaban. Tenten berbalik sejenak untuk menutup pintu apartemen, kunci apartemen laki-laki itu bahkan masih tergantung di lubang kunci pintunya. Hal itu membuat Tenten semakin cemas, gadis itu meraih ponselnya sebelum akhirnya melepaskan mantelnya dan menggantungnya di gantungan mantel.
"Sasuke?" Tenten melangkah masuk kedalam apartemen Sasuke hingga akhirnya sampai didalam ruang duduk. Tidak ada siapapun disana. Tenten memutuskan untuk melangkah kedalam kamar Sasuke, gadis itu dengan hati-hati membuka pintu kamar Sasuke lalu melongokan kepalanya kedalam. Mata hazel nutnya menjelajahi seisi kamar Sasuke, tidak ada siapapun disana. Tenten kembali berdecak kesal sebelum akhirnya kembali menelpon Sasuke.
Beberapa detik kemudian, suara deringan ponsel Sasuke kembali terdengar oleh Tenten. Gadis itu segera mempercepat langkahnya menuju sumber suara. Suara deringan ponsel Sasuke, membawa Tenten ke ruang makan dan betapa terkejutnya gadis itu ketika mendapati seenggok tubuh manusia tergeletak tak berdaya di samping meja makan. Dari rambut raven nya, Tenten bisa mengenali siapa laki-laki yang tergeletak dihadapannya.
"Sasuke?!" Pekik Tenten seraya berlari kecil menghampiri tubuh Sasuke. Gadis itu duduk disamping tubuh Sasuke yang terbaring dengan posisi tengkurap. Dengan ragu Tenten menyentuh pundak Sasuke dengan jari telunjuknya. "Sasuke?" Tubuh itu tidak bergerak, hanya gerakan naik turun pada punggungnya yang menandakan bahwa laki-laki itu masih bernafas. Akhirnya Tenten memberanikan diri untuk memutar tubuh Sasuke hingga membuat laki-laki itu terbaring telentang dihadapannya. Mata hazel Tenten melebar ketika melihat betapa pucatnya wajah laki-laki itu. Sasuke pingsan tak sadarkan diri dengan bibir pucat dan wajah yang lebih putih dari biasanya.
Tenten mengguncang-guncang tubuh Sasuke, berusaha membuat laki-laki itu bangun, rasa panic mulai menguasai tubuh gadis itu membuatnya mengguncang tubuh Sasuke dengan kasar.
"Sasuke?! Apa yang terjadi?! Bangun! Jangan mati disini!" Pekik Tenten histeris. "SASUKE!" Pekik Tenten dengan suara yang memekakan telinga. Tapi tetap saja, mata Sasuke masih terpejam. Gadis itu kembali mengguncang-guncang tubuh Sasuke, tapi tetap saja laki-laki itu masih memejamkan matanya. Dengan lesu Tenten melepaskan cengkramannya di pundak Sasuke, membuat laki-laki itu kembali tergeletak dilantai. Rasa penyesalan kembali memenuhi hati Tenten, gadis itu menyesal karena tidak segera datang ketika Sasuke menelponnya. Tenten meraih ponselnya lalu memencet beberapa tombol nomor di sana sebelum akhirnya menempelkannya ditelinga.
"Halo, Kevin? Yeah, ini aku Tenten…. Aku ada keperluan mendadak, bisa beritahu murid-muridku bahwa aku izin selama dua hari ini? Ya, hari ini dan besok… aku tahu, maaf tapi ini benar-benar mendadak… yeah terimakasih banyak." Tenten menghela nafas panjang seraya menjauhkan ponselnya dari telinga. Bagaimana pun Tenten tidak akan bisa meninggalkan Sasuke dalam kondisi seperti ini, setidaknya Tenten akan meninggalkan laki-laki itu sendirian ketika kondisi laki-laki itu sudah jauh lebih baik.
xXx
Suara nyaring penghisap debu mengiang ditelinga Sasuke, membuat kepala laki-laki itu kembali didera rasa nyeri. Sasuke mengerutkan kedua alisnya, lalu berusaha membuka kedua matanya yang seperti digantungi beban 10 ton. Akhirnya setelah menghiraukan rasa nyeri dikepalanya, Sasuke berhasil membuka matanya, laki-laki itu mengerjap beberapa kali, berusaha memfokuskan pengelihatannya. Untuk sesaat laki-laki itu tidak mengingat dimana ia berada sekarang, sampai akhirnya mata onyx gelapnya berhenti pada keyboard kesayangannya yang diletakan disebelah pintu wardrobe nya.
'Ini kamarku..' Sasuke mengernyitkan hidungnya, ia memutar otaknya berusaha mengingat apa yang sebenarnya terjadi.
'Kenapa aku bisa berada disini? Seingatku… aku jatuh di ruang makan.' Dengan tak sabar Sasuke beranjak duduk diatas tempat tidurnya, pandangannya terasa berputar ketika laki-laki itu duduk. Sasuke menjulurkan tangannya hendak menyibakkan selimut bedcovernya, namun laki-laki itu tersentak kaget ketika mata onyxnya menatap tangan kirinya.
'Apa-apaan ini?!' Sasuke terkejut bukan main ketika mendapati motif polkadot melapisi tangannya. Sasuke segera menundukan kepalanya, dan laki-laki itu nyaris berteriak ketika melihat pakaian apa yang melapisi tubuhnya.
"Nani?!" Ucapnya kaget. Tubuh Sasuke saat ini tengah terbalut piama panjang bermotif polkadot, piama pemberian ibunya bulan lalu. Sasuke sangat membenci piama itu, karena piama itu lebih cocok dikenakan oleh perempuan ataupun anak kecil, maka dari itu ia menyembunyikan piamanya didalam wardrobenya, melipatnya kecil-kecil, menaruhnya didalam kotak dan ditaruh di bagian rak paling atas. Dan dirinya sangat kaget ketika mendapati saat ini tubuhnya terbalut piama yang sangat dibencinya.
Sasuke menyipitkan matanya ketika menyadari bahwa suara penyedot debu yang selama ini mengiang di rongga telinganya kini sudah tak terdengar. Dan tak lama, Sasuke bisa mendengar suara langkah kaki yang mendekat sebelum akhirnya pintu kamarnya terbuka dan sosok kepala gadis menyembut dari balik pintunya. "Sasuke? Kau sudah sadar?"
"Seperti yang kau lihat." Gadis itu tak menghiraukan jawaban singkat dan ketus Sasuke lalu melangkah masuk kedalam kamar Sasuke. Gadis itu duduk di sisi tempat tidur Sasuke. "Kau sudah baikan? Aku membawakanmu bubur." Ujar Tenten sambil menyodorkan semangkuk bubur polos kearah Sasuke.
"Bisa kau jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?" Tenten mengangkat sebelah alisnya. "Harusnya aku yang bertanya seperti itu, kenapa kau bisa terbaring di lantai?"
"Aku baru saja hendak mengunjungi guruku, sebelum akhirnya kepalaku terasa berat dan setelah itu… aku tak ingat apapun, apa sudah cukup jelas?"
"Ya kurasa sudah."
"Bagus, sekarang bisa kau jelaskan padaku kenapa aku bisa mengenakan baju ini?" Tanya Sasuke sambil merentangkan tangan kirinya.
"Oh itu, tadi aku memutuskan untuk mengganti pakaianmu dengan piama, lalu aku mencari piama didalam lemarimu sebelum akhirnya menemukan itu." Jawab Tenten ringan, Sasuke mengangkat kedua alisnya.
"Kau… aku tidak ingin memakai baju ini dan… kenapa kau mengganti bajuku?! Itu berarti kau-"
"Bodoh! Aku menutup mataku selama mengganti bajumu." Ujar Tenten sambil melambaikan sehelai sapu tangan berwarna putih dihadapannya.
"Hn." Gumam Sasuke ringan, Tenten menyodorkan semangkuk bubur kearah Sasuke. "Ini makan." Dengan enggan Sasuke meraih mangkuk bubur dihadapannya lalu meringis ketika melihat tampilan bubur itu dari dekat.
"Ini…"
"Ada apa? Ada yang salah?" Tanya Tenten, Sasuke segera melemparkan tatapan tajamnya kearah Tenten.
"Aku tidak mau memakan bubur yang hanya ditaburi garam seperti ini." Ujar Sasuke dengan suara parau sambil menyodorkan kembali mangkuk bubur digenggamannya. Tenten mendengus kesal.
"Kau ini banyak maunya, sudahlah makan saja." Meski berkata seperti itu, Tenten tetap meraih mangkuk yang disodorkan Sasuke.
"Aku tidak mau membuka mulutku untuk- BUPH!" Belum sempat Sasuke menyelesaikan kata-katanya, mulutnya sudah dijejali oleh sesendok makan bubur polos. Sementara Tenten hanya bisa tersenyum geli ketika menyaksikan laki-laki dihadapannya dengan berat hati menelan bubur dimulutnya.
"Kau mencoba membunuhku ya?!" Seru Sasuke dengan suara meninggi, membuat Tenten sedikit bergidik, namun meski begitu Tenten berusaha untuk tetap santai. "Kau tahu sendiri bukan bagaimana keadaan dapurmu?" Sasuke mengerang kecil lalu memalingkan wajahnya. Gadis itu benar, Sasuke tahu betul bagaimana keadaan dapurnya yang sangat tidak pantas disebut 'dapur'.
Tiba-tiba saja Sasuke merasakan bibirnya disentuh oleh sesuatu yang cair. Ternyata Tenten sudah kembali menyendokan semangkuk bubur kearahnya.
"Makanlah, kau tidak ingin berlama-lama terbaring tak berdaya disini bukan?" Sasuke mendengus kesal sebelum akhirnya membuka mulutnya dan membiarkan Tenten memasukan sesendok bubur lagi kedalam mulutnya. Tenten terkekeh ketika menyaksikan Sasuke membuka mulutnya dan menelannya dengan ringisan kecil diwajahnya.
'Sasuke terlihat seperti anak kecil.' Batin Tenten. Baru saja Tenten hendak menyuapkan satu sendok bubur lagi kemulut Sasuke, laki-laki itu meraih tangan Tenten, membuat gadis itu hampir saja melonjak kaget.
"Aku makan sendiri saja, lebih baik kau siapkan aku air panas untuk mengompres dahiku, sepertinya aku demam." Sasuke benar, Tenten bisa merasakan tangan laki-laki itu agak panas. Tenten tidak menjawab dan menyerahkan mangkuk bubur ditangannya ke Sasuke sebelum akhirnya bergegas pergi, sementara Sasuke terus memandangi gadis berambut auburn itu sampai akhirnya tubuh mungilnya menghilang seiring tertutupnya pintu kamarnya. Sasuke menghembuskan nafas yang tanpa sadar ia tahan lalu menatap buburnya dengan tatapan frustasi.
"Kenapa gadis itu selalu saja.." Sasuke akhirnya kembali memasukan sesendok bubur ke dalam mulutnya. Sasuke tersenyum kecil ketika merasakan ketenangan yang tengah ia rasakan ketika gadis itu tidak ada disekitarnya. Selama ini Sasuke selalu merasa khawatir gadis itu akan mencelakainya.
"Well gadis itu memang bodoh dan ceroboh." Gumam Sasuke kepada dirinya sendiri dan kembali menyantap buburnya. Dan beberapa menit kemudian, ketenangan Sasuke harus direnggut secara paksa oleh Tenten yang langsung membuka pintu kamar Sasuke dengan kasar.
"Apakah kau tidak bisa tenang barang sepuluh menit saja?" Kata Sasuke sambil menatap tajam Tenten yang tengah melangkah masuk kedalam kamarnya dengan satu baskom air hangat ditangannya.
"Maaf." Ucap gadis itu seraya menaruh baskomnya dilantai. Begitu duduk disisi tempat tidur Sasuke, Tenten menundukan kepalanya, wajahnya memerah. Sasuke yang menyadari keganjilan pada gadis dihadapannya, memiringkan kepalanya dan bertanya. "Kau kenapa?"
"Eh.. ano.."
"Hn?"
"Sudahlah lupakan." Ujar gadis itu sambil mengangkat wajahnya dan mencelupkan sehelai handuk kedalam baskomnya.
"Sebenarnya ada apa?" Tanya Sasuke kelewat penasaran. Tenten mendengus kesal. "Hanya ide bodoh yang diberikan Tsunade-baa-chan saat aku di panti." Jawab Tenten singkat.
"Apa?" Tenten menghela nafas panjang, dirinya baru tahu kalau ternyata Sasuke bisa kelewat menyebalkan. "Iya, katanya kalau ingin panasnya segera turun, punggungnya harus di basuh dengan air panas." Jawab Tenten dengan pipi memanas, sementara Sasuke hanya mengangkat sebelah alisnya lalu berkata dengan santainya. "Menurutku itu ide yang lumayan bagus."
"Maaf?"
"Ya, mungkin saja aku bisa sembuh lebih cepat, aku sudah tidak tahan berlama-lama terbaring tak berdaya di tempat tidur." Tenten menggigit bibir bawahnya dan menyerahkan handuk putih setengah basah yang berada ditangannya kepada Sasuke. "Kalau begitu, ini." Sasuke hanya menatap sekilas kearah handuk sebelum akhirnya melempar tatapannya kepada Tenten.
"Aku tidak bisa mengelap punggungku sendiri, apalagi dengan tanganku yang patah." Ucap Sasuke sambil menggerakan tangan kanannya yang masih tergantung didadanya. "Lalu?" Sasuke berdecak kesal sebelum akhirnya menaruh mangkuk kosongnya di meja dan memutar tubuhnya membelakangi Tenten. Dengan cepat laki-laki itu melepaskan semua kancing piamanya dan seketika itu juga, helaian piama berbahan lembut itu meluncur dengan mulus kebawah, memampangkan punggung Sasuke yang putih dan sangat mulus. Bahkan Tenten yakin seekor lalat, nyamuk atau serangga lainnya yang hinggap di punggung Sasuke akan tergelincir.
"Kau yang mengelap punggungku." Kata Sasuke singkat dan terdengar terlalu santai, seolah itu adalah hal yang wajar untuk dilakukan oleh Tenten.
"A-apa? Kenapa harus aku?" Ucap Tenten setengah memekik.
"Karena kau yang sudah memproklamasikan ide itu." Jawab Sasuke apa adanya, Tenten menghela nafas panjang dan meraih baskomnya, menaruhnya dipangkuan. Gadis itu mencondongkan tubuhnya mendekat kearah Sasuke.
Jujur saja, baru sekali itu Tenten melihat seorang laki-laki bertelanjang dada dihadapannya. Dan kalian bisa membayangkan bukan bagaimana perasaan Tenten saat ini? Meskipun Tenten membenci Sasuke dan tidak pernah menganggap laki-laki itu keren, tetap saja jantung gadis itu berdetak sangat kencang. Dengan tangan gemetar, Tenten mengelap punggung Sasuke. Namun, gerakannya terhenti. Handuknya bahkan belum menyentuh permukaan kulit Sasuke. Gadis itu membatu, Tenten tak bisa bergerak.
'Ayolah tangan! Kenapa aku jadi segugup ini?! Ini kan hanya Sasuke!' Jerit Tenten dalam hati, gadis itu menelan ludahnya yang terasa seperti seenggok daging yang menggantung di tenggorokannya lalu kembali melanjutkan aktivitasnya sebelum akhirnya kembali terhenti. Kali ini bukan karena Tenten membatu, tapi karena sebuah tangan menggenggam tangannya. Dengan ragu Tenten mengangkat wajahnya, dan betapa kagetnya gadis itu ketika mendapati sepasang bola mata onyx mengunci tatapannya.
Tenten hanya bisa terdiam selama beberapa saat, memandang tatapan tajam Sasuke yang entah bagaimana terlihat berbeda dari biasanya. Tenten pernah melihat tatapan ini.. ah ya! Sasuke juga pernah menatapnya seperti ini ketika mereka berada di Clinton. "Bisa lebih cepat? Aku mulai kedinginan." Kata Sasuke dengan suara rendah yang terdengar –ehem- seksi di telinga Tenten.
Wajah Tenten terasa panas, jantungnya bergedup kencang dan akhirnya Tenten pun meledak. "Gyaaa!" Gadis itu memekik dan melonjak kaget yang sukses membuat baskom di pangkuannya melanting keudara dan mengenai Sasuke, membuat isi didalam baskom itu mengguyur tubuh Sasuke dari ujung rambut sampai pinggang.
"Kau…." Geram Sasuke, seakan baru sadar dari perbuatan yang telah dilakukannya, Tenten memekik kecil dan mengulurkan tangan hendak menyentuh Sasuke, tapi laki-laki itu menyingkir kebelakang.
"Maaf Sasuke… aku tidak-"
"Kau itu selalu saja." Ucap Sasuke dengan nada tegas dan dingin, membuat siapapun yang mendengarnya akan melangkah mundur secara teratur.
"Aku tidak sengaja, biar aku keringkan tubuhmu-"
"Lebih baik kau ambilkan aku handuk kering dan setelah itu jangan pernah masuk kedalam kamarku lagi." Geram Sasuke dengan suara rendah, Tenten hanya bisa menghela nafas panjang dan akhirnya menuruti perintah Sasuke, setelah menyerahkan sehelai handuk kepada Sasuke, gadis itu keluar dari kamar Sasuke, ia tidak ingin membuat mood laki-laki es itu semakin memburuk. Sementara Sasuke hanya bisa menggerutu tidak jelas sambil mengelap tubuhnya yang basah kuyup akibat kecerobohan malaikat mautnya.
"Kenapa dia itu sangat bodoh." Gumamnya kesal, setelah tubuhnya kering, Sasuke menghela nafas panjang dan merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Yang ia butuhkan hanyalah istirahat, mungkin tidur selama beberapa jam akan memulihkan kondisi tubuhnya yang semakin parah. Akibat tersiram air, tubuh Sasuke jadi terasa semakin lemas dan demamnya semakin tinggi.
'Semua gara-gara dia.' Batin Sasuke kesal. Ia harusnya tahu kalau Tenten tidak akan pernah bisa melakukan sesuatu dengan benar. Sasuke selalu beranggapan seperti itu, beranggapan seolah gadis itu akan mencelakainya setiap berada didekatnya, dan bodohnya kenapa Sasuke sempat mempercayai gadis itu untuk merawatnya? Sasuke memejamkan matanya dan menarik nafas dalam-dalam, berusaha meredam emosinya yang sudah tersulut.
Sementara itu diruang duduk apartemen Uchiha bungsu, Tenten tengah berdiri termenung dihadapan jendela besar diruang tengah. Gadis itu merasa bingung, kenapa dirinya enggan untuk meninggalkan Sasuke meskipun laki-laki itu sudah jelas-jelas mengusirnya. Sebenarnya Tenten bisa saja meninggalkan Sasuke saat ini, tapi sisi lain dirinya berkata tidak. Gadis itu tidak ingin meninggalkan Sasuke dalam keadaan seperti ini. Tenten mendengus kesal lalu berjalan kearah sofa dan menghempaskan tubuhnya disana. Mata hazelnya melirik kearah pintu kamar laki-laki es yang tertutup rapat.
Tenten memejamkan kedua matanya dan menyenderkan tubuhnya di sofa. Gadis itu merasakan sesuatu yang aneh menggerumul didalam hatinya. Terutama ketika ia mengingat kejadian dimana Sasuke bertelanjang dada dihadapannya. Punggung yang putih dan mulus, tanpa goresan sedikit pun. Pipi Tenten kembali menghangat ketika mengingatnya lagi.
'Kenapa aku bisa segugup itu? Apakah itu wajar mengingat Sasuke adalah laki-laki dan aku adalah perempuan?' Suara gemuruh petir membuat lamunan Tenten buyar, gadis itu melirik kearah jendela besar disamping ruang duduk. Langit terlihat kelabu, bisa Tenten lihat beberapa batang pohon kayu menukik tajam kebawah karena tertiup angin yang kencang. Pertanda sebentar lagi badai akan datang. Suara gemuruh itu kembali terdengar, membuat Tenten bergidik ngeri. Tenten melirik kekanan dan kekiri, suasana apartemen Sasuke yang sunyi membuat bulu kuduk gadis itu meremang. Suara gemuruh itu terdengar lagi dan lagi, malah terdengar semakin besar. Dan tak lama hujan deras turun disertai angin kencang, membuat kaca jendela apartemen Sasuke sedikit berderak. Perasaan Tenten semakin tidak enak, gadis itu menegakan posisi duduknya dan menarik nafas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan oksigen beku. 'Tenang Tenten, ini hanya badai ditengah musim gugur, tidak akan bertambah parah.' Batinnya berusaha mensugesti dirinya sendiri.
Namun harapan Tenten pupus ketika secara tiba-tiba ruang tengah apartemen Sasuke menjadi gelap. Pemadaman listrik. Tenten menggeram kesal, bahkan di kota maju seperti New York masih ada pemadaman listrik?! Suara gemuruh petir semakin menggelegar, kilatan listrik terlihat membelah langit kelabu, jelas saja ini bukan badai biasa. Tenten tidak tahan lagi, gadis itu akhirnya memekik dan berlari kearah kamar Sasuke, membuka pintu kamar Sasuke sambil berteriak histeris.
"SASUKEE!" Dan laki-laki yang dipanggil namanya terpaksa harus membuka kedua matanya. Dengan susah payah laki-laki itu bangkit dari tempat tidurnya lalu melangkah menghampiri Tenten.
"Kau….sudah kubilang jangan masuk kekamarku!"
"Tapi diluar ada badai, dan dan…"
"Kau takut dengan badai?" Tenten menundukan kepalanya dan mengangguk kecil. Sejak masih dipanti, Tenten memang selalu takut jika badai menghadang, gadis itu biasanya akan berlari-lari dikamar dan meringkuk dibawah tempat tidurnya sambil menutup kedua telinganya. Sasuke menghela nafas panjang dan memijit batang hidungnya.
"Dengar ya, itu hanya badai biasa jangan seperti anak kecil." Ucap Sasuke dengan rahang menegang. "Tapi kan tetap saja.." Belum sempat Tenten menyelesaikan kalimatnya, tubuh Sasuke yang selama beberapa detik yang lalu menjulang dihadapannya terhuyung kedepan dan akhirnya membentur permukaan lantai kayu. "Sa… Sasuke!" Dengan tangan gemetar, Tenten menyentuh dahi Sasuke.
'Badannya, panas sekali.' akhirnya dengan susah payah Tenten membopong tubuh Sasuke (lagi) keatas tempat tidur dan membaringkannya disana. Bisa ia lihat kedua alis Sasuke yang mengkerut dan bulir-bulir keringat yang meluncur membasahi pipinya. Setelah membungkus Sasuke dengan selimut tebal, Tenten berlari menuju dapur Uchiha bungsu, mencari obat. Tapi nihil, tidak ada persediaan obat dirumah itu. Akhirnya Tenten meraih ponselnya dan berusaha menelpon dokter, tapi naasnya tidak ada signal. Tenten terduduk diatas lantai kayu, memejamkan kedua matanya dan berpikir keras.
'Kami-sama, apa yang harus kulakukan? Aku tidak bisa meninggalkan Sasuke dalam kondisi seperti ini bukan?' Tenten membuka kedua matanya dan secara tak sengaja melirik kearah buku telpon yang ditaruh di rak buku bagian paling bawah milik Sasuke, tangan mungil Tenten menarik buku bersampul kuning itu dan dengan cepat membuka halamannya. Jari telunjuknya menyusuri gambar peta kecil yang tercetak di buku itu.
Mata gadis itu melebar ketika menemukan apotik terdekat dari kawasan riverside. "Jaraknya kurang lebih 7 km, kalau ditempuh dengan mobil sekitar lima belas menit, tapi aku tidak yakin mengemudi ditengah badai seperti ini." Gumam Tenten pada dirinya sendiri. Ia tahu mengemudi ditengah badai seperti ini beresiko tinggi, jadi jalan satu-satunya adalah berjalan kaki.
'Ya aku sudah memutuskan! Aku harus membeli obat! Lagipula semua ini karena aku kan? Aku sudah menyiramnya hingga dia demam seperti ini bukan?' Tenten akhirnya berdiri dan melangkah lebar kearah kamar Sasuke. Dengan cepat Tenten mengaduk-aduk isi wardrobe Sasuke, berusaha mencari jas hujan dan sepatu boots. Setelah mendapatkan apa yang ia cari, Tenten berlari kecil kearah pintu apartemen, meraih kunci apartemen Sasuke dan bergegas keluar dari apartemen itu.
Tenten memekik kecil, ketika merasakan sekujur tubuhnya yang basah dan beku. Ternyata badai ini terasa lebih mengerikan jika dirasakan langsung, dan akhirnya disinilah Tenten, berdiri di trotoar kawasan riverside yang tengah di terjang badai. Tenten menyipitkan matanya, berusaha melihat dibalik bulir-bulir air hujan yang membasahi matanya. 'Sial! Bahkan jarak lima meter kedepan pun tidak terlihat.' Setelah menelan ludahnya, Tenten akhirnya melangkahkan kakinya kedepan. Dengan bersusah payah, Tenten melangkah dengan sebelah tangan menutupi wajahnya yang tertampar angin beku. Ia merasa tubuhnya akan terbang terbawa angin, meski begitu Tenten tetap melangkahkan kakinya. Berkali-kali Tenten terjatuh, dan tak jarang pula kertas-kertas yang berterbangan dengan tidak elit menampar wajahnya. Dan akhirnya semua perjuangan Tenten terbayar ketika melihat lampu apotik 24 jam menyala beberapa meter dihadapannya. Tenten tersenyum getir dan menyeret langkahnya ke apotik tersebut. "Ada yang bisa saya Bantu?"
"Aku butuh obat pereda demam."
xXx
Dengan lesu Tenten membuka pintu apartemen Sasuke dengan kedua tangan dan melangkah masuk kedalamnya. Bisa ia rasakan air hujan yang dingin mengalir turun dari ujung rambut sampai ke ujung kaki dan akhirnya membasahi lantai kayu kediaman Uchiha bungsu itu. Tangan Tenten yang sudah memutih dan keriput meraih daun pintu kamar Sasuke dan mendorongnya. Gadis itu tersenyum lega ketika mata hazelnya mendapati Sasuke tertidur dengan pulas tanpa bulir keringat yang membasahi wajahnya yang berarti demamnya sudah turun. "Ah syukurlah~" Ujar Tenten yang akhirnya terduduk di lantai, tepatnya disamping tempat tidur Sasuke.
"Bodoh." Tenten membuka kedua matanya dan melirik kesamping, dilihatnya Sasuke yang tengah berusaha duduk.
"Karena tidak ada kau, aku bisa tidur dengan tenang seharusnya kau pergi lebih lama."
"Eh?"
"Sini obatnya!" Tambah Sasuke sambil mengulurkan tangannya, Tenten pun menyerahkan bungkusan berisi obat yang tadi dibelinya dan beranjak berdiri. "Jadi begitu ya, aku juga sudah menyirammu tadi, salahku."
"Ya itu memang benar." Kata Sasuke sambil menelan pil berwarna hijau dan meminum segelas air mineral. Tenten mendengus kesal, harusnya ia tidak datang ke apartemen Sasuke, mungkin jika Tenten tidak datang dan tidak membangunkan Sasuke dengan mesin penghisap debu itu sekarang ini Sasuke sudah sembuh. "Baiklah, si pengganggu pergi dulu." Ucap Tenten sambil melangkah kearah pintu Sasuke.
"Kenapa kau berantakan seperti itu?" Langkah Tenten terhenti, gadis itu menoleh kebalakang, memperhatikan Sasuke yang kembali terbaring diatas tempat tidurnya. "Sudahlah.. disini saja." Dan kata-kata Sasuke saat itu benar-benar membuat Tenten kaget bukan main, bahkan Sasuke sendiri juga terkejut ketika mendengar kata-kata yang meluncur dari bibirnya sendiri. Tenten tersenyum kecil dan akhirnya melangkahkan kakinya kesamping tempat tidur Sasuke sebelum akhirnya menghempaskan tubuhnya diatas lantai.
"Kau itu," Sasuke tersenyum kecil sambil memejamkan kedua matanya. "Benar-benar bodoh." Tenten hanya bisa menatap Sasuke dengan tatapan terheran-heran. Ada apa sebenarnya? Kenapa Tenten merasa kalau saat ini Sasuke bukanlah Sasuke yang biasanya?
"Kau ini.. padahal kau sendiri yang bodoh." Tenten tersenyum geli ketika mendengar dengkuran lembut dari arah Sasuke. Gadis itu menyenderkan tubuhnya ke tempat tidur dan merapatkan tubuhnya kepada handuk berwarna putih yang membungkus tubuhnya yang basah kuyup. Secara perlahan-lahan, kedua matanya tertutup.
'Meski aku membencimu, tapi maafkan aku ya karena sudah banyak merepotkanmu hari ini, Sasuke.'
xXx
Tenten meringis kecil ketika merasakan benda basah menyentuh keningnya. Tenten berusaha membuka kedua matanya yang terasa berat dan mengerjap beberapa kali untuk menyingkirkan kunang-kunang yang menari-nari dipandangannya. Benda pertama kali yang Tenten lihat ketika kunang-kunang di pandangannya hilang adalah sepasang bola onyx yang menatap tajam kearahnya. Sepasang mata, sepasang mata gelap yang selalu menatapnya dengan tatapan tajam. Tenten kembali meringis kecil ketika merasakan rasa nyeri menyerang kepalanya.
"Akhirnya kau bangun juga." Tenten menyipitkan kedua matanya dan berusaha untuk duduk, tapi rasa nyeri tajam di kepalanya membuat tubuh gadis itu kembali terhempas diatas tempat tidur.
"Sebenarnya ada apa?" Tanya Tenten dengan suara parau.
"Kau masuk angin, karena keluyuran ditengah badai dan tidur tanpa mengganti bajumu yang basah."
"Lalu bagaimana dengan demammu?"
"Setelah semalaman tidur dengan nyenyak aku sembuh total, sudah kubilang aku hanya kelelahan." Tenten hanya mengangguk kecil dan akhirnya mendengus kesal, merasa bodoh karena sekarang gantian dirinya yang sakit.
Tak lama kemudian, Sasuke beranjak keluar dari kamar, sementara itu Tenten kembali berusaha duduk. Akhirnya gadis itu berhasil duduk diatas tempat tidurnya, Tenten melemparkan pandangannya kesekitar. Kamar yang didominasi warna putih dan abu-abu, sepertinya Sasuke memang sangat menyukai warna putih dan abu-abu sehingga untuk kamar tamunya saja ia gunakan kedua warna itu. Tenten menunduk kebawah, baju kausnya sudah diganti dengan kemeja piama berwarna putih polos.
'Eh tunggu dulu… berarti Sasuke-'
"Jangan berpikir yang tidak-tidak." Tenten mengangkat wajahnya dan mendapati Sasuke tengah berdiri diambang pintu dengan semangkuk makanan di tangannya. "Aku juga menutup kedua mataku dengan sapu tangan ketika mengganti pakaianmu, lagipula aku sama sekali tidak tertarik." Tenten mendengus kesal ketika mendengar kata-kata Sasuke yang terdengar terlalu realistis. "Jadi… sekarang kita bertukar posisi."
"Yeah sepertinya begitu, aku sendiri bingung kenapa orang bodoh sepertimu bisa masuk angin." Tenten mengerucurkan bibirnya, sementara Sasuke duduk diatas kursi berwarna putih yang sedari tadi ditaruh disamping tempat tidur tempat Tenten duduk. Tenten melirik kearah mangkuk yang berada digenggaman Sasuke. "Kau memasak bubur untukku?"
"Jangan beranggapan bahwa aku begitu peduli padamu, aku tidak mau repot-repot kedapur demi kau."
"Lalu bubur ini?"
"Itachi yang membuatkannya untukmu." Tenten menundukan kepalanya, berusaha menyembunyikan wajahnya yang memanas dari pandangan Sasuke.
"La-lalu.. dimana dia sekarang?" Tanya Tenten, berusaha menjaga nada suaranya agar terdengar santai.
"Dia bilang dia akan segera kembali, entahlah aku tidak mau repot-repot mencari tahu." Sasuke meletakan mangkuk berisi bubur di pangkuan Tenten.
"Yang jelas dia menyuruhku untuk memastikanmu memakan habis bubur ini." Lagi-lagi jantung Tenten bergedup kencang, bahkan ia khawatir Sasuke bisa mendengar degupan jantungnya.
"Oh.. begitu." Ucap Tenten seraya meraih mangkuk berisi bubur itu dan mulai memakannya. Bubur yang lembut dan hangat terasa membasahi lidah Tenten, membuat gadis itu tersenyum samar. Sasuke yang melihat hal ini hanya bisa mendengus kesal sambil memutar bola matanya.
"Kalau saja Itachi yang merawatku kemarin, mungkin aku juga bisa memakan bubur yang kelihatannya enak itu, bukannya memakan bubur hambar buatanmu." Dan seperti yang kita duga, suasana hati Tenten seketika memburuk ketika mendengar kata-kata menusuk Sasuke, ternyata memang benar ya, Sasuke sangat ahli dalam membuat mood orang lain hancur, bahkan hanya sepatah dua patah kata.
"Salahkan dapurmu yang sudah tidak layak menyandang nama sebagai dapur itu." Balas Tenten kesal yang kembali menyantap buburnya, baru saja Sasuke membuka mulutnya dan hendak membalas kata-kata Tenten, terdengar suara bel intercomnya berbunyi, membuat Sasuke beranjak dari kamar. Dan tak lama kemudian, pintu kamar tamu kembali terbuka, kali ini Tenten tidak melihat laki-laki dengan rambut emo yang melewati pintu itu, tapi laki-laki bertubuh tinggi dengan rambut gelap yang sengaja diikat longgar yang kini melangkah memasuki kamar tamu dan duduk ditempat Sasuke duduk beberapa menit yang lalu. "Bagaimana keadaanmu?"
"A-ah… aku sudah lebih baik, oh iya. Terimakasih untuk buburnya, enak sekali." jawab Tenten sambil menundukan kepala. Itachi tersenyum singkat lalu menyentuh kening Tenten. "Sepertinya demammu sudah turun ya."
"Sepertinya begitu." Itachi mengangguk lalu menarik kembali tangannya.
"Sekarang jelaskan padaku, kenapa kau bisa sampai seperti ini?" Tenten mengangkat wajahnya, menatap Itachi yang membalas tatapannya dengan tatapan menuntut. "Err… sepertinya Sasuke sudah menceritakanmu semuanya."
"Dia belum menceritakanku alasan kau keluyuran ditengah badai kemarin." Tenten menghela nafas panjang.
"Aku ingin ke apotik, membeli obat penurun panas untuk Sasuke."
"Apa dia yang menyuruhmu melakukan semua ini?"
"Semua ini apa?" Tanya Tenten sambil mengenyitkan hidungnya. "Merawatnya seharian, membuatkannya bubur, dan mencari obat di tengah badai?"
"Tidak! Tentu saja tidak." Sahut Tenten cepat. "Lalu?"
"Aku melakukannya dengan keinginanku sendiri karena, karena sebenarnya Sasuke sudah menelponku sebelum ia pingsan… dan keesokannya aku datang untuk memastikan dan ternyata dia sudah pingsan."
"Lalu soal obat dan badai?"
"Yeah… sebenarnya ada kecelakaan kecil yang membuatku harus mencari obat untuknya… tapi Sasuke tidak menyuruhku melakukannya, tidak sama sekali." itachi akhirnya mengangguk kecil.
"Aku hanya tidak ingin dia bersikap kasar pada perempuan." Kata Itachi. "Apalagi padamu." Tambahnya yang akhirnya sukses membuat kedua pipi Tenten bersemu merah. "Jadi… kapan kau akan pulang ke apartemenmu?"
"Eh, segera setelah kondisiku membaik." Jawab Tenten cepat, laki-laki itu kembali mengangguk lalu menepuk kepala Tenten dengan tangan kanannya.
"Kalau begitu cepatlah sembuh." Kedua bola mata Tenten membulat, sebelum akhirnya gadis itu tersenyum kecil. "Iya, terimakasih Itachi-senpai."
"Baiklah kalau begitu aku permisi dulu, masih banyak yang harus kukerjakan di café." Ujar Itachi sambil menarik tangannya dan berdiri.
"Jaa ne, Tenten." Tenten tersenyum kecil lalu melambai kecil kearah Itachi.
"Jaa ne, Itachi-senpai." Setelah tersenyum singkat, Itachi membuka pintu kamar dan menghilang dibalik pintu.
Sementara itu Sasuke mengangkat wajahnya ketika mendengar suara langkah kaki mendekat kearahnya, ditatapnya dengan tajam sosok laki-laki berambut panjang yang berjalan melewatinya, tidak menghiraukannya seolah Sasuke tidak ada disana. "Puas? Kau lihat kan kalau aku tidak menyuruh gadis itu untuk keluyuran ditengah badai."
"Kali ini sepertinya memang benar." Ucap Itachi tanpa menoleh kearah Sasuke, meski begitu, laki-laki itu menghentikan langkahnya.
"Aku hanya ingin kau ingat, jangan pernah perlakukan dia dengan tidak pantas." Sasuke hanya mendengus kesal lalu kembali meneguk sodanya.
"Sepertinya kau memang tertarik pada gadis itu." Ucap Sasuke dengan nada tak peduli, atau lebih tepatnya dengan nada yang berusaha dibuat agar terkesan tidak peduli. "Memang." Dan jawaban singkat Itachi hampir membuat Sasuke menyemburkan cairan soda yang bersemayam di dalam mulurnya, tetapi bukan Sasuke namanya kalau tidak bisa menyembunyikan ekspresinya dengan cepat.
"Karena itu, lebih baik kau bersikap baik padanya, adik kecil." Kata Itachi yang kali ini menoleh kearah Sasuke dan tersenyum simpul, sangat bertolak belakang dengan kata-katanya yang terdengar sedikit mencekam. Setelah itu Itachi melangkahkan kakinya menuju pintu apartemen Sasuke, si pemilik rumah hanya bisa menatap kepergian kakaknya dengan tatapan tak peduli hingga akhirnya sosok Itachi menghilang dibalik pintu. Dan bersamaan dengan itu, Sasuke menghembuskan nafas yang tanpa sadar ia tahan sedari tadi. Rahang laki-laki itu menegang dan tanpa kehendaknya, tangan kirinya mencengkram erat kaleng soda yang setengah kosong itu.
xXx
Tenten tersenyum lega ketika merasakan butiran air hangat membasahi tubuhnya. Sasuke benar, Tenten memang harus mandi. Dan mandi membuat perasaannya terasa lebih baik. Setelah pusing dikepalanya hilang, Tenten berniat untuk segera pulang dan beristirahat dirumah karena sepertinya punggungnya kembali terasa sakit. Namun Uchiha bungsu itu melarangnya dan menyuruhnya untuk mandi, oh ya. Thanks to Sasuke yang sudah menyebut penampilan Tenten seperti zombie yang akhirnya membuat gadis itu memutuskan untuk mandi. Tenten memutar kran shower dihadapannya dan seketika itu juga air panas yang membasahi tubuhnya berhenti. Setelah mengeringkan tubuh dan rambutnya dengan handuk, Tenten menyambar kemeja putih Sasuke yang terlipat dengan rapih disamping wastafel pualam. Dengan kedua tangan, Tenten merentangkan kemeja itu dihadapannya. Kelihatannya terlalu besar untuk Tenten. Samar-samar Tenten bisa mencium aroma mint dari kemeja Sasuke.
'Apa seperti ini aroma tubuh Sasuke?' Tenten segera mengenakan kemeja berwarna putih itu dan merasakan sensasi aneh ketika kulitnya menyentuh permukaan kemeja itu. Setelah menaruh piama Sasuke kedalam mesin cuci didapur dan memasukan semua pakaian kotornya kedalam plastic, Tenten segera meraih mantelnya.
"Baiklah aku sudah mandi, sekarang aku bisa pulang bukan?" Sasuke mengangkat wajahnya dan menjauhkan majalah musik dihadapannya.
"Yeah kau bisa pulang." Sahut Sasuke. "Tapi kau harus datang besok pagi, jam delapan tepat."
"Yaya, aku sudah tahu." Ujar Tenten sambil mengenakan mantel coklatnya. "Dan, Tenten."
"Ya?"
"Kau harus mengosongkan acaramu besok malam." Tenten menyipitkan kedua matanya dan menatap Sasuke dengan tatapan bingung.
"Memangnya kenapa?"
"Akan kuberitahu besok pagi."
Bagaimana Minna? chappy ini aku buat agak panjang, soalnya aku gabisa terlalu sering apdet karena kesibukan sekolah, harap dimaklumi ya Minna, tapi aku janji kok bakal apdet fic ini secepatnya hehe. terimakasih, baca terus fic ini yaa, dan direview, makasiiih :3
