Rated: T

Disclaimer: all of this chara is totally belongs to Mashashi Kishimoto, but this fic officially mine.

Warning: Setting gajelas, bahasa gajelas, Crack pairing, OOC tingkat dewa, dsb.

SasuTen slight ItaTen

Read it with ur own risks(:

couple words from author:

Haihaihaii Minna-san! ketemu lagi sama author disinii hehe. maaf ya apdetnya lumayan lama :( author baru selesai uts nih, semoga hasilnya memuaskan yaa aminn hehe. oh iya, fic ini diperkirakan akan berjumlah lebih dari 20 chap jadi author mohon para readers gabosen ngikutin alur fic ini yaa :( ehehehe, oke aku bales reviews dulu yaa...

Akira ken: Ahehe ini udah aku apdet chappy terbarunya (: ehehe baguslah kalo begitu soalnya mulai dari sekarang isi chapternya bakal panjang2 ._. hehehe, oh iya fic ini juga akan masih berlanjut sampe chapter 20 an lebih, soalnya author masih bingung gimana mau mengakhirinya hehehe harap maklum ._. bener bgt, Tenten itu yang paling ramah deh walaupun kadang keliatan agak galak hehe, fic aku yang satu ini gaakan sad ending kok (soalnya author udh bosen bikin sad ending, krn semua fic nya sad ending semua *plak) wkwk *author berasa punya banyak fic* #gampar wkwk. yaaa kalo pertanyaan itu aku gabisa jawab sekarang, lama kelamaan kamu tau kok Itachi bakal berubah gimana ;)

ItaTen: aduuh terimakasihh *guling-guling* Ahaha NaruTen moment gaakan terjadi (maafyaa:() soalnya Naruto cuman mau ngegodain Sasuke doang ehehehe, tapi mereka bakal temenan kok hehe. ehehe, aku selalu berusaha supaya apdet secepet mungkin kok, karena sekolah lagi sibuk jadi ya gabisa terlalu sering apdet maafyaa :( iyaa gapapa kok hehehe makasih yaa :)

Panda sky princess: ahehe, iyakan disini Sasuke udh keliatan perubahannya hehe. iyaa, Tenten emang punya penyakit. engga kok, ini gaakan jadi sad ending kokk, penyakit ini malah bakal bikin Sasuke sama Tenten semakin deket (: waduuh, tanyakan hal itu pada Naruto #plak! wkwkwk inii udh aku apdett silahkan dibaca yaa :)

Oke segini aja reviewsnyaa, langsung aja yaa chappy 13 :D

Chapter 13

"Bodoh! Dimana kutaruh benda itu!" Gumam Tenten sambil mengaduk-aduk isi tasnya. Tidak menemukan apa yang dicarinya, Tenten menuangkan seluruh isi tasnya diatas meja. Kening gadis itu berkerut cemas ketika tidak menemukan benda yang ia cari. Tenten berputar dan membuka lemari obatnya di kamar mandi, jari lentiknya menyentuh tabung-tabung plastic yang berjejer disana, dengan kedua mata disipitkan, bola mata indah Tenten menelusuri setiap tabung itu. Tapi nihil, ia tidak bisa menemukan apa yang ia cari. Ia menutup pintu lemari dengan keras dan menatap refleksi wajahnya di depan sehelai cermin.

'Dimana obat sial itu?! Aku sangat membutuhkannya, Kami-sama kalau sampai aku tidak menemukannya-'

Tiba-tiba bel intercom apartemennya berbunyi, Tenten segera berlari kecil kearah pintu. "Hei, ini aku." Tenten tersenyum kecil ketika mendengar suara Sasuke lewat intercom, gadis itu segera menekan tombol berwarna biru untuk membukakan pintu gedung apartemennya. Lalu gadis itu melemparkan tatapannya kesekitar ruang tengah apartemennya, mencari tas tangannya.

'Baiklah, aku akan mencari obat sial itu setelah pesta.' Gumam Tenten didalam hati sambil menyambar tas tangannya yang berwarna silver.

Tepat setelah ia meraih mantel dan tas tangannya bel pintunya berbunyi. Gadis itu melangkah lebar-lebar kearah pintu dan menghirup nafas dalam-dalam. Kedua tangannya memeriksa rambut dan bajunya, setelah yakin ia siap, Tenten segera membuka pintunya dan menyambut Sasuke dengan seulas senyum simpul seperti biasa. Uchiha Sasuke berdiri menjulang tinggi dihadapannya.

"Kau terlalu tepat waktu, Uchiha." Sasuke terkekeh lembut. Ia mengamati Tenten dari ujung rambut sampai kaki. 'Gadis itu mencepol rambutnya lagi.' Mata onyx itu memulai petualangannya dari rambut auburn Tenten yang di cepol dua dengan sejumput rambut yang dibiarkan menggantung dibawah dua cepolan itu, gaun yang dikenakan Tenten bukanlah gaun mewah berharga puluhan juta dolar seperti yang sering Sasuke lihat dipesta besar atau makan malam penting, tapi saat melihat gaun itu melekat ditubuh mungil Tenten, entah bagaimana gaun itu terlihat elegan, terlihat mewah.

Gaun berwarna broken white klasik bermodel jaman dahulu dengan bagian yang menyempit dibagian dada, memperlihatkan lekuk tubuh gadis itu secara nyata, dan mengembang dibagian roknya. Bagian atasnya dihiasi brokat jahitan dengan detail yang teliti, menikuk beberapa centimeter dibagian dada. Gaun itu terlihat sempurna di tubuh Tenten, tidak terkesan terlalu glamour, dan tidak terkesan murahan. Sempurna. "Sepertinya aku harus memanggilmu panda mulai dari sekarang." Gumam Sasuke yang membuat Tenten terkekeh.

"Kenapa?"

"Karena kau.. mencepol rambutmu lagi.. dan itu sangat… bagus." Tenten tertawa kecil lalu berdeham beberapa kali.

"Maaf aku tidak bisa mengenakan gaun malam branded."

"Kurasa itu tidak perlu, karena kau sudah terlihat.. mengagumkan." Tenten hanya bisa tersenyum malu lalu menepuk dada bidang Sasuke. "Sudah kubilang aku tidak akan membuatmu malu bukan?"

"Aku tidak meragukannya." Timpal Sasuke sambil mengulurkan lengannya. Dengan canggung, Tenten menggandeng lengan Sasuke. Ada getaran aneh ketika tangan mungil Tenten melingkar disana. Entahlah, mungkin karena selama ini hubungannya dan Sasuke tidak pernah bisa dikatakan 'baik'. Dan berulang kali Tenten harus menyadarkan dirinya bahwa ini bukan mimpi. Maksudnya, kalian pasti merasa tidak mengira bukan bahwa kalian akan pergi ke pesta dengan laki-laki yang selalu memberengut kepada kalian dan memerintah kalian dengan seenaknya.

"Jadi, apa kau baik-baik saja? Semua oke?" Tanya Sasuke ketika porce Cayman nya melaju dijalan kota New York. "Huh? Apa maksudmu?" Tanya Tenten sambil menoleh kearah Sasuke yang duduk disampingnya. Dikursi penumpang belakang. Karena kondisi tangan Sasuke masih belum pulih 100%, Sasuke terpaksa harus menyewa supir.

"Entahlah, sepertinya aku merasa tubuhmu agak menyusut dari biasanya."

"Eh.. aku memang jarang makan belakangan ini."

"Diet?" Tenten tertawa renyah. "Jangan bercanda, aku anti terhadap diet."

"Lalu?"

"Murid-muridku bertambah menjelang musim dingin, kau tahu semua orang ingin lancar meluncur di musim dingin bukan?"

Sasuke hanya bisa menatap Tenten dengan tatapan datar, tangan kiri laki-laki itu menyusup kedalam kantung tuksedonya dan meraih tabung plastic yang sedari tadi bersemayam di kantungnya.

"Apa kau bisa menjelaskan ini?" Tenten menoleh kearah Sasuke, mata hazelnya melebar ketika melihat tabung plastic berisi kapsul-kapsul merah-putih yang tak lain dan tak bukan adalah miliknya. Melihat reaksi Tenten, Sasuke yakin bahwa kapsul-kapsul ini adalah milik Tenten.

"Dimana kau menemukannya?" Tanya Tenten ketika gadis itu berhasil menguasai dirinya lagi. "Kau meninggalkannya diapartemenku." Jawab Sasuke singkat ditambah suara yang dingin dan –ehem- menyeramkan.

"Jadi." Kata Sasuke dengan suara ringan. "Obat apa ini?" Tanya Sasuke sambil menggoyangkan tabung kecil yang berada digenggamannya. Ia ingin mendengar jawaban langsung dari gadis itu.

"Vitamin." Jawab Tenten tanpa menatap Sasuke. "Vitamin?" Ujar Sasuke membeo. "Naruto bilang, ini obat untuk pasien kemoterapi?" Tenten tersentak, ia seharusnya tahu bahwa tidak ada gunanya berbohong pada laki-laki seperti Sasuke. "Naruto berkata seperti itu?"

"Hn." Gumam Sasuke singkat. "Apa lagi yang dikatakannya?"

"Hanya itu." Tenten berdeham sekali, gadis itu tanpa sadar menggigit bibirnya, hingga nyaris berdarah. "Itu bukan milikku."

"Lalu?"

"Itu milik… milik Ino." Jawab Tenten asal. Gadis itu menoleh kearah Sasuke. "Benarkah?"

"Yeah, Ino memintaku untuk menebusnya kemarin dan sialnya tertinggal di apartemenmu." Jawab Tenten berusaha meyakinkan Sasuke.

"Apa yang terjadi padanya?"

"Entahlah, sepertinya itu bukan untuknya, mungkin untuk ibunya. Aku pernah mendengar ibunya sedang sakit keras." Tenten bersumpah ia akan meminta maaf pada Ino beserta ibunya karena ini. Baru saja Sasuke ingin membuka mulut hendak berbicara, Tenten memalingkan wajahnya kearah jendela. "Kuharap kita tidak terlambat, apa masih jauh?" Tanya Tenten. Sasuke hanya bisa mendengus kesal, sudah jelas Tenten tidak mau melanjutkan kebohongannya. "Tidak apa, ini pesta bukan sekolah militer." Jawab Sasuke sambil menatap kearah jendela. Ia tidak akan mendesak Tenten kali ini, karena ia yakin gadis itu akan menjelaskan semuanya ketika ia siap.

xXx

setelah menitipkan mantel mereka di tempat penitipan dan menyebutkan menuliskan namanya di buku tamu, Sasuke menyentuh tangan Tenten dan membimbing gadis itu masuk kedalam gedung. Sampailah mereka di aula gedung yang luas dan megah yang dipenuhi oleh lusinan manusia berbalut baju mewah yang terlihat tengah berbincang-bincang dengan segelas wine ditangan mereka. Perhatian semua orang tertuju kearah panggung megah ketika suara dentingan kecil terdengar. Sosok laki-laki berumul awal lima puluhan tengah berdiri di belakang mic. Laki-laki itu berdeham beberapa kali, merapatkan jas tuksedonya. Setelah memperoleh seluruh perhatian dari semua tamu undangan, laki-laki itu memulai membuka sambutannya.

Sasuke mencondongkan tubuhnya kearah Tenten. "Itu Gustav Mahler." Tenten mengangguk-angguk. "Kau mau minum?" Tanya Sasuke, masih dengan suara pelan. "Kedengaranya bagus." Sasuke meraih tangan Tenten.

"Baiklah ayo." Mereka pun sampai di meja tempat gelas-gelas tinggi diletakan, beserta beberapa minuman beranekan warna di taruh didalam wadah mewah. "Kau mau apa? Wine?"

"Boleh, sudah lama aku tidak minum wine."

"Kau yakin tidak apa-apa? Ini minuman beralkohol."

"Hanya sedikit, jadi sepertinya tidak masalah." Gumam Tenten sambil meraih segelas wine yang disodorkan oleh Sasuke. Sementara itu meraih segelas sampanye dari seorang pramusaji yang kebetulan lewat. Mereka menyesap minuman masing-masing dan mendengarkan Gustav Mahler menyampaikan penutup sambutan singkatnya.

"Sekali lagi terimakasih atas kehadiran anda semua, silahkan menikmati hidangan dan minuman ringan yang kami sediakan, setelah itu kami akan memutar lagu dan kalian dipersilahkan untuk mengajak pasangan kalian berdansa." Para tamu bertepuk tangan dan Gustav pun turun dari atas panggung. Setelah beberapa menit kemudian, band mulai memainkan lagu klasik untuk mengiringi para tamu berdansa. Dalam sekejap seluruh tamu undangan terlihat tengah berdansa di tengah aula megah.

"Sasuke." Baik Sasuke maupun Tenten menolehkan kepalanya ke sumber suara. Dan sosok wanita berusia awal lima puluhan pun berjalan menghampiri kedua manusia itu dengan seulas senyum cerah diwajahnya. Wanita itu berambut gelap dan bermata gelap, sekilas mata gadis itu terlihat sama dengan mata Sasuke. "Kaa-san?" Tenten tersentak ketika mendengar suara rendah yang berasal dari Sasuke.

"Hei, kukira kau tidak akan datang kesini sayang?" Ujar wanita berwajah imut yang ternyata adalah ibu dari Sasuke. Tenten hanya bisa memperhatikan wanita itu, wanita yang memiliki tubuh mungil dengan wajah ceria yang hangat, wajah khas seorang ibu. Tenten tidak percaya wanita ini adalah ibu dari Sasuke dan Itachi, wajahnya terlihat seperti wanita berusia tiga puluh tahun.

"Hn, dimana Tou-san?" Tanya Sasuke. "Oh dia sedang mengobrol dengan beberapa teman lamanya didekat panggung." Jawab Mrs. Uchiha sambil mengangkat kedua bahunya. "Biarkan saja, omong-omong bagaimana tanganmu, sayang?"

"Sudah lebih baik."

"Kau harus meminum teh yang kubawa dari Jepang, katanya itu bagus untuk kesehatan, siapa tau berpengaruh untuk tanganmu juga." Sasuke mengangguk-angguk, wanita bertubuh kurus itu melemparkan tatapannya kearah Tenten yang sedari tadi hanya berdiri disamping Sasuke. "Oh, Sasuke.. kau tidak mengenalkan kekasihmu padaku? Betapa jahatnya." Sasuke yang mendengar kata-kata ibunya langsung berdeham beberapa kali, ia lupa memperkenalkan Tenten pada ibunya. "Eh, Kaa-san. Dia bukan kekasihku, kenalkan ini pa.. maksudku Tenten dia temannya Itachi." Jawab Sasuke seadanya. Tenten mengulurkan tangan kanannya.

"Halo, aku Tenten. Senang berkenalan dengan anda ." sapa Tenten sehangat mungkin. Uchiha Mikoto menyambut uluran tangan Tenten.

"Oh hai Tenten, senang juga berkenalan denganmu. Jadi kau temannya Itachi ya?" Tenten tersenyum kecil. "Ya, bisa dibilang seperti itu." Sasuke memutar kedua bola matanya. "Sasuke, bisa kau ambilkan beberapa creame brule untukku disana?" Ujar Mikoto sambil menepuk pundak anak bungsunya.

"Aku ingin berbincang sebentar dengan Tenten." Tambah Mikoto sambil tersenyum hangat. Sasuke hanya bergumam tak jelas dan melangkah meninggalkan dua perempuan itu. Setelah meraih semangkuk creame brule pesanan ibunya, Sasuke kembali menghampiri kedua perempuan itu yang entah bagaimana sudah terlihat berbincang akrab, layaknya seorang anak dan ibu.

"Oh Sasuke, apakah kau sudah tahu bahwa Tenten juga berasal dari Jepang?" Tanya Mikoto ketika Sasuke sudah kembali bergabung bersama mereka. "Tentu saja, Kaa-san."

"Aku tidak menyangka seorang gadis jepang bisa terlihat secantik ini, kau mengagumkan sekali Tenten." Puji Mikoto sambil menepuk pundak Tenten.

"Arigatou, anda juga sangat luar biasa ." jawab Tenten sambil tersenyum simpul. Sasuke hanya bisa terdiam memperhatikan kedua perempuan dihadapannya, laki-laki itu masih bingung bagaimana Tenten bisa terlihat akrab dengan ibunya? Sepertinya Tenten memang sudah memiliki bakat untuk bisa dekat dengan siapapun dalam waktu singkat sejak lahir. "Eh, omong-omong Sasuke. Apa kau sudah bertemu dengan Itachi?"

"Belum." Sahut Sasuke cepat. "Apa dia sudah datang?"

"Yeah, dia sudah datang bersama gadis yang bernama Ino katanya." Jawab Mikoto sambil menatap kesekitar, mencari putra sulungnya. "Oh itu Itachi." Sasuke mengikuti arah pandangan ibunya, begitupun Tenten yang terlihat bersemangat untuk melihat prince charmingnya. Itachi tengah berjalan kearah mereka sambil tersenyum cerah, yeah sebenarnya senyuman itu hanya ditujukan kepada Tenten. Sementara disampingnya, seorang gadis bertubuh ramping dengan gaun malam berwarna midnight blue dan berambut pirang pucat tengah merapihkan tatanan rambutnya sambil berusaha mengikuti langkah Itachi yang terkesan lebar. "Oh hai adik kecil, ini benar-benar kejutan yang menyenangkan bisa bertemu denganmu disini." Kata Itachi ketika berdiri diantara ketiga manusia itu. Itachi menoleh kearah Tenten dan tersenyum cerah kepadanya.

"Biasanya dia cepat bosan di pesta seperti ini." Tambah Itachi lebih untuk Tenten. "Karena itu aku mengajak Tenten kesini, agar dia bisa menemaniku." Jawab Sasuke datar sambil mengalihkan pandangannya kearah lain. Baru saja Itachi hanya bisa mendelik kesal, sebelum akhirnya laki-laki itu tersenyum simpul kearah Tenten dan berkata.

"Kelihatannya semua orang sudah mulai berdansa disana." Gumam Itachi yang lebih terdengar dikhususkan hanya untuk Tenten. Tenten hanya bisa menundukan kepalanya, gadis itu tahu bahwa Itachi ingin mengajaknya berdansa. "Ah ya, adik kecil. Kalau tidak keberatan, aku mau meminjam Tenten sebentar." Kata Itachi sambil menatap Sasuke dengan tatapan menantang.

Tanpa menunggu persetujuan adik laki-lakinya, Itachi merentangkan sebelah tangannya kearah Tenten, menunggu tangan mungil gadis itu menyambut uluran tangannya. "Maukah kau berdansa denganku, Tenten." Gadis beriris hazel nut itu hanya bisa tersenyum kikuk sebelum akhirnya berdeham beberapa kali dan menyambut uluran tangan Itachi.

"Dengan senang hati, Itachi-senpai." Itachi segera mencengkram tangan Tenten yang terasa mungil dan dingin ditangannya, Mikoto terlihat tersenyum cerah kearah anak sulungnya sementara Sasuke dan Ino terlihat sama-sama tidak senang dengan keadaan seperti ini. Terlebih Sasuke, laki-laki itu merasa kesal karena sepertinya Tenten lupa akan tujuannya diajak ke pesta ini. Namun baru beberapa langkah sepasang manusia itu melangkah, Tenten menoleh menatap Sasuke dan berbisik. "Maafkan aku, aku akan kembali beberapa menit lagi, apa kau tidak keberatan?" Entah mengapa hati Sasuke terasa sedikit lega ketika mendengar kata-kata Tenten, yang menandakan gadis itu ingat akan dirinya. "Sudahlah tidak apa-apa, aku akan menunggumu disini." Gumam Sasuke sambil memaksakan senyuman kearah Tenten. Gadis itu tersenyum cerah yang seolah berbicara 'Terimakasih banyak, Sasuke!', lalu kembali berjalan mengikuti Itachi yang sudah membawanya ke tengah aula.

Itachi melepaskan genggaman tangannya, berdiri berhadapan dengan Tenten dan membungkuk formal, seperti yang biasa dilakukan oleh keluarga kerajaan inggris jaman dahulu untuk mengajak seorang gadis berdansa. Setelah menegakan tubuhnya, tanpa suara Itachi merentangkan tangannya kearah Tenten dan disambut dengan senang hati oleh gadis berambut auburn dihadapannya. Dalam sekejap tangan kiri Tenten sudah bertaut dengan tangan Itachi, jemari mungilnya terselip diantara jemari Itachi yang lebih kokoh dan besar, sementara tangan kanannya menyentuh dada bidang Itachi yang terlapis kemeja berwarna putih. Bisa Tenten rasakan tangan kiri Itachi merengkuh pinggang rampingnya, menarik tubuh mungil Tenten lebih dekat dengan tubuhnya. Jarak mereka sangat dekat. Meski Tenten pernah berduet singkat dengan Itachi beberapa waktu yang lalu, tapi rasanya tetap berbeda. Mereka baru sekali ini berdansa waltz bersama. Kedua manusia itu berdansa dengan anggun, lembut, mengikuti alunan musik klasik yang mengiringi kedua sejoli serta beberapa pasangan lainnya yang juga berdansa disana.

Langkah kaki Itachi terlihat mantap dan tepat, sesuai dengan ritme. Itachi memang memiliki basic tari yang tak bisa diragukan, tak heran laki-laki itu bisa menari dengan indah diatas lapisan es yang dingin. Meski waltz bukan bidang Tenten, gadis itu merasa sangat ringan, ia dengan mudahnya mengikuti langkah Itachi, seolah mereka berdua adalah sepasang penari waltz professional.

Sementara itu disisi aula, Sasuke tengah memberengut menatap sepasang manusia yang terlihat tengah berdansa di antara para pasangan lainnya. Laki-laki itu mendecak kesal, entah sudah untuk keberapa kalinya laki-laki itu berdecak kesal. Mikoto yang melihat ekspresi anak bungsunya itu berusaha sekuat tenaga menahan tawanya. Mikoto tahu benar bahwa anak bungsunya tidak senang melihat Itachi membawa Tenten berdansa ditengah aula. Mikoto sendiri sama sekali tidak keberatan dengan hal itu, menurutnya Tenten adalah gadis yang manis dan bersemangat.

"Er.. , Sasuke. Aku permisi dulu." Kedua Uchiha itu melirik kearah sumber suara. "Kau mau kemana Ino? Ah, Itachi memang aneh. Dia mengajakmu tapi malah-"

"Tidak apa-apa, Mrs. Uchiha. Aku hanya ingin ke toilet sebentar, permisi." Setelah berkata seperti itu, Ino langsung menghambur pergi, meninggalkan anak dan ibu itu berdua. Sasuke masih menatap tajam kearah kedua sejoli itu. Menatap mereka berdua dengan rahang yang menegang, seolah menjelaskan bahwa Sasuke sedang menahan amarah. Entahlah tapi melihat tangan kakak laki-lakinya dan Tenten bertaut membuat Sasuke marah, melihat tangan kakak nya yang seenaknya merengkuh pinggang Tenten, dan yang paling membuat Sasuke muak adalah, melihat bagaimana ekspresi Tenten ketika gadis itu berdansa dengan Itachi. sepertinya baru kali ini Sasuke melihat Tenten tersenyum seperti itu.

"Bukankah Itachi dan Tenten adalah pasangan yang serasih?" Suara lembut Mikoto merambat masuk ke rongga telinga Sasuke, membuat darahnya semakin mendidih. Sasuke memutuskan untuk tidak menggubris kata-kata memancing ibunya dan menghela nafas panjang.

"Aku lihat Itachi terlihat semakin cerah akhir-akhir ini. Kudengar Itachi juga akan bergabung lagi dengan Dearburn, yang berarti dia sudah bisa meluncur lagi." Kali ini Mikoto melempar tatapannya kearah anak sulungnya yang terlihat tengah berdansa dengan seorang gadis yang terlihat mungil. Mikoto tahu benar perasaan anak sulungnya terhadap Tenten, Itachi sering menceritakan gadis itu padanya setiap ia menelpon atau mengiril email.

"Aku turut senang akhirnya Itachi bangkit lagi… sudah cukup lama ia terpuruk, kau tahu benar kan bagaimana perasaannya saat itu, Sasuke?" Kata Mikoto sambil tersenyum getir. Hati ibu mana yang tidak sedih ketika mendapati anak laki-lakinya menangis mengurung diri dikamar selama hampir satu bulan? Mikoto tahu benar kematian Ayame, tunangan Itachi sangatlah berat untuk putra sulungnya, Mikoto tahu benar bagaimana putra sulungnya itu begitu mencintai Ayame. Dan Mikoto senang ketika akhirnya Itachi bisa benar-benar melanjutkan hidupnya tanpa Ayame, Mikoto yakin ini semua ada hubungannya dengan Tenten.

"Lima tahun bukanlah waktu yang singkat." Gumam Mikoto yang entah mengapa membuat jantung Sasuke berdebar semakin kencang. Ya lima tahun. Meski Sasuke jarang memperdulikannya, sudah lima tahun lebih kakak laki-lakinya bergelung dibawah bayang-bayang kematian Ayame. Sasuke tahu benar segala kisah asmara kakak laki-lakinya dengan gadis manis bernama Ayame itu. Terlebih, Sasuke berada disana ketika Ayame mengalami kecelakaan. Sasuke melihat langsung bagaimana tubuh mungil Ayame limbung diatas hamparan es, bagaimana kepalanya membentur lapisan es yang tebal dan keras. Bagaimana ekspresi kakak nya yang melihat pacarnya tergeletak tak berdaya di atas hamparan es itu.

Setelah selama hampir setahun Itachi hidup seperti 'mayat hidup', Itachi memutuskan untuk meninggalkan arena ice skating, membuang sepatu ice skatingnya dan mengubur semuanya didalam hati. Setelah semua itu selesai, Itachi kembali terlihat biasa, tersenyum, bercanda, seolah tidak ada apapun yang terjadi selama setahun belakangan, seolah dirinya 'normal-normal' saja selama setahun itu. Sasuke yakin bahwa semua itu palsu, Itachi tipe orang yang selalu menyebunyikan segalanya, perasaannya, apapun itu. Dan entah bagaimana Sasuke seakan baru teringat kembali sekarang.

"Mikoto! Sasuke!" Kedua itu sontak saja menoleh kearah suara penuh semangat yang memanggil mereka berdua. Seorang laki-laki berpostur tubuh tinggi dengan stelan tuksedo mahal berwarna hitam setengah berlari kearah mereka berdua. "Senang sekali aku bisa menemukan sepasang Uchiha disini, terimakasih karena sudah datang ke pestaku Mikoto." Ujar laki-laki itu sambil menjabat tangan mungil Mikoto dan menggenggamnya erat, seolah ia akan meremukan tangan mungil itu.

"Ah, tentu saja aku pasti datang, Gustav. Pestamu selalu meriah." Gustav tertawa renyah. "Terimakasih, oh iya dimana Fugaku? Apa dia tidak bisa datang? Kau hanya berdua saja dengan putra bungsumu? Oh omong-omong apa kabar Sasuke? Aku turut prihatin atas kondisi tanganmu." Kata Gustav sambil memberi tatapan simpati kearah Sasuke.

"Tanganku sudah hampir sembuh, dokter bilang sebentar lagi perbannya akan dilepas." Jawab Sasuke acuh tak acuh. "Ah tidak, kami datang berempat hari ini." Ujar Mikoto riang, seolah hal itu adalah suatu pencapaian yang membanggakan. Mata Gustav terlihat bersinar-sinar.

"Benarkah? Itachi datang bersama kalian? Malam ini?" Pertanyaan itu sebenarnya ditujukan kepada Sasuke dan Mikoto, tapi sepertinya hanya Mikoto yang mau menanggapinya. "Ya, Gustav. Putra sulungku datang malam ini." Kali ini Gustav tersenyum sangat lebar, pipi laki-laki berusia empat puluhan itu memerah, ia terlihat seperti akan meledak.

"Ya Tuhan! Aku harus bertemu dengannya! Dimana dia, Mikoto?" Tanya Gustav dengan semangat membara, Mikoto tersenyum canggung lalu melirik kearah aula tempat putra sulungnya dan Tenten masih berdansa.

"Dia sedang berdansa dengan seorang gadis." Gustav mengikuti tatapan Mikoto dan terpaku. Laki-laki itu membatu, mulutnya sedikit terbuka. Sasuke menatap ibunya, meminta penjelasan kepada tindak tanduk sahabat karib orangtuanya yang sangat aneh dan sedikit mengerikan. Mikoto menjawabnya dengan mengangkat kedua bahu lalu berkata.

"Eh, Gustav, Sasuke. Sepertinya aku harus menyusul Fugaku, permisi." Setelah berkata seperti itu, sosok Mikoto langsung membaur dengan beberapa tamu lain yang sedang berjalan disekitar Sasuke dan Gustav. Sasuke mendengus kesal sambil melirik Gustav yang masih terpaku pada kakak laki-lakinya dan Tenten. Setelah mengerjap beberapa kali Gustav akhirnya berkata.

"Ini tidak mungkin…" Sasuke sontak saja melirik kearah Gustav dan bertanya dengan datar, atau setidaknya dibuat sedatar mungkin. "Ada apa?" Gustav menggosok kedua matanya lalu kembali berkata.

"Ini sangat…" seulas senyum mengembang diwajah laki-laki paruh baya itu. "Sangat sempurna." Sasuke kembali mendengus kesal, ia paling tidak suka dibuat penasaran seperti ini. "Ada apa sebenarnya?" Mendengar pertanyaan menuntut Sasuke, Gustav segera melempar tatapannya kearah Sasuke.

"Apakah kau lupa kalau kakakmu adalah…"

"Mantan muridmu? Ya aku tahu, lalu kenapa kau berkata sangat sempurna?" Tanya Sasuke agak kesal. Gustav melirik kearah Itachi dan Tenten lalu kembali menatap Sasuke. "Apa kau tidak tahu, Sasuke? Gadis yang berdansa dengan Itachi… kau kenal dia?" Sasuke mengernyitkan hidungnya dan mengangguk. "Namanya Tenten." Kata Sasuke dengan sebelah alis terangkat.

"Kau tidak tahu? Kau tidak tahu siapa dia?" Tanya Gustav mengerjap kaget, dan dengan polosnya Sasuke menggelengkan kepalanya. Gustav menatap lurus kearah Itachi dan Tenten yang terlihat masih berdansa.

"Tenten adalah mantan muridku.. dia menjadi anak didikku empat tahun setelah Itachi memutuskan untuk hengkang dari dunia skating. Saat itu aku masih sedih karena tidak bisa menemukan skater yang memiliki skill sama dengan Itachi, well setidaknya tidak terlalu jauh. Hingga akhirnya aku bertemu dengan Tenten. Aku langsung meminta gadis itu untuk membiarkanku menjadi pelatihnya. Aku sangat… sangat terhipnotis dengannya.." Gustav terlihat hampir meneteskan air mata. Lalu kembali melanjutkan.

"Tenten, benar-benar memukauku. Selama menjadi pelatihnya aku selalu berharap bisa memasangkan Itachi dengan Tenten, mereka berdua akan sangat sempurna ketika meluncur diatas es… maksudku Ayame tidaklah buruk, tapi… Tenten begitu sempurna untuk menemani Itachi meluncur di arena ice rink. Aku selalu berkhayal saat-saat itu akan tiba, hingga akhirnya aku melihat ini." Gustav melempar tatapannya kearah Sasuke lalu berkata.

"Tenten dan Itachi adalah salah satu dari sepuluh bintang ice skating didunia. Mereka sama-sama bergabung dengan Dearburn. Empat tahun setelah Itachi meninggalkan Dearburn, Tenten bergabung dan membuat kami semua tercengang. Rasa sakitku ketika Itachi pergi digantikan oleh kehadiran Tenten…. Tapi itu tak berselang lama." Kali ini Sasuke mengerutkan kedua alisnya, menatap laki-laki dihadapannya yang tersenyum getir lalu berkata.

"Sampai akhirnya Tenten memutuskan untuk hengkang dari Dearburn tahun kemarin."

xXx

'Tenten dan Itachi adalah dua dari sepuluh bintang figure skating terkenal didunia.'

'Tenten bergabung dengan Dearburn.'

'Sampai akhirnya Tenten memutuskan untuk hengkang dari Dearburn tahun kemarin.'

Kata-kata Gustav masih berputar dikepalanya. Tenten pernah menjadi bagian dari klub ice skating bergengsi didunia. Sasuke menggeram frustasi. Gadis itu membuatnya benar-benar penasaran, selalu memberikan kejutan-kejutan yang membuat Sasuke frustasi. Banyak sekali hal yang tersembunyi dari Tenten, Sasuke bisa merasakannya. Dan hal itu membuat Sasuke memiliki ambisi untuk mengeluarkan semuanya, mengetahuinya seluruhnya. Mata gelapnya terkunci pada sosok gadis bertubuh mungil yang masih berdansa dengan kakak laki-lakinya.

'Jadi Tenten adalah alumni Clinton, dan dia bergabung dengan Dearburn.' Sasuke menyentuh dagunya dengan jari telunjuknya. 'Pastilah dia seorang figure skater hebat, aku yakin seratus persen akan hal itu. Tapi yang membuatku bingung adalah, kenapa? Kenapa dia membuang semua itu, membuang bakatnya dengan mengajar anak-anak di arena ice rink sempit?' Sasuke mengerutkan kedua alisnya, mencoba mencari kemungkinan-kemungkinan logis atas alasan Tenten membuang semua harapan yang sudah disogohkan didepan matanya. Tubuh Sasuke sedikit tersentak ketika merasakan seseorang menepuk pundaknya, refleks Sasuke segera menolehkan kepalanya.

"Sepertinya kita benar-benar sudah ditinggalkan ya." Ujar Ino sambil tersenyum getir. Sasuke tertawa enggan. "Yeah, kau benar." Sasuke merasa kasihan dengan Ino, gadis itu diajak ke pesta dansa oleh kakaknya, dan dibiarkan begitu saja setelah bertemu dengan Tenten. Sasuke melirik kearah Ino, memperhatikan gadis berhelai pirang yang pastinya tengah mengamati Itachi di tengah aula. Meski baru sekali Sasuke bertemu dengan Ino, ia langsung tahu tentang cinta bertepuk sebelah tangan yang tengah melanda hati Ino. "Mau berdansa?" Tawar Sasuke sambil mengulurkan tangannya.

Ino terdiam sejenak sebelum akhirnya tersenyum dan melingkarkan tangannya dilengan Sasuke. "Yeah, apa bagusnya pesta dansa tanpa berdansa." Sasuke tersenyum kecil lalu segera menggiring Ino ke tengah aula, mendekat kearah Tenten yang tengah memperhatikannya di balik tubuh Itachi.

xXx

Saat itu Tenten tengah bersenda gurau dengan Itachi, masih di tengah aula, masih berdansa. Gadis itu tertawa renyah sampai akhirnya kedua bola matanya menangkap pemandangan yang membuat senyumannya hilang. Tenten terpaku. Sasuke mengajak Ino berdansa. Sungguh, Tenten benar-benar terkejut. Ia tidak pernah menyangka Sasuke mengajak seorang gadis berdansa, apalagi mengajak Ino berdansa. Maksudnya, mereka baru saja bertemu dan Tenten tahu benar bahwa Sasuke tidak bisa dan tidak akan bersikap ramah kepada siapapun yang baru dikenalinya kurang dari tiga hari. Pengecualian bagi Tenten, meski sudah dua minggu lebih kenal dengan Tenten, Sasuke masih saja bersikap buruk pada Tenten, dan Tenten ragu Sasuke akan memperlakukannya dengan baik dalam waktu dekat.

Tenten mengernyit ketika melihat Sasuke merengkuh pinggang langsing Ino dan merengkuh sahabatnya mendekat. Sekali lagi Tenten terpaku. Sasuke benar-benar mengajak Ino berdansa. Tenten bisa melihat Sasuke membalas tatapan tajamnya, laki-laki itu langsung tersenyum mengejek ketika mendapati Tenten memperhatikannya berdansa dengan sahabatnya. Tenten menggembungkan pipinya dan melirik kearah Itachi yang kelihatan bingung.

"Kau baik-baik saja Tenten?" Tanya Itachi lembut. "Ah, iya tentu saja. Aku hanya ingin minum." Itachi berdeham sekali.

"Kenapa kau tidak bilang dari tadi." Itachi berhenti bergerak, tangannya meluncur turun ke telapak tangan Tenten dan menggenggamnya lalu membawa Tenten pergi dari tengah aula. Tenten menghela nafas lega karena akhirnya bisa pergi dari aula itu, ia lega karena tidak lagi melihat Sasuke yang merengkuh sahabatnya yang entah bagaimana membuatnya merasa tidak nyaman.

Sementara Sasuke hanya bisa tercengang karena melihat Tenten dan Itachi yang menghilang dari kerumunan tamu undangan yang tengah berdansa. Padahal, Sasuke sengaja berdansa didekat Tenten untuk melihat reaksi gadis itu. Tadi saat Sasuke baru saja merengkuh tubuh Ino, secara tak sengaja tatapannya bertemu dengan Tenten. Sasuke langsung tahu bahwa Tenten memperhatikannya sedari tadi. Tapi Sasuke tidak bisa membaca ekspresi diwajah Tenten, ia tidak tahu apakah gadis itu merasa cemburu, senang, atau biasa-biasa saja. Sasuke menggelengkan kepalanya.

'Demi Tuhan! Kenapa aku jadi sepeduli ini sih dengan perasaannya?' Geramnya dalam hati.

"Sasuke? Kau baik-baik saja? Pipimu memerah?" Sasuke membuka kedua matanya dan menunduk, membalas tatapan bingung Ino.

"Tidak apa-apa, aku tidak apa-apa." Ino menurunkan kepalanya, menatapi dada bidang Sasuke. Gadis itu menghela nafas panjang lalu berbisik.

"Kau menyukai Tenten, ya?" Sasuke hampir saja memekik kaget seperti anak perempuan ketika mendengar pertanyaan Ino.

"Apa maksudmu?"

"Aku tahu… kalian berdua menyukai Tenten bukan?"

"Siapa yang kau maksud kalian berdua?" Tanya Sasuke dengan satu alis terangkat. Ino memejamkan matanya, menahan air matanya yang ia rasakan sudah merambat di syaraf-syaraf matanya. "Kau dan… dan Itachi." Sasuke terdiam sejenak, memperhatikan gadis yang berada dihadapannya dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Sasuke tahu bahwa Ino menyukai abangnya, dan Sasuke tahu pasti rasanya sakit jika mengetahui orang yang kau sukai menyukai orang lain, terlebih Itachi seperti sama sekali tidak menyadari perasaan Ino dan seperti tanpa dosa berdansa dengan sahabatnya sendiri.

"Aku tidak tahu dengan Itachi… tapi aku.." Sasuke terdiam sejenak, lidahnya kelu ketika ia hendak melanjutkan kalimatnya. Sejumput keraguan membuat laki-laki itu tidak melanjutkan kata-katanya.

"Kau menyukainya." Sahut Ino dengan nada datar. Sasuke menghela nafas panjang. "Aku tidak menyukainya." Ujarnya dengan nada yang dibuat sedatar mungkin. Ino menundukan kepalanya, pundaknya mulai terguncang karena sesegukan. Sasuke hanya bisa menghela nafas panjang, ia paling tidak suka melihat seorang gadis menangis. "Hei? Ada apa?" Tanya Sasuke melembutkan suaranya, berusaha terdengar tidak sedatar biasanya.

"Aku… kau tentunya sudah tahu bukan? Tentang perasaanku padanya.." Sasuke mengangguk lemah lalu berkata. "Ya, jelas sekali terlihat."

"Tapi kenapa Itachi tidak menyadari-"

"Dia bukannya tidak menyadarinya, Ino." Potong Sasuke, kedua bola mata gelapnya tak sengaja bertemu dengan dua sosok manusia berbeda gen yang terlihat tengah berbincang di stand minuman, tempat tadi ia berbincang dengan Gustav. Ia bisa melihat Tenten tertawa renyah kepada Itachi, sementara Itachi hanya tersenyum dan memandangi wajah Tenten dengan tatapan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Sasuke menghela nafas panjang dan segera mengalihkan pandangannya. "Dia bukannya tidak menyadarinya." Ulang Sasuke dengan nada datar.

"Dia hanya berpura-pura tidak menyadarinya."

xXx

Sasuke berjalan dengan angkuh kearah Itachi dan Tenten yang masih terlihat asik berbincang. Laki-laki itu mengernyit tidak senang lalu berdeham beberapa kali, yang tentu saja membuat Tenten menoleh kearahnya.

"Sasuke, darimana saja kau? Aku sudah menunggumu disini. Kau bilang kau menungguku disini?" Tanya Tenten, berpura-pura tidak tahu bahwa selama beberapa menit yang lalu Sasuke mengajak Ino berdansa.

"Kau tentu sudah tahu kemana saja aku." Jawab Sasuke sambil memutar kedua bola matanya. Tenten hanya bisa mendengus kesal, sikap Sasuke jadi buruk lagi. Bukan sesuatu yang mengejutkan bagi Tenten, ia sudah terbiasa menghadapi sikap labil akut milik Sasuke.

"Eh, adik kecil. Apa kau melihat Ino?" Tanya Itachi sambil menatap kesekitar. Sasuke menatap kakaknya dengan tatapan tajam.

"Kau yang mengajaknya kesini, tentunya kau yang paling tahu dimana dia sekarang." Jawab Sasuke santai. Itachi membalas tatapannya.

"Tentu aku tidak tahu, karena kau mengajaknya berdansa bukan? Jadi kau yang lebih tahu dimana dia sekarang." Balas Itachi sambil tersenyum ramah, sangat berbanding terbalik dengan kata-katanya yang terkesan agak dingin. Sasuke mengangkat kedua bahunya. "Dia bilang dia ingin meminum sesuatu di bar." Jawab Sasuke singkat. Itachi mengangguk lalu menoleh kearah Tenten.

"Sepertinya aku harus menyusul Ino dulu, kau mau ikut?" Tenten menggeleng singkat. "Sayangnya aku sudah berjanji akan menemani Sasuke di pesta ini. Oh iya sampaikan salam kangenku padanya ya." Jawab Tenten. Itachi tersenyum lemah lalu menepuk kepala Tenten lalu melirik kearah Sasuke.

"Baiklah adik kecil, kutitipkan Tenten padamu." Setelah berkata seperti itu, Itachi melangkahkan kakinya dan membaur dikeramaian.

"Jadi, kau sudah berkenalan dengan Ino?" Tanya Tenten ragu. Sasuke melirik sekilas kearah Tenten lalu kembali membuang tatapannya.

"Yeah, kira-kira begitu."

"Kau tahu, aku bingung dengan Ino yang mau diajak berdansa denganmu. Kau kan tidak pernah ramah dengan orang asing." Pancing Tenten. Sasuke menoleh kearah Tenten, menatap tajam gadis itu.

"Bukan orang asing, Ino teman abangku." Balas Sasuke. Laki-laki itu tahu bahwa Tenten tengah memancingnya. Dan ia tidak akan membiarkan Tenten merasa puas sekarang. Tenten mendengus kesal lalu membuka mulutnya, hendak membalas kata-kata Sasuke.

"Tenten?!" Terlambat, seseorang sudah memotongnya. Tenten tahu suara siapa itu, dengan hati-hati Tenten menolehkan kepalanya. Tubuhnya terasa lemas ketika melihat Gustav Mahler berjalan menghampirinya dan Sasuke.

"Tenten! Itu benar-benar kau." Ujar Gustav sambil menepuk pundak Tenten ketika sudah berdiri disampingnya. Tenten hanya bisa tersenyum getir. Sedari tadi Tenten sudah memohon kepada dewa dewi agar tidak bertemu langsung dengan Gustav, tapi sepetinya dewa dewi manapun sedang tidak berpihak padanya. "Ya Tuhan! Kemana saja kau?" Tanya Gustav dengan nada tinggi.

"Ayolah Gustav, sudah satu tahun yang lalu." Ucap Tenten sedikit memohon. Ia tidak ingin Gustav membicarakan hal 'itu' didepan Sasuke. Ia tidak ingin Sasuke tahu siapa dirinya.

"Tidak. Kau tidak mengerti. Demi Tuhan dan seluruh dewa sewi yunani di alam sana, aku sangat tidak menyangka kau akan datang." Seru Gustav sambil memeluk Tenten erat, membuat Tenten meringis kecil. Laki-laki paruh baya itu melepaskan pelukannya. "Aku sangat sangat merindukanmu, Tenten!" Tenten tersenyum geli lalu menyentuh pundak Gustav, meski terkadang Gustav terlalu diplomatis dan hiperbola, tapi Tenten merindukan laki-laki ini. Ia rindu melihat Gustav dengan stelan training berwarna hijau dan sepasang sepatu ice skating, berdiri di tengah arena ice rink dengan berkacak pinggang, menunggu Tenten melakukan peregangan otot sebelum akhirnya bergabung di dalam arena ice rink. Betapa ia sangat rindu saat-saat itu, saat dimana ia menjalani latihan demi latihan bersama Gustav dan teman-temannya yang lain.

"Aku pun merindukanmu Gustav, hari-hariku sangat sepi tanpa ocehan hiperbolamu." Sahut Tenten sarkatis. Gustav menyeringai lebar lalu menggenggam kedua tangan mungil Tenten.

"Oh Tuhan! Aku ingin berbincang-bincang denganmu! Kita harus mengobrol, harus. Sekitar dua sampai tiga jam mungkin. Banyak hal yang harus aku sampaikan padamu!" Senyuman dibibir Gustav memudar lalu laki-laki itu melepaskan genggamannya. "Sayangnya masih sekitar dua lusin tamu yang belum ku jamu. Aku ingin sekali berbincang denganmu, Tenten." Tenten terkekeh lembut lalu menyentuh pundak mantat coach nya.

"Sudahlah Gustav, kita pasti akan berbincang-bincang, tenang saja."

"Baiklah! setelah pesta ini selesai, oke?" Tenten menghela nafas panjang lalu mengangguk. Melihat jawaban Tenten membuat semangat Gustav kembali membara. "Baiklah, sebaiknya aku segera pergi. Kau berhutang sebuah cerita panjang padaku, sayang." Setelah memeluk Tenten (lagi) Gustav segera melenggang pergi, kembali meninggalkan Sasuke dan Tenten berduaan.

Setelah sosok Gustav tak terlihat, Sasuke tertawa renyah. "Dia lumayan menyenangkan." Tenten melirik kearah Sasuke, lalu kembali menatap lurus kedepan. "Ya meski terkadang agak menjengkelkan." Gumam Tenten sambil tersenyum samar. Suasana kembali sunyi.

Sasuke berdeham beberapa kali, menunduk untuk menatap ujung sepatunya yang sudah disikat mengkilat lalu kembali menatap lurus kedepan.

'Ayolah Sasuke! Be a real man!' Jeritnya dalam hati, memberi semangat pada dirinya sendiri. Sasuke kembali berdeham, melirik kearah Tenten yang terlihat tengah memperhatikan pasangan tamu yang sedang berdansa. Sasuke membuka mulutnya, hendak mengatakan sesuatu. Tapi semua kata-kata itu berhenti diujung lidahnya. Sasuke menggeram lembut, ini benar-benar membuatnya frustasi. 'Kenapa sesulit ini?!' Geramnya dalam hati.

Sasuke menghela nafas panjang lalu menelan air liur yang menggumpal ditenggorokannya bagaikan daging kalkun thanksgiving. "Mau berdansa denganku?" Alis Tenten terangkat kaget.

"Denganmu?"

"Panda, aku tahu aku sama sekali tidak berbakat dalam tari menari, entah itu hip hop, kotemporer, ataupun waltz. Tapi aku jelas tahu cara berdansa." Kata Sasuke dengan nada menggerutu. "Meski hanya sedikit dan tanganku sedang patah." Tenten tersenyum kecil. "Baiklah, kita lihat saja kemampuanmu menari."

"Kau akan tercengang." Ujar Sasuke sambil tersenyum sambil meraih tangan mungil Tenten dan menuntunnya kelantai dansa. Getaran hangat kembali menjalar ditubuh Tenten. Ia selalu merasakannya setiap Sasuke secara tidak sengaja menyentuhnya, tetapi ia mengenyahkan perasaan itu dan ber kata.

"Tolong jangan injak kakiku."

Tenten seorang figure skater, yang tentunya memiliki basic penari. Jadi pasti Ini bukan kali pertama ia berdiri berhadapan begitu dekat dengan laki-laki. Ini juga bukan kali pertama ia menyentuh laki-laki. Tetapi ini pertama kalinya ia berdiri begitu dekat dengan Uchiha Sasuke. Ini pertama kalinya ia meletakan sebelah tangannya di bahu Sasuke sementara tangannya yang lain berada di genggaman Sasuke. Tenten membasahi bibirnya dengan gugup, jantungnya berdebar begitu keras dan hampir tidak berani mendongak menatap wajah Sasuke. Dan ketika tangan kanan Sasuke yang terbalut gips meraih pinggangnya dan menariknya lebih dekat, Tenten pun hampir lupa caranya bernafas. 'Kami-sama Tenten! Kendalikan dirimu!' Jerit Tenten dalam hati.

Kemudian Sasuke sudah mulai bergerak, dan Tenten mendapati dirinya mengikuti gerakan Sasuke dengan mudah. Sasuke memang bukan penari professional dan dia tidak mencoba untuk menari waltz dengan sempurna, tapi ada sesuatu yang menyenangkan dengan gerakannya yang ringan. Tenten berubah santai. Ia tidak lagi memikirkan tempo yang tepat, teknik yang benar ataupun postur tubuh yang siaga. Tangan Sasuke yang menggenggam tangan Tenten terasa sangat hangat, begitupun tangannya yang lain yang menempel di punggungnya. Tenten merasa begitu nyaman sampai ia harus berusaha keras mencegah dirinya menyandarkan dagu di bahu Sasuke.

'Ini menyenangkan.' Batin Tenten sambil memejamkan mata. Ia tidak bisa mengambil resiko saat ini, untuk mengendalikan pikirannya yang mulai melantur, Tenten berusaha membuka percakapan. "Kau tidak ingin bertanya padaku kenapa aku tidak pernah cerita kalau aku mengenal Gustav?" Tanyanya pada Sasuke. Ia agak heran karena Sasuke belum bertanya apa-apa tentang hal itu karena ia yakin Sasuke pasti penasaran.

Sasuke mengangkat bahu dan memutar Tenten dengan perlahan. Ketika Tenten kembali kedalam pelukannya, Sasuke berkata. "Kurasa kau punya alasan sendiri kenapa kau tidak mau, atau lebih tepatnya belum mau mengatakan yang sebenarnya." Tenten mendongak menatap Sasuke. Yang dikatakan Sasuke memang benar dan Tenten kaget ketika menyadari laki-laki itu mengenal dirinya dengan baik. "Jadi aku tidak akan mendesakmu." Lanjut Sasuke sambil menunduk menatap Tenteb. Seulas senyum tipis tersungging dibibirnya. "Kau akan mengatakannya padaku saat kau ingin mengatakannya."

Tenten menghela nafas lega karena Sasuke tidak mendesaknya menjelaskan segalanya. Nah, siapa yang menyangka Uchiha Sasuke yang menyebalkan bisa bersikap penuh perhatian seperti ini? "Terimakasih." Gumam Tenten lirih.

xXx

Tenten mencengkram kramik wastafel berwarna putih dengan kedua tangannya. Dengan nafas tersengal-sengal, Tenten berusaha menatap lurus kedepan, ia ingin melihat seberapa parah wajahnya saat ini. Hati Tenten remuk ketika mendapati wajahnya dipenuhi bulir keringat dan bibirnya hampir membiru. Tenten meringis kecil ketika rasa nyeri yang tajam itu mendera tubuhnya. Ia hanya bisa menahan rasa sakit itu, membiarkannya mereda dengan sendirinya.

'Bodoh sekali kau Tenten! Kenapa kau tidak mengambil obat itu dari Sasuke?! Sekarang kau harus memakan akibatnya!" Gerutunya pada diri sendiri. Tenten bernafas lega ketika rasa nyeri dipunggunya mereda. Gadis itu segera meraih tasnya, mempoles bibirnya dengan lipstick merah muda dan membubuhkan bedak di pipinya. 'Sasuke tidak boleh melihatnya sepucat mayat seperti ini.' Setelah yakin wajahnya tidak sepucat sebelumnya, Tenten segera memasukan lipstick dan bedaknya kedalam tas lalu segera melangkah menuju pintu toilet. Baru saja tangan kanannya menggenggam daun pintu besi toilet, ponselnya berdering. Dengan panic Tenten segera mengaduk-aduk isi tasnya dan menarik keluar ponselnya. Tenten segera membaca nama yang tertera di layer ponselnya yang berkedip-kedip. Susune-nee-chan?

"Halo?" Kata Tenten ketika ponselnya sudah di tempelkan ditelinga. "Halo? Tenten, itukah kau?"

"Iya Nee-chan, ini aku. Ada apa? Tumben sekali kau menelpon." Samar-samar Tenten bisa mendengar suara isakan tangis, hal itu membuat Tenten mengernyitkan hidungnya. Susune sedang menangis.

"Nee-chan?! Ada apa? Hei? Kenapa kau menangis?" Tanya Tenten panic. Sesegukan disebrang sana terdengar semakin jelas. Setelah Susune merasa sedikit tenang, ia kembali berbicara.

"Tsunade… Tsunade-nee-san." Tenten semakin merasa panic ketika Susune menyebutkan nama ibu pantinya. "Ada apa dengannya? Ada apa dengan Baa-chan?" Tanya Tenten yang semakin panic. Susune kembali sesegukan, lalu akhirnya berdeham beberapa kali dan menjawab pertanyaan Tenten dengan suara berat.

"Tsunade dirawat dirumah sakit."

Jantung Tenten terasa berhenti berdetak ketika mendengar suara parau Susune memaparkan kalimat itu. Tsunade dirawat dirumah sakit?

"Apa?! Kenapa? Apa yang terjadi?" Tanya Tenten yang dua kali lebih panic dari sebelumnya. "Aku tidak tahu, aku menemukannya tak sadarkan diri di meja makan. Aku dan Lee membawanya kerumah sakit, sampai saat ini belum juga sadar." Tenten hanya bisa tercengang, gadis itu berusaha memahami kalimat panjang Susune dikepalanya.

"Kami-sama! Bagaimana bisa? Apa kata dokter?!"

"Dia tidak bisa memastikan apa penyebab Tsunade-nee-san tak sadarkan diri, tapi aku yakin itu sesuatu yang sangat serius." Tenten merasa kepalanya berputar. Sesuatu yang serius? Kami-sama, apa yang terjadi pada Tsunade, ibu panti Tenten itu jarang sekali sakit. Selama lima belas tahun hidup bersama, penyakit terparah yang diderita Tsunade adalah flu biasa. Selama Tenten mengenal Tsunade, ia tidak pernah melihat Tsunade sakit begitu parah, apalagi sampai dibawa kerumah sakit dan tidak sadarkan diri selama hampir satu hari.

"Tenten… aku mohon kembali lah kejepang malam ini.." Tenten hanya bisa terdiam mendengar nada memohon dari Susune.

"Aku takut… aku takut kau tidak akan bisa-"

"Baiklah! aku akan terbang malam ini, aku jamin besok aku akan sampai di Konoha, kau harus tenang Susune, dan percaya kalau Tsunade-baa-chan akan kembali sehat." Ujar Tenten yang langsung memotong kalimat Susune, ia tidak ingin adik dari ibu pantinya itu melanjutkan kalimatnya.

"Iya, aku akan berusaha… cepatlah sampai di Konoha." Setelah berkata seperti itu, hubungan terputus. Dengan lemas Tenten menaruh ponselnya kedalam tas dan menyangga tubuhnya dengan memegang dinding keramik berwarna putih susu. Kepalanya terasa berputar, tubuhnya di serang gemetar hebat, pandangannya pun mulai kabur seiring bulir air mata membasahi pipinya. Gadis itu menggeleng.

Ia harus kuat. Lagipula, Sasuke pasti sudah curiga karena ia belum juga keluar dari kamar mandi. Tenten mendorong pintu toilet dengan bahunya dan terpaku ketika melihat sosok laki-laki berambut raven berdiri dihadapannya.

"Panda?"

xXx

'Dimana gadis itu?' Sasuke melemparkan pandangan kesekeliling ruangan. Setelah berdansa selama beberapa menit, Sasuke memutuskan untuk menyingkir dari lantai dansa. Kemudian Tenten dihampiri oleh beberapa teman lamanya sesame penari yang dikenalnya di Dearburn. Sasuke membiarkan Tenten mengobrol dengan mereka sementara ia sendiri berbicara dengan beberapa orang yang dikenalkan ayahnya kepadanya. Lalu Tenten berdansa dengan beberapa teman laki-lakinya, setelah Tenten yakin Sasuke tidak keberatan ditinggal sebentar. Dan seperti yang kita duga Sasuke kembali memberengut kesal. Tetapi setelah itu Tenten kembali mengajak Sasuke berdansa sekali lagi.

Tetapi dimana gadis itu sekarang? Sudah dua puluh menit berlalu sejak gadis itu berkata pada Sasuke bahwa ia ingin pergi ke kamar kecil, dan sampai sekarang gadis itu belum juga terlihat. Sasuke benar-benar khawatir karena sepanjang pengetahuannya, wanita memang sering menghabiskan banyak waktu dikamar kecil. Entah bergossip, membedaki hidung mereka, memasang anting-anting atau apapun itu. Ia hanya ingin memastikan keadaan Tenten, memastikan gadis itu baik-baik saja.

Rasa khawatir membuat Sasuke akhirnya melangkahkan kakinya menuju kamar kecil wanita. Sungguh, Sasuke tidak pernah berdiri didepan kamar kecil wanita seorang diri seperti sekarang ini. Tapi hanya ini yang bisa dilakukannya. Lima menit berdiri disana, sudah sekitar tiga perempuan yang berjalan keluar dari kamar kecil dan menatapnya dengan tatapan ganjil. Sebisa mungkin Sasuke hiraukan tatapan itu. Sasuke tidak akan meninggalkan tempat ini, karena ia yakin pada instingnya. Beberapa detik kemudian, pintu kamar kecil terbuka. Sasuke hampir saja melompat girang ketika melihat dua cepolan muncul dari balik pintu, tapi senyuman Sasuke mengendur ketika melihat wajah gadis itu. "Panda?" Si empu nya nama langsung mengangkat wajahnya.

Dan saat itu Sasuke yakin ada yang tidak beres. Tenten berjalan gontai mendekati Sasuke, gadis itu bahkan hampir saja jatuh, kalau Sasuke maju selangkah dan menggenggam lenganya. "Panda? Ada apa?" Tanya Sasuke, mencoba untuk tidak terdengar panic. Tubuh Tenten yang mungil gemetar karena sesegukan, tubuh gadis itu membeku, baru kali ini Sasuke melihat Tenten begitu ringkih dan rapuh.

Isakan tangis mulai terdengar dari Tenten, membuat Sasuke akhirnya merengkuh pundak Tenten, memutar tubuh itu hingga berhadapan dengannya.

"Ada apa? Apa yang terjadi?" Tanya Sasuke yang mulai dilanda panic. Tenten menggosok matanya dengan sebelah tangan lalu berkata dengan suara parau. "Aku permisi dulu, Sasuke." Tenten memberontak dari cengkraman Sasuke, dan terlepas. Gadis itu segera melangkah meninggalkan Sasuke, tapi dengan gesit, Sasuke menangkap tangan mungilnya.

"Ada apa sih sebenarnya?"

"Aku harus kembali ke Jepang! Malam ini." Jawab Tenten. Alis Sasuke terangkat. "Wow, wow, tunggu sebentar! Apa kau bilang? Kembali ke jepang?"

"Iya. Malam ini." Jawab Tenten yang masih membelakangi Sasuke. "Ada apa sebenarnya?" Tanya Sasuke mendesak.

"Aku harus ke Jepang malam ini, Sasuke!"

"Malam-malam seperti ini? Tidak akan kubiarkan." Jawab Sasuke tegas. Tenten memutar tubuhnya dan dengan satu sentakan berhasil melepaskan tangannya dari cengkraman Sasuke. "Aku harus ke jepang, dengan atau tanpa persetujuanmu." Setelah berkata seperti itu, Tenten segera melangkahkan kakinya dengan langkah lebar.

Baru saja Tenten melangkah beberapa kaki dari Sasuke, gadis itu merasa kepalanya berputar, pandangannya kabur dan rasa nyeri yang tajam kembali menyerang punggungnya. Tenten meringis kecil, memutuskan untuk mengabaikan rasa sakit itu dan kembali melangkah, sampai akhirnya lututnya terasa lemas dan akhirnya tubuhnya jatuh membentur marmer.

xXx

Sasuke tidak mau mengingat bagaimana perasaannya ketika melihat tubuh mungil Tenten menghantam marmer. Rasa dingin yang menjalar ditubuhnya saat itu, ia tidak pernah merasakan sensasi seperti ini seumur hidupnya. Ketakutan, kebingungan, kepanikan, dan kecemasan melebur menjadi satu didalam pikirannya sementara ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk gadis yang meringis kesakitan didalam pelukannya kala itu. Dan Tenten memang benar-benar kesakitan. Meskipun bisa dikatakan Tenten hampir kehilangan kesadarannya, gadis itu meringis kesakitan, mencengkram lengan Sasuke sekuat tenaga, seolah kuku-kukunya menembus kedalam kemejanya dan menancap dikulitnya. Sasuke menoleh kearah Tenten yang berada dipelukannya ketika mendengar gadis itu mengerang lemah.

Kedua matanya yang basah terlihat sedikit terbuka, namun wajah itu kembali meringis kesakitan. "Teman anda sakit tuan?" Tanya supir Sasuke cemas sambil melihat dari kaca spion. "Kita kerumah sakit?"

Sasuke ingin membawa Tenten kerumah sakit. Melihat dari ekspresinya saat ini Sasuke yakin Tenten benar-benar kesakitan, apalagi hampir tak sadarkan diri. Sasuke tidak mau mengambil resiko dengan membiarkan Tenten meringkuk menahan rasa sakit sendirian. Tapi kemudian Tenten mengangkat kepalanya dari dada Sasuke dan menatap Sasuke dengan tatapan memohon.

"Aku tidak ingin kerumah sakit… aku ingin membeli tiket.. aku mohon Sasuke." Katanya lirih, Tenten menelan ludahnya yang terasa seperti seenggok daging mentah yang mengganjal ditenggorokannya lalu kembali melanjutkan.

"Ini sudah pernah terjadi… aku hanya tinggal meminum obat dan semua akan kembali seperti semula, percayalah…. Jadi bisa kita membeli tiketnya sekarang? Aku mohon, Tsunade-baa-chan mungkin memerlukanku saat ini."

Sasuke mendengus kesal sambil menatap Tenten. Ia bingung karena Tenten malah mengkhawatirkan orang lain padahal kondisinya sendiri mengkhawatirkan. "Sekarang kondisiku sudah membaik… jadi kumohon.."

"Panda, kau harus memikirkan kondisimu sendiri-"

"Tapi aku baik-baik saja." Sasuke memejamkan matanya, ia tahu tidak ada gunanya berdebat dengan Tenten saat ini. "Baiklah, aku akan memesan tiket lewat agen traveling ku nanti malam." Tenten tersenyum lega.

"Baiklah.. aku akan mengambilnya di apartemenmu besok." Sasuke menatap mata hazel Tenten. "Kau tidak perlu mengambil tiketnya di apartemenku." Kata Sasuke. "Karena kau akan menginap di apartemenku."

Mata Tenten melebar.

"Aku tidak mungkin dan tidak akan membiarkanmu meringkuk sendirian di apartemenmu ditengah kondisi seperti ini." Kata Sasuke dengan suara tegas yang menandakan bahwa ia tidak ingin mendengar pembelaan dari Tenten. "Kita bisa mampir ke apartemenmu kalau ada obat lain yang perlu kau bawa bersamamu." Tenten menghela nafas panjang dan memejamkan matanya, kondisinya terlalu lemah dan lelah untuk menentang Sasuke saat ini, jadi ia akhirnya berkata. "Tidak, aku sudah menyimpan cadangan obat diapartemenmu."

xXx

Tenten memperhatikan refleksi dirinya di depan kaca kamar mandi, lalu mendesah lembut. Ia sudah berganti pakaian dengan sweeter milik Sasuke dengan tulisan ILuvNY besar di dadanya, atau setidaknya di perut Tenten. Sweeter itu menjuntai sampai ke lututnya, lihat bagaimana Tenten terlihat tenggelam didalam sweeter itu. Tenten menyentuh pipinya dengan kedua tangan dan mendesah lembut, ia tahu bahwa ia harus menjelaskan semua ini pada Sasuke. Laki-laki itu pasti sudah menunggunya diruang tengah untuk mengintrogasi Tenten. Tanpa sadar Tenten tersenyum samar ketika mengingat bagaimana Sasuke menarik tubuh Tenten dari marmer yang dingin dan keras itu, ketika laki-laki itu melingkarkan tangannya, ketika kepala Tenten menyentuh dada bidang Sasuke saat itu.

Tenten tidak mengerti, ia tidak mengerti bagaimana Sasuke bisa menjadi pengertian seperti ini. Tenten mendesah sekali lagi lalu berbalik dan keluar dari kamar mandi. Gadis itu menemukan Sasuke tengah berbicara lewat telpon.

"Terimakasih, kutunggu besok pagi." Tepat ketika Tenten duduk di samping Sasuke, laki-laki itu meletakan ponselnya di meja kopi.

"Aku sudah menelpon agen travel, besok pagi ia akan mengirimkan dua tiket kemari." Tenten mengernyitkan hidungnya.

"Dua tiket?" Sasuke mengangguk. "Ya dua tiket, memangnya kenapa? Kau mau mengajak Ino juga?" Tenten menggeleng.

"Kukira kesepakatannya hanya aku yang pergi." Sasuke tersenyum kecil. "Aku tidak pernah menyetujui kesepakatan itu, lagipula perjalanan New York ke Jepang akan sangat panjang, aku tidak mungkin membiarkanmu keluyuran keluar negeri dengan kondisi seperti ini." Tenten mendengus kesal, ia tidak bisa berdebat dengan Sasuke lagi, karena itu tidak berguna sekarang, Sasuke sudah memesan dua tiket. "Oh ya, apa kau sudah menelpon Gustav dan Itachi-senpai? Kita belum berpamitan kepada mereka, dan bahkan pada ibumu."

"Aku sudah menelpon Itachi tadi, dan aku sudah menjelaskan semuanya kepadanya dan memintanya untuk menjelaskannya juga kepada Gustav." Tenten mengangguk kecil. "Kalau aku jadi kau, aku akan meminum coklat panas itu sekarang." Tenten tersentak kaget dan melirik kearah meja kopi.

"Kau membuatkan coklat panas untukku?" Sasuke mengangkat kedua bahunya. "Hanya ada kau dan aku disini, kalau bukan kau pasti aku pelakunya." Tenten tersenyum jail lalu menepuk lengan Sasuke.

"Sepertinya tanganmu sudah sangat membaik." Sasuke hanya membalas kata-kata Tenten dengan tawa kecil. Tenten menjulurkan tangannya dan meraih cangkir teddy bear dengan coklat panas didalamnya.

"Aku tidak tahu Sasuke, pertama piama dan sekarang cangkir ini. Kau memang kelewat lembut." Sasuke mendengus kesal. "Itu hadiah natal tahun kemarin dari Kaa-san, dia selalu membelikan barang-barang aneh seperti itu." Tenten tertawa renyah lalu menyesap coklat panasnya.

"Oh ya Sasuke… kenapa kau belum bertanya apapun padaku?" Sasuke Menghela nafas panjang dan menyenderkan tubuhnya di sofa. "Aku berencana bertanya padamu besok pagi." Kata Sasuke. "Kupikir sekarang bukan waktu yang tepat untuk bertanya." Tenten tersenyum simpul. "Terimakasih."

"Padahal kukira kau akan membanjiriku dengan pertanyaan berbelit ketika aku keluar dari kamar mandi." Gumam Tenten seraya menyesap coklatnya.

"Aku memang penasaran, tapi aku tidak mungkin mengintrogasimu dengan keadaanmu yang sedang tidak sehat ini. Jadi kita akan bicarakan ini besok." Ia menatap Tenten lalu bertanya dengan lembut. "Bagaimana keadaanmu sekarang?" Tenten tertegun sejenak, entahlah Sasuke terdengar seperti bukan Sasuke yang selama ini ia kenal. "Aku sudah membaik." Gumam Tenten.

"Kau merasa lelah?" Tenten mengangguk kecil. Mungkin karena coklat ia menjadi tiba-tiba mengantuk. "Kalau begitu sebaiknya kau tidur." Tenten mengernyitkan hidungnya.

"Kau bercanda? Sekarang baru pukul sebelas, aku tidak pernah tidur sesore ini." Ujar Tenten. Sasuke mendengus kesal.

"Kau bisa membayar tiket pesawat yang sudah kubelikan dengan tidur." Kata Sasuke. "Kau tidur sekarang dan kuanggap tiket pesawatmu sudah kau bayar." Tenten tertawa lembut lalu meninju lengan Sasuke.

"Baiklah-baiklah." gumamnya sambil berdiri.

xXx

dengan perlahan Sasuke mendorong pintu kamar tamu. Laki-laki itu melangkah masuk kedalam dan duduk disisi tempat tidur. Seulas senyum menghiasi wajahnya ketika melihat sosok panda dihadapannya tertidur pulas.

'Akhirnya kau tidak meringis kesakitan lagi.' Gumam Sasuke dalam hati. Sasuke menjulurkan tangannya dan menarik pita di kedua cepolan Tenten, membuat kedua cepolan itu menghilang.

"Kau ini bodoh ya, lupa melepas cepolanmu." Gumam Sasuke. Setelah beberapa detik memperhatikan wajah Tenten, laki-laki itu beranjak dari tempat tidur Tenten. Sasuke baru saja hendak keluar ketika tiba-tiba Tenten membuka matanya dan duduk di sisi tempat tidur.

"Sasuke?" Sasuke tersentak kaget lalu menoleh kearah Tenten. "Ya?" Gadis itu terlihat mengantuk, matanya setengah terpejam, meski begitu seulas senyum manis menghiasi wajahnya. "Terimakasih, Terimakasih karena sudah membuatku merasa jauh lebih baik." Sasuke tersenyum

"Selamat malam panda." Katanya sebelum akhirnya beranjak keluar dari kamar tamu dan menutup pintunya.

Bagaimana Minna chap 13nyaa hehe, chappy ini memang lebih panjang dari yang kemarin, aku sengaja buat panjang soalnya aku jarang apdet hehe, oke segini dulu deh, author masih harus ngerjain beberapa tugas nih (huft) okee jaa ne :)