Rated: T
Disclaimer: All of these chara totally belongs to Mashasi Kishimoto, but this fic is officially mine
Warning!: setting gajelas, bahasa gajelas, Crack pairing, OOC tingkat dewa, dsb
SasuTen slight ItaTen
Read it with ur own risks(:
Couple words from author:
Holla minna-san! bagaimana kabarnyaa? baikahh? hehe semoga semuanya baik-baik saja yaa ;) sekali lagi author minta maaf atas keterlambatan apdetnyaa, author selalu berusaha agar apdet chapter secepat mungkin :( tapi karena tugas sekolah menumpuk dan remedial berjibun jadi author gabisa terlalu sering apdet, mohon dimaklumi ya Minna-san *nunduk-nunduk*Okee author mau bales reviews dulu yaa
Oktadilarezani: makasiihh :) keep reading yaa :)
MORPH: hoo makasihh MORPH :) gapapa kok gapapaa hehe, iyaa ini udh aku apdet, silahkan dibacaa:)
Okee segitu ajaa, langsung aja ya ke chappy 14..
Chapter14
Sasuke membuka matanya yang berat dan duduk ditempat tidurnya dalam satu gerakan mulus. Ia menguap sejenak sebelum mengayunkan kakinya ke lantai dan melirik jam waker kotak di meja. Jam 7.15. sasuke berdiri dan melangkah ke pintu, ia bermaksud untuk pergi ke kamar tamu untuk melihat kondisi Tenten. Namun begitu ia mendorong pintu kayu berwarna abu-abu kamarnya, aroma kopi yang ia kenal dengan baik langsung menyerbu indra penciumannya, yang berarti Tenten sudah bangun.
Sasuke menemukan Tenten didapurnya, masih menggunakan sweeternya yang terlihat menelan tubuh mungil gadis itu. Tenten pasti baru bangun, karena wajahnya terlihat cerah sekali, terakhir Sasuke memeriksa gadis itu jam 6.15 dan gadis itu masih bergelung didalam selimutnya sambil memejamkan mata, dan jangan lupakan seulas senyum tipis yang menghiasi bibir mungilnya ketika terlelap. "Selamat pagi." Sapa Tenten ketika melihat Sasuke sudah duduk di belakang meja makannya. Sasuke hanya bergumam tidak jelas dan menopang dagunya dengan tangan kiri. "Ataga." Ucap Tenten sambil memperhatikan wajah Sasuke dengan seksama. "Kau terlihat mengerikan! Ada dua lingkaran besar di kedua matamu, kau jadi terlihat seperti zombie panda tahu. Apa tidurmu tidak nyenyak semalam?"
Sasuke memang merasa mengerikan. Laki-laki itu masih merindukan bantal, tempat tidur dan selimutnya yang hangat. Ia masih mengantuk dan lelah. Dan semua itu karena ia selalu terbangun setiap jam sepanjang malam untuk memeriksa keadaan Tenten dan memastikan panda itu baik-baik saja. Ia lega ketika melihat gadis itu tertidur dengan pulas satu malam penuh. Tapi tentu saja ia tidak bisa memberitahu semua itu pada Tenten, dan sebagai gantinya ia bertanya. "Bagaimana keadaanmu hari ini?"
"Aku merasa hebat hari ini!" Sahut Tenten riang sambil merentangkan kedua tangannya yang tertutup sweeter putih tebal. "Dan tidurku sangat nyenyak malam ini, ajaib sekali. biasanya aku tidak pernah tidur lebih dari tiga jam."
"Aku senang mendengarnya." Ujar Sasuke sambil tersenyum samar. "Itu berarti kau harus tidur disini jika kau ingin tidur lebih dari tiga jam." Tenten tertawa lembut. Tapi tidak halnya dengan Sasuke, laki-laki itu mengerutkan kedua alisnya. "Tunggu sebentar, apa barusan kau bilang tidur tiga jam sehari?"
"Eh.. kurang lebih, memangnya kenapa?" Sasuke menyipitkan kedua matanya dan menatap Tenten dengan tatapan tajam. "Sudah berapa lama kau mengalami insomnia seperti ini?" Tenten yang mulai diintrogasi hanya bisa mengernyitkan hidungnya. "Eh.. selama beberapa bulan ini aku memang tidak bisa tidur nyenyak, mungkin sekitar tiga bulan."
"Tiga bulan?" Ucap Sasuke membeo. "Tiga bulan kau insomnia dan kau tidak berkonsultasi ke dokter?" Mendengar kata 'dokter' membuat tubuh Tenten bergidik kecil. "Dengar Sasuke, aku tidur tiga jam karena harus menuliskan hasil pembelajaran murid-muridku." Ujar Tenten.
"Kau tidak perlu khawatir." Sasuke memalingkan wajahnya, laki-laki tahu Tenten sedang berbohong padanya. Tapi ia tidak ingin merusak suasana hati Tenten yang kelihatannya sedang cerah hari ini dan membuat gadis itu kembali sakit karena suasana hatinya yang memburuk.
"Oh iya, bagaimana dengan tiketku?" Tanya Tenten sambil meletakan secangkir kopi dihadapan Sasuke. "Agen travel akan mengantarnya pukul sembilan nanti, kita akan terbang ke Jepang jam 3.25 pm." Jawab Sasuke sambil meraih cangkirnya dan menyesap kopinya. Tenten mengangguk kecil.
"Bisa kita mampir ke apartemenku sebelum kita berangkat ke bandara? Aku harus mengambil beberapa baju." Sasuke mengangguk. "Tentu saja, dan sepertinya kau memerlukan beberapa obat ehem, maksudku vitamin." Ujar Sasuke santai, Tenten hanya bisa terdiam lalu meninggalkan Sasuke menuju dapur. "Kau mau cuci muka sementara aku membuatkanmu sarapan?"
Dan lima belas menit kemudian, Tenten dan Sasuke sudah duduk berhadapan di meja makan. Sasuke sudah selesai meminum kopinya dan kini tengah mengaduk jus tomat yang baru saja dibuatkan oleh Tenten, sementara Tenten terlihat tengah menikmati coklat panasnya.
"Jadi, kau mau menjelaskan padaku soal obat dan insiden kemarin?" Pertanyaan Sasuke nyaris membuat Tenten menyemburkan coklat panas yang tengah ia minum, gadis itu berdeham beberapa kali sebelum meletakan mugnya diatas meja dan berkata. "Tidakkah seharusnya kita makan dulu?" Tanya Tenten berusaha mengulur waktu.
"Kita bisa mengobrol sambil makan bukan?" Ujar Sasuke sambil mulai menyendokan telur mata sapi beserta beef stik kedalam mulutnya. Setelah terdiam sejenak dan mengamati jemarinya, Tenten akhirnya berdeham dan berkata. "Aku memiliki satu masalah kesehatan yang serius."
"Masalah seperti apa?" Gumam Sasuke ketika melihat tanda-tanda Tenten tidak akan melanjutkan kata-katanya. Tenten tidak menjawab.
"Panda?" Gadis itu mengangkat wajahnya dan menatap Sasuke. "Omong-omong kenapa akhir-akhir ini kau memutuskan untuk memanggilku panda?"
"Usahamu tidak berhasil." Sela Sasuke dengan nada rendah. "Jadi berhentilah mengalihkan pembicaraan." Tenten menghela nafas panjang, ia tahu suatu saat harus memberitahu semua ini pada Sasuke, berada di apartemen Sasuke selama hampir satu bulan pasti akan menimbulkan kecurigaan laki-laki itu. Jadi Tenten akhirnya menelan ludahnya dan membuka mulut.
"Aku ada masalah dengan-" RING! Bel intercom apartemen Sasuke berdering, laki-laki itu melirik kearah jam dinding berwarna putih yang terletak diatas pianonya. Jam sembilan tepat. Sasuke melirik sekilas kearah Tenten dan menggeram kecil, sementara Tenten terlihat tersenyum samar dan langsung melangkah kepintu. Gadis itu bersorak didalam hati karena agen travel sudah datang membawa tiketnya dan tiket Sasuke. Setelah menyerahkan selembar tanda terima yang sudah ditanda tangani oleh Sasuke kepada agen travel dan menggenggam tiketnya, Tenten meletakan tiket itu diatas meja kopi dan menghambur ke kamar mandi. "Aku mandi duluan, apa kau ada alat mandi?"
"Yeah, tapi sayangnya aku tidak punya pakaian dalam wanita." Jawab Sasuke datar. Tenten memberengut kesal. "Baiklah aku mandi di apartemenku saja, lebih baik kau cepat menghabiskan sarapanmu Uchiha, karena aku tidak ingin kita terlambat." Kata Tenten sambil meraih piring berisi telur mata sapi yang tinggal setengah dan membuangnya ketempat sampah. Sasuke mendengus kesal lalu meninggalkan meja makan.
xXx
Sasuke hanya bisa memperhatikan sosok gadis bertubuh mungil yang tengah sibuk menjinjing satu tas besar di tangannya. Gadis itu melangkah lebar-lebar, kepalanya tertunduk memperhatikan selembar kertas ditangan kanannya, sementara pundaknya menjepit ponselnya diantara pundak dan telinga. Rasa gelisah dan khawatir bisa Sasuke rasakan dari gadis itu.
"Ha-halo?! Susune-nee-chan? Bagaimana kabar baa-chan?" Sasuke meringis kecil ketika mendengar suara gadis dihadapannya yang terdengar parau. "Kami-sama! Baiklah, aku sudah di bandara Jhon . setengah jam lagi aku terbang ke Tokyo." Suara gadis itu kembali terdengar.
"Baiklah, kau juga harus menjaga dirimu Nee-chan. Sampaikan salamku pada semua orang disana, akan kuhubungi lagi ketika aku sudah didalam pesawat." Setelah berkata seperti itu, ia meraih ponselnya dan menjejalkannya di dalam saku mantel lalu tiba-tiba berhenti. Sasuke yang kaget segera menghampiri tubuh mungil itu. "Kau kenapa?"
Dia menangis. Rasa dingin itu kembali menjalar ditubuh Sasuke, rasa dingin di tubuhnya. Rasa kepanikan, kekhawatiran dan kecemasan yang ia rasakan ketika melihat tubuh gadis ini membentur marmer kemarin malam di pesta yang diadakan oleh Gustav. "Kita… kita harus bergegas, Sasuke." Ucap gadis itu lirih sambil kembali melanjutkan langkahnya. Sasuke menarik tangan gadis itu, membuat langkahnya terhenti.
"Sudahlah Tenten, masih ada setengah jam sebelum pesawat kita terbang, lebih baik kita minum dulu dan tenangkan dirimu." Tenten menggeleng.
"Tidak ada waktu, aku baik-baik saja." Sasuke menghela nafas panjang, ia heran kenapa gadis ini bisa begitu keras kepala, lebih dari dirinya sendiri. Akhirnya Sasuke hanya menggenggam tangan Tenten dan berjalan beriringan bersamanya. "Kau itu memang keras kepala." Gumamnya. Sementara Tenten hanya bisa terdiam, gadis itu benar-benar bingung.
Pertama, Sasuke jadi tambah aneh belakangan ini. Laki-laki itu berubah dari monster penindas menjadi laki-laki penuh pengertian dalam kurun waktu singkat. Kedua, Tenten merasa aneh dengan gejolak aneh yang muncul dihatinya ketika tangan besar Sasuke menggenggam erat tangannya. Dan jangan lupa saat laki-laki itu mendekap tubuh Tenten selama berada di mobil kemarin malam. Tenten menundukan kepalanya.
'Tidak! Jangan mulai berpikiran tidak rasional Tenten! Sasuke tetaplah Sasuke, monster penindas yang suka menyuruh-nyuruh dan berkata seenaknya.' Batin Tenten dalam hati, bahkan gadis itu mengangguk untuk menyetujui pernyataan yang ia buat sendiri. Dua puluh menit kemudian, kedua manusia itu sudah duduk didalam pesawat. Tenten segera merogoh sakunya dan menelpon Susune sebelum pramugari dan pramugara menghampiri mereka dan meminta untuk menon aktifkan alat komunikasi.
"Halo Susune-nee-chan? Ya.. aku sudah berada didalam pesawat.. apa? Eh tunggu sebentar." Tenten menoleh kearah Sasuke lalu berbisik.
"Sasuke, berapa jam lagi kita akan sampai di Jepang?" Sasuke terdiam sejenak lalu menjawab. "Kira-kira sembilan jam." Tenten mengangguk lalu kembali meletakan ponselnya ditelinga.
"Eh, kira-kira sembilan jam… iya baiklah… jaga kesehatanmu juga.. salam untuk semuanya… Jaa." Tenten menyusupkan ponselnya kedalam saku mantel dan menyandarkan tubuhnya.
"Jadi bisa kau ceritakan alasan yang jelas kenapa kau begitu panic dan ingin segera sampai di Jepang?" Tanya Sasuke sambil melirik kearah Tenten.
"Kemarin malam Susune, adik dari Tsunade menelponku.. dia bilang Tsunade masuk rumah sakit dan tadi dia bilang Tsunade dalam keadaan kritis dan dirawat di ruang intensive care unit." Jawab Tenten panjang lebar. Gadis itu menundukan kepalanya, menahan air mata yang mulai menyeruak keluar. Ia sangat takut, sangat takut terlambat datang. Bagaimana kalau ia datang ketika Tsunade sudah tidak ada? Tenten menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tubuhnya tersentak kecil ketika merasakan tangan yang hangat menyentuh pundaknya. "Sudahlah, semua akan baik-baik saja." Tenten menoleh kearah Sasuke, melihat laki-laki itu tersenyum kepadanya entah bagaimana membuat Tenten tertegun sesaat. Jarang sekali Sasuke tersenyum tulus seperti itu.
"Yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah berdoa, mengharapkan yang terbaik." Sasuke benar, Tenten hanya bisa berdoa dan mengharapkan yang terbaik bagi Tsunade. "Terimakasih, Sasuke." Sasuke tersenyum kecil lalu mengalihkan tatapannya kearah iPod yang berada di genggamannya.
Beberapa menit kemudian, pesawat sudah take off dari bandara Jhon New York menuju Narita airport Jepang. Tenten melirik kearah jendela pesawat, memperhatikan gumpalan awan kapas berwarna putih. Tenten mengernyitkan hidungnya ketika mendengar suara dengkuran lembut menyusup ke rongga telinganya. Tenten menoleh kesumber suara. Gadis itu membekap mulutnya, berusaha menahan tawa karena melihat pemandangan dihadapannya.
Sasuke, laki-laki itu tengah tertidur dengan tangan menopang dagu, membuat bibirnya agak mengerucut. Tenten tersenyum geli sambil memperhatikan wajah Sasuke yang tengah tertidur pulas. Bagi Tenten, ini bukan kali pertama melihat wajah tertidur Sasuke, tapi baru kali ini Tenten melihat Sasuke tertidur seperti anak kecil seperti ini. Entahlah, Sasuke terlihat keluar dari karakter kesehariannya yang dingin dan kejam. Tenten meraih satu headset di telinga Sasuke dan menyusupkannya di rongga telinga, gadis itu penasaran lagu apa yang bisa membuat Sasuke tertidur begitu cepat.
Tenten memejamkan matanya ketika mendengar alunan lembut piano memenuhi telinganya, gadis itu melirik ke layer iPod Sasuke. 'For You'. Tenten pernah membaca judul lagu ini disuatu tempat.
'Ah! Tentu saja! Aku pernah membaca judul ini di album Sasuke yang kubeli waktu itu.' Ya! Jadi ini adalah lagu Sasuke. Sejak membeli CD album Sasuke, Tenten belum sempat mendengarkannya, dan sekarang Tenten jatuh cinta pada lagu ini. Tenten bisa membayangkan bagaimana lagu ini mengalun ketika dibawakan langsung oleh Sasuke dengan pianonya. Tanpa sadar Tenten tersenyum seiring dengan kelopak matanya yang perlahan-lahan terpejam.
Entahlah, tapi gadis ini yakin bahwa ia bisa tertidur dengan tenang ketika berada didekat Sasuke.
xXx
Tenten berlari memasuki ruang rawat ketika akhirnya petugas rumah sakit memperbolehkannya masuk. Wajah Tenten yang tadinya tegang dan digelayuti kekhawatiran kini mulai terlihat lega. Gadis itu tersenyum lemah ketika mata hazelnya mendapati Tsunade tengah duduk diatas tempat tidur dan terlihat berbincang dengan Susune, Lee dan Sakura.
"Baa-chan!" Wanita paruh baya berhelai pirang itu segera menolehkan kepalanya, bibir tipisnya tersenyum cerah. "Tenten? Kau kah itu?" Tenten hampir saja menangis ketika mendengar suara Tsunade menyusup dirongga telinganya. Tenten segera berlari kecil menghampiri Tsunade dan memeluknya.
"Baa-chan! Syukurlah… syukurlah.." Tsunade tersenyum samar seraya menepuk-nepuk tangan mungil Tenten yang melingkar di lehernya.
"Sudahlah Tenten, aku baik-baik saja. Kau harusnya tidak perlu repot-repot kembali ke jepang." Ujar Tsunade ketika akhirnya Tenten melepaskan pelukannya. Tenten masih terisak-isak, gadis itu mengelap air matanya dengan punggung tangan lalu berkata. "Aku.. aku hanya ingin.. aku.. aku sangat merindukan baa-chan." Ujar Tenten yang masih menangis.
"Sudahlah, Tenten kau tidak perlu menangis seperti itu." Kata Sakura sambil menyentuh pinggang Tenten. Gadis itu tersenyum kecil kearah sahabat lamanya lalu berjalan menghampiri Susune. Tenten memeluk semua orang di kamar itu. Memeluk Susune, Tsunade dan Sakura. Lee langsung memeluk erat Tenten ketika gadis itu melangkah kearahnya.
"Lihat kau sekarang! Kau sudah jadi perempuan!" Seru Lee sambil memeluk erat Tenten, membuat gadis itu meringis kesakitan.
"Jadi kau pikir dulu aku laki-laki?" Gerutu Tenten sambil tersenyum geli. Tenten membalas pelukan Lee. Betapa ia sangat merindukan semua ini, merindukan konoha, merindukan Tsunade, Susune, Lee dan Sakura.
Sementara Tenten sedang berbincang-bincang mengenang masa lalu dengan Tsunade, Susune, Lee dan Sakura. Sasuke sepertinya sedang sibuk memperhatikan. Sejak sampai di lobby rumah sakit, Tenten langsung menghambur meninggalkannya dan berlari menuju kamar rawat ibu pantinya. Sasuke menghela nafas lalu menghentikan langkahnya diambang pintu kamar rawat. Laki-laki itu mengerjapkan matanya ketika melihat Tenten tengah berbincang akrab dengan Lee. Sementara itu tanpa disadarinya, Tsunade melihat kehadiran Sasuke. Wanita berusia akhir empat puluh itu tersenyum dan berkata. "Sepertinya kau lupa mengenalkan seseorang kepada kami, Tenten?"
Tenten yang sedari tadi sedang asik berbincang langsung tersentak kaget dan menoleh keambang pintu. Tenten langsung tersenyum cerah dan menghampiri Sasuke lalu berkata. "Kenalkan, ini Sasuke.. dia temanku dari New York. Sasuke, kenalkan ini Lee, Sakura, Susune-nee-chan dan Tsunade baa-chan." Ujar Tenten riang.
"Selamat siang." Sapa Sasuke berbasa-basi. Setelah perkenalan singkat itu, Tenten kembali berbincang dengan Lee dan Sakura, sementara Sasuke mengobrol dengan Tsunade dan Susune. Selama Sasuke berbincang dengan Tsunade, Sasuke mulai tahu asal muasal Tenten. Bagaimana Tsunade menemukan Tenten ketika masih bayi, bagaimana perjalanan hidup Tenten dan bagaimana perjuangan Tenten hingga akhirnya berada di New York.
"Kulihat sepertinya kalian lumayan dekat, apa kalian punya rencana untuk menikah?" Tanya Susune asal, dan pertanyaan itu berhasil membuat pipi Sasuke terasa panas. Mata onyxnya melirik kearah Tenten, dan kembali kepada Susune ketika ia yakin Tenten tidak mendengar pertanyaan konyol kakaknya.
"Eh.. kami hanya berteman." Jawab Sasuke berusaha sesantai mungkin.
"Jangan goda dia, Susune. Aku yakin semua akan berjalan seiring waktu." Gumam Tsunade sambil tersenyum samar. "Ah ya, Sasuke. Bisa aku meminta satu permintaan padamu? Aku akan senang jika kau mau menyanggupi permintaanku." Ujar Tsunade sambil melirik kearah Tenten. Sasuke mengangguk singkat. "Apa itu?"
"Aku ingin kau menjaga Tenten. Karena menurutku kalian cukup dekat, dan aku bisa percaya padamu. Jadi jangan sia-siakan kepercayaanku, mengerti anak muda?" Sasuke kembali melirik kearah Tenten lalu tersenyum singkat.
"Tentu saja, Tsunade."
Nah bagaimana bagaimanaa? Sasuke udh dikasih amanat sama Tsunade, apakah Sasuke akan menjalankan amanat ituu? kita liat di chap selanjutnya mihihihii, oh iya sekedar bocoran, chappy 15 akan jadi ItaTen moment yang TERAKHIR. kenapa jadi yang terakhir? jawabannya akan diketahui setelah chappy 15 di apdet tentunya hehehe, oke segini aja bacotankuu, keep readings yaa minna :)
