Rated: T

Disclaimer: all of these chara totally belongs to Mashasi Kishimoto, but this fic officially mine.

Warning: bahasa gajelas, setting gajelas, Crack pairing, OOC tingkat dewa, dsb.

SasuTen slight ItaTen

read it with ur own risks(:

Couple words from author:

Holla minna-san...

author kembali lagi dengan chappy baru hehe, author bingung mau ngomong apa, jadi author langsung bales reviews aja ya minna :)

oktadilarezani: Hehehe bagus lah kalo kamu suka pairingnya hehe, soalnya banyak juga yang gasuka dengan pairing ini .-. hehe, okee ini udh diapdet kok, maaf ya kalo lama :')

akira-ken: Sasuke ikut ke jepang kok, kan dia nanti ketemu sama Tsunade hehe. iya Tenten emang agak galak sih hihi, iya begitulah, kata-kata Sasuke emang bener soal Itachi yang pura-pura ganyadar tentang perasaan Ino hehe. iyaa, dia figure skater terkenal semacam itu lah hehe, waduh makasih yaa, ini udh aku apdet silahkan dibacaa...

Oh iya, sekedar spoilers. chappy ini sepertinya adalah ItaTen moment yang terakhir hehe, dan mulai dari sini bakal mulai bermunculan ItaIno hehe, segitu aja spoilers nya, untuk lebih jelasnya lagi tetap ikuti fic ini yaa :)

Chapter 15

"Baiklah, kau boleh istirahat sekarang Tenten." Tenten mengangkat wajahnya dan tersenyum simpul. "Terimakasih Bill." Laki-laki bertubuh gemuk yang dipanggil Bill itu membalas senyuman Tenten sebelum akhirnya melangkah pergi, sementara Tenten meraih handuk putihnya dan menyeka keringatnya yang sudah mulai bercucuran. Ponsel gadis itu berdering, membuatnya melonjak kaget dan akhirnya meraih ponselnya. Sasuke.

'Apa kau sudah mulai mengajar?' Tenten tersenyum kecil lalu segera membalas pesan Sasuke. 'Ya, aku baru saja akan istirahat, kenapa?'

'Tidak, gunakanlah waktu istirahatmu untuk makan siang, kau tahu? Kau terlihat seperti tengkorak yang ditaruh di lab biologi.'

'Yayaya, tenang saja. Bagaimana harimu? Apa hari ini sudah menjadi hari yang sempurna?'

'Yeah tentu saja! Kau tahu ternyata dokter sudah melepas perbanku! Lebih cepat dari perkiraannya.' Tenten tersenyum kecil dan melirik kearah jam tangannya. Sudah jam 12.15. 'Well, selamat untukmu. Baiklah aku harus bergegas, sampai jumpa Sasuke.' Setelah mengirim pesan itu, Tenten segera memasukan ponselnya kedalam saku mantel dan berjalan meninggalkan arena ice rink. Gadis itu tersenyum cerah mata hazelnya mendapati sosok laki-laki berambut gelap panjang tengah berdiri di pintu masuk arena ice rink.

"Sepertinya aku tepat waktu." Ujarnya sambil tersenyum, Tenten tersenyum lebar lalu segera menghampiri laki-laki itu. "Hei." Sapa Tenten singkat. Laki-laki itu segera menggenggam tangan Tenten ketika gadis itu sudah berdiri didekatnya. "Hei, bagaimana Jepang?"

"Dingin sekali, kurasa disana sudah memasuki musim dingin." Jawab Tenten kelewat riang, Itachi hanya mengangguk kecil.

"Jadi aku boleh tahu kejutanku sekarang?" Tanya Tenten sambil tersenyum geli. Sekembalinya Tenten dari Jepang, Itachi langsung menelpon dan meminta Tenten mengosongkan kelas selama beberapa jam, karena ia akan memberikan kejutan pada Tenten. Itachi tertawa lemah lalu menggeleng. "Sayangnya tidak, kau harus menunggu lebih lama kau tahu." Tenten tertawa singkat.

"Ayolah, jadi kemana kau akan membawaku sekarang? Makan siang?" Itachi menggeleng kecil lalu membuka pintu penumpang, mempersilahkan Tenten masuk. "Kau akan tahu saat kita sampai, dan aku yakin kau sangat suka tempat itu." Jawab Itachi sambil tersenyum puas.

xXx

Tenten hanya bisa memperhatikan puluhan pohon pinus yang berjejer mengapit jalanan. Tenten tidak tahu kemana Itachi akan membawanya, sudah berkali-kali Tenten bertanya dan Itachi hanya menjawab 'Kau harus bersabar.' Dan akhirnya Tenten menyerah, ia tahu Itachi tetap tidak akan memberitahu tujuan mereka sebelum mereka sampai. Sudah sekitar setengah jam Itachi memacu Cherokee nya dengan kecepatan diatas 80 km/jam, Tenten tahu bahwa mereka sudah tidak berada dikawasan New York. Itachi mengurangi kecepatan dan berbelok kekanan, beberapa menit kemudian, mobil berhenti dihadapan sebuah pondok usang yang lumayan jauh dari jalan besar. Tenten mengamati pondok itu, menatapnya dengan tidak percaya karena Itachi mengajaknya kesebuah pondok yang jauh dari perkotaan. Pikiran aneh langsung merasuki otaknya, Itachi melepaskan seat bealtnya dan menoleh kearah Tenten.

"Kenapa kau memandangiku seperti itu?" Tanya Itachi heran. Tenten tersentak lalu menatap lurus kedepan. Gadis itu meringis.

'Ayolah Tenten! Jangan berpikiran yang tidak-tidak!' Itachi mematikan mesin mobil dan membuka pintu mobil. "Ayolah, ada seseorang yang harus kau temui." Tenten hanya bisa mematuhi kata-kata Itachi dan melepaskan seat bealt yang sedari tadi melilitnya lalu keluar dari mobil. Tenten mengikuti Itachi yang berjalan dijalan setapak sambil memperhatikan lingkungan sekitar. Ada sebuah papan di sebelah beranda pondok itu, Tenten tidak bisa membaca tulisannya karena sudah termakan usia. Suara berderak merayap diudara ketika Itachi menginjak anak tangga menuju beranda, disusul derakan lainnya ketika Tenten mengikuti Itachi. Laki-laki itu mengetuk pintu beberapa kali lalu menoleh kearah Tenten.

"Aku yakin Amber akan kegirangan bertemu denganmu." Tenten mengernyitkan hidungnya. "Amber?" Itachi tersenyum kecil.

"Oh bukan hanya Amber, tapi semua pasti sangat senang melihatmu." Tenten hanya bisa memandangi Itachi dengan tatapan tidak mengerti, ia tidak mengenal Amber, dan Tenten yakin gadis bernama Amber itu juga tidak mengenalnya, karena mereka belum pernah bertemu sebelumnya bukan?

Tak lama kemudian terdengar suara berdecit seiring terbukanya pintu kayu mahoni dihadapan Itachi. "Ah! Mrs. Pemberly, senang sekali bisa bertemu dengan anda." Ujar Itachi sambil mengulurkan tangannya. Tenten memperhatikan wanita yang kira-kira berusia setengah abad itu dengan seksama. Meski tidak mengenal wanita ini, Tenten yakin bahwa Mrs. Pemberly adalah wanita yang baik. Bisa terlihat dari wajahnya yang lembut. Wanita itu tersenyum singkat kepada Tenten sebelum akhirnya menjabat tangan Itachi.

"Sudahlah Itachi, sudah berapa kali kuminta untuk memanggilku Daisy?" Itachi terkekeh lembut. "Baiklah Daisy, bagaimana kabarmu?"

"Yeah, sejauh ini kami semua baik-baik saja Itachi." Jawab Daisy sambil tersenyum murung. Tenten tidak yakin, tapi sepertinya Daisy sedang mengalami masalah yang cukup berat. Itachi berdeham sekali lalu melirik kearah Tenten.

"Ah, Daisy. Sesuai janjiku, aku mengajak Tenten kesini." Daisy menoleh kearahku, memincingkan matanya lalu tercengang.

"Itachi… apa dia benar…"

"Yeah, itu benar." Daisy tersenyum lembut lalu mendekati Tenten dan memeluknya. Tenten kaget karena tiba-tiba dipeluk oleh wanita yang sama sekali tidak dikenalnya. "Ya Tuhan! Amber pasti sangat senang, Amber dan semuanya, terimakasih Itachi!" Tenten melemparkan pandangannya kearah Itachi, menuntut jawaban atas semua ini, Itachi hanya tertawa renyah.

"Yeah, aku yakin itu." Daisy melepaskan pelukannya lalu menghapus air mata yang membasahi kelopak matanya. "Maafkan aku, kau pasti kaget karena aku tiba-tiba memelukmu." Gumam Daisy. Tenten segera tersenyum kaku.

"Eh.. tidak masalah Mrs. Pemberly-"

"Daisy, kumohon panggil saja aku Daisy." Tenten tersenyum hangat lalu mengangguk. Daisy membalas senyumannya lalu menoleh kearah Itachi.

"Sepertinya kita harus menceritakan semuanya, Itachi."

"Tentu saja, Daisy." Tenten hanya bisa terdiam, ia sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Daisy dan Itachi.

"Ah! Bodohnya aku, aku bahkan lupa mempersilahkan kalian masuk, mari masuk, diluar sini dingin sekali." gumam Daisy sambil menyapu senjumput rambut coklatnya dibailk telinga. Itachi menggenggam tangan Tenten dan menuntunnya masuk. "Itachi, sebenarnya kita ini dimana?" Tanya Tenten dengan suara rendah, berharap Daisy tidak mendengarnya.

"Aku dan Daisy akan menceritakan semuanya nanti, tenang saja." Jawab Itachi sambil tersenyum singkat. Tenten hanya bisa terdiam dan mengikuti Daisy serta Itachi sampai akhirnya mereka duduk diruang tamu pondok itu.

Ternyata pondok itu lebih luas dari perkiraan Tenten. Seluruh bangunan ini terbuat dari kayu jati yang terlihat usang karena termakan usia. Meskipun suasana didalam pondok ini sangat usang, tapi Tenten merasa nyaman berada disini. "Aku yakin kalian sangat senang menikmati segelas coklat hangat di tengah cuaca yang dingin seperti ini." Ujar Daisy sambil meletakan dua cangkir berwarna biru gelap kepada Itachi dan Tenten.

"Terimakasih, Daisy." Gumam Tenten sambil tersenyum ringan. Daisy membalas senyuman Tenten dan segera duduk dihadapan Itachi dan Tenten. Setelah suasana sunyi selama beberapa detik, Tenten akhirnya membuka mulut.

"Jadi, bisa dijelaskan sekarang?" Tanya Tenten sambil menatap kearah Itachi dan Daisy secara bersamaan. Itachi menghela nafas panjang.

"Kau tahu tempat apa ini, Tenten?" Tenten mengedarkan pandangannya kesekitar, berusaha mencari benda apapun yang bisa memberinya petunjuk tempat apa ini, tapi nihil. Ia tidak menemukan apapun yang bisa memberitahunya. "Panti asuhan." Tenten menoleh kearah Daisy, wanita itu menggenggam nampan besinya dengan kedua tangan dan menundukan kepalanya. "Ini adalah panti asuhan, sudah berdiri selama hampir dua puluh tahun." Lanjut Daisy dengan suara parau. Tenten hanya bisa terdiam.

Ia pikir pondok ini adalah rumah dari sebuah keluarga, atau pondok kosong milik keluarga Uchiha yang dipinjamkan oleh keluarga tidak mampu. Tapi dugaan Tenten salah, ini adalah panti asuhan. Sama seperti tempat ia berasal.

"Aku adalah ibu panti disini, ibu dari lima belas anak yatim piatu yang saat ini ditampung disini." Tenten hanya bisa tertegun, ia sama sekali tidak menduga kalau ini adalah panti asuhan. Pertama, karena letaknya yang seperti berada ditengah hutan belantara, kedua karena keadaan infrastruktur yang sangat buruk, dan ketiga karena ia tidak mendengar suara anak-anak.

"Lalu, kenapa kau bisa mengenal Daisy dan tahu panti asuhan ini, Itachi-senpai?" Tanya Tenten sambil menoleh kearah Itachi yang duduk disebelahnya.

"Karena almarhumah tunanganku berasal dari sini." Tenten hampir saja melompat kaget. Jadi tunangan Itachi yang meninggal lima tahun yang lalu adalah seorang yatim piatu? Sama seperti dirinya.

"Aku dan Itachi sudah saling mengenal sejak ia dan Ayame berpacaran." Timpal Daisy. Tenten hanya bisa terdiam, berusaha meluruskan semua ini. Tenten melirik kearah Itachi lalu mencondongkan tubuhnya.

"Lalu kenapa kau membawaku kesini, Itachi-senpai? Dan kenapa kalian bilang semua orang akan senang karena bertemu denganku? Oh, kalian belum menceritakan siapa Amber?" Wajah Daisy berubah menjadi kelam, wanita itu menatap Tenten dengan tatapn sedih.

"Amber adalah salah satu anak dari panti ini.. dia sedikit special diantara teman-teman yang lainnya." Ujar Daisy.

"Amber mengidap kanker otak." Kali ini jantung Tenten terasa berhenti berdetak, gadis itu menoleh kearah Itachi yang sedang menatap lurus kearah cangkir coklat panasnya yang belum ia sentuh.

"Amber mengidap kanker otak stadium tiga." Ujar Itachi tanpa menoleh kearah Tenten. "Amber adalah gadis yang sangat periang, sebelum dua bulan yang lalu ia di fonis mengidap kanker." Timpal Daisy yang kini menangis. Itachi menghela nafas panjang dan menoleh kearah Tenten.

"Kau tahu, Tenten? Amber memiliki cita-cita yang besar untuk menjadi seorang figure skater, hampir setiap musim dingin ia berlatih di danau kecil yang tak jauh dari sini. Ia terus berlatih, berharap bahwa ia bisa diterima oleh Clinton dan menjadi figure skater yang hebat. Tapi semua harapan itu harus ia buang ketika dokter memfonis hidupnya tak akan berjalan lama." Tenten tercengang, gadis itu berusaha menyusun kata-kata Itachi yang berputar dikepalanya. Mendengar cerita Itachi membuat Tenten mengenang masa lalu, bisa dibilang ia dan Amber sama. Ia dan Amber sama-sama berasal dari panti asuhan, ia dan Amber sama-sama berambisi untuk menjadi seorang figure skater, tentu saja Tenten mengerti semua perjuangan Amber.

"Ia sangat mengagumimu, Tenten. Sangat." Tenten menoleh kearah Daisy, yang terlihat sudah pulih dari sesegukannya.

"Tidak hanya dia, bahkan semua anak-anak dipanti ini. Mereka sangat mengidolakanmu." Timpal Itachi. Daisy tersenyum geli.

"Ya, semua berawal dari Amber yang selalu menjerit-jerit ketika melihatmu meluncur di atas es ketika olimpiade tiga tahun yang lalu, ia memproklamasikan teman-temannya disini untuk melihatmu meluncur dan menari disana, dan berhasil membuat anak-anak disini ikut menyukaimu." Daisy menatap lurus kedepan lalu tersenyum getir. "Sampai akhirnya kau tidak pernah terlihat lagi dilayar kaca, Amber merasa sangat sedih kala itu, tapi gadis itu terus berharap bisa melihatmu meluncur diatas es sekali lagi. Ia selalu menunggumu kembali meluncur disana." Tenten terkesima dengan cerita Daisy. Sungguh ia tidak pernah mengira ada seorang anak kecil yang begitu mengidolakannya.

Sudah tiga tahun dirinya memutuskan untuk hengkang dari Dearburn dan segala olimpiade, dan memulai hidup baru menjadi seorang pengajar ice skating untuk para amatiran di departemen store New York, sudah tiga tahun ia menghilang tapi gadis kecil bernama Amber itu masih mengidolakannya. Tenten menyeka air matanya dan bertanya dengan suara parau.

"Bolehkah aku bertemu dengan mereka?"

xXx

"Mereka sedang menonton TV didalam." Ujar Daisy sambil berbisik. Tenten menelan ludahnya yang terasa menggumpal lalu mengangguk gugup. Samar-samar Tenten bisa mendengar back song fil cartoon dan suara anak-anak yang kira-kira berusia sepuluh tahun tengah berbincang dan tertawa.

"Aku akan menunggu disini." Ujar Daisy sambil melangkah mundur lalu tersenyum lembut kearah Tenten. Itachi menyentuh kepala Tenten, membuat gadis itu menoleh kearahnya. "Aku akan masuk duluan." Katanya sambil tersenyum menenangkan, Tenten mengangguk sementara Itachi membuka pintu dan langsung masuk kedalam, membiarkan pintu sedikit terbuka.

"Hei anak-anak!"

"Hei! Itu Itachi!" Seru seorang anak laki-laki, yang akhirnya diikuti oleh anak-anak yang lain. Tenten bisa mendengar suara anak-anak yang bersemangat menanyai Itachi. "Lama sekali kau tidak berkunjung, Itachi. Padahal aku sudah menyiapkan beberapa tangkai bunga untukmu, tapi semua sudah kering." Dari luar Tenten bisa mendengar Itachi tertawa kecil.

"Maaf Lily, aku sangat sibuk belakangan ini." Ujar Itachi lembut, Tenten tersenyum geli, sepertinya Itachi bisa menjadi calon ayah yang baik.

"Nah, aku ingin memperkenalkan seseorang pada kalian, orang ini.. maksudku gadis ini sangat special, kalian mau bertemu dengannya?"

"Apa kau membawa pacarmu kesini?" Tenten membekap mulutnya, berusaha menahan tawa yang hampir meledak. Itachi tertawa singkat lalu berkata. "Belum, belum pacarku tepatnya." Tenten hanya bisa tertagun sementara anak-anak hanya bergumam tidak mengerti.

"Jadi kalian mau bertemu dengan gadis ini, atau tidak?" Tenten tidak tahu jawaban anak-anak, karena tidak ada yang berbicara, lalu suara Itachi kembali terdengar. "Baiklah, kalau kalian mau bertemu dengannya." Tak lama setelah itu, kepala Itachi menyembul dari balik pintu. Laki-laki itu mengayunkan tangannya, mengisyaratkan Tenten untuk masuk. Tenten tersenyum kaku lalu melangkah mendekat. Gadis itu masuk melewati pintu, hal yang paling Tenten takutkan adalah reaksi anak-anak ketika melihat dirinya, ia tidak tahu apakah anak-anak ini nantinya hanya diam dan memandangi Tenten dengan tatapan bertanya, 'Siapa dia? Kenapa dia berada disini?' atau yang lebih parah malah tidak menghiraukan Tenten.

Tapi semua dugaan Tenten salah, anak-anak itu hanya terdiam, memandangi Tenten dengan tatapan tidak percaya. Tenten hanya bisa tersenyum kaku dan melambai kecil.

"Hai, apa kabar?" Seorang anak laki-laki yang berdiri paling dekat dengan Tenten mengerjap beberapa kali, menulan ludah lalu akhirnya.

"Kau… apakah kau Tenten?" Tenten terdiam sejenak lalu mengangguk. "Ya, ini aku." Tenten berjongkok dihadapan anak laki-laki berambut hitam itu dan mengulurkan tangannya. "Aku Tenten, namamu siapa?" Tanya Tenten sambil tersenyum manis. Anak itu masih tercengang sambil menyambut uluran tangan Tenten. "Will… namaku Will." Tenten tersenyum kecil.

"Hai Will." Seorang anak perempuan berjalan mendekati Tenten. "Kau benar-benar, Tenten?" Tenten menoleh ke gadis kecil itu dan mengangguk.

"Ya, aku Tenten." Setelah berkata seperti itu, semua anak-anak diruangan itu bersorak kecil dan memeluk tubuh Tenten, mengerubunginya hingga membuat Tenten jatuh terduduk. Banyak suara bersahutan ditelinga Tenten.

"Ya Tuhan! Tak kusangka ini Tenten sungguhan!"

"Biasanya kita hanya bisa melihatnya di TV ya!"

"Ternyata Tenten lebih cantik daripada di TV ya!"

Tenten hanya bisa tertawa kecil sambil berusaha bernafas ditengah kerumunan anak-anak itu. Itachi tersenyum geli lalu menepuk kedua tangannya.

"Ayolah kawan-kawan, Tenten tidak bisa bernafas jika kalian mengerubunginya seperti gula dan semut." Anak-anak itu tertawa renyah lalu melangkah mundur dan duduk berbaris dihadapan Tenten.

Mereka mulai bertanya-tanya pada Tenten. "Jadi, kau Tenten sungguhan?" Tanya seorang anak gadis berambut gelap. "Ya, tentu saja."

"Ya Tuhan aku ingin sekali diajari olehmu Tenten!" Pekik seorang anak gadis bertubuh mungil, Tenten tersenyum lembut kearahnya lalu berkata.

"Tentu saja, aku janji akan mengajari kalian ketika musim dingin tiba." Kata Tenten riang, anak-anak jadi bertambah semangat. "Benarkah?!"

"Ya tentu saja." Mereka kembali bersorak kecil, lalu seorang anak gadis kembali berbicara, "Apakah kau dan Itachi benar-benar akan pacaran?" Tenten terdiam sejenak, ia melirik kearah Itachi yang terlihat tengah berdiri diambang pintu sambil melipat kedua tangannya didepan dada. Itachi tersenyum geli, sementara Tenten hanya bisa menggigit bibir bawahnya dan menjawab, "Entahlah…" Anak gadis itu hanya terdiam, lalu anak-anak yang lain mulai berceloteh. Sampai akhirnya salah satu dari anak itu mengajak Tenten bermain dengan mereka, mereka meminta bantuan Tenten untuk menyelesaikan lukisan mereka, melukis bersama. Tenten menarik Itachi untuk bergabung, mereka berbagi kertas berdua karena persediaan kertas gambarnya habis. Tenten sama sekali tidak keberatan, karena mereka bisa duduk sangat dekat jika harus berbagi kertas. Tenten berniat melukis arena ice rink, sementara Itachi melukis seekor panda diatas ice rink yang sudah dilukis oleh Tenten. Niatnya Tenten ingin melukis seorang skater diatas ice rink itu, tapi tidak jadi karena seekor panda gemuk sudah mengambil alih ice rink itu. Acara melukis itu menjadi semakin seru ketika akhirnya berubah menjadi perang cat.

Anak-anak mulai heboh dan mencolek cat dengan telunjuk dan menorehkannya dimuka temannya. Tenten dan Itachi hanya terdiam memperhatikan kehebohan itu, sampai akhirnya anak laki-laki yang Tenten tahu bernama Will berlari menghampirinya dan menorehkan cat berwarna merah dipipi Tenten. Tenten memekik kecil sementara Will dan Itachi tertawa geli. Jantung Tenten bergedup kencang ketika melihat Itachi tertawa begitu lepas.

Tenten sudah tahu tentang kisah kematian tunangan Itachi, Tenten juga tahu bagaimana beratnya hal itu bagi Itachi, dan saat ini, Tenten benar-benar senang karena bisa melihat Itachi tertawa begitu lepas. Tenten mengerucutkan bibirnya, lalu meraih sekaleng kecil cat berwarna biru dan orange, mencoleknya lalu menorehkan cat berwarna biru di pipi Itachi.

"Hei!" Itachi mengernyit, sementara Tenten dan Will kini mentertawai Itachi. "Kena kau, senpai!" Kata Tenten disela-sela tawanya, Tenten lalu menorehkan cat berwarna orange di kening Will dan membuat anak itu mengernyit juga, dan akhirnya mereka bertiga tertawa bersama. Will dan Tenten berkerja sama untuk menorehkan lebih banyak cat ke wajah Itachi.

"Baiklah! kali ini benar-benar perang!" Seru Itachi sambil meraih kaleng kecil cat dan mulai mengejar Will dan Tenten yang terlihat sudah kabur. Itachi berhasil menangkap will dan menorehkan cat di kedua pipinya, lalu kembali mengejar Tenten ke penjuru ruangan. Itachi segera merengkuh Tenten dari belakang, sementara Tenten meronta-ronta menggeleng-gelengkan kepalanya, membuat Itachi kesulitan untuk menorehkan cat diwajahnya.

"Kena kau." Tenten hanya tertawa dan meronta sebelum akhirnya mereka berdua jatuh diatas lantai kayu. Tenten jatuh didalam pelukan Itachi, dan hal itu membuat mereka terdiam sejenak. Mereka saling berpandangan, Tenten tidak mengalihkan pandangannya dari sepasang bola mata gelap milik Itachi, lebih tepatnya tidak mau. Gadis itu menelaah mata itu, tapi entah bagaimana muncul bayangan bola mata onyx yang menatap wajahnya, bola mata yang sama gelapnya dengan milik Itachi, tapi berbeda. Bola matanya yang selalu menatap tajam kearah Tenten. Tenten berdeham beberapa kali lalu memutuskan untuk duduk, disusul oleh Itachi. Mereka berdua tertawa, dan baru menyadari bahwa anak-anak itu sudah keluar dari ruangan, sengaja meninggalkan mereka berdua.

"Sepertinya mereka sengaja meninggalkan kita." Gumam Itachi, Tenten tertawa renyah seraya menyikut rusuk Itachi. Kedua manusia itu bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu, didepan pintu Daisy sudah berdiri menunggu mereka dengan seulas senyum geli diwajahnya. Itachi mendesah lembut.

"Maaf, kami malah membuat anak-anak heboh dan berantakan." Daisy tertawa lembut. "Tidak masalah, aku malah senang anak-anak bisa bermain seheboh itu, sudah lama sekali panti ini sepi." Jawab Daisy sambil tersenyum getir. "Dimana mereka sekarang?" Tanya Tenten, Daisy menyodorkan dua handuk basah kearah Itachi dan Tenten.

"Mereka sedang mandi, kau harus melihat wajah mereka. Mereka jelas terlihat sangat senang karena kedatangan kalian." Ujar Daisy sambil tersenyum cerah, Tenten mengusapkan handuk basah itu di seputar wajahnya.

"Yah, aku senang kalau mereka senang. Dan oh iya, aku dan Itachi yang akan membereskan ruangan itu, maaf sudah membuat berantakan." Ujar Tenten sambil tersenyum kecil, Daisy tertawa renyah.

"Tidak perlu repot-repot dan meminta maaf, aku yang akan membereskannya." Itachi menyentuh pundak Daisy dan berkata.

"Sudahlah Daisy, kau sudah cukup sibuk mengurusi anak-anak, biar aku dan Tenten yang membersihkan ini." Kata Itachi lembut, Daisy tersenyum getir lalu mengangguk. "Baiklah kalau begitu." Tenten mengangguk lalu berkata.

"Oh iya, aku sampai lupa. Dimana Amber? Maksudku, diantara mereka tadi?" Tanya Tenten kepada Daisy. Wajah Daisy kembali murung, wanita itu menoleh ke kanan, kearah koridor sepi, tepatnya ke pintu yang berada diujung koridor. "Amber ada disana."

"Jadi dia tidak ada diantara anak-anak tadi?" Tanya Tenten. Daisy menggeleng. Itachi menyentuh tangan Tenten.

"Keadaan Daisy yang semakin melemah tidak memungkinkan Amber untuk bermain bersama teman-temannya." Tenten menggigit bibir bawahnya.

"Apakah separah itu? Apa Amber tidak menjalani terapi radiaksi atau kemoterapi?" Tanya Tenten kepada Daisy, Daisy mengangguk lemah.

"Dia menjalani kemoterapi, tapi tidak bisa teratur.. maksudku, kemoterapi dan obat-obat itu membutuhkan banyak uang, sementara keuangan panti ini sangat menyedihkan." Ujar Daisy.

"Disini ada sekitar lima belas anak, Daisy tidak bisa hanya memfokuskan keuangan untuk Amber, Tenten." Timpal Itachi, Tenten menoleh kearah pintu tempat Amber berbaring dibaliknya. "Boleh aku menemuinya, Daisy?"

"Tentu saja, kau bahkan harus bertemu dengannya." Itachi tersenyum kecil. "Biar aku yang menemani Tenten, kau bisa menemani anak-anak dibawah, Daisy." Daisy mengangguk lalu beranjak pergi.

Sementara itu, Tenten dan Itachi melangkah menuju ruangan diujung koridor. Suasan begitu sunyi. Ketika mereka berdiri didepan pintu, Tenten bisa mendengar suara alat Bantu pernafasan. Itachi maju selangkah, mengetuk pintu beberapa kali dan membukanya pelan. Tenten mengikuti Itachi dari belakang. Tenten hanya bisa menggigit bibir bawahnya ketika melihat seorang anak perempuan yang kira-kira berumur 13 tahun tengah terbaring lemah diatas tempat tidur. Alat Bantu pernafasan usang berdiri disebelah tempat tidurnya. Tenten semakin miris ketika melihat rambut merah gelap anak itu yang mulai renggang, kulitnya mulai membiru dan terlihat sangat kurus.

"Hei, Amber." Gadis itu menoleh kearah Itachi dan Tenten ketika mendengar suara Itachi. Gadis itu memaksakan seulas senyum kearah Itachi, lalu melepas alat Bantu pernafasannya dan berkata dengan suara parau.

"Hei, Itachi." Tenten bisa merasakan Itachi tengah tersenyum, lalu laki-laki itu berjalan menghampiri Amber dan duduk di tepi tempat tidurnya. Sepertinya Amber tidak menyadari keberadaan Tenten.

"Kukira… kau tidak.. akan datang." Kata gadis itu, berusaha untuk berbicara dengan Itachi. Itachi tersenyum lembut lalu menangkup tangan mungil Amber yang mulai membiru karena organ tubuhnya yang tidak bisa mencerna obat.

"Aku sudah janji akan datang ketika aku sempat, Amber. Kau tidak perlu takut." Dilihat dari cara Amber dan Itachi berinteraksi, Tenten yakin mereka sangat dekat, seperti adik kakak.

"Dan sebagai permintaan maafku, aku mengajak orang special kemari, teman-teman yang lain sudah bertemu dengannya. Dan sekarang orang itu akan bertemu denganmu, secara khusus untuk mu." Ujar Itachi dengan suara lembut bak beledu. Terlihat sebesit semangat diwajah pucat Amber, gadis itu tersenyum samar, "Siapa, Itachi?" Itachi menoleh kearahku, bisa kulihat Amber mengikuti pandangan Itachi.

"Aku yakin kau akan sangat senang bertemu dengan Tenten." Tenten hanya bisa tersenyum simpul ketika mata hijau Amber menatapnya. Jelas sekali gadis kecil itu terkejut, bola matanya melebar. Tenten segera berjalan menghampiri Amber, Itachi segera bangkit dan menaruh kursi besi untuk Tenten.

"Hei, kau pasti Amber?" Ucap Tenten berusaha seakrab mungkin. Amber hanya bisa memandangi Tenten sampai akhirnya bulir air mata meluncur dari matanya. Tenten yang melihat hal ini hanya bisa tersenyum getir dan menggenggam tangan mungil Amber.

"Kau… kau sungguh-sungguh Tenten…" Tenten tersenyum kecil. "Kau pasti tahu jawabannya, Amber." Gumam Tenten lembut sambil membelai pipi Amber. Gadis itu terisak dan menggenggam tangan Tenten. Sementara itu Itachi menyentuh pundak Tenten. "Aku akan menunggu diluar." Tenten mengangguk, sementara Itachi akhirnya melangkah keluar.

"Aku… aku.. aku selalu menunggumu muncul di olimpiade… dan sekarang kau berada disini…" Tenten tersenyum sambil memeluk Amber.

"Ya, aku ada disini Amber." Amber terisak didalam pelukan Tenten. Tenten merasa sangat sedih dan terharu. Ia merasa terharu karena gadis kecil seperti Amber begitu mengidolakannya, ia juga tersentuh karena keadaan Amber seperti ini. Tenten melepaskan pelukannya dan kembali duduk.

"Kau.. kau lebih cantik dilihat langsung." Tenten tersenyum malu. "Terimakasih, kau juga sangat cantik Amber." Amber menundukan kepalanya lalu bergumam sedih. "Tidak, aku sangat jelek.. tubuhku biru semua, seperti smurf." Tenten menyentuh tangan Amber lalu berkata dengan lembut.

"Menurutku kau sangat cantik ketika tersenyum seperti tadi, Amber." Amber menoleh kearah Tenten lalu tersenyum lemah. "Terimakasih."

"Oh omong-omong, Daisy memberitahuku kalau kau suka berlatih ice skating?" Amber tersenyum sedih. "Ya, dulu sebelum aku seperti ini." Gumam Amber, Tenten hanya bisa menyentuh tangan Amber dan memberikan senyuman lebar. "Dengar, Amber. Aku yakin kau sangat berbakat, dan aku ingin melihatmu meluncur diatas es, kita bisa meluncur bersama jika kau bersedia meluncur bersamaku."

"Kau bercanda? Tentu saja mimpi terbesarku adalah bisa meluncur bersamamu!" Seru Amber semangat, Tenten terkekeh lembut.

"Maka dari itu, kau harus berjanji kau akan sembuh." Senyum Amber memudar, gadis itu kembali menundukan kepalanya, lalu mulai menangis. Tenten segera menyentuh pundak Amber.

"Hei? Ada apa? Kenapa kau menangis?" Amber berusaha menghapus air matanya dan menggeleng lemah.

"Aku.. aku ingin sekali sembuh dan bisa meluncur lagi.. tapi aku tidak yakin.. aku tidak yakin bisa sembuh seperti dulu.. aku tidak mau membuat-"

"Dengarkan aku, Amber. Aku berjanji kau akan sembuh." Amber menoleh kearah Tenten lalu tersenyum lemah. "Hal yang bisa membuatku merasa lebih baik adalah dengan melihatmu meluncur diatas es, itu sudah cukup membuatku bahagia." Mata Amber kembali berkaca-kaca, Tenten tersenyum getir lalu kembali memeluk Amber. Memeluknya erat.

xXx

Tenten melambai kearah Janie ketika gadis mungil itu menggandeng tangan ibunya dan melambai kearah Tenten. Setelah gadis mungil itu menghilang dari pandangannya, Tenten meluncur kearah CD portable yang selalu ia bawa, memilih lagu dan akhirnya menekan tombol play. Gadis itu meluncur ke tengah arena ice rink ketika nada pertama terdengar. Lullaby by George Gershwin. Lagu ini adalah lagu yang Tenten temukan di apartemen Sasuke saat itu, Tenten sangat menyukai lagu ini ketika baru mendengarnya pertama kali, dan entah bagaimana saat mendengar lagu ini gadis itu kembali teringat pada pagi itu, saat Sasuke memergokinya tengah 'menari' di ruang tengah apartemennya.

Tenten mengayunkan tangannya, melakukan lompatan dan putaran sederhana. Lagu ini benar-benar sempurna, seolah membiarkan tubuh Tenten bergerak mengikuti alunannya. Koreografi baru mulai terpeta di kepalanya, gadis itu menari diatas es dengan sangat indah, penuh kesenian dan keindahan. Dan setiap gadis itu mengayunkan tangannya, setiap gadis itu berputar, setiap gadis itu melompat dan mendarat diatas permukaan es. Wajah Sasuke muncul dibenaknya. Berbagai ekspresi laki-laki itu muncul diingatannya. Bagaimana laki-laki itu menatapnya dengan tajam dan garang saat mereka baru bertemu, bagaimana laki-laki itu menatapnya ketika menjeputnya kepesta, bagaimana laki-laki itu tersenyum untuk pertama kalinya pada Tenten ketika mereka berada di Clinton. Semua terekam jelas diingatan Tenten hingga akhirnya nada terakhir terdengar dan Tenten pun berhenti bergerak.

Gadis itu berhenti berputar dengan mulus. Tenten segera meluncur kearah tas nya dan memeriksa ponselnya. Ada orang yang menelponnya. Gadis itu memutuskan untuk menelpon kembali nomor itu.

"Tenten!" Tenten tersentak ketika mendengar jawaban sipenelpon. "Ya, dengan siapa aku berbicara?" Tanya Tenten sambil menyipitkan matanya.

"Aku Gustav sayang!" Tenten mendengus kesal, harusnya ia menduga bahwa hanya Gustav yang akan sesenang ini begitu Tenten menelpon.

"Ada apa Gustav?" Tanya Tenten langsung to the point. "Kami menawarkan sesuatu padamu. Kau tahukan Dearburn akan mengadakan tour Amerika dan Eropa?"

"Ya tentu saja." Jawab Tenten singkat. "Aku sangat senang jika kau mau kembali bergabung dengan kami, sayang." Tenten terdiam sejenak. Lalu akhirnya tersenyum cerah dan berkata. "Tapi aku punya satu permintaan untukmu, setelah kau mengabulkan permintaanku, aku akan bergabung dalam pementasan kalian di New York akhir Januari."

"Ah! Tentu apa itu? Aku pasti akan mengabulkannya untukmu." Tenten hanya bisa tersenyum puas dan berkata. "Aku harap kau mau memenuhi permintaanku ini, Gustav."

xXx

Mata hitam Itachi tak henti-hentinya memandangi sosok gadis berambut auburn yang tengah berbicara di telpon genggamnya. Laki-laki itu tersenyum samar dan meregangkan tubuhnya. Sedari tadi Itachi memperhatikan Tenten yang tengah menari sendirian di arena ice rink, seperti biasanya. Gadis itu terlihat mengagumkan, sama seperti sebelumnya. Meski begitu Itachi bisa merasakan sesuatu yang berbeda ketika melihat gadis itu menunjukan ekspresinya. Gadis itu seperti mencoba mengutarakan sesuatu.

"Tenten memang sangat mengagumkan ya." Itachi sontak saja menolehkan kepalanya ketika mendengar nama ratu hatinya di sebut-sebut. Sosok gadis berambut pirang pucat berjalan mendekati Itachi. "Kenapa kau masih berada disini, Ino?" Tanya Itachi sambil memperbaiki posisi duduknya.

"Aku tahu kau sering memperhatikan sahabatku, Itachi-senpai." Kata gadis itu yang sama sekali tidak menjawab pertanyaan Itachi. "Ya, begitulah." Gumam Itachi sambil kembali memperhatikan sosok Tenten dari kejauhan.

"Jadi kau akan tetap berangkat ke Canada?" Tanya Ino sambil duduk disamping Itachi. Laki-laki itu mengangguk. "Yep, ada apa memangnya?" Ino menggeleng kecil. "Hanya saja aku pasti akan sangat merindukanmu." Kali ini Itachi dibuat kaget oleh kata-kata karyawan café nya. Laki-laki itu sontak saja menoleh kearah Ino, menatap gadis bermata aquamarine itu dengan tatapan heran. "Aku…" Gadis itu menundukan kepalanya sebelum akhirnya beranjak pergi. Namun baru saja melangkah beberapa langkah, gadis itu berhenti dan menoleh kearah Itachi.

"Aku hanya ingin senpai tahu bahwa… aku menyukai senpai." Tubuh Itachi menegang, Ino melangkah mendekat lalu berhenti.

"Aku tahu perasaanmu hanya untuk Tenten… aku tahu aku tidak ada apa-apanya dibanding Tenten, tapi bolehkah aku berharap sedikit saja… hanya sedikit saja.. bahwa kau bisa menyukaiku?" Itachi hanya bisa terdiam menatap Ino, lalu melepaskan jaketnya dan melingkarkannya ditubuh langsing Ino.

"Hari sudah semakin malam, lebih baik kau segera pulang sebelum hari semakin gelap." Ujar Itachi sambil melangkah melewati Ino. Gadis berhelai pirang itu hanya bisa mengerjap beberapa kali. Pandangannya terasa kabur karena air mata.

"Aku kuat… aku sudah tahu jawabannya akan seperti itu.. aku tidak boleh menangis." Ino menggigit bibir bawahnya, berharap dengan itu ia tidak akan menangis.

"Aku tidak boleh menangis." Ucapnya sekali lagi, Ino menyentuh jaket hitam yang membungkus tubuhnya, dan saat itulah air matanya tumpah tak terbendung. Ino menangis sendiri disana, isakannya ditelan oleh kesunyian yang mengerubunginya.

Yapp bagaimana chappy 15 nya? disini sudah terlihat Tenten itu mantan figure skater terkenal hehe. sehabis chap ini bakal banyak banget SasuTen nya, dan juga ItaIno nya, tentang masa lalu Ino, tentang alasan kenapa Ino jatuh cinta sama Itachi bakal diungkap di chappy berikutnya, jadi sampai ketemu dichappy sebelumnya. keep readings n as usual reviews please :)