Rated: T

Disclaimer: all of these chara is totally belongs to Mashasi Kishimoto, but this fic officially mine.

Warning: bahasa gajelas, setting gajelas, Crack pairing, OOC tingkat dewa, dsb.

SasuTen slight ItaTen

read it with ur own risks:)

Couple words from author:

Hai minna, author balik lagi dengan chappy baru hehe, yap chap 15 adalah chap ItaTen terakhir, dan mulai dari sini bakal muncul pairing baru, kalian pasti udh tau kan pairing nya apa, semoga kalian suka ya sama pairing baru ini yaa :)) oh iya chappy ini aku dedikasikan khusus untuk Ino :) okay bales reviews dulu yaa

akira-ken: ehehe iya di chappy ini aku bakal nyeritain tentang masa lalunya Ino, gimana dia bisa kenal sama Itachi, gimana dia bisa suka sama Itachi hehe, maaf ya akira-san, chappy ini belum bisa terlalu panjang hehe, tapi aku janji di chap 17 bakal panjang ;)waduh, engga rela kenapa ._. hehe...

Panda sky princess: ehehe ini udh aku lanjut kok, sayangnyaa di chap ini belum ada SasuTen nya hehe, waduh adegan apa -_- wkwk, untuk saat ini sih belum ada (?) wkwk..

SasuTen: Ahaha, iya chap 17 dan seterusnya itu udh SasuTen semua kok hihi, satu chap apa nih? kalo fic ini aku udh informasikan bakal tamat sampai chap 20 keatas masih sangaaattt lama, semoga kamu gabosen ya huhuu T.T

Leomi no kitsune: Iyaa gapapa kok, makasih yaa udh sempet reviews :D ahaha aku juga, tapi aku kangen saat-saat mereka berantem mulu kayak dulu :'( ahehehe, okee makasiii :)

yap segini aja reviews dari author, sebelum ke chappy 16 aku mau ngucapin makasih banyak buat para readers setia fic ini atau yang udh ngikutin fic aku dari awal XD makasih banyak baik bagi yang silent maupun yang me reviews, makasih banyak banyakk, fic ini dan fic yang lain gaakan pernah lengkap tanpa kalian :)

oke tanpa banyak bacot lagi langsung aja ya, chappy 16...

Chapter 16

Pagi itu, cuaca kota Big Apple terlihat sangat mendung dan suram. Langit didominasi warna kelabu, sangat senada dengan hati Yamanaka Ino yang sedang sangat suram. Hampir semalaman gadis berhelai pirang itu tidak tidur, gadis itu hanya duduk dihadapan jendela apartemennya yang sempit seraya memeluk jaket hitam. Mata aquamarine nya yang biasanya memancarkan cahaya keindahan, kini seolah redup dan kosong. Bagaikan cangkang yang ditinggal pemiliknya.

"Aku akan selalu melindungimu."

Ino meringis mendengar suara itu menelusup kedalam otaknya. Lalu wajahnya kembali lurus, kosong tak bereskpresi, bagaikan patung. Terlihat dengan jelas bekas jejak air mata mongering melekat di kulit wajahnya yang halus. Lingkaran hitam menghiasi daerah disekitar matanya. Gadis yang sempat dinobatkan menjadi ratu prom semasa SMA kini terlihat seperti zombie di film resident evil.

"Kita pasti akan bertemu lagi."

Suara itu kembali terdengar, semakin jelas dikepalanya. Ino menggeleng kecil, menangkal semua kenangan yang mulai menyerbu otaknya.

'Bodohnya aku karena terlalu naïf.'

'Bodohnya aku karena selalu menunggunya meskipun sudah tersakiti berkali-kali.' Ino menghela nafas panjang, menatap jam dinding berwarna putih yang menggantung diatas tempat tidurnya. Sudah jam delapan pagi, dua jam lagi pujaan hatinya akan terbang ke Canada. Laki-laki berhelai hitam panjang itu berkata, bahwa hanya Ino yang diberitahu soal keberangkatannya ke Canada.

Itachi berencana untuk kembali bergabung dalam olimpiade Vancouver di Canada yang sebentar lagi akan diselenggarakan. Ino senang karena Itachi akhirnya mau bangkit. Ino tentunya sudah tahu tentang masalah Itachi.

Ah iya, kenapa Ino bisa tahu semua hal tentang Itachi? Mengingat pertemuan singkat mereka saat itu terbilang sangat sederhana?

Ino dan Itachi bertemu sekitar lima tahun yang lalu, ketika Ino pertama kali menginjakan kaki di kota Big Apple. Ino nekat hijrah ke New York demi mengejar mimpinya menjadi seorang model Internasional. Saat itu, Ino memesan taxi dari Jhon F Kennedy airport, dan hampir diculik oleh si supir taxi. Ino dibawa ke gang sempit dan hampir diperkosa, sweeternya sudah tercabik, begitu juga anting-antingnya yang hilang sebelah.

Saat itulah, Itachi datang, menghajar supir jahanam itu dan mengantar Ino ke hotel terdekat. Ino menangis sesegukan, menggenggam erat lengan sweeter Itachi seolah mencegah laki-laki itu pergi. Dan Itachi tidak pergi, laki-laki itu tetap duduk dihadapan Ino, menunggunya berhenti menangis.

Itachi berkata bahwa ia akan selalu menjaga Ino, dan berjanji bahwa mereka akan bertemu lagi di suatu tempat. Dan hal itulah yang membuat Ino menyukai Itachi. Semenjak hari itu, Ino kembali bersemangat, dirinya akhirnya ikut audisi foto model di majalah CosmoGirl, bertemu dengan sahabat lama, Tenten dan berhasil meraih promosi-promosi didunia modeling. Selama lima tahun, Ino mencari-cari keberadaan pahlawannya. Dan suatu hari, Ino mengetahui bahwa Itachi ternyata sudah bertunangan, dan beberapa minggu kemudian, tunangannya tewas akibat kecelakaan diatas es. Beberapa tahun kemudian, Ino mendengar bahwa Itachi mengadakan lowongan pekerjaan untuk café barunya. Ino pikir, ini akan jadi kesempatan bagus baginya. Tanpa pikir panjang, Ino langsung membuang karir modelingnya, dan memutuskan untuk menjadi pelayan di café Itachi.

Tapi, sepertinya semuanya tidak berjalan sesuai harapan.

Ino menghela nafas panjang, ia tahu menyesal tidak akan mengubah apapun, lagipula ia tidak menyesal karena membuang impiannya dan bekerja di café Itachi, ia bisa bertemu dengan Itachi setiap hari meski mereka jarang mengobrol.

Suara bel intercom, membuat tubuh Ino tersentak. Gadis itu menggosok matanya dengan punggung tangan dan bergegas ke pintu. Ia tidak langsung membuka pintu, Ino menggosok matanya sekali lagi, berdeham beberapa kali lalu memencet tombol intercom.

"Saya dari petugas pengiriman barang." Ino mengerjap heran, pengiriman barang? Seingatnya Ino tidak pernah memesan apapun, lagipula Ino bukanlah remaja gila shoping yang memesan segala sesuatunya lewat online shop dan menggunakan jasa pengiriman barang.

"Ba-baik." Ujar Ino sambil memencet tombol unlock. Beberapa menit kemudian, bel pintu apartemennya berbunyi, Ino segera membuka pintunya.

Sesosok pria yang kira-kira berumur tiga puluhan dengan baju serba coklat berdiri dihadapan Ino. "Apakah anda Mrs. Yamanaka Ino?" Tanya pria itu yang sedikit kesulitan ketika membaca nama Ino. Ino mengangguk singkat.

"Iya, saya sendiri." Jawab Ino yang masih mengernyitkan hidungnya. "Bisa minta tanda tangan anda disebelah ini, sebagai bukti bahwa anda sudah menerima paketnya." Pria itu menyodorkan sebuah papan dengan secarik kertas diatasnya, dan sebuah pena. Meski bingung, Ino tetap menandatangani kertas itu, lalu mengembalikannya kembali ke pria itu. Pria itu mengampit papannya dengan ketiak lalu menyodorkan sebuah kotak kearah Ino.

"Terimakasih, semoga hari anda menyenangkan, Ino." Setelah berkata seperti itu, pria itu berjalan meninggalkan Ino. Ino yang masih bingung akhirnya menutup pintu apartemennya dengan pinggul dan meletakan kotak berbungkus kertas berwarna soft ungu diatas meja kopi, lalu menghempaskan tubuhnya di sofa. Gadis itu memperhatikan kotak itu dengan seksama, mengguncangnya beberapa kali, memastikan kalau itu bukan bom atau tabung gas racun. Setelah yakin isi didalam kotak itu tidak berbahaya, Ino langsung merobek kertasnya dan membuka tutup kotak.

Untuk beberapa saat Ino tidak bisa berkata-kata ketika melihat isi dari kotak itu. Sebuah mantel berwarna ungu tua dan anting-anting berlian. Ino hampir saja menangis ketika menyentuh mantel itu. Dengan hati-hati, Ino mengangkat mantel itu, mencari kartu dari sipengirim. Meski Ino sudah tahu siapa yang mengirim mantel dan anting-anting itu, Ino hanya ingin tahu apakah sipengirim meninggalkan sepatah dua patah kata untuknya atau tidak. Bola mata aquamarine Ino melebar ketika jemarinya menyentuh sebuah kartu, Ino segera menarik kartu itu, membukanya dan membaca tulisan kecil disana.

'Sampai detik ini aku belum melupakan janjiku.'

Ino merasakan air mata kembali merembes dari matanya, dengan kasar Ino menghapus air matanya, gadis itu segera menoleh ke jam dinding. Sudah jam sembilan, satu jam lagi. Ino segera bergegas kekamar mandi.

Ia tidak tahu apa yang akan dilakukannya ketika mereka bertemu nanti, tapi yang jelas ia sudah tidak sanggup lagi menerima perlakuan ini. Dengan gesit Ino mencuci mukanya, menyikat gigi dan memakai mantel serta celana jeans sebelum akhirnya menyambar kotak berisi mantel dan anting-anting itu dan bergegas keluar.

xXx

Setelah taxi benar-benar berhenti, Ino segera menyerahkan beberapa lembar dolar ke supir Taxi, tanpa menghitungnya. Ino segera membuka pintu mobil, menyambar kotaknya dan berlari keluar. Ino hanya bisa berdiri seperti orang bodoh di terminal keberangkatan. Ia tidak tahu apakah Itachi sudah masuk ke ruang tunggu atau belum. Dan Ino merasa bodoh karena tidak memikirkannya dulu. Ino tidak bisa membayangkan bagaimana penampilannya saat ini, tak heran orang-orang memperhatikannya dengan tatapan aneh yang membuat siapapun merasa tidak nyaman. Ino hanya bisa melempar pandangannya ke penjuru terminal, mencari wajah itu, diantara wajah-wajah lainnya yang tak ia kenal sama sekali.

'Bodoh! Kenapa kau bisa berpikir bahwa Itachi masih berkeliaran di luar ruang tunggu? Sementara sebentar lagi pesawatnya akan terbang! Bagus, sepertinya kau terlalu sering membaca novel teenlit atau menonton acara percintaan bodoh, Ino!' Rutuknya dalam hati. Ino mendengus kesal, ia menyerah. Itachi pasti sekarang sudah duduk didalam pesawat, memasang seat bealt dan menyusupkan headset ditelinganya. Ino membalikan tubuhnya, hendak memanggil taxi dan bergegas pulang, sebelum seseorang meneriakinya orang gila atau zombie karena penampilannya yang acak-acakan.

Mata aquamarine Ino melebar ketika melihat sosok laki-laki berambut hitam pekat panjang berdiri tak jauh darinya. Laki-laki itu menatapnya dengan tatapan datar, sama seperti kemarin sore ketika secara tidak sopan ia meninggalkan Ino sendirian di café. Laki-laki itu melirik ke kotak yang berada digenggaman Ino, lalu kembali menatap Ino. Tidak ada yag berbicara selama beberapa detik, sampai akhirnya Itachi mendesah pelan dan berjalan melewati Ino. Ino meringis, ia sudah tidak tahan dengan sikap Itachi yang memperlakukannya seperti ini, memperlakukannya seperti di café kemarin sore, ataupun saat di pesta.

"Itachi." Suara Ino terdengar sangat parau, hampir tak terdengar malah. Meski begitu, Itachi tetap berhenti, tepat disamping Ino. Ino memutar tubuhnya menghadap Itachi. Gadis itu menyodorkan kotak ditangannya kearah Itachi.

"Aku tahu kau yang mengirim ini padaku." Ujar Ino berusaha sedatar mungkin. "Aku tidak mau kau kasihani, aku ingin mengembalikannya, meski aku yakin benda ini tidak ada gunanya untukmu. Tapi aku tidak bisa menerimanya." Tambahnya, ia sudah menentukan pilihan, kalau memang Itachi ingin melupakannya, kalau memang Itachi tidak mempunyai perasaan apapun pada Ino, maka Ino pun harus begitu. Ia tidak ingin mengalami cinta bertepuk sebelah tangan. Itachi memutar tubuhnya menghadap Ino, laki-laki itu menatap Ino lekat-lekat, lalu meraih kotak putih itu. Ino hanya bisa terdiam.

'Selesai sudah, dengan begini aku bisa benar-benar menyerah.' Batin Ino. Tapi diluar dugaannya, Itachi meletakan kotak itu dilantai dan menarik Ino kedalam pelukannya. Ino hanya bisa tercengang ketika pipinya bertabrakan dengan lembut dengan dada bidang Itachi. Itachi memeluk Ino semakin erat, seolah tidak akan membiarkan gadis itu pergi. Sementara Ino hanya bisa menangis, menghujat Itachi dengan kata-kata jahat didalam hatinya.

'Lihat betapa jahatnya kau, Itachi. Kau mempermainkan hati ini sesukamu.' Meski begitu, Ino tetap membalas pelukan Itachi. Setelah beberapa detik berpelukan, Itachi menarik dirinya, meraih kotaknya dan memberikannya kepada Ino. "Kumohon, simpan ini semua."

"Tapi-"

"Kumohon." Ino mengerang kecil lalu meraih kotak itu. Gadis itu benar-benar tidak mengerti dengan sikap Itachi.

"Baiklah, aku harus segera pergi." Katanya sambil tersenyum kecil, untuk kali pertama, sejak lima tahun yang lalu Itachi tersenyum untuknya. Benar-benar hanya untuknya.

"Tapi Itachi, aku tidak mengerti semua ini. Aku hanya ingin menyerah, kenapa kau membuat semuanya terasa sulit? Kenapa kau sekejam ini?" Ucap Ino lirih, Itachi hanya bisa memejamkan matanya dan maju selangkah, mendaratkan ciuman penuh arti di kening Ino. Mencurahkan segalanya disana. Lagi-lagi Ino hanya bisa terdiam, membiarkan semuanya berjalan sesuai dengan kehendak Itachi, meski ia yakin ia yang akan menuai pedih nantinya.

Itachi menarik dirinya dan mengusap pipi Ino, pipi yang basah karena air mata. "Akan kujelaskan semuanya saat aku kembali dari Canada." Katanya dengan suara lembut dan dilengkapi senyuman mautnya.

"Tapi Itachi aku masih-"

"Kau harus menahan semua pertanyaanmu sampai aku kembali, Ino." Katanya sambil tersenyum geli. "Baiklah, jaga dirimu baik-baik." Katanya sambil akhirnya membalikan tubuhnya dan melangkah pergi meninggalkan Ino, meninggalkan seribu pertanyaan yang akan menggandrunginya saat ia pulang nanti.

Jadi... Itachi itu... argh sudahah... seenggaknya Itachi udh berusaha buat memperbaiki semuanya kan ._. yap, jujur author kasihan sama Ino, dia diajak ke pesta sama Itachi, tapi ditinggalin gitu aja, terus ditolak tanpa perasaan pas di cafe... yaampun maaf ya bagi para Itachi fc, aku bikin Itachi jahat banget T.T huhu, tapi tenang aja, Ino itu cewek yang kuat kok, dia cewek berhati baja, wonder woman, sama kayak author (yeaa, author ketauan banget sering disakiti) wkwkwk -_- sudahlah abaikan, okee segini ajaa. sampai ketemu di chappy selanjutnyaa ;)