Rated: T

Disclaimer: All of these chara are totally belongs to Mashasi Kishimoto, but this fic is officially mine.

Warning: Bahasa gajelas, setting gajelas, alur lompat, crack pairing, OOC tingkat dewa, dsb.

SasuTen slight ItaTen

read it with ur own risks:)

Couple words from author:

Yoo minna! apakabarnyaa? senang sekali author akhirnya bisa apdet chap terbaru hehe, sesuai janji author. chappy kali ini khusus didedikasikan bagi SasuTen hehe, bagi yang sudah menunggu silahkan membaca dan semoga puas dengan SasuTennya hehe. oke author bales reviews dulu yaa...

: iyaa gapapa kok, wah begitu yaa, aduh makasih ya udah baca fic karya amatiran ini hehe :D iyaa ini udah aku apdet kok silahkan dibacaa, semoga kamu suka yaa :)

akira ken: ahaha, gaboleh marukk.. kita liat aja jadinya gimana yaa hehe, iya sesuai janjiku chap ini aku buat panjang dan ofcourse its all about SasuTen, hope u like it :) wetseh jangan ditungguuu wkwkwk, disini gaakan ada adegan yang terlalu gimanagimana gituu ini bersih rated T wkwkwk...

Tenten Sakamaki: hoo, iya ini udah aku apdett, maaf ya kalo apdetnya lama hihii..

SasuTen: makasiihh, waduh engga nyampe kok, fic ini akan selesai di chapter 25 an, masih lumayan lama semoga pada engga bosen yaa hehe, waduh kayaknya Naruto engga akan ikut bersaing dengan Uchiha bersaudara hehe, tapi Naruto keliatannya emang suka sama Tenten sih hehe..

Oke segitu aja balesannya, author berterimakasih kepada semua para reader setia fic inii, semoga kalian engga bosen-bosen ya sama ini fic.. oh iya author juga mau minta maaf soal keterlambatan apdetnyaa :( author selalu berusaha apdet secepat mungkin kok, beneran deh :( oke lanjut... langsung aja ya ke chappy 17...

Chapter 17

Hari ini benar-benar hari yang indah. Setidaknya itulah yang dipikirkan Sasuke sementara berlari menerobos hujan ke arah mobilnya di pelataran parkir pusat perbelanjaan yang ramai. Meskipun suhu udara saat ini sangat dingin, meskipun langit mendung, meskipun hujan turun sejak ia datang untuk menjemput Tenten tadi, Sasuke tetap merasa hari ini tidak mungkin bisa lebih sempurna lagi. Bagaimana tidak? Hari ini ia dan Tenten bersenang-senang di arena ice rink, ya setidaknya hanya Tenten yang asik mendekorasi ice rink sementara Sasuke hanya duduk diam memperhatikan Tenten.

Ya meski begitu Sasuke tidak keberatan, ia tidak keberatan bila disuruh memperhatikan Tenten seharian, ia tidak akan bosan.

Sasuke mengarahkan mobilnya kepintu utama pusat perbelanjaan, tempat Tenten menunggu bersama barang-barang belanjaan mereka.

"Aku sempat berpikir kita tidak akan bisa keluar dan mati kehabisan oksigen didalam sana." Gerutu Tenten sambil membantu Sasuke memasukan barang belanjaan mereka kedalam bagasi Caymen nya, ya setelah tangan Sasuke sembuh total, Sasuke menolak masuk kedalam Paceman milik Tenten karena sekarang ia sudah bisa mengemudi.

"Aku tidak mengerti kenapa kau harus belanja disaat diskon gila-gilaan bertebaran."

"Kau sendiri tergiur untuk belanja bukan?" Sasuke balas bertanya ketika mereka sudah duduk didalam mobil Sasuke yang hangat.

"Itu karena kau mengajakku kesini." sahut Tenten seraya memasang seat bealt. "Aku tidak suka belanja di akhir bulan seperti ini, aku tidak suka dan tidak mau mati terjepit diantara orang-orang gila diskon itu."

"Hei? Ada apa? Kau baik-baik saja?" Tanya Sasuke saat melihat Tenten membungkuk. Tenten menggeleng. "Aku hanya sedang mengatur nafasku, hari ini sangat melelahkan. Kau beruntung aku tidak mati disana." Gumamnya sambil tersenyum kecil.

"Aku benci tempat yang padat seperti itu. Aku sendiri heran kenapa aku setuju saja menemanimu belanja?"

Sasuke terkekeh pelan. "Karena aku sudah menemanimu mendekorasi ice rink, dan mentraktir dango." Tenten mengernyitkan hidungnya, lalu kembali tersenyum. "Ya kurasa aku memang gampang dibujuk dengan dango, apakah kau akan mentraktirku makan malam juga?"

Sasuke mengangkat kedua bahunya. "Tidak masalah, karena kau sudah berdesak-desakan didalam sana, dan mengangkut semua barang-barang belanjaan itu, aku tidak mau kau mati karena kurang makan." Meski Sasuke menggodanya, Tenten tetap tersenyum lebar.

"Benarkah? Kalau begitu bagaimana kalau kita makan malam di kedai ramen yang direkomendasikan oleh Naruto?"

"Baiklah, kurasa itu ide yang bagus." Gumam Sasuke menanggapi, Tenten mengangguk kecil lalu tersenyum ketika melihat gumpalan salju turun perlahan-lahan. "Sebentar lagi natal."

"Hn."

"Aku tak sabar menunggu natal tiba."

"Memangnya ada apa? Dan oh ya, kenapa kau mendekorasi ice rink? Karena setahuku, ice rink itu tidak pernah didekorasi menjelang natal." Tenten menoleh kearah Sasuke, karena terlalu sibuk berlatih dan mendekorasi untuk 'acaranya sendiri' Tenten sampai lupa memberitahu Sasuke.

"Begini, saat kita baru kembali dari Jepang, Itachi-senpai mengajakku ke sebuah panti asuhan." Kata Tenten santai. "Panti itu sangat jauh dari kota besar, dan apakah kau tahu? Disana ada seorang anak yang mengidap kanker otak." Sasuke merasakan hawa dingin menusuk punggungnya ketika mendengar kata kanker disebut-sebut.

"Namanya Amber, kata ibu panti disana, Daisy. Amber dan teman-temannya sangat menyukai dunia ice skating, Amber dulu sering sekali berlatih setiap musim dingin, ia ingin masuk ke Clinton, sama seperti aku. Dan kau tahu apalagi yang membuatku kaget? Dia mengidolakanku."

"Aku tahu kenapa kau begitu kaget." Gumam Sasuke, Tenten mendengus lalu kembali bercerita. "Aku menyemangatinya untuk sembuh, dan aku meminta permintaan kecil pada Gustav."

"Permintaan?" Alis Sasuke terangkat kaget, "Permintaan apa?"

"Aku meminta agar Gustav mau datang ke pergelaran bakti social di ice rink itu, aku akan mengadakan acara amal, untuk biaya pengobatan Amber, relokasi panti dan kalau uangnya masih tersisa, aku mau menyumbangkannya ke rumah sakit kanker anak." Ujar Tenten sambil memandang lurus kedepan, entah bagaimana pikiran itu datang begitu saja ketika Gustav menelponnya sore itu.

"Aku hanya meminta Gustav untuk mengundang orang-orang penting untuk datang. Bisa dibilang, aku memanfaatkan popularitasku untuk amal. Bukannnya aku sombong, tapi kurasa hanya ini yang bisa kulakukan untuk menolong Amber." Timpal Tenten sambil tersenyum getir. Sasuke menoleh sekilas, lalu kembali menatap jalanan.

"Kenapa kau begitu peduli pada Amber dan panti itu?" Tenten sedikit terperanjat, lalu berkata. "Karena bisa dibilang Amber senasib denganku, aku dan Amber sama-sama memiliki ambisi yang besar."

"Apa maksudmu yang sama? Kau tentunya berbeda dengan Amber. Amber mengidap kanker dan kau-"

"Iya, maksudku… maksudku sama perjuangannya." Kata Tenten, berusaha setenang mungkin. Sasuke mengangguk paham.

"Lalu kapan acara itu dimulai?" Tenten menggigit bibir bawahnya. "Saat natal." Sasuke mengangguk kecil.

"Oh ya, Sasuke."

"Hn?"

"Boleh aku minta satu permintaan? Eh maksudku pertolongan?" Sasuke mengernyitkan hidungnya lalu melirik sekilas kearah Tenten.

"Apa?" Tenten menimbang-nimbang sesaat sebelum akhirnya berkata. "Apakah kau mau berpartisipasi dalam acara itu, kau tahu kan… kita mungkin bisa mendapatkan uang lebih banyak jika ada kau-"

"Tidak."

"Kenapa? Kau ada acara natal nanti?"

"Tidak juga." Jawab Sasuke santai. "Lalu kenapa?"

"Pertama, karena aku tidak kenal siapa itu Amber, kedua karena aku sedang tidak mood melakukan bakti social." Tenten mengerjap tak percaya lalu memberengut kesal. Menyadari Tenten ngambek padanya, membuat Sasuke melirik. "Hei?"

"…"

"Kau marah?"

"Kau pikir?" Sasuke menghela nafas panjang lalu berkata, "Baik-baik, aku akan ikut dengan acara itu." Tenten kembali bersemangat kali ini, gadis itu menoleh kearah Sasuke. "Terimakasih Sasuke!" Sasuke tersenyum kecil.

"Jangan senang dulu, aku ingin kita mengadakan perjanjian." Ujar Sasuke, semangat Tenten kembali surut. "Perjanjian apa?"

"Aku akan berpartisipasi dalam acaramu, tapi kau harus datang ke recital ku." Ujar Sasuke tanpa menoleh kearah Tenten.

"Recital? Kapan?"

"Awal Febuari. Bagaimana?" Tenten tersenyum kecil. "Tanpa perjanjian pun aku pasti datang, bodoh!" Sahut Tenten sambil tertawa kecil. Sasuke hanya bisa terkekeh lembut. "Apapun yang terjadi kau harus datang ke recitalku, that's the deal."

"Iya." Jawab Tenten sambil menoleh ke jendela mobil.

"Baiklah, kita masih punya waktu beberapa jam sebelum waktu makan malam, apa yang ingin kau lakukan sekarang? Pulang dulu?"

"Aku ingin membeli pohon natal!" Seru Tenten penuh semangat.

"Pohon natal?"

"Ya, untuk apartemenmu."

"Apartemenku? Kenapa?"

"Karena kau tidak punya pohon natal."

"Aku memang tidak pernah memasang pohon natal di apartemenku."

"Kenapa tidak?"

"Kenapa harus?"

"Semua orang memasang pohon natal di musim dingin."

"Aku tidak."

"Oh ayolah. Apartemenmu akan terlihat lebih ceria kalau ada pohon natal."

"Aku tidak butuh apartemen yang ceria, lagipula memasang dan menghias pohon natal sangat merepotkan."

"Menghias pohon natal itu sangat menyenangkan, Sasuke! Kalau kau tidak mau menghiasnya, biar aku saja yang melakukannya."

"Bagaimana kalau kita mampir ke toko tanaman, beli beberapa pohon kaktus dan menghiasnya? Kita bisa menggantungi beberapa sticker dan pita warna-warni, aku bahkan punya gantungan kuda unicorn. Kau bisa menghias kaktus-kaktus itu dan membuat apartemenku lebih ceria."

"…."

"Bagaimana? Ideku tidak buruk bukan?"

"…."

Sasuke menyenggol lengan Tenten. "Panda? Kau tidak mau berbicara denganku? Ayolah, kau ngambek dua kali hari ini."

Tenten tetap memberengut dan menatap keluar jendela.

Sasuke menghela nafas panjang. "Baiklah kita akan membeli pohon natal."

Kali ini Tenten menoleh. Menatapnya dengan wajah berseri-seri. "Kau tidak akan menyesal, Sasuke!" Sasuke tertawa renyah dan menggelengkan kepalanya. "Kau ini sungguh merepotkan, panda."

Namun ia tahu benar bahwa ia tidak akan menyesali keputusannya, tidak akan pernah. "Karena aku sudah setuju membeli pohon natal, apa kau akan memberikanku hadiah?" Tanya Sasuke lagi.

"Apakah kau mengharapkan hadiah natal dariku?"

"Tentu saja, panda." Sahut Sasuke sambil menatap Tenten dengan serius. "Sebaiknya kau menyiapkan hadiah natal untukku. Kalau tidak, hadiah yang sudah kusiapkan untukmu akan kuberikan kepada… kepada Naruto."

Tenten mendengus dan tertawa. "Kau menyiapkan hadiah untukku? Apakah hadiahku ada dibelakang sana? Diantara barang-barang yang baru kau beli tadi?"

"Tidak. Aku sudah menyiapkan hadiahmu minggu lalu." Alis Tenten terangkat kaget, namun seulas senyum lebar tersungging dibibirnya. "Benarkah, apa itu?"

Sasuke menggeleng. "Tidak. Aku tidak akan memberitahukannya padamu. Itu kejutan. Tapi seperti yang kukatakan tadi, kalau aku tidak mendapat hadiah, kau juga tidak akan mendapatkannya."

"Baiklah akan kupertimbangkan." Kata Tenten sambil mengangkat bahu. "Akan kau pertimbangkan?" Sasuke menatapnya dengan tatapan tidak percaya. "Apa maksudmu kau per-"

"Oh berhentilah mengeluh." Sela Tenten. "Sekarang kita beli pohon natal dulu, tak ada pohon natal, tak ada hadiah."

Nah, sebenarnya sejak kapan posisi mereka berubah seperti ini? Dulu gadis itulah yang harus menuruti apapun yang dikatakan Sasuke. Sekarang Sasuke justru mendapati dirinya dengan senang hati melakukan apapun untuk gadis itu. Pengaruh gadis itu atas dirinya cukup meresahkan, namun yang lebih meresahkan lagi adalah bahwa Sasuke puas dengan keadaan mereka yang seperti ini.

xXx

"Jadi mereka akan mengirim pohon kita ke apartemenmu besok pagi?" Tanya Tenten ketika mereka masuk kembali kedalam mobil setelah memilih pohon natal yang mereka sukai. "Ya." Sahut Sasuke sambil menghidupkan mesin mobil.

"Jadi kau bisa mulai menghiasnya besok pagi."

"Dan kau akan membantuku menghiasnya, Uchiha Sasuke."

"Oh astaga." Erang Sasuke, walaupun Tenten tahu laki-laki itu sama sekali tidak keberatan membantu. "Yah kita lihat saja besok."

Tenten tertawa kecil dan menoleh keluar jendela yang buram karena hujan. Hujan mulai mereda menjadi gerimis yang tidak pernah gagal membuat Tenten merasa nyaman. Tenten suka hujan. Ia selalu senang memandangi bulir-bulir air hujan yang menempel di kaca pantinya, sambil sesekali menyesap coklat hangat dan memakan beberapa tusuk dango, dan oh jangan lupa dengan selimut rajut hangat yang membungkus tubuhnya. Memandangi hujan sama saja dengan menenangkan jiwanya.

Sama seperti menghabiskan waktu dengan Sasuke. Tenten menggigir bibir dan melirik kesamping, kearah laki-laki yang tengah mengemudi. Menghabiskan waktu bersama Sasuke juga selalu membuat Tenten merasa tenang. Entahlah, meskipun mereka selalu bertengkar ketika bertemu, tetapi Tenten tetap merasa tenang. Perasaan tenang itu selalu hilang, selalu tertutup oleh opini buruk Sasuke yang sudah ia tanam didalam otaknya ketika kali pertama ia menjejakan kaki di apartemen Sasuke. Tanpa disadarinya rasa tenang itu selalu hadir setiap kali mereka bertengkar. Berada didekat Sasuke membuatnya bisa bernafas lebih lega, bisa bebas menjadi dirinya sendiri. Tenten tidak perlu terlihat hebat didepan Sasuke. "Mau kemana kita sekarang?" Tanya Sasuke tiba-tiba sambil melirik jam tangannya yang melingkar ditangan kanannya.

Setelah gipsnya dilepas, Sasuke kembali mengenakan jam tangan di sebelah kanan, ia merasa jijik melihat laki-laki yang memakai jam tangan disebelah kiri, meski ia sempat begitu. "Hm?" Tenten mengerjap. Sasuke menoleh menatapnya.

"Kau ingin langsung pulang atau bagaimana? Waktu makan malam masih sekitar dua jam lagi." Kata Sasuke, Tenten berpikir sejenak sebelum akhirnya menjentikan jari telunjuk dan jempolnya.

"Bagaimana kalau kita ke toko kue, sudah lama sekali aku tidak ke toko kue langgananku."

"Baiklah, kita ke toko kue. Dimana?" Tenten mengerutkan kedua alisnya lalu menjawab. "Madisone Avenue." Sasuke mengangguk singkat lalu kembali melempar pandangannya ke jalanan yang mulai dipadati para karyawan perusahaan yang hendak pulang.

Setengah jam kemudian, mereka berhenti didepan toko kue kecil bergaya prancis. Pada papan diatas pintu masuk toko tertulis A piece of your day dalam ukiran yang menunjukan kesan antic.

"Ini tempatnya?" Tanya Sasuke ketika mereka sudah keluar dari mobil. Laki-laki itu melangkah kejendela toko dan mengintip kedalam. Tenten mengangguk. "Dulu Ino sering sekali mengajakku makan disini, ayo masuk."

Sasuke masih terlihat ragu. "Panda, aku tidak tahu apakah aku akan masuk kedalam." Tenten yang sudah berdiri didepan pintu, menoleh kepada Sasuke dan menatapnya dengan alis terangkat. "Kenapa?"

"Toko ini terlalu manis untuk dimasuki laki-laki." Gumam Sasuke dengan kening berkerut. "Apakah kau tidak berpikir begitu? Coba lihat? Toko ini hampir didominasi oleh warna pink dan ungu muda."

Tenten tertawa. "Kami-sama, kau ini konyol sekali, Sasuke. Bersyukurlah mereka tidak meng cat seluruh toko dengan warna pink, lagipula menurutku toko ini tidak terlalu manis untuk laki-laki. Sekarang berhentilah mengeluh dan masuk." Sasuke masih tidak bergeming dari tempatnya berdiri.

Tenten mendengus kesal dan melangkah menghampirinya. "Ayolah, Sasuke, jangan merajuk disini. Disini masih gerimis dan sangat dingin." Katanya sampil menyelipkan tangannya di tangan Sasuke dan menariknya.

"Kau bisa melanjutkan rajukanmu didalam, bagaimana?" Tenten membiarkan tangannya meluncur dari lekukan siku Sasuke ke pergelangan tangan, lalu menarik-narik lengan mantelnya, mencoba membujuk laki-laki keras kepala itu. Namun tiba-tiba Sasuke memutar tangannya dan menggenggam tangan mungil Tenten.

Tenten berani bersumpah jantungnya berhenti berdetak selama beberapa saat ketika tangan Sasuke menggenggamnya. Apakah tadi dia sempat mengeluh dingin? Aneh, karena sekarang ia merasa hangat, sangat hangat. Ia mendongak, menatap wajah Sasuke yang tidak menunjukan ekspresi apapun.

"Baiklah." gumam Sasuke pelan dan mendorong pintu toko, membuat lonceng kecil diatas pintu berdentang. "Ayo kita selesaikan ini secepat mungkin."

Tenten menunduk, berusaha menyembunyikan seringaiannya. Meski begitu, ia tetap membiarkan Sasuke menggenggam tangannya.

xXx

"Sudah kubilang aku baik-baik saja." Kata Tenten untuk yang kesekian kalinya sambil memberengut menatap Sasuke yang sedang mengemudi disampingnya. "Kita masih bisa ke kedai ramen itu."

Tidak. Sebenarnya Tenten tidak merasa baik-baik saja. Ia masih merasa lemah, dan merasa kebas dibagian persendiannya. Tapi masalahnya, ia tidak mau memancing Sasuke untuk mengintrogasinya, tidak saat ini, kalau bisa tidak sampai kapanpun.

"Kau bilang baik-baik saja? Demi Tuhan, panda! Gadis penjaga toko tadi hampir saja terserang serangan jantung ketika kau tiba-tiba collapse seperti itu!" Ujar Sasuke dengan suara meninggi akibat panic. Sasuke menghela nafas panjang lalu melirik Tenten sekilas. "Kau masih pucat."

Tenten hanya bisa mendengus kesal dan menatap keluar jendela. Ia memang sempat collapse tadi, ketika ia sedang memilih tartlet sambil mengobrol dengan gadis penjaga toko kue. Saat itu tiba-tiba saja ia merasakan sakit yang tajam dibagian punggungnya dan kehilangan keseimbangan. Sedetik kemudian tubuhnya terasa berguncang tak terkendali. Dan hal berikut yang disadarinya adalah ia sudah duduk bersandar didada Sasuke diatas sofa kecill berwarna ungu pucat.

Ini pertama kalinya ia collapse secara tiba-tiba, dan sejujurnya Tenten merasa khawatir. Keadaannya kini terasa semakin memburuk, ia takut hal ini berlangsung dengan cepat dan ia tidak bisa melakukan apapun untuk mencegahnya. Namun Sasuke tidak perlu tahu tentang ini semua, tidak akan pernah boleh tahu. Begitupun Itachi. Cukup Tenten , Ino dan seluruh keluarganya di Konoha. "Tapi aku-"

"Demi Tuhan, Panda! Sekali lagi kau berkata kau baik-baik saja, kau akan kucekik." Geram Sasuke. Tenten hanya bisa mendengus kasar dan memberengut menatap keluar jendela.

"Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang? Pulang?"

"Itu sudah pasti, kau tidak perlu menanyakannya. Kau sangat butuh istirahat." Jawab Sasuke tegas. "Tapi sebelum itu kita harus ke apartemenmu, dan mengambil apapun yang kau perlukan." Kali ini Tenten menoleh menatap Sasuke. "Apa? Kenapa?" Tanyanya setengah memekik.

"Memangnya kau tidak butuh baju ganti?" Sasuke balas bertanya dengan heran. "Panda, aku bisa meminjamkan pakaian dan piama polkadot itu padamu. Aku punya sikat gigi baru dirumah. aku bisa menyediakan apapun yang kau butuhkan, kecuali satu. Aku tidak punya pakaian dalam wanita di apartemenku."

Tenten melotot menatap Sasuke dengan mulut terbuka. "Sasuke! Bukan itu maksudku!" Seru Tenten tertahan sambil memukul pundak Sasuke.

"Aduh, panda! Sakit. Kau mungkin punya bakat terpendam sebagai seorang pegulat." Ujar Sasuke. "Asal kau tahu saja, kulitku gampang memar."

"Maksudku kenapa aku harus membawa pakaian dalamku ke apartemenmu?" Desak Tenten tanpa memperdulikan gurauan Sasuke.

"Karena kau akan menginap di apartemenku hari ini." Sahut Sasuke, seolah hal itu sudah sangat jelas. Melihat alis Tenten yang berkerut membuat Sasuke mendesah lembut dan berkata. "Panda, kau tidak mungkin berpikir aku akan meninggalkanmu meringkuk sendirian diapartemenmu kan? Aku tahu aku tidak bisa berbuat banyak, tapi setidaknya aku bisa memberi pertolongan pertama dengan menelpon ambulans, atau membawamu kerumah sakit." Ujar Sasuke. "Jika itu harus, tentunya." Tambah Sasuke. Tenten mendengus kesal.

"Tapi kau harusnya menanyakannya dulu padaku sebelum mengambil keputusan." Sasuke mendesah pelan.

"Baiklah baik." Katanya sambil mengangguk. "Panda, bagaimana kalau kau menginap di apartemenku malam ini?"

"Kenapa harus?"

"Karena kita berdua ingin tidur nyenyak malam ini. Kau tahu kau bisa tidur lebih nyenyak diapartemenku daripada apartemenmu sendiri. Dan aku baru bisa tidur nyenyak malam ini kalau aku bisa memastikan kau baik-baik saja." Tenten menghela nafas panjang.

"Baiklah" Gumam Tenten menyerah.

"Oh ayolah, panda. Ini hal yang paling- Tunggu, kau bilang apa barusan?" Tanya Sasuke sambil menoleh menatap Tenten.

"Aku bilang baiklah." kata Tenten sekali lagi.

"Baiklah?" ucap Sasuke membeo, sepertinya ia tidak percaya bahwa Tenten bisa setuju secepat itu. Tenten mengangkat kedua bahunya.

"Kurasa aku tidak ingin sendirian hari ini." Gumamnya. "Dan kau benar, aku merasa tidak terlalu baik hari ini."

Sasuke terlihat cemas, sebenarnya ia ingin segera mencecar Tenten dengan rentetan pertanyaan yang ia tahu takkan terjawab saat dekat ini. Namun, melihat kondisi Tenten yang lemas, membuat Sasuke mengurungkan niatnya dan bertanya. "Kau mau kedokter?"

Tenten terkejut atas perhatian Sasuke yang sudah berlebihan, Tenten akui Sasuke memang sedikit berubah akhir-akhir ini. Tapi ia tidak pernah mengira perubahaannya akan sejauh ini. Tenten menggeleng sambil tersenyum.

"Tidak, aku hanya ingin segera sampai rumah."

Chapter 18

"Aku memang sedang tidak enak badan, tapi aku bukan orang cacat." Tegur Tenten ketika akhirnya Sasuke kembali keruang duduk dengan semangkuk glatin ditangannya, dan meletakannya di hadapan Tenten. Setelah itu ia menghempaskan tubuhnya disamping Tenten.

"Astaga, aku tidak bilang kau cacat, panda." Gumam Sasuke. "Berhubung tanganku sudah sembuh dan aku bisa menyiapkan kebutuhanku sendiri tanpa perlu membuat dapurku berantakan. Dan kau sedang sakit, jadi aku menyuruhmu untuk duduk manis disini, apa aku salah?" Tenten masih memberengut tapi tidak berkata apa-apa. "Jadi, makanlah." Kata Sasuke sambil meraih mangkuk itu dan menangkupkannya di kedua tangan Tenten.

"Kuharap rasanya tidak terlalu parah." Timpal Sasuke ketika Tenten menyentuh sendok. Kali ini Tenten mendengus dan tersenyum.

"Mari kita lihat sampai dimana kemampuan memasakmu."

"Yang jelas tidak akan separah glatinmu." Gurau Sasuke, Tenten menoleh kearah Sasuke dan tertawa renyah. Pikirannya terbang ke masa lalu, ketika untuk kali pertama ia dan Sasuke bertemu, ketika kali pertama ia masuk kedalam apartemen Sasuke, ketika kali pertama mereka makan bersama. Entahlah setelah dipikir-pikir, Tenten sangat merindukan masa-masa itu.

Tenten tertawa kecil lalu mulai memasukan sesendok glatin kedalam mulutnya. "Mmm." Gumamnya sambil berpikir-pikr. Lalu ia mengangkat sebelah bahunya. "Tidak terlalu buruk." Sasuke menyipitkan matanya menatap Tenten. Gadis itu membalas tatapannya sambil tersenyum cerah lalu kembali menyantap glatinnya dengan riang. Sasuke yakin bahwa gadis itu menyukai glatinnya.

"Omong-omong Sasuke." Kata Tenten setelah menghabiskan glatinnya. "Kau pernah berkata bahwa aku bisa mendengar permainan pianomu secara langsung ketika tanganmu sudah sembuh."

"Maksudmu, kau ingin mendengarnya sekarang?" Tanya Sasuke. Tenten mengangguk penuh semangat. "Baiklah, aku juga ingin melihat apakah pergelangan tanganku sudah benar-benar siap beraksi." Sasuke beranjak dari sofa dan berjalan menghampiri pianonya. Tenten pun ikut berdiri mengekor Sasuke. Sasuke duduk dihadapan pianonya, menempatkan kesepuluh jemarinya yang panjang dan ramping diatas tuts berwarna gading dan mulai memainkan beberapa nada dengan cepat. "Sepertinya tidak masalah." Gumamnya pada diri sendiri. Lalu ia menengadah menatap Tenten yang berdiri disampingnya. "Sini, duduklah." Katanya sambil menepuk bangkunya. Tenten menurut dan duduk disebelah kiri Sasuke.

"Lagu apa yang akan kau mainkan?"

"Irony." Sahut Sasuke sambil menatap Tenten lekat-lekat. Lalu laki-laki itu tersenyum kecil. "Kau tahu, lagu ini terangkum atas semua perasaanku, semua perasaanku dari awal kita bertemu sampai detik ini. Jadi bisa dibilang, lagu ini tercipta tentang perasaanku padamu."

Tanpa menunggu reaksi Tenten, jemari Sasuke mulai bergelut diatas tuts piano. Alunan nada yang menggetarkan hati mulai memenuhi seanterio apartemen, menggetarkan kebekuan disana.

'Lagu ini tercipta dari perasaanku padamu.'

Kata-kata Sasuke itu membuat Tenten tercengang, dan walaupun ia tidak ingin mengetahuinya, perasaan aneh merayapi tubuhnya ketika nada pertama mulai terdengar. Awalnya Tenten merasa lagu ini agak kejam dan penuh dengan drama, karena judulnya pun terdengar mengerikan. Irony.

Tetapi setelah mendengar seperempat lagu, Tenten mulai merasakan kehangatan perlahan-lahan membanjiri hatinya. Seolah dengan mendengar lagu ini, Tenten bisa melihat film pendek tentang saat-saat mereka pertama kali bertemu, ketika Tenten secara tidak elit menabrak Sasuke di café, ketika Tenten memarahi Sasuke, ketika ia membuat Sasuke marah karena menghabiskan tomatnya, ketika mereka berdebat soal kertas-kertas not balok, ketika Sasuke menyebutnya pesuruh rumah, ketika Sasuke menatapnya di Clinton. Dan klimaks dari lagu ini adalah, malam itu dia acara dansa Gustav. Tenten bisa merasakannya betul, karena sesungguhnya lagu ini sangat ekspretif. Dengan cepat Tenten bisa menangkap apa yang ingin disampaikan oleh lagu ini.

Dan Sasuke benar, lagu ini benar-benar mengisahkan perasaannya dan perasaan Tenten sendiri, seolah lagu ini kaya akan gejolak emosi yang membuat hati Tenten terasa hangat dan terpilin secara bersamaan.

Tenten membuka mata yang tanpa sadar ia tutup selama nada-nada lembut itu mengalun, Sasuke tadi berkata bahwa dia menciptakan lagu ini atas perasaannya pada Tenten. Dan kali ini Tenten mendapati ia merasakan hal yang dirasakan Sasuke padanya ketika mendengarkan lagu ini.

"Bagaimana?" Tanya Sasuke sambil menoleh kearah Tenten. Tenten tersenyum lalu membalas tatapan Sasuke. "Bagus sekali, aku tidak bisa menyampaikannya dengan kata-kata. Intinya, aku jatuh cinta pada lagu ini."

"Kau tahu, awalnya lagu ini memiliki judul yang lebih jelas dan sederhana… bahkan agak aneh kalau kau berpikiran begitu."

"Oh ya? Apa judul awalnya?"

"Just a Feeling to My Panda."

Tenten mengerjap kaget.

"Tapi setelah kupikir-pikir judul itu terdengar salah. Maksudku, orang-orang pasti akan mengira kalau aku adalah seorang penyeludup hewan langka yang memelihara panda didalam apartemenku." Lanjut Sasuke sambil terkekeh lembut. "Jadi agar orang-orang tidak salah menanggapinya, kuubah judulnya. Bagaimana menurutmu?"

Berusaha mengabaikan rasa panas yang menjalar dipipinya, Tenten berdeham dan berusaha mengalihkan pembicaraan. "Kenapa kau selalu memanggilku panda? Aku tahu aku tidak punya nama keluarga, tapi kau tidak perlu segan memanggilku Tenten, sama seperti yang lainnya."

"Karena sudah terbiasa, lagipula aku senang karena menjadi satu-satunya yang memanggilmu panda." Sahut Sasuke sambil mengangkat kedua bahunya. Lalu Sasuke tertawa kecil dan melanjutkan. "Kurasa satu-satunya hal yang bisa membuatku memanggil nama depanmu adalah kalau kau menikah denganku." Kali ini Tenten bersumpah bahwa ia berhenti bernafas dan ia menatap Sasuke dengan tatapan terkejut. Sasuke membalas tatapan Tenten dan tersenyum.

"Kalau itu terjadi kau akan menjadi Uchiha Tenten, dan saat itu aku tidak mungkin memanggil istriku sendiri dengan sebutan panda, atau memanggil nama keluargaku sendiri."

Tenten tidak mengatakan apa-apa, gadis itu bahkan menahan nafasnya secara tidak sadar. Sementara itu Sasuke menunggu reaksi Tenten atas gurauannya. Yah sebenarnya ia setengah bergurau dan setengah serius. Ia memang tidak pernah berpikir soal pernikahan atau ingin menikah sebelum ini. Tetapi sekarang, setelah mengenal gadis yang duduk diam disampingnya ini, ia mulai merasa menikah bukanlah sesuatu yang mengerikan.

Sasuke tertegun karena gagasannya sendiri. Astaga, ia benar-benar sudah tidak tertolong lagi! Ia mengamati rona merah yang menjalar di pipi chubby Tenten yang sedikit pucat sementara gadis itu menekan salah satu tuts piano yang berwarna gading mengkilap. Kemudian Tenten menengadah menatap Sasuke sambil tersenyum. "Teknisnya, kau juga harus memanggil namaku kalau aku menikah dengan Itachi-senpai-"

"Wow, tunggu dulu." Sela Sasuke cepat dan menatap Tenten dengan kening berkerut. "Katakan padaku kau tidak serius." Tenten tertawa renyah.

"Apa yang salah? Kata-kataku benar bukan?"

"Aku menolak menjawabnya karena aku sama sekali tidak mau memikirkan kemungkinan itu." Setelah tawa Tenten mereda, ia berkata.

"Mainkan satu lagu lagi."

"Sebaiknya kau beristirahat sekarang." Ujar Sasuke. "Aku berjanji akan memainkan satu lagu lagi saat kau menghias pohon natal kita besok." Mendengar kata pohon natal, membuat semangat Tenten kembali membara.

"Pergilah, panda." Kata Sasuke sambil beranjak berdiri. "Biar aku yang membereskan mejanya." Tambahnya lembut.

Tenten ikut berdiri sambil menatap sosok Sasuke yang kini tengah berjalan ke meja kopi. Entah apa yang mendasari tingkah Tenten hingga gadis itu akhirnya berlari kearah Sasuke dan memeluk laki-laki itu dari belakang, membuat Sasuke kaget setengah mati.

"He-hei?" Tenten membenamkan kepalanya di punggung Sasuke lalu berkata dengan suara parau. "Terimakasih… terimakasih atas segalanya, Sasuke." Sasuke yang masih terheran-heran kini tersenyum samar, laki-laki itu membalikan tubuhnya, membuat pelukan Tenten terlepas lalu mengusap kepala gadis itu. "Pergilah tidur panda, pohon natal itu pasti akan menunggumu untuk menghiasnya." Tenten mengangguk penuh semangat lalu tersenyum lembut kearah Sasuke, membuat Sasuke tanpa sadar menahan nafasnya.

"Selamat malam, Sasuke." Ujar Tenten sambil melangkah mundur, Sasuke tersenyum miring lalu berkata. "Selamat malam, my Panda."

Aww, Sasuke unyu sekalii :I wkwk, iya disini Sasuke udah berubah banget bangetan, yang aku takutkan Sasukenya jadi terlalu OOC .-. semoga engga ya, huft haha, tapi jujur author seneng banget bisa apdet chapter ini, soalnya di chapter ini Sasuke sama Tenten unyu banget, apalagi ada adegan berantem singkatnya, author kangen bikin mereka debat lagi hehe (plak!) oke segini aja ya komen dari author, terimakasih sudah membaca dann sampai ketemu di chap selanjutnyaa :D