Rated: T

Disclaimer: all of these chara are totally belongs to, Mashasi Kishimoto, but this fic officially mine.

Warning: setting gajelas, alur lompat2, Crack pairing, OOC tingkat dewa, dsb.

SasuTen slight ItaTen

Read it with ur own risks(:

Couple words from author :

Minnaa! maaf sepertinya di chappy kemarin ada kesalahann, karena chappy 18 nya aku taro di chappy 17 maaf yaaa :( untuk sekarang, author bakal apdet ulang chappy 18 nya biar ga rancu kedepannya, maaf ya atas kecerobohan author, maaf bangett :( yaudah author mau bales reviews dulu yaa..

Plain Vanilla : Hwuaangg udah lamaa ga ketemuu jengg apakabaree? (emang pernah ktemu? ckck) hoo, sama sih author juga sering ngebaca fic author senior yang lain lewat hp, terus ga nge reviews haha #plak! makasih yaa udh nge reviews, dan udah jadi pembaca setia semua fan fic akuu :3 semoga kamu suka sama fic yang inii, ahaha iya, liatkan Sasuke udh baik sama Tenten nya, mereka unyu banget yagasihh :3iyaa author udh janji gaakan bikin sad ending wkwk, karena dua fic author selalu sad ending ehehe, ini udh diapdet maaf telat yaa :(

akira-ken : ehehe ._. yabegitulah, mungkin karena om mashasi jarang masukin Tenten di ceritanya, Tenten jarang banget kan muncul di Naruto anime ataupun yang manga. cuman yang episode 184 shippuden doang, satu episode itu menjadikan Tenten sebagai main chara nya, sisanya NOTHING, gaada :( ahaha menurut kamu adegan yang disini udh romantis belum? wkwk ;;)iyaa ini udh aku apdet kokk...

ItaTen : wahaha iyaa, menurut kamu gimana ceritanya? ada yang aneh gaa? .-. aduuh makasih banyaakk yaa ItaTen :* fic kamu juga keren kok hehe, wahaha maaf ya kalo aku reviewsnya kepanjangaan ._. iyaa pasti aku check kok hihihii, iyaa ini udh aku apdett makasih yaaa :3

oke segitu aja langsung aja chappy 18...

Chapter 18

"Aku memang sedang tidak enak badan, tapi aku bukan orang cacat." Tegur Tenten ketika akhirnya Sasuke kembali keruang duduk dengan semangkuk glatin ditangannya, dan meletakannya di hadapan Tenten. Setelah itu ia menghempaskan tubuhnya disamping Tenten.

"Astaga, aku tidak bilang kau cacat, panda." Gumam Sasuke. "Berhubung tanganku sudah sembuh dan aku bisa menyiapkan kebutuhanku sendiri tanpa perlu membuat dapurku berantakan. Dan kau sedang sakit, jadi aku menyuruhmu untuk duduk manis disini, apa aku salah?" Tenten masih memberengut tapi tidak berkata apa-apa. "Jadi, makanlah." Kata Sasuke sambil meraih mangkuk itu dan menangkupkannya di kedua tangan Tenten.

"Kuharap rasanya tidak terlalu parah." Timpal Sasuke ketika Tenten menyentuh sendok. Kali ini Tenten mendengus dan tersenyum.

"Mari kita lihat sampai dimana kemampuan memasakmu."

"Yang jelas tidak akan separah glatinmu." Gurau Sasuke, Tenten menoleh kearah Sasuke dan tertawa renyah. Pikirannya terbang ke masa lalu, ketika untuk kali pertama ia dan Sasuke bertemu, ketika kali pertama ia masuk kedalam apartemen Sasuke, ketika kali pertama mereka makan bersama. Entahlah setelah dipikir-pikir, Tenten sangat merindukan masa-masa itu.

Tenten tertawa kecil lalu mulai memasukan sesendok glatin kedalam mulutnya. "Mmm." Gumamnya sambil berpikir-pikr. Lalu ia mengangkat sebelah bahunya. "Tidak terlalu buruk." Sasuke menyipitkan matanya menatap Tenten. Gadis itu membalas tatapannya sambil tersenyum cerah lalu kembali menyantap glatinnya dengan riang. Sasuke yakin bahwa gadis itu menyukai glatinnya.

"Omong-omong Sasuke." Kata Tenten setelah menghabiskan glatinnya. "Kau pernah berkata bahwa aku bisa mendengar permainan pianomu secara langsung ketika tanganmu sudah sembuh."

"Maksudmu, kau ingin mendengarnya sekarang?" Tanya Sasuke. Tenten mengangguk penuh semangat. "Baiklah, aku juga ingin melihat apakah pergelangan tanganku sudah benar-benar siap beraksi." Sasuke beranjak dari sofa dan berjalan menghampiri pianonya. Tenten pun ikut berdiri mengekor Sasuke. Sasuke duduk dihadapan pianonya, menempatkan kesepuluh jemarinya yang panjang dan ramping diatas tuts berwarna gading dan mulai memainkan beberapa nada dengan cepat. "Sepertinya tidak masalah." Gumamnya pada diri sendiri. Lalu ia menengadah menatap Tenten yang berdiri disampingnya. "Sini, duduklah." Katanya sambil menepuk bangkunya. Tenten menurut dan duduk disebelah kiri Sasuke.

"Lagu apa yang akan kau mainkan?"

"Irony." Sahut Sasuke sambil menatap Tenten lekat-lekat. Lalu laki-laki itu tersenyum kecil. "Kau tahu, lagu ini terangkum atas semua perasaanku, semua perasaanku dari awal kita bertemu sampai detik ini. Jadi bisa dibilang, lagu ini tercipta tentang perasaanku padamu."

Tanpa menunggu reaksi Tenten, jemari Sasuke mulai bergelut diatas tuts piano. Alunan nada yang menggetarkan hati mulai memenuhi seanterio apartemen, menggetarkan kebekuan disana.

'Lagu ini tercipta dari perasaanku padamu.'

Kata-kata Sasuke itu membuat Tenten tercengang, dan walaupun ia tidak ingin mengetahuinya, perasaan aneh merayapi tubuhnya ketika nada pertama mulai terdengar. Awalnya Tenten merasa lagu ini agak kejam dan penuh dengan drama, karena judulnya pun terdengar mengerikan. Irony.

Tetapi setelah mendengar seperempat lagu, Tenten mulai merasakan kehangatan perlahan-lahan membanjiri hatinya. Seolah dengan mendengar lagu ini, Tenten bisa melihat film pendek tentang saat-saat mereka pertama kali bertemu, ketika Tenten secara tidak elit menabrak Sasuke di café, ketika Tenten memarahi Sasuke, ketika ia membuat Sasuke marah karena menghabiskan tomatnya, ketika mereka berdebat soal kertas-kertas not balok, ketika Sasuke menyebutnya pesuruh rumah, ketika Sasuke menatapnya di Clinton. Dan klimaks dari lagu ini adalah, malam itu dia acara dansa Gustav. Tenten bisa merasakannya betul, karena sesungguhnya lagu ini sangat ekspretif. Dengan cepat Tenten bisa menangkap apa yang ingin disampaikan oleh lagu ini.

Dan Sasuke benar, lagu ini benar-benar mengisahkan perasaannya dan perasaan Tenten sendiri, seolah lagu ini kaya akan gejolak emosi yang membuat hati Tenten terasa hangat dan terpilin secara bersamaan.

Tenten membuka mata yang tanpa sadar ia tutup selama nada-nada lembut itu mengalun, Sasuke tadi berkata bahwa dia menciptakan lagu ini atas perasaannya pada Tenten. Dan kali ini Tenten mendapati ia merasakan hal yang dirasakan Sasuke padanya ketika mendengarkan lagu ini.

"Bagaimana?" Tanya Sasuke sambil menoleh kearah Tenten. Tenten tersenyum lalu membalas tatapan Sasuke. "Bagus sekali, aku tidak bisa menyampaikannya dengan kata-kata. Intinya, aku jatuh cinta pada lagu ini."

"Kau tahu, awalnya lagu ini memiliki judul yang lebih jelas dan sederhana… bahkan agak aneh kalau kau berpikiran begitu."

"Oh ya? Apa judul awalnya?"

"Just a Feeling to My Panda."

Tenten mengerjap kaget.

"Tapi setelah kupikir-pikir judul itu terdengar salah. Maksudku, orang-orang pasti akan mengira kalau aku adalah seorang penyeludup hewan langka yang memelihara panda didalam apartemenku." Lanjut Sasuke sambil terkekeh lembut. "Jadi agar orang-orang tidak salah menanggapinya, kuubah judulnya. Bagaimana menurutmu?"

Berusaha mengabaikan rasa panas yang menjalar dipipinya, Tenten berdeham dan berusaha mengalihkan pembicaraan. "Kenapa kau selalu memanggilku panda? Aku tahu aku tidak punya nama keluarga, tapi kau tidak perlu segan memanggilku Tenten, sama seperti yang lainnya."

"Karena sudah terbiasa, lagipula aku senang karena menjadi satu-satunya yang memanggilmu panda." Sahut Sasuke sambil mengangkat kedua bahunya. Lalu Sasuke tertawa kecil dan melanjutkan. "Kurasa satu-satunya hal yang bisa membuatku memanggil nama depanmu adalah kalau kau menikah denganku." Kali ini Tenten bersumpah bahwa ia berhenti bernafas dan ia menatap Sasuke dengan tatapan terkejut. Sasuke membalas tatapan Tenten dan tersenyum.

"Kalau itu terjadi kau akan menjadi Uchiha Tenten, dan saat itu aku tidak mungkin memanggil istriku sendiri dengan sebutan panda, atau memanggil nama keluargaku sendiri."

Tenten tidak mengatakan apa-apa, gadis itu bahkan menahan nafasnya secara tidak sadar. Sementara itu Sasuke menunggu reaksi Tenten atas gurauannya. Yah sebenarnya ia setengah bergurau dan setengah serius. Ia memang tidak pernah berpikir soal pernikahan atau ingin menikah sebelum ini. Tetapi sekarang, setelah mengenal gadis yang duduk diam disampingnya ini, ia mulai merasa menikah bukanlah sesuatu yang mengerikan.

Sasuke tertegun karena gagasannya sendiri. Astaga, ia benar-benar sudah tidak tertolong lagi! Ia mengamati rona merah yang menjalar di pipi chubby Tenten yang sedikit pucat sementara gadis itu menekan salah satu tuts piano yang berwarna gading mengkilap. Kemudian Tenten menengadah menatap Sasuke sambil tersenyum. "Teknisnya, kau juga harus memanggil namaku kalau aku menikah dengan Itachi-senpai-"

"Wow, tunggu dulu." Sela Sasuke cepat dan menatap Tenten dengan kening berkerut. "Katakan padaku kau tidak serius." Tenten tertawa renyah.

"Apa yang salah? Kata-kataku benar bukan?"

"Aku menolak menjawabnya karena aku sama sekali tidak mau memikirkan kemungkinan itu." Setelah tawa Tenten mereda, ia berkata.

"Mainkan satu lagu lagi."

"Sebaiknya kau beristirahat sekarang." Ujar Sasuke. "Aku berjanji akan memainkan satu lagu lagi saat kau menghias pohon natal kita besok." Mendengar kata pohon natal, membuat semangat Tenten kembali membara.

"Pergilah, panda." Kata Sasuke sambil beranjak berdiri. "Biar aku yang membereskan mejanya." Tambahnya lembut.

Tenten ikut berdiri sambil menatap sosok Sasuke yang kini tengah berjalan ke meja kopi. Entah apa yang mendasari tingkah Tenten hingga gadis itu akhirnya berlari kearah Sasuke dan memeluk laki-laki itu dari belakang, membuat Sasuke kaget setengah mati.

"He-hei?" Tenten membenamkan kepalanya di punggung Sasuke lalu berkata dengan suara parau. "Terimakasih… terimakasih atas segalanya, Sasuke." Sasuke yang masih terheran-heran kini tersenyum samar, laki-laki itu membalikan tubuhnya, membuat pelukan Tenten terlepas lalu mengusap kepala gadis itu. "Pergilah tidur panda, pohon natal itu pasti akan menunggumu untuk menghiasnya." Tenten mengangguk penuh semangat lalu tersenyum lembut kearah Sasuke, membuat Sasuke tanpa sadar menahan nafasnya.

"Selamat malam, Sasuke." Ujar Tenten sambil melangkah mundur, Sasuke tersenyum miring lalu berkata. "Selamat malam, my Panda."

sekali lagi maaf atas kesalahan teknisnyaa ya minna :( untuk menebus kesalahan author, author janji akan apdet lebih cepat, insyaallah hari sabtu atau jumat author akan langsung apdet chapter 19 nyaa, maaf yaa sekali lagi minnaa :( segitu aja deh jaa ne ;)