Rated: T

Disclaimer: all of these chara are totally belongs to Mashasi Kishimoto, but this fic officially mine

Warning: Bahasa gajelas, setting gajelas, Crack pairing, OOC tingkat dewa dsb.

SasuTen slight ItaTen

read it with ur own risks(:

Couple words from author:

Hai minnaa, sesuai dengan janji authorr, author sudah apdet chappy 19 walaupun apdetnya malem ahehe. Ya, chappy ini juga dibuat khusus untuk SasuTen, hihihi. author bales reviews dulu yaa...

SasuTen: Ahaha, kayaknya mereka bakal susah jadi couple wkwk.. ya di chappy ini SasuTen lagii, dan ada sedikit konflik semoga kamu puas yaa..

akira ken: maaaff, mata author udh belor maklum yaa faktor usia wkwk XD iyaa ini udh engga salah kok hehe, maaf yaa sekali lagi...

okee segitu aja reviewsnya, oh iya di chappy ini kemesraan SasuTen terpaksa harus terusak, kenapa? langsung aja kita ke chappy 19! here we goo!

Chapter 19

Tanggal 25 Desember.

Hari yang paling ditunggu-tunggu oleh Tenten. Gadis itu merentangkan tangannya diudara, hari ini pementasan amalnya akan diselenggarakan, dan Tenten kelewat bersemangat untuk hari ini. Ia senang karena akhirnya ia bisa melakukan pementasan amal untuk pertama kalinya, dan yang membuatnya lebih senang adalah, karena Sasuke yang akan memainkan back sound yang akan menemaninya meluncur diatas es.

Tenten menolehkan kepalanya, menatap kesekitar ice rink tempat biasanya berlatih yang sudah ia dekorasi sendiri. Disekitar ice rink telah disediakan tempat duduk untuk para tamu undangan yang sudah diundang secara eksekutif oleh Gustav, Tenten bersumpah akan memeluk pelatihnya itu ketika pementasan ini selesai. Tepuk tangan menggelegar seanterio department itu ketika Gustav Mahler meluncur ketengah ice rink sambil memegang mic.

"Selamat siang para tamu undangan, saya merasa sangat berterima kasih atas kehadiran anda sekalian yang sudah hadir dalam pementasan amal yang diselenggarakan oleh Dearburn dan di usulkan oleh figure skater dunia, Tenten." Para tamu undangat bertepuk tangan meriah, Gustav tersenyum lebar lalu kembali berkata. "Baiklah, didalam pementasan ini akan ada yang special, karena ternyata seorang pianis muda terkenal akan memainkan langsung back sound yang akan menemani para skater professional ini meluncur dihadapan kita semua." Gustav merentangkan tangannya kearah Sasuke yang tengah berdiri dan membungkuk di samping piano berwarna hitam mengkilatnya.

"Beri tepuk tangan anda untuk, Uchiha Sasuke." Tepuk tangan kembali terdengar, dua kali lebih meriah malah. Bahkan Tenten pun ikut bertepuk tangan kecil ketika melihat Sasuke membungkuk dan tersenyum kepada para tamu undangan. Gustav kembali tersenyum lebar.

"Baiklah, untuk pembukaan dari acara ini, akan ada persembahan khusus dari dearburn, silahkan." Gustav pun menyingkir dari arena sementara sekitar dua belas skater Dearburn meluncur ke tengah arena. Tepuk tangan terdengar meriah, dan kali ini para tamu undangan dan bahkan beberapa wartawan majalah mempersiapkan kamera mereka untuk membidik.

Pandangan Tenten langsung beralih kepada Sasuke yang sudah kembali duduk dihadapan tuts pianonya. Laki-laki itu memulai lagu dengan nada cepat lalu mengalun dengan lembut, diiringi oleh para skater yang mulai meluncur membentuk pola dipermukaan es. Tenten tersenyum kecil ketika menatap ke barisan penonton terdepan, para anak-anak panti berdecak kagum melihat para skater Dearburn memulai aksinya. Begitupun Amber yang terlihat tersenyum lemah disamping Daisy. Meski tubuhnya terlihat lemah, tapi Tenten tahu bahwa gadis itu senang. Setelah selama sekitar enam menit membentuk pola, para Skater berhenti ditengah-tengah dan membungkuk memberi hormat. Tepuk tangan kembali menggelegar. Setelah para skater meluncur keluar, Gustav kembali meluncur ke tengah-tengah arena.

"Itu dia perform singkat dari para skater Dearburn, dan kali ini… puncaknya. Mari beri tepuk tangan yang meriah untuk.. Tenten!" Jantung Tenten terasa berdetak dua kali lebih cepat ketika mendengar namanya disebut. Dengan gugup Tenten meluncur keluar ke arena ice rink. Tepuk tangan kembali terdengar, lebih meriah dibanding yang sebelumnya, para wartawan dan juru foto bersiap dengan kamera mereka. Tenten berhenti ditengah-tengah ice rink, melambai ke para undangan dan tersenyum cerah kepada anak-anak panti dan Amber ketika mereka bersiul-siul. Sementara itu Sasuke mulai bersiap, mata gelapnya terus menatap sosok Tenten yang sedang melambaikan tangannya.

Ini kali pertamanya melihat Tenten dengan mengenakan baju figure skaternya, mini dress berwarna biru sutra, baju itu memperlihatkan sebagian besar tubuh Tenten yang selama ini selalu tertutup. Sasuke hanya bisa berdeham lembut lalu mulai memainkan lagu klasiknya ketika suara tepuk tangan sudah tak terdengar lagi. Kali ini Sasuke akan membawakan lagu karya George Gershwin, piano concerto in F. karya ini adalah salah satu karya yang disukai oleh Sasuke. Nada pertama terdengar, Tenten segera mengangkat tangannya keatas, dan menurunkannya dengan lembut seiring disusulnya nada-nada berikutnya yang terdengar lembut. Gadis itu meluncur dengan indah.

Merentangkan tangannya kesamping, melakukan triple loop dan triple toe loop di menit pertama, dan sukses membuat para tamu berdecak kagum. Suasana begitu hening, hanya terdengar alunan piano Sasuke dan suara gesekan antara bilah baja sepatu ice skating Tenten dengan lapisan es. Selama memainkan piano, mata Sasuke tidak bisa luput dari sosok Tenten. Gadis itu, kembali membuat Sasuke tercengang.

Gadis itu meluncur dengan sempurna, menyatu dengan alunan lagu yang dibawakan secara langsung oleh Sasuke. Bagi Tenten hal ini seperti menyalurkan energi terhadapnya, mendapati Sasuke memainkan langsung lagu yang menemaninya meluncur membuat Tenten merasa lebih rileks dan lebih konsentrasi. Dirinya bisa lebih menghayati lagu ini, menghayati tarian ini. Selama tujuh menit lagu dimainkan dan selama tujuh menit itu juga Sasuke bersemayam dipikiran Tenten. Tenten menari untuk Sasuke, begitupun Sasuke yang memainkan piano untuk Tenten.

Dan nada terakhir pun terdengar, begitupun Tenten yang berhenti berputar dan mengangkat kedua tangannya keatas, seperti seorang pemenang. Selama beberapa saat itu tidak ada yang bergerak, semua mata tertuju pada Tenten. Sebelum akhirnya mereka semua berdiri dan bertepuk tangan dengan meriah kepada Tenten dan Sasuke. Sasuke tersenyum bangga lalu berdiri dan membungkuk memberi hormat secara formal, begitupun Tenten yang membungkuk dan melambai kepada semua tamu undangan disana. Amber terlihat sangat senang, hingga menangis, begitupun Daisy yang tersenyum bangga layaknya seorang ibu yang terharu melihat anaknya berhasil. Tenten meluncur keluar dari ice rink sambil tersenyum senang, ia tahu ia berhasil.

Gustav kembali meluncur ke tengah ice rink dan berusaha menenangkan para tamu undangan yang kelewat bersemangat. Tenten duduk di samping ice rink, menyeka keringatnya dengan handuk kecil. Wajahnya kembali bersemangat ketika melihat anak-anak panti berlarian menghampirinya.

"Tenten!" Gadis itu tersenyum dan merentangkan tangannya, membiarkan anak-anak itu memeluknya dan hampir membuatnya terjengkang kebelakang.

"Kau berhasil! Kau memang Tenten!" Tenten tertawa renyah. "Jadi sebelum ini kalian masih tidak percaya kalau aku ini benar-benar Tenten?" Anak-anak itu hanya tertawa lalu melepaskan pelukannya dari tubuh mungil Tenten.

"Kami ucapkan terimakasih banyak karena sudah memberi kami kesempatan untuk melihatmu secara langsung! Oh dan juga terimakasih karena sudah mengundang Amber kesini." ujar Will mewakili teman-temannya. Tenten tersenyum lembut dan mengangguk. "Aku justru merasa terhormat karena kalian semua mau datang." Ujar Tenten. "Oh ya, apa Itachi bersama kalian?" Tanya Tenten. Will menatap ke teman-temannya lalu menggeleng.

"Bukankah Itachi sedang mengikuti olimpiade di Canada?" Tenten mengerjap heran, lalu mengangkat kedua bahunya.

"Aku tidak tahu kalau Itachi ke Canada? Apa Itachi memberitahu kalian?" Will mengangguk. "Ya, sudah sekitar beberapa minggu yang lalu, sebelum kau mengunjungi kami, dia bilang dia akan pergi ke Canada bulan Desember, apa Itachi tidak memberitahumu?" Tanya Will sambil mengangkat sebelah alisnya. Tenten menggeleng.

'Jadi Itachi mengikuti olimpiade di Canada? Kenapa Itachi tidak pernah menceritakannya? Jadi sekarang dia tidak ada di New York?'

"Oh iya, kami harus kembali ke Daisy." Ujar Will, Tenten tersentak dari lamunannya lalu berkata. "Dimana Daisy dan Amber? Aku ingin menemui mereka berdua."

"Mereka masih di kursi penonton, aku akan memanggil mereka kesini." kata Will sementara anak yang lain menghambur pergi, Tenten mengangguk lalu menggenggam pundak Will. "Terimakasih." Will tersenyum lembut lalu berlari meninggalkan Tenten.

Senyuman Tenten memudar ketika sosok Will sudah tak terlihat lagi, gadis itu termenung. Setelah kunjungan mereka ke panti tempo hari, Itachi seperti menjaga jarak, seperti sekarang? Ia pergi ke Canada dan tidak memberitahu apapun pada Tenten. Padahal Tenten sudah merasa bahwa Itachi mulai menganggapnya special, Itachi sendiri yang berkata seperti itu padanya.

Tapi sekarang? Mengapa sosok Itachi seolah menghilang darinya? Seolah laki-laki itu sengaja ingin meninggalkannya? Tenten menggeleng kuat, menyangkal semua pikiran negative itu. Ia yakin Itachi tidak akan meninggalkannya. Tenten kembali termenung. Semua ini terasa janggal baginya. Itachi menghilang dan Sasuke muncul. Ya, akhir-akhir ini Sasuke kembali aneh. Ia seperti begitu mengagungkan Tenten, begitu menjaga perasaan Tenten, sangat berbanding terbalik ketika mereka baru bertemu.

Seperti beberapa hari yang lalu, ketika Tenten sedang sibuk mendekorasi ice rink untuk acara amal ini, setiap hari Sasuke selalu menjemputnya. Meski tangan laki-laki itu sudah sembuh seratus persen yang berarti hubungannya dengan Sasuke sudah selesai, laki-laki itu tetap menghubungi Tenten dan anehnya setiap pagi jam delapan tepat, Tenten selalu datang ke apartemen Sasuke, membuatkan laki-laki itu kopi dan sarapan, lalu menyantap sarapan bersama sambil berbincang tentang apapun. Tenten sendiri tidak tahu kenapa dirinya masih datang ke apartemen Sasuke, ia sendiri tidak mengerti. Baginya, datang ke apartemen Sasuke dan membuatkan laki-laki itu sarapan adalah kebiasaan yang mendarah daging, dan jika ditinggalkan akan terasa janggal baginya sendiri. Tenten menghela nafas panjang, masih banyak kejanggalan lain yang di tunjukan oleh Sasuke yang sampai sekarang tidak bisa Tenten mengerti. "Tadi itu hebat sekali."

Tenten membalikan tubuhnya. Sasuke berjalan menghampirinya lalu duduk disebelahnya. "Ya, kau pun begitu. Ah iya, terimakasih banyak karena sudah mau berpartisipasi. Sepertinya semua ini akan berhasil." Sasuke mengangguk singkat. "Yeah, aku melihat beberapa orang berpengaruh datang kemari, sepertinya acara ini sukses besar." Tenten tersenyum cerah.

"Syukurlah kalau begitu." Sasuke mengangguk singkat lalu menoleh kearah Tenten, memperhatikan gadis yang duduk disebelahnya. Hati Sasuke kembali menjerit. 'Demi Tuhan, sebenarnya apa yang terjadi pada diriku?' Jerit Sasuke dalam hati. Sasuke tidak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya, ia tidak pernah begitu perhatian kepada seorang gadis manapun, ia tidak pernah terlalu tertarik pada seorang gadis, ia jarang sekali memperdulikan manusia berkelamin wanita itu. Tapi kali ini. Berbeda.

Sasuke merasa bahwa, kehadiran Tenten dikehidupannya sangatlah penting, Tenten harus selalu disana, gadis itu harus tetap didalam hidupnya, gadis itu tidak boleh pergi.

Sasuke mendesah lemah karena gagasannya sendiri.

"Tenten!" Baik Sasuke maupun Tenten langsung menoleh ke sumber suara. Sasuke mengernyitkan hidungnya ketika melihat seorang wanita berusia empat puluhan yang mengenakan baju lusuh tengah mendorong kursi roda. Diatas kursi roda itu, terlihat seorang gadis kecil yang kira-kira berusia sepuluh tahun tengah terkulai lemas. Meski begitu, dibibirnya tersungging seulas senyum bahagia. Tenten segera bangkit dan berjongkok dihadapan gadis itu. Dengan lembut, Tenten menarik gadis itu kedalam pelukannya, mendekapnya erat.

"Aku.. aku sangat senang."

"Aku tahu, aku tahu, Amber." Gumam Tenten parau. Sasuke hanya bisa terdiam, jadi ini Amber yang selalu dibicarakan oleh Tenten. Amber, gadis cilik yang nasibnya sama atau bahkan lebih buruk dari Tenten. Sasuke menggelengkan kepalanya ketika memikirkan Amber dan Tenten. Mereka memiliki banyak kesamaan, sama-sama berambisi dengan dunia ice skating, sama-sama berasal dari panti, dan sama-sama mengidap kanker.

Meski Sasuke masih meragukan tentang kanker yang diderita Tenten, tetap saja Sasuke merasa hatinya remuk ketika memikirkan kemungkinan bodoh yang diutarakan oleh Naruto. Tenten melepaskan pelukannya, menatap Amber dengan mata berkaca-kaca, sementara Amber sendiri sudah menangis.

"Aku benar-benar merasa senang hari ini… ini adalah hari terindah…" Tenten tersenyum lembut dan menghapus air mata gadis itu dengan ibu jarinya.

"Aku juga senang karena kau mau datang kesini, terimakasih ya, Amber."

"Aku yang harusnya berterimakasih, karena seorang skater sepertimu sudah membuat acara semegah ini untukku, terimakasih banyak." Tenten tersenyum lemah dan kembali memeluk singkat Amber, lalu ia berdiri dan memeluk Daisy. "Terimakasih Tenten, terimakasih atas segalanya."

"Hanya ini yang bisa kulakukan, Daisy." Ujar Tenten lemah sambil melepaskan pelukannya. Tenten menoleh kearah Sasuke dan berkata.

"Oh, aku harus memperkenalkan kalian pada Sasuke. Dia juga turun tangan dalam acara ini, aku yakin acara ini tidak akan semegah sekarang jika tidak ada dia." Ujar Tenten sambil mengayunkan tangannya kearah Sasuke, mengisyaratkan agar Sasuke mendekat. Sasuke berjalan mendekat lalu berjabat tangan dengan Daisy. "Hai, aku Sasuke." Daisy hanya bisa tersenyum lemah. "Kau bisa memanggilku Daisy, Mr. Uchiha." Sasuke terkekeh lembut lalu berjongkok dihadapan Amber.

"Kau kah Amber itu? Yang selalu diceritakan oleh Tenten?" Tanya Sasuke. Amber terlihat sedikit terkejut. "Tenten menceritakanku padamu?" Sasuke mengangguk. "Selalu, Tenten seperti mengidolakanmu, kau tahu. Dia selalu berkata kepadaku, bahwa ia ingin melihatmu sembuh, agar kalian bisa meluncur bersama." Mata gelap Amber terlihat kembali berkaca-kaca.

"Apakah kau tidak keberatan bermain piano lagi untuk menemaniku dan Tenten meluncur nanti?" Untuk pertama kalinya, Sasuke tersenyum dengan tulus kepada seorang anak kecil. "Sebuah kehormatan untukku, Amber." Amber tersenyum lebar lalu memeluk tubuh Sasuke, membuat laki-laki itu tercengang kaget. Laki-laki itu tersenyum lalu menepuk-nepuk pundak Amber, dan mereka pun kembali menjauh.

"Baiklah, kita harus beristirahat Amber. Kau ingin cepat sembuh bukan?" Kata Daisy, Sasuke beranjak berdiri. Dengan lesu Amber mengangguk lalu melambai kearah Sasuke dan Tenten.

xXx

Setelah menandatangani beberapa berkas tentang hasil acara amal, Sasuke dan Tenten segera menyerahkan sebagian besar hasil amal itu kepada Daisy yang akan digunakan untuk biaya pengobatan Amber dan relokasi panti. Sementara sisanya disumbangkan kepada rumah sakit kanker di daerah Brooklyn. Tenten merasa sangat puas dengan hasil yang mereka capai, para tamu yang terdiri dari orang-orang penting itu ternyata memiliki sisi kemanusiaan juga. Setelah memeluk Gustav erat-erat, Tenten kembali ke ruang gantinya. Mengganti bajunya dengan celana jeans biru muda dan kaus putih polos,gadis itu kembali mencepol rambutnya. Setelah selesia berpakaian, Tenten berjalan keluar, Sasuke sudah berdiri di depan pintu, menunggunya keluar.

"Jadi, kita sudah berhasil." Tenten mengangguk sambil tersenyum. "Yeah, aku berharap bisa melihat Amber sembuh, aku yakin anak itu bisa menjadi skater berbakat."

"Seperti kau." Tenten menoleh kearah Sasuke dan tersenyum lembut. "Omong-omong, bagaimana kalau kita meluncur sekali?" Kata Tenten sambil memakai sepatu ice skatingnya, Sasuke menggeleng cepat.

"Tidak."

"Kenapa?" Tanya Tenten sambil memberengut. "Pertama, aku tidak punya sepatu ice skating, kedua, aku tidak… aku tidak suka ice skating." Kata Sasuke ketus. Tenten tersenyum geli. "Kau tidak bisa bermain ice skating?" Sasuke hanya bisa mendengus kesal, padahal ia berharap Tenten tidak mengetahuinya. Melihat reaksi Sasuke yang diam saja membuat Tenten tertawa.

"Ayolah, sekali saja. Aku yakin kau belum pernah mencoba ice skating seumur hidupmu." Kata Tenten.

"Jangan bergurau, tentu saja aku pernah bermain ice skating."

"Lalu kenapa kau tidak bisa?"

"Karena aku tidak suka." Tenten menatap Sasuke dengan alis terangkat, membuat Sasuke mendengus kesal (lagi).

"Baik, baik. Aku tidak bisa main ice skating karena aku pernah jatuh secara memalukan, puas?" Tenten tertawa renyah lalu menepuk pundak Sasuke.

"Aku tidak sanggup membayangkannya."

"Begitupun aku." Gerutu Sasuke kesal, Tenten menarik lengan mantel Sasuke seperti anak kecil.

"Ayolah Sasuke! Sekali ini saja!"

"Tidak."

"Kumohon, aku akan melakukan apapun kalau kau mau meluncur denganku." Sasuke menoleh kearah Tenten, dan tersenyum.

"Benarkah kau akan melakukan apapun untukku?"

"Bo-bodoh! Memangnya kau mau apa, hah?"

"Aku mau kau jadi pacarku." Tenten terdiam, gadis itu menatap Sasuke dengan tatapan terkejut dan heran. Begitupun Sasuke yang sama terkejutnya seperti Tenten. Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya, tanpa pemikiran panjang, spontanitas, seperti perasaannya.

"Aku tidak.. maksudku, lupakan saja kata-kata itu." Ujar Sasuke sambil memalingkan wajahnya. Sementara Tenten hanya bisa memperhatikan Sasuke, kata-kata Sasuke masih berputar dikepalanya. Kata-kata itu terdengar tegas, yang jelas menandakan bahwa laki-laki itu bersungguh-sungguh.

"Jadi? Kita tidak jadi meluncur bersama?" Tenten tersentak kaget lalu menoleh kearah Sasuke. "Kau mau meluncur bersamaku?"

"Yeah, kalau kau memaksa." Tenten tersenyum lebar dan langsung menggamit tangan Sasuke. "Ayo! Aku akan mengambilkanmu sepatu!" Tenten segera melenggang dengan riang mencari sepatu untuk Sasuke, sementara Sasuke hanya bisa tersenyum sambil memandangi Tenten.

Sasuke sudah memutuskan. Biarlah waktu yang menentukan. Ia akan menyerahkan semua ini pada waktu, karena ia yakin waktu yang akan menunjukan segalanya. Ia tidak tahu akhirnya nanti akan bagaimana, apakah Tenten dan Itachi akhirnya menikah, atau bagaimana. Sasuke tidak tahu. Yang jelas, saat ini Sasuke hanya ingin menikmati semuanya, menikmati waktu yang indah ini bersama Tenten.

xXx

"Bisakah aku menarik kata-kataku?" Kata Sasuke sambil mencengkram pembatas ice rink. Tenten berdecak kesal lalu mengulurkan kedua tangannya.

"Tidak bisa." Kata Tenten tegas. "Ayolah kau tidak akan terjatuh kalau kau tidak heboh, lagipula aku bisa memegangimu."

"Lalu apa? Tubuhku dua kali lebih besar daripada kau." Sembur Sasuke kesal. Tenten memutar kedua bola matanya.

"Tapi kuda-kudaku kuat, lagipula kalau aku tidak bisa menahanmu kita jatuh berdua, jadi kau tidak akan merasa malu sendirian." Kata Tenten, Sasuke mendengus kesal, ia sangat membenci dirinya yang begitu lembek dihadapan Tenten. Baru kali ini Sasuke terlihat menyedihkan didepan seorang wanita, Sasuke tidak pernah mengharapkan saat seperti ini datang, apalagi didepan Tenten. "Ayolah, aku bisa beku kalau diam terus." Kata Tenten mencoba membujuk Sasuke. Sasuke mendecak kesal lalu menyambut tangan Tenten, sedangkan tangannya yang satunya masih mencengkram pembatas.

"Aku harus menyiapkan mentalku untuk memakai gips lagi." Kata Sasuke. Tenten tertawa renyah. "Kau tidak akan jatuh, aku janji." Kata Tenten. Setelah menggenggam erat tangan Tenten, Sasuke mulai menjatuhkan kaki kanannya kepermukaan es. Sasuke membatu sesaat, mencoba mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. "Bagus, turunkan kaki yang satunya, dan lepaskan tanganmu yang satunya." Ujar Tenten memberi instruksi.

Sasuke menggigit bibir bawahnya lalu menurunkan kaki kirinya, bersamaan dengan melepas genggamannya di pembatas rink. Dan Sasuke pun berdiri diatas lapisan es sambil mencengkram erat tangan Tenten.

"Lihat kan? Kalau kau tenang, kau tidak akan jatuh." Kata Tenten santai.

"Yaya, bisa kita kepinggir?"

"Untuk apa?"

"Aku mau berpegangan." Tenten menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan tawa. "Jangan konyol, kau tidak boleh menyentuh pembatas rink."

"Nani?! Kenapa?" Kata Sasuke sambil menatap Tenten dengan tatapan tajam. "Karena kalau kau selalu memegang pembatas rink, kau tidak akan bisa meluncur seumur hidupmu." Kata Tenten santai, kelewat santai. Sasuke menggerutu tidak jelas. "Lalu sekarang apa?"

"Sekarang, kau harus berdiri sendiri." Kata Tenten sambil melepaskan genggamannya ditangan Sasuke, membuat laki-laki itu sempat kehilangan keseimbangannya selama beberapa detik.

"Nah, lihatkan? Kau tidak jatuh."

"Aku hampir saja terjatuh!" Seru Sasuke frustasi. Tenten tertawa renyah lalu kembali mengulurkan tangannya, dan langsung disambut oleh Sasuke. Gadis itu meluncur kebelakang, menarik Sasuke dan membuat laki-laki itu panic.

"Be-berhenti! Apa yang kau lakukan!"

"Tentu saja meluncur, kau bisa membeku kalau hanya berdiri seperti itu." Kata Tenten sambil terus meluncur, menambah kecepatan dan membuat Sasuke memejamkan matanya. "Demi Tuhan, panda! Kau harus berhenti!"

"Ayolah Sasuke, tidakkah ini menyenangkan?" kata Tenten sambil tersenyum lebar. "Menyenangkan? Satu-satunya hal yang menyenangkan adalah duduk didepan tuts piano dan memainkan karya Geoerge Gershwin atau Beethoven, oh tidak George Gershwin mungkin sedang naik daun akhir-akhir ini."

Tenten mendengus lalu tertawa lebar. Setelah tawanya mereda, mereka berhenti. Sasuke kembali mendapati nafasnya tersengal-sengal, jantungnya berdebar kencang. Baru kali ini ia merasa begitu ketakutan.

"Lihatkan? Sudah kubilang kau tidak akan jatuh." Kata Tenten lagi, Sasuke diam saja. "Nah sekarang, kau harus meluncur sendiri, aku bisa pingsan kalau harus menarikmu terus." Kata Tenten.

"Bagaimana caranya?" Tenten melepaskan genggaman tangannya dan berdiri disamping Sasuke. "Pertama berjalanlah seperti biasa, seperti berjalan di tanah, dan ingat, jangan seret kakimu kebelakang, kau bisa terjatuh." Kata Tenten sambil memberi contoh, menghentakan kakinya di atas es.

"Nah ayo kita lakukan." Katanya sambil menggenggam tangan Sasuke. Sasuke menggigit bibir bawahnya dan menunduk memperhatikan kakinya, mencoba mengikuti gerakan Tenten. Beberapa menit kemudian Sasuke sudah bisa menghentak-hentakan kakinya diatas es tanpa terjatuh, dan tanpa berpegangan pada Tenten.

"Bagus sekali, ternyata kau fast learner ya." Kata Tenten sambil tersenyum puas. "Ya itu bakatku." Timpal Sasuke sambil tersenyum puas.

"Jangan senang dulu, kalau kau meluncur seperti itu di ice rink umum, kau akan ditertawakan habis-habisan." Kata Tenten sambil tersenyum mengejek. Sasuke memberengut. "Nah agar kau tidak ditertawakan, aku akan mengajarimu teknik sederhana, meluncur V. caranya buka sedikit kakimu kesamping seperti ini." Tenten memberikan contoh, membuka kedua kakinya hingga membentuk huruf V kecil. "Setelah itu dorong dengan satu kaki, disusul kaki lainnya. Ingat, didorong, bukan diseret." Kata Tenten sambil meluncur kedepan lalu kembali lagi disamping Sasuke.

Sasuke menunduk, membuka kedua kakinya seperti huruf V lalu mengikuti gerakan Tenten. Laki-laki itu kehilangan keseimbangan dan langsung dicengkram oleh Tenten. "Oh God! Aku harus memeriksakan jantungku setelah ini selesai." Gumam Sasuke frustasi.

"Kalau kira-kira kau mulai goyah, langsung membungkuk sambil memegang lutut seperti ini, kau tidak akan jatuh." Kata Tenten kembali memberi contoh.

"Ayo lakukan lagi." Sasuke kembali membuka kedua kakinya, dan kembali meluncur, beberapa kali laki-laki itu nyaris jatuh, membuat ekspresi wajahnya berubah-ubah, dan tentunya pemandangan ini adalah pemandangan yang langka bagi Tenten. Gadis itu hampir tidak pernah melihat Sasuke se ekspretif ini. Beberapa menit kemudian, mereka berdua sudah meluncur beriringan.

Wajah Sasuke sudah mulai tenang, tidak setegang beberapa menit belakangan. "Sudah kubilang kan, meluncur itu menyenangkan." Kata Tenten sambil menoleh kearah Sasuke.

"Yeah, kali ini kau benar." Tenten tertawa kecil. Tangan mereka bersentuhan, membuat Sasuke dan Tenten saling berpandangan. Entah siapa yang memulai, tetapi beberapa detik kemudian, tangan mereka sudah bertautan.

"Tanganmu dingin." Kata Sasuke berbisik, Tenten hanya bisa menatap lurus kedepan, ia tidak berani menatap mata Sasuke, karena ia tahu jantungnya pasti akan meronta-ronta. "Tanganmu juga." Kata Tenten serak. Sasuke hanya tersenyum samar seraya menggenggam tangan Tenten lebih erat.

"Tak heran kau sangat menyukai ice skating." Gumam Sasuke tanpa menoleh, Tenten tersenyum kecil.

"Ya, aku sangat menyukai ice skating. Ketika aku berada dipermukaan es, aku bisa menjadi diriku sendiri." Sama seperti ketika aku berada didekatmu, tambah Tenten dalam hati. Sasuke hanya mengangguk kecil.

"Hei! Mau berlomba sampai ke pintu masuk?" Seru Tenten yang kelihatan mulai bosan, Sasuke menoleh menatap Tenten. Gadis itu tersenyum kearahnya, membuat Sasuke harus memalingkan wajahnya.

"Aku tidak mau."

"Kenapa?" Tanya Tenten sambil mengerucutkan bibirnya. "Hal itu kelewat bodoh, kau tahu. Lagipula, aku tidak bisa meluncur dengan cepat." Kata Sasuke singkat. "Dasar penakut." Kata Tenten. Sasuke mendengus kesal.

"Baiklah-baiklah." kata Sasuke yang lagi-lagi mengalah. Tenten tersenyum lebar lalu bersiap untuk meluncur. "Satu."

"Dua."

"Tiga!" Kedua manusia itu mulai meluncur dengan cepat. Tenten langsung mencuri start, dari sini kita bisa melihat siapa yang akan sampai duluan. Tapi Sasuke tidak mau kalah, laki-laki itu meluncur dengan sangat cepat, melupakan segala dampak dari meluncur dengan kecepatan tinggi seperti ini. Jarak mereka semakin tipis, dan akhirnya Sasuke berhasil menyalip Tenten.

"Yea! Sudah kubilang aku pasti menang." Seru Sasuke sambil merentangkan tangannya, lalu memperendah kecepatan. Laki-laki itu sampai di pintu masuk lalu mengangkat kedua tangannya keatas.

"Kau lihatkan Panda! Aku pasti menang!" Seru Sasuke kelewat bersemangat dan keluar dari karakternya yang tenang. Laki-laki itu bersorak-sorak kegirangan selama beberapa detik lalu berhenti ketika menyadari sesuatu.

Kenapa Tenten tidak menyahut seruannya? Kenapa Tenten tidak kunjung sampai? Kenapa Tenten bisa begitu dengan mudahnya disusul oleh Sasuke. Sasuke membalikan tubuhnya dengan perlahan, berdoa bahwa instingnya salah.

Namun nasib baik tak berpihak padanya. Rasa dingin itu kembali merambati punggungnya. Ketika ia melihat tubuh Tenten terkulai lemas diatas permukaan es.

xXx

Rasa sakit yang tajam kembali menyerang punggung Tenten. Menyentaknya dari kenyamanan yang selama beberapa saat itu membungkus tubuhnya. Tenten meringis menahan sakit, lalu secara perlahan-lahan membuka matanya, ia ingin mengetahui apa yang terjadi padanya. Hal pertama yang bisa Tenten lihat adalah sekelebat warna hitam dan suara laki-laki yang memanggil namanya. "Panda?"

"Panda?" Suara itu menggaung tidak jelas, seolah dirinya sedang terbaring didasar sumur yang dalam, dan suara itu memanggilnya dari atas, sangat jauh. Suara itu sangat jauh.

"Panda?" Suara itu kembali terdengar. Tenten mengerjapkan matanya, berusaha berontak dari pengaruh obat penenang yang membungkus tubuhnya entah untuk berapa lama. Matanya terasa buta seperti kelelawar, yang bisa ia lihat hanya sinar putih terang dan sekelebat warna hitam. Satu hal yang bisa Tenten jamin, ia berada dirumah sakit. Tapi mengapa?

Hal terakhir yang ia ingat, ia dan Sasuke sedang mengadakan lomba bodoh di arena ice rink di tempat biasanya mengajar. Tenten kembali mengerjapkan matanya, berusaha memfokuskan pengelihatannya.

"Panda!" Suara itu terdengar mendekat, Tenten tahu dirinya sudah mulai keluar dari tempurung obat penenang. Matanya mulai bisa mengenali bentuk-bentuk disekitarnya. Ia bisa melihat plafon berwarna putih bersih, jam dinding yang bertengger dihadapannya. "Panda!" Gadis itu tersentak lalu menoleh ke samping. "Syukurlah, kukira kau tidak akan sadar." Laki-laki berambut emo itu menghela nafas lega lalu menghempaskan tubuhnya ke kursi besi.

"Sasuke?"

"Hn?"

"Kenapa kita ada disini? Kenapa aku ada dirumah sakit?" Tanya Tenten sambil mengernyitkan hidungnya. Sasuke mencondongkan tubuhnya kearah Sasuke, menumpuk kedua tangannya diatas tempat tidur rumah sakit dan berkata. "Menurutku, kau yang seharusnya menjelaskan kepadaku kenapa kau bisa dirawat disini." Kata Sasuke sambil menatap Tenten dengan tatapan menuntut. Tenten menggigit bibir bawahnya, gadis itu tahu kalau Sasuke tidak memberinya kesempatan untuk mengelak.

"Bisa kau jelaskan dulu apa yang terjadi? Aku benar-benar bingung." Kata Tenten. Sasuke menghela nafas panjang lalu menjauhkan tubuhnya.

"Kita sedang berlomba, dan aku menang." Tenten terdiam, menyimak Sasuke. "Lalu.. lalu kau." Sasuke memejamkan matanya, sebenarnya ia tidak ingin mengingat kejadian itu. Ia tidak ingin mengingat saat ia bersorak dengan gembira sementara Tenten tergeletak tak berdaya diatas es, ia tidak ingin mengingat saat melihat tubuh mungil Tenten mulai gemetar dipelukannya, ia tidak ingin mengingat saat darah segar mengalir dari bibir gadis itu, dan yang paling membuatnya tersiksa adalah, ketika Tenten merintih kesakitan dipelukannya. "Lalu apa yang terjadi, Sasuke?" Tanya Tenten menuntut.

Sasuke memijit batang hidungnya dengan kedua jari lalu membuka kedua matanya, menatap Tenten dengan tatapan yang tak bisa diartikan dengan kata-kata. "Kau pingsan.. dan sedikit collapse, lagi." Kata Sasuke lirih. Tenten hanya bisa tertegun mendengar kata-kata Sasuke.

Ia collapse lagi? Didepan Sasuke? Tenten menghela nafas panjang lalu menundukan kepalanya. "Kau mau makan? Suster tadi menyuruhku untuk memastikan kau makan sesuatu setelah kau sadar." Kata Sasuke sambil meraih semangkuk plastic mie ramen instant. Tenten tercengang melihat tindakan Sasuke lalu menatap wajah laki-laki itu.

"Apa? Aku yakin kau tidak mau makan bubur jamur hambar rumah sakit bukan?" Tenten tertawa renyah lalu meraih ramen instant itu.

"Terimakasih." Ucapnya dengan suara parau. Tangan mungilnya menangkup mie ramen instant itu, merasakan kehangatannya.

"Jadi bisakah kau menjelaskan kenapa kau bisa kesakitan seperti tadi?"

"Tidakkah sebaiknya aku makan dulu?" Tanya Tenten berharap bisa mengulur-ulur waktu walaupun ia tidak tahu mengapa harus melakukannya, toh pada akhirnya ia tetap harus memberikan penjelasan.

"Kita bisa bicara selagi kau makan." Sahut Sasuke. Tenten meletakkan ramen instant nya ke pangkuan dan menghela nafas panjang. Setelah diam sejenak dan menatap jari telunjuknya yang menyusuri pinggiran bungkus ramen, Tenten berdeham dan berkata pelan. "Aku punya sedikit masalah dengan tulang-tulangku. Aku tidak bisa terlalu lelah."

"Masalah seperti apa?" Gumam Sasuke ketika Tenten tidak menunjuikan tanda-tanda hendak melanjutkan kata-katanya. Tenten tidak menjawab.

"Panda?" Panggil Sasuke. Tenten mengangkat wajahnya dan menatap Sasuke. "Kenapa kau selalu memanggilku panda?"

"Usaha yang bagus, panda." Sela Sasuke dengan nada tajam. "Jadi sebaiknya kau berhenti mengalihkan pembicaraan." Tenten memberengut lalu meraih garpu dan menggulung ramennya. "Masalah seperti apa?" Tanya Sasuke lagi, kali ini lebih menuntut.

"Tulang belakangku bermasalah." Tenten membalikan tubuhnya, menunjukan Sasuke tulang belakangnya lalu sedikit membungkuk. Sasuke terkejut ketika melihat pemandangan dihadapannya. Tulang belakang Tenten, terlihat sangat menonjol, dan sedikit membengkok ke kanan.

"Muncul sel kanker disana." Kata Tenten dengan suara parau, berharap Sasuke tidak terlalu terkejut dengan semua ini. Tenten membalikan tubuhnya dan menyenderkan tubuhnya kembali ditumpukan bantal.

"Sejak satu tahun yang lalu, tulang belakangku memang selalu bermasalah, rasa nyeri selalu muncul disana.. awalnya dokter mengatakan ada kelainan di tulang belakangku.. tapi beberapa bulan berikutnya, dokter menemukan tumor disana." Tenten menundukan kepalanya menatap ramen nya yang masih mengepulkan asap tipis.

"Sel kanker itu sudah menggerogoti sumsum tulangku, tidak ada yang tahu kenapa sel kanker itu tiba-tiba muncul, padahal aku tidak bekerja di tempat beradiasi, satu-satunya kemungkinan adalah factor genetic. Tetapi berhubung aku tidak tahu siapa orangtuaku, dokter tidak bisa mengcek riwayat kesehatanku."

Tenten mengangkat wajahnya menatap Sasuke. Laki-laki itu terlihat kaget, mata gelapnya mengerjap menatap Tenten, seolah ia tidak percaya dengan perkataan Tenten. Selama beberapa detik tidak ada yang berbicara. Sasuke menatap Tenten, sementara Tenten memilih untuk menghindari tatapan tajam Sasuke. Kemudian suara Sasuke terdengar. "Apa lagi yang dikatakan dokter?"

Tenten menggigit bibir bawahnya, lalu melirik sekilas kearah Sasuke sebelum kembali menatap ramen nya dan menjawab. "Beberapa hari lagi dokter akan mengangkat tulang belakangku, karena sudah tidak ada kemungkinan untuk mengangkat sel kanker itu. Sudah terlalu banyak. Sel kanker itu menggerogoti tulangku seperti rayap, dan satu-satunya jalan adalah mengangkat tulangku, agar sel kanker itu tidak menyebar ke organ yang lain." Tenten berhenti sejenak, lalu menghela nafas panjang dan melanjutkan.

"Berhubung operasi pengangkatan tulang belakang sangat jarang dilakukan, dokter perlu waktu untuk mempertimbangkan segalanya. Selama itu aku harus siap menerima beberapa serangan. Aku harus menjaga pola makanku, tidak boleh terlalu lelah, aku juga harus mengikuti kemoterapi secara rutin dan mengkonsumsi beberapa obat berdosis berat." Tenten berhenti sejenak lalu menambahkan dengan lirih.

"Obat yang diharapkan bisa memperlambat penyebaran sel-sel itu."

"Itukah sebabnya kau memutuskan untuk hengkang dari Dearburn?"Tenten memejamkan matanya, lalu berkata dengan suara parau.

"Dokter bilang aku harus berhenti menjadi seorang figure skater, karena itu bisa saja memperparah kondisi tulang belakangku. Sebagian diriku ingin memberontak perkataan dokter, maksudku.. aku seorang figure skater. Hidupku adalah meluncur diatas es, aku sudah mencurahkan seluruh hidupku untuk menjadi seperti ini. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau aku benar-benar tidak bersentuhan dengan es."

Tenten mendesah. "Tapi aku sadar, kondisiku yang seperti ini sangat tidak memungkinkan untuk menjalani latihan keras setiap hari, seperti para figure skater yang lain tanpa mengalami serangan-"

"Serangan?" Tanya Sasuke dengan kening berkerut. "Maksudmu serangan seperti collapse di toko kue dan tadi?" Tenten hanya mengangguk lemah.

Sasuke terdiam sejenak, terlihat sedang berpikir. Lalu kembali bertanya. "Apakah kau sering mengalami serangan seperti itu?"

"Hanya kalau aku terlalu lelah atau terlalu memaksakan diri." Sahut Tenten mengangkat bahu. "Tidak terlalu sering."

"Apakah kau pernah mengalami serangan di apartemenku?" Tenten mendongak dan menatap Sasuke. "Tidak." Jawab Tenten tenang.

"Kau yakin?"

"Ya." Sahut Tenten yang kemudian mendesah. "Sasuke, membersihkan rumahmu, menyiapkanmu makan dan membuatkanmu kopi bukanlah pekerjaan yang berat." Tenten menatap Sasuke, gadis itu mengira tatapan kasihan akan menyerang dirinya, ia sudah menyiapkan dirinya. Ia bahkan sudah menyiapkan kata-kata untuk membela diri ketika Sasuke mulai menunjukan rasa kasihan padanya. Ia tidak butuh rasa kasihan, terlebih dari Uchiha Sasuke.

Tetapi ia salah. Ketika ia menatap mata onyx Sasuke, tidak ada tatapan iba disana. Malah laki-laki itu terlihat-marah.

"Kenapa kau tidak mengatakannya sebelum ini terjadi?" Tanya Sasuke tajam sebelum Tenten sempat bereaksi.

"Aku tidak melihat ada alasan yang logis untuk memberitahumu semua ini."

"Tidak ada alasan yang logis untuk memberitahumu semua ini?" Seru Sasuke membeo dengan suara yang naik satu oktaf dari sebelumnya. Tenten mengernyit mendengar suara Sasuke yang meninggi. Laki-laki itu sudah jelas marah.

"Ya." Balas Tenten keras kepala. "Ini urusan pribadiku dan tidak ada sangkut pautnya sama sekali denganmu. Jadi kenapa aku harus menceritakannya padamu? Dan kenapa kau berteriak-teriak padaku?"

"Perlukah kau kuingatkan bahwa kau menghabiskan sebagian besar harimu diapartemenku?" Sasuke balas bertanya dengan kesal. Laki-laki itu jelas masih terbakar emosi, tapi ia berusaha untuk mengendalikan suaranya.

"Apakah kau sadar kalau sesuatu terjadi padamu di apartemenku, akulah satu-satunya orang yang akan disalahkan?" Tenten mengatupkan bibirnya rapat-rapat, amarah mulai menyulut gadis itu.

"Bodoh." Kata Sasuke masih terlihat sangat marah. "Apa yang kau pikirkan? Kenapa kau masih mengotot melakukan semua ini dengan kondisi seperti itu? Kenapa kau masih datang keapartemenku? Membersihkan rumahku? Membuatkanku sarapan, membuatkanku kopi seperti tidak ada yang terjadi? Kau mau aku keluar dari kamar suatu hari dan menemukanmu tergeletak dilantai dengan sekujur tubuh yang berguncang hebat?"

"Sudah kubilang aku baik-baik saja! Jadi kau tidak perlu takut menemukanku tergeletak dilantai dengan sekujur tubuh yang berguncang hebat dan tidak akan ada seorangpun yang akan meminta pertanggungjawabanmu." Sembur Tenten dengan suara melengking. Mata hazelnya berkilat marah menatap Sasuke. "Kau bertanya mengapa aku melakukan semua ini? Bukankah kau yang seenaknya mengecapku menjadi pesuruh rumah?! Dan kau masih berani bertanya?"

"Itu karena kau tidak pernah memberitahuku tentang kondisimu!" Balas Sasuke dengan suara menggelegar, membuat siapa saja yang mendengarnya bergidik ngeri dan mundur dengan teratur. "Kalau saat itu aku tahu, aku tidak mungkin membiarkanmu menginjak apartemenku."

Tenten tercengang dan memucat ketika mendengar kata-kata Sasuke yang terasa bagaikan balok es raksasa yang menghempaskan tubuhnya. Ia berusaha menelan ludahnya, berusaha mengatur nafasnya yang terasa tercekat di tenggorokannya. Ia mulai mengerjap ketika merasakan air mata mulai menusuk-nusuk kelopak matanya. Selama ini Tenten mengira-bahkan sangat yakin kalau Uchiha Sasuke akan mengkasihaninya, apalagi setelah semua ini, setelah semua yang mereka lalui bersama. Setelah Tenten yakin bahwa Sasuke adalah laki-laki baik. Bukannya Tenten mengharapkan rasa kasihan dari Sasuke. Bukan. Sama sekali bukan. Hanya saja Teten selalu menduga itulah reaksi orang-orang kalau tahu tentang kondisinya. Ia tidak pernah berpikir Uchiha Sasuke marah.

Dan Sasuke marah karena tidak diberitahu sama sekali tentang kondisi Tenten. Ia marah karena merasa terbebani oleh penyakit Tenten. Ia marah karena ia tidak ingin dipersalahkan jika sesuatu terjadi pada Tenten diapartemennya. Tenten tidak tahu mana yang lebih buruk, dikasihani atau dianggap beban oleh Uchiha Sasuke. Tapi satu yang Tenten yakini, hatinya terasa ditusuk-tusuk.

Sementara itu Sasuke menatap Tenten dengan tatapan penyesalan. 'Sial!' Rutuknya dalam hati. Begitu kata-kata kejam itu meluncur dari mulutnya, ia tahu bahwa itu salah. Sangat salah. Ia bisa melihat ekspresi Tenten yang berubah dari marah menjadi… entahlah, menjadi sesuatu yang membuat Sasuke merasa ingin melukai dirinya sendiri. Dia memang marah karena Tenten merahasiakan kondisinya ini darinya.

Menurut Sasuke, Tenten benar-benar bodoh karena mengambil resiko memperparah kondisi tulangnya dengan membiarkan Sasuke memperlakukannya sebagai pengurus rumah dan menyuruhnya sesuka hati. Demi Tuhan, Sasuke bukan monster. Kalau dia tahu kondisi Tenten, ia tidak akan menyuruh Tenten dengan seenaknya untuk datang ke apartemennya, membuatkannya kopi, membuatkannya makan dan membereskan apartemennya setiap hari.

Sasuke memberanikan diri untuk menyentuh lengan Tenten. "Panda." Gadis itu menyentakan tangannya, yang menandakan ia benar-benar tidak ingin disentuh oleh Uchiha Sasuke, dan itu membuat Sasuke merasa ingin mencekik lehernya sendiri. Tubuh gadis itu mulai berguncang, karena sesegukan.

"Panda dengarkan aku, aku minta maaf… aku tahu kata-kataku memang kejam tapi-"

"Keluar." Sasuke terhenyak, menatap gadis itu yang masih menyembunyikan wajahnya. "Keluar!" Suara itu semakin jelas.

"Panda… kau harus mendengarkan aku-" Tenten menolehkan wajahnya, jelas sekali amarah memenuhi wajah itu. Mata hazelnya menatap mata onyx Sasuke dengan tatapan marah dan.. benci.

"Keluar, sebelum aku memanggil satpam untuk menendangmu keluar!" Sasuke hanya bisa terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya berdiri.

"Baik! Kalau itu memang maumu." Sasuke segera berjalan kearah mantelnya lalu membuka pintu ruang rawat dan membantingnya dengan keras. Sasuke menghela nafas panjang ketika menyusuri koridor rumah sakit yang terasa tidak ada ujungnya. Berbagai emosi muncul dihatinya.

Sasuke merasa bersalah. Sangat bersalah. Terutama saat awal pertemuan mereka. Sasuke berusaha mengingat-ingat daftar kejahatannya pada gadis itu. Sering. Ia sering menyuruh gadis itu melakukan ini itu sesuka hatinya. Ia bahkan membiarkan Tenten keluyuran di tengah badai hingga membuat gadis itu hampir tak sadarkan diri. Membayangkan Tenten mendapat serangan Collapse di apartemennya sementara ia tertidur membuat Sasuke bergidik ngeri, membuat seluruh tubuhnya membeku. Ia tidak bisa membayangkan hal buruk itu terjadi pada 'panda-nya'.

Kalau saja ia tahu kondisi Tenten dari awal, ia tidak akan mungkin memberikan status pengurus rumah dan memeperlakuan Tenten seperti babu seperti beberapa hari belakangan. Itulah maksud Sasuke. Tetapi perasaan kesal, marah dan bingung membuat kata-kata Sasuke terdengar dua kali lebih kasar. Yang Sasuke tahu, sekarang ia sudah menyakiti Tenten. Sasuke bisa melihat dari kilatan amarah dimata gadis itu yang meredup, gelap. Mati. Gadis itu menyembunyikan wajahnya dari Sasuke. Menelan sesegukannya ketika mengusir Sasuke. Ketika Tenten mengusirnya keluar. Sasuke juga merasa bahwa Tenten mengusir dirinya dari kehidupan Tenten, menendang laki-laki itu jauh-jauh. Dan Sasuke malah kembali mebentak Tenten dan berjalan keluar dengan perasaan hampa yang perlahan merayapi tubuhnya.

bagaimana minnaa? di chappy ini ada keunyuan dan konflik yaa ahaha, Sasuke kasian ya, grgr gabisa kontrol emosi, Tenten jadi marah sama dia ckck, semoga aja mereka cepet maafan yaa..