Rated: T
Disclaimer: All of these chara are totally belongs to Mashasi Kishimoto,but this fic is officially mine.
Warning: Bahasa gajelas, setting gajelas, Crack pairing, OOC tingkat dewa, dsb.
SasuTen slight ItaTen
read it with ur own risks(:
Couple words from author:
Haihai minna! bagaimana kabarnya? sehatkah? semoga semuanya sehat yaa, oh iya author mau ingetin karena sekarang udh masuk musim ujan, minna-san jangan lupa bawa jaket kemana-mana yaa! minum vitamin juga biar tubuh tetep fit ditengah cuaca dingin hehe (author perhatian bgt deh, lopelope) wkwk-_- yak di chappy kemaren Sasuke udh bikin kesalahan FATAL, yang bikin Tenten yang jarang banget ngambekan dan jarang bgt marah jadi marah dan ngusir dia dari ruang rawat :( hayoloh Sasuke! kamu harus minta maaf sama Tenten wkwk~ ok author bales reviews dulu yaa...
Bang Ari: ahehe iya ini udh diapdet, maaf ya gabisa apdet terlalu cepet soalnya banyak tugas sekolah gituuu hehe, iyaa gapapa kok, makasih ya udh review :)
Leomi no Kitsune: ahaha, maklum lah orang sedingin Sasuke bisa juga meledak kalo cewek yang dia sukain nyimpen rahasia gituu (ups! spoiler wkwk-_-) makasiiih yaa, ini udh diapdet kokk, silahkan dibaca semoga Leomi sukaa :)
sasuten: aduuh makasih yaa, engga kok author disini masih newbie hehe, doakan semoga inspirasi author ga mantek ditengah jalan yaa, hehe...
Oke semua reviews udh dibales, langsung aja yaa chappy 20~
Chapter 20
Ino baru saja mengantarkan pesanan satu-satunya ke pengunjung café dipagi hari itu ketika matanya menemukan sosok Tenten tengah duduk sendirian diujung café. Ia mengira akan menemukan Tenten tengah sibuk mengajar anak-anak pagi itu, tetapi kali ini Tenten terlihat duduk sambil menatapi mejanya dengan tatapan kosong. Ino berjalan menghampiri Tenten.
"Tenten?" Panggil Ino ketika jaraknya sudah dekat dengan Tenten. "Apa yang kau lakukan disini? Bukankah seharusnya kau mengajar sekarang?" Tenten tersentak dan menatap Ino. "Oh hai, Ino. Bagaimana pagimu? Sibuk?" Tanya Tenten sambil tersenyum lirih kearah Ino.
Ino mengerjap heran ketika melihat mata hazel Tenten yang sembab dan hidungnya yang merah. Apakah Tenten habis menangis? Entahlah gagasan itu terasa asing bagi Ino, karena selama mengenal Tenten, ia tidak pernah melihat gadis periang itu menangis. Tenten selalu terlihat ceria. Selalu.
"Tenten? Ada apa?" Tanya Ino yang akhirnya duduk dihadapan Tenten. "Kau terlihat-"
"Tidak apa-apa." Sela Tenten sambil mencoba tersenyum menenangkan, tapi usahanya gagal. Senyuman itu sama sekali tidak menenangkan Ino, malah membuatnya semakin heran. "Ini hanya alergi."
"Oh begitu." Kata Ino, ia mengerti. Ia tidak akan mendesak Tenten. Gadis itu melirik kearah headset yang terselip ditelinga Tenten.
"Kau sedang mendengarkan lagu apa?" Tenten tersentak lalu meraih salah satu headsetnya. "Lullaby. Mau mendengarkan?" Tanya Tenten sambil menyodorkan headset itu dan mencondongkan tubuhnya kedepan. Ino mengangguk lalu meraih headset itu dan menyelipkannya ditelinga.
Senyuman halus mengembang di wajah cantik Ino ketika alunan lagu klasik merayapi pendengarannya. "Kau tahu, aku memang tidak terlalu suka dengan lagu klasik. Tapi lagu ini. Sangat bagus." Kata Ino sambil tersenyum kearah Tenten. "Apa kau berencana membuat koreo baru dengan lagu ini?"
"Rencananya begitu." Kata Tenten sambil melepaskan headsetnya, Ino ikut melepaskan headsetnya dan menaruhnya diatas meja. "Tapi saat ini, aku tidak bisa memikirkan satu gerakanpun."
"Omong-omong bagaimana acara amal itu? Sukses? Apa banyak artis yang datang?" Tanya Ino,berusaha mencari topic yang akan memperbaiki suasana hati Tenten. Tapi, pertanyaan itu sepertinya malah membuat suasana hati Tenten memburuk. "Acaranya sukses, Amber sudah menjalani pengangkatan tumor diotaknya, kudengar operasinya berjalan dengan baik." Kata Tenten tanpa sedikitpun antusiasme. Ino hanya mengangguk kecil. Lalu kembali mengganti topic. "Kau tidak ada kelas? Lalu kenapa kau tidak ke apartemen Sasuke?"
"Tidak."
"Tidak? Mengapa tidak?"
"Karena aku tidak akan datang kesana lagi."
"Tapi kenapa?"
"Karena dia tidak membutuhkanku lagi. Tidak ada seorangpun yang butuh bantuanku lagi." Ino mengernyitkan hidungnya, lalu bertanya dengan hati-hati.
"Kalian bertengkar?" Tenten hanya bisa terdiam, ia memilih untuk tidak menanggapi pertanyaan sahabatnya. "Lalu bagaimana hubunganmu dengan Itachi?" Tanya Ino lagi. Gadis itu penasaran, setelah aksi membingungkan Itachi beberapa hari yang lalu dibandara. Ia ingin memastikan Itachi benar-benar menganggapnya special. Tenten menghela nafas panjang.
"Bisa kita tidak menyinggung dua Uchiha itu?"
xXx
"Bisakah seseorang memberitahu sebenarnya apa yang terjadi padaku?" Tanya Sasuke kesal sambil menyesap martininya dengan perlahan. Sasuke merasa kesal setelah beberapa hari berlalu tanpa Tenten. Entahlah selama beberapa hari ini semua hal disekelilingnya terasa salah. Ia merasa udara dingin di bulan desember sangat salah dan membuatnya marah setiap pagi, orang-orang yang mengobrol disekelilingnya membuatnya ingin berteriak frustasi, dan bahkan alunan musik para pemain musik di Lincoln Auditorium terdengar sumbang baginya. Ya beberapa hari belakangan, Sasuke memutuskan menyibukan diri dengan turun langsung untuk melihat perkembangan para pemusik pengiring recitalnya kelak. Hari ini adalah puncak dari kemarahan Sasuke. Laki-laki itu berkali-kali mencaci maki pemain biola, menyalahkan sound system yang menurutnya tidak layak, dan menyalahkan beberapa staff yang mengurus dekorasi panggung.
"Kau, temanku yang baik, sedang kacau." Kata Naruto yang duduk disebelahnya. "Meskipun aku tidak tahu apa yang membuatmu kacau karena kau sama sekali tidak mau memberitahuku."
Setelah selama lima hari Sasuke pulang dengan frustasi ke apartemennya, Sasuke memutuskan untuk menelpon Naruto dan memaksa sahabat sekaligus manajernya untuk menemaninya minum-minum diluar. Jadi disinilah mereka sekarang, duduk bersebelahan disebuah bar yang tidak terlalu ramai di Soho.
Sasuke menghela nafas panjang, lalu meringis kecil. "Dia tidak mau mengangkat telponku."
"Siapa?"
"Dia."
"Dia siapa?"
"Panda." Naruto menoleh kearah Sasuke, menatap laki-laki itu dengan tatapan bingung. "Maksudku.. Tenten." Kata Sasuke agak gugup.
"Ya Tuhan, kau sudah memberikan nama panggilan kesayangan untuknya. Dan lihat, jiwa ragamu hancur lebur karena panda kesayanganmu itu tidak menjawab telponmu?" Tanyanya dengan nada tidak percaya. "Tidak! Tentu saja tidak!" Sergah Sasuke cepat. "Maksudku.. itu salah satu penyebab dari.. Tidak, bukan! Maksudku.. dia.. aku.. F*ck!" Sasuke kembali meneguk martininya dengan kasar lalu mengusap wajah dengan kesal. "Dia tidak mau mengangkat telponmu." Gumam Naruto sambil memutar-mutar gelasnya dengan pelan. "Kalian bertengkar?" Sasuke tidak menjawab.
"Wah, Tenten pasti sangat marah padamu kalau dia sampai mengabaikanmu seperti ini." Sasuke hanya memberengut.
"Kau sudah mencoba meminta maaf padanya?" Sasuke melotot kesal kearah sahabat sekaligus Menejernya. "Menurutmu bagaimana aku bisa melakukannya kalau dia tidak mau menjawab telponku?"
"Ah benar juga. Maaf." Gumam Naruto sambil mengangguk-angguk. Lalu Sasuke menatap Naruto dengan perasaan tersinggung.
"Tidak perlu emosi, Sasuke. Aku hanya mencoba membantu."
Sasuke mendengus kesal.
"Kau sudah mencoba menemuinya di ice rink?"
"Sudah. Tapi aku tidak pernah melihatnya disana, lagipula pemilik ice rink itu seperti menghalangiku untuk datang ke sana. Kenapa tidak sekalian saja dia memasang plank yang berbunyi 'Uchiha Sasuke dilarang masuk'?" Gerutu Sasuke kesal. Naruto membekap mulutnya, berusaha menahan tawa lalu bertanya. "Apakah kau sudah mencoba pergi ke apartemennya?"
"Sudah tapi tidak ada yang menjawab. Entah dia sedang pergi atau sengaja tidak mau membuka pintu."
"Wah, sepertinya Tenten benar-benar marah padamu, dude."
Sasuke menatap Naruto dengan tatapan kesal. "Well terimakasih karena sudah mengingatkanku lagi, dude." Katanya dengan penekanan di kata 'dude'.
"Hentikan sikap sinismu itu, atau aku tidak mau menolongmu lagi." Kata Naruto santai. "Aku tidak ingat pernah meminta bantuanmu."
"Oh ya? Jadi menelponku tengah malam dan mengajakku keluyuran ke bar bukan untuk meminta bantuan?" Pancing Naruto "Kalau begitu, apakah sebaiknya aku membiarkanmu tenggelam dalam penderitaanmu sendiri?"
"Sasuke?"
Sasuke yang sudah membuka mulut hendak membalas kata-kata temannya, menutup mulutnya kembali dan menoleh kesamping. Gadis berambut pirang disampingnya menatapnya dengan tatapan kaget, mata aquamarine nya terlihat memantulkan cahaya temaram bar itu. Sasuke mengerutkan keningnya, mencoba mengingat gadis ini. Ah tentu saja.
"Ino? Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Sasuke agak kaget, laki-laki itu menggeser duduknya kesamping, membiarkan Ino duduk diantara ia dan Naruto.
Ino mengambil tempat duduknya dan memesan gin and tonic kepada bartender. "Aku hanya sedang bosan."
"Oh, kenalkan itu Naruto. Naruto, ini Ino." Kata Sasuke memperkenalkan kedua manusia itu dengan singkat. Ino menoleh kesamping lalu tersenyum kecil dan mengulurkan tangannya. "Halo, aku Ino." Naruto tersenyum lebar lalu menjabat tangan Ino. "Aku Naruto, apa kau single?" Ino mendengus lalu tertawa sementara Sasuke hanya bisa memutar kedua bola matanya.
"Naruto memang begitu, tidak usah ditanggapi." Ino hanya terkekeh lembut lalu menoleh kearah Sasuke. "Bagaimana kabarmu, Sasuke? Kelihatannya kau membaik." Kata Ino sambil melirik sekilas ke tangan kanan Sasuke.
Naruto mendengus. "Membaik? Dia masih senewen seperti beruang yang belum menemukan pasangan di musim kawin."
Ino menggigit bibir bawahnya, menahan tawanya sementara Sasuke berharap bisa mencekik sahabatnya yang banyak mulut.
"Sebenarnya dia sedang bertengkar dengan seseorang." Kata Naruto tanpa ditanya, Ino sontak saja menoleh kearah Naruto. "Oh ya? Jadi siapa orang yang mengalami musibah ini?" Naruto tersenyum geli lalu melanjutkan.
"Seorang gadis teman Itachi-senpai, namanya Tenten." Desakan yang dirasakan Sasuke untuk mencekik menejernya pun semakin besar.
'Demi Tuhan, bisakah Naruto menutup mulutnya barang satu menit saja?' Geram Sasuke dalam hati. Ino mengerjap kaget lalu menatap Sasuke.
"Kau bertengkar dengan Tenten? Kalian bertengkar?" Tanya Ino kepadanya, "Pantas saja Tenten berkata ia tidak akan mengunjungi apartemenmu lagi." Kata Ino sambil menyesap minumannya. Sasuke tersentak kaget, rasa beku kembali menjalar dipunggungnya.
'Tenten berkata ia tidak akan mengunjungi apartemenmu lagi.' Kata-kata Ino terus berputar dikepala Sasuke. Gadis itu tidak akan datang? Semarah itukah Tenten padanya. "Wow kawan, sepertinya kau harus melakukan sesuatu." Gumam Naruto sambil menatap sahabatnya dengan tatapan prihatin.
"Oh ya, Ino. Apakah kau bertemu dengan Tenten hari ini?" sela Naruto sebelum Sasuke membuka mulut. "Apakah dia mengadu padamu bahwa Sasuke membuatnya kesal?"
"Aku bertemu dengannya tadi pagi." Kata Ino. "Tidak, dia seolah menyembunyikan sesuatu. Tapi aku bisa tahu kalau suasana hatinya sedang mendung, makanya aku mencoba sesuatu untuk membuatnya gembira, dan sepertinya hal itu berhasil."
Kepala Sasuke menoleh menatap Ino, memperhatikan gadis itu berbicara.
"Oh ya? Apa yang kau lakukan padanya?"
"Aku mengajaknya menonton pertunjukan perdana Dearburn besok lusa." Kata Ino santai. "Karena belakangan ini Tenten sering mampir ke tempat latihan Dearburn, sepertinya suasana hatinya membaik ketika aku memberi tiket itu padanya."
"Panda akan menghadiri acara itu?" Tanya Sasuke spontan, Ino menatap Sasuke dengan tatapan heran, disusul oleh Naruto yang menatapnya dengan alis berkerut. Sasuke berdeham sekali lalu meralat kata-katanya.
"Maksudku, apakah Tenten akan menghadiri acara itu?"
"Tentu saja." Jawab Ino sambil menahan senyumannya. Sementara Naruto berkata. "Bukannya kau dan Itachi-senpai diundang juga kesana?"
"Itachi-senpai tidak akan datang, dia sedang di Canada sekarang." Kata Ino cepat, terlalu cepat. Naruto mengangguk singkat.
Sementara Sasuke terlihat sedang merenung. Dia sudah berusaha bertemu dan menghubungi Tenten tanpa hasil beberapa hari ini. Gadis itu benar-benar ingin menjauhinya bukan? Baiklah. sekarang Sasuke bisa menemuinya di pertunjukan perdana Dearburn, gadis itu pasti akan datang. Sasuke akhirnya bisa bertemu dengannya disana, dan ketika saat itu tiba, Tenten harus mendengarkan penjelasan Sasuke. Kalau perlu Sasuke akan membawa tali tambang untuk mengikatnya agar ia tidak lagi menghindari Sasuke "Apa kau akan pergi kesana?" Tanya Ino. Seulas senyum menghiasi bibir Sasuke. "Itu ide yang bagus bukan?"
"Hei tunggu dulu sobatku, besok lusa kita sudah punya janji makan malam dengan produser-produsermu." Sela Naruto tiba-tiba. "Jangan bilang kau lupa, karena sudah beratus ribu kali aku menelponmu untuk mengingatkanmu akan janji itu."
Sasuke mengerang. "Kita bisa menggeser acara makan malam itu kehari lain bukan?" Naruto menggeleng tegas. "Tidak kali ini Sasuke. Kau tahu, mereka tidak suka kalau kau tiba-tiba membatalkan rencana, padahal kau sendiri yang sudah menyetujuinya sejak awal."
"Aku tidak bermaksud membatalkannya, aku hanya ingin menggeser harinya." Sergah Sasuke walaupun ia tahu Naruto benar, ia tidak bisa membatalkan acara makan malamnya dengan produser-produser penting itu. Melihat Naruto mendesah dan menggeleng-geleng, Sasuke mendengus kesal lalu menggerutu. "Baiklah, baiklah. tidak usah bersikap hiperbola begitu. Aku akan datang."
'Setelah aku menyelesaikan urusanku dengan panda satu itu, tentu saja.' Gumam Sasuke dalam hati. Laki-laki itu melirik kearah Ino yang sedari tadi sibuk menikmati minumannya, lalu memanggil gadis itu.
"Ino?" Gadis itu langsung menoleh kearah Sasuke, seulas senyum kecil mengembang diwajah tampan Sasuke. "Aku butuh bantuanmu."
'Pokoknya kali ini Tenten harus mendengarkanku, apapun yang terjadi. Harus.'
xXx
"Kau melamun lagi."
Tenten mengerjap dan mendongak, manatap Ino yang duduk dihadapannya. "Maaf apa katamu tadi?" Tanya Tenten. Ino mendesah dan menyandarkan punggungnya kesandaran kursi. "Nah, aku benar. Kau sama sekali tidak mendengarkan apa yang kukatakan sedari tadi."
Tenten tidak membantah, gadis itu menghela nafas panjang dan tersenyum lemah. "Maaf."
"Sudahlah lupakan." Kata Ino sambil meminum the darjling yang masih mengepulkan asap. Tenten menatap lurus kedepan seraya meraih tehnya dan meminumnya perlahan. Malam ini adalah malam pertunjukan perdana Dearburn di New York, walaupun sebenarnya Tenten tidak terlalu antusias menyaksikan pertunjukan ini (karena ia tidak ingin mengingat kenyataan bahwa ia tidak bisa mewujudkan impiannya untuk meluncur di sky rink.) Ia sudah berjanji akan menemani Ino. Ia tahu Ino berusaha membuatnya senang dengan mengajaknya menonton pertunjukan ini, makanya ia memutuskan untuk datang. Dan disinilah mereka, duduk disalah satu café di lobby gedung sky rink bersama Ino, menunggu waktu pertunjukan dimulai dan menunggu pintu tribun dibuka.
"Apa yang sedang kau pikirkan, Tenten?"
Tenten kembali menatap sahabatnya. "Apa maksudmu?" Ino mencondongkan tubuh langsingnya kedepan dan menatap Tenten lurus-lurus.
"Kau terlihat murung akhir-akhir ini. Kau berubah diam, kau juga sering melamun, kau selalu terlihat pucat dan kau…" Ino menghentikan kata-katanya dan menarik nafas panjang. "Dengar, aku tidak akan mendesakmu memberitahuku apa yang mengganggu pikiranmu. Aku hanya ingin kau tahu bahwa jika kau butuh seseorang untuk bicara, aku ada disini. Aku mungkin tidak bisa banyak membantu, tapi setidaknya aku bisa mendengarkan." Kata Ino, berusaha memancing sahabatnya untuk bercerita padanya, meskipun ia sudah tahu alasan kenapa Tenten berubah, tapi ia ingin mendengarnya langsung dari mulut Tenten. Tenten menelan ludah dan berusaha menarik nafas dengan susah payak. Dadanya terasa sakit, sementara bibirnya berusaha menorehkan seulas senyuman. "Terimakasih Ino, tapi aku baik-baik saja. Sungguh."
Ino tersenyum kecewa, ia sudah tahu Tenten tidak akan membicarakan ini. Lalu, ia memutuskan untuk mengganti topic.
"Jadi, apa kau sangat antusias dengan pertunjukan ini?" Tenten mengangkat kedua bahunya. "Tentu saja, maksudku. Dearburn adalah club skater terkenal didunia." Ino mengangguk kecil.
"Omong-omong, kau sering menghabiskan waktu di tempat latiha Dearburn, ada apa sebenarnya? Apa disana ada laki-laki yang memikat hatimu?" Tenten mendengus lalu tertawa ketika mendengar celetuk sahabatnya.
"Tidak, tidak ada yang memikat hatiku."
"Sungguh? Sepertinya tidak mungkin kau datang kesana kalau tidak ada satu orang special pun yang kau temui." Tenten lagi-lagi tertawa lalu menggeleng. "Tidak ada, aku hanya merindukan mantan coachku, sudah lama sekali aku tidak melihatnya mengajar."
Ya, sebenarnya alasan Tenten menemui Gustav adalah untuk membicarakan 'sesuatu' dan mengenang masa lalu. Sudah lama sekali ia tidak melihat tingkah Gustav saat mengajar. Ia juga bertemu dengan beberapa teman lamanya disana, bersenda gurau bersama. Setidaknya itulah alasan yang dikatakannya pada diri sendiri. Bukan karena ia kesepian. Bukan karena ia harus mengisi kekosongan. Bukan karena ia ingin menyingkirkan Uchiha Sasuke dari pikirannya.
'Kalau begitu kenapa kemarin malam kau mendapati dirimu berdiri didepan gedung apartemennya?' Tanya suara dalam kepalanya. Tenten menggeleng keras, mengenyahkan suara kecil mengganggu dalam kepalanya. Kemarin malam, ketika ia hendak pulang ke apartemennya sendiri dari ice rink seusai mengajar, entah bagaimana ia mendapati dirinya menghentikan mobil paceman kuninnya didepan gedung apartemen Sasuke di kawasan pemukiman Riverside Drive. Ia tidak tahu apa yang menguasai otaknya, ia tidak tahu alien atau parasit jenis apa yang menggerogoti kewarasannya. Merasa konyol dan yakin bahwa ia mulai kehilangan kewarasannya, Tenten pun bergegas pergi dari apartemen Sasuke tanpa melakukan apapun.
"Kau melamun lagi."
"Aku tidak melamun." Bantah Tenten walaupun ia tahu ia memang melamun tadi. Ino memandang kesekitar lalu berkata. "Omong-omong, aku mau ke toilet, kau mau ikut?" Tenten menggeleng. "Aku menunggumu disini saja." Ino tersenyum dan berdiri. "Silahkan lanjutkan lamunanmu selama aku pergi."
Sepeninggal Ino, Tenten mendesah dalam hati dan kembali termenung. Ia baru hendak tenggelam dalam dunianya ketika ponselnya berdering keras, Tenten segera merogoh sakunya dan menarik keluar ponselnya. Gadis itu tertegun ketika membaca nama yang terpampang dilayar ponselnya yang berkedip. Uchiha Sasuke.
Tenten meletakkan ponselnya diatas meja, membiarkannya terus berbunyi dan bergetar. Pada akhirnya deringan itu akan berhenti dan Tenten akan membiarkannya berhenti berdering dengan sendirinya. Ia tidak akan menjawab telpon itu. Ia tidak bisa menjawabnya. Sejenak kemudian ponselnya berhenti berdering dan bergetar. Setelah itu barulah Tenten menghembuskan nafas yang sedari tadi ditahannya tanpa sadar dan meraih ponselnya.
"Sampai kapan kau mau menjadi pengecut dan menghindariku?" Tenten melompat kaget, sama sekali tidak menyangka akan mendengar suara rendah bernada datar yang sering terngiang dikepalanya akhir-akhir ini. Ia mendongak dengan cepat dan langsung bertatapan dengan mata gelap milik Sasuke. Lidah Tenten terasa kelu. Sejenak pikirannya kosong. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa menatap Sasuke yang mengambil tempat Ino dan duduk berhadapan dengannya. Sasuke menatap Tenten dengan tajam dan lurus.
"Katakan padaku, sampai kapan kau mau jadi pengecut dan terus menghindariku?" Tanyanya sekali lagi, menyadarkan Tenten dari keterkejutannya.
"Dan jangan coba-coba berkata bahwa kau tidak menghindariku, karena aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kau sama sekali tidak memiliki niat untuk mengangkat telponku tadi." Tenten menghela nafas dalam-dalam dan memalingkan wajahnya. "Baiklah." gumamnya.
"Apa yang kau inginkan?"
Sasuke tidak langsung menjawab, laki-laki itu menatap mata hazel nut Tenten dalam-dalam lalu berkata. "Kenapa kau menghindariku?"
"Aku hanya menghindari orang yang ingin dihindari."
"Apa?" Sasuke mengernyit. "Kau pikir aku ingin kau menghindariku?" Tenten mengangkat kedua bahunya.
"Kalau aku memang ingin dihindari, menurutmu kenapa aku menelponmu berkali-kali? Menurutmu kenapa aku terus berusaha menemuimu?" balas Sasuke. Nada frustasi terdengar jelas didalam suaranya. Hal itu membuat kejengkelan Tenten muncul.
"Well aku tidak tahu." Tukasnya ketus. "Ketika terakhir kali kita bertemu, kau menyatakan dengan jelas bahwa kau sama sekali tidak ingin berurusan denganku, Uchiha Sasuke." Sasuke membuka mulut, hendak membalas kata-kata Tenten tapi membatalkannya.
Karena Sasuke tidak berkata apa-apa, Tenten mendengus kesal dan memaksa diri menatap Sasuke. "Sasuke, sebenarnya apa yang kauinginkan?" Tanyanya datar. "Aku.." Sasuke memejamkan matanya, menghela nafas dalam-dalam. "Aku minta maaf."
Mata Tenten melebar tapi tidak mengatakan apa-apa.
"Dengar, panda." Kata Sasuke sambil mencondongkan tubuhnya kearah Tenten, menatap gadis itu dengan tajam. "Aku tidak ingat lagi rangkaian kata maaf melankolis yang dibuatkan Naruto padaku kemarin malam, tapi aku sangat yakin, sangat yakin atas diriku sendiri, aku tidak bermaksud menyuruhmu menghindariku. Sama sekali tidak. Aku tahu apa yang kukatakan terdengar sangat salah, jadi aku minta maaf."
Tenten menatap Sasuke sejenak, mencoba menilai kesungguhannya. Oh ya, Tenten bisa melihat kesungguhan dalam mata gelap itu, ia juga melihat kegugupan disana. Hal itu membuat Tenten tersenyum. Siapa yang menyangka Uchiha Sasuke bisa merasa gugup dihadapan Tenten?
"Kau berteriak-teriak padaku waktu itu." Kata Tenten, masih dengan nada datar yang sama. Sasuke meringis. "Aku juga minta maaf soal itu." Gumamnya pasrah. Tenten ingin tetap marah pada Sasuke, tapi ia tahu ia tidak akan pernah mampu melakukannya. Bahkan ketika pertama kali ia mendongak dan melihat Sasuke berdiri disampingnyam ia sudah tahu bahwa ia tidak lagi marah pada laki-laki itu. Seolah bisa membaca pikiran Tenten, dan tahu bahwa ia sudah dimaafkan, Sasuke tersenyum dan berkata.
"Kau tahu? Kalau kau tidak sibuk menghindariku selama ini, kau pasti sudah mendengar permintaan maafku lebih awal." Tenten mendengus dan memutar kedua bola mata indahnya, namun ia tidak bisa menahan senyuman yang mulai mengembang dibibir mungilnya.
"Jadi bagaimana kabarmu?" Tenten menyadari nada suara Sasuke melembut, dan kenyataan kecil itu membuat jantungnya berdebar bahagia.
'Oh kami-sama! Ini sangat konyol.' Gerutunya dalam hati.
"Baik-baik saja." Sahutnya. Ia melirik sekilas kearah Sasuke lalu membalas bertanya. "Bagaimana kabarmu sendiri?"
"Well, aku tidak bisa bilang bahwa aku baik-baik saja selama beberapa hari belakangan. Tapi, aku baik."
Tenten mengangguk singkat, sementara Sasuke menatap Tenten lekat-lekat. "Kau yakin kau baik-baik saja? Tidak ada serangan semenjak hari itu?" Tenten terdiam sejenak, setelah menginap dirumah sakit selama dua hari satu malam, dokter menyatakan bahwa kondisinya semakin memburuk, tapi ia tidak mengalami serangan collapse seperti waktu itu, namun akhir-akhir rasa nyeri tajam di punggungnya semakin sering terasa, ditambah lagi keseimbangannya yang mulai terganggu. Dokter itu benar akan satu hal. Cepat atau lambat Tenten tidak akan bisa menyentuh permukaan es lagi. Beberapa kali ia hampir limbung diatas permukaan es karena keseimbangannya yang seketika hilang, tapi Sasuke tidak perlu tahu semua itu. Tidak sekarang ketika sepertinya ia dan Sasuke baru saja berbaikan.
"Panda?" Tenten mengerjap kaget lalu menjawab dengan kikuk. "Ti-tidak.. tidak ada serangan collapse lagi." Sahutnya ketika mengingat pertanyaan Sasuke. "Kau bisa tidur nyenyak?" Seulas senyum mengembang di wajah Tenten, namun segera menghilang. "Tidak juga." Katanya, memutuskan untuk jujur. "Well, kau tidak sendirian dalam hal itu." Sahut Sasuke lirih. Ketika Tenten hendak bertanya apa maksud Sasuke, ia disela oleh kedatangan Ino, ia mendongak menatap Ino yang tengah menatap Sasuke.
"Oh hai, Sasuke. Aku tidak mengira kau akan bergabung dengan kami disini." Kata Ino sambil duduk diantara Tenten dan Sasuke. Sasuke tersenyum geli. "Well, aku juga tidak menyangka bisa bergabung dengan kalian."
"Kenapa kau lama sekali di toilet?" Sela Tenten sambil menatap sahabatnya dengan tatapan menyelidik. Dari sudut matanya, ia bisa melihat Sasuke yang tengah menggigit bibir bawahnya. Menahan tawa.
"Lama?" Ujar Ino membeo. "Kurasa aku tidak terlalu lama." Saat itu ponsel Sasuke berdering. "Ya Naruto?" Kata Sasuke setelah menempelkan ponselnya ditelinga. Laki-laki itu diam sejenak, mendengarkan lalu akhirnya mendengus.
"Aku tidak lupa. Aku akan kesana sekarang, dan berhentilah bersikap hiperbola seperti itu." Tenten menoleh ketika Sasuke memasukan ponselnya kedalam saku celana. "Ada apa dengan Naruto?" Tanya Tenten. Sasuke meringis kecil. "Ia hanya ingin memastikan kalau aku tidak lupa bahwa malam ini kami punya janji makan siang dengan produser-produserku." Gerutunya.
"Kurasa aku harus pergi sekarang." Tenten mengerjap heran.
"Sekarang?" Tanyanya. "Bukankah kau datang untuk melihat pertunjukan Dearburn?" Sasuke melemparkan senyuman kecil yang sanggup membuat seratus deretan wanita jatuh pingsan ditempat. "Tidak." Sahutnya ringan.
"Lalu?" Sasuke mengangkat kedua bahunya. "Kau menghindariku. Kau tidak mau menjawab telponku, jadi kupikir kau tidak mungkin menghindar kalau aku menemuimu disini." Katanya sambil melirik singkat kearah Ino yang berusaha menahan tawanya. Sasuke berdiri dari kursinya lalu menoleh kearah Ino. "Baiklah, sepertinya aku harus segera pergi, senang bisa bertemu kalian disini." Katanya sambil menatap Tenten dan tersenyum ringan.
"Pastikan kau menjawab telpon dariku mulai sekarang." Tenten melongo. Apa katanya tadi? Sasuke datang kesini hanya untuk menemuiku?
"Kami-sama, dia benar-benar menyukaimu."
"Apa?" Tanya Tenten yang langsung melempar tatapan tajam kearah sahabatnya. Ino mendesah menatap punggung Sasuke yang semakin menjauh.
"Dia menyukaimu, Tenten." Kata-kata Ino menimbulkan sebersit perasaan aneh di dadanya. Sementara Ino menelan ludahnya dan kembali berkata.
"Dugaanku benar, dua Uchiha itu menyukaimu." Kata Ino berusaha santai, meskipun hatinya terasa disayat-sayat. Tenten menatap sahabatnya dengan tatapan bingung. "Dua Uchiha? Maksudmu Itachi-senpai dan Sasuke?"
"Yea, siapa lagi memangnya?" Kata Ino sambil mengangkat kedua bahunya. Tenten terdiam sejenak, sudah hampir seminggu ia tidak bertemu Itachi, dan selama seminggu ini sesuatu terjadi didalam hatinya. Tenten tidak bisa memastikan apa yang terjadi didalam hatinya, tapi ia yakin hal itu nyata.
"Tapi, kulihat sepertinya Sasuke berhasil membuatmu benar-benar tersenyum." Kata Ino dengan penekanan dikata benar-benar. "Akhir-akhir ini kau selalu diam termenung, menjadi pendiam. Ini pertama kalinya aku melihatmu tersenyum. Seperti kataku tadi, benar-benar tersenyum. Bukan senyum sopan atau senyum terpaksa." Tenten menyesap tehnya tanpa berkata apa-apa.
Jantung Ino melompat bahagia, gadis itu mengerjap kaget lalu berkata. "Kami-sama, kau juga-"
"Tidak." Sela Tenten tajam dan menatap Ino dengan tatapan panic. Melihat mata Ino yang melebar kaget, Tenten berdeham dan menyahut dengan pelan. "Ini tidak seperti dugaanmu."
Tenten tahu apa yang akan dikatakan oleh sahabatnya, tetapi ia tidak ingin mendengarnya. Ia tidak ingin membuat perasaannya goyah. Lebih tepatnya ia tidak mau mengakui bahwa perasaannya mulai goyah. Tetapi jauh didalam lubuk hatinya, ia benar-benar merasakan itu, bagaimana perasaannya yang sudah dipupuk sejak lama dan tumbuh kini tengah diterjang angin besar dan hampir rubuh, seiring dengan kepergian Itachi yang tanpa kabar sama sekali. tetapi itu perasaan terlarang baginya. Ia tidak boleh merasakannya. Ia tahu Itachi menyukainya, dan ia juga menyukai Itachi. Ia tidak bisa menyukai Sasuke, tidak boleh. Karena orang yang Tenten suka hanya Itachi. Dulu Tenten sangat yakin akan perasaannya pada Itachi, tapi sekarang? Ia tidak yakin akan perasaannyannya sendiri.
UUUUUU, sosweet angeyy Sasuke-kun :3 ahahaha, yap aku sebenernya agak susah juga menunjukkan kalo Sasuke suka sama Tenten, soalnya kan sifat asli dia itu dingin bgtt, aku takut di fic ini Sasuke nya terlalu OOC... gimana minna? menurut kalian Sasuke nya OOC engga:( kalo iya, kasih saran ya gimana bikin Sasuke gaterlalu OOC tapi bisa nunjukin kalo dia suka sama Tenten :) oke segitu ajaa, sampai bertemu di chappy selanjutnyaa...
