Rated: T

Disclaimer: all of these chara are totally belongs to Mashasi Kishimoto, but this fic officially mine.

Warning: bahasa gajelas, setting gajelas, Crack pair, OOC tingkat dewa, dsb.

SasuTen slight ItaTen

read it with ur own risks(:

Couple words from author:

Holla! senang sekali bisa kembali apdet disinii. lagi-lagi author minta maaf buat keterlambatan apdetnyaa :( modem author bermasalah jadi harus nunggu beli modem baru deh :( sekali lagi author minta maaf yaaa minna-san :') author bales reviews dulu yaa..

Bang ari: Terimakasyiii, Sasuke emang bisa unyuuu tapi kadang-kadang doang (ampun Sasuke peace out :D) Iyaa ini udh diapdet kok maaf yaa lama bgtt :(

ItaTen: ehehe, kalo lumutan nanti aku panggilin Garry biar lumutnya dimakan :3 *plak! hihi, enggaa kok fic mu juga baguuss hihi, btw aku selalu baca fic kamu loo, tapi gabisa review karena dari hp nyehehe :3 akuu juga masih amatiran kokk, masih perlu belajaar (ikutan nangis) yuk cus ah kekamar mandii nyihihi #plak! yee dasar maruukk, kan soal begituan cuman hati yang bisa berkataa *azeekksundulgaann! wkwkwk -_-

Hanamizuki: ahaha maaf yaa agak lama apdetnyaa ada kesalahan teknis nih hfft :( makasyiiii hihihi jadi malu nicc :3 iyaa fic nya pasti dilanjutin kok (tapi apdetnya pasti ngaret MAAAFFF :(:(:(:(:()

akira-ken: di chappie ini Ita bakal dikasih tau semuanyaa sama Sasuke dan Tenten sooo read it yaa :3 aduuh maaf yaa atas keterlambatan apdetnyaa :( ada kesalahan teknis soalnyaa :(

SasuTen: iyaa itachi akhirnya pulang jugaa, hihihi... aduh maaf banget yaa apdetnya ngaret lagiii :"( iyaa makanyaa tapi aku takut Sasuke OOC ;') makasyiiiii yaaa keep reading babe :*

Jelliesdewi: salam kenal jugaa hehehe, makasih ya udh mau reviewss di fic karyaa amatiran ini hehehe :3 ini udh di apdett tapi ngaret bgtt karena ada kesalahan teknis maafyaaa :(

Nah semuanya udh dibaleess yeyyy. sekali lagi author minta maaf atas keterlambatan apdetnyaa :(:( sumfeeh author bener-bener mintaa maaf dari lubuk hati terdalaaammm :'( okee author gamau banyak cingcong lagii (bujugg bahasa taon kapan tuh thor?) langsung ajaa yaa kita ke chappie 22!

Chapter 22

Dengan frustasi Tenten meletakan tabung obatnya diatas counter pualam. Gadis itu menghela nafas berat, lalu mendengus kesal seraya mencoba membuka tabung itu sekali lagi. Tetap tidak terbuka. Sepertinya tangannya berubah menjadi agar-agar kenyal malam ini. Tepat pada saat itu, Tenten mendengar suara yang memanggilnya. "Panda?"

Tenten menghela nafas lega, tetapi tidak beranjak dari kursi tinggi yang didudukinya. Gadis itu tidak ingin mengambil resiko terjatuh tegeletak diatas lantai. "Didapur." Sahutnya dengan suara parau. Beberapa detik kemudian Sasuke sudah muncul diambang dapur. Kening laki-laki emo itu berkerut ketika melihat Tenten tengah menopang kepalanya dengan tangan. "Hei, panda? Kau tidak apa-apa?" tanyanya yang otomatis melangkah lebar mendekati Tenten dan menggenggam tangan kurusnya. "Aku hanya merasa agak lelah hari ini." Kata Tenten jujur. Ia yakin wajahnya tidak lagi pucat setelah Sasuke menyentuhnya, karena pipinya mulai terasa hangat. "Ditambah aku tidak bisa membuka tabung sial ini." Kata Tenten sambil melirik tabung kaca yang hampir ia banting ke lantai karena frustasi tidak bisa membukanya. Sasuke melangkah mundur.

"Berikan padaku." Kata Sasuke sambil mengulurkan tangannya dan menerima tabung kaca yang diserahkan oleh Tenten. "Sudah waktunya minum obat?" Tenten mengangguk lesu. Ia mengamati Sasuke yang tengah membuka tabung obat itu dengan mudahnya, lalu menyambar tabung-tabung lain dan menyiapkan obat yang harus Tenten minum malam ini.

Sudah sekitar satu minggu Tenten tinggal diapartemen Sasuke, sejauh ini semuanya berjalan sesuai harapan. Tenten pergi ke sky rink setiap pagi dengan diantar oleh Sasuke yang ngotot ingin mengantarnya setiap pagi, lalu pulang ke apartemen Sasuke saat siang. Jika Tenten merasa bosan, ia mampir ke café untuk ngobrol bersama Ino dan menyapa mantan muridnya di ice rink.

Tsunade merasa lega dan mendukung gagasan Sasuke untuk menemani Tenten. Meskipun awalnya Tsunade sempat bersumpah akan membunuh Sasuke kalau laki-laki itu sampai melanggar batas norma terhadap anak kesayangannya. Kemarin Tsunade baru saja berkunjung ke apartemen Sasuke, ini pertama kali bagi wanita berumur lima puluhan itu berpetualang ke luar negeri. Mereka bertiga membicarakan banyak hal, mulai dari mengancam Sasuke berpuluh-puluh kali sampai membicarakan tentang pertunjukan Tenten. Rencananya Tsunade akan kembali ke New York saat pertunjukan diadakan.

"Ini, minum obatmu." Suara berat Sasuke membuyarkan lamunan Tenten. Gadis itu menangkupkan butiran pil ditangannya dan menelannya, lalu menegak segelas air mineral. "Bagaimana harimu?" Tanya Tenten sambil meletakkan gelasnya yang sudah hampir kosong diatas counter.

"Aku dan krew-krew recital sangat sibuk. Tapi Naruto yang paling sibuk." Kata Sasuke sambil tersenyum. "Kau sendiri?" Tenten mengangkat kedua bahunya dan menatap lantai kayu apartemen dengan tatapan sedih.

"Aku agak kesulitan mengikuti latihan hari ini." Katanya muram. "Kakiku sempat kram beberapa kali." 'dan hampir jatuh puluhan kali.' Tambah Tenten dalam hati, gadis itu tidak akan memberitahu Sasuke kalau ia hampir saja jatuh kalau Itachi tidak menggenggam tangannya.

"Besok pasti akan lebih baik." Kata Sasuke berusaha menenangkan Tenten. "Kau bisa menceritakan semuanya padaku setelah aku mandi. Siapa tahu kau punya cerita yang seru. Seperti kakakku jatuh secara tidak elit diatas es, atau kakakku yang tidak bisa mengikuti irama dengan benar."

Tenten tertawa renyah lalu menatap Sasuke dengan alis terangkat. "Kau tahu, sebenarnya Itachi yang berulang kali mengingatkanku, kapan aku harus berputar dan sebagainya. Dia tidak pernah terjatuh, Itachi adalah skater berbakat." Kata Tenten sambil tersenyum jail. Sasuke memutar bola matanya dan mendengus. "Aku mandi dulu." Katanya sambil berjalan keluar dapur. Namun langsung membalikan tubuh dan menatap Tenten dengan tatapan heran.

"Panda, apa lagi yang kau tunggu disitu? Pergilah, diruang duduk lebih hangat." Tenten memang berniat pergi keruang duduk. Tapi tadinya ia ingin mencoba berdiri saat Sasuke mandi, ia tidak ingin Sasuke melihatnya begitu lemah seperti ini. "Kau tidak bisa berdiri?" Tanya Sasuke sambil memiringkan kepalanya. Tenten menggigit bibir dan menjulurkan kakinya ke lantai. Dengan hati-hati gadis itu menapakan kakinya diatas lantai kayu apartemen Sasuke. Kakinya terlihat sudah cukup kuat untuk menopang tubuhnya, ia sudah bisa berjalan sekarang.

Sasuke mendesah kesal lalu menghampiri Tenten sambil berkata. "Kau tahu, panda? Kalau kau butuh bantuan, yang perlu kau lakukan hanyalah memintanya."

Tenten memekik kaget ketika tubuhnya sudah berada didalam gendongan Sasuke. "Sasuke! Kau tidak perlu menggendongku! Aku bisa jalan sendiri." Protesnya. "Bagaimana kalau kita anggap aku yang ingin menggendongmu?" Kata Sasuke sambil menatap wajah Tenten yang sudah memerah.

"Kami-sama Sasuke, terkadang kau sangat egois." Laki-laki itu tertawa renyah dan melangkah membawa Tenten keruang duduk. Dengan hati-hati, ia mendudukan Tenten diatas sofanya, lalu berdiri menegakan tubuhnya.

"Hei lihat! Wajahmu tidak lagi pucat. Kurasa aku harus lebih sering menggendongmu." Tenten melotot kearah Sasuke, tapi laki-laki itu hanya tertawa sambil berjalan menuju kamarnya. Kondisi tubuh Tenten memang tidak menentu. Tapi yang Tenten yakini, kondisi tubuhnya semakin memburuk. Yang paling ia rasakan adalah keseimbangannya yang menurun.

Sering sekali ia hampir terjatuh saat latihan bersama Itachi, untungnya laki-laki itu tidak banyak bertanya tentang keseimbangan Tenten yang semakin lama semakin memburuk. Tenten mendesah lemah lalu menyambar iPod milik Sasuke yang tergeletak begitu saja diatas meja kopi. Setelah menyelipkan sepasang headset ditelinganya, alunan musik klasik mulai terdengar ditelinganya. Gadis itu merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya. Inilah yang hal yang paling sukai di apartemen Sasuke, koleksi lagu klasik di iPod nya. Sasuke adalah seorang musisi hebat, pastinya laki-laki itu punya segudang koleksi lagu klasik berkualitas tinggi. Salah satu dari ratusan musik klasik di iPod Sasuke yang Tenten gemari adalah yang satu ini. Les miserables.

Tenten sering mendengarkan lagu ini dari iPod Sasuke (karena Sasuke sudah kembali sibuk, laki-laki itu jadi sering meninggalkan iPodnya di rumah.)

Tenten sudah mengusulkan lagu ini untuk menemaninya meluncur dipentas mendatang, dan Gustav sangat setuju atas pilihan Tenten. Ingin sekali Tenten menari-nari seiring nada demi nada yang terdengar ditelinganya, tetapi ia tahu ia tidak bisa melakukannya, ia harus segera memulihkan kondisi tubuhnya untuk kembali berlatih besok. Jadi yang bisa ia lakukan hanya membayangkan tiap gerakan dikepalanya. Ditengah-tengah 'latihannya' Tenten mendengar suara bel intercom berdering. Tenten membuka kedua matanya, lalu segera duduk dan melepas headsetnya ketika mendengar bel itu kembali berbunyi. Dengan enggan Tenten beranjak dari sofa dan melangkah lebar-lebar kearah pintu. Gadis itu menjulurkan tangannya, hendak memencet tombol intercom ketika suara laki-laki terdengar dari sana, dan membuat Tenten mengurungkan niatnya.

"Sasuke? Kenapa lama sekali? ini aku. Buka pintunya, aku hampir membeku diluar sini." Tenten mengerjap kaget, gadis itu merasakan oksigen berhamburan keluar dari paru-parunya, membuatnya kembali benafas setelah tanpa ia sadari menahan nafas selama beberapa detik. Tanpa berpikir panjang, Tenten menekan tombol intercom, membiarkan Itachi masuk. Beberapa menit kemudian bel pintu apartemen Sasuke berbunyi, dan Tenten membuka pintu.

"Lain kali kau harus menyiapkan mesin pemanas diluar sana jika tidak ingin tamumu mati membeku karena kau lama sekali me-" Itachi mengentikan gerutuannya dan menatap Tenten dengan kedua mata terbelalak kaget. "Tenten? Kenapa kau bisa berada disini?" Ketika mendengar pertanyaan Itachi, Tenten baru sadar bahwa ia tidak pernah memikirkan kemungkinan seperti ini akan terjadi. Kemungkinan bahwa Itachi atau Naruto atau siapapun teman Sasuke datang berkunjung. Tenten hanya bisa memaksakan seulas senyum kecil. "I-Itachi-senpai. Masuklah." Itachi melangkah masuk tapi masih menatap Tenten dengan tatapan bingung yang membuat Tenten sedikit terganggu.

"Apa adikku ada dirumah?" Tenten mengangguk. "Dia sedang mandi." Jawab Tenten sambil berjalan kembali keruang duduk dan menghempaskan tubuhnya disofa. "Tapi kenapa kau ada disini? Kukira tangan Sasuke sudah sembuh, apa dia memerintahmu untuk membantunya?" Tanya Itachi sambil mengikuti Tenten. "Dan omong-omong apa yang terjadi padamu? Kau terlihat sangat pucat, apa kau sakit?" Tanya Itachi begitu mereka sudah duduk disofa.

Kepala Tenten terasa berputar dengan segala pertanyaan Itachi, ia bingung jawaban apa yang harus diberikannya pada Itachi.

"Panda tinggal disini sekarang." Baik Tenten maupun Itachi sama-sama kaget ketika mendengar suara Sasuke. Tenten menengadahkan kepalanya, menatap Sasuke yang berdiri beberapa meter dihadapan mereka sambil mengeringkan rambut ravennya. Tenten segera menoleh kearah Itachi.

"Hanya sementara." Tambahnya cepat-cepat. Itachi menoleh Tenten dan menatap gadis itu dengan tatapan tak percaya. "Apa?" Tenten melirik kearah Sasuke, memberikan tatapan peringatan pada laki-laki itu. Tapi Sasuke hanya mengangkat kedua bahunya dan berkata pada Tenten.

"Cepat atau lambat semua orang akan tahu, apa gunanya menutup-nutupi semuanya?" Mata gelap Itachi yang kini dihiasi cipratan amarah frustasi menatap Tenten dan adiknya secara bergantian. "Salah satu diantara kalian. Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi selama aku di Canada."

xXx

Itachi terlihat kesal. Dengan tatapan penuh kekesalan, laki-laki itu menatap adiknya dan Tenten secara bergantian. Tenten dan Sasuke sudah menjelaskan semua yang terjadi selama ia pergi. Dan Itachi kesal karena ia adalah orang terakhir didunia ini yang tahu soal penyakit Tenten.

"Kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya?" Tanya Itachi sambil memijit batang hidungnya. Tenten menatap Itachi dengan tatapan menyesal.

"Maaf.. tapi aku tidak menemukan alasan apapun untuk menceritakan penyakitku padamu, Itachi-senpai." Laki-laki itu menoleh kearah Tenten.

"Lalu kenapa kau menceritakannya pada Sasuke?" Dibalik kata-katanya, terdengar jelas rasa frustasi yang membuat Tenten semakin merasa bersalah. "Karena aku menemukan obat miliknya diapartemen ini. Jadi mau tak mau panda.. maksudku Tenten harus menjelaskannya padaku tentang penyakitnya." Kata Sasuke, berusaha membela Tenten yang terlihat merasa bersalah karena kata-kata kakaknya. Itachi menyerah, laki-laki itu menghela nafas panjang.

Setelah amarahnya mulai surut, laki-laki itu menoleh menatap Tenten dan menepuk kepala gadis itu. "Sudah malam lebih baik kau segera tidur. Besok pasti sibuk sekali." kata Itachi sambil tersenyum kecil. Tenten menatap Itachi, hendak mengatakan sesuatu tapi mengurungkannya ketika melihat senyuman Itachi. Ia tahu semakin banyak ia bicara, Itachi akan semakin kesal. Karena itu Tenten mendesah lalu berdiri. Tanpa aba-aba Sasuke ikut berdiri dan mengulurkan tangannya, hendak menangkap tangan Tenten dan mengantar gadis itu kekamar. "Tidak perlu Sasuke, aku bisa kekamarku sendiri. Kalian bisa kembali melanjutkan obrolan kalian." Kata Tenten sambil tersenyum lemah lalu berjalan dengan gontai kekamar tamu. Setelah Tenten masuk kekamar, Sasuke kembali berdiri dan berjalan kedapur. "Aku mau buat kopi, apa kau mau?"

"Tentu." Kata Itachi singkat, Sasuke segera beranjak meninggalkan Itachi sendiri. Laki-laki bersurai hitam panjang itu kembali memikirkan apa yang sudah terjadi. Tenten sakit parah. Dan ia adalah orang terakhir yang diberitahu. Semua hal itu membuat Itachi agak kesal, tetapi yang membuat Itachi heran adalah. Kenapa Tenten terlihat menaruh kepercayaan pada adiknya dan menceritakan semuanya? Padahal dirinyalah yang terlebih dulu mengenal Tenten, seharusnya Tenten bisa lebih percaya padanya bukan? Lalu saat Tenten menatap Sasuke tadi.. Itachi tahu betul bahwa Tenten merasa lebih tenang ketika menatap mata adiknya.

Ia yakin ada sesuatu antara gadis itu dan adiknya.

"Dia sedang tidak sehat hari ini. Kumohon jangan buat dia merasa bersalah lagi." Kata Sasuke yang kembali duduk sambil membawa dua mug berisi kopi ditangannya. "Well, kurasa aku pernah mendengar kata-kata itu dimasa lalu." Sasuke hanya bisa terdiam lalu menyesap kopinya.

"Kau tahu Sasuke, satu hal yang membuatku heran."

"Apa?"

"Kau sudah tahu soal keadaan tulangnya. Tapi kenapa kau membiarkan Tenten ikut dalam pertunjukan Dearburn? Aku sama sekali tidak setuju denganmu yang membiarkan Tenten ikut dalam pertunjukan."

"Reaksi pertamaku ketika tahu bahwa ia akan mengikuti pertunjukan itu adalah ingin berteriak memaki-maki gadis itu dan menyuruhnya segera membatalkannya." Aku Sasuke. "Tapi kurasa aku bisa memahami alasannya."

Itachi terdiam.

"Pikirkan Itachi. Kau juga seorang skater. Cobalah tempatkan dirimu diposisinya." Kata Sasuke sambil menatap kakaknya. "Bagaimana jika kau benar-benar tidak bisa meluncur selamanya? Bagaimana kalau kau tidak bisa meluncur di olimpiade bergengsi lagi? Bagaimana kalau kau tidak bisa melakukan semua manuver yang tadinya bisa kau lakukan tanpa terengah-engah, bagaimana perasaanmu?" Itachi tidak menjawab. Tapi ia tahu kata-kata adiknya memang benar. Bagaimana kalau ia benar-benar tidak bisa meluncur selamanya? Maksudnya, vacuum selama lima tahun saja membuat Itachi depresi dan hampir mencoba bunuh diri. Apalagi selamanya?

"Apabila kau mendapat satu kesempatan lagi untuk meluncur di sky rink, sebelum harapan untuk meluncur itu pupus selamanya. Apakah kau akan mengambilnya?"

'Tentu saja.' Batin Itachi. Laki-laki itu hanya terdiam. Selama beberapa saat, kedua Uchiha itu diselimuti kesunyian. Sebelum akhirnya Itachi bertanya.

"Apa kau yakin dia akan baik-baik saja?"

"Dia akan baik-baik saja." Jawab Sasuke cepat. "Harus baik-baik saja." Itachi mendesah frustasi. "Bagaimana kau bisa seyakin itu? Jujur saja, aku sendiri merasa frustasi saat ini. Aku tidak bisa berhenti mengkhawatirkan gadis itu. Bagaimana kau bisa tidak khawatir seperti aku." Kata Itachi frustasi. Laki-laki itu menatap adiknya yang terlihat menatap lurus. Bisa ia lihat rasa murung menggenang dimata gelap adiknya. Sasuke hanya bisa terdiam, mengepalkan kedua tangannya dan berdiri. Laki-laki itu berjalan menjuju jendela besar disamping sofa dan menatap keluar. Setelah terdiam selama beberapa saat, ia akhirnya berkata dengan suara parau. "Aku khawtir," Sasuke memejamkan matanya. "Aku takut. Tapi aku tidak mungkin menunjukan apa yang kurasakan, setelah melihat senyuman penuh semangatnya setiap akan berlatih di sky rink." Suara adiknya serak, tercekat dan terdengar menderita.

Itachi belum pernah melihat adiknya sebegini menderitanya. "Setiap kali kondisinya memburuk, setiap ia terjatuh secara tiba-tiba dan tidak bisa kembali berdiri. Aku bisa merasakan rasa frustasinya. Aku berharap, aku bisa memberikan tenagaku untuknya." Masih dengan suara yang serak dan tatapan menderita, Sasuke menatap lurus keluar jendela.

"Setiap kali dia mendapat serangan dan menangis kesakitan. Aku selalu berharap bisa menggantikannya dan mengambil semua rasa sakit itu darinya, supaya ia tidak lagi merasa kesakitan." Sasuke menelan ludah lalu kembali berkata. "Dan ketika seluruh tubuhnya berguncang hebat dan melihatnya berjuang untuk tetap sadar, aku berani bersumpah aku merasakan jantungku berhenti berdetak dan ketakutan besar merayapi tubuhku. Seluruh diriku terasa lumpuh. Pada saat itu aku mulai membayangkan kemungkinan terburuk, dan bayangan itu membuat ketakutan yang kurasakan berlipat ganda."

Itachi hanya bisa menatap adiknya, memperhatikan ekspresi tersiksa diwajah adiknya. Ia yakin bahwa adiknya benar-benar ketakutan. Mereka memang memiliki hubungan yang dekat sejak kecil, namun Itachi merasa bahwa inilah kali pertama adiknya mencurahkan isi hatinya dengan jujur. Inilah pertama kalinya Sasuke merasa rela terlihat lemah dihadapan Itachi. Mungkin ketakutan dan kekhawatiran yang sudah dipendam Sasuke selama ini mulai menjeratnya, membuatnya sulit bernafas dan ia harus menceritakannya kepada seseorang sebelum ia menjadi gila.

"Tapi aku tidak mungkin menunjukan kelemahan seperti itu dihadapannya. Dia membutuhkan seseorang yang bisa mendukungnya, seseorang yang bisa membantunya ketika dibutuhkan, seseorang yang bisa meyakinkannya bahwa semua ini akan berakhir dengan baik." Sasuke akhirnya menoleh dan menatap kakaknya. Ia merasa bersyukur Itachi ada disini dan mendengarkannya. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Sasuke tersenyum kearah kakaknya, senyuman penuh rasa terimakasih. "Karena itu kuputuskan aku harus menjadi orang seperti itu."

Itachi tercengang selama beberapa saat. Pertama, ini pertama kali sejak bertahun-tahun lamanya Sasuke tersenyum padanya. Dan kedua, ia baru menyadari perasaan adiknya. Itachi menghembuskan nafasnya yang selama beberapa saat ia tahan lalu tersenyum hampa. "Well, sepertinya untuk saat ini aku harus menjadi seorang kakak yang baik dan mengalah untuk adikku tersayang." Itachi menyenderkan tubuhnya dan melirik kearah Sasuke.

"Tapi sebelum aku mengalah begitu saja. Aku ingin memastikan satu hal. Agar aku tidak menyesal karena mengalah tanpa perlawanan seperti ini." Sasuke hanya menatap kakaknya dengan tatapan geli. "Silahkan."

Kali ini Itachi benar-benar menatap Sasuke. Menatap adiknya dengan tatapan tajam (ini pertama kalinya Itachi menatap Sasuke dengan tatapan tajam, dan tentu saja Sasuke merasa agak takut)

Mata gelap Itachi menatap mata Sasuke, menelusuri mata adiknya sebelum akhirnya menghembuskan nafas dan bertanya.

"Apa kau mencintai Tenten?" Sasuke mengerjap. Mata gelapnya yang muram terlihat berkaca-kaca ketika menggumamkan dua patah kata dari dasar jiwanya dengan lirih.

"Sepenuh hati."

xXx

Setelah memastikan jalanan agak lengang dan aman untuk menyebrang. Itachi segera melangkahkan kakinya menyebrangi jalanan, nafasnya berderu, kepulan asap keluar dari bibir laki-laki itu setiap kali ia menghembuskan nafas. Musim dingin diawal Januari selalu menyiksa, setidaknya itulah pendapat Itachi. Laki-laki bersurai panjang itu berjalan sambil menatap lurus kedepan, berusaha meluruskan benang-benang kusut dikepalanya. Setelah kenyataan mengangetkan yang disampaikan Tenten dan adiknya kemarin, Itachi terserang insomnia. Ia hampir tidak bisa tidur semalaman, memikirkan segalanya.

Tenten jatuh sakit. Hatinya remuk karena ia menjadi orang terakhir yang tahu. Dan yang lebih mengejutkan, adiknya yang menunjukan sisi melankolisnya dihadapan Itachi dan ternyata menyukai Tenten. Gadis yang juga disukainya. Atau bisa dibilang sempat disukainya. Itachi sudah memutuskan untuk menyerah. Ia menyerah, karena ia tahu seberapa besar usahanya untuk mendekati Tenten, pastinya gadis itu akan tetap menyukai adiknya.

Memang membingungkan, Itachi sempat bingung karena perubahan Tenten. Dulu, well beberapa minggu yang lalu, Tenten bersikap seolah-olah ia benar-benar menyukai Itachi, hingga membuat laki-laki itu yakin bahwa Tenten menyukainya dan membenci adiknya. Tapi seiring waktu, entah bagaimana semua itu berubah. Kira-kira setelah pesta yang diselenggarakan oleh Dearburn. Sebenarnya bukan hanya Tenten saja yang berubah, tetapi Itachi sendiri merasa bahwa hatinya ikut berubah. Entah bagaimana sore itu, sebelum ia berangkat ke Canada, ketika secara tiba-tiba Ino berkata bahwa ia menyukainya. Itachi jadi kembali mengenang masa lalu.

Ketika ia menemukan seorang gadis bersurai pirang yang terlihat ketakutan diujung gang, ketika gadis itu tak henti-hentinya mencengkram lengan kemeja Itachi dengan tangannya yang gemetar hebat. Saat itu Itachi benar-benar merasa bahwa ia harus melindungi gadis itu, ia harus berada disamping gadis bermata indah itu. Lalu yang lebih membuat Itachi kepikiran adalah keesokannya, beberapa menit sebelum ia masuk ke terminal keberangkatan, Ino kembali menghampirinya, dengan membawa paket yang sengaja ia kirim sebelum ia pergi ke Canada. Alasan Itachi mengirim paket itu adalah, karena ia pikir ia tidak akan bisa menjaga Ino lagi, karena ia akan segera menjadi milik Tenten. Tapi setelah kemarin, Itachi sadar bahwa ia dan Tenten tidak akan bisa bersama.

Ia tahu adik laki-lakinya sangat menyukai Tenten, ia sudah memastikannya kemarin malam, dan hal itu juga yang membuat Itachi memilih untuk menyerah.

Tiba-tiba saja suara tangisan terdengar ditelinga Itachi, membuat laki-laki itu tersentak dan memfokuskan pandangannya. Laki-laki itu menoleh kesumber suara. Seorang anak laki-laki berambut coklat tengah menangis dipinggir trotoar. Dari tinggi badannya, Itachi menebak umur anak itu sekitar lima tahun. Entah apa yang merasuki Itachi hingga membuat laki-laki itu akhirnya berjalan mendekati anak itu dan berjongkok dihadapannya.

"Hei lil buddy, apa yang kau lakukan disini? Kenapa kau menangis?" Tanya Itachi dengan nada bersahabat, anak itu tetap menangis sambil menggosok-gosokan punggung tangannya kearah mata. "Apa kau… tersesat?" Tanya Itachi sambil mengangkat sebelah alisnya. Anak itu mengangguk samar.

"Baik, kau datang kesini bersama ibumu?" Tanya Itachi. Anak itu kembali mengangguk. Itachi menghela nafas panjang, merasa kesal pada para ibu modern jaman sekarang yang menelantarkan anaknya dipinggir trotoar seperti ini. "Dengar, aku akan membantumu mencari ibumu.. tapi kau harus berhenti menangis, oke? Kau laki-laki, apa jadinya kalau seorang laki-laki terlihat cengeng di muka umum seperti ini." Anak itu berhenti menggosokan tangannya, sesegukannya mulai mereda. Perlahan-lahan kedua tangan anak itu meluncur kebawah, anak itu menatap wajah Itachi dengan matanya yang basah, lalu mengangguk. "Itachi-senpai?" Itachi hampir saja melompat kaget ketika mendengar seseorang memanggilnya.

Ia segera menengadahkan kepalanya. Benda pertama yang Itachi lihat adalah helaian rambut berwarna pirang pucat yang diikat tinggi. Mata gelap Itachi menyusuri helaian rambut itu hingga akhirnya matanya bertemu dengan mata aquamarine yang jernih. Itachi mengerjapkan matanya.

"Ino?" si empunya nama berjongkok disamping Itachi. "Apa yang kau lakukan disini? Dan.. hei, siapa anak ini? Adikmu yang lain?" Tanya Ino sambil melirik sekilas kearah anak laki-laki yang masih sesegukan dihadapan Itachi. Itachi menghela nafas panjang. "Aku sudah terlalu tua untuk mempunyai adik sekecil ini." Katanya jujur dan sontak saja membuat Ino tertawa.

"Kau terdengar seperti kakekku." Itachi mendengus lalu tersenyum. Dan untuk sesaat Ino yakin bahwa ia lupa caranya bernafas. Setelah beberapa saat terdiam akhirnya Ino kembali bertanya. "Jadi, siapa anak ini?" Tanya Ino sambil kembali melirik anak laki-laki itu. Itachi menoleh kesamping.

"Omong-omong aku belum tahu siapa namamu." Kata Itachi. "Tom." Kata anak itu. "Jadi, siapa Tom ini, senpai?" Tanya Ino.

"Jadi, tadi aku sedang menikmati pagi hari yang dingin dan beku ini ketika aku mendengar suara tangisan. Dan ternyata itu Tom, dia kehilangan ibunya." Ino menutup mulutnya dengan kedua tangan.

"Ya Tuhan! Kita harus segera menemukan ibumu, Tom." Kata Ino sambil menatap Tom yang terlihat sedikit terpana pada Ino. Gadis itu segera berdiri dan menyambar tangan mungil Tom serta tangan Itachi, menarik dua laki-laki itu berdiri.

"Ayo gentlemans! Kita harus bergegas sebelum pelanggan di café berdesakan masuk." Kata Ino sambil berjalan cepat.

"He-hei! Kenapa kau juga harus membawaku?" Tanya Itachi. Ino menoleh menatap Itachi lalu tersenyum. "Karena kau yang sudah menemukannya! Ayo!"

Itachi termenung sesaat sebelum akhirnya tersenyum kecil. Setelah berlarian selama hampir setengah jam, akhirnya mereka sampai di sebuah pos polisi dan mendapati seorang ibu muda tengah terduduk dipos sambil menangis tersedu-sedu. Ino dan Itachi sudah berhasil menemukan ibu Tom.

"Sekali lagi aku ucapkan terimakasih, entah apa jadinya kalau kalian tidak menemukan Tommy." Ino tersenyum lembut.

"Tidak masalah." Kata Itachi santai. Akhirnya setelah melambaikan tangan kearah Tom, ibunya dan beberapa polisi disana, Itachi dan Ino segera pergi.

"Jadi, kau mau langsung ke café sekarang?" Ino menatap lurus kedepan, lalu menoleh menatap jam tangannya.

"Entahlah, kita agak jauh dari café saat ini." Itachi mengangguk singkat, bukan masalah baginya kalau Ino tidak bekerja, selama ini ia juga tidak pernah menganggap Ino bekerja padanya, ia selalu menganggap Ino adalah seorang teman yang membantunya mengurus café. Semacam itulah.

"Hei, aku punya ide bagus." Kata Ino sambil menjentikan kedua jarinya. "Well apa idenya?" Tanya Itachi sambil melirik kearah Ino. "Well, tidakkah kau lapar sehabis berlarian selama setengah jam?" Itachi mengangguk singkat.

"Bagus, aku pernah mendengar ada bazaar makanan jepang di taman. Taman didekat old navy. Bagaimana kalau kita kesana? Lagipula tempatnya tidak terlalu jauh dari sini." Kata Ino panjang lebar.

"Yeah idemu bagus juga." Ino terkekeh singkat lalu suasana kembali hening. Diantara mereka tidak ada yang berbicara sampai akhirnya mereka sampai di taman.

xXx

Setelah mengunyah dan menelan takoyaki dimulutnya, Ino menoleh menatap Itachi lalu tersenyum. "Makanan jepang tidak buruk bukan?" Itachi tertawa kecil lalu mengangguk.

"Yeap, sudah lama sekali aku tidak memakan makanan jepang." Ino menatap lurus kedepan lalu mencengkram besi ayunan yang tergantung mengapit tubuhnya. Gadis itu mengayunkan tubuhnya perlahan.

Suasana canggung kembali merayap diantara mereka. Membuat Itachi akhirnuya berdeham beberapa kali lalu berkata.

"Kau tahu, sudah lama sekali kita tidak mengobrol seperti ini." Ino tersenyum muram lalu berkata dengan suara parau.

"Kita memang hampir tidak pernah mengobrol, senpai." Mendengar nada sedih di kalimat Ino entah mengapa membuat Itachi ingin menyakiti dirinya sendiri. Jadi seburuk itukah hubungannya dengan Ino?

Ino bisa merasakan perasaan tidak enak yang dirasakan Itachi, gadis itu tersenyum getir lalu berkata. "Tak apa, aku memaklumimu." Itachi sontak saja menoleh menatap Ino dengan tatapan heran. "Memangnya kenapa?"

"Well… kau menyukai Tenten… jadi untuk apa kau akrab denganku." Kata Ino sambil tertawa hambar. Itachi mendesah.

"Aku tidak menyukai Tenten… lagi." Kata-kata Itachi membuat Ino berhenti mengayunkan tubuhnya, gadis itu menoleh menatap Itachi.

"Apa maksudmu?" Itachi mengangkat kedua bahunya. "Entahlah, menurutku wajar jika perasaan seseorang berubah."

"Apa karena adikmu menyukai Tenten juga?" Itachi terdiam, ia memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Ino, karena sejujurnya ia tidak tahu alasan sebenarnya ia menyerah. Ia bahkan tidak tahu sejak kapan ia menyerah.

"Senpai?"

"Hn?"

"Apa kau tahu aku memperhatikanmu saat menolong Tom tadi?" Ino tersenyum kecil. "Entah mengapa, melihatmu berjongkok dihadapan Tom dan memberi anak itu semangat, membuatku teringat saat kau juga melakukannya padaku." Mata aquamarine gadis itu kembali berkaca-kaca.

"Aku tahu cinta pertamamu adalah Ayame, aku juga tahu bahwa kau menyukai Tenten dan kali ini mencoba menyerah untuk adikmu.. tapi tidakkah kau sadar bahwa.." Ino menundukan kepalanya, membiarkan air mata yang sedari tadi menusuk-nusuk matanya tumpah dikedua belah pipinya.

Setelah berhasil mengendalikan diri, Ino menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. "Bahwa aku selalu menyayangimu." Kata Ino lirih. "Entahlah.. aku tidak tahu sejak kapan, mungkin saat pertama kita bertemu.." Lanjutnya, gadis itu kembali menarik nafas dalam-dalam lalu menoleh menatap Itachi yang ternyata juga mengawasinya.

"Aku tahu aku tidak sehebat mereka.. aku bukan seorang skater seperti Tenten ataupun Ayame.. tapi sebagai seorang gadis.. aku tidak ingin dipermainkan, kau tahu maksudku kan, senpai?" Kata Ino sambil tersenyum getir kearah Itachi yang lagi-lagi membuat Itachi ingin menghantam kepalanya ke tembok. "Kau bilang.. kau akan mengatakan semuanya saat kembali dari Canada.. aku ingin tahu sekarang, aku ingin tahu apakah aku harus menyerah atau tidak, karena aku sudah terlalu lelah untuk berjuang lagi." Itachi memandang mata aquamarine Ino, laki-laki itu bisa melihat jelas rasa sakit dimata itu. sungguh, ia tidak pernah mengira ia adalah laki-laki yang begitu jahatnya. Itachi menghela nafas panjang lalu menatap lurus kedepan.

"Kau tahu Ino.. aku bukan laki-laki yang baik. Aku sudah tahu semua perasaanmu padaku, tapi aku malah pura-pura tidak tahu, karena kupikir itulah satu-satunya cara untuk melindungimu. Aku tidak ingin menyakitimu secara tidak langsung." Itachi berdiri lalu berjalan beberapa langkah sebelum akhirnya berhenti. "Kau tahu Ino.. setelah dipikir-pikir, aku bukan laki-laki yang pantas untukmu, aku tidak pantas menerima semua kasih sayangmu, aku tidak pantas mendapatkan apapun darimu. Jadi kumohon, berhentilah menyakiti dirimu sendiri, maaf karena aku baru bisa mengatakannya sekarang."

Setelah berkata seperti itu, Itachi melangkah pergi. Laki-laki itu bisa mendengar Ino memanggil namanya berkali-kali, tapi ia tetap melangkah. Laki-laki itu tetap melangkah dengan cambukan yang menemani tiap langkahnya.

Nah gimanagimanaa? disini baik Itachi atau Sasuke nya terlalu OOC gasihh :( aku takut terlalu OOC Sasukenyaaa :') kalo seandainya ada yang berpendapat demikian, mohon maaf sebesar-besarnyaa (nunduk-nunduk) yapp, disini lagi-lagi Ino harus menderita karena sikap Itachi yang terlalu prasmul :( btw sepertinya readers pada kurang setuju kalo Itachi buat Ino .-. hehehe, segini aja deh ulasan dari author. last but not least, author mau ngucapin terimakasih sebanyak-banyaknya buat para readers yang setia baca karya author yang selalu ngaret inii, enelaann author terharuuu :') hihihi, okee sampai jumpa di chappie selanjutnyaa...