Rated: T
Disclaimer: Mashasi Kishimoto
Warning: typos, crack pair, late udated
sasuten slight itaten
Couple words from author:
Holla minna-san! yap chap 23 author hapus dan author apdet ulang karena hasilnya sangat-sangat ancur, dan sepertinya para readers mengalami kesulitan saat membaca chap ini:( maaf banget butuh waktu lama untuk author untuk menyadari kehancuran chap ini:( maaf banget ya readers:( author gatau kenapa bisa begitu, padahal author selalu mengedit ulang sebelun apdet:( sekali maaf banget yaa... oke langsung ajaya chap 23..
Chapter 23
"Perhatian para skater. Sepuluh menit lagi gladi resik akan dimulai. Harap bersiap di posisi yang sudah ditentukan."
Tenten memejamkan matanya ketika merasakan butiran pil melewati tenggorokannya lalu menoleh menatap pengeras suara yang bertengger dilangit-langit ruang gantinya. Gadis itu memejamkan matanya, berusaha melemaskan otot-otot ditubuhnya. Beberapa saat kemudian gadis itu membuka matanya, melirik secarik kertas kusut yang bertuliskan "Semangat Tenten-chan! Kita semua mendukungmu, kiss n hug Amber n friends". Beberapa menit yang lalu Amber berlari menghampiri Tenten dan memeluknya, memberinya semangat. Ah iya, Amber berhasil selamat dari kankernya setelah menjalani beberapa terapi dan pengangkatan tumor, Tenten benar-benar bersyukur ia tidak terlambat menolong gadis itu.
Tenten menatap refleksinya di permukaan cermin. Wajah pucatnya dipoles make up, membuat wajah pucatnya tersembunyi dari para penonton dan pers yang sudah menunggu-nunggu penampilannya. Sebenarnya Tenten merasa tidak sehat hari ini. Beberapa kali ia hampir jatuh saat berjalan, sendi-sendinya terasa akan tergelincir dari tempatnya, seluruh tulangnya nyeri.
"Tenten? Kau baik-baik saja?" Sontak saja Tenten menolehkan kepalanya. Itachi tengah berdiri diambang pintu, menatap Tenten dengan tatapan khawatir. Gadis itu memaksakan seulas senyum. "Yep, aku baik-baik saja."
"Kau yakin?" Tanya Itachi sambil mengangkat sebelah alisnya. "Sangat." Itachi mendesah lega lalu tersenyum kecil.
"Jadi, apa kau sudah siap?"
"Tentu. Ayo kita pergi." Ketika mereka berjalan beriringan melewati koridor yang dipenuhi beberapa skater dan krew yang sibuk menyiapkan gladi resik, Itachi menunduk dan menatap Tenten.
"Kau yakin kau baik-baik saja? Kita bisa bilang kepada Gustav kalau kau memang sedang tidak sehat."
'Ya, aku memang sedang tidak sehat.' "Tidak, aku baik-baik saja sungguh." Sahut Tenten yang kembali menyunggingkan seulas senyum tipis kearah Itachi, berharap dengan senyuman itu si Uchiha sulung bisa berhenti mengkhawatirkannya. "Aku hanya gugup." Sahut Tenten.
"Apakah absent selama beberapa bulan membuatmu gugup? Ayolah, beberapa bulan itu tidak ada apa-apanya." Kata Itachi sambil menyeringai. Tenten terkekeh lemah. "Yeah aku tahu kau berpengalaman dalam hal ini." Itachi tertawa kecil lalu menatap lurus kedepan.
"Kudengar akan banyak orang penting yang datang, juga banyak sekali pers yang akan menyiarkan gladi resik ini secara live." Kata Itachi. "Kurasa mereka ingin melihat Tenten yang selalu disebut-sebut sebagai figure skater terbaik diseluruh Amerika. Maksudku, dunia." Tenten mendengus lalu tersenyum dan menyikut rusuk Itachi. "Well, kau mulai berlebihan, senpai." Itachi tersenyum geli. Selain beberapa teman-teman penting Gustav dan para veteran figure skater tersohor, akan banyak pers dari stasiun tv olahraga ataupun majalah olahraga yang akan hadir untuk mengulas tentang gladi resik ini, khususnya Tenten yang selalu digembar-gemborkan oleh Gustav disetiap sesi wawancara. Ulasan ini sangat berarti untuk kesuksesan acara yang sudah didambakan Gustav, jadi Tenten harus berusaha para nyamuk yang haus akan berita itu mendapat ulasan yang baik.
"Apakah orangtuamu datang hari ini?" Tanya Itachi lagi. Ah ya, dia belum tahu asal muasal Tenten, dan sepertinya Tenten lebih suka Itachi tidak mengetahuinya. "Tidak, mereka akan datang saat pertunjukan, mereka tinggal dijepang, jadi memakan waktu cukup lama untuk sampai diNew York." Itachi mengangguk singkat.
"Kudengar Daisy, Amber dan anak-anak panti juga datang. Mereka semua ingin menyemangatimu. Mereka berharap banyak padamu. Jadi kau harus membuat mereka semua bangga." Tenten tersenyum. "Yea, tentu saja."
"Dua menit lagi!" Kata seorang gadis dengan baju serba hitam yang tengah memegang walkie talkie ditangannya. Akhirnya Tenten dan Itachi sudah berdiri diposisi masing-masing. Saat itu Tenten merasa lututnya melemas, pandangannya mulai kabur dan rasa nyeri yang tajam kembali menusuk punggungnya. Gadis itu menggeleng, berusaha menepis semua rasa sakit itu.
Ia tidak bisa mundur begitu saja sekarang. Ini kesempatan terakhir baginya. Pintu sky rink dibuka, Itachi mengulurkan tangannya dan segera disambut oleh Tenten. Ketika kedua manusia itu meluncur ketengah sky rink, tepuk tangan yang meriah menemani mereka. Dan ketika mereka sudah berhenti ditengah-tengah, dengan dagu terangkat. Ruangan itu sunyi.
xXx
Sasuke melirik kesamping, melihat ibunya yang terlihat tersenyum sambil menekankan selembar tissue lepek dimatanya. Hari ini ibu Sasuke dan Itachi ngotot untuk datang, Mikoto ingin melihat anak sulungnya serta Tenten meluncur diatas es bersama. Begitu nada pertama terdengar, Itachi langsung bisa mengenali backsound yang Tenten pilih. Les miserables.
Lagu yang menurut Sasuke kaya akan emosi. Sangat cocok untuk dibawakan diatas es, cocok dibawakan oleh kakaknya dan Tenten. Mikoto tersenyum lebih lebar, dan Sasuke tahu saat itu ibunya merasa bangga, merasa bangga pada abangnya dan Tenten, meskipun Tenten bukan anak kandungnya, tapi tetap saja Mikoto menatap gadis bercepol dua itu dengan tatapan bangga.
Sasuke melirik kesekitar dan mendapati bukan hanya ibunya yang menangis, melainkan beberapa wanita dan gadis-gadis tengah terisak haru. Seluruh penonton tersihir pada saat yang sama. Mereka semua tidak bisa melepaskan pandangan mereka dari sepasang skater yang meluncur dengan mencurahkan segenap jiwa mereka. Sasuke kembali menatap Tenten yang kali ini tengah diangkat dan diputar oleh abangnya, walaupun ini bukan kali pertama Sasuke melihat Tenten meluncur, tapi tetap saja laki-laki itu terpana.
Gadis itu memang terlahir untuk meluncur. Untuk menjadi seorang figure skater. Caranya bergerak sangat berbeda dengan para skater professional yang pernah Sasuke lihat. Sementara Itachi terlihat mengimbangi kesempurnaan Tenten, membuat gadis itu terlihat semakin rapuh tiap kali abangnya merengkuhnya atau mengangkatnya diudara. Mereka bergerak dengan sempurna, alami, berkelas, dan memiliki teknik yang luar biasa.
Terlebih lagi, mereka tidak hanya sekedar menari. Mereka membawakan sebuah cerita yang membuat para penonton tercengang dan memperhatikan.
Setelah lagu itu mencapai chores, Itachi segera meluncur keluar, membiarkan Tenten melanjutkan cerita itu seorang diri. Berbagai manuver luar biasa seperti double axels, triple lotz, triple toe lop dan putaran disana membuat para penonton terpaku.
Ketika Tenten berhenti bergerak dan lampu latar dinyalakan. Semua penonton memberi stand applause pada Tenten dan Itachi yang meluncur menghampiri Tenten. Bahkan Mikoto ikut berdiri dan bertepuk tangan sambil tetap menangis. Sasuke sendiri bertepuk tangan dengan keras sampai ruam merah muncul dikedua telapak tangannya. Bisa dipastikan bahwa Dearburn akan mendapatkan ulasan bagus dimedia. Mikoto dan Sasuke segera berlari kebelakang panggung yang penuh sesak untuk menemui Itachi dan Tenten.
Mikoto langsung memeluk putra sulungnya sambil menangis. "Kami-sama, kaa-san. Ini hanya gladi resik dan kau sudah menangis seperti ini, sejahat itukah aku?" kata Itachi dengan nada bergurau. Mikoto melepaskan pelukannya dan menatap putra sulungnya. "Dipementasan nanti aku harus membawa satu lusin tissue." Kata Mikoto yang sukses membuat Sasuke, Itachi dan Tenten tertawa.
Setelah tawa mereka mereda, Mikoto menoleh kearah Tenten dan langsung memeluk gadis itu, mendekapnya dengan erat bagaikan seorang ibu yang mendekap anaknya ketika selesai memenangkan lomba maratoon tingkat sd.
"Aku sangat bangga punya calon menantu seperti kau, Tenten. Tahukah kau bahwa kau sangat hebat tadi." Kata Mikoto sambil mendekap Tenten erat, membuat gadis itu akhirnya menangis dan memeluk Mikoto.
"Terimakasih Mrs. Uchiha. Terimakasih." Mikoto melepaskan pelukannya dan membiarkan Daisy, Amber dan anak-anak panti yang berlarian menghampiri Tenten untuk memeluk gadis itu. tenten merasa lelah, tapi ia senang bisa membuat anak-anak panti senang.
"Kau hebat sekali Tenten! Kita harus meluncur bersama!"
"Tentu, tentu. Aku sudah janji bukan akan menemani kalian meluncur." Setelah anak-anak panti pergi, Gustav menghampiri Tenten dan memeluknya erat-erat. "Kau selalu membuatku bangga, Sayang." Tenten tersenyum.
"Terimakasih Gustav, untuk segalanya." Setelah Gustav, Mikoto dan Itachi pergi untuk berbincang-bincang. Tenten langsung berjinjit dan melingkahkan kedua tangannya ditengkuk Sasuke, memeluk laki-laki itu erat.
"Terimakasih Sasuke, terimakasih karena kau mau mengerti." Sasuke yang sempat kaget selama beberapa saat langsung tersenyum dan membalas pelukan Tenten. "Kau benar-benar hebat kau tahu. Ibuku sampai menangis dari awal sampai akhir." Namun laki-laki itu langsung mengerutkan kedua alisnya ketika merasakan tubuh Tenten berguncang.
"Panda? Kau baik-baik saja?" Tenten mengernyitkan hidungnya dan melepaskan pelukannya dari Sasuke. "Kurasa aku harus duduk."
"Lebih baik kita pulang sekarang." Kata Sasuke sambil memapah Tenten. Gadis itu menggeleng. "Aku masih harus berpamitan pada teman-temanku."
"Demi Tuhan Tenten! Tubuhmu berguncang hebat! Kau masih ingin tetap meluncur di pertunjukan akhir pekan nanti bukan?" Tenten mendesah kesal lalu akhirnya mengikuti kemauan Sasuke, membiarkan laki-laki itu mengantarnya kembali ke apartemen.
xXx
beberapa hari kemudian Tenten kembali meluncur diatas sky rink. Gedung itu penuh sesak, tidak ada satupun tempat duduk yang kosong malam itu. setelah ulasan hebat yang sudah dimuat di beberapa channel olahraga internasional dan majalah-majalah olahraga local, berjubel-jubel orang dari kalangan manapun ingin melihat Tenten dengan mata kepala sendiri. Bahkan acara ini pun disiarkan secara live di stasiun tv swasta New York.
"Perhatian para skater, dua menit lagi pertunjukan dimulai, harap bersiap-siap." Tenten menghela nafas panjang seraya meregangkan otot tubuhnya. Ini dia, hari yang ia tunggu seumur hidupnya. Hari dimana orang-orang akan mengetahui siapa dirinya, hari dimana semua usahanya selama bertahun-tahun dihargai semua orang.
"Ayolah, Tenten yang kukenal tidak pernah segugup ini." Tenten menoleh kesamping, menatap Itachi yang tengah menatap lurus ke sky rink. Tenten tersenyum lemah lalu berkata. "Aku hanya gugup karena hari ini adalah hari yang sudah kunantikan seumur hidupku." Itachi menoleh menatap Tenten lalu menggenggam tangan gadis itu.
"Aku yakin kau akan mengakhiri pertunjukan ini dengan sangat bagus. Percaya padaku." Tenten terkekeh lalu mengangguk. "Terimakasih, senpai."
Lampu latar dimatikan, yang menandakan bahwa pertunjukan akan segera dimulai. Tenten menghela nafas panjang lalu segera menapakan kakinya diatas hamparan es ketika pintu pembatas dibuka. Malam ini malam yang special. Tsunade dan Susune datang dari Jepang untuk melihat pertunjukan ini.
Tenten dan Itachi berhenti ditengah-tengah. Lampu sorot menyinari mereka berdua, memandikan mereka dengan sinar temaram. Tenten menghela nafas panjang dan menyilangkan kedua tangannya diudara sementara Itachi mengambil posisi dibelakang Tenten, merengkuh pinggang mungil Tenten.
Nada pertama terdengar, dan Tenten pun mulai menari.
xXx
Sasuke tersenyum getir ketika melihat gadis dengan cepol dia dikepalanya itu bergerak. Ayunan tangannya terlihat anggun dan kuat. Sasuke melirik kesamping, kearah Tsunade yang terlihat menatap Tenten dengan mata berkaca-kaca. Sasuke tahu tidak hanya Tsunade saja yang tersentuh melihat gadis itu, tapi seluruh penonton disini, bahkan dirinya. Tidak ada satupun diantara mereka yang melepaskan pandangannya dari sosok gadis panda itu.
Sasuke kembali mendapati dirinya terpesona oleh Tenten. Gadis itu terlihat sangat… sangat indah. Dan saat itulah Sasuke yakin bahwa Tenten memang dilahirkan untuk meluncur. Teknik gadis itu sangat sempurna, meskipun Sasuke sudah melihat gladi resiknya, Sasuke tetap terpana saat ini. Cara gadis itu bergerak, benar-benar indah dan anggun. Tempo yang tepat, tubuh yang mengalun mengikuti musik klasik nan indah ini.
Dan jangan lupa ekspresi gadis itu. lagu Les Miserables terdengar sangat cocok menemani Tenten dan abangnya meluncur. Lagu yang menurut Sasuke kaya akan gejolak emosi, dan lihat bagaimana Tenten dan Itachi berusaha menyampaikan emosi itu. seolah mereka ingin menceritakan kisah yang terpendam di dalam lagu ini. Dipertengahan lagu, Itachi kembali meninggalkan Tenten. Membiarkan gadis itu menceritakan isi lagu itu seorang diri. Tenten seolah ingin membacakan dongeng lewat setiap gerakannya, dongeng tentang lagu ini yang mengisahkan tentang seorang gadis yang terperangkap didalam perasaannya sendiri. Lihat bagaimana tatapan tersiksa dimata indah Tenten. Seolah membuktikan bahwa ia benar-benar menyelami lagu ini.
Dan diakhir lagu. Gadis itu berhenti berputar. Wajah gadis itu menunjukan ekspresi putus asa dan tersiksa, yang menyampaikan bahwa lagu ini berakhir tragis dan menyedihkan. Selama beberapa saat tidak ada yang bereaksi. Semua penonton mulai bertepuk tangan ketika akhirnya lampu latar dinyalakan. Gedung itu terasa akan meledak karena semua tepuk tangan para penonton. Bahkan Gustav dan beberapa skater terkenal didunia memberikan stand applause pada Tenten. Sasuke sendiri berdiri dan bertepuk tangan.
Setelah sosok Tenten menghilang dibalik pembatas, Sasuke segera berjalan menuju ruang ganti Tenten. Ia hendak memberikan selamat dan memastika bahwa Tenten baik-baik saja.
"Panda!" Gadis itu menolehkan kepalanya ketika mendengar suara Sasuke. Ia tersenyum lemah sambil melambai. Setelah Gustav pergi, Sasuke baru mendekati Tenten dan memberikan selamat.
"Kau benar-benar hebat, panda." Tak lama setelah mengutarakan pujian itu. tsunade dan Susune langsung berlari mendekati Tenten dan memeluknya erat-erat. "Sayang! Kami bangga sekali padamu." Tenten tersenyum lemah. Ia baru hendak mengucapkan terimakasih pada Tsunade dan Sasuke ketika ia merasakan oksigen berlarian keluar dari paru-parunya dan lututnya terasa lemas.
Tenten hampir saja terjatuh ke lantai kalau Sasuke tidak langsung menangkap tubuhnya.
