Rated: T

Disclaimer: Mashasi Kishimoto

warning: typos, crack pairing, late updated

sasuten slight itaten

Couple words from author

Holla minna-san! maaf ya author baru apdet sekarang, dan maaf banget untuk keamburadulan chap 23:( author baru nge check dan ternyata parah banget:( sebenernya chap 24 udh author apdet sekitar seminggu yang lalu, tapi sampe hari ini belum bisa kebuka:( huhu sedih sekali semoga kali ini bisa ke publish ya, author juga mau publish ulang chap 23 yang sangat sangat ancur:( harap dimaklumi ya minna-san, sepertinya ada kesalahan teknis di server ffn ini atau mungkin author yang salah:( author minta maaf banget :(:( author juga sangat berterimakasih sama semua readers yang udah setia dan sabar nungguin fic yang terasa tak akan selesai ini:( yap author bales review dulu yaa

Ran Megumi: hehe maaf ya baru apdet:( author sibuk banget sama urusan sekolah jadi ya baru sempet apdet deh:( trs juga kemaren sempet error gitu sebenernya udh diapdet dari seminggu yang lalu, tapi gatau kenapa gabisa kebuka:( maaf banget ya, semoga gabosen dan tetep ngikutin fic ini hehe. waduh untuk itu author blm tau ya, mungkin author akan lebih fokus dulu untuk nyelesain fic ini hehe.. makasih review nya, iya aku pasti mampir ke fic kamu kok, oh iya btw kamu pm apa ya? kok gamasuk di aku? hmm, chap 23 baru aku apdet ulang, emang bener ancur banget:( gakebayang deh baca nya gimana, makasih ya tetep baca meski amburadul gitu, udh aku apdet ulangkok kalo mau bisa dibaca ulang lagi hehehehehehe

Hanamizuki: hehe iya chap ini memang ditujukan untuk sasuten huhu.. makasih yaa keep reading:)

jelliesdewi: hehe iya gapapa kok, makasih yaa. ga kok review kamu ga aneh sama sekali hihi

Astro O'connor: haduuh makasih banyak yaa, iya ini udh aku apdet kok, maaf ya lama:( hehe boleh bangettt makasih yaa, makasih juga udh tetep baca dan nge review:) salam kenal juga:)

boiboi: makasih yaa untuk reviewmuu, berkat kamu aku jadi vtau kalo chap 24 bermasalah hehehe, silahkan dibaca ini udh di apdet ulang hehehe...

Chapter 24

Tsunade dan Susune mendesak Sasuke untuk pulang malam itu agar laki-laki itu bisa beristirahat dan membiarkan mereka yang menemani Tenten dirumah sakit. Mereka berjanji akan langsung mengabari Sasuke apabila Tenten sudah sadarkan diri. Sasuke pun pulang dengan enggan setelah berjanji pada Tsunade bahwa ia akan kembali besok pagi sehingga mereka bisa kembali ke hotel dan beristirahat. Tentu saja, Sasuke tidak bisa beristirahat sama sekali setibanya dirumah. setiap kali laki-laki itu memejamkan mata, kejadian disaat Tenten terkulai dipelukannya kala itu berputar-putar diotaknya, bagaikan film pendek yang menyedihkan dan menyiksa. Dokter memang sudah menstabilkan kondisi Tenten, tapi tetap saja mereka semua harus bersabar menunggu Tenten sadarkan diri.

Sejak secara tiba-tiba Tenten terhuyung jatuh kebelakang dan pingsan, Sasuke hampir tidak bisa merasakan apapun kecuali rasa dingin yang merayapi punggungnya, ia tidak bisa berfikir, tubuhnya hanya berfungsi dibawah kesadaraannya. Sasuke berbaring diranjangnya setelah beberapa menit yang lalu berusaha menenangkan diri dengan berendam air panas.

Laki-laki itu menatap lurus ke langit-langit kamarnya yang berwarna putih, sesekali ia melirik ke ponselnya yang tergeletak diatas meja kecil disamping tempat tidurnya, hanya sekedar memastikan alat itu siap menyala jika mendapat telpon dari Tsunade dan Susune. Ia juga terus menerus melirik jam waker kecilnya, berharap pagi lebih cepat tiba sehingga ia bisa pergi ke rumah sakit. Sekitar jam lima pagi, Sasuke akhirnya terlelap, dan terbangun tiga jam kemudian karena deringan ponsel yang menghentakannya dari alam mimpi.

Dari Susune.

Ia mengabarkan bahwa Tenten sudah sadarkan diri. Setelah mendengar itu, rasa dingin yang selama ini merayapi punggungnya perlahan lenyap, dan Sasuke akhirnya mulai merasakan butiran atom oksigen kembali mengisi paru-parunya.

xXx

ketika masuk keruang rawat Tenten, ia melihat gadis itu sedang duduk bersandar dibantal-bantal diatas ranjang sambil menyantap semangkuk bubur gandum dan berbincang dengan Tsunade dan Susune. Begitu melihat Sasuke, Tenten langsung tersenyum cerah kepadanya, gadis itu terlihat ceria seperti Tenten yang Sasuke kenal, walaupun wajahnya tetap pucat.

"Nah sayang, karena Sasuke sudah kembali, kami akan kembali ke hotel sebentar untuk mandi dan berganti pakaian, kami akan datang lagi nanti siang." Kata Tsunade.

"Baiklah, baa-chan. Hati-hati dijalan." Sementara Tsunade mencium kening Tenten, Sasuke berjalan menghampiri Susune.

"Apakah kalian mau kuantar kembali ke hotel?" Susune menoleh menatap Sasuke dan tersenyum. "Kurasa tidak perlu, Sasuke. Kami akan naik taxi dari sini. Dan aku harap kau tidak keberatan aku meminjam kunci apartemenmu dari Tenten, ia butuh beberapa pakaian ganti dan kupikir aku dan kakakku akan mampir keapartemenmu dalam perjalanan kembali kesini nanti siang untuk mengambil pakaian." Sasuke menggeleng.

"Tidak masalah Susune, aku sama sekali tidak keberatan." Susune tersenyum seraya berterima kasih lalu berbalik menghampiri Tenten untuk memberikan high five. Kali ini Tsunade menghampiri Sasuke.

"Dr. Hamilton sudah memeriksanya tadi." Katanya kepada Sasuke. "Dan katanya anak ini harus beristirahat total sepanjang hari."

"Iya, akan kupastikan dia beristirahat sepanjang hari ini." Tsunade tersenyum lebar lalu menepuk pundak Sasuke. "Ku titipkan Tenten padamu, anak muda." Setelah mengucapkan selamat tinggal kepada Tenten, kedua kakak beradik itupun pergi.

"Hei." Sasuke mengalihkan pandangannya dari pintu dan menatap Tenten.

"Hei." Balasnya sambil duduk dikursi kayu disamping ranjang yang sebelumnya diduduki Tsunade. "Jadi bagaimana kabarmu hari ini?"

"Jauh lebih baik." Tenten menatap Sasuke dengan alis terangkat. "Tapi kau terlihat agak sedikit… kacau."

"Kalau kau mengalami apa yang kualami kemarin malam, kau juga akan terlihat seperti aku sekarang." Kata Sasuke sambil tersenyum kecil. Tenten membalas senyuman Sasuke dengan senyuman lemah.

"Aku sukses membuat kalian semua merasa cemas bukan?" Tanpa kendalinya, Sasuke menyambar tangan kiri Tenten dan menangkupnya, mata gelapnya terpaku pada tangan rapuh Tenten ketika ia berbicara.

"Tolong jangan buat aku cemas lagi." Tenten menatap Sasuke lurus-lurus, namun tidak menggubris kata-kata Sasuke, ia malah bertanya, "Bagaimana reaksi semua orang ketika tahu aku jatuh pingsan di koridor? Bagaimana reaksi Itachi-senpai? Bagaimana reaksi Gustav?"

"Mereka khawatir tentu saja, khususnya kakakku dan Gustav. Tapi aku dan Tsunade meyakinkan bahwa kau hanya kecapekan dan butuh istirahat total selama beberapa hari." Sahut Sasuke. "Dan itulah yang akan kau lakukan. Istirahat."

"Jangan khawatir. Tolong sampaikan pada Gustav, bahwa aku sangat berterimakasih atas semuanya." Sasuke hanya bisa tersenyum.

"Tentu saja."

"Jadi, apa Dr. Hamilton sudah memberitahumu kapan operasi akan dilakukan?" Tanya Sasuke dengan suara parau, Tenten mengangkat kedua bahunya. "Mungkin sekitar lima hari lagi, pihak rumah sakit sudah selesai memperhitungkan operasi pencakokan sumsum tulang belakang itu, tapi kurasa masih ada beberapa hal yang harus mereka perhitungkan, operasi ini sangat jarang dilakukan dan tingkat kegagalannya lebih besar dibanding keberhasilannya." Kata Tenten sambil menatap lurus kedepan.

Tenggorokan Sasuke terasa tercekat. Ia tetap diam. Ia takut apabila ia mencoba bersuara, ia akan melakukan sesuatu yang bodoh seperti menangis.

"Bubur ini sangat buruk." Kata Tenten sambil mengernitkan hidungnya ketika merasakan sesendok bubur gandum melewati tenggorokannya.

"Kurasa bubur itu terlihat lebih enak dibanding bubur hambarmu." Tenten tersenyum kecil, lalu mencondongkan tubuhnya kearah Sasuke.

"Mau kuberitahu satu rahasia?" Sebelah alis Sasuke terangkat, lalu ia mengangguk. Tenten memperbaiki posisi duduknya lalu berkata.

"Apa kau ingat pertemuan pertama kita?" Seulas senyum kecil mengembang dibibir Sasuke, ketika gadis dihadapannya ini dengan tidak elitnya jatuh dan menubruk Sasuke, bahkan meniban tangan laki-laki itu dan membuat tangannya tidak bisa berfungsi selama hampir satu bulan. "Kau membuat tanganku patah."

"Aku tidak mematahkan tanganmu!" Seru Tenten sambil tertawa. "Tanganmu hanya terkilir." Sasuke tersenyum dan tidak membatah.

Setelah tawa Tenten mereda, gadis itu kembali menatap Sasuke dan berkata. "Setelah kejadian itu, kau terlihat sangat membenciku, jelas-jelas kau tidak ingin aku berada didekatmu. Tapi, apa kau tahu alasan aneh yang membuatku nekat menemuimu pagi itu? kau tidak pernah menanyakan alasan kenapa aku nekat menemuimu bukan?"

Tenten benar. Ia tidak pernah memikirkan alasan kenapa gadis itu nekat menghampirinya. Selain rasa menyesal tentu saja. Sasuke yakin ada alasan lain kenapa gadis itu akhirnya menyerahkan nomor telponnya dan menyandang predikat menjadi pengurus rumah Sasuke. Saat itu ia hanya ingin Tenten pergi jauh-jauh dari kehidupannya. Tapi saat ini setelah dipikir-pikir..

"Kenapa kau nekat menemuiku pagi itu?" Tanya Sasuke, memutus pikirannya sendiri. Tenten menghela nafas dalam-dalam lalu berkata.

"Entahlah, awalnya aku hanya merasa bersalah.. tapi setelah pagi itu kau membiarkanku masuk, kau membiarkanku membuatkan glatin tomat yang luar biasa lezat untukmu.. aku jadi merasa dibutuhkan. Kau tahu, sebelum aku bertemu denganmu, aku selalu merasa keberadaanku tidak berguna lagi. Setelah Dr. Hamilton mendiagnosa aku mengidap kanker tulang belakang dan pengikisan tulang akut, aku merasa hidupku tidak ada gunannya lagi. Aku merasa tidak dibutuhkan oleh siapapun. Sampai akhirnya aku menubrukmu, sampai akhirnya aku melihat tanganmu terkilir. Aku seolah berpikir bahwa inilah kesempatanku agar aku bisa berguna untuk seseorang. Meskipun orang itu membenciku." Kata Tenten dengan mata berkaca-kaca.

Sasuke mencondongkan tubuhnya kedepan dan menopang sikunya diatas ranjang. Ia menatap Tenten lurus-lurus dan berkata pelan namun tegas.

"Aku tidak membencimu." Tenten tersenyum mengerti. "Tapi akhirnya kau membiarkanku membantumu, kau memberiku kesempatan untuk berguna bagi seseorang, dan itulah alasannya kenapa aku masih berjuang untuk hidup sampai detik ini." Tenten mengangguk ketika melihat Sasuke mengangkat kedua alisnya.

"Menjadi pengurus rumahmu memberikanku alasan untuk hidup. Dan setelah kupikir-pikir..setelah semua ini aku baru sadar bahwa kau juga menjadi salah satu alasanku untuk bertahan hidup."

'Apakah maksud gadis itu sama seperti yang dipikiranku? Apakah ia sudah tidak menyukai Itachi lagi? Apakah aku boleh berharap bahwa panda membalas perasaanku?'

Tapi sebelum Sasuke sempat berpikir lebih jauh. Tenten menarik tangannya dari genggaman Sasuke. "Kau tahu apa yang paling kuinginkan sekarang?" Tanyanya sambil tersenyum kepada Sasuke.

"Apa?" balas Sasuke, berusaha mengabaikan rasa dingin yang menghinggapi tangannya ketika tangan Tenten hilang dari genggamannya.

"Aku ingin mendengar laguku."

"Lagumu?" Tanya Sasuke dengan sebelah alis terangkat.

"Irony." Kata Tenten, lalu setelah berpikir sejenak, gadis itu menambahkan. "Atau Just a feeling to my panda?"

Sasuke mendengus lalu tertawa, laki-laki itu kemudian bangkit dari kursinya. "Baiklah, tunggu disini sebentar."

xXx

Lima belas menit berlalu, tapi Sasuke tak kunjung kembali. Tenten mulai bertanya-tanya apa yang akan dilakukan Sasuke. Tapi tepat saat itu, pintu terbuka dan Sasuke masuk sambil mendorong kursi roda. "Kami-sama Sasuke, kau darimana?" Tanya Tenten. "Dan kenapa kau membawa kursi roda?"

Sasuke tersenyum lebar. "Tadi aku bertanya pada perawat apakah ada piano dirumah sakit ini. Katanya ada satu piano tua diruang bermain bangsal anak." Jelasnya. Lalu ia menepuk pegangan kursi roda dihadapannya.

"Dan aku meminjam kursi roda ini untukmu. Ayo duduklah disini dan aku akan membawamu kebangsal anak." Tenten menatap kursi roda disampingnya dengan kedua alis terangkat.

"Atau kau lebih tertarik kalau aku menggendongmu kesana?" Goda Sasuke yang berhasil membuat Tenten tertawa.

"Sepertinya kursi roda lebih meyakinkan." Sasuke menyipitkan mata. "Aku tahu kau berbohong, kau selalu terlihat lebih cerah ketika kugendong." Katanya sambil terkekeh pelan. "Tapi tak apa, ayo kita pergi."

Setelah selama beberapa menit melintasi koridor rumah sakit yang sunyi, akhirnya mereka sampai di ruang bermain bangsal anak, tepatnya dilantai lima. Tidak ada seorangpun disana, Sasuke mendorong kursi roda ke arah piano tua berwarna coklat disebelah rak buku dongeng. Setelah menempatkan kursi roda Tenten disebelah kursi piano, Sasuke segera duduk dan membuka tutup tuts lalu melarikan kesepuluh jarinya diatas tuts gading dan hitam itu.

"Suaranya masih bagus." Gumamnya lebih pada diri sendiri. Laki-laki itu menoleh kearah Tenten, setelah gadis itu tersenyum dan mengangguk, kesepuluh jari Sasuke mulai berlarian diatas tuts piano, menciptakan alunan nada yang indah diruangan itu. tenten mendapati dirinya memejamkan mata dan kembali merasakan gejolak emosi didadanya. Dadanya terasa penuh dengan segala emosi yang dihantarkan dari lagu ini.

Mendengar bunyi gemerisik dibelakangnya, Tenten segera membuka kedua matanya dan menoleh kebelakang. Mata hazelnya melebar ketika mendapati enam anak kecil yang rata-rata berusia enam tahun dan seorang suster tengah berdesak-desakan ingin melihat siapa gerangan pencipta nada-nada indah itu. bibir mungil Tenten tersenyum ketika melihat anak-anak dan seorang suster itu terlihat terpesona dengan permainan piano Sasuke.

Sama seperti Tenten, mereka semua sama-sama terpukau dengan lagu ini. Tenten kembali memejamkan matanya ketika lagu sampai di tengah-tengah. Ketika perasaan kesal, amarah dan benci berubah menjadi suatu ketertarikan. Lagu itu terus memenuhi kepala Tenten seiring film pendek tentang masa lalunya dan Sasuke yang menari-nari dikepalanya. Ketika nada terakhir sudah tak terdengar, Tenten bertepuk tangan diiringi oleh tepuk tangan meriah oleh anak-anak yang bersemangat dibalik pintu kaca ruang bermain. Sasuke terkejut ketika mengetahui bahwa bukan hanya Tenten yang menikmati permainannya, sepertinya ia sudah mengundang satu rombongan kecil kemari.

Meski terkejut, Sasuke tetap tersenyum lalu berdiri menghadap para penonton lalu membukuk memberi hormat secara resmi.

"Kau membuat mereka terpesona." Kata Tenten ketika mereka berdua sudah ditinggal oleh rombongan itu.

"Benarkah?" Gumam Sasuke sambil menatap Tenten. "Padahal aku hanya ingin menawan hati satu orang." Tenten tidak berkomentar, ia memandang kearah tuts-tuts putih gading dihadapannya lalu dengan kikuk menekankan jarinya diantara barisan tuts itu. "Terimakasih karena sudah memainkannya untukku." Sasuke tersenyum.

"Bukan masalah, lagu ini memang milikmu, kau bisa memintaku memainkannya kapan pun kau mau." Tenten terkekeh lalu menatap tangan kanannya yang ditumpuk diatas pangkuannya.

"Hei, aku masih punya sesuatu untukmu." Kata Sasuke sambil beranjak dari tempat duduknya. Tenten menatap Sasuke dengan sebelah alis terangkat.

"Apa?" Sasuke berjalan menuju rak buku dongeng dan mengambil satu kotak berukuran sedang yang dililit pita berwarna merah.

"Hadiah natalmu." Tenten mendengus lalu tertawa ketika Sasuke menyodorkan kotak itu padanya. "Aku bahkan lupa dengan perjanjian tukar kado kita." Sasuke mendengus lalu kembali duduk dihadapan piano, menghadap Tenten dan meletakan kotak itu dipangkuannya.

"Well, aku tahu natal kemarin kau sangat sibuk. Tapi karena aku sudah terlanjur menyiapkan kado untukmu, tentunya aku harus memberikannya padamu." Tenten tersenyum geli lalu mengangguk menyerah.

"Baiklah, bisa kubuka kadonya sekarang?"

"Yep." Tenten kembali tersenyum sebelum akhirnya menarik pita merah yang melilit kotak putih dipangkuannya. Setelah lilitan pita terlepas, perlahan-lahan Tenten membuka tutup kotaknya. Mata hazel nut Tenten melebar ketika melihat apa isi kotak itu. kedua tangan Tenten menarik benda itu keluar dan membentangkannya. Sebuah selimut.

"Kau memberikanku selimut?" Tanya Tenten sambil menatapi selimut tebal rajutan yang ditambal dengan motif kepala panda yang terlihat berantakan. Selimut itu bisa dibilang kacau, benangnya tidak beraturan, kepala panda nya bertebaran secara acak. Tetapi Tenten yakin selimut berwarna krem itu pasti nyaman dan hangat. "Well, bukannya aku bermaksud sombong, tapi aku yang membuatnya sendiri." Tenten mengerjap menatap Sasuke, gadis itu seolah berkata. Kau-pasti-bercanda. Sasuke memutar kedua bola matanya dan berkata.

"Yeah entahlah, aku tidak tahu kenapa aku bisa berpikiran untuk memberikanmu selimut sebagai hadiah natal, pasti ini adalah hadiah natal terburuk yang pernah kau terima."

Awalnya Tenten berpikiran seperti itu. karena lihat saja, selimut ini sangat kacau dan berantakan. Tetapi setelah mengetahui Sasuke yang membuatkan selimut ini untuknya, Tenten jadi merasa… senang.

"Bagaimana kau… kupikir kau.. tanganmu kan.."

"Yeah, aku membuatnya saat awal desember, ketika tanganku masih di gips. Hasilnya sangat buruk saat itu. aku mencoba memperbaikinya sampai natal tiba dan hasilnya masih tetap buruk. Kemudian karena kau terlihat sibuk dan kita sempat…" Sasuke terdiam sejenak, ia tidak ingin mengingat kebodohannya saat membentak Tenten dan mengatakan hal buruk pada gadis itu ketika ia baru mengetahui penyakitnya.

"Selama kita be… bertengkar.. aku kembali memperbaiki selimut itu. butuh beberapa minggu untuk memperbaikinya. Karena itu aku baru bisa memberikannya sekarang, selimut itu baru selesai kemarin." Kata Sasuke sambil mengangkat kedua bahunya. Tenten kembali mengerjap kaget.

Sasuke merajut selimut ini untuknya? Tenten tersenyum kecil, ia merasa air mata mulai menusuk-nusuki bola matanya.

"Bagaimana kau bisa.. darimana kau bisa merajut?" Tanya Tenten dengan suara bergetar. Sasuke tersenyum lemah lalu berkata.

"Naruto memberikan beberapa buku panduan merajut milik neneknya. Dan yeah, selama tiga hari aku sukses membuat tanganku merah-merah karena tertusuk jarum beberapa kali, dan hampir menyerah karena kesulitan menyusupkan benang di batang jarum." Tenten menunduk menatap tangan besar Sasuke, lalu tertawa kecil. Gadis itu masih tidak percaya seorang Sasuke mau repot-repot membuat hadiah natal untuknya.

"Aku tidak tahu Sasuke… hadiah ini sangat.. ini hadiah terindah yang pernah kuterima, sungguh. Terimakasih." Ucap Tenten seraya melilitkan selimut itu ditubuhnya, dan seketika itu juga, Tenten bisa mencium aroma mint di rongga hidungnya, bau khas Uchiha Sasuke.

"Sebagai ucapan terimakasih, bisa aku minta kadoku sekarang?" Tenten mengernyitkan hidungnya. "Aku.. maaf tapi aku belum sempat membelikanmu kado natal.. kau tahu bukan natal kemarin aku-"

"Aku mengerti, kau tidak perlu membelikanku kado."

"Untunglah, untuk sesaat kukira kau-"

"Aku belum selesai, panda." Kata Sasuke sambil menatap tajam mata hazel nut Tenten, membuat gadis itu terdiam. "Sebagai gantinya… biarkan aku menciummu."

xXx

Sasuke bisa melihat tubuh Tenten menegang begitu Ia mengucapkan permintaannya. Ia tahu ini sangat mendadak, tapi ia ingin gadis itu memahami perasaannya tanpa kata-kata. Sasuke ingin Tenten merasakan apa yang dirasakannya dalam hati. Sasuke ingin Tenten mengerti bahwa ia sudah menjadi bagian terpenting dalam hidup Sasuke, bahwa Sasuke bersedia menggerakan langit dan bumi demi dirinya, bahwa Sasuke akan bersedia menyerahkan seluruh hidupnya hanya untuk bersama Tenten. Mata hazel Tenten masih menatap mata onyx Sasuke dalam-dalam.

"Baiklah." sepatah kata itu diucapkan dengan begitu lirih sampai Sasuke hampir tidak bisa mendengarnya. Ia mengerjap menatap Tenten, meminta penegasan. Seulas senyum samar dan kikuk menghiasi bibir Tenten.

"Kurasa aku bisa memberikan hadiah natalmu." Gumamnya. Sasuke menelan ludahnya yang terasa bagaikan seenggok daging. Jantungnya berdebar begitu keras sampai ia takut jantungnya akan melompat keluar. Ini konyol. Ini bukan ciuman pertamanya, lalu kenapa ia mendadak berkeringat dingin seperti ini. Kenapa ia segugup ini.

Karena ini Tenten. Gadis yang entah sejak kapan memiliki hati Sasuke di genggaman tangannya.

Sasuke mencondongkan tubuhnya dengan perlahan, memberikan kesempatan pada Tenten untuk mundur jika tiba-tiba ia berubah pikiran. Tetapi Tenten tetap diam dan membiarkan Sasuke mendekatinya. Jarak mereka semakin dekat, lalu Sasuke berhenti ketika hidung mereka bersentuhan. Sasuke bisa melihat Tenten memejamkan matanya, ia bisa merasakan deru lembut nafas Tenten dihadapannya. Sasuke menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan lalu mencondongkan tubuhnya lagi. Dan saat itulah bibir mereka bertemu.

Kepala Sasuke terasa begitu ringan ketika bibirnya menyentuh bibir Tenten yang terasa tipis dan dingin, ia merasa seolah melayang dan dadanya terasa penuh sampai ia merasa dirinya akan meledak. Sasuke tidak melakukan apapun selain membiarkan bibirnya menempel dibibir Tenten. Ia tidak ingin membuat gadis itu takut. Ciuman kecil itu hanya berlangsung selama beberapa detik, Sasuke kembali menarik dirinya dan tersenyum kecil kepada Tenten ketika gadis itu membuka kedua matanya. "Kuharap tidak terlalu mengerikan." Kata Sasuke dengan nada bergurau. Sementara Tenten memperbaiki letak selimutnya, menenggelamkan tubuh mungilnya sedalam mungkin didalam selimut tebal itu lalu tersenyum canggung kearah Sasuke.

Selama beberapa saat tidak ada yang berbicara, mereka terlihat sibuk dengan pikirannya masing-masing, hingga akhirnya Sasuke memecah keheningan.

"Aku mencintaimu."

Sekali lagi Sasuke bisa merasakan Tenten menegang dihadapannya. Sasuke mendesah lembut. Ia sudah mengatakannya. Perasaannya memang terasa sedikit lega karena sudah mengutarakannya.

"Tapi kurasa, kau sudah bisa menebaknya." Lanjut Sasuke dengan nada ringan. Tenten masih diam seribu bahasa, gadis itu masih menunduk, menolak menatap Sasuke. Laki-laki itu bertanya-tanya dibenaknya, apakah ia melangkah terlalu cepat? Tetapi ia memang hanya ingin Tenten tahu. Setidaknya untuk saat ini. Jadi walaupun Tenten tidak bereaksi, Sasuke tidak akan memaksa, karena ia tahu gadis itu mendengarnya dengan jelas.

"Aku hanya ingin mengatakannya, jadi aku tidak ingin kau merasa terbebani." Lanjut Sasuke dengan suara tercekat. Hening lagi. Tapi kali ini keheningan yang menyelimuti mereka tidaklah sama seperti sebelum Sasuke menyatakan perasaannya.

"Tapi ada satu hal yang ingin kuminta darimu." Sasuke terdiam sejenak, menghela nafas panjang lalu kembali bersuara. "Berjanjilah padaku kau tidak akan menyerah. Berjanjilah padaku bahwa kau akan terus bertahan hidup."

Tenten mengerjap, tetapi masih menundukan kepalanya.

"Kalau bukan untukku, lakukanlah untuk dirimu sendiri."

Hening lagi. Kemudian Sasuke mendengar Tenten mendesah singkat lalu berbisik. "Aku berjanji akan bertahan hidup." Tenten terdiam sejenak lalu kembali melanjutkan. "Aku berjanji akan bertahan hidup.. sampai.. untukku.. untuk Tsunade.. untuk Susune.. dan untukmu."

Yap. sekali lagi author minta maaf untuk keterlambatan apdet dan segala kesalahan teknis:( author bener-bener gatau kenapa chap 23 dan 24 amburadul gini:( tapi at least author udh apdet ulang kok hehe, silahkan dibaca. author juga mau ngucapin terimakasih yang sebesar-besarnya bagi semua readers baik yang silent atau yang mereview:) see you on the next chap minna!xoxo