Rated: T
Disclaimer: Mashasi Kishimoto
Warning: typo, crack pair, late update
SasuTen slight ItaTen
read it with ur own risks(:
Couple words from author:
Buenos dias minna-san:D yak akhirnya karena udah masuk musim liburan, author bisa ngebut buat apdet fic ini hehe. yak karena semuanya udh jelas, jadi tinggal endingnya saja yang berarti fic ini udah mau selesai. haaa... akhirnya fic ini mau selesai jugaa hehe semoga minna-san puas dengan perkembangan ceritanya. oh iya, author sempet baca fic ini dari awal, dan ngeliat kalo kayanya alur ceritanya agak lambat ya-_- perasaan author doang atau emang minna-san juga merasakan hal yang sama pas baca fic ini? hehe semoga ngga ya:') oke seperti biasa review dibales lewat pm ya minna:) sebelum lanjut ke chappie 26, author mau berterimakasih sama semua readers, baik yang me review atau engga :) doakan semoga ending dari fic ini memuaskan dan fic barunya bisa lebih baik dari ini. amin o:) oke, tanpa berlama-lama lagi. langsung aja chappie 26~
Chapter 26
Dengan hati-hati Tenten menyesap coklat panasnya yang masih mengepulkan asap tipis, lalu kembali meletakannya keatas meja café. Gadis itu mendesah lirih ketika iris hazelnya melirik kesamping, kearah arena ice skating tempatnya mengajar. Ya, dirinya tidak akan bisa menyentuh lapisan es lagi, paling tidak selama satu tahun kedepan.
Tenten tidak diperbolehkan lagi menyentuh lapisan es, dokter masih belum bisa menghilangkan pengeroposan dipersendian Tenten, yang berarti Tenten harus mengenakan brace untuk menyokong tulangnya. Tetapi kabar baiknya, sel kanker sudah benar-benar hilang di tubuh Tenten, tidak ada lagi serangan collapse, tidak ada lagi obat-obat berdosis berat yang harus Tenten minum. Kemarin, Tsunade dan Susune kembali pulang Jepang setelah selama seminggu tinggal bersama Tenten diapartemennya. Kedua kakak beradik itu dengan enggan kembali pulang ke Jepang setelah Tenten memohon pada mereka bahwa ia bisa tinggal sendiri.
Dan hari ini, Tenten memutuskan untuk mengunjungi café Itachi, untuk sekedar menyesap coklat panas dan berbincang dengan Itachi. Uchiha sulung itu menelpon Tenten kemarin malam, meminta Tenten untuk berkunjung ke cafenya, kalau kondisi gadis itu memungkinkan. Katanya, ia ingin memberikan suatu kejutan atas keberhasilan operasi Tenten.
Sementara Uchiha yang satunya…
Entahlah, sudah sekitar tiga minggu Tenten tidak berhubungan lagi dengan Sasuke. Setelah hari itu, ketika Tenten dioperasi, ketika Sasuke kembali menyatakan perasaannya, Tenten tidak pernah berani menghubungi Sasuke. Dan sepertinya laki-laki itu juga tengah sibuk sehingga tidak pusing-pusing menanyakan keadaan Tenten. Dan gagasan itu membuat hati Tenten sedikit… sakit.
"Kuharap kau tidak terlalu lama menunggu." Tenten tersentak kaget lalu menengadahkan kepalanya untuk menoleh kearah laki-laki yang sudah mengganggu lamunannya. Itachi tersenyum singkat lalu duduk dihadapannya.
"Tidak juga, sebenarnya aku baru saja sampai." Kata Tenten berusaha menenangkan Itachi. Itachi tersenyum kecut lalu berkata.
"Kau baru datang, tapi coklat panasmu sudah tidak lagi mengepulkan asap seperti itu, Kami-sama, pelayanku memang terkadang bisa sangat merepotkan." Tenten terkekeh lalu mengangkat kedua bahunya.
"Well, sebenarnya aku sudah cukup lama menunggumu, tapi itu tidak masalah." Itachi mengubah senyumannya menjadi senyuman kecil, lalu laki-laki itu menatap gelas Tenten yang isinya tinggal sedikit.
"Jadi ada apa memintaku kesini? kau sudah terlalu merindukanku, senpai?" Itachi tertawa renyah lalu berkata. "Sebenarnya aku ingin mengajakmu kesuatu tempat."
"Apakah kau akan mengajakku ke tempat Amber dan Daisy lagi? Kami-sama, aku sangat merindukan mereka. Bagaimana kabar Amber? Bagaimana Daisy? Bagaimana kabar Will dan anak-anak lainnya?"
"Tenang dulu Tenten, mereka semua baik-baik saja. Amber sudah diperbolehkan pulang beberapa hari sebelum kau diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Kondisinya semakin membaik. Daisy juga sehat-sehat saja, sementara Will. Kudengar anak itu terkenal man flu, penyakit yang mengerikan bagi kami sesame laki-laki." Tenten terkekeh.
"Kalian laki-laki memang terkadang bisa sangat merepotkan." Itachi tersenyum lalu mengangguk-anggukan kepalanya.
"Jadi sebenarnya kau mau mengajakku kemana, senpai?"
"Sebenarnya Gustav memintaku untuk mengajakmu datang ke tour nya di Washington. Dia akan sangat senang sekali jika kau datang segera setelah kau sembuh total tentunya." Tenten terdiam sejenak. Sejujurnya, melihat para skater meluncur diatas es dengan bebas sementara kau terperangkap didalam balutan brace itu sangatlah tidak menyenangkan. Terutama bagi Tenten. Itu seperti menyiksanya. Tapi demi membalas kebaikan mantan coach nya, yang telah membantunya dalam acara bakti social dan memberikannya kesempatan terakhir untuk meluncur diatas es, Tenten akhirnya mengangguk kecil.
"Bagus! Aku akan menelpon Gustav, dan setelah aku selesai memberitahu Ino. Kita akan segera berangkat ke Washington." Kata Itachi sambil tersenyum semangat lalu beranjak pergi meninggalkan Tenten. Sementara Tenten mendesah dan melirik kearah ice rink disebrangnya.
xXx
Setelah terjebak macet selama satu jam lebih. Akhirnya Itachi dan Tenten sampai di ice rink terbesar milik Dearburn di Washington. Tribun ice rink itu dapat menampung 900-an penonton, dengan kualitas lapisan es terpercaya. Lapisan es disana tidak mudah mencair seperti di ice rink murahan tempatnya mengajar dulu. Dulu, Tenten pernah beberapa kali diajak berlatih oleh Gustav disana, dan itu adalah pengalaman yang luar biasa baginya. Rasanya seperti meluncur disurga.
"Nah, ayo kita masuk. Sepertinya acaranya sudah dimulai." Tenten mengangguk lalu mengikuti Itachi keluar dari mobil. Diluar ice rink, terlihat sebuah papan reklame besar yang menandakan bahwa ada tour Dearburn yang dilaksanakan hari itu. bola mata hazel Tenten melebar ketika melihat tanggal pertunjukan yang tertera disana. Tanggal 02 Februari 2014. sudah masuk bulan februari.
'Kau harus berjanji bahwa kau akan datang ke recitalku bulan februari nanti.' Tenten tersentak kaget ketika suara berat itu menelusup masuk kedalam kepalanya. Tentu saja! Bulan februari. Bulan ini Sasuke akan menjalankan recitalnya yang sempat tertunda karena Tenten membuat tangannya terkilir, dan Tenten sudah berjanji akan datang ke recital Sasuke jika Sasuke mau ikut serta dalam acara bakti socialnya dua bulan yang lalu. Kami-sama! Tenten bahkan tidak tahu tanggal berapa recital Sasuke dilaksanakan!
"Tenten? Kau baik-baik saja?" Tenten tersentak kaget lalu buru-buru menyembunyikan ekspresi terkejutnya dari Itachi.
"Y-ya, tentu saja. Ayo kita masuk." Itachi memandangi Tenten dengan tatapan heran, lalu beranjak masuk mengikuti Tenten ketika gadis itu ngeloyor pergi. Beberapa menit kemudian, mereka sudah duduk dibangku tribun menyaksikan sembilan skaters muda Dearburn membentuk berbagai macam pola diatas es. Tidak ada ekspresi antusias sama sekali diwajah Tenten maupun diwajah Itachi, kedua manusia itu terlalu sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Tenten memikirkan recital Sasuke, sementara Itachi memikirkan Ino.
Sejak operasi Tenten dua bulan yang lalu, Ino hampir tidak pernah menyapa Itachi, jangankan menyapa, Ino bahkan tidak pernah tersenyum sedikitpun kepada Uchiha sulung itu. seperti tadi, saat Itachi berkata bahwa ia akan pergi sebentar bersama Tenten. Ino terlihat seperti akan menerkam Itachi, tapi tentu saja gadis manis itu tidak melakukannya. Sementara Itachi sibuk memikirkan Ino, Tenten tengah sibuk memperhatikan Itachi.
Sebenarnya gadis itu sudah diberitahu oleh Tsunade bahwa Itachi dan Ino pulang bersama dihari ia dioperasi. Saat itu, Tenten bertanya dimana Ino? Bagaimana kabar sahabatnya itu? dan Tsunade menjawab dengan santai, bahwa Ino pasti sedang bersama Itachi dan ia akan baik-baik saja, lalu Tsunade menceritakan malam itu ketika Ino dan Itachi pulang bersama. Bahkan Tsunade juga mengatakan bahwa Ino dan Itachi sering datang berdua ketika menjenguknya yang masih terbaring koma. Itu semua berarti, Itachi dan Ino ada hubungan special.
'Itu bagus bagi Ino, aku tahu Ino selalu menyukai Itachi, tapi Itachi sudah..' Tenten mendesah lirih. Entahlah, harusnya Tenten merasa sedih akan kenyataan itu, kenyataan bahwa Itachi dan Ino jadi dekat.
"Senpai?"
"Hn?" Tenten menundukan kepalanya lalu berbisik.
"A-apakah kau menyukai Ino?" Itachi terdiam, dan hal itu membuat Tenten memberanikan diri untuk menengadahkan kepalanya. Dilihatnya Itachi membalas tatapannya, menatap Tenten dengan tatapan tidak yakin lalu menjawab.
"Iya." Tenten mengerjap sekali. iya. Satu kata yang singkat dari bibir Itachi, laki-laki yang selalu disukainya. Tenten memaksakan seulas senyum lalu berkata. "Lalu kenapa senpai tidak bersama Ino sekarang?"
"Karena dia tidak mau melihatku lagi." Tenten menatap Itachi sebentar, lalu mengalihkan pandangannya dan menjawab.
"Kalian bertengkar?" Itachi hanya menjawab pertanyaan Tenten dengan mengangkat kedua bahunya, lalu mendesah lembut dan berkata.
"Aku pantas mendapatkannya. Selama ini aku sudah menyakitinya dengan berpura-pura tidak tahu tentang perasaannya. Aku tahu itu salah dan itu sangat menyakitinya jadi.." Itachi melirik kearah Tenten, melihat gadis dihadapannya dengan pandangan serba salah lalu membuka mulutnya lagi.
"Maafkan aku."
"Untuk?"
"Untuk sempat menyukaimu, Tenten." Tenten menatap Itachi dengan tatapan bingung dan menuntut, menuntut Itachi untuk menjelaskan segalanya. Dan Itachi sepertinya mengerti keinginan gadis itu karena Itachi mendesah dan berkata. "Aku sudah mengenal Ino lama sekali.. sebelum kita bertemu di soft opening café ku, sebelum aku bertemu dengan Ayame. Aku sudah bertemu dan mengenal Ino." Itachi menundukan kepalanya dan tersenyum getir ketika mengingat kali pertama ia bertemu dengan Ino.
"Bisa dikatakan aku menjadi superman saat bertemu dengan Ino. Aku sedang berjalan dengan santai di kawasan Soho, hingga aku melihat mobil taxi melesat dengan kencang melewatiku. Aku sempat melihat ada seorang gadis berambut pirang yang juga menatapku, kejadian itu hanya sepersekian detik, gadis itu menatapku dengan tatapan meminta tolong dan akupun mengikuti taxi itu sampai akhirnya aku sampai di gang-gang sempit. Dan disanalah aku melihat gadis pirang itu tengah meringkuk berusaha menghalau tangan supir taxi jahanam itu."
"Dan gadis berambut pirang itu, Ino?"
"Ya, kau benar, Tenten." Kata Itachi sambil tertawa hambar. "Aku langsung menghajar supir taxi itu, dan berusaha menenangkan Ino yang menangis sesegukan. Mantelnya terkoyak, antingnya hilang sebelah. Setelah Ino yakin bahwa aku bukanlah komplotan supir taxi itu, kami mengambil koper Ino yang masih ada didalam taxi dan mencari taxi lainnya. Tentu saja Ino ketakutan ketika kami mau masuk ke taksi lainnya, tapi aku meyakinkannya bahwa aku akan menemaninya sampai kami menemukan hotel untuknya."
"Selama perjalanan, gadis itu mencengkram lenganku sangat kencang, seolah tidak membolehkanku pergi, meskipun dia tahu aku tidak bisa pergi kemanapun karena kami berada didalam taxi yang melaju dengan kecepatan 40 km/jam. Kami sampai disebuah hotel kecil tapi bagus didekat Chinatown, Ino masih mencengkram lenganku sambil beringsut disebelahku sementara aku menjinjing kopernya yang berat itu." Itachi terdiam sejenak, lalu kembali melanjutkan.
"Ketika kami didalam kamar, aku menyuruh Ino untuk duduk dan berusaha menenangkan diri, sementara aku kebawah untuk memesan coklat panas dan soda untukku dan Ino. Tentu saja dia keberatan saat aku hendak pergi, tapi akhirnya dia membiarkanku pergi. Kami akhirnya duduk berhadapan. Dia mulai bercerita bahwa dia baru pertama kali menjejakkan kakinya di New York city.."
"Dan dia datang ke sini untuk mengejar karir modelnya." Timpal Tenten, Tenten tahu betul bahwa Ino selalu berambisi untuk menjadi seorang model professional yang kelak bisa berlenggak-lenggok di pameran busana Prada atau menjadi cover majalah vogue.
"Ya kau benar, Tenten." Kata Itachi. "Kami akhirnya menceritakan diri masing-masing. Dan dua jam kemudian, Gustav menelponku untuk datang ke sky rink untuk berlatih, kala itu aku masih aktif menjadi seorang skater. Ino kembali mencengkram tanganku, aku berkata bahwa dia akan baik-baik saja, aku berjanji untuk datang mengunjunginya besok dan menemaninya mencari apartemen. Dan aku berjanji untuk menjaganya selalu. Keesokan harinya kami mencari apartemen sambil makan siang disebuah restoran china didekat hotel. Tapi sejak hari itu, aku tidak pernah mengunjunginya lagi, karena aku terus sibuk berlatih. Dua bulan kemudian, aku mengunjungi apartemennya tapi dia tidak ada disana, kami lost contact sampai akhirnya aku membuka café dan dia menjadi orang pertama yang datang melamar pekerjaan padaku." Tenten terdiam sejenak, berusaha memproses cerita Itachi.
Tepuk tangan menggelegar disana, menandakan bahwa kesembilan skater itu sudah selesai melakukan tugas mereka. Setelah membukuk dan melambai, mereka pun menyingkir.
"Tenten?"
"Hn?"
"Bagaimana hubunganmu dengan Sasuke? Sepertinya kalian tidak pernah bertemu lagi sejak operasi itu?" Tenten tersentak kaget, lalu mengangkat kedua bahunya.
"Entahlah.. kurasa Sasuke tidak ingin bertemu lagi denganku."
"Kenapa?"
"Karena dia tahu bahwa aku menyukaimu.. dan aku.. aku menolaknya." Tenten mendesah lirih. "Entahlah, rasanya rumit sekali.. awalnya aku kira aku menyukaimu, senpai… aku tetap berpikir seperti itu sampai Sasuke menjadi… menjadi berubah.. aku tahu ada sesuatu yang berubah dalam hatiku, tapi aku berusaha melupakannya.. aku tidak mengakuinya.."
"Apa kau menyukai Sasuke?" Tenten mengerjap sekali. lalu mengangguk lesu. "Ya, dan aku baru berani menyadarinya sekarang.." Itachi menghela nafas lalu tersenyum dan menyentuh pundak Tenten, membuat gadis itu menoleh menatapnya.
"Mau kuberitahu satu rahasia?" Tenten mengerutkan kedua alisnya lalu mengangguk. "Adikku bukanlah laki-laki yang mau berjuang untuk wanita. Dia selalu menjunjung tinggi harga dirinya yang bak bangsawan itu. Dan kau tahu apa rahasianya? Dia berkata bahwa dia rela melakukan apa saja untukmu." Tenten terdiam sejenak, mencerna kata-kata Itachi yang menghantamnya bertubi-tubi.
"Dan setelah Sasuke berkata seperti itu. akupun sadar, bahwa aku harus menyerah untuk menyukaimu. Karena aku juga tahu bahwa kau juga menyukai adikku. Aku bisa melihatnya saat kalian menjelaskan alasan kenapa kau bisa tinggal bersama adikku. Dan aku pun memutuskan untuk mundur." Tenten meremas tangannya sendiri. Gadis itu menggigit bibir bawahnya lalu berkata.
"Itachi-senpai. Aku permisi dulu."
"Kau mau kemana Tenten?" Tanya Itachi sambil mengangkat sebelah alisnya. "Apartemen Sasuke, aku mau menemuinya."
"Kau tidak akan bisa menemukannya di apartemennya yang berantakan itu." Tenten memiringkan kepalanya lalu bertanya.
"Dimana Sasuke?"
"Astaga, apakah adikku yang bodoh itu tidak memberitahumu?" Tanya Itachi sambil mengernyitkan hidungnya. "Dia sedang menjalankan recitalnya, dan dia akan terbang ke London malam ini."
xXx
Tenten mencengkram bangku pengemudi hingga buku-buku jarinya memutih. Mata hazelnya berkeliaran liar, memperhatikan lalu lintas yang padat.
'Malam ini dia akan terbang ke London.'
Tenten meringis kecil ketika kata-kata Itachi kembali mengiang dikepalanya. Setelah Itachi memberitahu kabar yang sangat mengejutkan itu, Tenten buru-buru pergi dan mencegat taxi seperti orang kesetanan. Setelah duduk didalam taxi, dengan terburu-buru Tenten menyebutkan lokasi tempat Sasuke tengah menjalankan recitalnya, di kawasan Lincoln.
Hati Tenten melambung ketika akhirnya taxi berhenti didepan gedung pementasan dengan arsitektur vintage itu. Dengan terburu-buru Tenten menyerahkan beberapa lembar uang kepada supir taxi tanpa menghitungnya terlebih dulu lalu segera membuka pintu dan membantingnya sambil segera berlari menaiki tangga menuju beranda gedung. Tenten menghantam pintu kaca beraneka warna itu dengan bahunya lalu memacu langkahnya menuju pintu masuk ke tempat pementasan.
Sayangnya satu pria bertubuh besar menghadangnya disana.
"Apakah acaranya sudah dimulai?" Tanya Tenten dengan nafas terengah-engah. "Iya nona, sekitar lima belas menit lagi pertunjukannya selesai."
"Baiklah, izinkan saya masuk." Kata Tenten sambil maju selangkah, tapi pria bertubuh besar dengan baju serba hitam tidak menyingkir.
"Maaf nona, anda tidak bisa masuk meskipun anda memiliki tiket sekalipun."
"Apa? Kenapa?! Demi Tuhan aku harus masuk sekarang."
"Karena akan mengganggu penonton yang lain, jadi sebaiknya anda segera menyingkir." Tenten mengerjap sekali, lalu menghentakan kakinya.
"Saya harus segera masuk!"
"Sudah saya katakan anda tidak bisa masuk, nona. Jadi sebaiknya anda pergi dari sini sebelum suara anda terdengar sampai kedalam! Kalau anda masih mencicit seperti itu, saya tidak segan-segan menyeret anda keluar."
Baru saja Tenten membuka mulut untuk memarahi pria itu karena mengusirnya seenaknya, Tenten mendengar seseorang berjalan keluar dari pintu yang menuju kesamping panggung.
"Astaga Robbie! Ada apa ini?! Kau hampir saja membuat recitalnya-" Tenten menolehkan kepalanya ke laki-laki yang baru saja datang itu. laki-laki itu juga menatapnya dengan tatapan tercengang. Tenten mencoba mengingat laki-laki berambut pirang terang dengan mata berwarna biru laut itu. tentu saja.
"Tenten?"
"Na-Naruto?" Laki-laki itu melangkah panjang-panjang menghampiri Tenten yang masih berdiri mematung.
"Kami-sama Tenten! Apa yang kau lakukan disini? Kukira kau tidak akan datang!" Seru Naruto begitu berdiri dihadapan Tenten.
"A-aku.. aku terlambat datang."
"Apa?! Sudah kuduga. Pantas saja Sasuke uring-uringan sebelum recital dimulai." Tenten menundukan kepalanya. Tentu saja Sasuke uring-uringan, karena Tenten melupakan janjinya untuk datang ke recital Sasuke. Tiba-tiba saja Tenten merasakan seseorang menyambar tangannya dan menariknya pergi. Tenten buru-buru menengadahkan kepalanya. Naruto yang mencengkram tangannya dan menariknya menuju pintu tempatnya keluar tadi.
"Na-Naruto! Apa yang kau lakukan?!"
"Ayo cepat! Kau tidak ingin terlambat melihat Sasuke memainkan pianonya bukan?"
"Ta-tapi acaranya kan-"
"Sasuke masih harus memainkan satu lagu lagi. Aku tidak tahu lagu apa itu, awalnya ia hendak menaruh lagu itu di daftar pertama lagu yang akan dimainkannya di recitalnya ini. tapi dua menit sebelum recital mulai, ia buru-buru menaruhnya di daftar lagu paling akhir. Kupikir lagu itu ada kaitannya denganmu, karena dia menaruhnya di akhir acara ketika kau tidak juga datang." Tenten terdiam sejenak. Gadis itu tahu lagu apa yang dimaksud oleh Naruto. Tenten pun tersenyum kecil dan memacu langkahnya mengimbangi Naruto memasuki pintu. Mereka pun sampai diujung pintu, Naruto berhenti sejenak, memutar tubuhnya menatap Tenten.
"Begitu aku membukakan pintu, kau langsung duduk di bangku kedua dari depan, yang menghadap langsung kearah Sasuke. Aku sengaja mengosongkan kursi itu dan memperuntukannya untukmu. Karena dari situ kau bisa melihat Sasuke dengan jelas, dan dia pun bisa melihatmu." Tenten menatap Naruto dengan tatapan terkejut lalu tersenyum dan meraih tangan Naruto.
"Aku berhutang budi padamu, Naruto." Naruto terkekeh.
"Kalian berdua memiliki hutang budi yang harus kalian bayar nanti, ingat itu." Tenten mengangguk sambil tersenyum. Naruto membalas senyuman Tenten lalu menyambar daun pintu dan membukanya, lalu mendorong lembut punggung Tenten.
"Ayo cepat."
xXx
Jemari panjang nan kurus masih menari diatas tuts piano, seiring dengan nada lembut yang mengalun digedung itu. Para penonton hanya bisa terdiam terpaku mendengarkan permainan piano yang sangat indah itu, sementara si pianis berusaha memusatkan pikirannya ke jejeran not balok dihadapannya. Laki-laki berambut raven itu menatap tajam not balok dihadapannya, meskipun ia sudah menghapal lagu itu diluar kepala. Hal itu ia lakukan untuk mengalihkannya dari kenyataan bahwa 'pandanya' telah mengingkari janjinya.
'Dia tidak datang. Sudah selesai. Sudah berakhir.' Sasuke memejamkan matanya sambil terus memainkan pianonya, hingga akhirnya jarinya berhenti menari diatas not balok. Beberapa detik kemudian tepuk tangan menggelegar menyambut Sasuke. Laki-laki itu membuka kedua matanya lalu menghadap para audience, memberikan hormat secara formal tanpa berdiri.
Tepuk tangan masih bergemuruh, sementara pandangan Sasuke menyusuri kursi penonton satu persatu, masih mencari pandanya. Lagunya akan segera dimainkan, tapi kemana gerangan panda itu? panda itu tidak ada dimanapun. Sasuke menghela nafas, lalu kembali meletakan kesepuluh jemarinya diatas tuts gading. Suara tepuk tangan perlahan-lahan menghilang, dan secara tiba-tiba Sasuke mendengar suara pintu disamping panggung yang mengarah langsung keluar ruang recital terbuka. Karena suasana sudah sunyi, semua orang bisa mendengar suara pintu terbuka itu. sasuke mengangkat kepalanya dan menoleh kearah pintu tersebut. Mata kelamnya terbelalak kaget ketika mendapati seorang gadis mungil berdiri diambang pintu.
Gadis itu menoleh menatap audience, lalu menoleh menatap Sasuke. Sasuke bisa melihat mata hazelnya yang terlihat bersinar di keredupan. Gadis itu melemparkan tatapan menyesal dan meminta maaf karena sudah membuat recitalnya cacat karena secara tiba-tiba membuka pintu seperti itu. Jika orang lain yang membuka pintu itu dan membuat perhatian para pendengarnya teralihkan, Sasuke pasti akan turun dari panggung, menyeret orang itu dan melemparnya keluar. Tetapi, Sasuke tentu saja tidak akan melakukannya pada gadis ini. kebalikannya, Sasuke ingin menghampiri gadis itu dan memeluknya dengan erat. Sangat erat.
Gadis itu menggigit bibirnya lalu berlari kecil sambil membungkuk menuju bangku yang berada tepat didepannya, dipojok kedua dari depan. Bangku itu memang sengaja dikosongkan untuk gadis itu. mata onyx Sasuke mengikuti tubuh gadis itu yang melesat dengan kikuk menuju bangku kosong itu. sampai akhirnya ia duduk dan tersenyum kepada Sasuke. Dan senyuman itu, masih membuat Sasuke kesulitan bernafas, sama seperti biasanya. Sasuke tersenyum tipis lalu meletakkan kesepuluh jarinya diambang tuts. Ia menghela nafas sebelum akhirnya memulai lagu itu. lagu yang memang diciptakan untuk pandanya yang baru saja tiba.
xXx
Mata Tenten tidak bisa lepas dari pemandangan dihadapannya. Wajah stoic Sasuke terlihat sangat khusyuk memainkan pianonya, sementara nada familier yang menyejukan membanjiri gedung itu. Meski sudah pernah mendengarkan lagu ini, Tenten masih mendapati dirinya terkesima dengan lagu ini. lagu yang Sasuke ciptakan untuknya.
Lagu itu mengalun dengan alamiah, tanpa ada paksaan, tanpa ada tuntutan, dan spontan. Sama seperti perasaan mereka yang tumbuh dengan alami, tanpa paksaan, tanpa dituntut dan spontan. Nada terakhir terdengar dan Tenten pun membuka matanya. Hal pertama yang Tenten lihat adalah Sasuke yang menyunggingkan seulas senyum tipis. Senyuman yang damai dan memabukkan. Senyuman yang entah sejak kapan mengisi relung Tenten.
Beberapa detik kemudian para audience berdiri dan bertepuk tangan. Begitu meriahnya tepuk tangan mereka, Sasuke pun berdiri dan membungkuk beberapa kali. Memberi penghormatan secara formal. Tenten bahkan ikut berdiri dan bertepuk tangan dengan mata yang berkaca-kaca. Sasuke menyentuh microphone yang dikaitkan di kerah kemejanya, berdeham sekali, mengisyaratkan bahwa ia ingin berbicara. Para audience mengerti dan duduk kembali.
"Pertama-tama dan yang terpenting, saya ingin mengucapkan terimakasih kepada para audience yang sudah menghadiri recital saya. Dan juga kepada seluruh kerabat recital yang sudah membantu membuat recital ini berjalan dengan lancar. Dan terakhir. Saya mengucapkan terimakasih kepada guru-guru Clinton university yang tak lelah-lelahnya membantu dan memberikan motivasi." Sasuke berhenti sejenak dan menatap Tenten.
"Sekian kata-kata dari saya, Terimakasih banyak." Tepuk tangan kembali bergerumuh, Sasuke membungkuk untuk terakhir kalinya lalu menghilang dari panggung. Naruto muncul kepanggung, dengan stelan jas Hugo Boss putihnya. Laki-laki itu berbicara dan menyampaikan rasa terimakasih atas partisipasi para audience. Tenten tidak mendengarkan kata-kata Naruto. Yang ia pikirkan hanyalah segera turun dari bangku itu dan berlari menuju kebelakang panggung.
Ia harus bertemu dengan Sasuke.
Suara derap langkah kaki membuyarkan lamunan Tenten. Para audience sudah dipersilahkan keluar, dan kini tengah berdesak-desakan menuju pintu keluar. Tenten buru-buru bangkit dan berlari turun menuju pintu berwarna perak yang bertuliskan 'Backstage'. Tenten mendorong pintu itu dengan bahunya.
Dihadapannya terlihat Sasuke dengan stelan jas hitamnya tengah berbincang dengan beberapa orang, termasuk Naruto. Sasuke berdiri membelakanginya, sementara Naruto menghadapnya. Laki-laki pirang itu menatap Tenten, ia tersenyum ringan lalu menyikut Sasuke, membuat Sasuke membalikan tubuhnya. Tubuh Tenten seperti tersengat aliran listrik ketika menerima tatapan Sasuke yang sudah beberapa lama ini tidak ia terima. Tetapi dibalik itu semua, Tenten masih bisa merasakan sejumput ketenangan yang menyenangkan ketika melihat mata onyx itu. tenten melangkah dan membuka mulutnya, hendak mengatakan sesuatu. Tetapi semua kata-katanya terhenti diujung lidahnya ketika Sasuke kembali membalikan tubuhnya menghadap Naruto dan mulai bertanya tentang keseluruhan recitalnya barusan.
Tenten hanya bisa terdiam tak percaya, sementara Naruto menatap Sasuke dan Tenten secara bergantian, pertanda bahwa laki-laki pirang itu bingung. Tenten menghela nafas panjang, lalu memberanikan diri untuk melangkah mendekati Sasuke, Tenten bisa merasakan ketakutan dan kegugupan yang dirasakannya saat pertama kali menghampiri Sasuke yang tengah kesulitan membuka pintu apartemennya, satu hari setelah Tenten menabraknya hingga membuat tangan kanan laki-laki emo itu terkilir. Begitu Tenten sudah berada tak jauh dari Sasuke, Tenten bisa mendengar Naruto berkata.
"Sebaiknya aku segera menelpon penanggung jawab recitalmu di London, Sasuke." Kata Naruto sambil mengeluarkan ponselnya dari saku jas dan menggoyangkannya, lalu segera berderap pergi. Tenten tahu Naruto membiarkannya berdua dengan Sasuke.
Kecanggungan menghampiri mereka selama beberapa detik, sampai akhirnya Sasuke melangkah pergi dan langsung ditahan oleh Tenten. Gadis itu mencengkram tangan Sasuke, membuat laki-laki itu menoleh menatapnya dengan tatapan bingung.
"T-Tunggu dulu Sasuke."
"Ada apa sebenarnya?" Tanya Sasuke cuek. "Aku ingin bicara sebentar." Kata Tenten lirih.
"Baiklah, sebaiknya kau cepat mengatakannya karena aku masih harus mengurus beberapa hal." Tenten menatap Sasuke dan melepaskan cengkramannya.
"Kau akan pergi ke London?" Sasuke terlihat terkejut selama beberapa saat, namun segera pulih.
"Ya."
"Malam ini?"
"Ya."
"Kapan kau akan kembali?"
"Dua atau tiga bulan lagi mungkin." Tenten mendesah dalam hati. Percakapan singkat seperti ini terasa asing untuknya. Karena belakangan ini ia dan Sasuke sering bercakap panjang lebar tentang apa saja, Sasuke juga selalu membuka pembicaraan, mencari topic yang bisa membuat Tenten tertarik dan terkesan menjaga pembicaraan tetap berjalan. Tapi sekarang? Sasuke terdengar seperti enggan berbincang dengan Tenten lagi.
"Ada lagi yang ingin kau tanyakan?" Tenten menghela nafas panjang.
"Aku minta maaf." Tenten memejamkan matanya lalu berkata. "Aku minta maaf karena hampir melupakan janjiku untuk datang ke recitalmu."
"Sudahlah, setidaknya kau datang, bukan?" Nada suara Sasuke yang sudah lebih santai membuat Tenten berani menatap laki-laki itu dan berkata.
"Sasuke, aku ingin menanyakan beberapa hal pa-"
"Mau menemaniku mencari makan? Perutku mulai kelaparan, aku tidak bisa melakukan perjalanan jauh dengan perut bergemuruh seperti ini." Tenten terdiam sejenak. Hatinya dialiri perasaan tenang dan lega. Sepertinya Sasuke sudah kembali seperti Sasuke yang ia kenal. Tenten tersenyum lalu berkata dengan riang. "Tentu saja."
xXx
Sasuke melirik jam tangan rolex yang melingkar ditangan kanannya. Sudah jam setengah delapan malam, satu jam lagi pesawatnya akan lepas landas ke London, seharusnya sekarang ia sudah berada diruang tunggu, dengan cangkir karton berisi kopi panas yang rasanya sangat buruk dan helaian Koran minggu lalu. Tapi nyatanya, ia masih duduk berhadapan dengan Tenten disebuah café di Narita airport.
Mereka sudah selesai menyantap makan malam mereka, seharusnya Sasuke bisa meninggalkan Tenten dan masuk keruang tunggu sekarang. Ia yakin Naruto sudah menunggunya, ponselnya tak berhenti bergetar sedari tadi, yang berarti Naruto sudah sibuk menelponi dirinya. Tapi anehnya, Sasuke masih ingin duduk di hadapan gadis itu, menyaksikan Tenten menyesap cokelat panasnya, membuat sisi bibirnya ternodai noda coklat tipis yang malah membuatnya terlihat semakin cantik.
Suara operator bandara terdengar dari pengeras suara, pesannya menyuarakan panggilan terakhir bagi para penumpang Tokyo Aire tujuan London. Sasuke mendesah kecil.
"Sepertinya kau harus segera masuk keruang tunggu sekarang, Sasuke." Sasuke melirik kedepan, Tenten masih sibuk dengan cokelat panasnya. Suara deringan ponsel Sasuke membuat keduanya sedikit terperanjat. Tanpa melihat Sasuke, Tenten berkata.
"Kau benar-benar harus masuk sebelum membuat Naruto marah-marah."
"Aku tidak takut pada Naruto." Tenten melirik kearah Sasuke lalu meletakan mug berisi cokelat panasnya yang sudah hampir habis.
"Kau lebih terdengar seperti anak kecil."
"Dan kau terdengar seperti kakekku." Tenten mendengus kecil, sementara Sasuke berusaha menahan senyumannya merekah. Gadis bercepol dua itu mencengkram pinggiran meja bundar café dengan kedua tangannya lalu dengan perlahan berdiri, menjaga agar letak brace nya tidak berubah.
"Ayolah Sasuke, aku tidak mau membuatmu harus menginap semalaman di bandara karena ketinggalan pesawat." Sasuke memutar kedua bola matanya lalu berdiri dan meraih kopernya. Mereka pun berjalan menuju gerbang terminal keberangkatan yang mulai sepi. Aneh. Sasuke tahu bahwa ia harus segera masuk, ia tahu seharusnya ia berlari tunggang langgang sambil berdoa dalam hati bahwa pintu pesawat masih terbuka untuknya. Tetapi, Sasuke tidak lihat tergesa-gesa sama sekali. ia berjalan santai, malah terkesan memperlambat langkahnya sampai akhirnya mereka sampai didepan gerbang.
"Baiklah. aku tidak bisa menemanimu sampai masuk kedalam kau tahu itu bukan?"
"Jangan berbicara seolah aku anak berusia lima tahun, panda." Balas Sasuke sambil tersenyum kecil. Tenten tersenyum, tapi senyuman itu segera memudar. Sasuke menghela nafas panjang lalu menepuk pundak Tenten. Padahal baru saja mereka bertemu. Padahal baru saja mereka menikmati secangkir kopi dan cokelat panas bersama.
"Well. Aku harus pergi." Tenten mengangguk, tetapi langsung menundukan kepalanya. Sasuke buru-buru membuka mulutnya dan berkata.
"Dengar, aku akan kembali dua atau tiga bulan lagi. Ini bukan selamanya."
"Aku tahu. Tapi.."
"Tapi?"
"Kapan kau akan menjawab pertanyaanku?" Sasuke terdiam sejenak lalu terkekeh dan berkata. "Segera setelah aku tiba di New York." Tenten menengadahkan kepalanya, menatap mata Sasuke dengan tatapan berbinar lalu tersenyum dan meninju pelan dada Sasuke.
"Kalau begitu cepatlah kembali." Sasuke hanya membalas kata-kata Tenten dengan senyuman dan tatapan penuh arti lalu mengusap kepala Tenten. Setelah itu ia langsung melangkah meninggalkan Tenten. Tentu saja ia akan segera kembali.
xXx
Bola mata hazel Tenten masih mengekor sosok laki-laki berambut emo yang berjalan semakin menjauh. Beberapa orang berjalan melewati laki-laki itu, menyamarkan sosoknya dan akhirnya sosok itu menghilang. Tenten mendesah lirih lalu memutar tubuhnya dan berjalan menjauh.
'Ini bukan selamanya.'
Sasuke akan kembali. Ini hanya dua bulan. Tenten merutuk dalam hati.
'Kalau begitu cepatlah waktu berlalu.'
HUWAA! GIMANAGIMANAA?! :( semoga chappie ini ga aneh ya, karena ya tiba-tiba Itachi jadi pindah haluan ke Ino... padahal sebelum suka sm Tenten dia kan deeply in love sm ayame yang meninggal di arena (hayo readers inget ga tuh? yang bikin Itachi trauma ituloh) huhu semoga ga aneh deh ya ._. tadinya author mau menjodohkan Naruto dengan Ino (yang pas Sasuke dan Tenten berantem, dan Sasuke ngajak Naruto ke bar terus ketemu Ino. disitu kan Naruto kaya nge flirt Ino gitu) tapi gatau kenapa baru kepikiran sekarang:( huahuaa, yaudah dah lagipula author pengennya itachi sm Sasuke ga nge jones hehehe *digaprak Sasu Ita. okeoke author gamau bikin para readers bete krn celotehan author. jadi see you all in the next chap :D thanks n keep reading xoxo
