Rated: T

Disclaimer: Mashasi Kishimoto

Warning: typos, crack pair, late updated etc

SasuTen slight ItaTen

couple words from author:

Yoyoyo! chappy 27 sudah keluar hehehe, sekedar spoiler, di chappy ini ada ItaIno moment semoga para readers gakeberatan kalo chappy ini dipenuhi oleh ItaIno moment yapp hehehe. seperti biasa review akan dibalas lewat pm dan bagi yang ga log-in aku bales disini...

Hanamizuki: hehe arigatou:) waduh sayangnya di chappy ini kebanyakan ItaIno nya hehe, semoga gakeberatan dan tetep baca ya:)

oke segini aja langsung aja ya chappy 27~~

Chapter 27

Tenten mengaduk-aduk cokelat panasnya yang masih mengepulkan asap. Mata hazelnya menatap kesekitar, berusaha mencari sosok yang selama lima belas menit ini ditunggunya. Gadis itu menghela nafas panjang dan melirik ke jam tangannya yang entah sudah berapa kali menerima tatapan kesal gadis panda itu.

'Jam 10 tepat.' Itulah perjanjiannya. Tapi mengapa sampai saat ini orang yang membuat perjanjian dengannya belum juga muncul?

"Maaf aku membuatmu menunggu." Tenten menengadahkan kepalanya. Lelaki berambut panjang itu tersenyum penuh penyesalan lalu langsung menarik bangku kayu dihadapan Tenten dan duduk dengan tergesa-gesa.

"Kami-sama Itachi-senpai, aku hampir saja pulang karena kukira kau membatalkan janji kita." Itachi meringis kecil ketika mendengar kata-kata Tenten. Melihat itu Tenten menghela nafas panjang, lalu bertanya.

"Jadi, ada apa menyuruhku datang kesini? senpai bilang ingin meminta bantuanku semalam?" Itachi terdiam masih berusaha mengatur nafasnya yang memburu lalu berdeham beberapa kali sebelum menegakkan tubuhnya.

"Aku… aku sangat butuh bantuanmu Tenten."

"Ya, aku tentunya akan membantumu Senpai. Apa yang bisa kulakukan?" Itachi melirik sekilas kearah Tenten lalu tersenyum kecil.

"Aku membutuhkanmu untuk membuat seseorang merasa special hari ini."

xXx

tak henti-hentinya Ino mengetuk-ngetukan ujung kakinya ke aspal trotoar. Angin laut yang masih terasa beku menyapu tubuhnya yang kurus, membuat rambut pirangnya yang ia gerai melayang disekitar kepalanya. Mata aquamarine nya menatap lurus kejalanan, lalu kembali melirik jam tangannya.

'Harusnya Tenten sudah sampai sekarang.'

Ya, harusnya Tenten sudah berada disini bersamanya. Tiba-tiba saja Tenten meminta Ino untuk menemaninya mengunjungi liberty island. Ia sendiri bingung kenapa sahabatnya itu memintanya untuk datang kesana, maksudnya, orang waras mana yang ingin berjalan-jalan di sekitaran patung liberty ditengah terpaan angina kencang seperti saat ini? suara langkah kaki mendekat menyentakan tubuh Ino, gadis itu menoleh kesumber suara dan menahan serentetan omelan ketika melihat gadis bercepol dua membungkuk mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.

"Tenten? Kau baik-baik saja?" Tanya Ino yang khawatir karena Tenten baru satu bulan pulih dari operasinya. Semua omelan dan rasa kesalnya sirna ketika melihat sahabatnya itu menengadah dan tersenyum penuh penyesalan.

"Maafkan aku. Jalanan kota ramai sekali hari ini jadi-"

"Sudahlah tidak apa-apa." Potong Ino sambil tersenyum, Tenten membalasnya dengan anggukan kecil lalu menegakkan tubuhnya.

"Jadi, kau memintaku untuk menemanimu ke liberty island?"

"Yap." Jawab Tenten singkat sambil sibuk mencari-cari sesuatu didalam tas selempangnya. "Lalu apa yang ingin kau lakukan disebrang sana?" Tanya Ino sambil menoleh kearah liberty island, tempat monument patung liberty berdiri dengan gagahnya. Menyadari tidak ada jawaban dari lawan bicaranya, Ino menoleh menatap Tenten yang ternyata masih sibuk mencari sesuatu.

"Kau sedang mencari apa? Jangan katakan kau lupa membawa obat.."

"Tidak. Aku hanya mencari… ah! Ini dia." Gumam Tenten lebih kepada dirinya sendiri sambil menarik keluar benda yg dicari-carinya, lalu menggoyangkannya dihadapan Ino.

"Aku mencari ponselku, kupikir aku meninggalkannya di taxi." Ino menggeleng sambil tersenyum geli. Terkadang Tenten memang ceroboh, sama seperti dirinya sendiri yang selalu ceroboh dan cenderung tidak bisa membaca situasi disekitarnya. Hal itu mengakibatkan Ino sering berada di dalam situasi menegangkan seperti, di rayu oleh lelaki hidung belang. Atau dirampok. Well setidaknya ia hampir dirampok jika saja Itachi tidak datang menolongnya saat itu.

"Hei Ino! Lihat ada apa itu!" Lengkingan suara Tenten membuat lamunan Ino buyar, tanpa aba-aba Ino mengikuti arah telunjuk Tenten yang menunjuk sesuatu dibelakangnya. Ino memutar tubuhnya, lalu terdiam. Mata aquamarinenya berusaha memfokuskan pandangannya ke benda itu. sebuah spanduk kecil berwarna pink. Sejak kapan benda itu ada disana? Ia tidak melihat benda itu saat menunggu Tenten tadi.

"Kau bisa membaca kata-kata di spanduk itu?" Tanya Tenten. Ino menggeleng lalu memiringkan kepalanya. Berusaha membaca deretan huruf bertinta emas dispanduk itu. merasa frustasi karena tidak bisa membacanya, Ino melangkah mendekati spanduk itu. setelah merasa bisa membaca kata-kata tersebut, Ino berhenti dan membacanya.

'Jika kau seorang gadis berambut pirang dan bermata berkilau bernama Yamanaka Ino. Silahkan naik ke speed boat kecil disebelah kanan dermaga. Kau akan mendapatkan petunjuk berikutnya ketika kau sampai di Liberty Island."

Ino menoleh kebelakang, hendak bertanya kepada Tenten. Tapi gadis itu terkejut ketika melihat Tenten berdiri beberapa langkah dibelakangnya sambil membidik kamera ponselnya kearah Ino.

"Tenten, apa yang kau lakukan?" Tanya Ino heran. Tenten terkekeh kecil.

"Apa?"

"Kau merekamku? Dan spanduk ini.. apa kau yang membuatnya?" Tenten terlihat berusaha menahan tawanya lalu berkata.

"Kau sudah baca spanduk itu bukan. Apa kau tidak penasaran dengan petunjuk yang sudah menunggumu sebrang sana?" Ino menggigit bibir bawahnya lalu tersenyum dan berjalan menuju dermaga. Sesampainya di dermaga yang hanya berjarak sepuluh langkah dari spanduk tersebut, Ino disambut oleh seorang nakoda yang sudah siap mengantarnya ke sebrang pulau. Ino yang masih kebingungan akhirnya naik keatas speed boat diikuti oleh Tenten yang masih sibuk merekam sekaligus menahan tawanya. Jantung Ino berdesir kencang, dan mereka pun sampai disebrang. Nakoda segera meninggalkan kedua gadis itu setelah mereka menjejakkan kaki didermaga. Aneh sekali. liberty island terlihat sangat sepi, hanya ada beberapa rombongan turis domestic yang berkeliling-keliling sambil mengenakan aksesoris liberty yang dijual di toko sufenir.

"Dimana petunjuk selanjutnya?" Gumam Ino sambil mengedarkan pandangannya. Mata aquamarine nya membulat ketika menemukan sebuah balon gas kecil berwarna pink melayang rendah tak jauh darinya. Diujung tali balon tersebut, terlilit sebuah gulungan kertas berwarna gading. Ino menoleh kearah Tenten.

"Aku harus bagaimana?" Tanya Ino. Tenten tersenyum geli. "Lakukan apa yang ingin kau lakukan, Ino." Merasa frustasi karena jawaban sahabatnya sama sekali tidak membantu, Ino melangkah panjang-panjang mendekati balon tersebut dan melepaskan lilitan kertas gadingnya. Perlahan Ino membukan gulungan kertas tersebut, dan membaca untaian kata yang tertera disana.

"Jika kau sudah membaca pesan ini, kau harus siap untuk memulai pertualangan kita mencari harta karun. sekarang, jalan lurus kearah mengelilingi pulau. Disepangjang perjalananmu, kau akan menemukan beberapa balon seperti ini dengan isi pesan yang berbeda-beda. Dan beberapa perintah juga. Selamat mencari."

Ino mendengus kesal lalu kembali menoleh menatap Tenten.

"Bisa kau katakan apa yang sedang terjadi disini?" Tanyanya kesal. melihat Tenten yang tersenyum geli membuat Ino menggeleng dan berkata.

"Lupakan, aku sudah tahu apa jawabanmu." Ujarnya sambil melangkah maju. Siapapun orang asing ini, pastinya menantang Ino untuk mencari 'harta karun' dipulau ini. dan Ino tidak akan mengalah begitu saja. Ino melangkah panjang-panjang sambil terus mencari-cari balon berikutnya. Ia menemukannya setelah berjalan selama satu menit. Isi pesan nya adalah.

"Jangan cepat puas, kau baru mulai melangkah jadi, berusahalah."

Ino menggeram kesal lalu kembali melanjutkan perjalanannya memburu harta karun. Beberapa langkah kemudian ia menemukan balon kedua.

"Bersiap-siaplah untuk melakukan metamorfosa."

Ino sedikit heran dengan isi pesan balon itu. lalu kembali melanjutkan perjalannnya. Matanya tetap mencari-cari keberadaan balon selanjutnya diantara turis-turis yang terlihat semakin sepi. Tak lama, ia melihat sebuah balon berwarna pink yang tergantung disebuah tenda berwarna biru gelap di dekat pagar pembatas dermaga. Ino melangkah mendekati balon tersebut, tapi kali ini balon itu tergantung disebelah meja dengan kotak peregi panjang berwarna putih diatasnya. Ino meraih kertas di tersebut dan membukanya.

"Ambil kotak berwarna putih disebelah kananmu, masuk kedalam tenda yang sudah disiapkan. Kuharap kau tidak terlalu lamaJ"

Ino mendengus heran lalu kembali menoleh menatap Tenten yang masih merekam Ino dengan handy cam nya.

"Apakah aku harus menuruti pesan yang satu ini?" Tanya Ino. Tenten kembali tersenyum geli lalu menjawab. "Jika kau ingin tahu harta karun apa yang menantimu diujung sana. Ya." Ino mendesah kesal lalu meraih kotak disebelahnya dan menyeret kakinya masuk kedalam tenda. Tenda tersebut kecil, seukuran kamar pas di toko baju, terdapat meja kecil dan kaca full body dihadapannya. Ino meletakan kotak tersebut dimeja dan membukanya. Mata aquamarine nya berbinar ketika melihat isi kotak tersebut. Sebuah mini dress berwarna biru terlipat dengan rapih disana. Perlahan-lahan, Ino menarik dress itu dan membentangkannya dihadapannya. Dress itu terlihat simple, dengan jejeran pernik silver disepanjang kerah rendahnya, berwarna biru dan berbahan sutra. Siapapun orang asing ini, pasti mengenal Ino dengan baik, karena bisa mengetahui baju apa yang akan cocok dipakai oleh gadis itu.

Ino tersenyum cerah lalu buru-buru mengganti pakaiannya, ia sudah tidak sabar untuk melanjutkan petualangannya. Beberapa menit kemudian, Ino keluar dari tenda tersebut dengan dress selutut berbahan sutra yang membalut tubuhnya. Angin sore yang menerpa membuat tubuhnya menggigil kecil. Sebaiknya ia memakai sweater cream nya jika tidak ingin membeku.

"Biar aku yang memegang bajumu." Kata Tenten yang masih merekam Ino. Ino tertawa kecil lalu menyerahkan pakaiannya kepada Tenten lalu menghela nafas panjang dan kembali melanjutkan petualangannya. Beberapa langkah kemudian, Ino sudah menemukan balon keempat.

"Ini balon terakhir yang akan menuntunmu. Karena hari semakin gelap, mungkin kau akan kesulitan untuk menemukan balon-balon lainnya. Tapi tidak perlu khawatir. Kau tidak akan kehilangan harta karunnya. Kau hanya perlu mencariJ"

Ino menengadah, menatap lurus kedepan. Memang sudah sedikit gelap. Dan para turis pun semakin sedikit, hanya tinggal beberapa penjual sufenir yang berlalu lalang disekitarnya dan Tenten.

"Hei Ino. Sepertinya kau harus melihat itu." Ino menoleh kearah telunjuk Tenten yang menunjuk sesuatu disampingnya. Mata gadis itu berbinar ketika melihat apa yang dimaksud Tenten. Lentera-lentera mengapung di laut yang tenang, berbaris menunutunnya. Sesekali bergoyang karena terpaan ombak lembut. Ino tak kuasa menahan senyumannya, lalu melangkah mengikuti lentera-lentera berwarna orange itu. seiring dengan nada lembut mengalun diudara yang dipancarkan melalui speaker yang biasanya berkoar menyerukan nama turis yang tersesat atau barang tak berpemilik yang ditemukan.

Ino tahu lagu ini. Jhon Meyer-Back To You. Alunan lagu itu mengiringi tiap langkah Ino. Beberapa langkah kemudian ia melihat balon-balon pink melayang rendah, tetapi bedanya, kertas yang diikat diujung tali balon tersebut terbuka.

"Kau terlihat cantik dengan gaun biru itu, Ino."

"Tidak. Kau selalu cantik dengan baju apapun." Ino menutup mulutnya dengan kedua tangan sambil terus melangkah dan membaca pesan-pesan singkat yang tertera di kertas tersebut.

"Kuharap aku masih belum terlambat untuk semua ini."

"Kuharap kau masih merasakan hal yang sama seperti saat itu."

"Saat dimana aku menemukan harta karun ku." Itu balon terakhir. Dan sudah tidak ada lentera yang menuntunnya berjalan kedepan. Apa dia sudah sampai? Apa ia sudah menemukan harta karunnya?

"Ino?" Ino tersentak kaget dan mengangkat wajahnya, menatap lurus kedepan. Mata aquamarine nya membulat ketika melihat sosok laki-laki berambut panjang yang diikat longgar berdiri beberapa langkah dihadapannya. Laki-laki itu menatap Ino dengan tatapan yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Ino menoleh kebelakang, hendak meminta pendapat Tenten untuk keempat kalinya, tetapi laki-laki itu melangkah menghampiri Ino, membuat Ino mengurungkan niatnya. Akhirnya laki-laki itu berdiri dihadapannya.

"Apa yang kau lakukan disini, Ino?" Ino terdiam sejenak, berusaha pulih dari kekagetannya dengan berdeham beberapa kali lalu berkata.

"Senpai sendiri, apa yang senpai lakukan disini?" Itachi terkekeh lembut lalu meraih tangan Ino.

"Mulai sekarang aku yang akan menuntunmu." Ino hanya bisa terdiam, membiarkan Itachi menggenggam tangannya dan menuntunnya melangkah. Berbagai emosi berkecamuk dalam hatinya. Senang? Ya tentu saja Ino merasa sangat senang karena bisa bertemu dengan Itachi, tetapi perasaan senang itu lenyap ketika fakta pedih menyadarkannya. Itachi tidak menyukainya.

"Nah kita sudah sampai." Ino tersadar dari lamunanya, lalu menatap lurus kedepan. Tubuhnya menegang. Udara berhamburan keluar dari paru-parunya. Jantungnya berpacu lebih cepat. Itachi melepaskan genggamannya lalu melangkah mundur, sementara Ino mengerjapkan matanya beberapa kali, sekedar memastikan indra pengelihatannya masih berfungsi dengan benar.

Dihadapannya, terlihat rangkaian lentera membentuk hati. Dan Itachi melangkah masuk kedalam rangkaian lentera tersebut. Berdiri ditengah-tengahnya sambil menatap Ino, menunggu Ino untuk menyusulnya. Lutut Ino terasa lemas, dengan langkah gontai Ino melangkah memasuki rangkaian lentera itu sambil berusaha menahan tangisnya. Gadis itu berdiri menghadap Itachi, menghadap laki-laki yang sudah ia sukai sejak sangat lama sekali.

"Semoga kau menyukai harta karunmu." Ucap Itachi. Ino bisa merasakan air mata mengalir keluar membasahi pipinya, gadis itu menengadah menatap Itachi, menatap mata gelap itu, mata yang entah sejak kapan menjerat hidupnya.

"Kenapa… kenapa kau melakukan semua ini, senpai?" Itachi tersenyum kecil, lalu meraih tangan Ino, menyelipkan jemarinya diantara jemari Ino.

"Untuk merebut harta karunku kembali." Ino tak kuasa menahan tangisnya. Ia tidak mengerti dengan semua ini. Itachi seperti mencabik perasaannya, membuatnya senang, membuatnya sedih, lalu kembali membuatnya senang dan kembali menjatuhkannya. Ia tidak mengerti dengan semua ini.

"Aku tahu, selama ini aku sudah sangat bodoh. Aku membiarkan seseorang menunggu begitu lama." Ino tidak bisa menjawab apapun. Seluruh kata-katanya habis, otaknya tidak bisa berpikir dengan semestinya. Itachi menarik tubuh Ino mendekat lalu memeluk gadis itu. memeluknya sangat erat.

"Aku sudah kehilangan harta karunku sebelumnya. Aku tidak mau kehilangan harta karun itu untuk yang ketiga kalinya. Maafkan aku, Ino." Ino menekankan kepalanya ke dada bidang Itachi lalu melingkarkan tangannya ditubuh Itachi lalu bergumam lirih.

"Aku sangat menyukai harta karunku. Dan tidak akan melepaskannya."

xXx

Tenten menekan tombol stop lalu tersenyum puas sambil berkacak pinggang. Mata hazelnya berkaca-kaca saat melihat Itachi dan Ino berpelukan. Ia bahagia karena akhirnya Ino menemukan cinta sejatinya. Begitupun Itachi.

Tenten mengalihkan pandangannya kearah langit yang mulai gelap, ia memejamkan matanya, merasakan hilir angin menerpanya lalu berbisik.

"Cepatlah kembali, Sasuke.

Ciaatt! gimana chappy 27 nya? semoga gaterlalu awkward yaa:( hehe seketika author pengen banget masukin setting liberty island di chappy ini semoga gaterlalu aneh dan maksain (author gaterlalu tau setting liberty island cuman tau pas nntn film meet dave doang huhuhu) jadi maaf ya kalo seandainya emang terlalu maksain dan aneh :(:(:( hehehe, karena ItaIno nya udh menemukan happy ending berarti dichappy selanjutnya giliran SasuTen yakann? yeaayy! hoho, yaudah segini aja bacotan author, sebelum author pamit, author mau ngucapin makasih sebanyak-banyaknya buat para readers yang udh ngikuti fic ini dari awal sampai sekarang dan akan tetap mengikuti fic ini hehe, doakan semoga ending fic ini memuaskan karena author selalu kesulitan bikin ending yang greget:( hehe udh segini aja Thanks and keep reading guys. much love xoxo!