Rated: T

Disclaimer: Mashasi Kishimoto

Warning: typos, crack pair, late updated

SasuTen slight ItaTen

read it with ur own risks(:

Couple Words from author:

Holla minna! yeapp ini chappy 28 dan akan menjadi Last chapter dari fic ini.. WHAATTT?! LOL ya ini chappy terakhir (finally!) dari beneath big apple sky. first of all, author mau ngucapin terimakasih sebanyak-banyaknya buat para readers baik yg nge review atau yg silent ._. yang udh ngikutin fic yang sangatttt panjang ini dari awal sampe akhir:" author juga mau minta maaf kalo fic ini agak aneh karena crack pair, atau mungkin OOC gitu deh chara nya huhuhu:( tapi yang jelas author puas dengan fic ini :) hehehe semoga para readers juga merasakan hal yang sama ciatt. oh iya untuk Ama-chan, semoga fic ini sesuai harapanmu yaa, maaf kalo fic ini terlalu panjang dan sempet lama banget di update nya hehe. pokoknya author berterimakasih banget buat semua reviews yang mendukung dari kalian semua:) author juga berterimakasih pada para silent readers yang udh meluangkan waktunya untuk baca fic ini hehehe. oh iya, iseng, author mau nyebutin playlist lagu yang nemenin author dalam pembuatan fic ini~~

Michael Buble-Haven't meet you yet

Aura Dione-friends

owl city-all about us

Michael Buble-all of me

JoJo-never wanna say goodbye

Narsha-i'm in love

Sungha Jung-Irony

Sungha Jung- For you

Colbie Calliat-Bubbly

Yeayy! Big thanks buat para penyanyi diatas yang lagunya sangat menginspirasi author dalam pengerjaan fic ini. seperti biasa, reviews author bales lewat PM yaa! oke langsung aja last chap!

Chapter 28(Epilogue)

Langit London terlihat sedikit mendung saat itu. Sasuke menghela nafas panjang lalu tersenyum kecil. Jantungnya berdebar karena begitu semangatnya.

Tinggal beberapa jam lagi ia akan segera bertemu dengan panda kesayangannya. Ya, tak terasa dua bulan sudah ia menetap di London. Recitalnya dua hari yang lalu berhasil digelar, dan berlangsung dengan sangat baik. Sasuke menuai pujian dari para composer dunia, dan membuatnya menyandang predikat sebagai 'jenius musik' dan mendapat sertifikat dari penyelenggara recital pianis muda dari seluruh dunia itu. kemampuannya sudah diakui oleh dunia.

Dulu hal ini pasti membuatnya sangat senang bukan kepalang. Ya dulu, sebelum ia bertemu dengan Tenten. Meskipun Ia sudah meraih apa yang ia kejar sedari dulu, ia tetap merasa belum lengkap jika masih menetap di London. Ia ingin segera pulang ke apartemennya, dan menikmati kopi buatan Tenten yang sudah lama sekali tak ia rasakan, lalu berbincang ringan dengan gadis itu.

Sasuke tersenyum samar ketika membayangkan dirinya dan Tenten duduk berhadapan di balik meja makan apartemennya, dengan dua gelas kopi ekstra choco bon-bon dan semangkuk sereal. Dibenaknya, mereka berbincang dan berdebat seperti biasanya, dan gadis itu tertawa. Saat itulah dunia Sasuke terasa jungkir balik.

"Kau masih belum siap, Sasuke?" Sasuke tersentak kecil lalu menoleh ke sumber suara.

"Apa taxi kita sudah datang? Apa ini sudah jam tiga?" Naruto tersenyum geli lalu berjalan beberapa langkah menghampiri Sasuke.

"Ya, taxi kita sudah menunggu di lobby. Kita bisa berangkat sekarang jika kau sudah siap."

"Aku sudah siap dari satu jam yang lalu, Naruto."

"Atau mungkin beberapa hari yang lalu, bukan begitu Sasuke?" Ucap Naruto sambil menyikut rusuk Sasuke. Sasuke tersenyum dan menggeleng, lalu berbalik dan meraih kopernya.

"Lebih cepat kita sampai dibandara. Lebih baik." Kata Sasuke sambil menyeret kopernya keluar dari apartemen.

xXx

Mata hazel Tenten memperhatikan sosok gadis mungil berambut coklat yang tengah meluncur diarena ice skating tempat ia dulu mengajar. Tenten memperhatikan gadis itu selama hampir setengah jam, gadis itu terjatuh beberapa kali, dan berusaha bangun beberapa kali juga. Ya Amber bukanlah gadis lemah yang mudah menyerah. Setelah pengobatan kankernya usai, Amber mulai berlatih di arena ice skating tempatnya biasa mengajar. Tenten berjanji akan menemaninya berlatih dari balik pembatas.

Ya brace di pinggangnya masih belum dilepas dan hal itu membuatnya tidak bisa meluncur lagi. Padahal ia sudah merasa cukup baik untuk tidak menggunakan brace sial itu lagi. Ia sangat merindukan es, ia rindu meluncur diatas es, ia rindu meluncur bersama Sasuke.

'Apa itu barusan?!' Rutuk Tenten karena pikirannya sendiri. Tenten menghela nafas panjang. Waktu terasa lama sekali berlalu. Entah kapan Sasuke kembali ke New York. Dua atau tiga bulan? Tentu saja.

Tenten selalu mampir ke apartemen Sasuke, sekedar memastikan apakah laki-laki itu sudah kembali atau belum. Tapi rasanya hal itu tidak perlu. Karena ia tahu Sasuke akan menghubunginya begitu laki-laki itu sampai di New York, Sasuke sendiri yang berkata demikian. Tapi entahlah, selalu ada sesuatu yang membuat Tenten terdorong untuk mampir ke apartemen Sasuke.

"Tenten!" Lamunan Tenten terbuyarkan oleh seruan Amber. Tenten tersenyum kecil ketika gadis mungil itu meluncur dengan gontai kearahnya.

"Apa kau melihatku barusan?! Bagaimana menurutmu?" Tenten tersenyum kecil lalu menyentuh pundak gadis itu.

"Kau berjuang sangat keras, Amber. Kemampuanmu meningkat tajam. Itu bagus. Aku bangga padamu." Amberi tersenyum kecil sambil memeluk Tenten dengan hati-hati karena tidak ingin menggeser letak brace Tenten.

"Terimakasih, Tenten." Tenten tersenyum samar seraya membalas pelukan Amber.

xXx

Tenten membalas lambaian Amber dan Daisy lalu segera melangkah menuju mobil paceman kuningnya. Gadis itu segera membuka pintu mobilnya dan menghempaskan tubuhnya dibalik kemudi. Dokter Hamilton mungkin bisa melarangnya untuk berseluncur, tapi ia tidak bisa melarangnya untuk mengemudi. Tenten menghidupkan mesin mobil.

Sekarang, ia bingung harus mengemudi kemana. Ia melirik ke jam tangannya. Sudah jam tujuh malam.

'Bagaimana jika kau mengemudikan mobilmu kekawasan riverside? Untuk memastikan apakah Sasuke sudah kembali atau belum? Ayolah, aku tahu kau sangat ingin melakukannya tapi tidak ingin terlihat bodoh.'

Tenten menggeram keras sambil mencengkram kemudi dan menginjak pedal gas. Ia tidak akan mampir ke apartemen Sasuke, memarkirkan mobilnya disebrang apartemen Sasuke dan memandangi gedung apartemen itu selama lima belas menit seperti orang bodoh.

'Jika Sasuke sudah kembali. Ia akan menghubungiku.' Gumamnya dalam hati. Mobil Tenten berhenti dengan mulus di sebuah perempatan kecil.

'Baiklah Tenten, kau akan belok kekanan lalu jalan lurus dan sampai diapartemenmu. Bukannya belok kiri dan memutar sekali lalu memarkirkan mobilmu disebrang apartemen orang seperti seorang maniak.'

'Tetapi bagaimana jika Sasuke sudah sampai dan belum sempat menghubunginya?'

Tenten memejamkan matanya. Ia sangat membenci perdebatan didalam hatinya. Ia tersentak ketika mendengar bunyi klakson dari mobil dibelakangnya. Lampu merah sudah berubah menjadi hijau. Bodoh. Tenten sudah memutar kemudinya kekanan. Namun sebersit kata muncul dipikirannya.

'Bagaimana jika Sasuke menunggumu diapartemennya?'

Seuntai kalimat itu membuat Tenten kembali menginjak rem dan memutar kemudinya kekiri.

xXx

dengan hati-hati Tenten memberhentikan mobilnya tepat disebrang gedung apartemen Sasuke. Gadis itu menunduk, berusaha mengatur nafasnya yang memburu, lalu dengan perlahan menoleh kesamping.

'Kumohon Sasuke. Jangan buat aku terlihat bodoh.'

Gedung aparteme itu gelap. Tetapi hanya ada satu jendela yang masih terang. Di jendela itu terdapat beberapa tanaman kaktus. Jendela itu. jantung Tenten bergedup kencang.

'Sasuke sudah kembali?!' Tenten tidak langsung turun dari mobilnya dan berlari seperti orang gila menyebrangi jalanan. Ia memastikan sekali lagi apakah itu apartemen Sasuke. Ya, ia mengenal jelas tanaman-tanaman kaktus itu. tanaman itu miliknya, yang sengaja ia taruh diapartemen Sasuke, sebagai hiasan karena apartemen Sasuke terlalu membosankan baginya. Setelah yakin bahwa itu adalah apartemen Sasuke, Tenten segera mematikan mesin mobilnya, menyambar mantel coklatnya dan bergegas keluar dari mobil.

xXx

"Benda sial!"

Prang!

Sasuke menggeram kesal lalu menghempaskan tubuhnya di sofa hitamnya yang nyaman. Laki-laki itu menyandarkan tubuhnya dan memijat pelipisnya. Setelah memejamkan mata beberapa saat dan menenangkan saraf-saraf otaknya yang kaku, Sasuke membuka kedua matanya dan memandang ponselnya yang sudah berantakan dilantai kayu apartemennya.

"Bagus sekali! sekarang aku benar-benar tidak bisa menghubungi siapapun." Gerutunya kesal.

Semua berawal saat Sasuke menjejakan kaki dibandara J. Kennedy. Setelah melakukan perjalanan udara selama hampir sembilan jam, akhirnya Sasuke sampai di New York, ia merasa lega ketika pesawat sudah mendarat. Tanpa memperdulikan larangan pramugari untuk menyalakan ponsel, Sasuke segera mengaktifkan ponselnya dan menelpon Tenten. Tapi ponselnya tidak bisa bekerja. Ia tidak bisa menghubungi Tenten, sampai detik ini hal itu membuatnya uring-uringan.

Sasuke menegakan tubuhnya dan menghirup udara dalam-dalam. Ia harus memberitahu Tenten bahwa ia sudah kembali, karena ia sudah berjanji pada gadis itu. tapi bagaimana caranya?

'Mudah. Kau hanya perlu berdiri, keluar dari apartemenmu, mengeluarkan mobil dari garasi dan melesat menuju apartemennya.' Ucap suara kecil dikepalanya.

'Tapi sudah hampir jam delapan. Lagipula kau tidak tahu keberadaannya saat ini. baka.' Sahut suara lainnya. Sasuke menghela nafas panjang. Ia harus menemui gadis itu. ya. Sasuke segera berdiri, ia akan mengunjungi apartemen Tenten, jika memang Tenten tidak ada disana, ia akan menunggu didalam mobilnya, atau jika ia menggunakan taxi, ia akan menunggu Tenten didepan gedung apartemennya. Sasuke melangkah panjang-panjang menuju mantel cokelatnya yang tergantung disamping pintu keluar, lalu menyambar kunci mobil porche cayman nya dan segera membuka pintu dengan satu sentakan.

Sasuke bahkan tidak mau menghabiskan waktu menunggu lift, laki-laki itu setengah berlari ketika menuruni tangga. Hatinya lega ketika ia sudah menapakan kakinya di lobby apartemen. Ketika ia berhasil keluar dari gedung apartemen dan berjalan menuju tangga undakan, Sasuke menghentikan langkahnya karena hampir saja menabrak seseorang.

"Maaf aku-" Sasuke mengangkat wajahnya ketika mendengar suara itu. ia mengerjap kaget. Sementara gadis dihadapannya juga terlihat sama kagetnya.

"Panda?"

"Sasuke?"

"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Sasuke sambil mengerutkan alisnya. Tenten terlihat salah tingkah selama beberapa saat, lalu ia berdeham beberapa kali dan berkata.

"Bisa kita masuk ke apartemen mu terlebih dahulu? Dingin sekali diluar sini."

xXx

Setelah menaiki beberapa tangga, akhirnya mereka sampai didepan pintu apartemen Sasuke. Tenten berdiri beberapa langkah dibelakang Sasuke, menunggu Sasuke membuka kunci pintunya. Setelah terdengar bunyi 'klek' dua kali, Sasuke membuka pintunya dan masuk. Seperti biasa tanpa mempersilahkan Tenten masuk. Alasannya karena, menurut Sasuke apartemennya adalah apartemen Tenten juga, gadis itu bisa bebas keluar masuk tanpa perlu dipersilahkan atau pamit layaknya seorang tamu. Karena Tenten bukan sekedar tamu yang datang dan pergi.

Tak sadar Tenten mengulum seulas senyum kecil ketika ia menjejakan kakinya di apartemen Sasuke. Rasanya sudah lama sekali ia tidak mengunjungi tempat ini. meski begitu, apartemen Sasuke tetap terasa familier baginya, semuanya terasa sama dan nyaman, bedanya kali ini apartemen Sasuke terlihat lebih rapih dibanding ketika terakhir kali ia berada disini.

"Kurasa aku masih menyimpan beberapa ramen instant, kau mau?" Tanya Sasuke sambil beranjak menuju dapur. Tenten tersenyum kecil lalu melangkahkan kakinya ke ruang keluarga, tempat sofa dan piano tua milik Sasuke diletakkan.

"Ya tentu saja. Kau bisa melakukannya? Atau kau ingin aku yang melakukannya?"

"Tidak perlu. Kau bukan lagi pengurus rumahku." Sahut Sasuke dari dapur dengan nada bergurau. Tenten menyisirkan jemarinya diatas sofa kulit milik Sasuke, lalu menghempaskan tubuhnya disana. Disinilah biasanya Tenten beristirahat ketika sudah selesai merapihkan apartemen Sasuke, dulu sekali. sebelum Sasuke mengajaknya keacara Gustav. Sebelum mereka menjadi sedekat ini.

Beberapa menit kemudian, Sasuke kembali dengan dua mangkuk berisi ramen instant dikedua tangannya. Laki-laki itu duduk disamping Tenten dan meletakan satu mangkuk di atas meja kopi dihadapan mereka.

"Thanks." Gumam Tenten sambil meraih mangkuk yang masih mengepulkan asap itu. sasuke mengangkat kedua bahunya.

"Kuharap ramen instant ini masih aman bagi perut manusia."

"Makanan instant bisa dirancang untuk bertahan selama bertahun-tahun Sasuke, bukan hanya beberapa bulan." Sahut Tenten sambil tersenyum geli. Sasuke tersenyum samar lalu mulai menyantap ramennya. Tenten mengangguk kecil lalu mulai menjepit ramennya dengan sepasang sumpit dan memasukannya kedalam mulut. Gadis itu tak bisa menyembunyikan rasa senangnya karena bisa kembali keapartemen ini.

"Oh ya.. omong-omong kau belum menjawab pertanyaanku di lobby tadi." Tenten menoleh menatap Sasuke, menatap laki-laki itu dengan mata disipitkan.

"Pertanyaan apa?" Sasuke membalas menoleh, menatap Tenten.

"Apa yang kau lakukan disini? Kenapa kau bisa berada di apartemenku?" Tenten terdiam sejenak lalu mengalihkan pandangannya. Tentu saja Tenten tidak akan langsung mengatakan tujuannya dengan gamblang. Tidak mungkin ia berkicau, 'Aku selalu mengunjungi apartemenmu setiap malam hanya untuk memastikan apakah kau sudah kembali. Dan kau sama sekali tidak menelponku. Sama sekali tidak. Lalu kau masih menanyakan kenapa aku bisa berada diapartemenmu?' Tenten menggelengkan kepalanya, menghela nafas panjang dan menjawab.

"Well… aku hanya kebetulan lewat dan.."

"Oh ya? Setahuku apartemenku dan apartemenmu berlawanan arah."

"Aku hendak membeli sesuatu… dan aku melihat jendela apartemenmu, ada sinar lampu disana. Jadi.. disinilah aku." Jawab Tenten, berusaha sesantai mungkin. Sasuke mengangguk-angguk lalu kembali menyantap ramennya. Beberapa menit kemudian, mereka sudah selesai menyantap ramen mereka. Sasuke menghela nafas seraya menyandarkan tubuhnya di sofa.

"Aku tidak pernah merasa sekenyang ini."

"Jadi kau mulai memikirkan diet atau sebagainya?" Tanya Tenten sambil tersenyum geli. Sasuke terkekeh.

"Usaha yang bagus, panda. Tidak." Tenten tertawa lalu beranjak berdiri. "Aku mau membuat kopi. Apa kau mau?" Ucap gadis itu sambil melangkah menuju dapur. Sasuke menegakan tubuhnya seraya mengamati gadis itu melangkah. Melihat Tenten kembali di apartemennya entah bagaimana membuat Sasuke senang. Ditambah lagi, gadis itu akan membuatkannya kopi.

"Seharusnya kau tidak perlu menanyakan hal itu lagi, panda." Sasuke bisa mendengar Tenten tertawa di dapur.

"Terkadang aku lupa bahwa kau pecandu berat kopiku." Sasuke tersenyum kecil. Sebenarnya, ketergantungannya bukan hanya kepada kopi buatan Tenten. Tetapi pada Tenten itu sendiri. Sasuke masih tidak percaya bahwa ia sudah melewati masa tersulit, ia pernah hampir kehilangan Tenten, berkali-kali. Dan Sasuke tidak mau hal itu terulang lagi.

"Apa Itachi-senpai sudah mengabarimu?" Pertanyaan Tenten membuat pikiran Sasuke terputus. "Bahwa ia sudah resmi bertunangan dengan Ino? Ya sudah." Sahut Sasuke.

"Aku senang sekali akhirnya mereka bisa bersama. Aku senang bisa menjadi bagian dari hari yang istimewa bagi mereka." Ucap Tenten penuh semangat, hal itu entah mengapa membuat Sasuke senang.

"Yeah, aku tidak tahu jika kakakku bisa bertindak romantis seperti itu."

"Ayolah Sasuke. Para gadis sangat menyukai tindakan romantis, begitupun Ino." Sasuke mendengus lalu tertawa. Ya, sekitar satu minggu yang lalu, Itachi menelponnya, memberitahu Sasuke bahwa ia akan memberikan kejutan untuk Ino, ia akan menyampaikan perasaannya pada gadis berambut pirang itu.

Beberapa saat kemudian, Tenten kembali dengan dua cangkir kopi ekstra choco bon-bon nya. Gadis itu menyerahkan satu cangkir kepada Sasuke, lalu duduk disebelahnya.

"Eh.. Sasuke?"

"Ya?"

"Apa kau masih ingat dengan Amber?" Sasuke mengangguk.

"Ya tentu saja, kenapa?" Tenten menggeleng kecil lalu tersenyum.

"Tadi aku menemaninya berseluncur di sky rink. Dia sudah pulih dan mulai berlatih. Aku senang sekali bisa melihatnya sembuh dan melakukan apa yang sedari dulu ingin dia lakukan."

"Kau rindu berseluncur?" Tenten menoleh menatap Sasuke, lalu bergumam.

"Ya." Sasuke mendengus, lalu meletakan cangkirnya dimeja kopi dan berdiri. "Tunggu disini."

xXx

Sudah hampir setengah jam Sasuke meninggalkan Tenten sendirian diruang duduk apartemennya. Kopi milik Tenten sudah habis, sementara kopi milik Sasuke masih tersisa sedikit dan sudah tidak mengepulkan asap lagi. Tubuh Tenten tersentak ketika mendengar pintu apartemen terbuka, disusul oleh langkah kaki yang dihentakan mendekat. Tenten memutar tubuhnya kebelakang, mata hazelnya menangkap sosok Sasuke yang berjalan mendekatinya, laki-laki itu mengenakan mantel tebal berwarna hitam dan nafasnya tersengal-sengal.

"Ayo. Kita tidak punya waktu banyak." Tenten mengernyitkan hidungnya.

"Apa? Kita mau kemana?" Tanya Tenten ketika Sasuke menarik lengannya untuk berdiri. "Semakin cepat kau berdiri dan mengenakan mantelmu, semakin cepat kau tahu."

"Ap.. hei tunggu!" Sasuke segera menarik Tenten berdiri lalu melangkah menuju pintu.

"Cepatlah panda, kita benar-benar tidak punya waktu banyak." Mendengar itu membuat Tenten melangkah menuju gantungan mantel dengan terburu-buru.

"Ada apa sebenarnya?" Tanya Tenten yang mulai panic. Ada apa sebenarnya? Apa ada sesuatu yang buruk terjadi? Tapi sepertinya tidak, raut wajah Sasuke tidak menunjukan raut ketakutan sama sekali.

"Apa kau sudah selesai mengenakan mantelmu?"

"Well kurasa sudah." Sasuke memutar tubuhnya dan menarik tangan Tenten. "Baiklah ayo kita segera pergi."

xXx

"Sebenarnya kita mau kemana Sasuke? Ini sudah hampir jam 10 malam."

"Kau sudah bertanya sebanyak lebih dari 5 kali panda, dan aku sudah mulai bosan menjawabnya." Ujar Sasuke tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan. Tenten mendengus kesal dan mengerucutkan bibirnya. Tenten sama sekali tidak tahu kemana tujuan Sasuke, dan Sasuke sepertinya tidak akan membiarkan Tenten tahu sampai mereka sampai ditempat tujuan. Jadi yang saat ini perlu Tenten lakukan hanyalah bersabar. Beberapa menit kemudian, Sasuke menghentikan laju mobilnya.

"Kita sudah sampai." Tenten menegakan tubuhnya lalu memandang kesekitar. Jalanan sudah sepi, dan lampu-lampu sudah dinyalakan. Tenten tahu tempat ini, ia sangat tahu tempat ini. Sky rink. Ya bangunan skating area terbesar di new york itu terlihat agak menakutkan dimalam hari.

"Kau membawaku ke sky rink? Untuk apa?" Sasuke mematikan mesin mobil, lalu melepaskan sabuk pengaman.

"Apa kau tidak ingin mencaritahu?" ujar Sasuke sambil tersenyum kecil sebelum akhirnya keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Tenten. Tenten memutuskan untuk tidak bertanya lagi, dan membiarkan Sasuke membawanya masuk kedalam gedung. Sepertinya hanya tinggal mereka disana, lobby yang biasanya ramai dilalui para skater dan pelatih, kini nampak sepi dan gelap. Sasuke membawa Tenten ke pintu menuju arena ice skating sky, tempat tour Gustav beberapa bulan yang lalu diadakan, tempat Tenten untuk terakhir kalinya meluncur.

"Apa yang akan kita lakukan?" Tanya Tenten ketika akhirnya mereka sampai di samping sky rink. Sasuke segera meraih sepatu ice skating untuknya dan Tenten, lalu mengenakannya.

"Menurutmu apa yang akan kita lakukan?"

"Tapi Sasuke, kau tahu bukan aku tidak boleh me-"

"Aku tidak mengatakan kita akan meluncur, Tenten. Kau hanya perlu mengenakan sepatu itu dan masuk kearena." Tenten hanya bisa menatap Sasuke dengan tatapan bingung.

"Demi Tuhan Sasuke. Apa udara London sudah merusak sel-sel otakmu?" Sasuke menegakan tubuhnya ketika sudah selesai dengan sepatu ice skating birunya, lalu menatap Tenten.

"Ayolah Tenten, diingatanku. Kaulah yang paling pemberani dalam hal ini." Tenten mendengus lalu mulai mengenakan sepatu ice skatingnya. Sasuke menyentuh lengan Tenten, menghentikan aktivitas Tenten.

"Membungkuk seperti itu akan membuat brace dipinggangmu terasa melilit tubuhmu. Duduklah." Ujar Sasuke dengan nada serius. Tenten menurut dan duduk, sementara Sasuke langsung berlutut dihadapan Tenten dan memasangkan sepatu ice skating berwarna merah muda. Setelah itu, Sasuke membantu Tenten berdiri. Tenten merentangkan kedua tangannya kesamping, berusaha menyeimbangkan tubuhnya. Rasanya agak asing berdiri sempoyongan sebelum masuk ke arena ice skating, Tenten tidak pernah mengalami kesulitan berdiri tegak diatas sepatu beralaskan pisau baja sebelumnya.

"Kau bisa berdiri?" Tanya Sasuke yang bersiap untuk menangkap Tenten jika gadis itu jatuh. Ia tahu ini gila. Ia tahu benar bahwa kondisi Tenten belum seratus persen stabil. tapi ia tetap mengajak gadis itu kesini.

"Ya. Kurasa." Sasuke menghela nafas lega lalu melangkah mundur beberapa langkah, membuka pintu arena ice skating dan dengan perlahan masuk kedalam arena. Awalnya agak sulit untuk menyesuaikan diri, Sasuke harus menyeimbangkan tubuhnya dan merentangkan tangannya kesamping selama beberapa detik. Sampai akhirnya ia bisa menemukan titik keseimbangan tubuhnya dan menguji cobanya dengan meluncur sedikit, mengitari setengah arena lalu berhenti dengan mulus didepan pintu masuk.

"Well.. sepertinya aku memang berbakat menjadi seorang guru." Gumam Tenten sambil tersenyum bangga. Sasuke terkekeh, lalu merentangkan kedua tangannya kearah Tenten.

"Apalagi yang kau tunggu, sensei?" Tenten mengerutkan alisnya.

"Apa kau yakin, Sasuke?"

"Tentu saja. Aku disini, kita akan baik-baik saja." Tenten terdiam sejenak. Dr. Hamilton menyarankan untuk tidak bersentuhan dengan es selama enam bulan, baru sekitar tiga bulan Tenten menjauhi es. Tapi dorongan jiwa maniak skater membuat Tenten menyambut tangan Sasuke dan dengan perlahan melangkahkan kakinya. Kaki kanannya menapaki es, agak sedikit kaget awalnya, tapi dengan mudah Tenten menguasai diri dan membatasi gerakan reflek agar rasa nyeri dipunggungnya tidak muncul. Disusul kaki kiri, dan ia pun berdiri diatas es.

"Awal yang bagus. Sudah kubilang kita akan baik-baik saja." Kata Sasuke sambil tersenyum, Tenten hanya bisa berdiri sambil memegangi tangan Sasuke erat-erat. Rasanya aneh sekali berdiri diatas es seolah kau tidak bisa melakukan apa-apa, padahal kau adalah pentolan Clinton skating school dan murid kebanggaan Gustav Mahler. Rasanya sulit dipercaya. Tapi Tenten merasa senang.

"Lalu apa yang akan kita lakukan?" Tanya Tenten. Sasuke tersenyum, menoleh kesamping.

"Kau bisa memainkannya sekarang, Naruto!" Beberapa detik kemudian, alunan lembut karya George Gershwin-lullaby. Sasuke pun meluncur kebelakang dengan perlahan seraya menarik tubuh Tenten. tenten berusaha meluncur sebisa mungkin.

"Tidak. Panda, kau tidak perlu meluncur seperti kontestan olimpiade atau sejenisnya. Sudah kukatakan kau hanya perlu berdiri bukan?" Ujar Sasuke. Tenten tersenyum geli lalu berkata.

"Aku tidak ingin terlihat seperti patung batu. Dan lagi, sejak kapan Naruto ada disini?" Tanya Tenten sambil melirik kearah Naruto yang tengah berdiri di dekat sound system.

"Dia datang tiga menit setelah kita sampai disini."

"Bagaimana? Kenapa kita bisa masuk kesini? Bukankah gedung ini hanya dibuka sampai pukul sembilan?" Sasuke terkekeh.

"Aku menelpon Naruto dan membuatnya membatalkan kencan pertamanya dengan model berambut indigo yang namanya Hinata kalau aku tidak salah, lalu menyuruhnya datang kesini untuk membantuku dengan soundsystemnya. Lalu aku menelpon Gustav untuk meminjam arena ini, Gustav sangat antusias ketika aku menyebutkan namamu, tapi lain halnya dengan Paulo, kepala keamanan gedung. Ia berkata kita hanya boleh berada disini sampai pukul sebelas." Jelas Sasuke sambil tetap meluncur membawa Tenten mengitari arena. Mereka memang tidak sedang berdansa dengan anggun, ini bukan cara Tenten menikmati berseluncur, dengan berdiri diam dan membiarkan orang lain menggeretmu mengitari arena. Tapi entahlah, Tenten sangat menikmatinya. Tenten sangat senang malah.

"Itu sebabnya kau begitu terburu-buru, huh?" Sasuke menyeringai, dan untuk sejenak Tenten hampir kehilangan keseimbangannya.

"Ya. Entahlah terlintas begitu saja dibenakku untuk melakukan semua ini ketika kau bilang Amber sudah mulai berlatih dan kau merindukan ice skating."

"Sangat mendadak. Aku yakin dua koloni semut tengah merajai cangkir kopi kita. Kopimu masih tersisa sedikit." Sasuke tertawa renyah.

"Kita bisa memanggil pengendali serangga nanti." Tenten tersenyum geli lalu suasana hening yang canggung pun merambat. Hanya ada alunan musik, dan suara pisau baja yang membelah es. Tenten sangat merindukan semua ini, suara gesekan pisau baja dan es, suara alunan musik klasik, dan udara dingin yang menggelitiknya setiap ia meluncur. Rasanya sangat menyenangkan ketika semuanya kembali bisa dirasakan oleh Tenten, hal itu semakin menyenangkan ketika mengetahui bahwa Sasuke yang membuat semua ini terwujud. Hanya dengan memikirkan namanya, membuat jantung Tenten bergedup kencang, Tenten bisa merasakan Sasuke menatapnya dihadapannya. Suasana tetap dibiarkan hening sampai akhirnya musik klasik itu berhenti mengalun. Sasuke dengan hati-hati menghentikan laju mereka ditengah-tengah ice rink.

"Terimakasih Sasuke, sepertinya aku mulai mempercayai adanya peri pengabul harapan." Sasuke terkekeh lalu meremas tangan Tenten yang agak dingin dan lembab.

"Jika memakai rok tutu dan memegang tongkat bintang bisa membuatmu senang, aku akan melakukannya."

"Sungguh? Bagaimana kalau aku memintanya sekarang, ibu peri?" Sasuke tertawa. "Aku masih memiliki daftar nama anak lain yang memintaku mewujudkan keinginannya." Tenten tertawa lalu menggoyangkan tangannya. Setelah tawa Tenten mereda, Sasuke bertanya.

"Apa kau senang?" Tenten tersenyum lalu mengangguk. "Kau selalu membuatku senang Sasuke. Kurasa aku harus membalasnya suatu hari nanti." Gurau Tenten sambil terkekeh.

"Kau sudah melakukannya, panda." Tenten terdiam, gadis itu membalas tatapan Sasuke. Tenten bisa melihat dengan jelas, mata onyx Sasuke yang menatapnya dengan tatapan bersungguh-sungguh. Sama seperti mereka dirumah sakit, tepatnya di bangsal anak, ketika Sasuke memainkan piano dan memberikan selimut rajutannya untuk Tenten. ketika Sasuke menciumnya.

"Aku tinggalkan kalian berdua. Aku harus menemui Hinata di times square, kuharap aku tidak sedang mengganggu kalian sekarang. Tidak ada jawaban? Oke anggap saja aku tidak ada, tidak perlu berterima kasih Sasuke sungguh." Gerutu Naruto sambil melangkah lebar-lebar menuju pintu keluar. Sasuke mendengus dan menoleh untuk menatap sahabatnya yang sudah diambang pintu.

"Well. Terimakasih banyak dude." Seru Sasuke. Dari kejauhan mata hazel Tenten dapat melihat rambut mencolok Naruto, ia juga bisa melihat Naruto menyeringai lebar dan melambai kearahnya.

"Kalau begitu sampai jumpa! Hei Tenten senang sekali melihatmu meluncur disana. Aku bersungguh-sungguh. Selamat malam." Balas Naruto seraya membuka pintu dan melangkah pergi. Tenten terkekeh, sementara Sasuke hanya tersenyum lemah.

"Dia temanku. Apa lagi yang bisa ku lakukan?" Tenten tersenyum geli. "Sampai dimana tadi?"

"Pembalasanku atas kebaikanmu, Sasuke." Sasuke mengangguk sambil tersenyum. "Ya.. kau tidak perlu melakukannya, karena kau memang sudah melakukannya." Tenten tersenyum.

"Kau ingat dirumah sakit? Saat aku menciummu di depan piano tua?"

"Ya tentu saja." Jawab Tenten dengan pipi merona merah.

"Aku baru menyadari bahwa aku sangat payah saat itu. Maksudku, hanya aku yang payah.. kau sangat luar biasa. Sungguh. Maksudku, aku memintamu untuk membiarkanku menciummu dibangsal anak? Yang benar saja."

"Lalu apa? Kau ingin memperbaikinya?" Tanya Tenten bergurau. Sasuke terdiam, lalu menatap Tenten dengan tajam. Tubuh Tenten tersentak. Tenten bisa merasakan tangan Sasuke terlepas dari tangannya, dan mulai melingkari pinggangnya. Laki-laki itu dengan lembut menarik Tenten mendekat, sementara Tenten meletakkan kedua tangannya di dada Sasuke. Tenten merasakan degup jantungnya yang semakin tak karuan, dan ia juga bisa merasakan degup jantung Sasuke dibawah tangannya. Dengan lembut Sasuke menyentuh dagu Tenten, dan wajah Sasuke pun mendekat. Hidung mereka saling bersentuhan. Tenten memejamkan matanya. Lalu saat itu juga, Tenten merasakan Sasuke mencium keningnya. Tenten hanya bisa terdiam, ia membuka kedua matanya dan melihat leher putih Sasuke. Sasuke mencium kening Tenten?! beberapa detik kemudian, Sasuke menarik tubuhnya menjauh dari tubuh Tenten.

"Tunggu…" Sasuke tersenyum geli melihat Tenten yang salah tingkah.

"Ada apa panda?"

"Kukira kau… kukira kau ingin memperbaiki.."

"Aku akan melakukannya, aku memang akan melakukannya dan sangat ingin melakukannya. Tapi aku lebih ingin melakukan ini." Tenten menatap Sasuke dengan tatapan tidak percaya. "Apa? Apa maksudmu?"

"Kau tahu. Menurut shakespare, mencium kening seorang gadis adalah cara yang paling tepat untuk menyampaikan rasa cintamu."

"Aku hanya ingin menjawab pertanyaanmu saat itu, sebelum aku terbang ke London apa kau ingat? Kau bertanya apakah perasaanku masih sama atau tidak. Dan aku menjawabnya sekarang. Aku tahu cara penyampaianku agak aneh dan terburu-buru. Tapi-" belum selesai Sasuke berbicara, Tenten sudah meluncur memeluk Sasuke, begitu keras hingga hampir membuat Sasuke kehilangan keseimbangan.

"Kau hanya perlu mengatakan iya atau tidak, Sasuke." Gumam Tenten. sasuke tersenyum lalu membelai kepala Tenten.

"Kau tahu aku bukan tipe lelaki yang pandai mengutarakan rasa cinta dengan kata-kata." Tenten terkekeh lalu memeluk Sasuke lebih erat. Hatinya terasa lega. Setidaknya ia mengetahui bahwa Sasuke menyayanginya.

"Jadi sekarang… boleh aku memperbaiki kesalahanku ketika dibangsal anak?" Tenten mengerucutkan bibirnya lalu menengadah menatap Sasuke.

"Tidak ada kejutan Shakespare atau Peter Van houten atau sastrawan lainnya?" Sasuke terkekeh.

"Tidak ada. Aku bersumpah." Tenten tersenyum. Seperti tadi. Sasuke merengkuh tubuh Tenten mendekat, dengan lebih hati-hati menyentuh dagu Tenten dan menengadahkan kepalanya. Hidung mereka bersentuhan. Mereka dapat merasakan deru nafas masing-masing. Dan beberapa detik kemudian, -bibir mereka bertemu. Udara berlarian keluar dari paru-paru Tenten, sama seperti ketika Sasuke menciumnya dirumah sakit. Bedanya tidak ada hawa kesenduan saat ini. Ciuman ini benar-benar nyata, tidak ambigu, dan manis.

Beberapa detik kemudian, Sasuke menarik kepalanya, membiarkan Tenten bernafas. Tenten menghela nafas panjang lalu membuka kedua matanya. Ia tersenyum lalu berkata.

"Astaga Kami-sama, Sasuke. Kurasa kita membatalkan perjanjian kita dengan Paulo."

"Omong kosong dengan Paulo."

"Bagaimana kalau dia mengunci kita disini?"

"Kita bisa memperbaiki ciuman kita yang tadi, dan melakukan beberapa perbaikan lagi jika kau tidak keberatan." Ujar Sasuke sambil tersenyum bergurau. Tenten tertawa renyah lalu menggenggam erat tangan Sasuke. Sangat erat seperti tidak akan melepaskannya.

-fin-

Yeyeyeyeyeye! gimana last chapternyaa? well seperti janji author fic ini happy endings, author seneng deh akhirnya bisa bikin happy ending (dua fic author selalu sad ending) huhuhu. okee author harap endingnya memuaskan dan sweet karena author agak kesulitan buat nentuin endingnya. sekali lagi author mau ngucapin makasih banyak buat para readers yang setia ngikutin fic ini:) author juga minta maaf kalo author ada salah kata dalam berbacot atau mungkin fic ini kurang berkenan dihati para readers, author selalu belajar untuk menaikan kualitas fic author yang masih newbie ini fufufufu. oke segini aja bacotan author, oh iya fic baru dari author sedang in progress jadi tunggu aja ya fic baru dari author xixixixi. okay, thanks and GBU xoxo3