Stranger Becomes Love (First Love)

The Story : Change what you can't receives

Warning : Typo, Gs, Ooc

Main Cast : Kim Jong-In, Do Kyung-Soo

Cast: Baek-Hyun, Chan-Yeol, Lu-Han, Se-Hun (and EXO member as cameo)

Genre : Romance, Drama

Rated : T

London, England.

Spring,2014.

Kedua tumitnya yang ditutupi oleh sepasang wedges berwarna krem dengan pita coklat itu melangkah dengan tergesa-gesamelewati jalanan Pancrass St.tanpa memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang menggunakan sepeda dan berjalan santai disekitarnya.

Ia lalu mengedarkan pandangan kekiri dan kekanan ketika akan menyebrang melewati sebuah zebracross disebuah perempatan menuju stasiun King's Cross. Poninya beberapa kali bergerak karena angin hangat khas musim semi yang bertiup lumayan kencang. Langkah cepatnya membuat rambut hitam kecoklatan yang dikucir kuda itu bergoyang kekiri dan kekanan.

Tercium aroma latte dari sebuah coffee shop yang ia lewati ketika ia sampai dikawasan stasiun King's Cross. Suasana pagi yang hangat terlihat dari coffee shop yang tidak terlalu ramai itu membuatnya berkeinginan untuk singgah dan meminum secangkir saja latte kesukaannya. Tapi ia tahu ini bukan mengecek jam kecil bertali coklat tipis ditangan kirinya sesekali sambil terus melangkah.

Bangunlah! Pernikahannya hari ini!

Teriakan temannya, Baek-Hyun, tadi pagi, masih terngiang-ngiang dikepalanya. Ia mengerutkan alisnya sambil menggelengkan kepalanya berusaha mengenyahkan tingkah bodohnya tadi pagi. Bagaimana ia bisa lupa acara yang dianggap penting ini?

Iamasih berjalan cepat menuruni eskalator yang bergerak lambatmencari peron yang ia tuju. Berkali-kali ia mengucapkan kata 'permisi' pada orang-orang yang menghalangi langkahnya.

Kakinya bergerak pelan ketika ia berhasil memasuki peron. Tidak perlu menunggu satu menit, sebuah kereta yang ditunggunya datang dengan kecepatan yang tidak terlalu lambat atau terlalu cepat. Ia langsung berderap memasuki kereta tepat ketika pintu kereta itu terbuka.

Ia membereskan letak jaket jins pendek sepinggang yang dipakai diluar dress krem lembut dengan ikat pinggang coklatnya ketika ia mendapatkan tempat berdiri didekat pintu. Ia memilih untuk tidak duduk karena ketika kereta berhenti ia bisa langsung melesat keluar.

Ia lalu membereskan letak poni dan ikatan rambutnya didepan kaca pintu kereta yang baru saja menutup. Detik berikutnya dering sebuah ponsel terdengar dari dalam tas dengan warna yang senada dengan sepatunya. Tangan kanan itu langsung bergerak mengocok isi tas yang tergantung dipundak kanannya berusaha mencari ponsel yang masih berdering.

"Halo?" sapanya tanpa melihat siapa yang meneleponnya.

"Kau dimana sekarang?" tanya seseorang ditelepon dengan nada yang tidak santai.

"Dikereta." Jawabnya singkat sambil mengipas-ngipas lehernya yang kepanasan setelah berlari tadi.

"Syukurlah," ucap seseorang ditelepon, "Kau sudah tahu dimana letak gerejanya, kan?"

Matanya kini membelalak setelah mendengar pertanyaan yang diberikan seseorang lewat teleponnya itu. Kedua tangannya langsung mengocek kembali isi tas kremnya mencari sesuatu dengan ponsel yang dijepit pundak kanan dan kepalanya.

"Wait.." gumamnya sambil terus mengacak-acak isi tasnya.

"Kau tidak melupakannya bukan? Yang benar saja.." ucap seseorang ditelepon dengan nada putus asa. Sudah lebih dari satu menit wanita itu mencari dengan seseorang ditelepon yang terus menanyainya.

"Saint Paul's Chruch—"

"Saint Paul's Chruch, Wilton PI, daerah Knightsbride."

Ucapnya membaca sebuah catatan pada secarik kertas dengan tepat memotong ucapan seseorang dibalik telepon yang kini sedang menghela napas lega.

"Well done." Komentar seseorang dari balik ponsel wanita itu. Detik berikutnya suasana hening. Keduanya tidak berkata apa-apa. Yang terdengar hanya suara orang-orang mengobrol disekitarnya dan suara 'syung' yang dikeluarkan kereta yang bergerak cepat.

"Baek-Hyun?" panggil wanita itu.

"Aku tahu apa yang ada dipikiranmu, Kyung-Soo." Kata seseorang yang dipanggil Baek-Hyun itu membuatnya mendengus sambil tersenyum.

"Setelah aku sampai, aku ingin ponsel kita terhubung terus. Aku akan menggunakan earphone." Kata Kyung-Soo sambil melirik jam ditangan kirinya.

"Baiklah. Tidak usah cemas. Aku yakin rencana ini akan berhasil... meskipun agak gila." Jawab Baek-Hyun dari balik telepon membuat Kyung-Soo mengangguk pelan, ragu. "Dan maaf bila aku tidak bisa banyak membantu. Kau tahu aku harus membantu persiapan pernikahan Jong-Dae dan calon adik iparku,Min-Seok."

"Lalu kapan kau menikah dengan sunbae?" tanya Kyung-Soo sambil tertawa kecil yang menyebabkan dengusan sinis dari balik telepon. "Hahaha.. Tidak , Akan kutelepon lagi ketika aku keluar dari stasiun."

Tangan kanannya kini memegang pegangan yang tergantung diatas kereta setelah memasukan ponselnya kedalam tas.

Ia menatap bayangan dirinya pada kaca pintu kereta dengan tatapan cemas dan tak yakin.Apakah rencana gila ini akan berhasil? Bagaimana kalau tidak? Tanyanya dalam hati. Ia lalu menghela napas panjang sambil menggelengkan kepalanya mengusir segala kemungkinan terburuk yang ada dikepalanya.

Ia kini terus mengucapkan sebuah kalimat dalam hatinya berulang kali. Kalimat yang selalu membuatnya berhasil untuk mendapatkan keinginannya. Ia hanya bisa berharap kalimat itu akan berfungsi dan membuatnya berhasil kali ini.

Receive what you can't changes, and change what you can't receieves.

...

Seperti yang diperkirakannya tadi, ia langsung melesat keluar kereta sedetik setelah kereta berhenti. Ia berjalan melewati peron yang sudah mulai ramai dengan orang-orang yang berjalan dengan berpakaian khas musim semi.

Ia melangkah keluar melewati Hyde Park Corner setelah menaiki eskalator dijalanan Knightsbridge. Ia hendak melangkah lagi tapi langsung terhenti karena ragu. Ia bingung memilih jalanan yang benar—tepatnya cepat—ketika melihat begitu banyak jalanan kecil lain yang berbelok sepanjang jalanan Knightsbridge.

Tangannya lalu merogoh tasnya mencari sesuatu. Ia mengeluarkan earphone lalu langsung menghubungkannya pada ponselnya.

"I'm lost, Baek." Ucapnya sedetik setelah seseorang berkata 'halo' dibalik telepon.

"Kau serius? Kau dimana?" tanya Baek-Hyun dengan suara cemas yang tidak dibuat-buat.

"Sebenarnya aku masih berada di Hyde Park Corner. Tapi aku bingung harus jalan kearah mana. Padahal kemarin aku hafal sekali." Jawab Kyung-Soo dengan nada khawatir,hampir frustasi. Secarik kertas berisi informasi nama sebuah gereja ditangannya tidak cukup membantu kali ini.

"Tenanglah." Ucap Baek-Hyun dibalik telepon, "Kau sebaiknya mencari taksi."

Mata hitam kecoklatan Kyung-Soo langsung mengedarkan pandangannya memutar daerah Knightsbridge yang mulai ramai.

"Aku akan terlambat jika menggunakan taksi." Kata Kyung-Soo cemas. Ia mengedarkan pandangannya lagi dan menemukan sesuatu yang membuat bibirnya membentuk seulas senyum.

Ia menyebrangi jalan melewati zebra crosssetengah berlari dan mendekati seorang laki-laki bertubuh tinggi dan berambut blond yang terlihat seperti mahasiswa. Ia tersenyum dan mengangguk sopan pada laki-laki itu lalu berbisik pada Baek-Hyun lewat earphonenya.

"Ada cara yang lebih cepat."

...

Poni dibawah helm merah itu bergerak hebat karena tertiup angin ketika ia melewati jalanan Knightsbridge menggunakan sepeda. Iya memegang erat pundak seorang mahasiswa yang ternyata adalah juniornya di kampusnya dulu yang kini rela menggonceng—tepatnya mengantarkan— Kyung-Soo secara cuma-cuma.

"Dyo, did you know that you are one of popular in our college?" tanya mahasiswa itu sambil mengayuh sepedanya. Mahasiswa itu memanggil Kyung-Soo dengan nama penanya—Dyo.

"Ah really?" jawab Kyung-Soo, "Aku bahkan baru mengetahuinya sekarang." Lanjut Kyung-Soo mendengus geli tak habis pikir karena juniornya bilang ia lumayan populer saat di kampus dulu.

"First Love.Cerita yang kau tulis dimajalah bulanan kampus itu merupakan cerita yang banyak disukai mahasiswa di kampus kita. Kau tidak tahu itu?" kata mahasiwa itu lagi. "I'm one of your fans."

"Well..gurauan yang bagus, Kris." Ucap Kyung-Soo tertawa kecil sambil menepuk pundak juniornya yang ternyata bernama Kris itu. "Hari ini masih dalam suasana April Fool." Ia tak percaya karena ia merasa ia tidak terlalu berbaur dengan orang-orang dimasa kuliahnya dulu. Jadi bagaimana bisa ia dikatakan populer.

"Ayolah, April Fool sudah terlewati beberapa minggu yang lalu. I'm not kidding now." Kata Kris masih mengayuh sepedanya dengan kecepatan yang tidak berubah.

"Baiklah aku percaya. Tapi apakah kau bisa lebih cepat sekarang?" ucap Kyung-Soo membuat Kris mendengus sambil tersenyum lalu mengayuh sepedanya lebih cepat menelusuri jalan Knightsbridge lalu berbelok pada kawasan Wilton PI yang sisinya penuh dengan pepohonan hijau yang rindang.

Kedua mata gelapnya kini mulai melirik ke kiri dan ke kanan mencari keberadaan gereja yang ia tuju. Sesekali ia memanjangkan lehernya untuk melongok kedepan melewati pundak lebar Kris masih mencari gereja itu.

"Kau benar-benar sedang terburu-buru?" tanya Kris sadar Kyung-Soo gusar dan tidak bisa diam dibelakang jok sepedanya. Kyung-Soo tersenyum sambil menghela napas. "Tinggal dua tikungan lagi, dan kita akan sampai."

Kyung-Soo tersenyum lega mendengar ucapan Kris yang masih mengayuh sepedanya.

"Terimakasih banyak." Ucap Kyung-Soo menepuk ringan pundak Kris yang dibalas beberapa kali anggukan dari kepala Kris.

"Itu dia." Ucap Kris sambil menunjuk sesuatu dengan dagu tumpulnya.

Senyuman diwajah Kyung-Soo perlahan menghilang ketika ia melihat sebuah gereja bercat abu-abu menjulang yang mulai didekatinya. Tangan kiri itu kini menyentuh dadanya seakan berusaha meredam degup jantung yang berdetak semakin cepat.

Terlihat banyak mobil berderet disisi jalanan Wilton PI itu. Beberapa wanita dengan dress berwarna pastel keluar dari mobil-mobil yang diparkirkan disebuah perempatan yang tak jauh dari letak gereja.

"Turunkan aku disini saja." Ucap Kyung-Soo membuat Kris menekan rem pada kemudi sepeda itu sedetik setelah mendengar ucapan Kyung-Soo. Mereka berhenti disekitar duapuluh meter dari gereja.

Kyung-Soo lalu turun sambil melepaskan helm sepeda yang sedari tadi dipakainya sambil terus memandang lurus kearah kerubunan beberapa orang yang berdiri didepan gereja itu.

"Ah kau akan menghadiri pernikahan?" tanya Kris sambil mengambil helm ditangan Kyung-Soo dengan mata yang juga memandang kearah gereja. Pertanyaan Kris menarik Kyung-Soo dari lamunannya. Ia lalu mengangguk dengan senyuman yang sedikit dipaksakan kearah Kris.

"Terimakasih banyak, sekali lagi." Ucap Kyung-Soo membuat Kris tersenyum mengangguk lalu mengangkat kedua alisnya mencoba bersikap cool.

Kyung-Soo berjalan pelan mendekati gereja yang menjulang dengan tembok setinggi pinggang orang dewasa bertuliskan Saint Paul's didepannya setelah Kris melesat pergi dengan sepedanya. Langkahnya terhenti ketika ia melihat bayangan dirinya sekilas disebuah kaca mobil.Messy, ucapnya dalam hati.

Tangannya dengan gesit membuka kuciran rambut lalu merapikannya dengan sisir memutuskan untuk menggerainya. Ia lalu mengeluarkan sebuah hat headband berwarna krem dengan sentuhan pita dan bunga berwarna coklat masak dari tasnya. Ia meletakan hiasan rambut itu diatas kepalanya lalu merapikan poni tipisnya.

Ia melepaskan jaket jins yang ia pakai dan memasukannya kedalam tas. Tangannya lalu mengeluarkan botol parfum dari tas itu lalu menyemprotkannya di beberapa bagian tubuhnya. Ia juga memoleskan lipstik peach ke bibir tipisnya. Baru kali ini ia menghadiri sebuah pernikahan tanpa mampir ke salon terlebih dahulu.

Tak lupa ia memperbaiki letak earphone ditelinganya lalu mencoba menghubungi Baek-Hyun lagi.

"Aku sampai." Ucapnya sambil menghela napas berat dengan mata yang awas memandangi tamu demi tamu yang memasuki gereja. "Apakah aku harus langsung masuk?"

"Sebentar." Ucap seseorang yang tak lain adalah Baek-Hyun dibalik earphone yang Kyung-Soo pakai. "Apakah mempelai prianya sudah terlihat?"

Kedua mata Kyung-Soo langsung menajam sambil melihat beberapa tamu pria bertuxedo hitam yang sedang berbincang didepan gerbang. Beberapa tamu wanita yang kini sedang tertawa kecil juga terlihat.

"Belum. Sepertinya mereka terlambat." Jawab Kyung-Soo setelah mencari seseorang yang tidak berhasil ditemukannya.

"Masuklah. Dan cari tempat duduk sedekat mungkin dengan altar." Perintah Baek-Hyun yang langsung membuat Kyung-Soo mengangguk meskipun ia tahu Baek-Hyun tidak akan bisa melihatnya.

"Baiklah." Kata Kyung-Soo menghela napas sekali lagi. "Aku akan melepas earphoneku sampai aku mendapat tempat duduk."

Kaki kanan Kyung-Soo mulai melangkah meyebrang jalan untuk mendekati gerbang gereja itu. Sesekali ia melirik kekiri dan kekanan takut ada orang yang mengenalnya. Ia melangkah dengan kepala yang terus menunduk berusaha menutupi wajahnya.

Ia melangkah pelan menaiki tangga menuju pintu utama dari gereja itu. Kedua tangannya basah berkeringat karena menggenggam terlalu erat tali tas yang ia pakai, takut beberapa tamu lain yang sedang mengobrol disampingnya menyadari kehadirannya.

Pundaknya bagaikan disiram seember air ketika ia berhasil memasuki pintu utama gereja itu saking leganya. Yang kini ia harapkan ada sebuah kursi kosong yang dekat dengan altar.

"Hey!" panggil seseorang membuat jantung Kyung-Soo mencelos. Ia menggigit bibir dan mengangkat kepalanya perlahan mencari asal suara.

Ia melihat seorang wanita dengan dress berwarna biru langit dengan rambut blonde disanggul yang dihiasi hat headband yang senada dengan dressnya mendekati Kyung-Soo yang kini terpaku dipinggir sebuah kursi yang berada dibaris kedua dari belakang. Kedua mata Kyung-Soo melebar, jantungnya berdegup dengan kencang tak karuan.

Apa lagi sekarang?

..

..

..

Seoul, South Korea.

Spring, 2006.

Tangannya bergerak rusuh mengambil buku dalam loker abu-abunya yang tidak terlalu rapih. Letak beberapa botol cat kuku dengan warna-warna lembut berukuran kecil yang awalnya teratur kini berantakan ketika ia mengambil binder bewarna kuning bertuliskan "Dyo's" dibalik botol-botol itu. Beberapa lembar sticky notes terlepas dari pintu loker yang ia banting lumayan keras membuatnya harus mengambil sticky notes itu dan menempelkannya kembali di pintu loker.

Ia kini bergerak setengah berlari dengan tangan penuh buku melewati lorong berisi loker-loker itu. Langkahnya berhenti mendadak saat ia melewati semacam perempatan lorong ketika ia teringat ia melupakan buku sejarah didalam lokernya.

Tubuhnya langsung berputar arah dengan kecepatan yang tidak lambat. Ia lalu menabrak seseorang yang mungkin tadi berjalan dibelakangnya. Alhasil, semua barang ditangannya jatuh dan berserakan dilantai.

"Oh my God. I'm sorry i'm in hurry." Ucapnya tak sadar ia menggunakan bahasa inggris sambil membereskan barangnya tanpa melihat wajah seseorang yang ditabraknya.

Tangan dari seseorang itu terlihat akan membantu membawakan binder milik Kyung-Soo, tapi tangan Kyung-Soo lebih cepat. Ia langsung melesat kearah lokernya setelah berhasil membereskan semua barang yang terjatuh.

Kyung-Soo kini berlari menuju kelasnya setelah membawa buku sejarahnya dan membanting pintu loker lumayan keras tidak memperdulikan berapa sticky notes yang terbang dan terlepas dari pintu loker itu. Ia juga tidak sadar atas keberadaan seseorang yang sedari tadi memerhatikan Kyung-Soo dengan bibir yang membentuk lengkungan tipis diwajahnya.

...

Tangannya bergerak halus memoleskan cat yang berfungsi sebagai warna dasar pada kuku kecil kelingking tangan kirinya. Ia lalu mengambil sebuah alat yang berbentuk seperti kuas yang berukuran super kecil. Tangan kanan itu kini membuat sebuah pola yang ia tiru dari notebook didepannya pada kuku jari yang catnya sudah mengering.

Didepannya berjejer botol-botol kecil berisi cat kuku dengan berbagai warna. Beberapa botol terbuka dan terlihat beberapa noda cat yang mengenai notebook dan keyboardnya.

"Kyung-Sooya aku melihat sticky notes menempel diluar lokermu..Ya ya ya, bisakah kau datang ke nailart salon saja? Kau mengotori meja." ucap seseorang tidak membuat Kyung-Soo berhenti melakukan pekerjaannya. Kyung-Soo hanya menggeleng sambil membuka satu lagi botol cat kuku setelah menutup satu botol yang selesai dipakainya. "Bukannya kau ingin lulus untuk kuliah di Inggris? Tapi kau sekarang malah santai menghias kuku." Pernyataannya itu membuat Kyung-Soo terdiam sejenak tapi tidak membuat Kyung-Soo mendongkak untuk menatapnya.

"Ini perpustakaan. Kau tidak malu ditegur terus oleh penjaga disini?" tanya perempuan itu lagi sambil duduk disebelah Kyung-Soo.

"Luckily, No." jawab Kyung-Soo tanpa menatap wanita yang kini sudah memandangnya tak habis pikir. "Penjaga perpustakaan bulan ini kan adikmu." Lanjut Kyung-Soo sambil menoleh kearah meja didekat pintu keluar perpustakaan. Seorang anak laki-laki dengan rompi sekolah bernametag Kim Jong-Dae itu tersenyum kearah Kyung-Soo dan perempuan disebelahnya. Kyung-Soo balas tersenyum sambil mengangkat-angkat kedua alisnya.

"Dia kadang terlalu baik." Ucap perempuan disebelah Kyung-Soo.

"Dia selalu baik, Baek-Hyun. Lihat saja anak-anak perempuan yang terus memandanginya disebrang meja kita." Kata Kyung-Soo membuat Baek-Hyun menoleh kearah meja yang Kyung-Soo maksud. Ia lalu bergidik melihat anak-anak perempuan yang tersenyum centil ketika adiknya—Jong-Dae—menoleh kearah mereka.

"Mereka seperti dirimu." Kata Baek-Hyun dengan nada mengejek. Kyung-Soo langsung menghentikan pekerjaannya. Tangan kanannya terkepal melakukan gerakan hendak memukul Baek-Hyun mencoba mengancam. Baek-Hyun menghindar dengan wajah jahil.

"Aku tidak pernah tersenyum centil seperti mereka." Bela Kyung-Soo menutup botol cat kuku dengan kasar sambil menyipitkan matanya kearah Baek-Hyun.

Baek-Hyun tersenyum jahil lalu memerhatikan tangan Kyung-Soo yang dengan lihai membentuk pola-pola lucu diatas kukunya itu. Ia lalu memerhatikan wajah Kyung-Soo yang terlihat sangat serius.

"Kau lihat apa?" tanya Kyung-Soo sinis membuat Baek-Hyun memanyunkan bibirnya sambil mengalihkan pandangan.

"Aku melihat pangeranmu datang." Jawab Baek-Hyun membuat Kyung-Soo tertawa kecil hampir terbahak. Tapi ia menahan tawanya karena ia sadar ia sedang di perpustakaan.

"Ew.. you are so cheesy. Sejak kapan kau—"

Kyung-Soo tidak meneruskan kalimatnya. Kedua matanya membulat ketika seseorang datang memasuki pintu masuk perpustakaan dengan sebuah kamera jaman dahulu—yang masih menggunakan film—yang menggantung dilehernya.

Kyung-Soo langsung menunduk dan melanjutkan pekerjaannya menghias kuku pura-pura sibuk. Tangannya bergerak terburu-buru sehingga pola yang baru ia buat sedikit tercoreng. Ia lalu mencari aseton—penghilang cat pada kuku—dan tak sengaja menjatuhkan tutupnya ke lantai.

Baek-Hyun menutup wajahnya sambil menahan tawa melihat tingkah laku Kyung-Soo. Kepalanya lalu bergerak mendekati telinga Kyung-Soo yang menunduk berusaha membawa tutup botol aseton dibawahnya.

"Kau memang tidak tersenyum centil, tapi kau selalu salah tingkah didepannya."

...

"Kau sudah lihat loker Jong-In sunbae?" tanya seorang gadis berambut panjang hitam sambil meletakan nampan yang penuh dengan berbagai macam santapan makan siang. Kyung-Soo yang sudah mulai menyantap makan siangnya hanya mengangguk pelan sambil berguman tak jelas.

"Seperti biasa. Bertambah setiap tahun.. haha.." katannya tidak berniat untuk tertawa sedikit pun.

"Apakah kau membuat coklat lagi?" tanya gadis itu membuat Kyung-Soo menggeleng pelan acuh tak acuh. "Bunga?" tanya gadis itu lagi membuat Kyung-Soo menggeleng dengan alis yang berkerut.

"Lalu?"

Gelengan kepala Kyung-Soo membuat gadis disebelahnya itu mengeluarkan ekspresi bingung.

"Baek-Hyun, sainganku bertambah dengan kehadiran angkatan bocah baru." Ucapnya sambil mendengus geli.

"Did you mean.. them?" tanya gadis itu lagi setelah berpikir beberapa saat sambil menunjuk dengan dagu pada sekelompok anak perempuan angkatan baru yang duduk tidak jauh dari meja tempat mereka duduk.

Angkatan baru yang dimaksud Baek-Hyun itu merupakan adik kelas yang baru saja diterima tahun ini. Anak perempuan yang berjumlah sekitar lima sampai enam orang itu duduk disebuah meja dengan laki-laki didepan meja mereka yang duduk memunggungi mereka.

Kim Jong-In. Senior laki-laki paling populer karena parasnya yang menarik dan hobi kerennya, fotografi. Kim Jong-In adalah ketua club forografi di sekolah mereka.

Memenangkan berbagai macam perlombaan fotografi bukan hal yang aneh bagi sekolah ini. Karena prestasi-prestasi yang diraih club fotografi meningkat dibawah masa jabatan Kim Jong-In sebagai ketua

Kyung-Soo mengangguk tanpa melirik kearah yang ditunjuk temannya itu sambil terus menyantap makan siangnya.

"Kini kau juga sudah berhenti menempelkan lollipop didepan lokernya. Jadi.. apakah kau menyerah?"

Kyung-Soo meneguk air dalam gelasnya setelah selesai melahap suapan terakhir makan siangnya. Ia lalu mengambil tisu dan mengelap bibirnya.

"Orang-orang bilang, Jika sudah takdir, walaupun dipisahkan pasti beremu lagi." Jawab Kyung-Soo sambil tersenyum dan mengangkat-angkat kedua alisnya.

"Ew you are so cheesy.." komentar Baek-Hyun dengan gaya bicara yang dibuat-buat meniru Kyung-Soo. Kyung-Soo menggerlikan matanya mendengar cibiran Beak-Hyun.

"Hey girls." Sapa seseorang membuat Baek-Hyun dan Kyung-Soo mendongkak. Mereka langsung tersenyum.

"Ah.. Eonnie annyeonghaseyo." Sapa Baek-Hyun mengangguk sopan. Kyung-Soo ikut mengangguk dengan senyuman lebar.

"Eonnie tidak makan siang?" tanya Kyung-Soo setelah melihat kedua tangan perempuan yang dipanggil sunbae itu penuh dengan buku bukannya makanan.

Perempuan itu menggeleng sambil tersenyum lalu duduk dihadapan Kyung-Soo dan Baek-Hyun.

"Kyung-sooya. Kau ingin kuliah di Inggris bukan?" tanya perempuan berambut pendek itu yang disambut dengan anggukan kepala penuh semangat dari Kyung-Soo. "Dan kau Baek-Hyun?"

"Aku ingin kuliah di Inggris, tapi tak se-obssesed dia." Jawab Baek-Hyun membuat Kyung-Soo menjulurkan lidahnya.

"Aku mendapatakan beberapa brosur dan informasi tentang beasiswa ke Oxford dan universitas-universitas lainnya. Mereka bilang program beasiswa ini masih akan digelar sampai tahun depan." Katanya sambil membuka-buka halaman buku mencari sesuatu. "Itu berarti, kalian bisa mengikuti program beasiswa ini tahun depan."

Kalimat terakhir yang dikatakannya membuat bibir diwajah Kyung-Soo melengkungkan seulas senyum. Akhirnya ia menemukan jalan—yang mungkin lebih mudah—untuk mewujudkan mimpinya. Awalnya ia merasa ragu karena biaya sekolah disana terbilang mahal. Belum lagi ditambah biaya hidup.

Perempuan itu kini menyodorkan beberapa kertas yang merupakan sebuah brosur. Mata Kyung-Soo dan Baek-Hyun membulat senang.

"Tapi persyaratannya terlihat sulit." Ucap Baek-Hyun sambil terus membaca isi brosur ditangannya. "Apa eonnie sudah memenuhi semua syaratnya?"

"Ya dan itu tidak sulit." Ucap perempuan itu sambil tersenyum halus. Perempuan itu tertawa kecil ketika melihat ekspresi ragu diwajah kedua juniornya itu. "Aku pasti membantu kalian. Tenang saja."

Kalimat yang keluar dari mulut perempuan itu membuat Baek-Hyun dan Kyung-Soo tersenyum lega dan penuh rasa terimakasih.

"Terimakasih Lu-Han eonnie. Kau memang senior terbaik kami." Ucap Kyung-Soo bergerak memeluk seniornya yang ternyata bernama Lu-Han itu.

"Eung! Lu-Han sunbae jjang!" kata Baek-Hyun ikut memeluk seniornya yang kini tertawa kecil tak habis pikir karena ia merasa sedang memiliki dua orang adik perempuan.

"Kalau begitu aku pergi dulu. Kalian makanlah yang banyak." Ucap Lu-Han yang langsung mendapat anggukan dari dua perempuan yang masih duduk dimejanya lalu melengos pergi.

"Lu-Han eonnie neomu chakhago.. nan nunmul nawanggeot kata. (Lu-Han sangat baik.. Rasanya aku ingin menangis.)" Ucap Baek-Hyun dengan wajah terharu yang sedikit berlebihan.

"Seharusnya aku yang bilang begitu. Karena kau tak se-obssesed aku." Ucap Kyung-Soo meniru ucapan Baek-Hyun tadi. Baek-Hyun mengeluarkan ekspresi mengejeknya yang membuat Kyung-Soo mengepalkan tangannya hendak memukul Baek-Hyun.

"By the way.. you changed your parfume, don't you?" tanya Baek-Hyun dengan hidung yang mengendus-endus daerah sekitar Kyung-Soo.

"Yayaya.. hentikan. Seperti anak anjing saja." Ucap Kyung-Soo menjauhkan wajah Baek-Hyun darinya. "Aku menggantinya karena bosan."

"Kyung-Sooya annyeong!" teriak seorang laki-laki bertubuh tinggi melambaikan tangan kanannya memotong obrolan mereka. Tangan kirinya membawa beberapa bungkus snack.

Baek-Hyun menghela napas berat melihat kehadiran sosok itu. Laki-laki itu lalu duduk dihadapan mereka tepat ditempat Lu-Han duduk tadi. Mereka lalu berhadapan saling memandang tanpa mengucapkan satu patah katapun.

"Ya Insa anhallae? (Hey kalian tidak menyapa?)" tanyanya. Baek-Hyun bersumpah ia ingin segera pergi dari tempatnya sekarang.

"Oh.. Chan-Yeol sunbae annyeong." Ucap Kyung-Soo dengan ekspresi memaklumi tersirat diwajahnya berbeda dengan Baek-Hyun yang bergeming ditempatnya. Ia tidak mengucapkan salam atau apa pun.

"Neoneun? (Kau?)" tanya Chan-Yeol dengan nada sedikit sinis membuat Baek-Hyun menggerlingkan matanya.

"Sunbaeneun jeohantae insa anhattjhanayo. Wae naneun.. (Sunbae tidak menyapa padaku. Kenapa aku..)" jawab Baek-Hyun lalu bergumam setelahnya.

"Keurae! (Baiklah!) Baek-Hyuna annyeong!" Baek-Hyun terpaksa mengangguk sopan menjawab sapaan Chan-Yeol yang sedikit dipaksakan. Kyung-Soo hanya terkekeh melihat kelakukan kedua temannya itu.

"Kyung-Sooya.. bab meokeosseo? (Apa kau sudah makan?)" tanya Chan-Yeol membuat Kyung-Soo mengangguk. Baek-Hyun terlihat gusar ditempatnya.

"Neon wae irae jigeum? (Sekarang kau kenapa?)" tanya Chan-Yeol sedikit tajam pada Baek-Hyun yang sudah kehabisan kata-kata ditempatnya.

"Aniyo. Kyung-Sooya nan meonjeo kalke. (Kyung-Soo aku pergi lebih dulu.)" Baek-Hyun beranjak lalu melangkahkan kakinya tapi ia tiba-tiba berhenti lalu kembali.

Baek-Hyun lalu membungkuk sembilan puluh derajat pada Chan-Yeol membuat Kyung-Soo tak kuasa menahan tawa ditempatnya. Baek-Hyun lalu pergi meninggalkan mereka berdua dengan mengambil langkah lebar-lebar.

"Kau tidak bisa seperti itu terus, sunbaenim." Ucap Kyung-Soo menggeleng-gelengkan kepalanya tertawa kecil.

"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Chan-Yeol dengan wajah putus asa yang tidak dibuat-buat. Ia lalu memasukan snack ke dalam mulutnya dengan malas.

"Tentu saja kau harus memperlakukan Baek-Hyun dengan baik." Jawab Kyung-Soo dengan senyuman jahil diwajahnya.

"Nan eosaekhae.. (Aku merasa canggung.)" jawab Chan-Yeol membuat Kyung-Soo kembali terbahak. Chan-Yeol melemparkan beberapa butir snack ditangannya yang berhasil mendarat di kening Kyung-Soo.

"Sunbae sudah mengenalnya hampir tiga tahun dan sunbae masih canggung jika bersamanya? Hahahaha.." komentar Kyung-Soo tertawa terbahak sampai-sampai dia memukul-mukul meja didepannya. "Lalu kenapa sunbae tidak merasa canggung dihadapanku?"

"Tertawalah." Kata Chan-Yeol. "Dan bagaimana dengan kau? Kau dan Jong-In? Apakah ada perubahan? Hah?" lanjut Chan-Yeol tajam.

Tawa Kyung-Soo langsung lenyap bagaikan ditelan bumi. Kyung-Soo mengepalkan tangannya lalu memukul lengan Chan-Yeol dengan keras sampai Chan-Yeol mengerang kesakitan.

"Baiklah maafkan aku." Ucapnya sambil mengusap-usap lengannya yang kesakitan, "Lagi pula kau tidak meminta bantuanku. Kalau saja dari awal aku membantu, kau pasti—"

"Sudah aku bilang aku tidak mau." Potong Kyung-Soo membuat Chan-Yeol langsung menutup mulutnya rapat-rapat.

"Arasseo arasseo mian.." kata Chan-Yeol sebelum Kyung-Soo berencana untuk memukulnya lagi. "Kau tahu ada gosip hangat yang sedang beredar di sekolah kita."

Kyung-Soo yang kini sedang membaca brosur-brosur beasiswa tetap bergeming tidak tertarik dengan topik obrolan Chan-Yeol.

"Kau tahu gosip apa?" tanya Chan-Yeol dengan suara yang dibuat-buat agar Kyung-Soo merasa penasaran. Tapi Kyung-Soo merasakan kebalikannya dan terus melanjutkan membaca brosur ditangannya.

"Mereka kira kita berdua berkencan." Kata Chan-Yeol berbisik ditelinga kanan Kyung-Soo. Kedua mata Kyung-Soo melebar lalu langsung menjauhkan kepalanya dari kepala Chan-Yeol.

"Lucu sekali." Singkat Kyung-Soo sambil menatap tajam seniornya itu.

Mana mungkin mereka berkencan. Membayangkannya saja sudah cukup membuat Kyung-Soo bergidid.

"Kau tidak percaya? Lihat saja reaksi mereka setelah aku berbisik padamu tadi." Kata Chan-Yeol santai sambil kembali memasukan snack kedalam mulutnya.

Kyung-Soo mendongkak dan menatap sekitar. Sial.. dia benar, ucap Kyung-Soo dalam hati. Beberapa siswa perempuan memandanginya sambil tersenyum iri. Sebagian ada yang menatapnya sambil berbisik.

"Kalau begitu pergilah. Aku tidak mau mereka menyangka aku berkencan dengan sunbae." Kata Kyung-Soo dengan tatapan sinis dan wajah malas. "Kkeojyeo juseyo sunbaenim." Lanjutnya sambil tersenyum yang jelas sangat dipaksakan.

"Aku kira aku mendekatimu karena Baek-Hyun? Mereong.." ucap Chan-Yeol sambil menjulurkan lidahnya lalu beranjak pergi. "Lagi pula aku tidak mau berkencan dengan perempuan galak sepertimu." Kyung-Soo sudah mengepalkan tangannya kesal dengan tingkah laku seniornya itu.

Ia lalu melempar beberapa snack yang tertinggal dimeja kearah kepala Chan-Yeol. Chan-Yeol berhenti lalu menoleh kearah Kyung-Soo lagi. Kini giliran Kyung-Soo yang menjulurkan lidah dengan kedua matanya yang dijulingkan.

Suara bel berbunyi menunjukan waktu istirahat makan siang habis dan ia harus kembali memasuki kelas. Tapi Kyung-Soo masih duduk ditempatnya karena biasanya ia masuk kelas sepuluh menit setelah bel berbunyi. Bukan berarti Kyung-Soo malas untuk mengikuti pelajaran, ia hanya menyukai suasana hening di kantin yang biasanya penuh dan berisik.

Kyung-Soo menoleh ke sebuah meja yang berada disebrang belakang mejanya. Ia menatap meja itu dengan pandangan penuh arti. Ia lalu bertopang dagu masih memerhatikan meja itu.

Ini tahun terakhirku untuk bisa melihatmu duduk dimeja itu..

Kyung-Soo mendengus halus dengan senyuman lemah diwajahnya. Ia lalu beranjak dan meninggalkan meja itu setelah melamun beberapa menit.

Ia kini berjalan pelan menuju lokernya. Lorong loker yang memang selalu penuh jika waktu istirahat dan pulang tiba kini kosong melompong. Kyung-Soo tersenyum karena ia sangat menyukai suasana sepi seperti ini.

Kyung-soo sampai didepan loker abu-abunya dan melihat sticky notes yang menempel dipintu lokernya itu. Mungkin Baek-Hyun yang menempelkannya kembali. Sticky notes berwarna kuning dengan bentuk bunga itu memang miliknya, tapi ada satu sticky notes berbentuk persegi berwarna biru yang tak dikenalnya.

Be careful although you in hurry..

Tangan kanan Kyung-Soo bergerak melepaskan sticky note itu, memandangnya sejenak, lalu menempelkannya kembali didalam loker bersama sticky notesnya yang lain. Ia lalu berjalan pelan menuju kelasnya setelah mengambil beberapa buku didalam lokernya, tak sadar dengan keberadaan seseorang yang memandangnya dari jarak yang tak terlalu jauh darinya.

..

..

..

London, England.

Spring, 2014.

"Jangan berlari kejalan, Nak!" teriak wanita itu dengan nada yang tidak terlalu tinggi. Kyung-Soo lalu menoleh kebelakang punggungnya dan mendapatkan seorang anak yang sedang berlari menuruni yang mungkin adalah ibunya itu pun berjalan melewati Kyung-Soo yang kini merasa lega luar biasa.

Ia kini mengedarkan pandangan keseluruh penjuru ruangan mencari tempat duduk kosong sedekat mungkin dengan altar. Terlihat kursi kosong didekat sebuah jendela dibagian kiri ruangan. Kursi itu berada pada baris keempat dari altar. Itu cukup dekat, katanya dalam hati.

Kakinya kini mulai melangkah mendekati kursi tesebut dengan kepala yang masih terus menunduk. Beberapa wanita dan anak kecil menggunakan gaunpastel membentuk seperti hiasan pada kue melewatinya yang bersikap seperti agen rahasia yang sama sekali tidak diundang oleh kedua mempelai.

Kyung-Soo menghela napas lega ketika ia berhasil duduk dikursi tepat dipinggir jendela itu. Disebelahnya ada seorang pria bertubuh jangkung dengan rambut gelap yang kini menyunggingkan seulas senyum kearahnya. Pria itu mungkin berasal dari Asia, sama dengan Kyung-Soo karena pria itu mempunyai mata yang sipit dan kulit yang pucat.

Ia lalu membalas senyuman itu dengan senyuman yang sedikit dipaksakan. Kening Kyung-Soo berkerut merasa pria disebelahnya itu tidak terlalu asing tapi tidak juga familiar dengannya. Tangan kanan Kyung-Soo kini merogoh tasnya untuk mengeluarkan earphone.

"Holly shit.. aku hampir gila disini." Ucapnya sedikit berbisik kekiri mencegah kemungkinan pria disebelahnya mendengar percakapan yang akan ia lakukan dengan Baek-Hyun lewat telepon.

"Kau sudah mendapatkan tempat?" tanya Baek-Hyun terdengar cemas. Kyung-Soo tak sadar mengangguk, "Well done, Kyung-Soo." Lanjut Baek-Hyun seolah-olah bisa melihat Kyung-Soo yang baru saja mengangguk menjawab pertanyaannya.

"Sekarang apa? Ya Tuhan aku tak bisa membayangkan apa yang harus aku lakukan selanjutnya." Kata Kyung-Soo berbisik tapi tetap membuat pria disebelahnya sedikit terusik.

"Tunggu sampai dia datang. Lalu buat dia melihat keberadaanmu sebelum mempelai wanita datang. Lalu ketika pendeta selesai mengucapkan janji suci..ber..berdirilah." ucap Baek-Hyun sedikit terbata, ragu. "Ya, berdirilah."

Kyung-Soo kini menutup matanya dengan kening yang berkerut tak bisa membayangkan betapa memalukannya hal yang harus ia lakukan.

"Tapi mereka mengundang ba..banyak sekali orang.." ucap Kyung-Soo sedikit bergumam sambil mengedarkan pandangan. Kursi-kursi kosong itu mulai terisi oleh para tamu dengan perlahan tapi pasti.

"Apakah itu diluar rencana?" tanya Baek-Hyun dengan nada yang dibuat tegar tapi masih terdengar nada khawatir. Kyung-Soo menggeleng pelan. "Kita sudah memperkirakan kemungkinan-kemungkinan itu."

"Excuse me.. apakah anda tamu dari mempelai wanita?"

Pertanyaan yang dilontarkan pria disampingnya itu membuat ia terlonjak kaget. Kyung-Soo tersenyum tapi tidak memberikan jawaban. Kedua matanya berputar bingung harus menjawab apa.

"Bilang saja dari mempelai pria." Baek-Hyun yang sepertinya mendengar pria itu bertanya memberikan saran jawaban. Kyung-Soo terdiam sejenak lalu menggeleng sambil tersenyum awkward.

"Aku tamu dari mempelai pria.. Ya mempelai pria." Jawab Kyung-Soo sambil tertawa kecil dan mengangguk bermaksud lebih meyakinkan dirinya daripada pria itu. Pria berwajah Asia itu mengangguk lalu tersenyum lagi.

"Anda sendiri?" tanya Kyung-Soo mencoba mencairkan suasana canggung diantara mereka. Bukannya menjawab, pria itu malah mendengus sambil tersenyum.

"Aku tamu yang tidak diundang." Jawab pria itu sambil memberikan seulas senyum yang berarti membuat jantung Kyung-Soo lagi-lagi mencelos.

Apa dia sedang mempermainkan aku? Apa dia tahu yang sebenarnya?

Kyung-Soo berteriak dalam hati, panik. Kini ia dilanda kebingungan dan hanya nyengir aneh pada pria itu.

"Sepertinya Anda bukan penduduk asli Inggris. Anda berasal dari mana?" tanya Pria itu membuat Kyung-Soo sedikit lega karena pria itu merubah topik pembicaraan mereka.

"Korea." jawab Kyung-Soo membuat pria itu sedikit melongo.

"Jeongmalyo? Jeodo hanguk saramieyo!(Benarkah? Aku orang korea juga!)" kata pria itu excited menggunakan bahasa korea dengan nada yang meninggi khas orang korea tapi sedikit berbisik.

Kyung-Soo masih tidak merespon apa-apa. Kepalanya masih sibuk mencerna apa yang dikatakan pria itu. Matanya kini menatap pria yang masih tersenyum excited kearahnya. Kyung-Soo kini hanya mengangguk-angguk pelan dengan bibir yang sedikit terbuka, takjub.

"Aku kuliah disini dan akan lulus tahun ini." Katanya masih menggunakan bahasa korea dengan senyuman bangga diwajahnya. "Kalau anda?"

"Aku juga kuliah disini, tapi sudah lulus dua tahun lalu. Tapi aku memilih untuk tinggal dulu." Jawab Kyung-Soo dengan nada yang lebih tenang membuat pria yang sepertinya lebih muda dari Kyung-Soo itu mengangguk dengan wajah takjub.

Suara gaduh dari orang-orang yang berbisik tiba-tiba terdengar didalam ruangan itu. Kyung-Soo dan pria disampingnya langsung menoleh kekiri dan kekanan mencari tahu apa yang membuat orang-orang disini berbisik.

Napas Kyung-Soo tertahan ketika ia melihat seorang pria yang berdiri tepat didepan pintu utama. Pria itu menggunakan tuxedo hitam dan kemeja putih lengkap dengan dasi kupu-kupu.

Kedua sudut bibir Kyung-Soo tanpa sadar terangkat. Wajahnya diliputi perasaan lega. Juga rindu.

Ia akhirnya bisa melihat pria itu, lagi. Pria yang sudah lama tidak dilihatnya itu terlihat tampan dengan rambut hitamnya yang diangkat keatas membuat garis tegas dimatanya terlihat jelas. Pria itu juga terlihat gagah dengan tuxedo hitamnya. Tak salah lagi pria itu adalah salah satu mempelai.

Terlihat pria tua berumur sekitar limapuluh tahunan berdiri disampingnya. Detik berikutnya, mempelai pria dan pria tua disampingnya melangkah pelan menuju altar. Pria itu balas tersenyum ketika orang-orang menyapa dan memberikannya ucapan selamat. Pria itu tersenyum, tapi sorot matanya terlihat pasrah dan ragu.

Pria tua yang kemungkinan besar adalah ayah dari mempelai pria itu bersalaman bahkan sampai berpelukan dengan tamu pria lain ketika mereka memberikan ucapan selamat. Pria tua itu terlihat sangat bahagia. Berbeda dengan mempelai pria yang sesaat terlihat memaksakan senyumannya.

Aku tahu kau tidak menginginkannya.

Kyung-Soo menahan napasnya lagi ketika kedua pria itu melewati barisannya menuju altar. Sudah lama ia tidak berada dalam jarak sedekat ini dengan pria itu. Kedua tangannya mengepal didepan dada.

Kedua pria itu akhirnya sampai dan berdiri didepan altar. Ayah dari pria itu masih tersenyum lebar ke seluruh penjuru ruangan. Sedangkan anaknya, kini menunduk dengan tatapan kosong menatap lantai.

Aku yakin kau tidak bahagia.

Kyung-Soo kini hanya bisa memandangnya dari jarak beberapa meter saja. Hatinya ingin memanggil dan mendekat. Bibirnya hendak memanggil sang mempelai tapi..

"Kyung-Soo? Jawab aku! Apakah mempelai prianya sudah datang?" teriak Baek-Hyun di balik earphone yang Kyung-Soo pakai. "Kyung-Soo? Jawablah!"

"I..iya Baek-Hyun ini aku." Jawab Kyung-Soo dengan suara yang sedikit bergetar. "..Itu memang dia.." lanjutnya dengan tatapan lurus memandang sang mempelai pria.

"Sekarang fokus! Ingat rencana kita dan buat dia sadar akan keberadaanmu!" kata Baek-Hyun masih berteriak bermaksud menyadarkan Kyung-Soo yang masih belum fokus.

"Ya Do Kyung-Soo!"

Teriakan terakhir yang dikeluarkan Baek-Hyun berhasil membuat Kyung-Soo menggelengkan kepalanya sejenak sambil mengedipkan matanya dalam-dalam.

"Buat dia melihatmu!"

"Iya tapi bagaimana cara—"

Kalimat Kyung-Soo terpotong ketika ia menoleh kearah pria didepan altar itu. Pria itu kini menatapnya dengan tatapan kaget dan mulut yang sedikit terbuka. Detik berikutnya, kedua alis pria itu mengerut seakan ia baru sadar bahwa yang dilihatnya itu adalah..

Aku.. dia melihatku..

Bibir pria yang awalnya terbuka itu kini membentuk seulas senyum yang berarti. Kedua matanya berkedip dengan wajah yang terlihat lega. Tapi Kyung-Soo tahu ada sirat penyesalan dari senyuman lega yang disunggingkan pria itu.

Apakah dia lega karena melihatku?

Kyung-Soo yang terdiam dengan tangan kiri memegang earphone ditelinga kiri itu kini ikut memberikan senyuman paling lega dan senang ketika mereka berpandangan. Dunia seakan berhenti berputar beberapa saat ketika mereka berpandangan. Dan hanya mereka yang tahu apa isi masing-masing hati mereka.

Suara bisikan didalam ruangan yang terdengar lebih riuh membuat pria itu mengalihkan pandangannya dari Kyung-Soo yang kini juga menoleh kearah lain untuk mencari alasan dari reaksi orang-orang ini.

Seorang wanita dengan gaun putih berdiri jauh dari pria didepan altar.

Wanita itu muncul dengan gaun putih yang amat indah bagaikan ratu merpati yang siap untuk terbang. Rambut pendek yang dicat brown itu ditutupi tudung putih dengan tiara kecil diatasnya. Wajah dengan kulit yang bersinar itu ditutupi kain transparan yang terhubung dengan tudung. Kedua tangannya memegang seikat bunga yang entah bunga apa itu.

Wanita itu tersenyum dan tak diduga senyumannya itu mirip dengan senyuman mempelai pria saat tadi ia masuk. Ragu. Kyung-Soo kenal dengan wanita itu. Wanita itu..

"Ah.. Lu-Han noona.." gumaman seseorang berhasil mengalihkan perhatian Kyung-Soo dari indahnya sang mempelai wanita.

Gumaman itu ternyata dikeluarkan oleh pria korea yang duduk disampingnya. Kyung-Soo menoleh kearah pria yang kini tersenyum dan terlihat terharu memandang mempelai wanita. Kyung-Soo bertanya-tanya dalam hatinya..

Siapa pria ini?

..

..

..

Seoul, South Korea.

Summer, 2006.

Kepalanya mendongkak memandang gulungan awan yang bergerak diatasnya. Sesekali ia memejamkan matanya menikmati semilir angin sejuk yang berhembus melewatinya. Matahari musim panas belum terlihat pagi bergerak santai melewati jalanan kota Seoul. Terlihat beberapa orang dengan pakaian tipis dan mini berjalan disekitarnya.

Ia sendiri menggunakan shortdress berwarna biru langit dengan floral print putih tak berlengan dan mempunyai deretan kancing putih ditengahnya. Kedua kakinya ditutupi flat shoes dengan model tebuka. Dipundak kirinya tergantung sebuah tas kecil berbentuk burung hantu senada dengan warna dressnya.

Ia terus berjalan lalu menyebrangi zebra cross di sebuah perempatan. Ia lalu melirik jam hitam ditangan kirinya. Telinganya disumbat earphone yang mengeluarkan alunan lagu kesukaannya. Tangan kanannya memegang gelas plastik berisi ice americano yang hanya bersisa seperempatnya lagi.

"Mereka pasti membukanya, kan?" tanya Kyung-Soo pada dirinya sendiri setelah sampai didepan gerbang sekolahnya yang terlihat megah tapi sederhana.

Kyung-Soo kini berjalan melewati lapangan sepak bola yang hijau dengan rumput. Ada seorang petugas yang sedang menyiram lapangan itu. Ia menemukan tempat duduk dideretan tempat duduk penonton yang teduh karena gedung yang menghalanginya sinar matahari.

Ia menghabiskan ice americanonya lalu melemparkan gelas plastik itu kedalam tempat samaph yang berada tidak jauh darinya. Ia lalu mengeluarkan ponsel dan menekan nomor seseorang.

"Baek-Hyuna kau dimana?" tanya Kyung-Soo setelah mendengar orang menyapa dibalik telepon.

"Kamar. Rasanya malas sekali untuk keluar rumah." Jawab Baek-Hyun dengan nada malas membuat Kyung-Soo mendengus. "Kau?"

"Aku dilapangan sekolah. Bosan. Aku tidak pergi berlibur." Jawab Kyung-Soo dengan nada kecewa. "Kemarilah. Aku kesepian." Terdengar tawa kecil dari balik ponselnya.

"Aku akan pergi ketika suhu turun."

"Maksud kau jika Seoul sudah berubah musim?" tanya Kyung-Soo tajam membuat Baek-Hyun kembali tertawa di telepon.

"Hahaha baiklah. Aku harus mandi dulu."

"Keurae, ppalli. (Baiklah, cepat.)" ucap Kyung-Soo lalu memutuskan sambungannya dengan Baek-Hyun.

Kyung-Soo kembali menggunakan earphonenya untuk mendengarkan musik. Tangannya kini bergerak mengeluarkan binder kuning kesayangannya. Ia lalu membuka halaman demi halaman binder itu. Sesekali ia tersenyum karena melihat tulisannya yang pertama ia tulis dalam binder itu.

London fighting!

Tulisan itu tertulis besar dan tebal dengan hiasan bus tingkat merah dan kotak telepon merah khas kota London. Ia lalu membuka halaman selanjutnya dan menemukan sebuah artikel yang diambil dari sebuah koran.

Rahasia Kemenangan Gangnam High School dalam Seoul Photos Festival

Judul artikel itu dicetak besar dan juga tebal. Dibawah baris judul, terdapat foto seseorang berambut hitam tersenyum lebar dengan kamera menggantung dilehernya. Kedua mata sipit orang dalam foto itu hampir menutup karena senyumannya yang lebar. Dibawah foto itu terdapat tulisan, Kim Jong-In : Pemenang Festival Foto tahun ini. Kyung-Soo mendengus geli melihat foto itu yang dihiasi bintang dan hati berwarna-warni disekitarnya.

Ia lalu melihat waktu dari dikeluarkannya artikel itu pada baris tanggal. Agustus 2003.Ternyata sudah hampir tiga tahun lamanya ia menaruh harapan pada orang itu.

Bangun setiap pagi dengan semangat untuk pergi ke sekolah karena ia bisa bertemu seseorang disekolahnya. Mencuri pandang saat duduk didekatnya. Merasa gugup ketika berpapasan dengannya. Memberinya permen lollipop setiap hari—yang tentu saja tidak diberikan Kyung-Soo secara langsung. Memberinya hadiah pada setiap white day dan ulang tahunnya yang tak kunjung mendapat balasan. Sampai menolak beberapa laki-laki yang mengajaknya berkencan.

Kyung-Soo menghela napas panjang mengingat-ingat perjuangannya untuk menunggu seseorang yang mungkin tidak tahu keberadaannya. Menunggu seseorang yang mungkin tidak akan membalas semua perjuangannya. Ia tersenyum miris ketika hal itu terlintas dipikirannya.

"Jeogiyo.. (Permisi..)"

Ucapan seseorang dengan suara berat menyadarkan Kyung-Soo dari lamunannya. Ia menoleh dan mendapatkan seorang laki-laki berdiri tak jauh didepannya. Kedua matanya melebar melihat seorang laki-laki menggunakan sebuah kemeja pendek berwarna biru langit dengan saku berwarna biru tua itu. Laki-laki itu menggunakan jins biru tua dan sneakers putih. Sebuah kamera yang tak asing di mata Kyung-Soo menggantung dileher laki-laki itu.

Kyung-Soo buru-buru menutup bindernya dan beranjak lalu mengangguk sopan pada laki-laki itu. Kedua tangannya menggenggam tali dari tasnya berusaha menahan rasa gugupnya.

"Apakah aku mengganggu?" tanya laki-laki itu sambil berjalan mendekati Kyung-Soo yang kini membelalak dan tidak tahu harus berbuat apa.

"Ti..Tidak. Tidak sama sekali." Jawab Kyung-Soo sedikit terbata karena ia belum sepenuhnya mencerna apa yang kini sedang terjadi.

Laki-laki itu lalu mengangguk sambil tersenyum halus. Demi Tuhan Kyung-Soo ingin mengabadikan senyuman paling manis itu. Kini ia berharap kedua matanya bisa memotret senyuman itu bagaikan kamera.

Laki-laki itu lalu duduk disebelah tempat yang tadi diduduki Kyung-Soo. Kyung-Soo masih berdiri dan otaknya kini tak bisa berpikir. Bagaimana ini?

"Duduklah." Ucap laki-laki itu tersenyum dengan tangan kiri menepuk-nepuk tempat disebelahnya mengajak Kyung-Soo untuk duduk seakan bisa membaca pikirannya. Kyung-Soo bersumpah ia berharap kedua matanya bisa merekam kejadian ini bagaikan cam-recorder atau -Soo akhirnya duduk tepat disebelah laki-laki itu.

Kini keheningan menyelimuti mereka. Yang terdengar hanya suara alat menyiram yang berputar-putar ditengah lapangan. Kyung-Soo mengatur napasnya berusaha meredam suara jantungnya yang berdegup tidak normal takut laki-laki disebelahnya itu mendengarnya.

"Ini musim panas terakhir yang bisa aku rasakan di sekolah ini." Ucap laki-laki itu memecahkan keheningan. Matanya menerawang jauh kedepan. Kyung-Soo menoleh dan mendapatkan pemandangan itu. Kyung-Soo tidak tahu harus mengucapkan apa. Apa aku harus pura-pura tidak tahu? Atau menyemangatinya?

"Yang lain sedang senang berlibur dan kenapa kau disini?" tanyanya menoleh kearah Kyung-Soo. "Dan sendirian?" lanjutnya sambil menggerakan kepalanya kekiri dan kekanan memastikan kalau Kyung-Soo memang sendirian.

"Aku tidak pergi berlibur dan terlalu bosan dirumah. Akhirnya aku datang kemari." Jawab Kyung-Soo tersenyum aneh, masih salah tingkah. Laki-laki itu mengangguk-anggukan kepalanya pelan.

"Kalau begitu, maukah kau menemaniku untuk berkeliling?" ajak laki-laki dengan mata yang memandang lurus kearah Kyung-Soo.

"N..ne? (Ya?)" tanya Kyung-Soo dengan nada kaget yang berlebihan sambil menoleh kearah laki-laki itu dan menghasilkan keduanya saling memandang selama beberapa detik.

"Aku ingin mengambil beberapa foto sudut sekolah ini." Jawab laki-laki itu sambil memerhatikan gedung sekolah dibelakangnya. "Kau mau?"

Kyung-Soo berteriak kegirangan dalam hatinya. Siapa yang tidak bahagia melihat seseorang yang disukai duduk dekat didekatnya dan kini mengajaknya untuk berjalan bersama mengelilingi sekolah dalam suasana hening dan sepi.

"Dengan senang hati." Jawab Kyung-Soo tersenyum setelah berhasil mengontrol dirinya.

Mereka kini berjalan menelusuri koridor sekolah. Laki-laki itu sibuk memotret sudut-sudut sekolah yang dianggap menarik. Kyung-Soo berjalan pelan dibelakangnya sambil terus memerhatikan laki-laki itu. Kyung-Soo terus bertanya dalam hatinya apa yang ia mimpikan semalam sampai-sampai ia bisa mendapatkan keberuntungan besar hari ini.

"Aku ke toilet dulu." Ucap laki-laki yang berdiri tidak jauh didepannya itu. "Kau berkelilinglah duluan." Kyung-Soo mengangguk dan detik berikutnya laki-laki itu melesat kearah toilet. Kyung-Soo mendengus geli melihatnya.

Kyung-Soo berjalan mendekati mading sekolah yang terdapat pada lorong yang sama dengan lorong loker. Mading itu hampir kosong. Hanya ada beberapa artikel dan cerita pendek. Tangan Kyung-Soo bergerak membenarkan letak artikel yang memuat tentang kemenangan festival foto tahun ini yang berisi foto seseorang yang kini sedang pergi ke toilet. Disebelahnya ternyata adalah cerita pendek yang Kyung-Soo buat sebelum liburan musim panas.

Ia terus bejalan melewati lorong loker dan sesekali menoleh ke belakang siapa tahu laki-laki itu sudah datang. Kyung-Soo terus berjalan dan akhirnya sampai pada bagian kantin sekolah. Ia lalu duduk dimeja tempat biasanya ia duduk saat waktu makan siang.

Kyung-Soo menopang dagunya sambil meniup poni yang menghalangi keningnya yang mulai berkeringat. Ia mengibas-ngibaskan tangannya mengipas lehernya yang mengeluarkan keringat. Ia lalu melirik jam ditangannya. Limabelas menit untuk pergi ke toilet?

Setelah beberapa menit, seseorang menyodorkan sekaleng soda tepat didepan wajah Kyung-Soo. Ia mendongkak dan mendapatkan laki-laki itu tersenyum lebar padanya.

"Minumlah." Ucapnya dengan tangan yang tidak berubah posisi. Sudut bibir Kyung-Soo naik tanpa ia sadari. Kedua tangannya lalu bergerak menerima kaleng itu sambil mengangguk.

"Gomabseubnida sunbaenim.. (Terimakasih senior..)" ucap Kyung-Soo kini tersenyum lebar karena ia bisa membasahi tenggorokannya yang mulai mengering yang dibalas anggukan kepala dari laki-laki itu. Ia lalu duduk dihadapan Kyung-Soo.

"Heoksi.. (Mungkinkah..)" ucap laki-laki itu sambil memerhatikan Kyung-Soo yang sedang meneguk sodanya. "..Kau mengenalku?"

"Tentu saja! Sunbae kan sangat populer karena sunbae jago mengambil foto." Jawab Kyung-Soo sedikit bersemangat setelah meneguk sodanya.

"Benarkah?" tanyanya polos.

"Eeei.. Masa sunbae tidak tahu." Jawab Kyung-Soo dengan wajah jahil. Detik berikutnya mereka tertawa bersama. "Hm.. Jong-In sunbae sendiri.. apakah mengenalku?" tanya Kyung-Soo hati-hati.

Anggukan kepala Jong-In membuat kedua mata Kyung-Soo melebar. Ia tidak mengira kalau orang didepannya itu ternyata mengenalnya.

"Kau bukannya penulis cerita pendek di mading?" tanya Jong-In membuat Kyung-Soo mengangguk dan tidak bisa menahan senyumannya. Ia bertepuk tangan girang dalam hatinya. "Kau juga dekat dengan Chan-Yeol." Lanjutnya.

Kyung-Soo yang baru meneguk sisa sodanya hampir tersedak mendengar kalimat terakhir Jong-In. Kepalanya langsung berpikir apakah Jong-In tahu soal gosip ia berkencan dengan Chan-Yeol.

"I..iya dia senior yang lucu.. ehm maksudku.. sunbae lihat saja sendiri kelakuannya jika sudah menjahili anak-anak lain." Kyung-Soo mengumpat dalam hati dan menyesali kalimat terakhir yang ia ucapkan pada Jong-In. "Tapi dia juga sering membuat aku dan Baek-Hyun kesal."

Kyung-Soo kini memerhatikan reaksi Jong-In setelah mendengar ucapannya. Jong-In mengangguk dengan bibir membentuk huruf 'O' kecil.

"Tapi kau dan Chan-Yeol terlihat cocok."

Kyung-Soo mematung dengan kedua mata yang masih membelalak mendengar ucapan Jong-In. Sedangkan Jong-In sudah kembali memainkan kameranya dengan tenang.

Kyung-Soo menunduk dan kecewa dalam hati. Kalimat terakhir yang diucapkan Jong-In masih terngiang-ngiang dikepalanya. Ucapan Jong-In itu bisa diartikan bahwa ia setuju jika Kyung-Soo dan Chan-Yeol berkencan. Itu juga berarti Jong-In tidak melihat Kyung-Soo sebagai wanita dan hanya juniornya semata.

"Kau tidak kepanasan? Aku membawa ini dari dalam lokerku." Kata Jong-In membuyarkan lamunan singkat Kyung-Soo.

Kyung-Soo mendongkak dan kedua matanya kembali membelalak. Tak tahu sudah berapa kali kedua matanya seperti itu hari ini. Mulutnya sedikit terbuka ketika ia melihat Jong-In menyodorkan kipas kecil yang menggunakan batere berwarna biru dan bergambar tokoh kartun Pororo yang tidak asing dimatanya.

Kedua tangan Kyung-Soo bergerak meraih kipas kecil itu. Ia lalu menatap kipas kecil itu. Kipas itu merupakan salah satu hadiah yang pernah diberikan Kyung-Soo saat Jong-In berulang tahun.

"Sunbaenimeun Pororo johahaseyo? (Apa senior menyukai Pororo?)" tanya Kyung-Soo dengan tatapan yang tidak lepas dari kipas itu.

"Tidak terlalu. Kipas itu pemberian seseorang." Jawab Jong-In membuat jantung Kyung-Soo berdegup semakin kencang.

"Bolehkah aku tahu siapa..? Maksudku yang memberikan kipas ini pada sunbae?" tanya Kyung-Soo hati-hati sambil mendongkak dan menatap kearah Jong-In.

Jong-In menoleh kearah Kyung-Soo sejenak lalu memandang kearah lain dengan kening yang berkerut berusaha mengingat.

"Keulssae.. (Aku tidak yakin../Entahlah..)" jawabnya santaimembuat Kyung-Soo mengangguk dan tersenyum tipis. Kekecewaan tersirat dari senyuman tipis itu.

Kyung-Soo kini menunduk masih menatap kipas kecil didalam tangannya yang terlengkup diatas kedua pahanya. Kekecewaan membanjiri perasaanya. Laki-laki yang ia sukai ternyata memang tidak pernah tahu tentang segala perjuangan yang pernah ia lakukan. Dan itu memang membuat Kyung-Soo kecewa, dan sesak.

"Aku harus pergi." Ucapnya membuat Kyung-Soo mendongkat pelan. "Hmm kipas itu untukmu saja." Lanjutnya membuat Kyung-Soo tetap bergeming sambil menatapnya.

"Eh tapi sebelum aku pergi. Ayo kita befoto bersama." Ajak Jong-In tersenyum keraha Kyung-Soo yang masih tak sadar sepenuhnya.

Dia ingin berfoto bersama disaat seperti ini.

Kyung-Soo tidak punya pilihan lain untuk menganggukan kepalanya. Jong-In terlihat senang dan bergerak untuk duduk disebelah Kyung-Soo.

"Kita melakukan ini bersama." Kata Jong-In sambil membentuk 'V' ditangan kanannya. Kyung-Soo tersenyum lemah dan mengangguk.

"Hana.. duul.. (satu.. dua..)"

Click. Kameranya mengambil foto mereka. Jong-In menyunggingkan senyuman manisnya dengan 'V' ditangannya dan Kyung-Soo tersenyum dengan sedikit dipaksakan dengan tangan kiri membentuk 'V' juga.

"Terimakasih kau sudah menemaniku untuk berkeliling. Semoga kita bisa bertemu lagi." Pamit Jong-In. Ia lalu mengangguk sopan dan berjalan menjauhi meja tempat Kyung-Soo duduk yang tetap bergeming.

Kyung-Soo masih menunduk. Ini mungkin kali pertama dan terakhirnya bisa sedekat itu dengan Jong-In. Pertemuan yang diawali dengan perasaan menjadi perempuan paling beruntung tapi diakhiri dengan perasaan menjadi perempuan yang paling sial dan menyedihkan.

Kedua tangannya yang bergetar mengepal menggenggam kipas kecil perjuangannya untuk seseorang yang disukainya tidak menghasilkan apa-apa. Laki-laki itu malah mengembalikan hadiah yang pernah ia berikan.

Terdengar suara dering ponsel dari dalam tasnya. Kyung-Soo mengambilnya dan menyentuh layar ponsel itu dan mendekatkannya pada telinga.

"Kyung-Sooya kau dimana? Aku dilapangan."

Kyung-Soo menunduk dan tidak berkata apa-apa. Detik berikutnya tangisnya pecah membuat Baek-Hyun panik dibalik telepon. Tangisnya semakin menjadi ketika Baek-Hyun bertanya ada apa. Ia menundukan kepalanya diatas meja dan menangis sejadi-jadinya.

Tak peduli meskipun ada seseorang yang mendengarnya.

...

Seoul, South Korea.

Fall, 2006.

Awan-awan yang bergulung lembut dengan kilau rona kemuning bias sinar matahari sore dilangit kota Seoul itu benar-benar memesona. Angin khas musim gugur berhembus halus membuat daun-daun seakan-akan menari berguguran dari berjalan cepat dengan dua buket bunga ditangannya. Menelusuri jalanan yang sehari-sehari sudah biasa ia lewati.

Kyung-Soo berjalan melewati gerbang sekolahnya. Dan menemukan Baek-Hyun yang sedang berdiri menunggunya disamping tiang gawang pada lapangan bola. Ia juga membawa dua buket bunga.

"Maaf aku terlambat." Ucap Kyung-Soo sambil berusaha mengatur napas ketika ia sampai disamping Baek-Hyun.

"Tidak apa-apa. Lu-Han eonnie sudah didalam dan acara kelulusannya sudah dimulai. Ayo." Kata Baek-Hyun tersenyum lembut pada Kyung-Soo.

Mereka memasuki aula utama dari sekolah itu. Terlihat banyak orang-orang—terutama orang tua siswa—yang juga membawa buket bunga dengan pakaian formal yang rapih. Ditengah aula terdapat siswa dan siswi yang lulus tahun ini tengah duduk membentuk seperti barisan. Sebagian dari mereka ada yang berfoto bersama dan ada juga yang sedang sibuk membuka buku tahunan.

Baek-Hyun dan Kyung-Soo berdiri menunggu giliran Lu-Han dipanggil dan diberi ijazah oleh kepala sekolah. Disebelah mereka terdapat beberapa orangtua siswa yang juga menunggu giliran anaknya dipanggil.

Kyung-Soo memandang sekitar dan mendapatkan Jong-In berjalan kearah panggung untuk membawa ijazah dan tetek-bengeknya. Ia lalu menerima sebuket bunga dan berfoto bersama dengan kedua orangtuanya.

"Kyung-Sooya! Baek-Hyuna!" panggil seseorang membuat Baek-Hyun dan Kyung-Soo menoleh mencari asal suara.

Sosok tinggi Chan-Yeol dengan sebuket bunga ditangannya datang mendekati mereka. Kyung-Soo melambaikan tangannya berbeda dengan Baek-Hyun yang menunduk sambil menghela napas panjang.

"Sunbae chukhahaeyo! (Selamat senior!)" ucap Kyung-Soo bersemangat mengucapkan selamat pada Chan-Yeol yang juga lulus tahun ini.

"Eo gomawo. (Iya terimakasih.)" jawab Chan-Yeol sambil tersenyum senang. "Neon 'chukhahae' anhallae? (Kau tidak akan menyelamatiku?)" lanjutnya pada Baek-Hyun. Baek-hyun terlonjak kaget lalu mengangguk pada Chan-Yeol.

"Sunbaenim chukhahabnida. (Selamat.)" ucap Baek-Hyun tersenyum tak sadar membuat Chan-Yeol juga tersenyum.

"Kalian membawa dua buket bunga. Salah satunya pasti untukku, kan? Ah terimakasih." Ucap Chan-Yeol sambil bergerak akan mengambil buket bunga ditangan Kyung-Soo tapi Kyung-Soo langsung menghindar sambil menjulurkan lidahnya.

"Ini bukan untuk sunbae." Singkatnya dengan wajah ketus yang dibuat-buat. Tangan Chan-Yeol bergerak menjitak kepala Kyung-Soo.

Chan-Yeol lalu menatap Baek-Hyun yang mengedarkan pandangannya salah tingkah. Baek-Hyun langsung menatap kearah lain ketika ia tertangkap basah melirik Chan-Yeol.

"Apakah kau akan memberikannya padaku?" tanya Chan-Yeol lembut pada Baek-Hyun tidak seperti biasanya. Baek-Hyun menunduk sejenak menyembunyikan kedua pipinya yang merona merah.

"Sebenarnya i..iya." ucap Baek-Hyun pelan lalu menyodorkan salah satu buket bunga ditangannya pada Chan-Yeol. Chan-Yeol tersenyum lebar tidak percaya sambil menerima buket bunga itu.

"Ah gomawo.. Baek-Hyuna.. (Ah terimakasih.. Baek-Hyun..)" ucap Chan-Yeol tak bisa menahan senyuman bahagia yang terulas diwajahnya. Baek-Hyun mengangguk senang sambil tersenyum dengan wajah yang masih merona.

"Lihat Baek-Hyun baik sekali. Tidak seperti kau." Kata Chan-Yeol sambil menjitak lagi kepala Kyung-Soo. Baek-Hyun tertawa karenanya.

Tangan Kyung-Soo bergerak memegang lengang Chan-Yeol dan hendak memukul lengannya itu ketika seseorang datang mendekati mereka dengan sebuket bunga ditangannya dan kamera menggantung dilehernya.

"Oh Jong-Ina.." panggil Chan-Yeol berhenti menghidar dari Kyung-Soo yang hendak memukul Chan-Yeol. Kyung-Soo lalu menoleh kearah Jong-In dan melepaskan pegangannya pada Chan-Yeol. Jong-In memerhatikan gerakan cepat Kyung-Soo itu.

"Ah Kyung-Soo kau datang untuk siapa?" tanya Jong-In membuat Kyung-Soo yang awalnya menunduk akhirnya menoleh kearahnya.

"Lu-Han eonnie.." jawab Kyung-Soo dengan nada yang menyiratkan keraguan. Jong-In mengangguk mengerti.

"Lu-Han saja? Lalu kenapa kau membawa dua buket bunga?" tanya Chan-Yeol sambil melirik tajam dua buket bunga ditangan Kyung-Soo. "Kalau bukan untukku, untuk siapa?"

Kyung-Soo tidak menjawab dengan Chan-Yeol, Baek-Hyun, dan Jong-In yang menatapnya. Otaknya berpikir mencari jawaban yang tepat.

Sebenarnya ia membawa buket untuk Jong-In. Tapi itu tidak mungkin ia katakan langsung. Ia lalu menatap Baek-Hyun meminta pertolongan, tapi Baek-Hyun malah menjulurkan lidah kecilnya. Ia kini menatap Chan-Yeol juga untuk meminta pertolongan, tapi Chan-Yeol malah tersenyum menahan tawa. Kyung-Soo lalu menatap Jong-In yang mengeluarkan ekspresi bertanya.

"Keulssae.. (Aku tidak yakin../Entahlah..)" jawab Kyung-Soo sambil menatap kearah lain. "Mengapa aku membeli dua ya?" tanya Kyung-Soo pada dirinya sendiri sambil memerhatikan buket-buket bunga ditangannya.

"Kau tidak mau memberikannya padaku. Kalau begitu berikan saja pada Jong-In." Kata Chan-Yeol membuat Kyung-Soo menoleh. Baek-Hyun mengangguk setuju. Sedangkan Jong-In menatapnya bingung lalu tersenyum halus.

"Keurae..? (Begitu..?)" ucap Kyung-Soo bingung. Jong-In lalu mendekatinya untuk menerima bunga itu.

Kyung-Soo berdiri tegak sambil mengatur napasnya. Lalu ia menyodorkan salah satu buket yang berisi bunga mawar kuning didalamnya perlahan pada Jong-In. Jong-In tersenyum setelah mendapatkan buket itu ditangannya.

"Gomawo.." ucapnya mengeluarkan senyuman khasnya pada Kyung-Soo. Sudut bibir Kyung-Soo tak sadar terangkat sambil mengangguk pada Jong-In.

"Yaedeura annyeong.. (Hey Guys..)"teriak seseorang membuat mereka berempat serempak menoleh keasal suara.

"Ah eonnie chukhahaeyo.." ucap Baek-Hyun dan Kyung-Soo bersamaan. Mereka bertiga lalu berpelukan.

"Aaah Jong-Inachukhahae.." Chan-Yeol yang iri memeluk Jong-In disebelahnya dramatis. Jong-In balas memeluk Chan-Yeol tak kalah dramatisnya.

"Chan-Yeola chukhahae.." ucapnya dengan suara yang nadanya ditinggikan meniru suara perempuan. Detik berikutnya mereka tertawa bersama tak sadar tingkah laku mereka dilihat oleh tiga perempuan yang sudah menatap mereka dengan mata yang menyipitdan menahan tawa.

"Selamat untuk kalian berdua karena kalian berhasil kuliah di Inggris." Ucap Chan-Yeol pada Lu-Han dan Jong-In. Kyung-Soo dan Baek-Hyun saling memandang dengan wajah kaget. "Mereka diterima di fakultas yang sama. Jurnalistik."

"Benarkah?" tanya Kyung-Soo membuat Jong-In dan Lu-Han saling memandang dan tersenyum. Mereka lalu mengangguk pelan membuat bibir Kyung-Soo terbuka, takjub.

"Waah selamaaaat!" ucap Baek-Hyun dan Kyung-Soo excited.

"Ah dan satu lagi!Selamat atas hubungan kalian!" ucap Chan-Yeol membuat senyuman diwajah Kyung-Soo lenyap dengan tatapan kosong dikedua matanya.

Baek-Hyun yang sama terkejutnya langsung menoleh kearah Kyung-Soo yang terlihatkaget disebelahnya. Kyung-Soo lalu menoleh kearah Baek-Hyun dengan wajah bingung.

"Lu-Han eonnie dan Jong-In sunbae.. berkencan?" tanya Baek-Hyun meyakinkan atas kebenaran dari ucapan Chan-Yeol tadi.

Keduanya tidak menjawab. Lu-Han terlihat tersenyum malu dengan rona merah dikedua pipinya. Sedangkan Jong-In hanya tersenyum halus mengangguk.

"Bagaimana kalau kita berfoto bersama? Jong-In, kau kan membawa kameramu." Usul Chan-Yeol yang disambut anggukan bersemangat dari Lu-Han dan senyuman dari wajah Jong-In.

Chan-Yeol kini sibuk mencari orang untuk mengambilkan foto untuk mereka. Sedangkan Kyung-Soo masih terpaku ditempatnya. Baek-Hyun menghampirinya. Ia ingin memegang bahu Kyung-Soo dan menenangkannya. Tapi ia takut hal itu bisa membuat Kyung-Soo menangis.

Mereka bersiap-siap mengambil foto ketika Chan-Yeol berhasil menemukan sukarelawan yang bisa mengambil foto mereka. Lu-Han berdiri ditengah dengan kedua lengannya yang memeluk Kyung-Soo dan Baek-Hyun. Chan-Yeol berdiri dibelakang Baek-Hyun sambil mengusak kepala Baek-Hyun. Sedangkan Jong-In tersenyum dengan ibu jari yang mengacung. Kyung-Soo memaksakan seulas senyum dan menggerakan tangannya membentuk 'V' yang sama dengan Baek-Hyun.

Click.

Kyung-Soo menatap Jong-In tidak percaya. Matanya mulai memanas dan memerah ketika ia melihat Jong-In yang kini mengusak kepala Lu-Han setelah mereka berfoto.

"Ah aku ingin buang air. Aku permisi ke toilet sebentar. Dan selamat untuk kalian berdua! Aku turut berbahagia." ucap Kyung-Soo terburu-buru dengan senyuman lebar yang Baek-Hyun tahu itu merupakan senyuman paling menyedihkan yang pernah ia lihat.

Kyung-Soo menghilang dibalik pintu aula. Baek-Hyun kini menatap Chan-Yeol yang menutup bibirnya rapat-rapat sadar bahwa dia salah bicara. Kedua mata Baek-Hyun melotot marah kearah Chan-Yeol.

"Ehm.. eonnie selamat. Sunbae selamat." Ucap Baek-Hyun dengan nada sebiasa mungkin. Jong-In dan Lu-Han mengangguk senang dan mengucapkan terimakasih.

Baek-Hyun tidak menyusul Kyung-Soo. Karena ia tahu Kyung-Soo pasti ingin sendirian. Untuk menumpahkan semua kesedihannya yang Baek-Hyun juga bisa rasakan. Baek-Hyun kini menatap pintu aula itu dengan wajah khawatir setelah tersenyum pada Jong-In.

Dan Jong-In menyadari perubahan ekspresi diwajah Baek-Hyun.

..

..

..

London, England.

Spring, 2014.

Wedding March kini terdengar dari seluruh penjuru ruangan yang terdengar seperti Death March ditelinga Kyung-Soo. Wanita dengan gaun putih itu mulai berjalan perlahan dari pintu kearah altar bersama pria tua—yang mungkin adalah ayah wanita itu—yang menggunakan tux hitam disampingnya. Sesekali ia melambaikan tangan pada sebagian tamu yang melambai kepadanya. Di belakang wanita itu terlihat anak kecil memegangi sebuket bunga.

Kyung-Soo menoleh kearah mempelai pria yang kini sedang memandangi wanita itu dengan senyuman lemah. Sorotnya matanya terlihat pasrah dengan keadaan ini. Kyung-Soo menoleh kekanan dan kekiri bingung harus bagaimana hingga akhirnya wanita itu sampai didepan altar dan musik berhenti dimainkan.

Mata kedua mempelai bertemu. Mempelai wanita itu yang tidak salah lagi adalah Lu-Han kini berdiri menghadap mempelai pria memunggungi tempat Kyung-Soo duduk. Mempelai pria itu tersenyum halus melihatnya. Mempelai pria—Jong-In— kini berbisik pada telinga Lu-Han mengucapkan sesuatu.

Dada Kyung-Soo terasa sesak melihat pemandangan yang mengingatkannya pada kejadian beberapa tahun yang lalu saat ia mengetahui Lu-Han—seniornya yang sudah ia anggap sebagai kakak sendiri—dan Jong-In telah berkencan.

Pendeta tersenyum pada kedua mempelai dan mulai mengucapkan sumpah dan janji-janji suci didepan kedua mempelai. Mata Kyung-Soo memanas membayangkan bagaimana bila rencananya gagal dan mereka jadi menikah.

"Kyung-Soo? Fokus! Kau harus berdiri ketika pendeta bertanya kesungguhan mereka!" teriak Baek-Hyun membuat Kyung-Soo sadar dari lamunannya dan segera menghapus air mata yang mulai menetes.

Kini pendeta selesai mengucapkan segala macam sumpah didepan kedua mempelai. Ia lalu menanyakan suatu pertanyaan yang Kyung-Soo sama sekali tidak ingin dengar.

"Apakah mempelai pria bersedia?"

Hening.

Tidak ada seorang pun yang mengeluarkan suara. Kyung-Soo masih dilanda kegalauan ditempatnya. Bingung apakah ia harus berdiri sekarang atau bagaimana. Dia bukan tipe wanita yang datang ke upacara pernikahan untuk merusak dan membatalkan semuanya. Tapi ia juga bukan tipe wanita yang tidak merubah sesuatu yang tidak bisa ia terima.

Kyung-Soo kini menatap Jong-In yang menunduk. Tak disangka ketika Jong-In mendongkak, kedua matanya bertemu dengan Kyung-Soo.

"Apakah mempelai pria bersedia?" Ucap pendeta pada Jong-In yang keningnya berkerut.

Jangan katakan kau bersedia. Jangan. Aku mohon Jangan.

Kyung-Soo terus mengulang kalimat itu berharap Jong-In bisa mendengarnya. Jong-In kini menatapnya dengan tatapan bersalah. Kyung-Soo kaget dengan mata yang melebar ketika Jong-In berbalik menghadap pendeta.

Ini kesempatan terakhirmu Kyung-Soo.

Kyung-Soo akhirnya berdiri dengan kedua matanya yang tertutup. Ia bisa merasakan seluruh mata diruangan itu menatapnya kaget. Tangannya yang terkepal bergetar hebat. Ia lalu memberanikan diri membuka matanya untuk menatap Jong-In didepan altar.

Terdengar desas-desus orang yang berbisik di ruangan itu tapi Kyung-Soo tetap melihat lurus kearah Jong-In yang sama kagetnya dengan orang-orang didalam ruangan itu. Kyung-Soo lalu menatap Lu-Han yang membelalak tapi tidak melihat kearahnya. Lu-Han memandang kesebelah dimana Kyung-Soo berdiri. Kyung-Soo melirik kesebelahnya dan mendapatkan pria korea tadi juga ikut berdiri disampingnya.

"Saya tidak setuju dengan pernikahan ini." Ucap pria itu sambil menatap lurus kearah Lu-Han yang membelalak dengan mulut yang sedikit terbuka. Jong-In menatap Kyung-Soo dan pria itu bergantian.

"Aku tamu yang tidak diundang."

Kata-kata pria itu kini terngiang dalam kepala Kyung-Soo. Ternyata pria itu akan melakukan hal yang sama dengan Kyung-Soo.

"Noona.. kaja.. (Noona.. ayo pergi..)" ucap pria itu mengajak Lu-Han yang masih mematung ditempatnya dengan nada memelas.

"Se-Hunnie.." panggil Lu-Han dengan mata yang memerah.

Detik berikutnya Lu-Han bergerak turun dari altar tidak memerdulikan panggilan dari ayahnya. Keadaan semakin kacau ketika Lu-Han dan pria yang ternyata bernama Se-Hun itu berlari menuju pintu keluar gereja dengan Lu-Han yang kerepotan berlari masih menggunakan gaun panjangnya.

Para tamu memanggil-manggil nama Lu-Han yang tentu saja dianggap sebagai angin lalu saja olehnya. Mereka terus berlari dengan beberapa tamu yang mengejar dibelakang mereka.

Kyung-Soo terlalu bingung dengan apa yang sedang terjadi. Jadi dia hanya memandang tamu-tamu yang terlihat marah dan kesal memanggil-manggil Lu-Han dengan tatapan panik dan alis yang mengerut bingung. Ia lalu menoleh kearah altar mencari Jong-In tapi Kyung-Soo tidak berhasil menemukannya.

Kyung-Soo panik. Tangannya kini berkeringat. Orang-orang yang duduk disekitarnya kini menatapnya bingung. Sebagian menatapnya dengan tatapan sinis. Ia lalu menunduk karena malu. Ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Telinga Kyung-Soo seakan-akan tuli karena ia tidak bisa mendengar Baek-Hyun yang berteriak di earphonenya.

Kyung-Soo mendongkak kaget ketika seseorang menggenggam tangannya dan menariknya masuk kesebuah pintu disamping altar. Jong-In menariknya terus mengajak Kyung-Soo berlari menelusuri lorong kecil yang mereka masuki hingga mereka sampai pada sebuah pintu kayu. Jong-In membuka pintu itu dan mereka berhasil keluar dari gereja melalui sebuah pintu yang ternyata merupakan pintu masuk belakang.

Mereka kini berlari sambil berpegangan tangan dengan Jong-In yang memimpin jalan. Kyung-Soo yang berlari dibelakangnya menyunggingkan seulas senyum sambil memandang Jong-In yang sibuk mencari tempat untuk bersembunyi. Semua perasaan rindu kini terbayar sudah ketika ia bisa melihat pria yang dicintainya berada didepannya dan menggenggam erat tanganya.

Mereka lalu memasuki sebuah coffee shop yang masih berada disekitar Wilton PI. Jong-In mengambil sebuah koran dipinggir pintu masuk lalu mencari tempat duduk yang paling jauh dari pintu masuk.

Mereka akhirnya berhasil duduk disebuah meja yang berada pada jajaran ketiga dari pintu masuk. Jong-In membuka koran yang tadi dibawanya lebar-lebar lalu menyerahkan ujung kanan dari koran itu pada Kyung-Soo. Kyung-Soo menerimanya dengan wajah bingung.

Beberapa saat kemudian terlihat Se-Hun dan Lu-Han berhenti didepan coffee shop yang mereka tempati. Kyung-Soo mengintip mereka yang kini sedang terengah-engah mengatur napas. Beberapa detik kemudian mereka menoleh kebelakang mereka. Lu-Han tersenyum pada Se-Hun yang tertawa kecil dan kini berjongkok agar Lu-Han bisa naik ke punggungnya. Mereka lalu berlari dengan beberapa orang mengerjar dibelakangnya.

Mereka berlari dengan senyuman bahagia.

Jong-In mengangkat koran yang mereka pegang dan mengajak Kyung-Soo bersembunyi dibalik koran itu ketika orang-orang bertuxedo hitam berlari melewati coffee shop yang mereka tempati. Kyung-Soo yang awalnya melongok keluar kini membenamkan wajahnya kebalik koran dan mendapatkan Jong-In yang sudah menatapnya sambil tersenyum, kelelahan.

Senyuman itu. Senyuman itu yang membuat jantung Kyung-Soo berdegup lebih kencang dari biasanya. Senyuman itu yang membuat kedua pipi diwajah Kyung-Soo merona merah. Senyuman itu yang membuat Kyung-Soo melakukan hal gila yang baru saja ia lakukan.

Ia tahu fast-beating jantungnya itu hanya milik pria bernama Kim Jong-In yang kini berada didepannya. Karena jantung Kyung-Soo hanya berdegup kencang jika ada Kim Jong-In didepannya.

"I..."

THE END

...

Gimana nih ceritanya readers-readersku yang setia? :-D

Sebenernya cerita ini terinspirasi dari salah satu author favorit Lee Dong Hwa alias jujun bunga juniar. Hahaha. Sebagian scene nya ada yang keinspirasi dari lagunya Taylor Swift – Speak Now, terus ada juga scene yang keinspirasi dari sebuah film yang nanti aja deh aku kasih tahu pas epilognya udah kelar.

Kelakuan dari cast-cast disini juga ada yang keinspirasi dari tokoh aslinya mereka (Kai, D.O, dll). Hm..

Pasti kependekan ya? Hm.. aku tahu pasti kalian bingung kenapa Jong-In bisa tiba-tiba milih Kyung-Soo terus ngebatalin pernikahanannya.

Jawabannya ada di epilog~ sekarang epilognya lagi dibikin nih hehe

Maaf ya kalo momentnya kurang. Abis ya gimana ya orang lagi kurang ide..

Terimakasih buat readers yang udah review di chap epilog. Terimakasih buat komentar dan semangatnya hehe

Oh iya kalo ada yang mau ngobrol banyak mention aja di twitter luhankeai atau kakaotalk cervacarnigera, atau Ig juga ada cervacarnigera (sekalian promosi haha)

Ya udah ya, tunggu epilognya dan terimakasih banyaaaak^^v

Regards,

Carnigeracerva.