Chapter 2
.
.
Sinfully Delicious
A Drama Fanfiction
.:o Yuri Masochist Presents o:.
"I'm a sinner, because you are my delicious sins"
A complicated story of Sehun-Kai-Luhan
.
.
.
Drrt! Drrt!
Luhan melirik ke arah saku celananya ketika dirasakan smartphone-nya bergetar. Sehun meliriknya dan memperhatikan Luhan. Luhan melirik Jongin sedikit, lalu meraih smartphone dan melihat nama yang tertulis di layar.
Incoming Call
Kai
Luhan menatap tak percaya pada layar lalu pada Jongin. Sehun merengut tidak mengerti.
"Siapa it—"
Lalu Luhan tersadar dan segera menekan tulisan menolak panggilan lalu mengembalikan smartphone-nya. Jongin mendecih pelan.
"Teman kelas. Dia menyebalkan, sering menggangguku."
"Oh." Sehun mengangguk. "Sekarang kau mau pulang? Karena aku dan Jongin ada—"
Jongin menggeleng dan menatap Sehun. "Aniya. Aku harus pergi dengan Tao. Ia memintaku untuk mengantarnya tadi."
Sehun terkesiap lalu mengangguk. Kemudian pandangannya teralih lagi pada Luhan—setelah sebelumnya melirik Jongin. "Kalau begitu—"
"A-aku juga..." Luhan melirik Jongin sedikit. "ada janji dengan Minseok. Kau pulang saja lebih dahulu."
"Eh?" Sehun mengusap tengkuknya lalu mengangguk pelan. "Arasseo."
Luhan tersenyum samar sebelum mengecup bibir Sehun dan berjalan pergi. Jongin juga pamit dan pergi ke arah yang sama. Sehun hanya mengangkat bahu sambil meraih iPod dari dalam sakunya dan mulai mendengarkan lagu.
Langkah Jongin menyusul. Ia berjalan lebih dahulu menuju lapangan parkir lalu masuk ke mobilnya. Kemudian Luhan masuk melalui pintu lain.
Tanpa menunggu banyak waktu, Jongin segera melajukannya menjauhi area kampus.
Luhan tidak mengerti dengan perbuatannya kali ini. Dia membiarkan Jongin membawanya pergi, dan ia telah berbohong pada Sehun.
"Aku tidak menyangka..." Jongin membuka percakapan. "Ternyata kau adalah kekasih Sehun."
"Dan kau adalah sahabatnya."
Jongin tidak memiliki obrolan lagi setelah itu. Sampai akhirnya mobil itu menepi di daerah pinggiran.
Namja tan itu menepuk stirnya sebelum menatap Luhan.
"So..." Jongin menarik napas. "Apa ini tentang kesalahan?"
"Mari kita bicarakan itu nanti." Luhan berkata sambil mendudukkan tubuhnya di paha Jongin. "Sepertinya ada yang harus kita lakukan terlebih dahulu."
Jongin segera menyambar bibir Luhan dan mengakui apa yang diucapkan Sehun itu benar. Luhan menarik—untuk hal apapun. Tangan Jongin menggerayangi tubuhnya sambil menciumnya semakin dalam. Luhan sendiri meraba dada Jongin yang terbalut kaos di balik jaketnya, lalu turun ke arah celananya. Luhan menyentuh tonjolan itu lalu meremasnya.
Resleting itu terbuka. Luhan menurunkan celananya hingga turun sebetis. Lalu Luhan meraih bongkahan daging milik Jongin dan mengurutnya—sial, ini lebih besar dari milik Sehun. Kemudian ia gesekkan pada manhole-nya sebelum Luhan hujamkan tubuhnya hingga junior Jongin masuk.
Jongin menggeram rendah sambil meremas pinggang Luhan.
Luhan melirik ke bawah, lalu mulai menggerakkan pinggulnya. Satu tangannya mendekap kepala Jongin. Jongin menurukan baju bagian bahu Luhan sebelah kanan, lalu menciumi kulit putih itu. Luhan mempercepat temponya sampai akhirnya Jongin memilih untuk mengambil alih.
Jongin menghentakkan pinggulnya berulang kali hingga junior itu tersentak di dalam rektum Luhan, bahkan mengenai sweetspotnya. Luhan merintih lalu mendesah tidak terkendali saat Jongin cukup brutal menggerakkan juniornya.
"Ah... ah K-Kai~"
Suara ini lebih nyata dan memabukkan daripada lewat telepon. Jongin menyukainya bahkan terkesan kecanduan. Ia bergerak sangat keras sehingga berhasil membuat Luhan menciptakan suara indah itu.
"Yes~ ah, ah~"
Suara itu tidak berhenti sampai akhirnya Luhan lebih dahulu mengeluarkan hasratnya dan kemudian disusul oleh Jongin. Mereka terdiam selama beberapa saat sambil berupaya mengontrol napas. Lalu Luhan melepaskan diri dan mengenakan kembali celananya. Tanpa Jongin sangka, pemuda manis itu keluar dari mobilnya.
Jongin membenarkan celananya dan menyusul keluar, menghampiri Luhan yang menyandarkan sebagian beban tubuhnya pada kap mobil.
"Hei," Jongin berdiri di samping Luhan. "maafkan aku."
Luhan meliriknya sedikit sambil menarik napas. "Tidak ada yang salah, Kai. Maksudku, aku yang salah."
"Kita yang salah."
Luhan menggeleng. "Aku kekasih Sehun dan—"
"Aku sahabatnya."
Luhan menggeleng lagi. "Maksudku, salahku tiga bulan yang lalu, tentang sex-phone itu... aku tidak tahu kalau—"
Jongin merangkul Luhan lalu mencium pelipisnya. "Okay, kita berdua salah."
Wajah Luhan bersemu samar sebelum akhirnya kembali pada percakapan. "Kenapa kita berdua melakukan seks?"
"Karena hasrat terpendam?" Jongin balik bertanya sambil mengangkat bahu. "Entahlah. Selama ini aku hanya mendengar suaramu dan membayangkan hal itu menjadi nyata seperti tadi. Aku yakin kau juga begitu."
"T-tapi Kai..." Luhan menggigit bibir. "Ini semua terasa salah."
"Memang salah." Jongin menarik napasnya. "Jangan dipikirkan. Kalau Sehun melihat, ia bisa curiga. Sejauh ini jadikan hubungan kita tidak dekat dihadapan Sehun."
"Lalu... apa kita sekarang?"
Jongin menatap Luhan yang menggigit bibir bawahnya. "Sex-phone-partner."
Luhan masih menatapnya.
Jongin akhirnya menarik napas. "Okay, hilangkan kata di tengah."
Sedangkan Luhan masih menatapnya, hal itu membuat Jongin menarik napasnya lagi.
"Okay. Anggap kita tidak saling kenal dan—"
"Aniya, Kai." Luhan menangkup pipi Jongin. "Apa kau mau ada... saat aku butuh?"
Jongin terdiam sambil menatap ke arah mata Luhan.
"Kai..."
"Baiklah. Itu berlaku juga padamu."
Keduanya tersenyum canggung sebelum akhirnya berciuman.
].o-o.[
Luhan sampai ke apartemennya dan menghubungi Sehun setelah itu, memberitahunya bahwa ia sudah pulang. Lima menit setelahnya Sehun sudah berada di dalam apartemen Luhan—tepatnya di dalam kamarnya, dan memperhatikan bagaimana namja rusa itu tengah meminum soju dari botolnya.
"Apa ada masalah lagi?"
Luhan berbalik dan melihat Sehun berdiri di muka pintu.
Luhan menggeleng sambil meletakkan botol itu di meja, dan memperhatikan bagaimana Sehun menghampiri lalu mencium bibirnya. Luhan membalas ciuman itu cukup liar. Tangannya berusaha melepaskan kaos yang Sehun kenakan dan Sehun pun melakukan hal yang sama. Sehun mendorongnya terhadap dinding, lalu melepaskan celana Luhan.
"Ungh..."
Lenguhan keluar dari mulut Luhan saat Sehun menggigitnya. Lalu Sehun menjauhkan wajahnya, membalikkan tubuh Luhan agak kasar lalu menahan tangannya di atas kepala.
Memperhatikan Luhan yang full naked dan tidak berdaya ini adalah pemandangan menarik bagi Sehun. Sehun pun menurunkan resleting celananya sendiri, kemudian memijat juniornya sebelum mengarahkannya pada manhole Luhan.
Oh, Sehun ingat sudah seringkali melakukan seks tanpa persiapan. Well, jarinya juga merindukan kehangatan Luhan. Jadi Sehun menjauhkan juniornya dan kemudian mengarahkan dua jarinya ke antara buttcheeks Luhan. Saat dua jari itu terselip masuk, Sehun terkesiap dan menariknya kembali.
"S-Shit!"
Itu kata yang sama yang keluar dari dua mulut berbeda. Keduanya segera membulatkan mata dengan beda arti.
Luhan ingat ia kembali melakukan seks dengan Jongin sebelum pulang ke apartemen dan Sehun tentu saja menemukan bekas perbuatannya. Luhan tidak membersihkan diri dan yakin sisa-sisa Jongin masih menempel disana.
"S-sehun... a-aku..."
Sehun membalikkan tubuh Luhan kasar lalu—
Plak!
—menamparnya.
"Apa ini?!" bentak Sehun.
Luhan menggeleng beberapa kali sambil memegang pipinya yang memerah. Dia tidak bisa berpikir untuk mencari alasan yang bisa menyelamatkannya.
"Sial, Luhan! Kau menghianatiku?!"
"B-bukan... aku... ak—"
Brugh!
Sehun mendorong tubuh Luhan kasar hingga tersungkur di atas lantai. Luhan merintih, tidak sampai Sehun mendekat dan memaksanya untuk menungging. Dia menahan kepala Luhan hingga terantuk lantai. Luhan mulai menangis. Sehun mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan menemukan laci dimana Luhan menyimpan beberapa perlengkapannya.
"Sehun... m-maafkan aku..."
Kalimat permohonan itu tidak berlaku untuk Sehun. Tangan Sehun berusaha menggapai laci dan membukanya, kemudian meraih sesuatu disana.
"Sehun... kumoho—"
Jleb!
Dan kalimat Luhan terganti oleh erangan ketika Sehun memasukkan sebuah vibrator secara paksa lalu menyalakannya dalam mode maksimal.
"Akh! S-Sehun..."
Sehun berdiri sebelum memasukkan vibrator itu lebih dalam. Lalu dia meraih sebuah dasi dari lemari, dan mengikat tangan Luhan di belakang.
"Hubungan kita memakai hati!" Sehun membenarkan celananya dan mengenakan kaosnya kembali. "Bukan hanya untuk seks! Pikirkan itu baik-baik!"
Dan—blam!
Sehun meninggalkan Luhan disana yang menangis dalam rintihan.
].o-o.[
Jongin membuka pintu rumahnya dan menemukan Sehun berdiri disana.
"Ada apa?" tanyanya agak dingin.
Tapi Sehun mendorong Jongin masuk dan setelah itu menutup pintu. Sehun melewati Jongin ke arah dapurnya kemudian membuka lemari pendingin. Oh, tidak ada. Sehun menggeram dan menendang lemari pendingin hingga pintunya menutup. Kemudian dia duduk di salah satu kursi meja makan.
Jongin memperhatikannya di ambang pintu dapur.
"Ini sama seperti beberapa bulan lalu." Jongin membuka suara. "Pasti bertengkar dengan Luhan?"
Sehun tidak menjawab dan meremas rambutnya.
Jongin tahu saja karena mungkin ini kali keduanya Luhan dan Sehun bertengkar. Selebihnya hubungan mereka baik-baik saja, dan Sehun jarang seperti ini.
"Kau mau kita keluar dan cari minuman?"
Sehun meliriknya dengan mata memerah. "Aku ingin kau."
"Yang benar saja?" Jongin memutar kedua bolamatanya. "Aku bukan pelampiasan—"
"Dari dulu kita seperti ini, Jongin!"
Jongin mengakui saat Sehun bertengkar dengan orangtuanya yang berada di kota lain, ia selalu membiarkan Sehun melampiaskan semua padanya. Tapi tidak seperti ini seharusnya. Jongin mengharapkan hubungan mereka memiliki perkembangan.
"Kau perlu istirahat."
"Aku perlu kau!" Sehun agak membentak. "Itu alasan mengapa aku kemari!"
Jongin melipat kedua tangannya. "Untuk masalah tentang orangtuamu, aku mau saja kau jadikan pelampiasan karena aku tahu seperti apa rasanya. Tapi untuk masalahmu dengan Luhan? Sialan! Sehun, aku juga punya hati, bukan sekedar objek!"
"Sejak kapan pemikiranmu berubah?"
"Dari dulu pemikiranku seperti ini." Jongin mendecih. "Tidurlah. Pikiranmu kacau sekali."
Sehun menggeram dan kemudian menyembunyikan wajahnya di antara lipatan tangan. Jongin mengenal sekali karakter Sehun yang emosional dan egois, jadi Jongin punya persiapan untuk menghadapinya.
Jongin berjalan meninggalkan Sehun disana.
].o-o.[
Sehun mengerjapkan matanya dan merasakan lehernya sakit. Dia melirik ke sekitar—ini masih di dapur Jongin, ia masih duduk di meja makan. Tapi yang berbeda adalah selimut yang menutupi tubuhnya. Sehun mengedarkan pandangannya dan berdiri perlahan. Tangannya meremas kepala, lalu keluar dapur. Pada jam dinding yang ia temukan di ruang tengah, Sehun bisa tahu sekarang sudah pukul empat sore.
Itu artinya sudah sekitar lima jam ia meninggalkan Luhan.
Tentu saja Sehun tidak setega itu pada Luhan. Jadi ia bergegas keluar dari rumah Jongin, dan tak menyangka bertemu dengan namja tan itu disana.
"Mau kemana?" tanya Jongin sambil memasukkan sesuatu ke dalam saku jaketnya dengan tergesa.
Sehun tidak menjawab dan melewati Jongin lalu menaiki mobilnya yang terparkir disana. Dengan cepat ia melajukan mobilnya menuju apartemen dan membawa langkahnya pada lantai tempat Luhan tinggal.
Ia membuka pintu dengan tergesa dan menemukan Luhan masih dengan posisi sebelum ia meninggalkannya.
Sehun menggigit bibir lalu mendekatinya. Ada banyak sperma yang tercecer di lantai. Sehun menarik vibrator itu perlahan lalu mematikannya. Jarinya melepaskan ikatan tangan pada Luhan. Lalu ia menggendong tubuh lemah itu menuju ranjang.
Sehun tidak mau terlalu menunjukkan rasa bersalahnya. Semuanya ia lakukan agar Luhan sadar.
Luhan melenguh lemas dan melihat sosok Sehun dengan samar. Sehun merebahkan tubuh Luhan lembut lalu menyelimutinya.
"M-maaf... maafkan aku Sehun..." bisik Luhan lemah.
Tidak ada jawaban dari Sehun. Namja itu beralih menuju meja, meraih beberapa lembar tisu lalu membersihkan bekas sperma disana.
"Sehun..."
Sehun membuang tisu itu lalu keluar dari kamar itu.
Luhan berharap Sehun bersikap lebih lembut padanya, lebih pengertian. Tapi jika Sehun sudah marah ia akan bersikap sangat dingin. Jadi Luhan hanya bisa menahan sakit dalam hati saat mendengar pintu depan terbuka lalu menutup kembali. Artinya Sehun pergi meninggalkannya lagi.
Air mata jatuh kembali dari mata indah itu. Luhan melirik sekitar, mencari smartphone-nya. Dan setelah menemukannya , Luhan segera mencari kontak sseseorang dan menghubunginya.
Butuh waktu beberapa detik untuk Luhan menunggu sampai telepon tersambung.
"Sore, XiaoXiao."
Luhan menggigit bibir bawahnya mendengar suara lembut itu. "K-Kai..."
"Kita mau bermain?"
Luhan menggeleng refleks sambil menahan isakannya. "B-bisa kau datang ke apartemenku? Aku butuh seseorang untuk menemaniku."
"Sehun?"
"Kumohon..." Luhan menggeleng lagi. "Datanglah."
Jongin terdiam sebentar di sebrang lalu berucap. "Kirimkan alamatmu lewan pesan singkat. Aku mencoba datang secepat yang aku bisa."
"Aku tinggal di apartemen yang sama dengan Sehun, hanya saja aku berada di lantai 15 kamar 769."
Luhan diam saat telepon terputus. Ia meletakkan smartphone-nya dan menangis lagi. Mungkin sekitar limabelas menit dan akhirnya pintu utama terbuka. Kemudian terdengar langkah tergesa sebelum pintu kamarnya terbuka.
Sosok Jongin muncul disana. Lalu Jongin menghampiri kemudian memeluknya.
Luhan belum pernah seperti ini sebelumnya.
"Ada apa?"
Berada dalam pelukan itu, Luhan semakin menangis. Dia tidak berniat bercerita, hanya menangis meluapkan emosinya. Sampai akhirnya ia tenang, Jongin melepaskan pelukan itu.
"Jangan menangis..." Jongin mengusap air mata di pipi Luhan. "Aku ada disini."
Kalimat itu terlalu menyentuh untuk Luhan. Jongin mencium keningnya lembut lalu mengusapi rambutnya.
"Aku akan disini menemanimu."
Luhan menggeleng pelan dan menggigit bibir. "Kenapa kau... baik padaku, Kai?"
"Sudah jalannya begitu." Jongin tersenyum simpul. "Biar aku tebak, kau belum makan? Mau kubuatkan sesuatu?"
Mendapatkan perlakuan seperti ini cukup dirindukan Luhan dari sosok Sehun. Tapi Luhan menyadari bahwa Jongin lebih lembut daripada Sehun. Lebih mengerti. Lebih memakai perasaan.
Luhan mengangguk saja dan membuat Jongin mengacak rambutnya.
"Baiklah. Tunggu disini, ya, XiaoBaby."
Panggilan itu ingin Luhan dengar setiap waktu. Setiap detik. Mulai saat ini.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED
HELOO SIAPA YANG PENASARAN?
Cukup sedih juga karena ff ini sempat 'terhapus' dari ffn
Tapi berdoalah sekarang tidak akan terulang :D
Hoho
Maaf ya belum bisa balas komen, saya sedang berada di antah berantah (ini aja posting di warnet khukhu) telat juga postingnya harusnya kemarin
Tinggalkan review yaaaaa :D
Kalau ada pertanyaan yang kebelet untuk ditanya, silahkan di
FB: Yuri Mamasochist
Twitter : littlerape
KAMSAHAMNIDA
Semakin banyak review, saya semakin semangat chingudeul :D
