Chapter 3
.
.
Sinfully Delicious
A Drama Fanfiction
.:o Yuri Masochist Presents o:.
"I'm a sinner, because you are my delicious sins"
A complicated story of Sehun-Kai-Luhan
.
.
.
Tiga hari setelah itu hubungan Sehun dan Luhan sudah membaik, bahkan berjalan seperti biasanya. Hubungan Sehun dan Jongin pun demikian. Terlihat karena di sore yang tenang ini mereka sedang mengobrol di cafe favorit keduanya.
Sehun sibuk dengan bubble tea-nya dan tidak menyadari bahwa Jongin terus memandanginya.
"Kau harus coba menu lain disini."
Sehun mengangkat wajahnya dan menatap Jongin walau mulutnya tidak menjauh dari sedotan. "Apa penting? Kau ini selalu membicarakan hal yang tidak mengasikan."
"Apa yang menurutmu mengasikan?"
Sehun tampak berpikir, dan Jongin memilih untuk menyesap amerikano-nya sambil menunggu.
"Seks."
"Uhuk!" Jawaban itu berhasil membuat Jongin tersedak.
Namja berkulit putih itu tertawa puas melihat sahabatnya seperti itu. Sehun tidak berpikir untuk memberikannya minuman atau sekedar menepuk punggungnya.
"Sialan—uhuk!" Jongin berusaha menetralkan napasnya sendiri. "Brengsek kau bocah cadel!"
"Aku jujur~," Sehun tertawa. "dan tidak ada yang lebih menyenangkan dari itu."
"Oh, ya? Lalu siapa yang pernah mengadu tentang Luhan yang hanya mementingkan seks?"
Sehun memutar kedua bolamatanya saat Jongin membalasnya dengan sebuah fakta. "Aku pecandu seks, Luhan pun demikian. Tapi kurasa Luhan lebih parah. Setidaknya aku tidak selingkuh seperti yang ia lakukan beberap—"
Jongin mendecih. "Tidak selingkuh? Lalu apa hubunganmu denganku?"
"Kau mau kusebut selingkuhan?" Sehun mencondongkan tubuhnya dan menjitak Jongin. "Kita menjalani sexual relationship ini sudah lebih dulu daripada hubunganku dengan Luhan. Bahkan jika kita memerlukan kata selingkuh, Luhan-lah korbannya."
"Tetap saja." Jongin merengut dan mengusap kepalanya. "Kalian sama saja, tapi tidak mau mengakui. Kau butuh seks selain dengan Luhan, tapi saat Luhan juga melakukannya, kau marah seperti orang kesurupan dan memanggil Luhan penghianat." Oh, Jongin hapal dengan cerita Sehun saat pasangan itu bertengkar beberapa hari lalu.
Jongin bisa melihat Sehun mengeraskan rahangnya sebelum mengalihkan perhatiannya ke arah jalan, lalu kembali lagi pada Jongin.
"Aku mencintai Luhan, Jongin."
Jongin mengangkat bahu. "Luhan juga mencintaimu. Tapi hubungan kalian mungkin akan lebih baik tanpa seks."
"Idemu buruk sekali. Dengan seks saja dia masih berani bermain dengan orang lain, bagaimana jika tidak? Mungkin dia akan menjajakan tubuhnya pada semua orang."
Jongin menopang dagunya dan menatap Sehun pada matanya. "Kekasih macam apa yang merendahkan kekasihnya sendiri?"
"Teman macam apa yang mengganggu urusan kekasih temannya?"
"Teman macam aku." Jongin tertawa. "Aku suka mencampuri urusanmu, Bocah."
"Siapa yang bocah?!" Sehun hampir saja melemparkan kursi di sampingnya ke arah Jongin jika ia tidak ingat dimana mereka berada. "Berhenti memanggilku dengan panggilan menjijikan itu."
"Bukan panggilan menjijikan, tapi kenyataan, Bubble Boy."
"Euw~," Sehun meringis. "panggilan menjijikan apa lagi itu?"
"Panggilan sayangku." Jongin tertawa puas.
"Lihat saja. Kali ini giliranku untuk menidurimu."
"Oh?" Jongin menyandarkan punggungnya pada kursi sambil melipat tangan di dada. "Aku sudah lama tidak pernah berada di bawah, kukira kau sudah menyerahkan dirimu selamanya di posisi itu."
"Shut the fuck up!"
Jongin tertawa puas. "Selamanya aku akan berada di atasmu, Oh Sehun. Kau sendiri menikmati itu."
Sehun menggerutu sebelum menatap Jongin lebih serius. "Bicara tentang itu... apa ini akan selamanya?"
Deg!
"Maksudmu?"
Pemuda pecinta bubble tea itu menarik napas dan menyamankan posisi duduknya. "Kita. Tentang kita, seks ini..." kata-kata Sehun tidak menyatu. "sahabat. Semua. Sampai kapan?"
"Apa maksudmu?" Jongin menatap Sehun dengan serius saat merasa perbincangan ini cukup membuatnya takut.
"Aku punya Luhan, Jongin. Dan aku mencoba untuk menjalani hubungan yang serius."
Yang berkulit lebih gelap memilih untuk diam.
"Ini tidak mungkin berjalan selamanya, bukan? Aku butuh seseorang, kau juga. Dan aku sudah menemukannya. Aku tidak mungkin menghianatinya secara diam-diam seperti ini. Okay, aku tahu hubungan kita hanya tentang seks tanpa perasaan. Tapi jika suatu hari nanti Luhan tahu, apa itu tidak menyakitinya?"
Jongin menelan ludanya secara paksa, namun tetap diam.
"Aku hanya ingin menjaganya dan memulai sesuatu yang baru. Mungkin aku akan tinggal bersama dengannya? Entahlah. Memikirkan untuk selalu satu ranjang setiap hari—"
"Seks lagi." Jongin berbisik sambil mendecih.
Brak!
Jongin terkesiap saat Sehun memukul meja.
"Bukan seks, Jongin!" bentaknya. "Maksudku..." suara Sehun melembut. "aku sempat memikirkan untuk benar-benar serius dengan hubungan ini. Tepatnya... menikah."
Jantung Jongin berdegup dengan sangat kencang. Sahabatnya... memilih untuk menikahi Luhan yang baru menjalani hubungan dengannya selama satu tahun? Apa ini tidak terlalu cepat? Bahkan tentang umur mereka...
"Aku punya sisi lelah pada hidup ini." Sehun menunduk dan berbisik. "Orangtua brengsek yang hidup hanya untuk uang, namun menempuh cara kotor. Oh, aku ingat sekali saat ibuku menggoda bos dari perusahaan lain agar mendapatkan investasi besar."
Jongin mengalihkan perhatiannya ke arah jendela namun tetap mendengarkan.
"Dan aku ingin memperbaiki hidupku dengan hadirnya Luhan. Aku ingin membahagiakannya. Aku ingin kami hidup bersama dan menjalani hidup ini berdua."
"Kau lupa padaku?" tanya Jongin tanpa mau menatap Sehun.
"Aku butuh pendamping hidup."
"Lalu sahabat tidak ada artinya?" akhirnya Jongin menatapnya. "Apa arti aku selama ini, Hun?"
"Kau tidak mengerti, Jongin!" emosi Sehun tersulut lagi. "Aku punya kehidupan! Aku punya masa depan! Dan semuanya bisa aku lihat dari Lu—"
"Aku punya hati, Sehun! Apakah kau tidak memikirkannya ke arah situ?!"
Kali ini Sehun yang terdiam karena bentakan itu. Jongin menggeram lalu mengusap wajahnya.
"Aku mencoba menjadi sahabat terbaik. Aku mencoba untuk selalu ada untukmu. Tapi mengapa semua orang selalu buta akan cinta, cinta, cinta," Jongin memutar matanya. "dan tidak melihat bahwa ada yang peduli padanya?!"
Kalimat itu menohok Sehun pada hatinya. Bahkan mulutnya terbuka melihat Jongin yang sepertinya cukup muak berargumentasi dengannya.
"Demi Tuhan kau tidak mengerti..." Sehun berkata dengan suara pelan. "aku butuh Luhan sebagai pendamping hidup dan—"
"Dan kau akan membuangku!" Jongin menyambungkan kalimat itu.
"Kau seharusnya mencari kekasih!" Sehun menujuk Jongin pada wajahnya. "Dan kau akan mengerti!"
"Apa gunanya kekasih saat aku memilikimu, Sehun?!" Jongin menggeram lalu berdiri. "Kau ini benar-benar bodoh dan buta karena Luhan!"
Sehun tidak menyangka Jongin akan marah karena perdebatan mereka. Yang jelas, Jongin pergi menaiki mobil meninggalkannya di cafe itu sendiri. Membiarkannya menjadi objek dari seluruh pengunjung cafe yang penasaran.
Jongin melajukan mobilnya dengan marah. Dia tidak habis pikir bahwa pemikiran Sehun seperti itu. Kekasih, kekasih, kekasih. Lalu apa arti sahabat di matanya? Apa arti dirinya yang selalu ada di saat namja yang selalu terlihat dingin di depan semua orang yang tidak dekat dengannya itu menangis?
Hanya Jongin yang pernah dan bisa melihat Sehun menangis.
Tepat saat ia sampai di rumahnya, smartphone-nya berbunyi. Panggilan masuk dari XiaoXiao alias Luhan. Jongin mengangkat panggilan itu tanpa banyak berpikir.
"Kai, apa kabar?"
"Baik." Jongin mencoba menjawab dengan biasa. "Sudah tiga hari kita tidak mengobrol, ya?"
"Hum. Makanya aku merindukanmu." Suara manis Luhan membelai pendengarannya. "Tadinya aku mau mencari obrolan lain. Tapi kurasa kau sedang butuh sesuatu."
Jongin mendudukkan tubuhnya di sofa dan bersandar. "Aku butuh sekali, XiaoXiao."
"Sebenarnya aku mengharapkanmu ada disini, Kai." Luhan memulainya dengan bisikan.
Jongin memejamkan matanya mencoba menikmati.
"Coba tebak aku sedang memakai baju berwarna apa?"
"Eum, merah?" Jongin menjawab asal.
Lalu terdengar kekehan lembut dari sebrang sana. "Sayangnya hari ini panas, jadi aku tidak memakai apapun."
Jongin mulai mengusap kejantanannya yang tertutup oleh celana.
"Biasanya mandi menyenangkan, tapi lebih menyenangkan lagi jika aku bermandikan peluhmu."
Jongin memang jarang menjawab dan membiarkan Luhan yang bekerja.
"Aku membayangkan bibirmu ada di dadaku. Lalu menjilatnya, menggigit putingku dan menghisapnya... ah, itu sangat nikmat Kai. Boleh aku membuka celanamu?"
"Please, XiaoXiao..." sesuai dengan ucapan itu, Jongin menurunkan resletingnya sendiri.
"Ah, aku tidak yakin bisa menghisapnya. Kau merasakan aku sedang memijat kejantananmu, bukan?"
"Hm..."
"Owh, Kai, kau mulai mengeras. Aku tidak sabar untuk merasakannya di dalamku."
Jongin masih memejamkan matanya sambil mengurut juniornya yang ia tarik keluar dari celananya.
Plop!
"Umh~ Kai, aku kesulitan untuk memasukannya ke dalam mulutku..."
"Basahi saja..." bisik Jongin dengan napas tertahan.
"Mnh... mm~ apa ini cukup?"
"Hm..." lagi-lagi Jongin membalasnya begitu singkat.
Lalu terdengar suara ranjang berdecit sebelum Luhan melenguh. "A-ah, Kai. Aku kesulitan memasukkannya..."
Jongin menggeram rendah lalu meremas juniornya sendiri.
"Akh! K-Kai!" Luhan mendesah cukup keras. "B-besar sekali... ahh,"
Fantasi Jongin bermain, membayangkan bahwa ia tengah menyetubuhi Luhan dengan kasar. Apalagi bayangannya terasa lebih nyata karena ia sudah mengetahui wajah Luhan.
"Kai... aah, l-lakukan dengan keras..."
"Nhh..."
"Juniormu besar sekali... ah! Tekan disitu~ ahh Kai.. ungh~"
Jongin mengocok juniornya dan semakin bersemangat karena rangsangan itu. Dia menggigit bibir bawahnya saat mempercepat tempo.
"Oh, yes! Ah~! Kai... tekan lagi disit—ah! Oh God~ anh..."
Jari Jongin semakin lincah bermain dengan miliknya sendiri. Jongin menengadahkan kepalanya, dan berusaha untuk tetap mempertahakan smartphone di telinga yang ia pegang dengan tangan kirinya.
"Ahh, Kai... aku mau k-keluar... ahh bisa kau lihat juniorku yang memerah? Aahh..."
"Yes, Xiao... uhh... move fast..."
"Kai! Don't too rough... akh! Ah god~! Kai angh~."
"Moans my name." Jongin mengurut kejantanannya keras lalu mengocoknya lagi. "Say it loud!"
"Like that! Oh my! Aaah harder! Fuck me harder, Kai! Ah ah~!"
Jongin menggeram rendah dan masih mengocok juniornya.
"Kai! Here is... ahh! I'm—aaahh~!"
Lengkingan kepuasan dari ujung telepon menyudahi perbuatan Jongin saat hasratnya memuncrat keluar. Jongin menggeram puas sambil mencoba mengeluarkan seluruh spermanya.
"Unghh... hhh..."
Ada beberapa detik terdengar saat keduanya mencoba mengatur napas.
"Kai? Hh... Baby..."
"Hm?" Jongin membuka matanya. "Kau hebat, XiaoXiao."
"Kau menikmatinya?"
"Selalu." Jongin menjilat bibir bawahnya dan memperhatikan cairan putih yang membasahi celana dan beberapa bagian sofa. "Akan lebih menikmatinya untuk melakukan langsung."
"Aku ada di apartemen jika kau butuh."
"Bagaimana dengan Sehun?"
"Kupastikan dia tidak akan datang."
"Baguslah." Jongin berdiri dan berlari menuju kamarnya.
"Jadi...?"
Jongin membuka lemari pakaian dan mengganti celana maupun kaosnya. Lalu ia melirik jam dinding, sebelum kembali ke bawah lalu keluar dari rumah.
"Aku akan ada disana dalam limabelas menit. Persiapkan dirimu."
Saat sambungan telepon terputus, Jongin melajukan mobilnya dengan sangat cepat menuju apartemen tujuannya. Nafsu sudah menyelubunginya. Dan menyetubuhi Luhan mungkin akan sangat menyenangkan dan membuat pikirannya lupa akan perdebatannya dengan Sehun.
Benar saja, limabelas menit kemudian Jongin sudah memarkirkan mobilnya di basement. Lalu ia menuju lift, mencapai lantai 15 dan menuju apartemen nomor 769. Ia tidak berpikir dua kali untuk masuk tanpa mengetuk pintu. Di dalam sana sepi, Jongin dengan cepat masuk ke dalam kamar.
Disana Luhan duduk dengan paha yang terbuka lebar, dan memadanganya dengan penuh nafsu. Oh, melihat Luhan telanjang untuk pertama kalinya membuat Jongin segera menyambarnya.
Tidak ada awalan ciuman lembut, semuanya bermulai dengan penuh nafsu. Tangan Jongin menggerayangi tubuh polos itu. Luhan melingkarkan tangannya di leher Jongin, meraba tengkuknya lalu meremas helaian rambutnya. Dan Luhan sedikit berjengit dalam ciuman ketika tangan Jongin menemukan kejantanannya lalu meremasnya kuat.
"Mngh!"
Jongin suka dengan erangan itu. Maka Jongin segera melancarkan tangannya untuk mengocok junior Luhan.
Luhan tidak bisa leluasa mendesah karena Jongin menahannya lagi dan lagi. Lidah Jongin berhasil bergerilya di dalam mulutnya, menghisap lidahnya kuat lalu menjelajahi seluruh rongganya.
Gerakan Jongin pada tangan yang mengocok junior itu bertambah cepat. Dan Jongin menyeringai puas saat Luhan tidak bisa menahan hasratnya keluar. Jongin melepaskan ciumannya lalu menjilat bibir Luhan walaupun saliva mereka bersatu di permukaan bibir keduanya.
"Kau yakin Sehun tidak akan datang?"
Luhan mengangguk dengan wajah sayu.
Merasa celananya menyempit, Jongin membuka resleting lalu berpikir untuk membuka seluruh celananya dan membiarkan bagian bawahnya tidak tertutup selembar benangpun. Jongin meraih juniornya dan mengarahkannya pada mulut Luhan.
"Aku ingin merasakannya lebih nyata, XiaoBaby."
Dengan senang hati Luhan melahap junior yang berukuran besar itu dan mengemutnya seperti orang kelaparan. Jongin menengadahkan kepalanya dan tangannya berada di kepala Luhan, mendorongnya untuk lebih. Luhan meraih twinsball miliknya dan meremasnya kuat, kemudian menggerakkan junior di dalam mulutnya.
"Umh... mnh..."
Plop! Plop!
Tidak ada suara yang lebih indah selain saat bercinta.
Bercinta? Oh, mari kita tarik kembali asumsi itu. Melakukan seks lebih tepatnya karena tidak ada cinta disini—well, setidaknya begitu.
Jongin menarik dirinya saat ia merasa miliknya berkedut. Luhan merengut kecewa tapi Jongin memberikannya yang lebih berarti.
Jleb!
"Anghh~!"
Lengkingan itu muncul seketika saat Jongin memasukkan miliknya ke dalam rektum milik Luhan tanpa izin. Luhan meremas rambut Jongin kuat ketika Jongin meremas pinggangnya lalu menghentakkan pinggulnya agar juniornya semakin masuk.
"Ukh..."
Jongin menarik kaki kanan Luhan terlebih dahulu ke atas bahunya, disusul oleh kaki kiri. Lalu tangannya kembali pada pinggang Luhan.
"Xiao..." bisik Jongin.
Luhan memejamkan matanya. Wajahnya memerah dan tangannya berada pada seprai sekarang.
"Move it now, Kai! Ah, please..."
Mendengar persetujuan, Jongin mulai menggerakkan pinggulnya tanpa memulai tempo rendah. Gerakan cepat adalah favoritnya dan hal itu membuat Luhan mendesah dalam nikmat. Walau menyakitkan, Luhan menikmatinya. Apalagi ketika Jongin menghentakkan pinggulnya dan membuat kepala junior itu mengenai titik di dalam rektumnya.
"Agh! K-Kai..."
"Ngh..." Jongin menggeram dan menatap pekerjaannya. "say it again."
"Kai! Ahh harder!" Luhan menjerit nikmat seiring dengan pergerakan Jongin yang semakin kasar.
Jongin menarik tubuhnya, menyisakan kepala junior pada rektum Luhan, dan kemudian menghentakkannya keras hingga punggung Luhan melengkung menerimanya. Jongin melakukannya lagi sebelum menggerakkan pinggulnya kasar berulang kali.
"Xiao... shit! This is so good! Mnh..."
Luhan meremas seprai sangat kuat dan menggigit bibirnya untuk meluapkan sakit. "Yes! Ahh! M-more! Kai ahh... anhh..."
Jongin suka dengan semua desahan itu. Dia mendekat dan menjilat bibir Luhan, lalu kembali fokus dengan pergerakkannya yang semakin cepat.
Tak lama setelah itu, Luhan mengangkat sedikit tubuhnya saat juniornya yang tegang itu menyemburkan hasrat kepuasan. Sialnya cairan itu mengotori kaos yang Jongin kenakan. Tapi Jongin tidak peduli, dan memilih untuk menggeram nikmat saat ia menghentakkan keras dan akhirnya menyemburkan cairan itu di dalam Luhan.
Keduanya mencoba untuk mengatur napas. Jongin mulai menurukan kedua kaki Luhan dari bahunya lalu menatap Luhan yang membuka matanya perlahan.
"Kau menyukainya?" bisik Luhan.
Jongin mengukir setipis senyum sambil mencium bibir Luhan.
"Kenapa tidak jadikan ini seterusnya?"
Jongin menarik dirinya dan turun dari ranjang. "Maksudmu?"
Luhan mendudukkan tubuhnya perlahan dan memperhatikan bagaimana Jongin mengenakan kembali celananya yang tercecer di lantai. "Aku bisa... memutuskan Sehun dan menjalin hubungan denganmu."
Jongin berbalik lalu menatap Luhan.
.
.
.
.
Makasih untuk yang suka ff ini X3
Ya ampun seneng bangeeeet, makasih reviewnyaaa
Maaf bener bener belum bisa balas karena saya super sibuk, sampai sampai hari kamis aja ga post ff :(
Sediiih, terllu sibuuuk
Maaf yaaaaaaaa
Ditunggu reviewnyaaaaaa :D tolong berhenti jadi siders pleaseee
FB: Yuri Mamasochist
Twitter : littlerape
