Chapter 4

.

.

Sinfully Delicious

A Drama Fanfiction

.:o Yuri Masochist Presents o:.

"I'm a sinner, because you are my delicious sins"

A complicated story of Sehun-Kai-Luhan

.

.

.

"Kenapa tidak jadikan ini seterusnya?"

Jongin menarik dirinya dan turun dari ranjang. "Maksudmu?"

Luhan mendudukkan tubuhnya perlahan dan memperhatikan bagaimana Jongin mengenakan kembali celananya yang tercecer di lantai. "Aku bisa... memutuskan Sehun dan menjalin hubungan denganmu."

Jongin berbalik lalu menatap Luhan. Terdiam sebentar sebelum berjalan ke arah meja dimana kotak tisu berada. "Jangan bercanda."

"Aku serius." Katanya. "Entah mengapa aku lebih nyaman bersamamu."

"Sehun tidak memberimu kepuasan?" tanya Jongin sambil meraih beberapa lembar tisu lalu mencoba membersihkan cairan di kaosnya. "Atau—"

"Mungkin aku mencintaimu."

Jongin mendecih. "Bodoh."

Luhan mengatupkan bibirnya sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh bagian bawahnya.

"Sehun mencintaimu." Lalu berbalik. "Kau ingin melakukan seks denganku setiap waktu? Kita bisa melakukannya, tapi tetapkan hubunganmu dengan Sehun."

"Akan lebih mudah jika—"

"Kau putus dengannya lalu kita berpacaran? Tidakkah kau berpikir apa yang akan terjadi setelah itu? Sehun bisa bunuh diri."

Luhan menggigit bibirnya yang sudah terluka.

"Jangan pikirkan tentang suatu hubungan. Kita bisa melakukan seks sepanjang waktu tanpa memiliki ikatan."

Luhan masih diam. Jongin mendekatinya.

"Lakukan seperti biasanya. Kau butuh, telepon aku. Aku butuh, aku akan menelponmu. Dan semuanya selesai. Bahkan ini lebih menarik karena kita tidak melakukannya lewat telepon."

Namja cantik itu menarik napasnya kemudian. "Baiklah."

Jongin tersenyum simpul.

"Tapi... apa kau tidak keberatan? Apa ada orang yang kau suka atau—"

"Sejujurnya aku tidak terlalu suka terikat. Tapi ada saatnya aku membutuhkan itu."

Agak bingung dengan kalimatnya, tapi Luhan tidak memilih untuk bertanya.

"Aku harus menemui Sehun."

Luhan agak berjengit dari posisinya. "Untuk?!"

"Tenang saja." Jongin terkekeh. "Aku hanya mau meminta maaf karena tadi aku membuatnya kesal. Tidak ada sangkutpautnya denganmu." Bohong.

Luhan mencoba untuk tenang.

"Kau istirahat saja, ya?"

Luhan mengangguk perlahan.

"Baiklah." Jongin mencium bibir Luhan lembut. "Jaga dirimu."

Wajah Luhan bersemu merah. Ia mengangguk dan memperhatikan saat Jongin keluar dari kamarnya.

Jantung Luhan berdegup cukup kencang.

Jongin keluar dari apartemen Luhan dan segera menuju lift yang membawanya ke lantai 11. Jongin berharap Sehun sudah pulang dari cafe. Dan ia bisa bersorak saat membuka pintu yang tidak terkunci itu.

"Jongin?" Sehun yang duduk sambil menonton televisi terkesiap. "Kenapa kemari?"

"Aku biasa masuk tanpa mengetuk, apa kau keberatan?"

"Bukan itu." Sehun mendesah. "Kukira kau—"

"Marah?" Jongin menutup pintu sebelum menghampiri Sehun. "Tidak. Aku hanya kesal."

"Hm." Sehun mengalihkan pandangannya kembali pada televisi sambil mengganti channel. Sehun selalu tidak mau menjadi pihak yang salah. "Kau mengaku salah, eh?"

Jongin memutar kedua bolamatanya dan mengalah saja. "Iya. So, maafkan aku."

Sehun menjawabnya dengan gumaman tidak jelas sambil mengganti-ganti channel karena tidak menemukan sesuatu yang menarik.

"Kau harus menebusnya."

"Dengan?" Jongin mengangkat satu alisnya dan berharap Sehun tidak menjawab dengan seks.

Sehun mematikan televisi lalu menatapnya. "Bubble tea? Kau harus menratkirku banyak hal, termasuk membelikan aku sepatu baru."

Jongin hampir tidak bisa menahan tawanya mendengar permintaan itu. Demi Tuhan! Ia menemukan kembali sosok Sehun yang dirindukannya.

"Kenapa tertawa?"

Jongin menutup mulutnya. "Apa yang kau tunggu? Cepat bersiap."

Sehun melonjak girang lalu masuk ke dalam kamarnya. Jongin hanya menggeleng melihat kelakukan sahabatnya yang terlihat masih seperti anak kecil itu.

].o-o.[

Ini hampir melelahkan tapi semuanya tidak terasa saat melakukannya dengan Sehun. Jongin tertawa karena lelucon Sehun yang tidak nyambung—ditambah dengan aksennya yang cadel menambah kesan lucu disana. Setelah menghabiskan banyak waktu di mall—membeli sepatu, bubble tea, ransel dan beberapa aksesoris—mereka berniat untuk mencari makan. Sehun merengek ingin mencoba sesuatu yang lain yang tidak bisa ditemukan pada tempat umumnya, jadi sekarang mereka tengah berada di mobil untuk mencari tempat itu.

"Sudah hampir satu jam kita berkeliling. Aku sudah sangat lapar, Cadel!"

Sehun melipat kedua tangannya dan menatap Jongin yang duduk di depan kemudi. "Jangan mengeluh, Bodoh! Hari ini kau supirku dan aku majikanmu! Turuti saja yang aku ucapkan!"

Jongin tertawa. "Aku bisa menurunkanmu disini, Tuan." candanya.

Sehun melotot. "Awas kalau kau berani! Kau tahu aku tidak bawa dompetku, bukan?!"

"Itu akan menyenangkan melihatmu luntang-lantung di jalan tanpa tujuan."

Sehun mencubit lengan Jongin dan membuatnya meringis lalu tertawa lebih keras.

"Kau ingin aku menendang bokongmu?"

"Atau kau ingin aku memasukkan penisku?" Jongin tertawa puas melihat Sehun tergelak karena candaan itu.

Sehun menjitak kepala Jongin. "Kupikir kita sudah tidak membicarakan tentang seks karena siang tadi."

"Aku tahu kau tidak akan tahan."

Namja cadel itu memutar kedua bolamatanya sebelum menyerongkan posisi duduknya. "Biarkan aku yang menyetir."

"Tidak mau."

"Yah!" Sehun mengerucutkan bibirnya. "Kkamjong Bodoh daritadi hanya berputar-putar, padahal bilang sudah lapar."

"Ini sudah melewati jam makan malamku." Jongin terkekeh. "Sekarang sudah pukul sembilan."

"Maka dari itu biarkan aku menyetir!"

"Menyetir berdua saja bagaimana?" Jongin meliriknya dan mengangkat alis. "Mau tidak?"

"Itu ide buruk."

Jongin menepuk pahanya. "Tidak akan ada polisi. Ini bukan pusat kota. Kau bilang ingin mencari makanan aneh bukan? Kita sudah menjauh dari pusat kota sejak tadi."

Sehun sendiri baru sadar bahwa jalanan ini tidak terlalu ramai.

"Sebelum aku berubah pikiran."

Walau mendengus, namun Sehun tetap berpindah duduk ke pangkuan Jongin dengan hati-hati—menjaga agar tidak menghalangi pandangan Jongin.

"Kau berat." canda Jongin.

"Aku akan membunuhmu, Kim Jongin."

"Setelah ini, okay?" Jongin mengecup bibir Sehun kilat. "Bisa kau lepaskan itu?"

Mata Sehun melirik ke bawah—tepatnya ke arah celana Jongin. Jarinya segera menurunkan celananya sendiri sampai sebatas lutut dan membiar tubuh bagian bawahnya terekspos. Lalu ia menurunkan resleting celana Jongin dan meraih juniornya keluar.

"Kau menghalangi, Hun."

"Shut up!" Sehun menggeser sedikit posisinya sehingga mempermudah Jongin untuk menatap jalan melewati bahu Sehun.

"Pada akhirnya kau menyerahkan diri untuk dimasuki lagi."

Wajah Sehun bersemu samar. Dia memukul kepala Jongin dan membuat si empunya megaduh kesakitan.

"Diam saja atau aku akan menaikkan celanaku kembali."

Jongin tertawa sambil meminta maaf berulang kali.

Sehun mulai memijat kejantanan Jongin dengan lembut, lalu menaikkan temponya. Jongin menggeram pelan sambil meremas kuat stirnya.

"Kita menepi?"

"Jangan. Ini menyenangkan." Sehun menyeringai sambil menggigit bibir Jongin. Lalu mempercepat temponya mengocok junior Jongin dan membuatnya menegang. "Aku mulai basah, Jong..."

"Masukkan saja."

Sehun menggigit bibirnya sendiri sambil mengangkat tubuhnya dan mengarahkan junior milik Jongin tepat di hadapan hole-nya. Begitu menyenangkan melihat Sehun kembali seperti ini. Jongin menggeram dan hampir menginjak rem saat Sehun menurukan tubuhnya hingga junior Jongin tertanam seluruhnya di dalam sana.

"Great! Uh!"

Sehun membuka mulutnya dan mendesah saat tubuhnya mulai bergerak naik turun. Jongin hampir hilang kendali atas mobilnya kalau saja ia tidak bisa membagi pekerjaannya. Jemari Jongin bergetar pada stir yang ia remas kuat. Gerakan Sehun cukup membuatnya menggila.

Namja di atasnya memejamkan mata sambil terus menggerakkan tubuhnya mencari kenikmatan. Satu tangan Jongin teralih pada paha Sehun. Ia meremaskanya kemudian menyelipkan tangan kebalik kaosnya.

Jongin hampir menabrak trotoar jika ia tidak segera fokus kembali.

"Angh... nhh..."

Desahan Sehun terdengar bagaikan melodi indah yang membuat Jongin melayang. Jongin menurunkan laju kecepatan mobilnya, lalu menghentakkan pinggulnya dan membuat Sehun mengerang.

"Kita harus menepi..." Jongin menggeram rendah lalu menghentakkan kembali pinggulnya.

Punggung Sehun melengkung sedikit karena pergerakan itu. Tapi Sehun menggeleng tidak setuju. Ia hanya menekankan satu telapak tangannya ke jendela, lalu meremas bahu Jongin dengan tangan lainnya. Sedangkan tubuhnya bergerak mulai cepat.

Jepitan dari rektum Sehun adalah yang terbaik bagi Jongin. Jongin mati-matian untuk tetap fokus dengan jalanan walau lagi-lagi jarinya bergetar.

"Buat ini cepat, Hun..."

Sehun mengangguk saja sambil menghentakkan tubuhnya sehingga junior Jongin menusuk pada sweetspotnya di dalam. Sehun mendesah lalu bergerak sangat cepat sampai Jongin meremas pingganya kuat.

"Hun..."

"Anh! Ah.. J-Jongin..."

Jongin melihat jalanan di depan kosong, jadi ia memejamkan matanya dan menetapkan laju kendaraan untuk tetap lurus. Sedangkan ia mencoba fokus untuk menuju klimaksnya. Gerakan Sehun terasa lebih menyenangkan saat Jongin juga ikut bergerak, menghentakkan pinggulnya berulang kali sampai membuat Sehun mencapai puncaknya.

"Jongin-aahh~!"

Desahan itu seakan membawa hasratnya semakin naik. Jongin mengambil alih dan mencoba untuk mencapai puncak, sampai pada hentakkan ke sekian ia berhasil mengeluarkan hasratnya di dalam tubuh itu.

Jongin buru-buru membuka matanya sambil mengatur napas.

"Gila..." bisik Jongin.

Sehun mencoba terkekeh dalam deru napasnya yang masih memburu. Ia menatap Jongin lalu mencium bibirnya cukup dalam. Tapi Jongin menarik kepalanya.

"Aku tidak mau mati."

"Kalau begitu kita bisa berhenti." kata Sehun.

Jongin menatapnya bingung.

"Tidak mungkin kita mencari tempat makan dan masuk kesana saat baju dan celanamu penuh sperma, Tolol!"

Jongin tertawa sambil menggigit bahu Sehun. "Ini karenamu!"

"Kau tidak bisa menyalahkan Tuan-mu." Sehun menjulurkan lidahnya. "Aku masih Tuan-mu untuk hari ini, Jongin Bodoh! Ini untuk permintaan maafmu!"

Jongin memutar mata. "Baik, Tuan." Lalu terkekeh.

"Okay, sekarang Tuan Oh memerintahkan pelayan pribadinya untuk menepikan mobil."

Jongin menatap jalanan. "Untuk?"

"Sedikit membuat jok belakang berantakan."

Permintaan itu membuat Jongin terkikik kecil sebelum menginjak rem dan menghentikan laju kendaraan. Ia mematikan mesin mobil kemudian menarik Sehun ke jok belakang.

"Tuan tidak bisa meminta berhenti setelah ini."

Sehun hanya tertawa saja saat Jongin kembali memanjakannya.

.

.

.

.

MAAAAF BANGEEEEET

First, maaf karena pendek, hehe ada kabar sedikit buruk, chap depan sudah END :'

Second, maaf lagi-lagi belum bales review. Ini udah jam satu dan saya telat parah :v saya usahakan balas lewat PM yaaaaaa maaf sekaliiii

Atau yang langsung balas-balasan review/? bisa di

FB: Yuri Mamasochist

Twitter : littlerape

SAYA CINTA KALIAN, BENERAN, MAKASIH KARENA SUKA FF INI :3

Nah, seeyou in the last chapie okay?

BIG THANKS FOR YOU ALL *ciumsatusatu*