Chapter 5
.
.
Sinfully Delicious
A Drama Fanfiction
.:o Yuri Masochist Presents o:.
"I'm a sinner, because you are my delicious sins"
A complicated story of Sehun-Kai-Luhan
.
.
.
Keesokan harinya, Luhan memilih untuk menemui Sehun di apartemennya karena ia sudah mencoba menghubunginya ratusan kali namun tidak ada jawaban. Setelah menyelesaikan kelasnya, Luhan bergegas menuju apartemen dan masuk ke dalam flat Sehun tanpa mengetuk pintu.
Luhan membayangkan Sehun pasti masih tidur, bermalas-malasan.
Dan benar saja apa yang ia perkirakan, karena saat ia membuka pintu kamar, Sehun masih tertidur di ranjangnya dalam keadaan topless.
Namun dengan seseorang.
"Kai?" Luhan buru-buru menutup mulutnya dengan kedua tangan, tepat saat kedua insan itu menggeliat dan terbangun.
"Ngh, Luhan?" Sehun mengerjapkan matanya lalu menguap.
Luhan tergapap sebentar saat memperhatikan Jongin bangun dan tampak begitu menggairahkan.
"Eung... Jongin menginap?"
"Ah," Sehun melirik Jongin di sampingnya dan mengangguk. "iya, kami bergadang semalaman untuk tugas." katanya dusta.
Sehun benar-benar bersyukur mereka mengenakan kembali celana setelah permainan gila yang berlanjut setelah dari mobil menuju kamar ini.
Jongin menguap dan merenggangkan tubuhnya. "Jam berapa ini?' katanya. Lalu turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi.
Luhan menahan sedikit sakit di hatinya saat Jongin sama sekali tidak menyapanya. Tapi hal ini memang harus disembunyikan agar tidak terbongkar.
"Sudah sarapan?" Luhan mengalihkan pandangannya pada Sehun dan tersenyum. "Kalau belum, akan kubuatkan. Sekalian untuk Jongin."
"Hum," Sehun mengangguk dan menguap lagi. "ada banyak bahan di lemari pendingin."
"Baiklah. Kau juga mandi dulu, sementara aku buatkan kalian sarapan. Euh, tepatnya makan siang."
Sehun terkekeh dan mengibaskan tangannya meminta Luhan pergi.
Namja bernotabene kekasih itu pergi melenggang keluar kamar kemudian.
Sehun merenggangkan tubuhnya dan memperhatikan jam dinding yang terarah pada pukul satu siang. Ia pun turun dari ranjang, lalu masuk ke dalam kamar mandi yang sama dengan Jongin.
Di dalam sana Jongin tengah mengguyur tubuhnya di bawah shower. Sehun sedikit mengukir senyum sambil melepaskan celananya lalu bergabung dengan Jongin.
"Kau tahu ini bahaya?" Jongin terkekeh saat Sehun memijat batang kejantanannya. "Kau mau kekasihmu tahu tentang semua ini?"
"Air ini meredam suara kita, Kkamjong." Sehun merapatkan tubuhnya pada Jongin hingga milik mereka bersentuhan.
"Hei, kau tidak pernah puas?"
"Aku hanya merindukanmu." Sehun menggigit dagu Jongin. "Alasan lain karena aku memang tidak pernah puas, kau benar."
Jongin terkekeh pelan sebelum mengulum bibir Sehun dengan bersemangat. Tangannya menggerayangi punggung Sehun lalu beralih ke arah pantatnya. Jongin meremasnya, membuat Sehun memperdalam ciuman itu.
Tangan Sehun mulai mengocok kejantanan Jongin perlahan. Meremasnya beberapa kali dengan tempo yang semakin bertambah. Sedangkan dua jari Jongin mulai terselip ke dalam hole Sehun, dan bertambah menjadi tiga.
Sehun menahan suara desahannya.
Jongin merasakan tangan Sehun melemas saat mengocok juniornya kala Jongin menggerakkan tiga jarinya liar di dalam sana. Jongin menyeringai dan menghisap lidah Sehun. Sedangkan ia menarik jarinya keluar, lalu mengaitkan kedua kaki Sehun di pinggang—menggendongnya—dan menghimpitnya ke dinding. Tangan Sehun beralih ke arah pipi Jongin, menangkupnya dan membuat ciuman itu semakin intens. Sehun sendiri mengangkat tubuhnya sedikit saat Jongin mengarahkan junior pada hole-nya, dan setelah itu menerobos masuk.
"Unghh!"
Sehun hampir saja melengkingkan nada tinggi kalau saja Jongin tidak melahap habis bibirnya. Jari namja putih bak albino itu berada pada bahu Jongin, lalu teralih lagi pada pipi dan kembali lagi ke bahu seiringan dengan pergerakan Jongin dalam rektumnya.
"Lakukan secepat mungkin." bisik Sehun. Oh, tentu saja ia tidak mau membuat Luhan curiga.
Jongin menurutnya saat ia menghentakkan pinggulnya kasar pada Sehun. Sehun menggeram, berusaha sekuat mungkin menahan desahannya. Dan lagi ketika Jongin bergerak dengan tempo cepat.
"Aah... yes..."
Menyenangkan sekali bercinta dengan sahabatnya, sedangkan kekasih Sehun sendiri berada di balik dinding berbeda dalam tempat itu. Jika ketahuan, efeknya pasti besar sekali.
Sehun sampai pada klimaksnya beberapa saat setelah Jongin menghujam titiknya habis-habisan. Sehun terengah, tapi Jongin segera menurunkan tubuhnya dan mengeluarkan miliknya.
"Selesaikan ini." bisik Jongin. Menyuruh Sehun berlutut dari pandangan matanya saat tangannya memijat juniornya yang sudah menggembung hampir mencapai puncaknya.
Kaki Sehun yang masih lemas ia paksa untuk berlutut. Jongin mempercepat pijatannya, dibantu dengan Sehun yang menggigit dan menjilat kepala juniornya. Sampai akhirnya, saat Jongin sampai, dia menyemburkan hasratnya pada wajah Sehun.
"Ah.. nhh!"
Mulut Sehun terbuka, berusaha mendapatkan cipratan dari cairan nikmat itu. Ia mendapatkan sebagian—karena lebih banyak membanjiri wajahnya—dan cukup memekik senang saat Jongin menyodorkan junior untuk dihisapnya, sekedar untuk menghabiskan.
Sehun mengemut junior itu tidak lama sampai Jongin menariknya berdiri.
"Sana bersihkan dirimu." kata Jongin dan menunjuk ke arah bathtub. "Aku harus kembali lebih dahulu agar Luhan tidak curiga."
Sehun mengangguk menyetujui dan beralih menuju bathtub lalu merendam tubuhnya. Sedangkan Jongin mengguyur kembali tubuhnya di bawah shower, mengenakan sabun dan setelah selesai ia keluar lebih dahulu.
Ini bukan pertama kalinya Jongin meminjam pakaian Sehun tanpa izin terlebih dahulu. Ia memilih kaos asal dan celana selutut dari lemari lalu mengenakannya. Rambutnya yang basah tidak ia sisir, terlihat acak-acakan namun itulah yang membuat Jongin terlihat seksi.
Sekiranya begitu pemikiran Luhan saat mendapati Jongin masuk ke dapur dan duduk di tepi meja.
"Apa yang kau buat?"
Wajah Luhan bersemu samar, dan mencoba mengalihkannya pada meja pantri hadapannya. "Japchae. Awalnya mau buat masakan cina, tapi tidak ada bahannya."
Jongin turun dari duduknya yang belum sampai satu menit lalu membuka lemari pendingin. Setelah meneliti, Jongin menemukan apel dan mengambil sebuah lalu menggigitnya langsung sambil menendang pintu lemari pendingin hingga menutup.
Tidak ada percakapan setelah itu. Jongin sibuk dengan apelnya dan Luhan dengan bahan di hadapannya. Tapi tubuh Luhan menegang saat memasak. Entah karena apa, yang pasti aliran tubuhnya seakan naik saat ada Jongin di sekelilingnya.
"Mau kubantu memasak?"
Luhan berharap kalimat itu berasal dari mulut Jongin, tapi ia sadar itu Sehun saat namja itu memeluknya dari belakang.
"Sehun, jangan mengganggu."
"Hm?" Sehun menyelipkan wajahnya di antara ceruk leher Luhan. "Aku tidak mengganggu." Bisiknya saat tangannya mengusap lembut perut Luhan yang terhalang apron dan pakaiannya.
"Nh, Sehun..." desahan itu muncul begitu saja saat Sehun menjilat permukaan lehernya dengan gerakan pelan. "B-berhentilah."
Sehun tidak menjawab melainkan menggigit kecil leher itu. Sedangkan tangannya mulai turun ke arah sesuatu yang masih terhalang oleh celana.
Jongin memutar keduabolamatanya sambil membuka lemari pendingin lagi.
"H-hentikan, ada Jongin..." bisik Luhan tertahan.
"Memangnya kenapa? Sahabatku itu tidak akan keberatan, iya 'kan Jonginie?"
Gumaman tidak jelas terdengar dari Jongin.
Tapi Luhan mencoba untuk menjauhkan Sehun darinya. "Ish! Sehun, berhenti..."
Sehun tertawa puas sambil menjauh dari Luhan. Luhan bisa menarik napas lega karena itu. Lalu Sehun menghampiri Jongin dan merebut apel lain yang baru diambilnya.
"Kau mau menghabiskan stok buah-buahanku lagi?"
Jongin menutup pintu lemari pendingin dan menginjak kaki Sehun. "Kau lupa siapa yang beli itu?"
Sehun mengangkat bahu tidak peduli sambil memakan apel di tangannya. Lalu ia bersenandung sambil duduk di salah satu kursi meja makan.
Luhan melirik sedikit ke belakang dan terkekeh. "Kalian lucu sekali."
"Apanya yang lucu?" Sehun mendelik. "Kami sering bertengkar."
Yang berkulit tan tidak ada niat untuk membalas ucapan itu saat ia duduk di samping Sehun.
Luhan menyelesaikan pekerjaannya dalam sepuluh menit kemudian. Dia membawa dua piring berisi japchae dan menaruhnya di meja. Sementara Luhan memilih untuk duduk di hadapan keduanya.
Okay, wajah Luhan memerah saat Jongin ada di hadapannya. Sedangkan Sehun menyantap makanannya cukup lahap. Dan Jongin, terkadang mendapati Luhan yang menatapnya.
Ini cukup rumit.
].o-o.[
Dengan segala bujuk rayunya, Luhan berhasil mengajak Jongin keluar untuk menemaninya semalaman. Tidak tahu kemana tujuannya, yang pasti kini mereka tengah berada di dalam mobil Jongin yang menepi di jalan sepi.
"Ini tempat pertama kita melakukan seks." gumam Luhan, membuka arah pembicaraan.
Jongin mengangguk beberapa kali.
"Menurutmu bagaimana rasanya?" Luhan menyerongkan posisi duduknya dan menatap Jongin di depan kemudi. "Saat pertama kali merasakan seks nyata denganku?"
"Itu menyenangkan." Jongin menerawang. "Karena kita membohongi Sehun untuk melakukannya."
Luhan terkekeh kecil lalu menjilat bibir bawahnya. Ia seperti seorang penggoda saat berhadapan dengan Jongin.
"Aku setuju." ujar Luhan. "Oh, ya, apa kau mau pergi berlibur berdua denganku?"
"Hm?" Jongin mengalihkan perhatiannya pada Luhan.
"Ke pula Jeju misalnya. Kita bisa berdua disana tanpa Sehun."
"Aku tidak mungkin meninggalkan bocah idiot itu sendirian di Seoul."
"Hanya beberapa hari." Luhan menyentuh tangan Jongin dan menatapnya dengan pandangan memohon. "Aku merasa nyaman denganmu."
"Tidak perlu pergi jauh untuk melakukan seks."
"Tapi disana lebih bebas." Luhan membelai lengan Jongin. "Kita tidak usah terburu-buru atau—"
"Sebelumnya aku sudah pernah bilang, saat kau ingin seks katakan saja. Aku ada untukmu."
Luhan menggigit bibir bawahnya seduktif. Apa ini nalurinya? Ia rasa ia sangat berbakat untuk menjadi seorang penggoda.
"Kalau aku minta untuk besok, lusa dan seterusnya?"
Jongin mengangkat alis. "Bisa saja asal Sehun tidak tahu."
Ekspresi Luhan sedikit berubah. "Aku inginkan kau seutuhnya, Kai."
"Sayangnya kau punya Sehun." Jongin menarik napas. "Sejujurnya aku tidak suka bertele-tele, XiaoXiao."
Luhan mengerti dan tidak ingin membuat Jongin kecewa, barang sedikitpun. Jadi dia mendekat untuk mencium Jongin, tapi namja itu menghindar.
"Kenapa?"
Jongin mulai menyalakan mobil dan melajukannya. "Kita cari hotel."
Senyum terkembang di bibir Luhan kala mendengarnya. Bahkan dalam perjalanan sekitar sepuluh menit dan mendapatkan hotel terdekat, mereka segera melakukan check in dan tidak bisa mengontrol saat memasuki lift untuk berciuman.
Tangan Jongin menggerayangi tubuh itu cukup nakal, begitupula dengan tangan Luhan sendiri.
Sesampainya mereka di kamar, Jongin membuka pintu dengan kunci dalam keadaan tergesa, masih berciuman dengan Luhan. Lalu ia mendorong tubuhnya dan tubuh Luhan masuk dan menutup pintu. Dalam posisi berciuman itu, Luhan berusaha melepaskan kemeja yang melekat pada tubuh Jongin, lalu melemparnya. Tak butuh waktu lama, seluruh materi dari tubuh keduanya sudah berceceran di lantai, sementara Jongin menindih tubuh Luhan di atas ranjang.
Luhan melebarkan kakinya sambil menekan tengkuk Jongin agar memperdalam ciumannya. Dan ia tidak menyangka saat Jongin menyelipkan kedua jarinya ke dalam hole.
"Mnh..."
Desahan Luhan lolos keluar karena Jongin melepaskan ciuman itu. Luhan meremas rambutnya dengan satu tangan dan mencoba menatap Jongin.
"K-Kai..."
"Yes, XiaoBaby?" Jongin menghentakkan jarinya sebelum memasukkan dua lagi. "Does it feel good?"
Luhan mengangguk dengan wajah yang sepenuhnya memerah, bak artis porno yang meminta disetubuhi dengan sangat kasar. Bahkan desahan tertahannya terkadang terdengar seperti seekor kucing kecil.
Jongin menyeringai sambil menggerakkan empat jarinya cukup kasar di dalam sana. Sedangkan ia menyuruh Luhan untuk memanjakan kejantanannya sendiri.
"Aku ingin melihat kau menyentuh tubuhmu."
Tangan Luhan perlahan menggenggam juniornya sendiri lalu mengurutnya. Sedangkan tubuhnya kadang tersentak tatkala hentakan dari jemari Jongin di dalam rektumnya.
"Shit! You look so fuckable..."
Luhan bangga dengan pujian itu dan bersumpah bahwa ia sangat tidak mau membuat Jongin kecewa. Luhan mulai mengocok juniornya sendiri, membuat Jongin semakin bergairah saat menggerakan jarinya keluar masuk.
"A-ah.. Kai..."
"Enough." Jongin menarik jarinya sendiri lalu merendahkan wajahnya dan menjilat manhole Luhan. "I want to fuck you, now."
"Please..." Luhan memandangnya sayu dan semakin melebarkan kakinya. Jarinya mencoba meleberakan hole-nya, menunjukkannya pada Jongin.
Jongin suka dengan semua ini. Dia meraih pinggang Luhan lalu memasukkan juniornya secara kasar ke dalam rektum Luhan. Tidak peduli saat pemuda manis itu menjerit kesakitan, tapi menginginkan. Jongin menghentakkan pinggulnya agar semakin masuk.
"Ahh!"
Jongin menyeringai dan mulai menggerakkan pinggulnya. Wajah Luhan di bawahnya mendesahkan namanya dengan mata yang sayu. Jongin mengakui bahwa ia sangat menikmatinya.
Lalu Jongin menghentakkan pinggulnya berkali-kali sampai Luhan berhasil menuju puncaknya. Dalam kondisi mencoba untuk mengatur napas, desahan itu masih seringkali keluar karena Jongin masih bergerak dan belum selesai.
"Ungh... Kai, ah!"
Jongin menggeram rendah saat seluruh hasratnya keluar di dalam tubuh Luhan.
"Aku... hh... membutuhkanmu setiap hari, Kai."
Jongin tidak menjawab melainkan melepaskan tubuhnya dari Luhan. Luhan menatapnya bingung sampai ia mengerti saat Jongin mencari celananya dan meraih smartphone-nya yang berbunyi. Tapi tidak sampai ia angkat saat panggilan itu karena lebih dahulu terputus.
"Siapa itu?" Mungkin Luhan memang tidak punya hak untuk bertanya, tapi ia takutkan seseorang yang—
"Sehun."
—ada dipikirannya.
Luhan menarik napas, tepat saat Jongin kembali ke atas ranjang sambil membawa smartphone-nya. Ia melemparnya ke sisi kosong ranjang lalu mencium Luhan cukup liar.
"Ambil kendali." bisiknya.
Luhan mengangguk pelan dan pasrah saja saat Jongin membalikkan posisi mereka. Mencoba untuk menyeimbangi pergulatan lidahnya dengan Jongin, Luhan memijat junior namja tan itu untuk membuatnya menegang kembali.
Lalu Luhan mengarahkan junior Jongin pada lubangnya, dan setelah itu menurunkana tubuhnya agak kasar sehingga kejantanan itu kembali tertanam disana.
"Good, hh.." Jongin meraba perut ramping Luhan. "Then, move it."
Ia gigit bibirnya keras saat mencoba bergerak, merasakan tubuhnya mengapit kuat kejantanan Jongin di dalam sana. Sedangkan tangannya berada di permukaan dada namja berkulit tan itu.
"Ahh... ahn..."
Sibuk dengan pergerakannya, Luhan baru sadar bahwa smartphone Jongin kembali berdering. Dan hal yang membuat ia melebarkan matanya adalah pada saat Jongin dengan santainya menerima panggilan itu.
"Ada apa Sehun?"
Luhan menahan desahannya dan berhenti bergerak, tapi Jongin menampar pahanya.
Plak!
"Bukan suara apa-apa Sehun. Kenapa kau menghubungiku?"
Luhan tidak bergerak tapi hal itu membuat Jongin kembali memukulnya. Luhan tidak tahu apa yang ada di pikiran Jongin. Bagaimana jika Sehun mendengar semua desahan mereka.
"Move it, Xiao." kata Jongin pada LUhan.
Mata Luhan membulat semakin lebar.
Jongin melirik Luhan yang masih terdiam. "Oh, aku sedang bercinta, Sehun-ah. Kenapa?"
Jujur saja jantung Luhan berdegup sangat kencang karena takut.
"Dengan kucing manis yang nakal. Jangan mengganggu, Bodoh." kata Kai lagi pada Sehun di sebrang sana.
Tangan Luhan terasa dingin memperhatikan Jongin dengan Sehun pada sambungan telepon itu.
"Aku kembali besok. Percuma mencariku. Okay? Aku butuh bersenang-senang."
Lalu—tutt!
Saat telepon terputus, Luhan hendak untuk bertanya pada Jongin—bahkan hampir membentak. Tapi ia urungkan niatnya saat Jongin memutar kembali posisinya, kemudian menarik juniornya keluar dan memaksa Luhan untuk menungging di depannya.
"Aku sudah bilang untuk bergerak, bukan?!"
Jleb!
"Akhh!"
Luhan kira Jongin adalah satu-satunya orang yang bisa melakukan seks secara halus dengannya, setelah ia mendapati bahwa Sehun tidak bisa melakukannya. Tapi saat Jongin menghujamkan miliknya secara kasar menembus dinding-dinding hangat itu, lengkingan Luhan mengartikan semua rasa sakit itu.
"K-Kai.. akh! Sakit..."
Jongin tidak peduli dengan rintihan itu. Dia meremas bongkahan pantat milik Luhan untuk mempermudah pergerakkan kasarnya. Dan semua rintihan itu terdengar bagai melodi indah, ditambah dengan nada dering smartphonenya yang kembali berbunyi saat Sehun menghubunginya lagi.
Jongin benar-benar sedang berada di mood yang kurang baik.
].o-o.[
Mereka check out lebih dahulu daripada waktunya. Luhan menolak untuk pulang bersama dengan Jongin menaiki mobilnya, ia hanya meminimalisir seluruh kemungkinan karena tempat tinggalnya berada satu gedung dengan tempat tinggal Sehun.
Jadi Luhan menaiki taksi dan sampai di apartemennya pada pukul sembilan lagi. Dan tidak menyangka saat ia menemukan Sehun di depan pintunya.
"Sehun... sejak kapan?"
Sehun tidak menjawab, melainkan memerintah Luhan melalui sorot matanya untuk membuka pintu. Dengan perasaan cemas, Luhan mengeluarkan kunci dari dalam saku celananya dan kemudian membuka pintu. Sehun segera mendorongnya masuk dan menutup pintunya.
"Darimana saja kau?"
Luhan tergapap karena tidak memiliki persiapan untuk menjawab. Sedangkan Sehun menatapnya tajam sambil menunggu.
"R-rumah Minseok karena—"
"Oh, ya? Aku menghubungi Minseok dan Joonmyun kemarin malam dan mengatakan bahwa mereka bahkan belum bertemu denganmu dalam tiga hari."
Luhan menelan ludahnya paksa.
"Dan kenapa kau mematikan teleponmu?"
"Bateraiku habis, Sehun." Luhan mencicit pelan. Ia hendak berbalik untuk menjauhi keadaan ini tapi tangan Sehun menahannya, meremas pergelangan tangan itu kasar. "L-lepaskan tanganku. Itu sakit."
Sehun mengeraskan rahangnya, mencoba untuk memperbaiki emosinya. "Kau dan Jongin hilang semalaman."
Jika Sehun tidak bersama Luhan, berarti ia sedang bersama Jongin. Dan mendapati keduanya tidak bisa ditemukan tadi malam membuat Sehun mengambil sebuah kesimpulan cepat.
"Kau tampak gugup saat kukenalkan pada Jongin."
Mata Luhan membulat. "Aku tidak—"
"Apa?" Sehun mencengkram dagunya keras. "Apa pembelaanmu?"
"Sehun!" Kedua bolamata itu bergetar. Luhan menepis tangan Sehun kasar. "Ada apa denganmu?!"
"Aku tahu kau berselingkuh!"
Deg!
Luhan menggeleng beberapa kali, tidak sampai Sehun kembali mencengkram dagunya.
"Oh, lalu bukti yang aku dapat minggu kemarin, apa itu? Kau tertangkap basah habis bercinta dengan seseorang!" Sehun menatapnya dari dekat dengan tajam. "Dan aku perkirakan orang itu adalah sahabatku sendiri!"
"Sehun!" Luhan menagis, apalagi ketika Sehun mendorong tubuhnya hingga terjerambab di lantai. "Kenapa—"
"Apa? Alasan apa lagi?!"
"Kami tidak ada hubungan..." Luhan berusaha untuk tidak terisak dan terlihat lemah.
"Memang tidak ada, tapi kalian melakukan seks diluar pengetahuanku, bukan?"
Luhan menggeleng dan menutup mulutnya agar isakannya tidak terdengar. Sehun menggeram marah lalu menendang beberapa benda di sekitarnya sebelum berjongkok dan menarik kasar rambut Luhan.
"Katakan, sejak kapan kalian melakukan ini?"
Luhan menggeleng lagi berkali-kali tanpa bisa menghentikan laju air matanya yang semakin deras.
"Katakan!" bentak Sehun.
"Tidak, Sehun! Aku dan Jongin tidak—"
Plak!
"Brengsek!"
Setelah menamparnya, Sehun mendorong kasar tubuh Luhan hingga membentur lantai. Sehun berdiri dan menggeram marah. Tangannya mengacak rambutnya frustasi. Lalu ia berjalan mondar-mandir di dekat Luhan yang menangis terisak di lantai.
"Aku—fuck! Aku mencintaimu, Luhan!"
Namja cantik itu masih menangis.
"Bahkan aku berencana... membawa hubungan kita lebih serius." Ada desahan kecewa yang terdengar saat Sehun menundukkan wajahnya. "Aku ingin menikahimu."
Ada perasaan bersalah yang sangat besar di hati Luhan saat mendengar pengakuan itu. Isakannya mengeras. Luhan mengutuk dirinya sendiri karena melakukan kesalahan ini. Tapi mau bagaimana lagi? Luhan tidak tahu bagaimana caranya untuk lepas dari jeratan Jongin. Luhan sendiri tidak mengerti mengapa dirinya merasa lebih nyaman bersama Jongin.
"Kau menyakitiku, Luhan... kau..."
Sehun menggantung kalimatnya dan menggigit bibirnya keras. Dia meremas kepalanya keras, meluapkan kemarahannya dengan geraman.
Sampai pada saat pintu terbuka, menampilkan sosok Jongin berdiri disana.
Sehun dan Luhan refleks mengalihkan perhatian mereka.
"Sudah kukira kau disini, Sehun." kata Jongin.
Mata itu seperti berkilat amarah saat melihat sosoknya. Sehun segera menerjang Jongin dan menonjok rahangnya, membuat Jongin tersungkur dengan rintihan kecil. Sehun menarik kerah baju dari balik jaket yang Jongin kenakan lalu memukulnya lagi.
Buagh!
"Brengsek! Kau merebut kekasihku! Brengsek kau Kim Jongin!"
Ada beberapa pukulan lagi yang Sehun berikan, dan berhenti saat Jongin menahan tangannya lalu, mendorong Sehun menjauh darinya.
Luhan mengusap kasar airmata di wajahnya dan mencoba berdiri, menatap dua namja lainnya di ruangan itu.
"Sehun... maafkan aku..."
Suara parau itu menarik perhatian Sehun.
"Jangan salahkan Jongin. Ini salahku." Luhan terisak lagi. "Maaf karena aku mencintai Jongin sekarang."
Rasanya terlalu sakit untuk di dengar. Sehun tidak tahu apa yang Jongin lakukan sehingga merebut kekasihnya selama satu tahun terakhir ini. Hendak ia memukul Jongin lagi, namun Luhan menahannya.
"Sehun! Berhenti! Kau bisa menyalahkanku, bukan Jongin!"
Ingin Sehun mencabik sahabatnya sendiri dalam keadaan seperti ini.
"Tapi, maaf saja, Luhan, aku tidak mencintaimu."
Deg!
Luhan tahu dan rasanya menyakitkan. Tapi—
"Kau itu hanya pelampiasan, kau tahu?"
Deg!
Rasa sakit itu menjadi dua kali lipat.
Bibir Luhan bergetar, menahan seluruh gejolak rasa sakit di hatinya. Sehun sendiri ikut tersakiti dengan pengakuan itu.
"Kita hanya sex-phone-partner, tidak lebih." kata Jongin tenang, lalu menatap Sehun. "Aku sendiri tidak menyangka bahwa partnerku selama ini adalah kekasih sahabatku."
Luhan masih terlalu sakit untuk berucap.
"Dan berhubungan seks dengan Luhan secara nyata, itu benar-benar pelampiasan, Sehun. Tidakkah kau menyadari itu?"
Sehun meremas kuat genggaman tangannya. "Apa maksudmu?"
Jongin menyeka darah yang mengalir dari sudut bibirnya yang terluka, sebelum ia merogoh saku jaketnya dan meraih sesuatu. Kemudian ia melemparkannya ke arah Sehun yang dengan sigap menangkapnya.
Jemari Sehun menggenggam benda itu sebelum melihatnya perlahan.
"Aku melamarmu, Cadel Bodoh."
Deg!
Deg!
Kedua bolamata Luhan dan Sehun membulat tidak percaya. Apalagi pada Sehun yang menatap cincin emas putih dan Jongin bergantian.
"A-apa maksud—apa ini?"
"Ini menyebalkan sekali." Jongin terkekeh. "Tapi sakit mendengarmu mau melamar Luhan. Padahal aku punya angan-angan ini lebih dahulu. Aku tahu kita masih muda. Tapi aku sadar bahwa aku memang tidak butuh pendamping hidup... selain dirimu."
Sehun masih cukup shock, begitupula dengan Luhan. Ia tidak menyangka pernyataan cintanya ditolak dengan sangat menyakitkan, ditambah dengan kekasihnya yang di lamar oleh orang yang ia sukai? Apa-apaan ini? Tolong bangunkan Luhan sekarang juga!
"Tidak lucu, Jongin..." Sehun berbisik sambil menatap cincin di tangannya. "Ini tidak lucu.. tidak mungkin..."
"Hei, kau mendramatisir." Jongin tertawa lalu mengulum senyuman. "Jadi apa kau mau menerima lamaranku? Aku sangat menyukai bertengkar denganmu setiap hari, dan aku akan menjadikan itu selamanya."
Tidak ada jawaban dari pihak yang masih tidak percaya itu.
Jongin mengalihkan perhatiannya pad Luhan yang masih membeku. "Dan XiaoXiao, maaf saja ya, aku lebih memilih sahabat bodohku ini. Asal kau tahu saja, kami sendiri sering bercinta, bahkan saat Sehun dan kau belum memiliki hubungan."
Pengakuan itu seperti jackpot yang menghantam Luhan tepat di jantungnya.
Jongin kembali pada Sehun dan memperhatikan bagaimana namja yang bersahabat selama dua tahun dengannya itu menatapnya perlahan.
"J-Jong..."
Jongin mengangkat alisnya.
"Brengsek. Kau benar-benar brengsek."
Pada detik dimana Luhan melihat Sehun menerjang Jongin dan memeluknya erat, itu adalah momen dimana Luhan percaya sudah tidak punya harapan. Dia percaya mendengar perkataan Sehun bahwa Sehun mencintainya. Tapi ia cukup mengerti mengapa Sehun memilih Jongin, karena berada dengan orang yang mencintaimu sangat menyenangkan daripada hidup terpaksa dengan orang yang tidak mencintaimu.
Luhan mengerti betapa sakitnya Sehun saat Luhan jujur akan perasaannya terhadap Jongin. Karena sekarang rasa sakit itu jatuh pada Luhan. Seluruhnya.
].o-o.[
THE END
SINFULLY DELICIOUS
I'm a Sinner, because you are my Delicious Sins
].o-o.[
Hubungan rumit yang terjalin antara Sehun-Luhan-Kai menghasilkan kesalahan. Dosa tersendiri. Tapi dosa itu menghasilkan buah yang manis, setidaknya sebagian.
Sehun sadar ia tidak mungkin mempertahankan keinginannya untuk menikah dengan Luhan semnetara namja itu tidak mencintainya. Jadi ia pada Jongin. Oh, tidak. Jongin sama sekali bukan pelampiasan. Sehun sadar betapa sakitnya dia saat mendengar Jongin bercinta dengan orang lain. Jadi Sehun tahu bahwa ia sangat tidak mau kehilangan Jongin. Dan Sehun kini tahu rasa sakit yang Jongin alami saat mengetahui ia selalu bercinta dengan Luhan, sepanjang waktu.
Keduanya juga tidak menyangka persahabatan mereka, bahkan hubungan seks yang saling menguntungkan itu akan menghasilkan sebuah hubungan menuju abadi.
Hubungan mereka dengan Luhan terbilang baik-baik saja. Walau Sehun seringkali mendapat aduan bahwa Luhan menangis—bahkan sempat menutup diri kurang lebih seminggu, tapi ia bisa bernapas lega karena mendengar seorang namja dari jurusan lain bernama Wu Yifan berhasil mendekati mantan kekasihnya.
Semoga saja dengan kehadiran namja itu, Luhan bisa menerima kenyataannya.
Karena Sehun sudah cukup puas dengan Jongin.
"Kau menginjak kakiku, Bodoh!"
Sehun tertawa sambil menjulurkan lidahnya. Hal itu membuat Jongin geram dan refleks melemparkan satu buku tebal yang tengah di pegangnya, tepat mengenai kepala Sehun.
Jongin tidak menyangka efeknya akan sangat keras saat melihat tubuh Sehun sampai terjatuh.
"Y-yah! Gwenchana?!"
Jongin menghampiri dan berjongkok di samping Sehun yang mengusapi kepalanya yang berdenyut.
"Brengsek! Kau mau membunuhku?!"
Permintaan maaf bertubi-tubi yang Jongin keluarkan sepertinya tidak mempan. Sehun memukul dada Jongin keras tapi tidak membuat namja itu menjauh, malah memeluknya.
"Maaf, Baby. Maaf."
"Euw, itu menjijikan Kkamjong!"
Jongin terkikik sambil mengusapi kepala Sehun yang berada dalam dekapannya.
"Bodoh! Aku tidak bisa bernapas!"
Jongin tertawa lagi sambil melonggarkan pelukan itu, namun kemudian meindih tubuh Sehun di lantai ruang kelas itu.
"Kapan kita menikah?"
"Saat kau sudah siap untuk berhenti meniduriku."
Tawa kecil meluncur lagi dari mulut Jongin. Jongin meraih tangan Sehun dan menggenggamnya. "Aku mencintaimu." Lalu ia mencium jemari Sehun, tepat dimana cincin itu dikenakan.
Tampang kesal dari Sehun berubah perlahan menjadi sebuah senyuman tulus. Sehun membelai pipi Jongin dengan tangan lainnya, lalu mencium bibirnya dengan sangat lembut.
"Aku bodoh karena baru menyadari bahwa aku tidak bisa kehilanganmu."
Dan sebuah ciuman lagi menghantarkan mereka pada perasaan yang semakin berkembang setiap harinya.
.
.
.
.
HEHE ._./
Aku menghilang? Iya tahu huhu maafkaaaan
Saya tahu saya menghilang sekitar 3 minggu atau sebulan
Itu karena kesibukkan dan kesehatan u.u
Maaf tidak bisa cuap-cuap
Tapi saya harap kalian mau memberikan review untuk saya, saya sangat membutuhlan itu
Ah ya, selamat menunaikan ibadah puasa untuk yang menjalankan ya :3
Setelah ini aku berusaha post ff sesuai jadwalnya ko
Untuk Horror, Supernatural dan sejenisnya setiap Kamis
Untuk FF lain sebangsa Drama, Romance pada hari Minggu
BACA FF INI DIHARAPKAN SETELAH BUKA YA
KALAU BATAL SEKARANG DITANGGUNG SENDIRI :3
Hehe
Oh ya, ini sudah TAMAT~
Untuk yang meminta ff SehunxKai saya post mungkin minggu depan okaaaay
Ditunggu di ff selanjutnya owkaaaaaaay
SEEYOU :3
