Alis Akashi mengkerut dengan garis-garis samar menghiasi kening semulus pualam miliknya, susah sekali mengendalikan sekumpulan remaja yang berada dihadapannya, sang kapten hanya bisa memijit pelipis melihat tingkah anak buahnya yang santai ditengah latihan musim panas mereka. Akashi mungkin saja bisa mengabaikan tingkah Aomine yang tertidur dengan damainya di samping lapangan, Marasakibara yang tak henti-hentinya menyantap maibo atau Midorima yang tak bosan mengelus sebuah hamster yang merupakan lucky itemnya hari ini. Tapi dia tidak bisa mengabaikan tingkah anak buahnya yang satu ini, ingin rasanya Akashi segera melayangkan gunting sakti ke arah kepala si blonde karena dengan santainya Kise terus merenggek sambil memeluk anggota Kiseki no Sedai kesayangannya.

Tanpa ragu Akashi segera mengeluarkan sebuah gunting dari balik saku celananya untuk menertibkan para anggota Kiseki no Sedai, yang sepertinya mengabaikan aura membunuh yang menguar dari tubuhnya, sambil memutar gunting merah itu di udara, langkah kaki Akashi terus meluncur mendekati anak buahnya.

"Menu latihan digandakan menjadi tiga kali lipat." baritone itu mengintimidasi, membuat kelima pemuda yang mendengarnya membeku ditempat, bahkan membuat Aomine yang lelap bermimpi ikut terbangun bengitu suara tajam sang kapten sampai ditelinganya.

"Hai'..."

Satu kata sebagai jawaban sebelum surai warna-warni mereka mengayun bergerak mengikuti arah tubuh yang kini mulai berlari menyongsong bola orange dan memainkannya.

OoO

"Aku sangat lelah... Kurokocchi tolong gendong aku-ssu." Kise mulai bergelayut manja, membiarkan kedua lengan panjangnya melingkar pada leher sang pemain bayangan, yang hanya dibalas dengan desahan nafas, malas menjawab Kise yang selalu membuatnya sudah bernafas dengan pelukan-pelukannya.

"Akashi benar-benar menyebalkan, padahal besok sudah mulai liburan musim panas kenapa malah memberikan menu latihan yang sangat berat," Aomine mendengus kesal sebelum akhirnya mendekat ke arah Kuroko yang masih terpenjara dalam pelukan Kise. "Kau sependapat denganku kan, Tetsu?" dan lengan pemuda tan itu terjulur, mengusap lembut surai baby-blue sang bayangan.

Bibir Kuroko terbuka berniat untuk menjawab pertanyaan sang cahaya, sebelum sebuah suara membungkam kalimatnya. "Lepakan pelukanmu Kise, kau hanya membuat Kuroko tidak bisa bernafas, apa kau berniat untuk membunuhnya?" Midorima mendekat ke arah kerumunan sambil mengulurkan sebuah boneka voodo kepada Kuroko. "Ini lucky item untuk aquarius besok, kau bisa menuliskan nama orang yang tidak kau sukai, mungkin akan manjur," Kuroko tersenyum simpul, memandang pemuda penganut Oha-asa yang fanatik.

"Bukannya aku peduli padamu nanodayo, aku hanya kasihan melihat kau selalu ditindas oleh mereka." Midorima menambahkan sambil menaikkan letak kacamatanya.

"Hai'... Arigatou Midorima-kun."

"Aku tidak pernah menindas Kurokocchi –ssu."

"Hei... aku juga tidak pernah menindas Tetsu, kasar sekali tuduhanmu itu."

"Apa kalian tidak sadar dengan apa yang kalian lakukan sekarang ini, kalian membuat Kuroko kesulitan bernafas, nanodayo."

Abaikan saja ketiga pemuda itu yang kini sedang beradu mulut, kembali pada Kuroko yang sekarang harus mendongak untuk melihat Murasakibara yang sudah menyodorkan sekotak maibou untuknya, "Kurochin harus banyak makan supaya bisa tumbuh tinggi sepertiku." kalimat yang sunggung ambigu, seambigu pemuda yang mengucapkannya.

Tubuh munggil Kuroko ternggelam dalam lautan remaja dengan surai bak pelangi itu, gelak tawa menghiasi ruang lingkup mereka, mengabaikan rasa lelah yang didera karena latihan yang tak berperasaan dari kapten otoriter mereka, membuat sesorang yang sedang berdiri disamping lapangan memandang tidak suka pada keakraban yang tersaji dihadapannya. Manik heterocromnya manatap lekat-lekat pemuda bersurai biru yang tengah menjadi pusat dunia Kiseki no Sedai, menatap tajam anggota termanisnya, dan menatap sebal ke arah para anggota yang lain karena sikap mereka yang tak mau lepas dari Tetsuya-nya.

Sehingga sebuah peristiwa tak terduga, membuat heterochome itu melebar sempurna, saat sebuah sinar biru cerah yang tak jelas dari mana asalnya berpedar terang dalam gym SMP Teiko, membuat keempat remaja yang sebelumnya mengerubungi Kuroko, melangkah mundur menjauh dari cahaya biru terang yang berasal dari dalam tubuh Kuroko.

"Apa yang terjadi?" tanya Akashi tajam pada para anggota Kiseki no Sedai yang sedang mematung ditempat, sedangkan manik azure Kuroko hanya terpejam saat cahaya biru itu makin bersinar terang, membuat semua yang menatapnya harus mengalihkan pandangan agar tak terbutakan oleh sinarnya, dan saat manik mereka kembali terfokus pada Kuroko, jantung mereka terasa berhenti berdetak saat sosok 168 cm kuroko tergantikan dengan sosok bocah yang hanya setinggi paha orang dewasa.

Sosok bocah dengan manik azure dan surai baby-blue itu hanya menelengkan wajahnya, sambil tersenyum tanpa dosa, saat menatap para pemuda yang mengelilingnya melonggo dengan tidak elitnya.

"Konbanwa onii-chan~" sapa sang bocah sambil menunduk hormat, bibir mungilnya menyunggingkan senyum bak malaikat, bersamaan dengan tertancapnya panah cupit ke arah hati kelima pemuda yang menjulang didepan sang bocah.

.

.

.

.

.

*HOCUS FOCUS*

Disclaimer:

Kuroko No Basuke © Fujimaki Tadatosi

Story by Aoi-Umay

Pairing:

Chibi!Kuroko x GoM

Warning:

Typo, OOC, Sedikit Humor dan romance, AU

DLDR, R&R please...

.

.

.

.

.

Kuroko Tetsuya mini, dengan kaki dan tangannya yang pendek mencoba kembali duduk diatas bangku di samping lapangan setelah acara perkenalan yang begitu singkat tadi.

"Kuloko Tetcuya, lima tahun"

Lidah cadelnya jelas-jelas menunjukkan bahwa dia masih seorang bocah dengan usia yang sudah disebutkan, Kise sudah menangis dipojokan setelah Kuroko memperkenalkan diri, Aomine mencambak rambutnya frustasi, sedangkan Midorima membiarkan kacamatanya melosot melewati hidung saking terserang shock mendadak. Setidaknya masih ada yang cukup normal dengan keadaan yang diluar akal sehat ini, karena Akashi masih berdiri disana dengan kedua lengan terlipat di depan dada dan sorot heterochome yang tajam, menatap Murasakibara yang sudah membantu Kuroko kembali duduk, bahkan menawarkan pocky pada Kuroko yang disambut dengan tatapan berbinar dan ucapan terimakasih saat jemari munggil Kuroko mengambil beberapa stik pocky dan memasukkan dalam bibir super munggilnya.

"Bocah! Apa kau kenal siapa kami?" ingin rasanya Akashi menarik kalimat bernada sinis yang terlajur bergulir, tapi rasa kesalnya pada situasi yang tak dapat diprediksinya ini mengalahkan senyum malaikat dan wajah polos Kuroko mini.

Kuroko menonggak karena merasa pemuda bersurai merah tengah berbicara padanya, dengan mulut yang masih penuh dengan pocky, Kuroko buka suara membuat Kise, Aomine dan Midorima yang sebelumnya bertindak gila kembali mengalihkan perhatiaannya pada Kuroko.

"Tentu caja Tetcuya kenal."

"Kalau begitu, siapa aku?" tanya Akashi sambil menunjuk dirinya sendiri.

"Aka-chi niichan."

Satu persatu para anggota Kiseki no Sedai mulai merapat didepan Kuroko.

"Siapa nama kakak yang bermuka mesum dan hitam ini?" Akashi menunjuk Aomine yang sudah berdiri disampingnya, yang ditunjuk mengirimkan tatapan tidak suka pada sang kapten yang tentu dibalas dengan tatapan membunuh andalan Akashi, dan sukses membuat Aomine bungkam seribu kata.

Kekehan terdengar dari arah sang bocah bibirnya membuka untuk menjawab tanya yang tertuju padanya. "Dia Ao-mine niichan."

"Kalau kakak lebay yang berisik itu siapa namanya?"

"Hidoii-ssu."

"Ki-ce niichan."

"Kakak dengan kaca mata dan dengan hamster ditanganya itu siapa?"

"Mi-do-lima niichan, dan kakak yang memberikanku poccy adalah Mu-la-cakibala niichan." Seru Kuroko sambil menunjuk Murasakibara yang masih setia duduk disampingnya.

OoO

Akashi, Midorima, Kise dan Aomine sedang berdiri melingkar tak jauh dari bangku tempat Kuroko dan Murakasibara yang tengah berbagi poccy dengan akrabnya.

"Apa yang sebenarnya tejadi? Kenapa Tetsu jadi seperti itu?!" tanya Aomine, atau lebih tepatnya teriak Aomine, karena suara bass Aomine hampir menulikan telinga mereka.

"Jangan berteriak, dasar Ahominecchi... bukan kau saja yang sedang bingung dengan situasi sekarang ini."

"Dalam situasi seperti ini, kita semua harus tenang, nanodayo."

"Benar kata Shitarou, kita harus tenang untuk situasi seperti sekarang, yang jelas walaupun Tetsuya terperangkap dalam tubuh lima tahun, setidaknya dia masih mengingat kita."

"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang, Akashicchi?"

Diam sejenak untuk berfikir, dan sedikit melirik ke arah Kuroko yang sedang mengunyah pocky sambil mengoyang-goyangkan kakinya yang terjuntai. Akashi hanya mendesah sebelum akhirnya kembali buka suara. "Tentunya, kita harus menyembunyikan keadaan ini dari orang lain, termasuk dari keluarga Tetsuya."

"Kenapa harus disembunyikan! Orang tua Tetsu harusnya tahu tentang keadaan putranya." suara bass Aomine kembali mengema dan membahana.

"Aku tahu Daiki, tapi membuat khawatir kedua orang tua Tetsuya disaat neneknya yang berada di Hokaiddo sedang sakit bukanlah pilihan yang baik untuk saat ini."

Tiga kepala itu, hijau, kuning dan biru nampak mulai berfikir dan menimbang-nimbang kalimat sang kapten.

Sehingga tanya Midorima membunyarkan pusat pikiran kedua pemuda yang lain. "Tapi Akashi, dari mana kau tahu kalau nenek Kuroko sedang sakit saat ini?"

"Jangan mengalihkan topik pembicaraan Shintarou, fokus kita sekarang adalah tentang keadaan Tetsuya."

Memang benar fokus sekarang ini adalah tentang keadaan Kuroko Tetsuya yang kembali pada tubuh lima tahun, tapi juga mengingat beberapa hal saat dia berusia lima belas tahun. Tapi, Midorima juga mulai mencium kecurigaan, hanya dia satu-satunya orang yang cukup jeli untuk melihat ada yang tengah disembunyikan sang kapten, terbukti dengan caranya yang mencoba mengalihkan pembicaraan.

Hening mengisi gym, tenggelam dalam pemikiran mereka masing-masing, membuat empat remaja yang sedang mengambil pose berfikir melupakan sosok bocah yang masih duduk dengan si jangkung ungu tak jauh dari sana, hingga sebuah suara Kuroko yang menguap mengembalikan fokus para pemuda yang bergerombol kembali pada pusat dunia mereka.

Azure itu nampak mulai sayu dalam buaian kantuk yang tertahan, jemarinya yang lentik mengusap kelopak matanya mencoba mengenyahkan kantuk yang mulai mendera, dan kembali menguap dengan lebar.

Sadar bahwa mereka sudah terlalu lama berdiam sehingga tidak menyadari malam telah memeluk bumi, walaupun jarum jam masih menunjukkan pukul delapan malam, namun itu sudah larut jika dinilai dari sudut pandang bocah lima tahun, dan tak heran jika sosok bocah manis itu sudah terkantuk-kantuk.

"Kita lanjutkan pembicaraan kita besok di apartemenku." perintah absolut sang kapten mengudara, tanpa banyak bantahan, para Kiseki no Sedai langsung mengiyakan.

"Lalu bagaimana dengan Kurokocchi –ssu?"

"Untuk malam ini, biarkan dia bermalam di apatemenku, lagipula hari ini tidak ada orang dirumah Tetsuya."

Manik emerald Midorima memicing, kecurigaannya pada sang kapten bertambah sepuluh persen, dan sekali lagi hanya Midorima yang cukup jeli untuk melihat situasi yang janggal ini, sedangkan pemuda yang lain hanya sibuk berebut tentang dimana malam ini Kuroko akan menginap.

"Kenapa harus menginap di apartemen Akashicchi, rumahku lebih besar dari apartemen Akashicchi –ssu." Protes Kise tak terima.

"Apa-apaan kau Kise, mungkin Tetsu tidak akan bisa tidur karena mendengar suara cemprengmu itu, biarkan Tetsu bermalam dirumahku."

"Bagaimana kau Kurochin tidur dirumahku, dirumahku banyak makanan, jadi mungkin setelah Kurochin banyak makan dia akan tumbuh seperti semula."

Aomine dan Kise cengo begitu mendengar jangkung ungu berbicara, teori dari mana? Hebat sekali jika dengan cara itu Kuroko bisa kembali kebentuk semula.

Akashi sudah membuka bibirnya hendak melerai perdebatan yang tak penting ini sebelum Midorima mendahuluinya.

"Menurutku akan lebih baik jika Kuroko menginap di apartemen Akashi, karena Akashi tinggal seorang diri, jadi dia tidak perlu bersusah payah menjelaskan kepada orang tuanya karena membawa balita pulang."

Sebuah tepukan pada bahu Midorima membuat pemuda bersurai emerald itu menoleh dan mendapati sang kapten tersenyum sambil mengucapkan terima kasih tanpa suara.

Ya... walaupun Midorima menaruh curiga tetapi logika masih bekerja dengan baik. Keputusan final yang benar-benar final, tanpa perdebatan apalagi ancaman tentang akan terjadinya pertumpahan darah dan semuanya sepakat bahwa malam ini Kuroko akan menginap di apartemen Akashi.

Pirang, hijau, biru dan ungu berhenti diperempatan jalan memandang merah yang tengah memanggul biru muda diatas bahunya, mengucapkan selamat malam sebelum mereka berpisah.

"Selamat malam Kurokocchi... Semoga tidurmu nyenyak." Kise menepuk lembut surai baby-blue yang bertengger diatas bahu sang kapten.

"Celamat malam Kice-niichan."

"Tetsu, jaga dirimu."

"Un~"

Kuroko terkekeh geli saat jemari besar Aomine mengacak-acak surai baby-bluenya. Murakasibara tidak mengucapkan apapun, hanya menyodorkan sekotak maibo miliknya, sedangkan Midorima hanya menaikkan posisi kaca matanya saat menyaksikan adegan perpisahan yang mengharu biru.

"Da-da oniichan~"

Kuroko melambaikan tangan mungilnya mengiringi langkah teman-temannya yang semakin menjauh karena harus berpisah untuk menuju rumah masing-masing.

"Nee~ Tetsuya, sekarang kita pulang."

"Pulang ke lumah Tetcuya?" tanya si bocah, sambil mengeratkan pelukannya pada leher pemuda yang memanggulnya.

"Pulang ke apartemenku."

"Kenapa?"

"Karena orang tua Tetsuya sedang tidak ada dirumah, aku sudah meminta izin pada mereka kalau hari ini Tetsuya akan bermalam bersamaku." jawab Akashi jujur, karena pada dasarnya Akashi memang sudah menelfon orang tua Kuroko dan meminta izin.

Dan Akashi tertegun saat mendengar Tetsuya-nya terkekeh. "Iya... Akashi-nii."

"Tapi, dengan satu syarat."

"Cyalat? (Syarat)"

"Tetsuya tak boleh mengompol." guraunya, yang membuat sang korban menjadi blusing seketika karena malu yang luar biasa.

"Tetcuya cudah becal, jadi tak mungkin mengompol." kesal, Kuroko mengembungkan pipinya dan mengerucutkan bibirnya panjang-panjang.

"Aku hanya bercanda," rasa kesal itu berangsur menghilang, saat jemari Akashi mulai mengusap lembut surai baby-bluenya. "Kau pasti sudah mengantuk, tidurlah Tetsuya."

Kuap Kuroko makin melebar namun sebelum kantuk mulai mendominasinya, bibir mungilnya masih sanggup mengutarakan kalimat yang membuat debaran jantung sang kapten berdegub kencang.

"Celamat malam niichan, aku cayang niichan."

Dengkuran halus terdengar seiring dengan semakin nyenyak sang bocah terlelap, jaket putih yang kebesaran itu menaungi tubuhnya dari paparan dingin angin malam, dan hangat yang menyebar dari bahu Akashi membuat sang bocah makin betah di sana.

Begitu teman-temannya sudah menghilang dari pandangan, Akashi hanya perlu berjalan sekitar sepuluh menit untuk sampai di apartemen miliknya.

"Aku ingin terus berdua denganmu, Tetsuya."

.

.

.

.

.

TBC

A/N :

Selesai juga chapter pertamanya, yang terlalu panjang, berbelilit-belit dan aneh. ('/\')

Semoga para Reader tidak kecewa, kalau kecewa silahkan demo saia, tapi jangan diflame #plak

Terimakasih Aoi sampaikan kepada para Reader yang sudah datang berkunjung, terimakasih juga untuk yang sudah review, fav dan follow. Dukungan para Reader sekalian adalah penyemangan untuk Aoi.

Nee~ waktunya balas review...

[Rea]

Makasudnya fin kemarin adalah pengennya memang selesai, kemarin itu ketik ngebut karena mau mempersembahkan sesuatu tepat pas ultah Kuroko tercintah, karena ketik ngebut jadi hasilnya super pendek bin aneh.

Arigatou reviewnya, review Rea-san membuat Aoi jadi semakin bersemangat. ^^

[HannaChan]

Hai' Hanna-san... tanggung ya? Gomen ne~ *nyempil dipojokan*

Ini sudah diuptade, walaupun telat dari ultah Kuroko. ^^

Aoi juga pecinta AkaKuro, jadi akan diusahakan diperbanyak AkaKuronya, iya~ udah gede aja Kuroko imut apalagi kalau masih bocah...

Arigatou reviewnya Hanna-san, Hidup AkaKuro~!

[kurokoloves]

Ini sudah dilanjut~

Laskar pelangi ya? Nee~ kuroko memang makluk paling imut diantara para anggota GoM lainnya.

Arigatou reviewnya Kuroko-san, review darimu membuat Aoi semakin ingin menjadikan Kuroko chibi selamanya. Hohoho~

Akhir kata...

Ada keluhan, kritikan, omelan, atau pujian #plak

Silahkan klik Review... _