Hanya perlu waktu sepuluh menit dengan berjalan kaki untuk Akashi sampai di depan pintu apartemennya, dengan masih memanggul Kuroko yang sudah terlelap sejak perpisahan mereka dengan teman-temannya.
Kenop pintu diputar setelah kunci terbuka, menampakkan sebuah apartemen dengan dominasi merah dan hitam yang elegan, tak banyak ruang dalam apartemen itu hanya sebuah kamar utama yang berada di sebelah timur, dapur dan meja makan disisi yang lain. Juga sebuah ruang tengah luas lengkap dengan home teater mewah, serta sofa berwarna hitam dengan permadani merah diatur dengan rapi didepannya.
Perlahan-lahan diletakkannya tubuh mungil Kuroko diatas springbed merah marun Akashi. Menyeka keringat yang bergulir didahi putih milik Kuroko, dengan cepat Akashi menyambar kemeja putih dari dalam lemari. Tak mau membangunkan sang bocah, dengan perlahan segera menanggalkan t-shirt kedodoran Kuroko dan mengantinya dengan kemeja miliknya, penampilan Kuroko tak jauh berbeda dengan sebelumnya, masih sama seperti saat dia memakai t-shirt yang super longgar, tapi jauh lebih baik daripada mengenakan t-shirt yang sudah basah kuyup karena keringat.
Akashi beranjak dari tempat Kuroko yang terlelap untuk mandi dan berganti pakaian, tak ingin meninggalkan Kuroko lebih lama, Akashi mempercepat kegiatan mandinya untuk segera bergabung bersama Kuroko. Bocah itu masih terlelap, meringkuk sambil menghisap salah satu ibu jarinya, khas tidur seorang bocah. Akashi tersenyum simpul sebelum turut bergabung dengan sang bocah, membawanya dalam satu dekapan hangat yang menghantarkan keduanya ke alam mimpi hingga fajar menjelang.
.
.
.
.
.
*HOCUS FOCUS*
Disclaimer:
Kuroko No Basuke © Fujimaki Tadatosi
Story by Aoi-Umay
Pairing:
Chibi!Kuroko x GoM
Warning:
Typo, OOC, Sedikit Humor dan sedikit Romance, AU
DLDR, R&R please...
.
.
.
.
.
Kaki mungil Kuroko berlarian mengelilingi apartemen Akashi ketika sosok blonde mulai mengejarnya.
"Aku tidak mau niichan... bialkan Tetcuya mandi cendili~"
"Ayolah Kurokocchi... biarkan aku membantumu mandi, Sekarang sudah pagi, jadi anak manis seperti Kurokocchi harus mandi -ssu."
"Tetcuya cudah becal... Tetcuya bica mandi cendili~" teriakkan cadel itu terus mengema seantero apartemen mewah milik sang kapten yang sejak pagi sudah menyuruh Kise datang ke apartemennya sedangkan dia pergi entah kemana, meninggalkan mini Kuroko yang masih terlelap.
Teriakan-teriakan kolosal terus mengema dengan adegan kejar-kejaran yang tak kunjung menunjukan siapa yang memenangkan permainan bodoh ini. Beruntunglah Kuroko yang memiliki tubuh mungil sehingga menyulitkan Kise saat mengejar sang bocah yang bersembunyi dibawah kolong meja.
Pintu apartemen berwarna merah marun itu terjeblak membuka, menampilkan sosok kapten heterocrome yang kini menautkan alis merahnya.
"Apa yang sedang terjadi disini?" tanya itu menuntut jawaban yang masuk akal atas barang-barang yang berserakan tidak pada tempatnya. Bantal, guling, selimut dan barang-barang asing lainnya teronggok tak elit disepanjang mata memandang.
"Aku hanya ingin mengajak Kurokocchi mandi –ssu."
Manik azure mencoba mencari asal suara baritone yang mengooda telinga mungilnya, dengan perlahan diarahkannya kaki mungil itu untuk keluar dari salah satu kolong meja makan disamping ruang tengah —tempat persembunyiannya. Azure bersibobok dengan heterochome seiring dengan senyum yang bocah yang mencerah.
"Aka-chi niichan~" panggil sang bocah sambil berlari untuk menyongsong pemuda yang berjongkok diambang pintu.
"Ada apa Tetsuya?"
Tanya Akashi pada sosok bocah yang berbalut kemeja warna putih kebesaran yang dipinjamkan Akashi, lengan kemejanya digulung sedemikian rupa sehingga dapat memunculkan lengan munggil itu, sedangkan panjang kemejanya dibiarkan menjuntai kebawah sampai melewati lutut Kuroko.
Kuroko menundukkan kepala, memandangi jemari kakinya dan mengerak-gerakkannya sejenak.
"Tetcuya sudah becal, dan Tetcuya bica mandi cendili." akunya malu-malu
Kise yang berdiri tak jauh dari pintu mulai merengut sebelum membela diri. "Aku hanya ingin membantu Kurokocchi mandi –ssu."
Desahan nafas seorang Akashi membuat Kuroko menonggakkan kepala menatap kagum pemuda dihadapannya, dan saat jemari Akashi mengusap surai baby-blue dengan sayang, senyum kembali menghiasi bibir mungilnya.
"Benar Ryota... Tetsuya sudah besar."
Azure itu berbinar senang berbeda dengan ekspresi sedih pemuda yang lainnya. Tapi senyum jahil tergambar saat Kise dapat menebak skenario yang akan dijalankan sang kapten.
Azure itu masih terpaku dalam pesona heterocrome yang memikat, sampai tak menyadari sepasang jemari Akashi yang mencoba untuk melepaskan kancing kemeja Kuroko.
Satu kancing terlepas
"Seharusnya kau membiarkan Tetsuya mandi sendiri."
Merasa mendapatkan dukungan, Kuroko makin melebarkan senyumnya bersamaan dengan lepasnya kancing kedua.
"Lagi pula aku percaya padanya,"
Kancing ketiga meninggalkan lubangnya.
"—Kalau Tetsuya bisa mandi sendiri."
Bersamaan dengan tanggalnya kancing keempat, Akashi mengirimkan pesan melalui tatapannya kepada pemuda yang masih berdiri menjulang dibelakang Kuroko, mengerti apa yang dimaksud, Kise bergegas menuju kamar yang berada disudut ruangan dan mengambil handuk merah yang digantung dekat kamar mandi. Kise kembali tepat ketika kancing kelima kemeja Kuroko terlepas, dengan sigap Kise melempar handuk merah itu dan ditangkap dengan satu tangan Akashi.
"Tapi, akan lebih baik jika aku yang membantumu mandi."
Kuroko tertegun saat merasakan dingin mulai menyapa kulitnya yang entah sejak kapan sudah terekspos sempurna tanpa helaian garmen yang melekat.
"Tetsuya tidak akan dapat vanila milkshake, jika tidak mau mandi."
Mendengar kata vanila milkshake disebut kembali membuat azure itu berbinar, anggukan mantap adalah jawaban sang bocah. Sedangkan Kise harus menepuk jidatnya sendiri, merutuki kelalaiannya, seharusnya dia ingat kalau Kurokoccinya lemah dengan kata iming-iming vanila milkshake, tak perduli itu Kuroko lima tahun atau lima belas tahun mereka adalah Kuroko yang mencintai vanila milkshake.
Handuk merah itu kini sudah berpindah dari tangan Akashi ke tubuh polos Kuroko, dan dengan sekali hentak tubuh mungil itu sudah berada dalam gendongan Akashi yang kini tengah berjalan menuju kamar mandi bersama mini Kuroko tercinta, meninggalkan Kise yang mendesah dan mulai membersihkan sisa-sisa peperangan bersama Kuroko tadi.
OoO
Kecipak air memdominasi suara didalam kamar mandi. Akashi hanya tersenyum simpul memerhatikan Kuroko yang dengan senangnya memainkan air beserta busa yang merendam setengah tubuh mungilnya. Sedangkan jemari Akashi dengan lembut memijat surai baby-blue itu dibantu shampo beraroma buah yang segar.
"Apa niichan cudah mandi?"
Alis Akashi terangkat, heran dengan pertanyaan polos sang bocah.
"Tentu saja aku sudah mandi, aku langsung mandi setelah bangun tidur dan sebelum keluar untuk membeli perlengkapan untukmu."
Jelas Akashi panjang lebar sambil membersihkan busa shampo yang menaungi surai baby blue Kuroko.
"Bagaimana kalau Akachi-nii, menemani Tetcuya mandi?"
Tanya itu begitu ambigu? Belum sempat Akashi menelaah maksud yang terkandung dalam kalimat tanya itu, manik heterochomenya terbelalak saat Kuroko dengan sengaja memercikkan air ke arah pemuda merah. Merasa tak mendapatkan perlawanan Kuroko berdiri dari bak mandi, dan mulai genjar mencipratkan air ke arah Akashi.
Oh~ demi gunting merah sakti milik Akashi, jika bukan Kuroko tercinta yang sekarang dalam tubuh mininya. Jika orang lain yang melakukan, Akashi bersumpah pasti akan melayangkan gunting merahnya karena sikap kurang ajarnya.
"Ayo Akachi-nii mandi belcama." walaupun tak ada nada seduktif yang mengirinya, namun Akashi nampak tergoda. Dengan sekali hentak garmen yang sedari tadi melekat dalam tubuhnya sudah teronggok disudut ruang berkumpul dengan pakaian kotor yang lain.
Byurrr
Kekehan Kuroko makin mengelegar, dan jemari mungilnya makin gencar menyipratkan air pada pemuda yang sudah bergabung dengannya di dalam bak mandi.
Terlihat sorak gembira tergambar dalam wajah Kuroko, ajakan isengnya membuahkan hasil. Dan Akashi nampak tak keberatan harus berbasah-basah lagi, atau mandi berkali-kali demi memandang wajah bak malaikat yang terpahat dalam wajah bocah dihadapannya.
OoO
Acara mandi yang super menyenangkan itu harus berakhir karena tubuh mungil Kuroko mulai mengigil, dengan sigap Akashi menyambar handuk yang tak jauh dari bak mandi dan segera mengenakannya pada Kuroko yang masih tersenyum lebar.
"Kau kedinginan Tetsuya?"
"Ti-dak." jawab Kuroko berbohong, padahal jelas-jelas bibir merahnya hampir berubah pucat.
Dengan gemas, Akashi mencubit cuping hidung Kuroko, yang dibalas dengan kembungan pada kedua pipinya. "Sejak kapan kau jadi suka berbohong, huh?" kekehan itu lolos dari bibir mungilnya, malu karena ketahuan berbohong.
Akashi hanya bisa mendesah, melihat tingkah polos Kuroko. Dan tanpa buang waktu, tak mau Kuroko yang kedinginan dan jadi masuk angin, segera Akashi mengangkat tubuh mungil itu untuk keluar dari kamar mandi yang berada di dalam kamar besar sang kapten.
Kamar dominasi merah dan hitam itu nampak mencerminkan sifat sang pemilik, dengan benda-benda yang sama seperti kamar kebanyakan, ada sebuah springbed ukuran besar dengan bed cover berwarna merah marun, disampingnya ada sebuah lemari pakaian yang cukup besar, sedang disudut ruang yang lain berdiri rak buku tinggi lengkap dengan sofa untuk membaca.
Selesai mengenakan pakaiannya kembali, kini Akashi kembali pada bocah yang sedang duduk diujung tempat tidurnya, mengambil beberapa lembar pakaian yang baru dibelinya pagi tadi dan mulai mengenakannya pada Kuroko.
Kuroko tersenyum cerah begitu melihat pemanpilannya didepan cermin. Mari katakan selamat tinggal pada t-shirt longgar dan kemeja kebesaran yang dikenakannya kemarin, dan ucapkan selamat datang pada t-shirt biru laut dengan gambar kapal layar ditengahnya juga hotpants navy blue dengan dua saku.
"Kau menyukai baju barumu, Tetsuya?" tanya Akashi yang kini sedang berjongkok di samping sang bocah.
"Un... Tetcuya cenang, telima kacih niichan." selesai mengucapkan rasa terimakasihnya, Kuroko langsung menghamburkan diri ke arah pemuda yang masih berjongkok di dekatnya, dengan gerakan yang malu-malu, sekaligus ragu-ragu, Kuroko mendekatkan wajahnya, dengan cepat mengecup pipi yang ada disana dan segera menarik tubuhnya menjauh dengan cepat, secepat kecupan yang diberikan.
Blush... wajah Akashi sontak memerah, semerah warna surainya. Jemarinya menyentuh jejak bibir Kuroko yang meninggalkan rasa hangat pada pipinya. Bibir Akashi menyunggingkan senyum saat heterochome itu juga menangkap semburat merah yang menghiasi pipi bocah dihadapannya.
Suasana pagi yang begitu menyenangkan sebelum dirusak oleh suara tak merdu yang mengacaukan segala mood sang kapten Teiko.
"Mou~ aku juga ingin mendapat kecupan dari Kurokocchi... Aku tidak rela –ssu, tidak rela!" teriakan kolosal Kise membahana.
"Woi Akashi~ kau tidak menyuruh kami berkumpul di apartemenmu, hanya untuk menonton drama picisanmu kan?" Aomine berkoar seolah tak sayang nyawa.
"Nyam~ nyam~ Kurochin, aku membawa banyak cemilan hari ini."
"Harusnya kita tidak usah datang saja hari ini, nanodayo. Sepertinya keberadaan kita tidak diharapkan."
Salahkan Kise yang membukakan pintu apartemen untuk empat tamu yang datang jika saat ini ada pertumpahan darah dengan korban empat anggota Kiseki no Sedai, atau salahkan saja Akashi yang lupa manutup pintu kamar sehingga adegan top secret itu harus terobral secara gratis. Dan Akashi memang harus benar-benar disalahkan, karena titahnya lah sehingga membuat para pemuda itu kini menjulang didepan kamarnya.
Bukan Akashi namanya jika tidak melayangkan gunting pada para pembuat onar paginya yang berharga, dan saat sebuah gunting melayang bersama dengan menguarnya aura membunuh stadium akhir, tawa Kuroko membahana, lucu pikirnya menyaksikan Akashi yang menghentak-hentakakan langkahnya sambil mengejar teman-temannya yang berlari tunggang langgang menghindari gunting merah Akashi.
.
.
.
.
.
TBC
A/N :
Bagaimana? Bagamana? Sudah tersampaikan feel keimutan Kuroko tercintah? (semoga tersampaikan.)
Niatnya, (hanya niat saja ya...) Aoi ingin update tiap seminggu sekali, atau paling lama sepuluh hari sekali, atau paling males sebulan sekali. #plak
Dan kalau ditanya sampai berapa chapter, Aoi juga kurang bisa menjawab pastinya berapa. Karena bisa jadi chapternya sedikit atau banyak. Tapi yang jelas tidak akan lebih dari sepuluh chapter. (semoga saja...)
Nee~ waktunya balas review...
[Kagakuro lovers]
Kagakuo-san salam kenal. ^^
Iya... semoga kita menjadi teman baik (persahabatan bagai kepompong, merubah ulat menjadi kupu-kupu~)/berhenti nyanyi thor, suaramu jelek.
Ini sudah diupdate Kagakuro-san, terimakasih sudah memuji fanfic saia keren. Walau pada dasarnya Aoi nggak pantas dipuji, tapi terimakasih sudah memuji. ^^
Terimakasih sudah review, silahkan review lagi jika berkenan...
[kurokolovers]
Ini sudah dilanjut Kurokolovers-san, mungkin chapter ini bisa membuat Kurokolovers-san puas membayangkan chibi Kuroko, ya walaupun tidak terlalu panjang. #plak
Tolong disimpan rasa penasarannya dulu karena mungkin misteri akan terkuak pada chapter 4 atau 5. (kalau chapter 4 atau 5 jadi dipublis. #nyempil)
Terimakasih sudah review, silahkan review lagi jika berkenan...
Akhir kata...
Ada keluhan, kritikan, omelan, atau pujian
Silahkan klik Review... _
