Dering samar sebuah ponsel berwarna biru membuat Akashi mengalihkan sejenak perhatiannya dari bocah dipangkuannya. Ponsel biru yang sedari tadi teronggok terabaikan diatas meja ruang tengah, kini mulai menarik perhatian seluruh pemuda yang ada dalam apartemen Akashi, tak terkecuali perhatian si bocah kecil yang masih sibuk dengan santap paginya. Dengan langkah gontai, Kise meraih ponsel biru milik Kuroko.

"Akashicchi... ibu Kurokocchi menelfon." suara sengau milik Kise membuat tiga pemuda yang lain hanya mampu menahan napas, sedangkan Akashi sibuk tersenyum samar pada bocah yang masih nyaman duduk diatas pangkuannya. Perlahan sang kapten menurunkan sang bocah bersurai baby-blue agar duduk pada salah satu kursi terdekat.

Meraih ponsel biru milik Kuroko, Akashi segera mengambil ponsel milik Kuroko yang sedari dari disodorkan Kise padanya. Namun bersamaan dengan jemari Akashi yang menyentuh ponsel milik Kuroko, panggilan itu malah berakhir dan hanya tergantikan dengan dering baru yang menandakan bahwa pesan singkat baru saja masuk.

From : Okaasan

/Tecchan, ibu baru saja pulang. Keadaan nenek sudah membaik. Ibu tahu Tecchan sekarang sibuk camp musim panas, tapi setidaknya pulanglah sebentar untuk mengambil pakaianmu. Ibu merindukanmu.../

Hening...

Bibir Akashi terkatup setelah selesai membaca setiap rangkaian kata yang tertulis pada layar ponsel milik Kuroko. Dan beberapa pasang manik warna-warni itu menatap nanar manik heterochome sang kapten.

"Akashicchi... Sekarang apa yang harus kita lakukan –ssu?"

"Suruh saja Tetsuya pulang."

"HAH?"

.

.

.

.

.

*HOCUS FOCUS*

Disclaimer:

Kuroko No Basuke © Fujimaki Tadatosi

Story by Aoi-Umay

Pairing:

Chibi!Kuroko x GoM

Warning:

Typo, OOC yang berlebihan, sedikit Humor, AU

DLDR, R&R please...

Enjoy Reading Minna... ^^

.

.

.

.

.

Akashi keluar dari ruang makan menuju ruang tengah untuk berkumpul dengan teman-temannya yang baru saja sembuh dari serangan rasa cemburu yang maha dahsyat, keinginan untuk menguliti sang kapten nomor satu mereka, harus rela diabaikan sejenak karena ada hal yang lebih penting dari itu. Bahkan keberadaan Kuroko yang masih sibuk berkutat dengan santap paginya pun terabaikan sejenak.

Karena... Ibu Kuroko meminta Kuroko pulang kerumah.

Satu hal yang membuat para Kiseki no Sedai —minus Akashi— pusing tujuh keliling, bagaimana caranya menjelaskan pada ibu Kuroko perihal putra semata wayangnya yang manis malah menyusut menjadi sekecil balita saat berlatih dengan mereka.

"Kau tadi mengatakan apa Akashi? Menyuruh Tetsu pulang?" satu sentakan kuat membuat Akashi yang awalnya membelakangi Aomine, terpaksa menghadap pemuda berkulit tan itu.

"Kau sendiri yang bilang, bahwa jangan sampai peristiwa ini melibatkan orang tua Tetsu, karena hanya akan membuat mereka khawatir. Apa kau lupa dengan kata-katamu sendiri." bentak Aomine pada pemuda yang jauh lebih mungil darinya.

Aomine mungkin sudah menyimpan beberapa nyawa, karena dengan gagah beraninya menantang sang absolut atau memang otak Aomine sedang tumpul sehingga tidak pernah mengira bahwa acara bentak-bentaknya tadi hanya akan membawa kesengsaraan baginya. Sedangkan teman-temannya yang lain hanya bisa berdoa dalam hati agar Aomine terbebas dari keganasan sang kapten.

"Aku tentu tak pernah melupakan apa yang aku katakan Daiki."

Heterochome itu menghujam tajam bocah yang masih duduk dalam ruang makan, talinan dingin tatapan Akashi disambut hangat oleh manik baby blue yang jernih milik Kuroko. Satu senyuman tanpa dosa tersungging pada bibir Kuroko karena dia sadar sang kapten tak henti-hentinya menatapnya dengan tajam.

'Ada yang salah.'

'Ada yang tak beres.'

'Ada yang tidak sesuai dengan prediksiku.'

Alis Akashi menukik tajam, heterochomenya makin menghujam kasar pada objek yang tak bosan tersenyum polos padanya, wajahnya tetap menampilkan sosok kapten yang dingin, tapi sebenarnya seluruh buku tangannya sudah memutih karena digenggam sedari tadi, gesture tubuhnya masih terlihat tenang walaupun sebenarnya kini Akashi tegang luar biasa.

"Akashicchi... apa yang harus kita lakukan –ssu, apa kita harus membawa pulang Kurokocchi yang mengecil?" Kise merengek sambil memegangi salah satu ujung pakaian sang kapten, namun tak mendapatkan satu jawaban dan hanya tergantikan dengan hardikan dari Aomine yang berdiri tak jauh darinya.

"Apa kau bodoh Kise? Orang dewasa tidak akan mempercayai hal-hal tidak rasional seperti ini, nanodayo." Midorima menijit pelipisnya karena lelah mendengar lolongan Kise sedari tadi, dan juga sedang memandangi dengan gamang lucky itemnya hari ini yang sudah terkoyak tak berbentuk. Firasat buruk menghantuinya, bodohnya dia yang tanpa berfikir panjang malah meremat boneka beruang miliknya saat sesi sarapan Kuroko hadir dihadapannya, sehingga membuatnya tidak akan beruntung hari ini.

"Akachin kenpa malah diam saja? Apa yang harus kita lakukan?"

Lolongan Kise, bentakan Aomine pada Kise, nada sedih Midorima ataupun panggilan Murasakibara tak jua membuat Akashi beranjak dari diamnya, tidak juga membuat talian heterochome itu terlepas dari baby blue yang mulai mendekat kearahnya, tak membuat sang kapten berhenti membeku. Hingga sebuah tarikan halus pada ujung garmennya membuatnya kembali tersadar.

"Akachi-nii kenapa? Cakit?"

Semuanya menatap bingung Kuroko yang entah sejak kapan sudah bergabung bersama mereka, kenapa bocah kecil satu ini bertanya pada sang kapten seolah-olah sang kapten terlihat pucat atau terlihat nyaris pingsan. Padahal yang mereka lihat Akashi hanya mematung, tak bergerak, dan menatap tajam kearah Kuroko.

Dengan gerakan yang luwes Akashi sedikit berjongkok untuk mensejajarkan tinggi tubuh mereka, dan mulai mengusap lembut pucuk kepala sang bocah.

"Aku baik-baik saja Tetsuya, terimakasih sudah mengkhawatirkanku." dan senyum keduanyapun merekah. Bersamaan dengan nyala ide cemerlang yang mungkin berakhir dengan penghabisan nyawa sang model Kise Ryota.

OoO

Tak ada pertumpahan darah yang terjadi, yang ada hanya perang mental penuh intimidasi dan tekanan jiwa yang meradang. Mood Akashi tidak kunjung membaik, walaupun sang pelaku perusak mood sang kapten telah meminta maaf sampai bersujud.

Akashi sedang menatap tajam Kise yang bersimpuh di depannya, sedangkan Akashi duduk diatas sofa sambil menyilangkan kakinya dengan angkuh.

Lelah dengan suara diam yang tak nyaman, akhirnya deheman Midorima bisa sedikit mencairkan suasana.

"Jadi... kau tentu mau melakukannya kan, nanodayo?" tanya Midorima datar.

Flashback

Sebuah bohlam lampu imajiner berpedar terang diatas kepala Kise saat melihat sang kapten yang tengah tersenyum lembut pada bocah dihadapannya.

"Jika kita tak bisa menceritakan semua peristiwa aneh ini pada orang dewasa, satu-satunya cara adalah memang membuat Kurokocchi pulang kerumah –ssu." kalimat ambigu Kise hanya disambut dengan kerutan di kening para pendengarnya.

"Aku tidak tahu kalau tadi aku memukulmu terlalu keras sehingga membuatmu gegar otak." Aomine hanya berdecih saat Kise dengan semangatnya berorasi tentang ide yang mencuat dari kepala pirangnya.

Kise hanya menjulurkan lidah pada Aomine sebagai balasan sebelum membuka kembali kalimatnya. "Kita hanya perlu membawa orang yang mirip seperti Kurokocchi dan menyuruhnya untuk berpura-pura menjadi Kurokocchi –ssu."

"Kau gila? Darimana kita menemukan orang yang mirip dengan Kuroko. Sedangkan Kuroko tidak mempunyai saudara kembar ataupun saudara yang mirip dengannya, nanodayo?"

"Kurochin kan pendek dan kasat mata, pasti akan sulit menemukan orang yang mirip Kirochin."

Murasakibara, bisa tolong berhenti berkomentar ambigu?

"Kise! Sepertinya kepalamu harus aku pukul sekali lagi, agar kau berhenti mengocehkan ide-ide gila. Kau pikir ibu Tetsu akan semudah itu tertipu dengan rencanamu? Kau kira ibu Tetsu tidak akan menyadari kebohongan kita? Kau hanya akan membuat kita semua dalam masalah."

Satu lengan kekar berkulit tan sudah siap kembali menghantam kepala Kise, namun buru-buru sang model menghindar karena dia harus menyelesaikan ide gilanya, dan berharap semua akan menerima idenya.

"Kita tidak perlu mencari jauh-jauh orang yang tahu seluk beluk dan kebiasaan Kurokocchi, karena aku sudah menemukan orang itu."

Kedutan kening bersamaan dilakukan saat mendengar Kise mengakhiri kalimatnya, kepala mereka masih sibuk dengan berbagai macam spekulasi aneh yang mungkin bersarang dalam kepala sang model. Berharap semua hal yang Kise pikirkan tidak membawa maut pada mereka.

Dengan gerakan yang santai dan penuh percaya diri, Kise melangkahkan kaki jenjangnya pada seseosok pemuda dengan surai merah yang tengah memanggul biru digendongannya.

"Akashicchi orangnya..." seru Kise dengan ceria sambil mengarahkan kedua lenganya pada sosok Akashi bak seorang presenter acara kuis saat mengumumkan pemenang.

"Kenapa harus aku?"

Kise terlalu larut dalam euforia akan idenya yang cemerlang, sehingga tidak menyadari nada penuh ancaman yang ditodongkan melalui kalimat tanya padanya. Dan dengan ketidak sadaran yang terlampau polosnya, Kise menjawab dengan enteng. "Karena satu-satunya anggota Kiseki no Sedai yang bertumbuh pendek hanya Akashicchi seorang –ssu."

Semua orang dalam ruangan itu membatu, mengutuk Kise dalam hati karena tindakannya yang terlampau polos atau terlalu bodoh, bahkan Kuroko ikut-ikutan membekap mulutnya dengan kedua tangan agar tak mengeluarkan sedikitpun kikikan yang berusaha ditahannya agar tidak lolos keluar.

-Ckris-

End Flashback

OoO

Kise mungkin punya seribu nyawa karena tak pernah kapok membuat Akashi kembali mengeluarkan guntingnya untuk membungkam bibir Kise yang sedari tadi terkikik, bibirnya tak henti-hentinya tersenyum melihat penampilan sang kapten sekarang.

Aomine yang sadar hanya memiliki satu nyawa, lebih memilih untuk tertawa dalam hati, sadar bahwa dia juga tidak akan mungkin sanggup untuk mengemban misi yang menegangkan ini.

Ketiga remaja itu sedang dalam perjalanan menuju rumah Kuroko, surai pirang, navy blue dan baby-blue itu nampak berayun indah bersama dalam tiupan angin musim panas.

Tidak... itu bukan salah ketik, tapi benar-benar baby-blue yang berayun diapit oleh pirang dan navy blue. Tapi, jika ditelaah lebih lanjut ekspresi pemuda dengan surai baby-blue dan manik azure itu nampak seperti ekspresi Kuroko yang sedang kontipasi daripada dengan wajah teflon Kuroko yang kelewat datar.

"Mou~ Akashicchi, berhentilah berekspresi seperti orang yang sedang kontipasi, ekspresi Kurokocchi itu sangat imut –ssu, membuatku selalu ingin memeluknya. Tapi kalau sekarang, aku jadi malas untuk memelukmu –ssu."

Benar Kise, untuk sekarang jangan memeluk Kuroko yang sedang berjalan disampingmu, karena saat kau berniat untuk memeluknya, gunting merah akan langsung mengantarkanmu ke alam baka.

"Kise, jaga ucapan dan panggilanmu. Jangan sampai kita semua ketahuan." Aomine yang berjalan disebelah kiri pemuda bersurai baby-blue mulai mengintrupsi rengekan sang model.

"Lagipula kita semua harus berkerjasama untuk misi penting ini, iya kan Tetsu?" tanpa ragu Aomine langsung mengalungkan lengan besarnya pada pemuda yang kini mulai mengaduk celananya, mencari gunting saktinya. "Dan... Tetsu yang aku kenal tidak akan mengeluarkan gunting saat marah." kikik Aomine yang kini melihat aura kemarahan sang kapten.

Hanya tinggal beberapa langkah lagi untuk mereka memasuki rumah dengan gaya jepang yang khas dengan papan nama 'Kuroko'.

Kise berhenti sejenak, sebelum menekan bel di depan pintu Kise kembali menatap pemuda bersurai baby-blue yang berdiri disebelahnya. "Nee~ coba tunjukkan senyumanmu Aka —makasudku Kurokocchi."

Dan sebuah seringai muncul, membuat Kise kembali berteriak. "Itu bukan senyuman –ssu, itu seringai. Kurokocchi tak pernah menunjukkan seringainya."

Akashi Seijuurou, pemuda luar biasa dengan kemampuannya yang diatas rata-rata, biasanya bersurai merah, dengan manik heterocrome kini telah bertransformasi menjadi Kuroko dengan surai baby-blue dan manik azure yang memikat. Sedang berjuang mengcosplaykan sang bayangan dengan sempurna. Aomine dan Kise hanya bisa berdo'a sambil berpegangan tangan, berharap ibu Tetsuya tidak jantungan melihat putra polos mereka berubah menjadi seorang raja tega.

Menarik nafas sebelum dihembuskan dengan keras dan mulai masuk melalui pintu yang menjulang dihadapannya. Akashi sudah sangat siap untuk menyelesaikan misi aneh hasil ide Kise yang super absrud, yaitu mengelabui ibu Kuroko dengan memakai kapten sadis mereka.

"Aku pulang." suara Akashi mengalun dengan merdunya, sembilan puluh sembilan koma sembilan puluh sembilan persen mendekati suara asli sang bayangan, gestur tegas Akashi menguap saat tubuh berbalut t-shirt putih dan celana biru itu melewati pintu berbahan kayu, berubah menjadi gentur lemah dengan keberadaan yang terasa tipis.

Kise dan Aomine masih mematung disana, terlalu terkejut dengan perubahan seratus delapan puluh derajat sang kapten dan akting Akashi yang begitu natural dan nampak tak dibuat-buat. Seolah-olah didepan mereka sekarang ini adalah Kuroko Tetsuya yang asli bukan Akashi Seijuurou yang otoriter.

Kise mengerang saat merasakan Aomine menyikut rusuknya. "Sadarlah, Kita harus membantu Akashi didalam."

Anggukan sebagai jawaban sebelum kedua remaja yang tadi sempat membeku didepan pintu melangkahkan kaki memasuki pintu yang sama seperti yang dimasuki sang kapten.

OoO

Jika Kise dan Aomine dibuat terkagum-kagum dengan tingkat akting Akashi yang mengagumkan saat meniru Kuroko sangat sempurna. Maka Midorima dan Murasakibara yang sedang bertugas menjaga Kuroko kecil didalam apartemen Akashi dibuat terkejut dengan tingkah polos sang bocah.

Midorima sedang memandang lurus sosok bocah yang kini sedang duduk di atas sofa sambil menyeruput vanila milkshake sambil mengoyang-goyangkan kaki mungilnya yang terjulur.

"Kuroko, apa yang kau lakukan disini?" tanya Midorima memulai sesi wawancaranya didampingi Murasakibara yang entah sejak kepan sudah lupa mengigit dinding apartemen Akashi dan kembali dengan setumpuk cemilannya.

"Tetcuya cedang minum milkchake yang tadi dibelikan Akachi-nii." jawab polos sang bocah sambil menunjukkan dengan bangga segelas milkshake yang sedari tadi tak pernah lepas dari genggamannya.

"Berapa usiamu sekarang, nanodayo?"

"Lima tahun, Midolima-nii."

Kuroko dengan sabar menjawab semua tanya yang tertuju padanya, sambil terkekeh sejenak apabila melihat kerutan sang penanya makin bertambah seiring berjalannya waktu.

"Dimana kau bersekolah?"

"SMP Teiko."

"Kau kelas berapa sekarang?"

"Kelas tiga."

Alis Midorima mengkerut.

"Balita usia lima tahun mana mungkin sudah bersekolah di tingkat SMP, Kuroko."

Gidikan bahu Kuroko dengan bonus senyum malaikatnya, membuat kacamata Midorima sukses merosot jatuh.

"Kenapa kemarin Kurochin ada di sekolah?" Murasakibara ikut mengajukan tanya dengan mulut yang masih penuh.

"Belmain Bac-ket (bermain basket)."

Midorima dan Murasakibara saling bertatapan, apa-apaan ini. Kenapa Kuroko manis mereka sudah eror begini, dia sadar betul bahwa sekarang masih berusia lima tahun tapi kenapa ingatannya adalah ingatan remaja berusia lima belas tahun. Tapi mungkin lebih baik seperti ini, akan lebih sulit jika tranformasi Kuroko dibarengi dengan hilangnya ingatan lima belas tahun miliknya. Mungkin mereka akan lebih kebingungan menghadapi bocah usia lima tahun yang tidak pernah mengenal mereka sama sekali.

Tanpa sadar, Midorima meremat surainya dengan frustasi, manik zamrudnya menatap lekat-lekat bocah yang duduk dihadapannya, menatapnya dari ujung rambut hingga ujung kaki, mengamati setiap jengkal ekspresi yang terpahat dalam wajah datar itu, dan merekam setiap tingkah lugu sang bocah.

Benar prediksinya hari ini, dengan hancurnya lucky item yang dibawanya pagi tadi, semua permasalahan ini tidak berujung baik, bocah dihadapannya ini tidak pernah sadar kalau dirinya dalam masalah yang rumit, tak pernah tahu kalau teman-temannya sedang berkutat menghadapi masalah tubuhnya yang tiba-tiba menyusut.

Pertanyaan selanjutnya.

"Kenapa Kurochin memilih tidur di sini dan tidak pulang?"

"Kalena ibu Tetcuya cedang mengunjungi nenek yang cakit, jadi Tetcuya tidur di tempat Akachi-nii."

"Kenapa tidak tidur ditempat yang lain, nanodayo?"

Walaupun semalam Midorima sendiri yang mengusulkan agar Kuroko menginap di apartemen Akashi, tapi mulutnya sedikit gatal, ingin menanyakan perihal Kuroko yang tidak menolak sama sekali setelah tahu dia akan tidur di apartemen sang kapten sadis mereka.

"Cebelumnya Tetcuya cudah cering tidur ditempat Akachi-nii."

Masih dengan mengoyang-goyangkan kedua kakinya yang terjulur, Kuroko tetap menjawab tanya yang terlontar, tanpa menghiraukan ekspresi kedua pemuda yang duduk bersila di depannya sedang menautkan alis, yang satu nampak curiga, yang satu risau karena cemilannya habis.

"Apa hubungan kami denganmu, nanodayo?"

"Teman-teman Tetcuya."

"Lalu hubunganmu dengan Akashi, nanodayo?"

Kuroko menenglengkan kepalanya kearah kiri, sedikit tidak mengerti dengan pertanyaan si mata empat. Mengerti akan kebingungan dari sikap Kuroko, Midorima mengganti kalimat tanyanya.

"Antara aku, Murakasibara, Aomine, Kise dan Akashi. Siapa yang paling kau sukai?"

Sebuah senyum terukir dengan manisnya pada bibir sang bocah, "Akachi-nii." serunya senang, sambil melebarkan senyum pada bibir mungilnya.

Midorima menautkan kedua alisnya, manik zamrudnya membola, kaca matanya dibiarkan merosot, sedangkan Murakasibara tersedak cemilannya sendiri.

"Kenapa Akachin? Bukankah Akachin jahat dan sering memberikan hukuman?"

Hanya tundukan kepala dengan semburat merah samar sebagai jawaban. Dan pikiran ambigu memenuhi kepala dua remaja yang memandangnya.

OoO

Lelah sekali, hari ini mungkin hari yang paling panjang dalan sejarah hidup Kiseki no Sedai, dan berkali-kali Midorima mengutuk dirinya sendiri yang tidak membawa cadangan lucky item, sehingga dia tak harus mengalami kesialan yang bertubi-tubi. Kepalanya mendadak migran, dan sumber migrannya tak lain adalah seorang bocah manis yang masih sibuk bermain dengan sang raksasa ungu.

Dari jauh Midorima mengamati sang bocah dalam diam, memantau sang bocah yang kini nampak kesulitan mengambil sebuah bola berwarna orange. Lengan pucat kecil itu dengan susah payah memeluk bola basket yang mengelinding tak jauh darinya.

Ya... saat ini Kuroko dan Murasakibara sedang bermain bola basket, atau lebih tepatnya saling mengelindingkan bola basket diatas lantai apartemen sang kapten. Kikikan senang menguar dalam ruangan apabila Kuroko berhasil menangkap bola yang mengelinding kearahnya, dan tepukan gembira saat Kuroko berhasil mengelindingkan kembali bola yang ditangkapnya kepada sang lawan yang duduk tak jauh darinya.

Walaupun permainan ini terlampau sederhana, namun Kuroko sangat menikmatinya. Tawanya pecah, senyumnya mengembang sempurna, walaupun sesekali Kuroko harus meringis menahan sakit saat tersandung kakinya sendiri, atau tersangkut karpet mahal Akashi karena Murasakibara melempar bola cukup jauh dari jangkauan sang bocah. Setidaknya pemandangan itu bisa membuat migran Midorima sedikit berkurang.

Merasa Kuroko dan Murasakibara sedang tidak ingin diganggu waktu bermainnya, Midorima memutuskan untuk berkeliling sebentar di dalam apartemen sang kapten. Dan tujuan utama jatuh pada kamar Akashi yang berada di timur ruangan. Sofa dengan lapisan kulit berwarna merah disamping sebuah rak buku yang cukup tinggi menarik perhatian Midorima, menghempaskan diri pada sofa, sang penganut oha-asa mengambil satu buku yang mencuat tak jauh dari jangkauannya.

Satu kerutan berhias didahi, saat Midorima menatap lekat buku yang diambilnya, satu buku tipis dengan sampul tebal berwarna hitam, nampak kusam dan berusia ratusan tahun, tak ada judul, tak terdapat nama pengarang, covernya mulus tanpa coretan kata, tanpa rangkaian kalimat, hanya hitam, polos.

Jemari Midorima tergerak untuk membuka halaman pertama, rasa penasaran mengelayutinya, ingin tahu buku apa yang biasanya sang kapten baca. Dan rasa penasaran itu hanya tergantikan dengan rasa keterkejutan, dan kerutan dahi yang makin dalam, ketika satu deret kalimat terpampang disana.

"I will help you to find what your heart wants"

"Apa-apaan ini?"

.

.

.

.

.

TBC

A/N :

Toyong... ini cerita apaan ya? *benturin kepala ke dinding*

Terimakasih untuk semua review yang telah masuk, untuk semua reader, untuk semua follower, untuk semua reader yang telah memfavoritkan fic abal Aoi. ^^

Tanpa dukungan pada reader sekalian, saia tidak mungkin bisa melanjutkan fic ini dan mungkin malah berakhir dengan pundung dipojokan karena galau yang tak berujung #plak #abaikan

Sudah mulai masuk konflik (mungkin...) dan pasti para reader sudah bisa menebak bagaimana endingnya kan... *kitty eyes*

Berhenti basa-basi dan lebih baik segera balas review...

[Kagakuro lovers]

Hallo juga KagaKuro-san, terimakasih karena selalu review... ^^

Kalau chapter lalu Akashi memang modus, tapi sekarang sudah tidak terlalu modus ko... XD. Cukup baginya untu bermodus ria *dirajam gunting*

Kuroko akan suka sama Akashi nggaak ya? Tentu KagaKuro-san sudah tahu jawabannya kan...

Saia punya twitter, tapi sayangnya jarang banget dibuka. Saia lebih suka bermain diFb karena banyak teman saia yang masih mengunakan FB dari pada Twitter *Maklum, saia orang purba* #plak

Jika berkenan silahkan review lagi... ^^

[kurokolovers]

Hayo~ dari mana saja ko ketinggalan? #plak *sok kepo*

Terimakasih sudah review Kuroko-san, syukurlah jika Kuroko-san menilai chapter sebelumnya seru, semoga saja chapter kali ini jga seru menurut penilaian Kuroko-san.

Ya... mereka sudah berubah menjadi para om-om pedofil, jika ada yang perlu disalahkan kerena keOOC an mereka, maka salahkan Kuroko yang berubah menjadi balita, jangan salahkan Authornya. #plak

Jika berkenan silahkan review lagi... ^^

[Dena Shinchi]

Terimakasih sudah review Dena-san... ^^

Pertanyaan Dena-san tentang misteri mengecilnya Kuroko akan sedikit demi sedikit mulai terkuak pada chapter ini dan chapter yang akan datang...

Dan entah kenapa saia suka sekali membuat Akashi menjadi sosok om pedo dan kejam (memang dasarnya dia sudah kejam dari sononya kan...)

Jika berkenan silahkan review lagi... ^^

[Mel]

Terimakasih sudah review Mel-san... ^^

Akachi-nii memang mecum palah, cuka na cama bocah... (halah... jadi ikut ketularan cadel juga kan.)

Jangan hanya jambak rambutnya saja, kalau bisa sekalian gunduli kepalanya. *dibantai Akashi*

Jika berkenan silahkan review lagi... ^^

Akhir kata...

Ada keluhan, kritikan, omelan, atau pujian

Silahkan klik Review... _