Tak ada yang tidak dapat Akashi Seijuurou lakukan, hal yang paling mustahil sekalipun akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Apalagi jika itu menyangkut sang pemain bayangan, Akashi akan bersungguh-sungguh untuk mencapai kesempurnaan itu.

Jemari Akashi berayun untuk menarik kenop pintu kayu dihadapannya, salam dialunkan untuk memberitahu orang yang di dalam rumah tentang kepulangannya.

"Aku pulang."

Suara merdu itu mengalun, gesture lemah dan wajah datar pun tampil begitu pintu kayu terbuka. Derap langkah terburu-buru terdengar, dan dengan santainya Akashi melepaskan sepatu, mengganti alas kaki dengan sandal rumah.

"Selamat datang Tecchan, ibu merindukanmu."

Surai baby blue wanita paruh baya itu bergoyang pelan saat mencoba meraih pemuda yang sudah siaga menerima pelukan sang ibu.

"Aku pulang Kaa-san, aku juga merindukan Kaa-san," bisik Akashi pelan.

"Nee~ Tecchan bertambah tinggi ya?" kedua telapak tangan itu membingkai pipi pucat sang kapten, dua penonton di belakang Akashi nampak tegang luar biasa.

"Kita pasti ketahuan, pasti ketahuan... matilah kita," gumam Aomine pelan.

Kedua belah bibir pemuda itu berkomat kamit tidak jelas, menggumamkan mantra apapun yang mereka tahu, berdoa semoga mereka selamat. Sedangkan sang tokoh utama nampak sangat tenang menghadapi situasi super meneegangkan ini.

"Tecchan sehatkan? Kaa-san kehilangan kacamata saat perjalanan pulang dari Hokkaido, jadi Kaa-san tidak bisa melihat dengan jelas wajah Tecchan."

Kise dan Aomine yang masih diambang pintu hanya sweetdrop mengetahui fakta yang satu ini. Ibu Kuroko mengalami kesulitan melihat? Rabun? Jangan bilang bahwa Akashi sudah tahu, atau lebih parahnya lagi sudah memprediksi situasi ini. Dengan gerakan pelan ditatapnya sang kapten yang masih nyaman dalam pelukan dan ketika satu senyum penuh kemenangan dikulum Akashi. Dua orang yang lainnya pun sadar betapa mengerikannya kapten mereka.

Ya... Kuroko Yukina, wanita paruh baya dengan surai baby-blue sebahu yang sudah menjadi ibu dari Kuroko Tetsuya selama lima belas tahun ini, sedikit bermasalah dengan penglihatannya, bertahun-tahun harus menggunakan kacamata karena menderita hipermetropia.

.

.

.

.

.

*HOCUS FOCUS*

Disclaimer:

Kuroko No Basuke © Fujimaki Tadatosi

Story by Aoi-Umay

Pairing:

Chibi!Kuroko x GoM

Warning:

Typo, OOC yang berlebihan, sedikit Humor, AU

DLDR, R&R please...

Enjoy Reading Minna... ^^

.

.

.

.

.

"Nee~ tumben yang mengantar Tecchan bukan Akashi-kun."

Kalimat itu langsung saja terlontar saat Yukina tidak menemukan surai merah yang sangat dia kenali menyembul dari teman-teman putranya yang kini sudah duduk di ruang tamu.

Dengan susah payah memicingkan mata, takut-takut apabila dia salah lihat, namun sekali lagi, tidak ada merah diantara biru gelap dan pirang yang duduk dihadapannya.

"Akashicchi sedang sibuk, bibi." jawab Kise sambil tersenyum canggung.

Bagaimanapun juga mereka belum bisa pulih dengan cepat, setelah keterkejutan tadi. Seharusnya mereka sebagai pengantar atau bisa dibilang sebagai pengawas misi harus menerima info sepenting itu, setidaknya mereka tidak perlu jantungan seperti tadi. Sungguh kapten yang sangat keterlaluan.

"Sibuk ya? Padahal bibi sudah lama tidak bertemu dengannya," tubuh ramping Yukina menghadap sang putra yang kini sedang duduk di sebelah kanannya. "Tecchan, tidak sedang bertengkar dengan Akashi-kun kan?"

Tanya yang sungguh ambigu, membuat dua tamu mereka ditemukan dengan keadaan yang mengenaskan. Aomine tersedak minuman yang baru saja dicicipinya, sedangkan Kise saking kagetnya hampir pingsan dengan arwah putih yang keluar dari bibir seksinya.

Dan jangan tanya bagaimana ekspresi sang kapten melihat anak buahnya nampak mengenaskan. Pemuda pendek yang sedang menyamar itu hanya berwajah datar di depan Yukina.

"Tentu saja tidak Kaa-san, Akashi-kun hanya benar-benar sedang sibuk."

Sebuah cubitan lembut dari Yukina mampir ke hidung Akashi, tak akan ada yang cukup berani melakukan itu jika saja tahu bahwa sosok yang sedang berselimut rambut palsu dan softlens itu adalah yang mulia Akashi.

"Jangan bertengkar dengannya ya, jangan menyusahkan dia. Akashi-kun sudah sangat baik pada Tecchan," pesan Yukina pada pemuda dihadapannya.

"Iya Kaa-san, aku tidak akan menyusahkan Akashi-kun."

Oh... bibi Yukina, sepertinya bibi perlu memeriksakan telinga bibi ke dokter THT. Apa bibi tidak mendengar? Atau pura-pura tidak tahu. Setiap kalimat yang lontarkan putra anda itu tersirat nada intimidasi yang hanya dimiliki oleh Akashi seorang, walaupun saat ini kadar intimidasi itu cukup berkurang.

"Bibi... sepertinya bibi kenal dengan kapten kami? Apa Akashi memang sering mengantar Tetsu?"

Hmm... ada yang merasa memiliki tingkat ke'kepo'an melebihi Kise rupanya, Aomine yang terkenal tidak terlalu perduli dengan urusan orang lain kini mulai kepo? Jadi apakah otak Aomine sudah mulai bekerja setelah bertahun-tahun hanya diisi oleh basket, tidur dan mai-chan?

"Tentu saja bibi kenal, sangat kenal malahan. Akashi-kun bukan hanya sekedar mengantar Tecchan, tapi juga sering menginap di sini, sebaliknya Tecchan juga sering bibi izinkan menginap di apartemen Akashi-kun," jawab Yukina ceria.

Marilah kita melonggo bersama-sama seperti yang dilakukan dua anggota Kiseki no Sedai saat mendengar penuturan dari ibu Kuroko tercinta.

"Kenapa Kise-kun, Aomine-kun? Kenapa kalian diam saja?" tanya Akashi sok polos seraya melambai-lambaikan sebelah tangannya dihadapan dua manusia yang kini berubah seolah menjadi patung batu.

Mereka memang membatu dengan posisi seperti itu dalam beberapa menit, beruntung Yukina yang menderita rabun dekat sehingga tidak perlu menjadi saksi dari ekspresi paling konyol dari dua tamu mereka. Yukina hanya bisa melihat warna surai mereka, dan hal itulah yang dibuatnya untuk mengenalli satu sama lain, karena manik Yukina tidak dapat melihat detail wajah putra dan dua temannya.

Kedua pemuda itu terkesiap begitu nama mereka dipanggil oleh sang kapten. Satu panggilan yang tidak biasa, kapten otoriter mereka tidak pernah memanggil dengan nama keluarga, namun mendengar bibir yang biasanya menyuarakan perintah kini memanggil mereka dengan lembut (?) dan sopan, membuat Kise dan Aomine sedikit senang.

"Jadi apakah ada masalah jika Akashi-kun sering berkunjung kemari?"

Gelengan kuat sebagai jawaban dari dua pemuda yang ditodong pertanyaan, euforia ketika nama mereka dipanggil dengan lembut lenyap seketika saat nada intimidasi kembali mendominasi dari tanya yang baru saja mereka dengar.

Tuh~ kan bibi Yukina, putra manismu bermain-main dengan nada intimidasi lagi. Apa bibi tidak mendengarnya? Tidak mendengar bagaimana wajah datar dan senyum yang seolah senyum malaikat itu mengancam hanya menggunakan sebuah kalimat tanya. Bibi Yukina aku mohon sadarlah bahwa yang duduk di sampingmu itu bukan putramu, tapi calon menantumu. Heh?

"Lebih baik Kaa-san mengambil tas Tecchan, tadi Kaa-san sudah mempersiapkanya." Setelah pamit dan dijawab dengan anggukan dari Akashi, Yukina bergegas melesat ke lantai dua, ke dalam kamar Kuroko.

Dua manik berbeda kembali menginvasi heterochome yang tersembunyi dalam soft lens berwarna azure itu.

"Kenapa Ryota, apa ada yang ingin kau tanyakan?" tanya Akashi tajam, topeng lemah lembutnya dilepas seketika saat Yukina sudah tidak bersama mereka.

"Ano~" Kise mencoba merangkai kata, jemarinya sudah berkeringat saking gugupnya. "—aku hanya ingin bertanya, ada hubungan apa antara Akashicchi dan Kurokocchi –ssu."

"Benar... apa hubunganmu, kenapa kau kelihatan sangat akrab dengan ibu Tetsu? Padahal aku yang biasanya pulang bersama Tetsu tidak seakrab itu."

Aomine memukul meja yang ada dihadapannya, manik navy bluenya menatap lekat-lekat pemuda dihadapannya, dan saat satu seringai diperlihatkan Akashi, kedua pemuda itupun hanya bisa begidik ngeri.

"Gunakan saja otak yang kalian miliki itu untuk menjawab ada hubungan apa antara aku dan Tetsuya."

Akashi selesai dengan kalimat ambingunya, yang sukses membuat Kise maupun Aomine membelalakan mata. Terus saling pandang satu sama lain, untuk mencerna makna yang tersirat dalam kalimat sang kapten , sehingga membuat mereka tidak menyadari Akashi yang sudah menghilang menyusul wanita paruh baya yang sebelumnya pamit mengambil pakaian putranya.

"Kau tidak sedang berpikir sama seperti apa yang aku pikiran kan?" tanya Aomine pada pirang yang kini menatapnya sambil melonggo.

"Masalahnya Aominecchi, aku sekarang ini sedang berpikir sama seperti dirimu yang kadang jarang berpikir."

OoO

"I will help you to find what your heart wants"

Satu rangkai kalimat dalam balutan tinta merah itu menjadi satu-satunya kalimat yang ada pada halaman pertama buku yang kini ada di tangan Midorima. Kerutan pada keningnya makin bertambah.

Rasa ingin tahu yang semakin mengebu karena rasa penasaran yang terus mengusiknya membuat jemari pemuda berkacamata itu terus membalik halaman buku di tangannya.

Hanya akan membantu, bukan mengabulkan.

Kepada manusia dengan jalinan hati yang kuat.

"Kami pulang,"

Seruan dari arah pintu, sejenak mengalihkan perhatian Midorima. Namun, lembar ketiga buku hitam yang ditemukannya lebih menarik daripada sekedar menyapa si pemilik apartemen.

Tak ada kata kembali,

Tapi bukan berarti semuanya akan berakhir.

Midorima mengernyitkan alis tajam, bulu kuduknya sedikit meremang, lembar selanjutnya.

Tidak semuanya akan berakhir,

Bukan berarti tak ada kata menyesal.

"Akachi-nii, Aomine-nii dan Kice-nii cenyamat datang."

Seruan cadel Kuroko yang menyambut tiga remaja yang baru saja datang, mengusik pendengaran Midorima. Tapi rasa penasaran pemuda bersurai lumut itu membuatnya kembali menekuni bukunya kembali.

Kebahagian bisa datang padamu.

Atau malah petaka akan menyertaimu.

Lembar berikutnya.

Hanya satu kalimat dengan dua kata.

"Hocus Focus"

Tarikan napas dilakukan, mental dipersiapkan untuk membuka lembar terakhir.

Mantabkan hatimu, pusatkan segenap pikiranmu,

ucapkan katanya dan...

I will help you to find what your heart wants.

OoO

Ketiga pemuda yang baru saja kembali dari misi penting mereka, kini menampakkan ekspresi yang sangat beragam. Kise yang sebelum berangkat nampak paling ceria, kini menekuk wajahnya sampai kusut. Aomine yang biasa berkomentar absurd asal-asalan juga terlihat tak bersemangat untuk menyulut perkelahilan, dan pemuda yang terakhir masuk adalah sang kapten otoriter mereka, Akashi sudah melepas semua atribut penyamarannya menjadi Kuroko, surainya kembali berwarna merah, soft lens azure juga sudah dilepas dan manik heterochomenya kembali mengintimidasi, Akashi membalut diri dalam pesona wibawa seorang kapten.

Satu senyum dikulum Akashi seraya mendekati bocah yang tengah menatapnya penuh binar kepolosan. "Terimakasih atas sambutannya, Tetsuya," satu sapuan lembut dirasakan si bocah di atas kepala, membuatnya terkekeh pelan terhadap tindakan sang kapten.

Aomine dan Kise yang sudah menjatuhkan diri pada sofa empuk Akashi sambil melihat peristiwa itu, hanya tersenyum maklum dan enggan untuk mengganggu dua manusia yang masih saling senyum itu.

Azure si bocah jatuh pada benda yang tengah ditenteng sang kapten. "Akachi-nii membawa apa?"

"Ini baju yang dititipkan ibumu Tetsuya," jawab Akashi sambil menyodorkan tas penuh berisikan keperluan Kuroko.

"Bagaimana kabar kaa-cyan, niichan?"

"Baik-baik saja Tetsuya, seperti biasa Kaa-san kembali kehilangan kacamatanya."

Jawaban yang diberikan Akashi membuat bocah yang kini sedang sibuk mengobrak abrik tas yang baru saja diberikannya terkekeh pelan.

"Akashi, bisa kau jelaskan apa ini!" seru si surai lumut sambil menunjukkan satu buku temuaannya pada sang kapten. Midorima yang baru saja turut bergabung, tak punya banyak waktu hanya untuk sekedar berbasa-basi.

Akashi mendongakkan wajahnya dengan enggan, menatap zamrud yang berkilat menuntut satu jawaban.

"Apa yang Midochin bawa itu –ssu?" Kise yang merasa suasana diselilingnya mulai memanas dan berat turut tertarik ikut dalam percakapan.

"Lebih baik biarkan saja Akashi yang akan menjelaskan semuanya, nanodayo," ucap tajam Midorima sambil menaikkan bingkai kacamatanya.

"Akashi, apa karena buku ini, tubuh Kuroko menjadi mengecil?" tuding Midorima pada sang kapten.

"Apa maksudmu empat mata? Buku apa?" Aomine yang sebelumnya nampak nyaman bersetubuh dengan sofa mewah Akashi, begitu nama sahabat disebut sukses membuat pemuda tan itu penasaran dan turut meramaikan suasana. Seraya merebut buku yang dalam genggaman Midorima.

"Jadi Kurochin mengecil gara-gara buku itu?" pemuda dengan surai sewarna lavender yang sebelumnya menemani si bocah bermain, kini ikut tertarik dengan topik yang baru saja diangkat.

Topas kuning, navy blue dan ungu membaca setiap kalimat yang tertulis misterius pada buku hitam temuaan Midorima, kemudian menatap Akashi tajam, menuntut jawaban, menunggu penjelasan.

"Apa?" tanya Akashi datar, sambil mendaratkan diri, bersantai pada sofa terdekat.

Malas menatap keempat temannya, heterocrome lebih memilih untuk mengamati si bocah bersurai baby blue yang nampak asyik mengobrak abrik isi tas miliknya, mengambil salah satu t-shirt berwarna putih. Lengan pucat sang bocah mulai menarik t-shirt biru laut yang dikenakan dan mengantinya dengan t-shirt yang baru saja diambil dari dalam tas.

Akashi mengernyitkan alis heran, kenapa bocah manis itu malah menarik lepas pakaian yang baru tadi pagi dibelikannya dan kembali memasang t-shirt kedodoran miliknya.

Merasa diabaikan, empat pemuda itu mengikuti arah pandangan sang kapten, dan tersajilah pemandangan paling mengemaskan. Kuroko kembali tenggelam dalam garmen putih yang melahap tiga perempat tubuhnya, kepala mungil bersurai baby blue menyembul manis dari atas kerah t-shirt, kedua lengan mungil digerak-gerakkan agar ikut keluar dan bergerak bebas pada lubang lengan. Kekehan rasa geli terdengar jelas dari belah bibir tipis Kuroko.

"Kenapa kau lepas baju dariku Tetsuya? Tidak suka baju memberianku?" tanya Akashi tersinggung dengan tidakan Kuroko.

Gelengan diberikan Kuroko sebagai jawaban, "Tidak niichan, Tetcuya cuka baju dali niichan ko."

Dengan susah payah Kuroko melangkahkan kaki untuk menuju sang kapten yang masih asyik bersantai di atas sofa, satu tarikan pada lengan t-shirt dilakukan Kuroko, mencoba mempertahankan leher t-shirt yang membandel selalu turun sampai lengan, mempertontonkan leher dan bahu munggilnya.

"Tetcuya cuma ingin pakai baju yang niichan bawakan," jawab Kuroko malu-malu, sambil menghamburkan diri pada tubuh sang kapten, tak menghiraukan tatapan kaget yang tertuju padanya dari empat pemuda yang lain.

"Akashi sampai kapan kau akan mengelak? Kau berhutang penjelasan pada kami," mengabaikan sikap Kuroko yang sedang bermanja-manja pada sang kapten, Midorima kembali pada topik permasalahan.

"Aku sudah tahu, jika kau akan menemukan buku itu Shintarou," jawab Akashi tenang, sambil mengelus si baby blue yang bergelung di atas pangkuannya.

"Jadi, memang benar karena kau Tetsu jadi menyusut seperti sekarang?" Aomine berkacak pinggang, emosinya memuncak. Jika memang sang kaptenlah yang membuat sahabatnya berubah menjadi mahluk cebol nan lucu bin menggemaskan. Dia bersumpah akan menguliti kaptennya itu.

"Bisa jadi."

Empat pemuda yang tengah menjulang dihadapan Akashi mengerutkan kening bersamaan, jawaban singkat sang kapten sama sekali tidak memberikan sedikitpun kepuasan dari rasa penasaran yang mengebu-gebu.

"Apa buku ini milikmu, Akashi?" tanya Midorima makin lanjut.

"Buku itu bukan milikku, aku pernah membacanya di perpustakaan, dan aku tidak tahu kenapa tiba-tiba buku itu ada di apartemenku. Seingatku, aku tidak pernah meminjam buku itu," jelas Akashi masih dengan ekspresi tenangnya.

"Apa kami harus mempercayaimu, nanodayo?"

"Apa aku punya alasan untuk berbohong Shintarou?"

"Kenapa Akachin merubah Kurochin menjadi bocah?" tanya Murasakibara datar.

"Apa alasanmu membuat Kurokocchi seperti ini –ssu? Ya... walaupun Kurokocchi terlihat lebih manis sekarang –ssu," imbuh Kise.

"Aku hanya ingin menjauhkan Tetsuya dari kalian yang kemarin selalu menempel padanya."

Mahluk munggil yang bergelung di pahanya sedikit bergerak saat mananya disebut, semburat merah pada pipinya sedikit nampak, menandakan si empunya tersipu malu.

"Kalau begitu kembalikan Kuroko kembali seperti semula Akashi,"

"Tadi pagi aku sudah mencoba mengembalikannya, tapi—" rahang Akashi mengeras, kalimat Midorima hanya membuatnya mengingat kejadian pagi tadi. Dimana Akashi berusaha merapalkan mantra laknat itu lagi dan berakhir dengan sia-sia belaka.

"Tidak berhasil mengembalikan Kuroko pada bentuk semula, nanodayo?" tebak Midorima saat melihat wajah sang kapten yang sendu.

"Apa kau sudah membaca lembar terakhirnya Shintarou?"

"Lembar terakhir?"

"Ya... lembar terakhir, di sudut paling bawah sebelah kiri,"

Buru-buru Midorima membalik halaman terakhir buku hitam misterius di tangannya, tiga temannya yang lain turut bergabung untuk membaca rangkaian kalimat dalam balut tinta merah menyala dengan ukuran lebih kecil dari ukuran kalimat di halaman sebelumnya.

Keringat mengelucur deras dari kening keempat pemuda yang, manik keempatnya menatap nanar sang kapten yang masih sibuk mengelus surai bocah di pangkuannya.

Tak ada jawaban untuk menjawab semua tanyamu,

Tak ada penawar untuk semua rasa sakitmu,

Tak ada ampunan untuk semua dosa-dosamu,

Hanya ada keyakinan, yang harus kau cari untuk hidupmu.

.

.

.

.

.

TBC

A/N :

Haduh... makin ngaco, makin absurd *jedokin kepala ke tembok* semoga para reader tidak kecewa dengan chapter kali ini, kalau kecewa silahkan protes pada saya...

Gomen ne (~/\~) karena saya yang uptadenya ngaret...

Saatnya balas review...

[Aka no Rei]

Terimakasih sudah review... ^^

Maunya bikin AkaKuro full, tapi kalau gitu pairingnya jadi AkaKuro donk bukan GomKuro *digiles*

Kunci mengecilnya Kuroko ada di author ko, bukan Akashi. XD

Yosh... ini sudah diuptade, walaupun ngaret bin lama... (~/\~)

[Nigou-i]

Terimakasih sudah review... ^^

salahkan aku yang terlalu cinta pada AkaKuro, jadi kadang masih susah rela GomKuro *digiles* pada dasarnya memang aku penulis amatir yang susah banget bikin adegan rame-rame, jadi gitu akhirnya kebanyakan AkaKuro. Gomen ne... ^^

[Ryuusan]

Terimakasih sudah review... ^^

Gomen... (~/\~) ide mentok pada kata-kata pada bukunya, bikin aku telat update, tapi sekarang sudah diupdate ko... walaupun telat dua minggu. Hehe~ *ngacir*

[Kurokolovers]

Terimakasih sudah review... ^^

Cuma Akashi yang bisa niruin Kuroko, secara dia yang paling cebol sendiri *disabit gunting* Akashi kan memang rajanya raja. Raja gunting, raja tega, raja pedo, tapi sayangnya dia bukan penyihir. Bukunya aja yang buku ajaib.

Yosh... ini sudah diupdate, semoga tidak mengecewakan.

[Dena Shinchi]

Terimakasih sudah review... ^^

Kise terlalu sering ternistai dan sekarang saatnya dia sedikit mendapatkan penghargaan. XD hubungan Akashi dan Kuroko memang akan selalu ambigu. ^^

Yosh... ini sudah diuptade walaupun sangat telat. (~/\~)

[Rea]

Terimakasih sudah review... ^^

Horor kah? Aku belum berencana untuk membuat cerita ini naik pangkat jadi horor ko, masih lucu-lucuan aja, ngga mau bikin yang berat-berat. ^^

Yosh... ini sudah diupdate, semoga tidak mengecewakan. Gomen jika update ngaret. (~/\~)

Akhir kata...

Ada keluhan, kritikan, omelan, atau pujian

Silahkan klik Review... ^^