Malam semakin larut, suasana sunyi dan sepi pun menjadi penanda bahwa hari sudah semakin merangkak mendekati cerah sang surya. Azure itu mengerjap perlahan, mencoba beradaptasi dengan situasi di sekelilingnya, jemarinya mengucek pelan, mengusir kantuk yang merayapi dirinya. Sejenak meregangkan badan, merilkeskan tubuh yang terasa kaku, meringkuk dan terlelap dalam pangkuan remaja lima belas tahun memang tidak senyaman berbaring di atas ranjang yang empuk. Walaupun sekujur tubuhnya terasa kaku dan tidak nyaman, tidak sedikit bocah manis itu menyesal, dia akan rela sekujur tubuhnya kaku tak mampu bergerak asal dia dapat merasakan hangat pemuda yang dengan rela memberikan pahanya untuk alas tempat tidur.

Azure itu mengerjap berkali-kali, pemandangan di hadapannya membuatnya terenyuh sejenak, melihat teman-temannya meringkuk dengan berbagai posisi dan bermacam gaya, mau tak mau membuat lekungan bibirnya terangkat sekilas. Azure itu jatuh pada pemuda dengan surai lumut di samping kirinya yang sedang tidur bertopang lengan pada meja, sedangkan di depannya nampak laptop merah masih dalam keadaan menyala, menampakan sederet tulisan.

Tak jauh darinya, nampak pemuda bersurai pirang yang tengah berbaring beralas permadani merah, sebelah tangannya masih mengengam ponsel kuning, dan sesekali model remaja itu mengigau dalam tidurnya.

"Sihir, mantra..." setidaknya sepenggal kata itulah yang dapat di dengarnya samar-samar, membuatnya terkikik pelan.

Di samping si pirang, pemuda dengan surai navy blue terlelap beriringan dengan pemuda jangkung dengan surai lavender. Keduanya tenggelam dalam tumpukan buku-buku tebal, yang entah sejak kapan berpindah posisi dari rak buku yang ada di dalam kamar. Beberapa buku nampak terbuka, satu buku paling tebal menutup mata pemuda dengan kulit tan, beberapa buku nampak tumpah ruah di sekelilingnya. Sedangkan lengan panjang pemuda bersurai lavender yang biasanya digunakan untuk memeluk segunung cemilan, kini berubah menjadi memeluk beberapa buku yang cukup tebal.

Puas meelihat keempat temannya yang nampak kelelahan, perlahan tubuh mungil itu membalikkan badan, azure itu menatap pemuda yang semalaman membiarkannya meringkuk di atas pahanya, sambil terus mengusap surai baby-bluenya sampai dia terbuai dalam alam mimpi. Topeng otoriter, sikap wibawa khas seorang kapten tak nampak saat heterocromenya terlelap, yang nampak hanya wajah pemuda yang kelihatan kelelahan, bercampur dengan gurat kekhawatiran dan rasa cemas, semua terpahat jelas, bersyukur azure itu dapat menyaksikan dan merekam setiap pahatan wajah jujur sang kapten.

Jemari pucat nan pendek itu merangkak berlahan, merayapi dada bidang sang kapten, tak ingin membangunkan wajah damai yang tengah terlelap, dengan sangat pelan belah bibir sang bocah mengecup lembut bibir sang kapten yang kini terlelap dengan menyandarkan kepala pada lengan sofa hitam miliknya.

Semburat merah menyalar memenuhi wajah bocah yang mencuri kecupan pada dini hari, "Beyum... beyum waktunya aku kembayi," satu kecupan kembali diberikan pada sang kapten yang terlelap tanpa bertahanan, "Oyacumi... Akachi-kun," dan tubuh mungil itupun kembali meringkuk dalan pangkuan sang kapten, mencari kenyamanan, menggali kehangatan dalam dua belah lengan yang melingkarinya dengan protektif.

.

.

.

.

.

*HOCUS FOCUS*

Disclaimer:

Kuroko No Basuke © Fujimaki Tadatosi

Story by Aoi-Umay

Pairing:

Chibi!Kuroko x GoM

AkaKuro

Warning:

Typo, OOC yang berlebihan, sedikit Humor, AU

DLDR, R&R please...

Enjoy Reading Minna... ^^

.

.

.

.

.

Lima orang pemuda ditambah dengan satu bocah kini sedang berdiri di depan sebuah bangunan selayaknya kastil pada bertengahan abad di London. Bangunan megah yang berdiri di tengah kota itu adalah sebuah situs sejarah yang merangkap menjadi sebuah perpustakaan umum.

Semalamnya kelima pemuda itu bergadang untuk mencari berbagai informasi, namun sayangnya tak satupun dari mereka yang bisa menguak misteri yang kini sedang mengusik kehidupan mereka. Buku-buku tebal koleksi sang kapten sudah dibongkar, dipindah dari rak bukunya, setiap halaman sudah dibolak-balik, setiap kata sudah dibaca, setiap kalimat sudah dipahami tapi mereka hanya menemui titik buntu untuk permasalahannya.

Laptop sang kapten juga dinyalakan sepanjang malam, setiap artikel dibaca, menelususi setiap kata yang berhubungan dengan kata aneh 'hocus focus', namun mungkin memang nasib pemuda penganut oha-asa yang tak kunjung membaik, membuatnya hanya mendapatkan kesia-siaan. Tak ada satupun artikel yang mengulas tentang cara bagaimana membuat pemuda yang disulap menjadi bocah lima tahun bisa kembali seperti semula.

Jika tiga pemuda yang lain berusaha untuk mengali informasi dengan membaca buku ataupun berselancar di internet, dua pemuda yang lain mengunakan jaringan luasnya untuk menghubungi setiap orang yang dikenalnya, mungkin saja salah satu dari mereka bisa memberikan petunjuk, tapi bukannya petunjuk yang didapatkan mereka berlima malah berakhir dengan ketiduran pada pos mereka masing-masing.

Midorima terlelap di depan laptop yang masih menyala, Aomine dan Murasakibara tertidur dengan masih memegang buku tebal yang sebelumnya mereka baca, Kise masih mengenggam ponsel kuningnya, dan sesekali mengigau dalam tidurnya, sedangkan sang kapten berakhir terbuai mimpi dengan menyandarkan kepala pada sofa yang didudukinya, sedangkan di pahanya masih setiap satu mahluk mungil yang bergelung sejak kepulangannya.

Karena peraturan perpustakaan yang mengatakan dilarang membawa balita, sehingga membuat mereka berlima membagi tugas, dan di sinilah semua pemuda itu melaksanakan tugasnya masing-masing. Kise yang paling bersemangat menawarkan diri menjadi orang yang akan menjaga si bocah, walaupun awalnya permintaan itu sempat menerima penolakan dari sang kapten, toh pada akhirnya mereka berlima menyetujuinya, alasannya karena mereka tak ingin Kise merusak rencana mereka yang ingin mengorek informasi tentang orang yang terakhir meminjam buku laknat itu, sehingga buku itu berakhir di apartemen Akashi, dan juga meminta daftar para peminjam buku laknat itu untuk pencarian petunjuk selanjutnya.

Meninggalkan empat pemuda yang kini tengah melangkahkan kaki memasuki perpustakaan, Kise berencana mengajak Kurokocchi-nya bermain di taman bermain yang tak jauh dari lokasi perpustakaan.

"Kurokocchi~" panggil Kise pada bocah yang kini sedang sibuk mengamati sebuah ayunan di dekatnya, jemari mungilnya menyentuh pegangan ayunan, tubuh munggilnya berbalik, azurenya menatap lembut topas pemuda yang menjulang di belakangnya.

"Kurokocchi ingin naik itu?" tunjuk Kise pada ayunan yang masih dipegang Kuroko, dan anggukan antusias diberikan si bocah sebagai jawaban. Terkutuklah tubuh mungil yang terlalu pendek, membuat Kuroko harus mengandalkan orang lain untuk sekedar membantunya menaiki sebuah ayunan, tapi dengan senang hati Kise mambantu bocah di bawahnya. Jemari sang model mengangkat pinggang Kuroko, membantunya duduk pada bangku ayunan yang terbuat dari kayu.

Topas kuning Kise terus menatap bocah dihadapannya, pandangannya berubah sendu, mengingat bagaimana tragisnya nasib sang sahabat di tangan kapten mereka yang otoriter. Kise masih bersimpuh di depan si bocah, mengamati setiap ekspresi datar Kuroko, bocah di depannya nampak tenang seperti biasanya, tidak seperti keempat temannya yang lain dan dirinya sendiri, mereka berlima diserang stress berkepanjangan setelah tahu bahwa sang kaptenlah yang melafalkan mantra, dan mantranya kini malah tidak berfungsi saat semuanya ingin Kuroko kembali pada tubuhnya semula.

Kise mendesah pelan, kedua jemarinya mengenggam jemari bocah di depannya, "Kurokocchi apa kau senang seperti ini –ssu?" tanya Kise pelan, topas kuning Kise bertatapan langsung dengan azure sang bocah yang memancarkan sorot sinar kepolosan.

Satu senyum dikulum Kuroko, kepalanya ditenglengkan ke arah kiri, "Makcud Kice-nii apa?"

"Apa Kurokocchi bahagia seperti ini? Apa Kurokocchi tidak ingin pulang –ssu?"

Hening sejenak, Kuroko nampak tengah menahan kekehannya saat mendengar pemuda pirang di depannya bertanya dengan ekpresi wajah yang syarat dengan kesedihan.

"Tentu caja Tetcuya cenang, bica menghabickan libulan mucim panac bercama-cama dengan teman-teman yang menyayangi Tetcuya," kekehan pelan diberikan Kuroko sebagai pemutup kalimatnya yang menguras emosi.

Mendengar suara kekehan bahagia Kuroko, membuat pertahanan Kise retak tak beraturan, tangisnya pecah saat melihat bocah dihadapannya malah senang bisa menghabiskan liburan musim panas bersama mereka, padahal mereka berlima tengah dilanda kegundahan yang tiada tara karena fenomena yang terjadi.

Kuroko tersentak saat menyaksikan pemuda dihadapannya malah menangis tersedu-sedu, jemarinya masih digenggam erat, membuatnya tak bisa berbuat banyak untuk memenangkan Kise, satu-satunya yang bisa dilakukannya adalah membuat Kise merasa lebih baik dengan untaian kalimatnya. "Kice-nii kenapa menangis?"

Dan bukannya berhenti, tangis Kise makin menjadi-jadi, membuat beberapa orang yang berjalan disekitar mereka, berhenti dan mengamati mereka berdua dengan tatapan penuh keheranan. Satu sentakan keras membuat tubuh mungil Kuroko limbung dan berakhir di dalam dekapan sang model, kepala bersurai pirang itu dibenamkan pada bahu mungil si bocah, "Kasihan sekali Kurokocchi, kenapa Akashicchi jahat sekali padamu –ssu, dia sudah sering menghukum Kurokocchi saat latihan dan sekarang Akashicchi malah membuat Kurokocchi jadi cebol begini –ssu," racau Kise tidak jelas dalam tangisnya yang tak kunjung berhenti.

Merasa iba, jemari Kuroko mengelus punggung sang pemuda dengan lembut, satu kalimat yang niatnya membuat Kise agar lebih tenang dilontarkan, "Tidak apa-apa Kice-nii, tidak apa-apa," dan bukannya air mata itu berhenti setelah mendengar kalimat Kuroko, tangis Kise malah semakin kencang.

OoO

Setelah hampir tiga puluh menit mendekap Kuroko dan menuntaskan rasa sedihnya dengan menangis di bahu sang bocah, akhirnya Kise dapat mengendalikan diri, air matanya sudah berhenti mengalir, walaupun jejak alirannya masih nampak dengan jelas, suara sang model juga sudah tidak sengau lagi. Senyuman yang diberikan Kuroko yang kini duduk di sampingnya membuat hatinya kembali bergejolak, namun Kise sudah memantabkan hatinya untuk tegar dihadapan sang bocah, semua permasalahan yang ada tidak akan mungkin terselesaikan hanya dengan air mata.

Empat pemuda yang mengemban misi penyelidikan di dalam perpustakaan sudah kembali, derap langkah keempatnya langsung dibawa ke arah sang model yang tengah duduk di salah satu bangku taman bersama sesosok bocah dengan surai baby-bluenya.

"Akachi-nii, Aomine-nii, Midolima-nii, Muracakibala-nii, ceyamat datang," seru Kuroko pada empat pemuda yang kini berdiri menjulang di depannya.

Empat sosok yang ada tertegun melihat penampilan Kise, wajahnya nampak kusut dengan mata sembap yang kentara, "Woi, kau kenapa Kise?" tanya Aomine lantang, membuat Kise sedikit terlonjak, dan kembali ke alam nyata setelah beberapa menit Kise tersesat dalam lamunannya.

Seakan teringat akan sesuatu yang penting, Kise segera beranjak dari tempatnya duduk dan segera menyambar bocah yang sedari tadi duduk di dekatnya, membawa Kuroko dalam gendongan protektifnya, menjauhkan si bocah dari sang kapten yang tadi hendak mengendongnya tapi kalah cepat dengan reflek sang model yang terburu-buru.

"Apa yang kau lakukan Ryota, manarik Tetsuya seperti itu?" baritone itu bertanya kasar dengan nada penuh intimidasi yang khas.

"A- aku tidak akan membiarkan Akashicchi menyentuh Kurokocchi sebelum Akashicchi berhasil mengembalikan Kurokocchi seperti semula," teriak Kise, sambil mengambil tindakan menjaukan bocah didekapannya dari sang kapten yang terus mendekatkan diri padanya.

"Apa kau bilang? Aku tidak boleh menyentuh Tetsuya? Apa kau ingin aku memotong lidahmu Ryota?" ancam Akashi, aura membunuhnya sudah makin pekat menghujam Kise tanpa ampun.

"A- aku tidak peduli, meskipun Akashicchi akan mengancam, atau menghukumku, aku tetap tidak akan membiarkan Akashicchi menyentuh Kurokocchi –ssu," Kise sudah mengibarkan bendera perang, mempertaruhkan seluruh nyawa yang dimiliki untuk menantang sang kapten.

"Aku setuju dengan Kise, ini hukuman untukmu Akashi, kau pantas mendapatkannya, selama Tetsu belum kembali seperti semula, kau tak boleh menyentuhnya," Aomine turut bersuara dengan lantang dan penuh kepercayaan diri, pemuda tan itu melangkah mendekati si pirang dan menyatakan diri sebagai sekutunya.

Akashi mendengus kesal, heterchome Akashi menghujam setiap manik para pembelotnya.

"Kalian pasti akan menyesal pernah mengatakan ini padaku. Jadi apa ada yang ingin menyusul Ryota dan Daiki menyusul ke nereka?" tanya Akashi tajam, ke arah kedua pemuda yang berdiri tak jauh darinya.

"Aku akan ikut Akachin saja, karena selama ini Akachin selalu membelikanku makanan," pemuda paling jangkung menjawab terlebih dahulu, walaupun alasannya sedikit tidak logis, setidaknya Akashi punya satu sekutu.

"Melarangmu untuk tidak menyentuh Kuroko, tidak akan menyelesaikan masalah nanodayo, lagipula aku malas bersekutu dengan orang-orang bodoh seperti mereka," Midorima membenarkan letak kacamatanya, sebuah boneka anak ayam berwarna kuning bertengger indah pada tangan kirinya, "Tapi aku juga tidak mau bersekutu denganmu Akashi, aku akan menjadi pihak yang netral, nanodayo."

Dua lawan dua, setelah mundurnya Midorima yang menolak karena tidak mau bersekutu dengan Akashi, membuat Kuroko adalah satu-satunya orang yang bisa menentukan peraturan aneh yang Kise koarkan.

Empat pasang mata, menatap tajam bocah yang masih bergelantungan pada gendongan Kise, satu jawaban dari dua belah bibir mungil itu akan menentukan akhir dunia sang kapten.

"Tetsuya, kau ikut siapa? Setuju dengan ide Ryota tentang aku yang tak boleh menyentuhmu atau tidak?" sang kapten tak pernah sedikitpun mengurangi nada penuh intimidasinya, Akashi tetap melontarkan tanya dengan tajam, tak peduli sang objek adalah bocah dengan paras manis.

Kuroko nampak berpikir sebelum menjawab, dia sadar apapun yang akan dikatakannya akan sangat berpengaruh dalam kehidupannya ke depan. Secara nurani Kuroko tentu tidak ingin mengecewakan Kise yang sudah menangis mewaliki dirinya dalam menghadapi fenomena ini, selain itu ide Kise tentang hukuman untuk sang kapten memang selayaknya pantas untuk dicoba, setelah sekian lama sang kapten terus berkuasa menghukum mereka, bukankah sekarang ini saat yang tepat untuk membalas dendam.

Tapi disisi lain, dibagian terdalam hatinya, Kuroko pasti akan merindukan setiap belai lembut sang kapten, tak ingin menghilangkan rasa berdebar yang dirasakan setiap lengan kekar itu memeluknya dengan protektif atau rasa panas di telinganya saat nada seduktif mengalun dari bibir sang kapten.

Dan keputusan Kuroko adalah ...

OoO

Semua anggota Kiseki no sedai ditambah dengan bocah mungil yang kini digandeng oleh Kise dan Aomine tengah berdiri di depan sebuah pintu kayu salah satu rumah bergaya minimalis modern tak jauh dari perpustakaan yang tadi mereka singgahi.

Mereka tidak berhasil mengetahui bagaimana cara buku laknat itu bisa sampai di apartemen Akashi, mereka juga tidak berhasil menguak misteri bagaimana cara agar Kuroko kembali seperti semula, tapi mereka berhasil mengorek informasi tentang para peminjam buku bersampul hitam itu.

Ada sepuluh nama yang pernah meminjam buku laknat itu selama kurung waktu lima tahun terakhir dari perpustakaan, dan dari sepuluh orang yang sudah mereka ketahui nama dan alamat rumahnya, mereka akan memulai mengorek informasi dari orang yang paling terakhir yang meminjam buku tersebut.

Seseorang bernama Minami Migumi akan menjadi target pertama mereka, bel ditekan pelan, gusar menantikan sosok yang akan membuka pintu dan memberikan mereka sedikit pencerahan.

Sesosok remaja dewasa dengan surai hitam sebahu, menyambut mereka, sifatnya yang ramah tergambar jelas saat bagaimana paras manis sang remaja itu tersenyum menyambut para tamu yang tak diundang.

"Apakah anda Minami Minami-san?" tanya Midorima sopan.

"Iya... kalian mencariku? Untuk urusan apa?" senyum itu masih belum hilang, makin merekah saat dia tahu bahwa tamu-tamunya adalah pemuda-pemuda tampan dengan seribu pesona.

"Apa anda tahu tentang buku ini?" tanpa basa-basi lagi, Akashi yang sebelumnya berdiri di samping Midorima segera mengulurkan buku bersampul hitam, sontak saja kedua manik Minami terbelalak menatap buku laknat yang disodorkan padanya.

Wajah yang sebelumnya penuh dengan sorotan ramah dan kuluman senyum cantik, kini berubah menjadi wajah sepucat mayat, keringat dingin kini mengucur deras melewati tengkuk Minami.

"A- A- Aku tidak tahu buku itu, ja- jauhkan dariku," gugupnya sambil mengibaskan jemarinya untuk menjauhkan buku yang terus didorong Akashi mendekati Minami.

"Buku itu sudah aku buang, kenapa malah ada pada kalian, aku tidak tahu apa-apa, aku tidak tahu apa-apa," teriaknya histeris, sambil membanting pintu di depan hadapan Midorima dan Akashi yang masih terngaga melihat tingkah wanita yang di depannya.

-Mision Failed-

Satu nama tercoret dari daftar operasi mereka, dengan melihat reaksi wanita tadi yang langsung histeris setelah buku disodorkan, mereka sadar bahwa membuat Kuroko kembali semula pasti akan memakan waktu lama.

OoO

Tak menyerah mereka berenam bergegas menuju satu rumah target kedua mereka, rumah informan kedua bertempat tinggal diperumahan sepi di pinggir kota, butuh dua kali naik kereta dan berjalan sekitar lima ratus meter untuk sampai di depan rumah seseorang dengan nama Hideki Hyuga. Pintu berpapan nama Hideki diketuk pelan oleh Kise, Aomine yang berada di belakangnya tengah mengendong bocah bersurai baby-blue yang mulai terkantuk-kantuk.

Beberapa kali ketukan, pintu berwarna biru gelap itupun terbuka, menampakkan pemuda dengan kisaran usia awal dua puluhan dengan kaca mata tebal yang bertengger di atas hidungnya.

"Hideki Hyuga-san?" tanya Kise sopan pada pemuda yang menyembulkan sedikit kepalanya pada sisi pintu yang terbuka.

"Ada apa?" tanyanya ketus

Mendengar nada ketus yang dilontarkan padanya, membuat Kise sedikit cemberut, "Ano~ aku ingin tahu apakah Hideki-san pernah mendengar tentang kata Hocus Fo—"

"Aku tidak tahu, pergi kalian. Jangan ganggu aku!"

BLAM

Dan agedan pintu yang tertutup dengan keras kembali mereka saksikan, membuat Kise dan Aomine saling melempar tatapan tidak suka pada sosok yang membanting pintu. Andaikan saja Aomine tidak sedang memanggul Kuroko, pasti pintu di depannya sudah menjadi korban tendangannya.

Tiga pemuda yang berdiri di luar pagar rumah, sudah bisa memprediksi kabar apa yang Kise dan Aomine berikan saat melihat tekukan wajah pemuda berkulit tan dan cemberutan pada wajah sang model.

"Sudah sore, lebih baik kita segera pulang, lebih baik investigasi dilanjutkan besok pagi, ayo Tetsuya kita pulang," ajak Akashi pada mahluk mungil yang nampaknya sudah terkantuk-kantuk di dalam dekapan sang pemuda berkulit tan.

Kise segera merentangkan kedua lengannya lebar-lebar di antara Aomine dan Akashi, "Mou~ apa Akashicchi lupa? Akashicchi tidak boleh menyentuh Kurokocchi –ssu," teriak Kise menghalangi Akashi yang semakin maju ingin mengambil Kuroko yang kini mengalungkan lengan pada leher Aomine.

"Itu hanya peraturan yang kau buat secara sepihak Ryota, Tetsuya tidur di tempatku, mana mungkin aku tidak menyentuhnya,"

"Lagipula Kurokocchi sudah setuju untuk mendukungku, iyakan Kurokocchi?" tanya Kise sambil menghadap sang bocah yang dijawab dengan anggukan kepala.

'Apa maksudmu Tetsuya?' heterocrome Akashi menghujam tajam pada azure polos Kuroko, tak gentar apalagi takut, Kuroko memberikan senyum penuh arti untuk kaptennya.

OoO

Lelah, penat dan menyeramkan sekaligus mencekam adalah suasana yang mereka rasakan, karena sepanjang perjalanan pulang Akashi tak henti-hentinya menguarkan aura pembunuh pada dua pemuda yang mengandeng bocah diantaranya, membuatnya terliat seperti sepasang suami istri yang sedang mengajak putra mereka jalan-jalan. Sang absolut kali ini tak mampu berkutik banyak, titahnya memang mutlak, tapi entah kenapa dihadapan sang bocah dengan manik azure polos itu sang absolut bisa saja melupakan jati dirinya, melepas topeng otoriternya bahkan lebih parahnya Akashi mau-mau saja menuruti peraturan konyol Kise yang tak boleh menyentuh Kuroko.

Malam makin merangkak larut, keheningan semakin menunjukan bahwa hampir semua penghuni apartemen sudah terbuai dalam balutan mimpi indah. Sejak terjadinya fenomena terhadap Kuroko, para kiseki no sedai sudah sepakat untuk menginap di apartemen sang kapten sampai Kuroko kembali ke tubuhnya semula, satu-satunya kamar sang kapten yang biasanya terdapat satu springbed merah marun entah sejak kapan springbed itu sudah beranak pinak hingga dalam kamar luas itu tiba-tiba ada dua kasur ekstra.

Walaupun malam semakin larut, namun manik heterocrome Akashi masih enggan untuk terlelap, pikirannya terus melalang buana, menjelajah setiap jengkal memorinya, mengulik setiap kesalahan kecil yang mungkin dia lupakan sehingga mantra konyol yang selama ini tidak dia percaya, malah mengabulkan keinginannya dan ketika dia ingin Kuroko kembali pada bentuk semula, mantra laknat itu malah membandel dan mengkhianatinya.

Televisi layar datar di depan Akashi dibiarkan menyala tanpa memperdulikan acara apa yang ditayangkan, pikiran sang kapten jauh menembus benda persegi layar datar itu, dalam otak jeniusnya hanya ada satu nama Tetsuya, satu warna biru satu memori senyum polos sang bocah.

"Akachi-nii beyum tidul?" suara cadel itu terlalu nyata untuk dianggap sebagai bayangan belaka, suara khas itu bergaung jelas dalam telinganya, Akashi mengangkat kepalanya yang sedari tadi dibiarkan bersandar pada sofa yang didudukinya. Heterocrome itu jatuh pada sosok mungil dengan piama berwarna putih dengan aksen gambar bola-bola basket kecil.

"Apa yang sedang kau lakukan Tetsuya?" mengabaikan rasa senang saat azure itu menatap dirinya, Akashi bertanya ketus, sepertinya hukuman yang diberikan Kise masih kurang untuk menghukumnya, bagaimana mungkin seorang kapten bisa melakukan hal yang buruk pada anak buahnya, terlebih lagi pada anak buah spesialnya.

"Tetcuya hanya ingin membelikan celimut dan bantal untuk Akachi-nii," jawab Kuroko polos, sambil memamerkan sebuah bantal di tangan kirinya dan sebuah selimut berwarna biru di tangan kanannya. Jemari mungil Kuroko tak bisa mengangkat kedua benda itu membuat sang bocah terpaksa menyeret kedua benda itu dengan susah payah.

Tak ingin melukai niat baik Kuroko yang dengan susah payang membawakan selimut dan bantal, membuat Akashi hanya mengamati sang bocah dan segala tingkah lakunya. Menyeret-nyeret selimut dan bantal bukan pekerjaan yang mudah bagi bocah berusia lima tahun, namun semua usahanya terbayarkan saat Kuroko melihat Akashi mengulum senyum samar.

Meletakkan bantal dan selimut di atas sofa, kini Kuroko berusaha memanjat sofa dan berusaha duduk di samping sang kapten. "Akachi-nii cedang menonton apa? Kenapa beyum tidul?"

"Apa yang kau inginkan Tetsuya?" potong Akashi tajam.

Kuroko terkekeh pelan, mengagumi kemampuan sang kapten yang bisa melihat apa yang tersirat dari tingkahnya bahkan sebelum dia berbuat lebih jauh.

"Kau setuju dengan usulan Ryota dan sekarang kau malah mendatangiku? Apa yang kau rencanakan Tetsuya?" tanya Akashi sambil merlirik bocah yang kini sedang berusaha berdiri agar tinggi badannya sejajar dengan sang kapten yang sedang duduk.

"Tetcuya cetuju dengan Kice-nii, tapi bukan belalti Tetsuya tidak boyeh menyentuh Akachi-nii kan?"

Kening Akashi mengkerut, tapi kerutan itu segera menghilang saat satu kecupan ringan mendarat pada pipinya, dan sang pelaku hanya tersipu sambil memalingkan wajah merahnya. Dan sekali lagi, Kuroko kembali menyamankan diri dengan berbaring di dekat sang kapten, menjadikan paha sang pemuda bersurai merah itu menjadi bantal kepalanya.

"Kenapa kau suka sekali bergelung di sana Tetsuya?"

Satu gerakan tangan dilakukan Akashi untuk menarik selimut biru milik Kuroko, membentangkan selimut tebal itu untuk membalut tubuh mungil sang bocah hingga menutupi kepalanya, satu kecupan didaratkan sang kepten pada dahi Kuroko yang tertutup selimut.

"Aku tidak melanggar peraturan kan? Aku tidak menyentuhmu," goda Akashi dengan nada jahil yang kentara.

Sang bocah kembali terkekeh sambil mengintip dari celah selimut, "Celamat tidul niichan," gumam Kuroko malu-malu.

"Selamat tidur Tetsuya," balas Akashi sebelum mendekap tubuh sang bocah yang bergulung dalam selimut, membawanya berbaring di atas sofa, mengganti pahanya dengan lengan untuk digunakan Kuroko sebagai bantalan.

.

.

.

.

.

TBC

A/N :

Tidak mau banyak komentar... hanya mau mengucapkan terimakasih dan penghargaan setinggi-tingginya untuk semua para reviews, para readers, followers, dan semua yang menfavoritkan cerita ini. Terima kasih atas dukungan semuanya~

Waktunya balas review...

[Ryuusan]

Terimakasih sudah review... ^^

Etto~ terimakasih sudah dipromosiin. XD tapi aku nggak apa-apa untuk membalasnya.

Ini sudah dilanjut, sudah diusahan tidak telat dari jadwal publis. Hehe~

Selamat menikmati, semoga tidak mengecewakan.

[Dena Shinchi]

Terimakasih sudah review... ^^

Itu bukan typo, memang sengaja, sangat sengaja. Kan di sini Akashi calon menantu Yukina. /Huapaaa?/

Yosh... ini sudah diupdate desu, selamat menikmati semoga tidak mengecewakan. ^^

[Rea]

Terimakasih sudah review... ^^

Tidak... tidak akan aku biarkan Kuroko jadi cebol terus, kalau Kuroko jadi bocah terus, Kisedai jadi om-om pedo donk? XD

Yosh... chapter ini pun semakin absurd, dan chapter selanjutnya akan terus absurd... XD

Akhir kata...

Ada keluhan, kritikan, omelan, atau pujian

Silahkan klik Review... ^^