Keesokan harinya, sejak pagi dua kubu sudah terbentuk. Kubu yang menentang Akashi dan pendukung sang kapten. Sang pemain bayangan Teiko ditarik dalam kubu penentang Akashi, bocah manis yang kini berdiri sambil memeluk sebelah kaki jenjang Kise nampak sedang mencuri-curi pandang kearah kapten merah mereka.

Kubu penentang terdiri dari Kise, Aomine, Kuroko dan Midorima, penganut oha asa itu mengaku hanya ingin mengawasi teman-temannya saja dalam misi pencarian informasi, tak pernah dikatakan secara lantang jika dia merasa khawatir dengan keadaan bocah manis di dekatnya itu.

Sedangkan kubu Akashi hanya terdiri dari sang kapten sendiri dan pemuda jangkung dengan setumpuk cemilannya, Akashi merasa bahwa dia lebih baik bertindak sendirian, walaupun demikian Akashi tak bisa membiarkan satu-satunya pengikut setianya bergerak seorang diri, sehingga dengan terpaksa sang kapten membawa serta raksasa ungu itu dengannya.

Jika ada yang menanyakan bagaimana keadaan Kise —yang malam sebelumnya mendekap sang bocah dalam tidurnya, dan malah Kuroko berkhianat karena malah memilih tidur dengan kapten otoriter mereka, jawabannya adalah baik-baik saja, karena sebelum fajar menjelang, bocah unyu itu beringsut dari dekapan sang kapten dan kembali pada posisi tidur awalnya dalam pelukan Kise. Jika ada yang menanyakan kenapa Kuroko nampak tidak konsisten dalam pilihannya, itu tidak benar. Karena yang diinginkan bocah bersurai baby-blue itu hanya tidur dalam dekapan sang kapten dan menemani malam sepi pemuda merah itu dengan kehadirannya tanpa ingin melukai perasaan teman-temannya yang berusaha melindunginya. Itu bukan sikap tidak konsisten, hanya sikap baik hati yang luar biasa, dengan disertai bumbu perasaan tak kasat mata.

.

.

.

.

.

*HOCUS FOCUS*

Disclaimer:

Kuroko No Basuke © Fujimaki Tadatosi

Story by Aoi-Umay

Pairing:

Chibi!Kuroko x GoM

Warning:

Typo, OOC yang berlebihan, sedikit Humor, AU

DLDR, R&R please...

Enjoy Reading Minna... ^^

.

.

.

.

.

Berlatar pada salah satu restoran cepat saji, tiga pemuda sedang duduk melingkar di dampingi bocah manis yang sibuk dengan minuman di tangannya. Ketiganya tak jemu memandangi sosok manis nan menggoda itu, membunuh rasa bosan, karena menunggu manusia yang sehausnya sudah datang sejak tiga puluh menit yang lalu.

"Lama sekali –ssu," keluh Kise sambil sesekali memandang keluar jendela restoran bernama Maji Burger.

"Mungkin macet niichan," celoteh cadel itu memecah suasana bosan yang terbentuk, sekali lagi ketiga manik beda warna itu langsung tertujuh pada sang mahluk manis di depannya.

"Kita tunggu sebentar lagi saja, jika dia belum datang—" jeda sejenak sebelum pemuda bersurai navy-blue itu melanjutkan, "—terpaksa kita harus mendatangi rumahnya."

Kedua pemuda yang mendengarkan hanya mengamini teman mereka, sedangkan si bocah, seolah tak ingin terlibat kembali dalam percakaan memutuskan untuk menyesap liquit putihnya.

Midorima yang duduk di dekat jendela nampak memainkan sebuah spidol berwarna hijau yang merupakan lucky itemnya hari ini, mengedarkan pandangannya keseluruh halaman di luar restoran, berharap pemuda yang mengajak mereka bertemu beberapa waktu yang lalu, segera menampakkan batang hidungnya.

Kise yang duduk di sebelah Midorima juga sibuk menatap ponsel kuning miliknya, berharap ada pesan atau panggilan masuk dari pemuda dengan nama Masamoto Shugo yang merupakan tamu penting mereka hari ini.

Detik sudah merangkak menjadi menit kemudian bertranformasi menjadi jam, dan menunggu adalah acara paling membosankan, apalagi jika menunggu seseorang yang belum jelas jati dirinya, setelah satu jam tiga puluh menit dihabiskan untuk menunggu, akhirnya sang tamu menampakkan batang hidungnya, pemuda yang menyandang marga Masamoto itu kini berdiri menjulang pada meja yang didiami oleh pemuda dengan surai hijau, biru dan kuning.

"Yo... Apa kalian yang meneleponku tadi pagi?" tanya pemuda dengan tampilan sangar, seluruh tubuhnya dibalut garmen hitam ketat, surainya ditata sedemikian rupa sehingga memunculkan kesan punk pada sisi penampilannya.

Tiga murid SMP Teiko itu hanya mampu mengangga dengan bibir yang terbuka lebar menyaksikan penampilan tamu agung mereka, sedangkan bocah cebol di samping Aomine hanya bisa tekikik dalam hati membayangkan teman-temannya menghadapi pemuda yang baru saja datang.

"Hei... apa kalian tuli? Apa kalian yang meneleponku tadi pagi? Apa yang ingin kalian tanyakan?" sentak sang pemuda membuat Kise, Midorima dan Aomine sontak terlonjak kaget dan buru-buru mengangguk berjamaah untuk menjawab pemuda punk tersebut.

Setelah menghempaskan diri pada salah satu kursi, Masamoto menaikkan kedua kakinya di atas meja serta tangan yang dilipat rapi di depan dada, "Apa yang kalian ingin tanyakan? Aku tidak punya waktu banyak."

Jika dilihat dari nada bicaranya yang ketus, Aomine ingin sekali menendang pemuda tak tahu diri ini, namun geram Aomine harus ditahan lebih dahulu, bagaimanapun juga keberhasilan mengembalikan sahabat bersurai baby-blue pada tubuh dan usia semula adalah perioritas utamanya.

Terdengar helaan napas dari pemuda dengan manik zamrud sebelum sebuah lengan terjulur untuk memperlihatkan sebuah buku bersampul hitam.

"Apa Masamoto-san pernah melihat buku ini? Atau mendengar kata hocus focus, nanodayo?"

Jeda sejenak, nampaknya pemuda dengan sopan santun minus itu sedang berpikir keras, tiga manik berbeda warna sedang mengamati hati-hati di depannya.

"Ya... aku tahu, aku dan teman-temanku menggunakannya beberapa bulan yang lalu."

"Bisa tolong ceritakan apa yang terjadi saat itu –ssu," setelah mengumpulkan kembali keberaniaannya, Kise ikut sumbang suara.

Satu gerakan tangan untuk mengajak tiga pemuda yang lainnya untuk mendekat dilakukan Masamoto, selayaknya cerita yang akan dibawakannya adalah cerita paling rahasia diantara jutaan rahasia tentang terciptanya jagat raya.

"Waktu itu..."

Nampak terpancing oleh pembukaan cerita pemuda punk, tiga kepala saling berhimpitan condong di atas meja mengikuti sang pendongeng, tak lupa satu kepala mungil dengan surai baby-blue turut ambil tempat untuk mendengarkan cerita tamu agung mereka.

"Aku dan teman-temanku menemukan buku ini di perpustakaan, dan karena penasaaran kami mencoba mengubah salah suatu hal yang paling berharga bagi kami untuk dijadikan eksperimen—"

"Lalu apa yang terjadi –ssu?" potong Kise dengan polosnya, membuatnya harus rela mendapat deahtglere dari yang lainnya, termasuk dari Kurokocchi tercintanya.

"Hidoi –ssu."

"—dan buku itu benar-benar mengabulkannya, anjing kesayanganku berubah menjadi kucing," gelak tawa sang pemuda bermarga Masamoto pecah tak dapat terbendung, apalagi saat melihat empat orang di depannya nampak sweetdrop dengan mulut yang mengangga layaknya ikan mas koki.

"Apa kau bercanda?" maki Aomine tidak terima, telingganya sudah dipasang sebaik-baiknya dan berakhir hanya dengan mendengarkan cerita mubadir yang sangat tidak bermutu.

"Aku tidak bercanda, buku itu benar-benar sakti jika kau mempercayainya," bela Masamoto dengan kembali mengangkat kedua kakinya ke atas meja.

"Lalu, apa kau bisa mengembalikan anjingmu itu dalam keadaan semula, nanodayo?" inilah intinya, inilah yang ingin mereka tanyakan dari awal, yang ingin mereka kulik, ingin mereka kupas tuntas.

Dengan gayanya yang sok dan sombong Masamoto menjawab dengan ekspresi jongkaknya," Tentu saja kami bisa melakukannya, walaupun awalnya sempat gagal beberapa kali, tapi setelah kami melakukan satu hal, mantra itu terpatahkan."

Semua pendengar nampak terkesima, semuanya takjub, semuanya ingin sekali memeluk sosok pemuda di depannya —jika saja tampilannya tidak seperti preman dan urakan.

"Kau melakukan apa? Apa benar-benar bisa kembali seperti semula?" tuntut Aomine tak sabaran.

Satu kali lagi gerakan tangan yang mengundang untuk keempatnya turut mendekat ke arahnya kembali dilakukan, dan ajaibnya semua kepala berbeda surai itu menurut dengan patuh.

"Aku melakukan—"

Jeda dilakukan Masamoto untuk mengambil napas sejenak, dan kesempatan itu juga dilakukan keempat pendengarnya untuk menelan ludah demi mengurai rasa gugup.

"—melakukan, Per−sem−ba−han," imbuhnya dengan nada yang sok didramatisir.

"Persembahan?" ulang Aomine.

"Persembahan –ssu?" Kise turut mengulang, sedang otaknya tengah sibuk mencerna satu kata yang baru saja di dengarnya.

"Persembahan, nanodayo?" Midorima nampak mengernyitkan alisnya saat satu kata itu mampir dalam pendengarannya.

"Pelcembahan?"

Sang pemilik suara cadel kembali bersuara, membuat semua yang ada di dekatnya menumpukan perhatian pada pemuda dengan t-shirt berwarna kuning dan celana hitam selutut yang kini sedang menatap yang lainnya dengan sorot azure penuh dengan penasaran yang sangat memukau.

"Hei... sejak kapan ada tuyul di sini?" teriak kolosal sang pemuda punk.

Aomine, Midorima dan Kise hanya bisa menepuk jidat berjamaah, saat melihat tamu sangar mereka berteriak kolosal sambil menjambak surainya sendiri sedangkan kedua manik matanya melotot dengan mulut yang terus berteriak.

OoO

"Kalian jangan langsung percaya dengan apa yang dikatakan Masamoto Shugo tadi, nanodayo," Midorima mulai berceramah, sebelah tangannya membenarkan letak kacamata, sedangkan lengan yang lain sedang menuntun bocah yang beberapa waktu lalu dikira sebagai tuyul.

Mereka berempat kini sedang menelusuri trotoar untuk kembali ke apartemen sang kapten. Hari masih siang dan masih ada cukup waktu untuk datang pada pertemuaan berikutnya dengan target baru mereka saat malam, cuaca yang cukup terik karena bertengahan musim panas membuat mereka berpikir akan lebih nyaman berdiam diri di bawah sejuknya AC yang dimiliki kapten otoriter mereka.

"Tapi saran yang diberikan memang patut untuk dilakukan –ssu."

"Kau gila Kise! Apa kau berniat untuk membuat Tetsu menjadi kelinci bercobaan?" maki Aomine tidak terima.

"Tapi setidaknya kita harus melakukan sesuatu untuk Kurokocchi –ssu," tak terima dimaki, Kise kini berkacak pinggang di depan pemuda dengan kulit tan.

Perseteruan terus terjadi antara Aomine dan Kise membuat beberapa orang yang berpapasan dengan mereka, saling melempar tatapan aneh pada dua pemuda yang terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar.

Malas untuk melerai perdebatan dua temannya, Midorima berniat untuk kembali melanjutkan perjalanannya namun harus kembali mengurungkan niat karena ujung kemejanya yang ditarik halus sepasang jemari munggil.

"Midoli-nii..." panggil sang mahluk Tuhan paling unyu itu dengan suara lembut yang mendayu-dayu.

"Ada apa Kuroko?"

Entah karena Kise dan Aomine yang sudah lelah berdebat atau karena terdengarnya suara malaikat dari belah bibir sang bocah, yang jelas dua pemuda yang tingginya hampir sama itu sudah berhenti bertengkar dan kini berdiri di kanan kiri Midorima sambil mengawasi lekat-lekat makluk mungil di bawahnya.

"Ano~"

Jeda yang diberikan Kuroko membuat ketiga remaja yang melihatnya tak sadar langsung menahan napas bersamaan. Dengan kepala yang menunduk malu, dan jemari munggil yang saling dirematnya untuk meredakan gugup, perlahan Kuroko menyuarakan hal yang membuatnya menarik ujung kemeja sang penganut oha-asa.

"Tetcuya lelah— gendong."

Manik azure itu berbinar penuh dengan harap, lengan kecil pucatnya diacungkan ke udara meminta uluran tangan siapa saja yang akan mendekapnya dan mengenyahkan rasa lelah yang dideranya.

Tiga panah cupit menancap tak kasat mata, mengujam tiga hati secara brsamaan. Dan tiga pemuda nampak sedang mengendalikan diri sekuat-kuatnya untuk tidak langsung melahap bocah yang nampak sedang menggoda iman mereka itu.

Orang pertama yang mengulurkan tangan adalah Kise dan selanjutnya disela oleh tangan tan milik Aomine, kembali terjadi perdebatan bahkan debat kusir kali ini diselingi dengan maki dan saling dorong, membuat mereka nampak seperti murid TK yang sedang berebut mainan. Midorima hanya bisa memijat pelipisnya, lelah rasanya melihat dua temannya selalu berseteru dalam segala hal. Dan lagi-lagi, hanya suara lirih sang bocah yang dapat membuat suasana menjadi kembali kondusif.

"Tetcuya ingin digendong Midoli-nii saja," selesai berucap, Kuroko segera berlari dan mendekap salah satu kaki jenjang sang shooter Teiko yang kini dibalut celana bahan hitam. Sambil sesekali manik azure itu mencuri pandang pada pemuda yang sedang berseteru tak jauh dari tempatnya mengintip.

Dua hati sedang patah hati, sedangkan satu hati lainnya tengah berbunga-bunga. Jika Aomine dan Kise sangat memperlihatkan bagaimana sakit hati mereka dengan berpose ratapan anak tiri dengan efek derai air mata, namun tidak dengan Midorima, pemuda top tsundere itu tetap memasang wajah datarnya meskipun dalam hati senang luar biasa karena Kuroko lebih memilihnya dari pada dua temannya yang lain.

"Dasar manja, kau sangat merepotkan Kuroko,"

Walaupun komentar hanya pedas yang keluar dari bibirnya, toh Midorima tetap mengulurkan tangannya dan memanggul sosok bocah dengan tinggi sepaha orang dewasa itu.

'Hari ini memang hari keberuntunganku," bisiknya dalam hati.

OoO

Perjalanan menuju apartemen sang kapten merah mereka lanjutkan. Midorima bersenandung dalam hati sambil memanggul sang bocah di belakang bahunya, sedangkan dua pemuda yang lain hanya bisa terus mendengus kesal sambil sesekali melontarkan makian menyalahkan satu sama lain.

Beberapa kali belokan lagi, mereka berempat akan sampai di tempat pembaringan mereka yang nyaman, namun bayangan mereka akan rasa nyaman tentang kasur, hawa sejuk AC, es krim dingin, semangka dan bersantai-santai berubah menjadi horor saat manik zamrud, topas dan safir menangkap sosok wanita paruh baya dengan surai baby-blue sebahunya beberapa meter di depannya.

Tak ada jalan memutar, tak ada toko untuk tempat bersembunyi karena mereka kini di tepat berdiri di tengah-tengah jalanan sepi meninggalkan toko-toko yang berjejer di belakang. Semakin mendekat, sosok yang diketahui Kise dan Aomine sebagai Yukina Kuroko tidak mengubah jalur langkahnya, malah sosok ibu dari sahabat mereka itu terus melangkah menuju mereka. Kise sudah merasa ingin kabur secepatnya dari tempatnya berdiri, namun enah apa yang menahannya, kedua kaki jenjangnya seperti tertanam dalam tanah. Tak jauh berbeda dengan Kise, Aomine ingin segera terjun ke dalam sungai atau menengelamkan diri dalam lautan. Perasaan bersalah atas kebohongannya dua hari yang lalu masih mengoyak hati mereka berdua. Andaikan saja mereka adalah sepasang Romeo dan Juliet mereka rela untuk saling meninum racun daripada harus berhadapan dengan Kuroko Yukina saat ini, saat Kuroko Tetsuya bersama mereka.

Tunggu... Kuroko Tetsuya bersama mereka, matilah mereka jika sang ibu menemukan sang putra kesayangan berubah menjadi mahluk cebol, Kise dan Aomine makin panik menghadapi setuasi ini, mereka saling melempar pandangan, berbagi ide cara menyembunyikan Kuroko Tetsuya. Aomine memiliki ide untuk menyembunyikan Kuroko dengan melemparnya ke arah semak terdekat, sedangkan ide Kise adalah menyembunyikan Kuroko dalam tas yang Aomine bawa.

Midorima yang merasa kedua temannya kasak kusuk tidak jelas, segera menoleh ke belakang dengan niat akan memaki mereka yang bisa membangunkan mahluk manis dalam panggulannya. Namun, niat itu urung terlaksana karena satu suara sopran mengalihkan tumpuan perhatian pemuda bersurai hijau.

"Konnichiwa minna~"

Sapa lembut yang mengalun merdu itu membuat sejuk suasana yang makin terik, senyum ramah yang tersungging itu juga makin membuat panas yang menusuk terhiraukan seketika.

"Konnichiwa~" balas Midorima sopan sambil menundukkan kepala singkat pada Yukina yang sudah berdiri dihadapannya.

"Nee~ apakah yang bersembunyi di belakang itu adalah Kise-kun dan Aomine-kun?"

Mendengar nama mereka disebut membuat kedua pemuda yang kini berdiri saling berhimpitan untuk bersembunyi di belakang bahu Midorima itu berjengit dan membatu. Harapan mereka yang ingin tak terlihat dan bersembunyi gagal total.

'Kurokocchi bagi aku kekuatan misdirectionmu –ssu,' Kise membatin.

"Nee~ hebat sekali bibi Yukina bisa menemukan kami –ssu,' canda Kise sambil menusap tengkuknya untuk menghilangkan canggung.

"Tentu saja, bibi baru saja membali kacamata baru, jadi penggeliatan bibi sudah membaik," jawab Yukina sambil menyentuh kacamata berbingkai biru yang bertengger manis pada wajahnya.

Keringat dingin mengucur deras pada pelipis kedua pemuda bersurai pirang dan navy-blue, dengan susah payah kedua menegak saliva yang rasanya tersangkut di tenggorokan, kedua belah bibir mereka komat kamit merapalkan segala macam doa berharap sang ibu tidak menyadari keberadaan putranya yang terlelap di atas punggung Midorima.

Dan doa mereka tidak terkabul, karena setelah menyapa kedua teman putranya, manik azure Yukina tertarik pada sosok bocah yang tengah terlelap, kepala bersurai baby-blue itu nampak nyaman bertengger pada bahu pemuda yang memanggulnya, napasnya teratur menandakan sang bocah nampak nyenyak dalam tidur, dan hembusan angin musim panas yang sesekali membelai surai baby-bluenya makin membuat sosok imut itu bagaikan lukisan yang terjebak dalam kain kanvas.

"Kawai~" seru sang ibu setelah lekat-lekat memandangi wajah sang putra.

Safir dan topas saling bertatapan, mulutnya masing-masing saling terbuka lebar, sedangkan Midorima sedikit melangkah menjauh, melindungi Kuroko supaya tidak terbangun dari suara teriakan ibunya sendiri.

Sadar bahwa sang bocah tengah terlelap dan tak ingin menganggu waktu istrirahatnya, Yukina mengurungkan niatnya yang ingin mencubit gumpalan daging pipi sang bocah, dan sebagai gantinya hanya mengusap lembut surai sang putra.

"Maaf anda siapa?" tanya Midorima frontal, saat menyadari tubuh Kuroko sedikit bergerak karena sentuhan Yukina.

"Oh~ Maafkan keteledoranku, perkenalkan namaku Kuroko Yukina, aku ibu dari Kuroko Tetsuya, aku yakin kau adalah salah satu teman Kuroko bukan?"

Zamrud Midorima langsung membola, tubuhnya turut membeku, satu lengan yang dibuat Midorima untuk menahan sang bocah gemetar tanpa sebab. Jika sebelumnya Midorima sangat memuji keampuhan lucky item yang dibawanya hari ini, kini saatnya Midorima harus memaki spidol warna hijaunya itu karena mengirimkan kesialan padanya.

"Perkenalkan nama saya Midorima Shintarou, saya salah satu teman satu tim Kuroko Tetsuya."

Yukina yang mendengar perkenalan Midorima hanya mengangguk untuk menjawab perkenalan teman putranya itu, rasa lega menyelimuti relung hati Yukina, ternyata putra semata wayangnya memang dikelilingi sosok-sosok sahabat yang ramah dan sopan.

"Siapa bocah manis yang sedang kau gendong Midorima-kun?"

Tiga belah bibir kelu seketika, harus menjawab apa mereka tentang satu pertanyaan yang baru saja terlontar. Dengan frontal mengatakan bahwa itu adalah putra semata wayangnya, apa ingin menerima amukan dan tangis seorang ibu yang meratapi tubuh anaknya yang menyusut? Tentu saja mereka tak ingin melihat semua itu.

"Apakah dia ponakanmu? Atau adikmu Midorima-kun?"

Todongan tanya yang baru saja dilontarkan Yukina, sedikit banyak membuat pemuda penganut oha-asa itu mendapakan angin segar untuk menjawab tanya wanita paruh baya tersebut.

"Dia keponakanku, nanodayo," jawabnya sambil mengulum senyum datar, berharap senyum yang disajikan mampu meredam rasa gugup yang mengeliat tak nyaman. Hanya demi menyelamatkan nyawa dua temannya serta menyembunyikan identitas Kuroko, Midorima rela untuk berbohong.

"Benarkah? Hmm~ melihat keponakanmu rasanya seperti aku melihat Tecchan saat masih kecil."

Sepolos apapun seorang ibu, selugu apapun dia. Tidak ada satu orang ibu yang bisa melupakan wajah putranya, jika dua hari yang lalu Akashi mampu mengelabui Yukina dengan penyamarannya, itu hanya karena sang kapten sedang beruntung, andaikan saja saat itu Yukina tidak kehilangan kacamatanya pasti pada detik pertama penyaman sang kapten akan terbongkar. Namun sekarang, dengan kacamata berbingkai biru yang bertengger membantu penggeliatannya, apa mampu mereka bertiga membohongi Yukina lagi.

"Benarkah sangat mirip dengan Kurokocchi –ssu," beku yang membungkus terpecah oleh suara tawa yang dipaksakan dari bibir Kise, niatnya mungkin hanya ingin mengalihkan percakapan, namun kalimat yang dipakai malah membuatnya mendapat tatapan mematikan dari dua teman yang lain.

"Benar, sangat mirip sekali, aku tidak mungkin salah," ketiga pemuda yang mendengarkan hanya bisa membeku di tempat. Jelas-jelas saat ini sedang musim panas, bisa-bisanya mereka membeku bagai boneka salju yang dipasang saat natal.

"Hmm~ rasanya jadi ingin segera menimang cucu," satu usapan lembut mampir kembali ke arah puncak kepala Kuroko yang masih terlelap. Tiga temannya masih binggung harus bersikap seperti apa untuk mengatasi situasi yang menegangkan ini, dan mereka sama-sama memutuskan untuk terus mendengarkan celoteh Yukina, dan berharap bisa segera kabur dari situasi yang meretas nyali ini.

"Aku ingin supaya Tecchan segera menikah dan memberikanku cucu."

Para pendengarnya hanya mengamini sepenuh hati, kepala berbeda warna rambut dan isi kepala itu sedang membayangkan anak dari Kuroko menurut versi mereka masing-masing, yang pasti dalam bayangan mereka Kuroko junior tidak jauh dari kata lucu, manis dan imut.

"Ah~ pasti jika Tecchan menikah dengan Akashi-kun, anak-anak mereka pasti akan seimut keponakanmu Midorima-kun,"

Isi otak tiga orang remaja yang penuh dengan bayangan tentang Kuroko junior dengan segala anugerah keimutan yang mereka reka sendiri, retak seketika saat mendengar kalimat super ambigu lolos dari belah bibir Yukina yang berwajah datar namun dengan senyum yang mengembang.

Tanpa disadarinya, baru saja Yukina telah mengirim tiga algojo penjagal hati dan meretas hati ketiga remaja yang memaku dunianya hanya pada Kuroko seorang, hilang sudah harapan mereka bertiga untuk bersaing secara sehat memenangkan hati sang pemain bayangan. Deklarasi yang dikumandangkan Yukina lantas mengoyak hati ketiganya menjadi keping-keping yang berakhir hilang tersapu angin.

"Nee tolong sampaikan pada Tecchan untuk segera pulang setelah pelatihan musim panas selesai, bibi pulang dulu."

Pamit Yukina tanpa merasa bersalah, satu lengan dilambaikan ringan pada tiga pemuda yang tengah tersenyum masam dan membalas lambaikan dengan enggan.

OoO

"Apa kau gila Kise? Jangan turuti kata Masamoto, bisa saja dia sedang mempermainkan kita, nanodayo," ujar Midorima sambil menahan Kise yang mencoba menggeser sofa yang berada di dalam ruang tengah apartemen Akashi, mencoba meluaskan ruangan untuk mempermudah kegiatan mereka selanjutnya.

"Tidak ada jalan lain lagi Midorimacchi, kita harus bisa mengembalikan Kurokocchi seperti semula sebelum Akashicchi bertindak –ssu," tak menghiraukan Midorima yang terus meracau memperingatkan, Kise yang dibantu Aomine terus berusaha mengeser sofa, dan menggulung permadani berwarna merah marun tersebut.

"Benar apa kata Kise, kita tidak punya cara lain untuk tidak mencobanya, lagi pula apa kau punya ide yang lebih baik lagi?"

Aomine yang sebelumnya merasa tidak setuju dengan ide gila Kise, lantas karena bujuk rayu sang model akhirnya pemuda tan itu malah berbalik membantu dan mendukung ide temannya.

"Hoi Minechin, Kisechin aku sudah membawa membawa barang-barang yang kalian minta," seru Murasakibara dari ambang pintu apartemen sambil menenteng sebuah plastik besar pada tangan kirinya sedangkan tangan kanannya tetap memeluk cemilan.

Jika ada yang bertanya bagaimana Murasakibara yang pagi tadi menjadi kubu Akashi sekarang malah membelot pada pada kubu lawan, jawabannya adalah sangat mudah. Karena Murasakibara lebih memilih untuk berdiam diri sambil menyantap cemilannya daripada mengekor sang kapten yang nampak tak lelah berkeliling kota di bawah terik panas matahari untuk bertemu dengan target-targetnya.

"Letakkan di meja, dan bantu kami membersihkan tempat ini," perintah Aomine

"Kalian benar-benar tidak waras, tidak mungkin hal koyol macam persembahan bisa membuat Kuroko kembali seperti semula, kalian sedang dibodohi, nanodayo."

"Kita tidak akan tahu sebelum mencobanya Midorimacchi."

Sofa dan permadani mewah sang kapten sudah diseret ke ujung ruangan, garam ditebar diatas lantai membentuk pola satu lingkaran besar dengan pola bintang ditengahnya, Kise bertugas untuk membuat pola dan pelangkapnya, sedangkan Aomine menyalakan sepuluh lilin-lilin kecil dan meletakkan mengelilingi pola yang Kise buat. Altar persembahan selesai.

Sesosok pemuda bersurai hijau dengan manik zamrud sedang disekap di sisi ruangan, kedua tangan dan kakinya diikat dengan simpul kuat hasil karya raksasa bersurai lavender, belah bibirnya yang sedari tadi berkicau menghalangi niat kedua temannya yang berusaha membuat persembahan kini terbalut cantik oleh lakban berwarna hitam. Tiga pemuda yang sebelumnya menyekap Midorima kini menghilang dibalik kamar sang kapten bersama Kuroko yang baru saja terbangun dari tidur siangnya.

Ronta demi ronta dilakukan Midorima dengan harapan dapat sedikit melonggarkan kekang tali yang menjeratnya, namun bukan kebebasan yang didapatkannya, sang pemuda hanya mendapatkan rasa sakit pada kulit yang tergores tali membuat segaris warna merah melingkar di kedua lengan dan kakinya.

Beberapa menit berikutnya, tiga sosok berjubah hitam lengkap dengan kapuco yang melindungi dan menyamarkan wajah dan surai orang yang memakainya keluar dari dalam kamar sang kapten, satu pemuda yang memiliki tinggi lebih dari dua yang lainnya nampak tengah mengendong bocah mungil yang hanya berbalut kain putih dari perut sampai di atas lutut. Sang bocah diturunkan, dibaringkan pada pola altar yang dibuat di atas lantai, azure sang bocah nampak memancarkan sorot penasaran walau ekpresi yang ditunjukkan hanya berupa wajah datar. Sedangkan tiga orang yang memakai jubah hitam sampai melewati mata kaki tengah berdiri di luar lingkaran, perlahan-lahan mulai menari berputar sambil mengangkat kedua lengan tinggi-tinggi, bibir ketiganya nampak sedang merapalkan mantra.

Selesai dengan tarian memutarnya, ketiga sosok itu kembali mengangkat kedua lengan ke udara dan mulai berjalan mengelilingi altar berisi seorang bocah yang senantiasa mengedarkan azurenya untuk mengamati tiga sosok yang berjalan mengelilinginya sambil terus merapalkan mantra.

Saat ritual akan memasuki gerakan selanjutnya, pintu apartemen terjeblak terbuka, menampakkan sang kapten yang baru saja selesai melakukan perjalanan menemui target mereka, namun sorot heterochome yang sebelumnya nampak lelah itu berubah menjadi horor saat melihat tampilan kamar apartemennya dengan suasana remang-remang nyaris gelap, sofa dan permadani mewahnya yang teronggok di sudut ruang, dan satu sosok pemuda dengan keadaan sangat mengenaskan di sisi yang berbeda. Dan yang paling membuat haterochome sang kapten menghujam penuh dendam adalah saat melihat tampilan sosok bocah dengan sehelai kain putih yang hanya menutupi area pribadinya sedang berbaring di atas pola aneh di atas lantai dengan tiga sosok tinggi menjulang berjubah hitam layaknya malaikat penjabut nyawa sedang mengitarinya.

"Apa yang sedang kalian lakukan?!" baritone itu menyalak galak membuat semua tersangka hanya bisa menelan ludah dengan susah payah.

.

.

.

.

.

TBC

A/N :

Hai minna~

Chapter 7 sudah update, lebih panjang dari chapter sebelumnya, semoga cerita pada chapter ini tidak membosankan, dan semoga pada reader dapat membayangkan setiap adegan dan aku torehkan. #plak

Maaf jika uptadenya telat, banyak alasan yang melatar belakanginya, namun yang paling pasti adalah kegiatan di dunia nyata yang membuat pikiranku terbagi jadi mengidap WB beberapa pekan. *dilempar jauh-jauh*

Saatnya balas review... ^^

[Nigou-i]

Terima kasih sudah review lagi... ^^

Entah kenapa aku suka menindas Kise, atau memang dia yang paling pas untuk ditindas ya? *lupakan*

Aku memang masih amatir, sangat amatir malahan. Buktinya masih suka kena WB. XD

Update kilat? Woah~ akhirnya ada yang bilang kalau aku update kilat (padahal ngaret. XD)

Terima kasih atas dukungannya. :*

[ryuusan]

Terima kasih sudah review... ^^

Semoga Ryu-san masih terus bersabar menunggu update yang semakin molor bin lama. XD

Kata orang sabar itu disayang pacar... /salah focus/ #plak

[kurokolovers]

Terima kasih sudah review lagi... ^^

Sudah ketebak ya kalau itu ulahnya Akashi? Akashi memang raja tega sih... XD

Sekali-kali Akashi memang pantas untuk disiksa batinnya, walau akhirnya aku nggak tega menyiksa dia lama-lama. XD

Terima kasih dukungannya. :*

[rea]

Terima kasih sudah review lagi... ^^

Romantis? Benarkah? Apa harus aku ganti genrenya ya?

Yosh... ini sudah dilanjut, lebih panjang dari chapter sebelumnya, semoga tidak membosankan. ^^

Akhir kata...

Ayo... ayo...

Ada keluhan, kritikan, saran, omelan, atau pujian (?)

Silahkan klik Review... ^^