Bentang samudera yang luas seiring mata memandang.
Biru laut yang indah berkilau diterpa sinar mentari, begitu terik menyengat.
Penampakan burung-burung camar yang terbang stabil di atas lautan beraroma garam.
Suara gemuruh ombak yang membentur kecil tubuh kapal. Serta terpaan angin setia memanja helai rambut.
Suasana damai nan tenang begini sungguh tepat untuk merilekskan pikir...
"HOEEEKKK~"
.
Sayangnya, momen syahdu tersebut tak bertahan lama karena sedikit gangguan dari seseorang yang kini agak bermasalah.
"Aya, please deh. Bisakah kau berhenti muntahnya? Lama-lama aku bisa ikutan muntah kalau keterusan denger suara kau muntah." Kata Chiza datar, tanpa menghiraukan penggunaaan kalimat yang efektif.
"Sorry Za, aku juga mabok laut... hoeeeekk." Aya kembali memuntahkan isi perutnya ke dalam sebuah kantong plastik, dikasih cuma-cuma dari Motochika.
"Hei nona, sampai kapan kau akan muntah terus? Lama-lama kau bisa mengotori lantai kapalku." Si bajak laut mendadak muncul sambil melipat tangannya di dada, nadanya tak jauh dari si player 1 berkepang tipis.
"Lalu kenapa kau nggak biarkan dia muntah langsung ke laut?"
"Dan membiarkan dia mencemari lautan teritori ku dengan isi pecernaannya yang tak tergiling semua? Maaf saja aku masih ingin makan ikan yang higienis."
Chiza langsung sweatdrop.
"Lebay amit-amit lo." Komentar Chiza pasif. Kemudian ia kembali memandang kearah sang daimyo nyentrik. "Lalu bagaimana keadaan Motona..."
BRAAAKK
"Wooi! Chosokabe! Berani sekali kau menyekapku di dalam kapalmu ini!" teriak Motonari agak OOC sambil mengacungkan bilah matahari nya, pelaku utama jebolnya pintu yang apes tadi.
"Hei! Setidaknya berterima kasihlah padaku karena aku mau dengan senang hati merawatmu di sini karena kau pingsan saat kita bertarung tadi. Jarang loh ada rival sebaik aku."
"Speak aja dulu." Gumam si Chiza, untungnya nggak kedengeran oleh Motochika.
"Kalau begitu keadaannya..." Motonari langsung mengambil kuda-kuda menyerang "... Kita selesaikan masalah kita disini sekarang juga!"
"Hoo~ justru itu yang ku mau, Mouri." Seringai Motochika makin melebar saat menyambut serangan dari Motonari.
Diantara riuhnya awak kapal lain yang menyoraki aniki mereka, Chiza masih cukup waras untuk segera menyeret mayat(?) Aya yang tepar dengan kondisi ngenes, menyingkir sejauh mungkin dari kedua samurai agar tak jadi korban serangan nyasar, seperti pintu yang malang tadi.
.
.
.
BASARA SIMULATION – THE ERROR GAME
Sengoku Basara
Adventure, fantasy, comedy
T+(?)
OC! OOC, Bahasa Tidak Baku (percakapan gaul khusus untuk players), OOT, dan segala ke gajean yang ngenes~ -w-
TIDAK ADA KAITANNYA DENGAN GAME SENGOKU BASARA ASLI YANG TELAH BEREDAR DIPASARAN MASYARAT SAAT INI!
AWAS! GAME BAJAKAN!
Happy not happy, let's play guys~ -w-
.
.
.
Setelah jeda skip pertempuran Motochika vs Motonari yang menurut narrator tidak penting #dihajar, kini tak terasa player sudah kembali ke penginapan Sakuya.
Seperti biasanya, sang okami jelita menyambut kedatangan players dengan senyum menawan sejuta bunga bangkai yang ajaibnya, sukses mengundang curiga dalam benak dan merinding di tengkuk.
"Aku sudah menunggu kepulangan kalian kembali, wahai ksatria terpilih. Sekarang akan ku jelaskan tentang stage bonus." Katanya ceria.
"Stage... bonus?" Aya mengangkat sebelah alis.
"Apaan tuh?" Chiza mengernyit.
"Kalian tentu menyadari bahwa menuntaskan misi tak cukup hanya bermodalkan dua pedang saja. Selain strategi tentu kalian membutuhkan item pendukung untuk meningkatkan kemungkinan keberhasilan kalian."
"Ya yaa, intinya?"
"Kalian harus bekerja."
"Hah?!"
"Kalian harus bekerja untuk mendapatkan uang yang bisa ditukarkan dengan senjata atau apapun yang kalian butuhkan."
"Hm... dengan cara apa?"
Sakuya perlahan menyeringai dengan aura wajah yang mencurigakan. Kemudian ia mengeluarkan sesuatu di depan players.
"Dengan ini~!"
.
.
Sudah hampir sejam lamanya Chiza memandangi benda keramat yang dipegang oleh dua tangannya ini. Aya yang melihatnya langsung mendengus sebal.
"Za, lo lagi ngapain sih? Bukannya latihan malah melototin terus tuh kipas."
"Yaa habisnya gue nggak tau tarian macam apa yang harus gue tunjukin ke para daimyo itu. Nanti kalau nggak cocok yang ada gue malah kena getok."
"Emangnya lo nggak pernah ikut pertunjukkan tari saat masih sekolah?"
"Pernah sih. Dulu pas gue masih TK. Menari lagunya Kupu-kupu. Gue dapet juara 3."
"..."
Aya bungkam tanpa ekspresi, kemudian memalingkan muka. Dalam hati, nyesel udah nanya.
"Terus lo sendiri nanti mau membawakan lagu apa?" Chiza mendekati Aya yang masih duduk dengan sebuah shamisen ditangannya.
"Lagu ini." Aya mulai menggerakkan jemarinya. Potongan nada dari lagu yang dikenalnya terlantun.
"Oh lagu ini, 'Ruri no Ame'?" tanya Chiza agak terkejut.
"Iya. Sudah kuputuskan rasanya lagu ini yang cocok untuk keaadan kita saat ini." Kata Aya sambil menggaruk kepalanya.
"Memang." Chiza langsung bangkit dari duduknya "Well, mungkin aku bisa menarikan lagu yang akan kamu bawakan itu. Mengikuti gerakannya si geisha yang menari di PV nya itu boleh kan."
"Yah meski gerakannya tidak terlalu banyak tapi kau mungkin bisa menambahkan gerakan-gerakan baru."
"Ya sudah. Ayo mulai latihan."
.
.
Malam nya, ruangan kembali ramai oleh kemunculan beberapa daimyo yang bosan mencari hiburan.
Nampak disana Takeda Shingen yang kali ini dikawal oleh Sasuke Sarutobi. Lalu Uesugi Kenshin yang duduk cantik ditemani ninja seksi, Kasuga. Disana nampak pula sosok Chosokabe Motochika dan Mouri Motonari.
Tak ketinggalan lagi Maeda Keiji yang kini mengajak Maeda Toshii dan istrinya Matsu. Oh, jangan lupa Yumekichi yang paling riang diantara tumpukan buah.
Bermodalkan item sepasang kipas lipat serta sebuah biwa, Chiza dan Aya harus menampilkan sebuah pertunjukan music dan tarian untuk menghibur para hadirin.
Meski enggan, Aya dan Chiza akhirnya menyetujuinya dan sejak beberapa jam lalu mulai berlatih.
Kini duo players sudah siap dengan penampilan dan dandanan paling mewah, mengingat betapa noraknya Chiza selama sesi makeup.
Mereka duduk mengambil posisi yang sudah disediakan di depan para tamu terhormat yang sudah menunggu di ruang utama, dengan suguhan hidangan mewah kelas atas oleh sang tuan rumah Sakuya.
"Gue grogi banget, sumpah." Bisik Chiza.
Disampinya Aya hanya diam meski terlihat pula ia sangat gugup.
Lalu perlahan, diiringi alunan jemari lentik Aya yang tegang saat memetik senar, serta gerakan kaku Chiza dalam menarikan kipas ditangannya, sebuah kisah dalam syair terlantun.
.
Sementara itu, di halaman belakang okiya, nampak sosok dari Yukimura Sanada dan Masamune Date sedang berdiri berhadap-hadapan.
Dilihat dari atmosfer disekitar mereka, nampaknya mereka berdua sedang membicarakan hal yang sangat penting.
Ya, hal itu berkaitan dengan rencana Yukimura untuk menyerang Osaka dan memburu kepala Ieyasu Tokugawa, mengingat pertemuan sebelumnya kacau dan malah berakhir Ieyasu meracuni mereka.
Masamune tidak menyukai rencana itu karena ia sendiri telah memiliki aliansi dengan Tokugawa dan secara tak langsung menjadi pendukung Ieyasu (meski ia bersikeras bahwa itu demi kepentingan dirinya sendiri) serta keinginannya bahwa ialah yang akan merebut Osaka.
Kedua pemuda bertekad baja ini saling menatap teguh tak mau mengalah. Angin malam yang berhembus dingin, mengawali hentakan dua senjata besi yang saling beradu.
.
Mimi sumaseba hibiite kuru oto wa
Shoka no kioku ajisai no kisetsu...
Kasa mo sasazu arukou to suru kimi
Toonoku senaka, ruri iro no kaori yonde
Aya mulai menyanyi sambil memainkan biwa nya. Bersamaan dengan itu Chiza juga perlahan menari mengikuti irama sambil merentangkan kipas nya. Tak ada yang menyadari, hujan mulai turun diluar sana.
.
Sayonara wa sukooru no you ni yatte kite
Kasukana binetsu wa kimi no sei
Bokutachi no tame datte itte te wo furu yo
Hoho tsutau kanjyou no ame
Yukimura terus melancarkan serangan tombak apinya kearah Masamune. Lilitan lidah api mengelilingi serangan panas yang langsung dipatahkan oleh keenam katana sang naga bermata satu. Keengganan sudah meninggalkan mereka sejak awal.
.
Nureta mabuta kakusou to shita toki
Shizuka ni bureta kimi no shinon wa
Nani wo katari nani wo tsutaeyou to
Shiteta no darou? kizukenakattane dakara
Mengayunkan dengan lembut, mengibaskan kipas merah marun yang cocok dengan kimono plum yang dikenakan. Nada biwa mulai meninggi.
.
Kumori sora furisosoida ame, shizuku
Kanashimi urumu me kakusu tame?
Kasa wo sasu te wo saegiri utsumuita
Miageteta toumeina sora
Suara-suara pertarungan masih setia di iringi melody hujan yang mengguyur bumi. Api dan petir terus mengganas diantara tenangnya tetesan hujan. Bagai langit, yang menantang datangnya badai.
.
Hibikiau kokoro no oto mou nakute
Kazashita yubisaki todokanai
Taisetsuna sono matataki sono koe mo
Kaerenai ano toki no mama
Lemah gemulai meski kaku, berputar dengan anggun dengan kedua tangan yang masih memegang sepasang kipas lipat bertali kuning dipilin dibawahnya. Chiza lalu melambaikan sebelah kipasnya di depan wajahnya sementara tangan yang lain mengibaskan di depan dada.
Lambat, hati-hati, dan diakhiri dengan indah. Aya masih memetik biwa nya sambil menyandungkan lirik akhir dari lagu tersebut.
Petikan terakhir, dan disambut riuhnya tepuk tangan penonton.
.
.
Diluar, hujan masih deras mengguyur. Dua pemuda yang kondisinya sudah sama-sama payah hanya bisa diam sambil menstabilkan nafas yang putus-putus. Tubuh, rambut dan zirah mereka basah kuyup, namun sorot membara dari mata keduanya tak juga padam.
Pertarungan mereka ini telah menguras banyak sekali tenaga tapi mereka tetap tak mau menyerah.
Gemuruh hujan tak bosan mengalir. Masamune dan Yukimura kemudian bangkit dan berdiri dengan gagah meski terluka cukup parah.
Seringai menantang dari sang legenda one eyed dragon of Oushu serta cengiran berani dari yang bergelar Tiger of Kai, mengawali kembali beradunya dua senjata masing-masing rival abadi.
Serangan demi serangan api yang panas membara disusul gelegar serangan petir yang menghentak, bagai tarian pertarungan yang mewarnai nyanyian hujan di malam itu.
.
Dibalik pintu shoji yang menghadap ke luar halaman taman belakang, nampak sosok seorang pemuda seusia Aya dan Chiza mengamati sosok kedua pemuda yangs sedang bertarung sengit itu.
Sementara, disisi lain taman, sosok anggun Sakuya nampak sedang menikmati 'tarian' dan 'musik' lain yang tengah tersuguhkan dihadapannya ini.
Dibalik payung merah tradisionalnya, diam-diam ia tersenyum misterius.
.
.
.
"HAH? MASAMUNE SAMA YUKIMURA BERTARUNG DI HALAMAN?!"
Teriakan syok Chiza yang kelewat lebay itu mengawali hari berikutnya yang secerah wajah Sakuya.
"Iya. Mereka semalam sedang membicarakan sesuatu yang sepertinya sangat penting. Sayang sekali mereka melewatkan pertunjukkan luar biasa kalian."
"Geez, padahal aku dah berharap Yukimura-kun melihat ku semalam!" Chiza gegulingan nggak terima.
"Aku juga sih." Aya cemberut.
"Sudahlah. Ini reward yang aku janjikan sebelumnya." Sakuya lalu memberikan dua buah bungkusan masing-masing kepada players.
"Woow! Ini banyak sekali!" seru Aya.
"Kita bisa beli apa aja nih dengan uang sebanyak ini!" Chiza girang setengah mati.
"Hei, jangan samakan game dengan dunia nyata. Disini kalian hanya bisa membeli satu item dengan uang yang kalian dapatkan ini."
Aya dan Chiza berhenti lalu teriak jamaah "HAH?! YANG BENER AJA?!"
"Makanya, Chiza-san, boleh saya minta tolong?"
"Tolong apaan?"
"Tolong antarkan sarapan ke kamarnya Chosokabe-sama dan Mouri-sama."
"Hee, disuruh nganter aja kan. Yaudah."
"Ingat senyum loh Za!"
"Hati-hati ya Chiza-san."
"Kau kira apaan sih?!" gerutu Chiza. Akhirnya ia pergi ke kamar kamu yang dimaksud.
.
.
Chiza sedang berjalan dilorong sambil membawa nampan berisi nasi dan lauk-pauk untuk sarapan. Dari wajah nya yang cepat berganti dari girang kejatuhan duren menjadi males kayaknya dia melakukan yang diperintahkan Sakuya dengan setengah hati.
"Dasar sok tau lo!" Chiza mendadak berteriak kearah langit-langit lorong. Muka tambah bete.
Sampai di depan pintu, Chiza duduk bersimpuh dan meletakkan nampan disampingnya.
"Tuan, saya mengantarkan sarapan." Kata Chiza dengan nada tak semangat.
"Ahh."
Tangan Chiza yang awalnya mau mengetuk terhenti. Tadi telinganya mendengar apa? Suara desahan.
"Tsk. Jangan keras-keras. Ah." Oh, itu suara Motonari-sama.
"Heh, masa segini saja sudah menyerah. Kamu memang payah." Dan suara yang – entah mengapa terdengar berat seksi – ini adalah milik Motochika-sama.
Sreet sreet.
Lalu suara kain disobek… aahh, jiwa fujoshi Chiza yang lama terlupakan mendadak muncul. Lubang hidung siap memuncratkan darah segar. Nampan berisi makanan hangat terabaikan. Chiza makin bernafsu untuk menguping.
Yang tadi bukan ilusi telinga kan?
"Chiza , kamu lagi ngapain?" Aya muncul sambil membawa sikat.
"Ssst!" Chiza memberi gestur untuk diam, kemudian menunjuk kearah pintu.
Aya yang penasaran pun ikut menguping. Hasilnya, ia langsung nosebleed.
"Me... mereka beneran ngelakuin 'itu'?" aww, pikiran Aya mulai membayangkan R18+.
"Mudah-mudahan iya. Chiza membalas semangat. Boleh siapa saja, tolong geplak kepala bocah ini.
Namun karena saking keponya duo players ini, pintu shoji yang membatasi ruangan semakin rapuh dan kemudian jebol dari engselnya. Duo players malang(?) sukses terjengkang ke depan, dan kini mereka bisa melihat apa yang terjadi di hadapan mereka kini.
Untuk melihat yang bakal terjadi silahkan klik dibawah sini.
.
.
NEXT -
.
.
To be continued
A/N
Ruri no Ame – Alice Nine dan seperti yang dikatakan tadi, aku membayangkan si Chiza menari seperti geisha yang ada di PV nya itu. Meski Cuma sedikit sih. XD
RnR & FnF ~ XDDDD
