Hei~ Terima kasih sudah membaca para readers! *nunduk2*
Dan tak lupa saya berterimakasih buat yang sudah review! Yey! *tebar bunga*
Dicchan Takaminata-n: Ehehehe…terima kasih untuk review dan pujiannya. Ehehee…
Iya saya akan memakai masukan kamu di sini. Di chap 1, Sebastian sengaja membuat kesan pertama yang baik. XD Semoga kamu menikmatinya.
: Ara~ terima kasih reviewnya dan saya senang kamu menyukainya. Chap 2 update kok. XD
Fujoshi unixs: Ehehe..terima kasih reviewnya. Hohoho…
Chapter kali ini merupakan sudut pandang Ciel. Selamat menikmati. ^^
Kuroshitsuji © Yana Toboso
~Arrogant Master and Lunatic Servant~
Typo maybe happens.
Please enjoy the story…
Chapter 2:
.
.
.
Ciel's PoV
Sekolah Grey adalah yang terbaik. Terbaik apaan? Awalnya memang terlihat seperti keajaiban yang datang terus menerus, tapi apa? Itu malah awal dari kekelamanku. Lihat saja si Sebastian sialan itu, terbar pesona kemana-mana. Ah ini kesempatanku untuk tak bertemu dengannya dan pergi ke suatu tempat tanpa dia sebentar sebelum aku kembali ke asrama.
Lolos! Satu kata itu membuatku begitu lega. Sejak pagi aku menghindarinya, bukan karena benci sih, hanya saja aku tidak suka carannya memperlakukanku. Tapi karena dia jadi pelayanku, aku mulai ketergantungan padanya. Hari ini aku lupa menyiapkan buku pelajaran, tidak sarapan karena mengunci diri di kelas sepagi mungkin, bahkan makan siang aku lari sebelum ketahuan. Sekarang pun aku lari darinya juga.
Huaahhh, aku menyesal menyetujui kontrak untuk tetap tinggal di asrama sekamar dengannya. Melihat dia dengan seenaknya membuatku kesal dan marah tiap kali. Selalu bertengkar dengannya yang membuatku semakin emosi, apa lagi dia selalu tertawa melihatku marah dan mengatakan aku manis. Aku ini laki-laki,tahu?! Manis itu hanya sebutan untuk perempuan. Entah kenapa banyak orang mengatakan aku begitu. Belum lagi dia sangat mesum. Masa dia ingin memandikanku? Memakaikanku baju? Menyuapiku? Aku seperti anjing peliharaan saja.
Lalu mengeluarkan uang untuk mendapat kan informasi tentangku. Membuatku di persulit jika aku tak bersamanya. Menyebalkan!
"Disitu rupanya kau, Ciel."
Suara itu….ah! Si mesum itu datang lagi. Kenapa bisa menemukanku sih?
"Kau kemana saja sih? Aku mencarimu kemana-mana."
"Aku tak perlu bilang 'kan?" Jawabku sinis. "Kenapa kau tau aku disini?"
"Hehehe…aku tak perlu bilang kan?" Ledek Sebastian.
Tch! Sialan dia membalikkan ucapanku. Dia tuh ya…sengaja banget deh!
"Bercanda~ Aku menaruh microchip di sepatumu. Yah~ kau tau kan itu sangat berguna ketika mencari anak hilang? Hehehe.."
What the—! Chip? Ya Tuhan, seharusnya aku tau orang ini melakukan itu! Orang ini tidak waras! Dengan kesal aku mencari chip itu di sepatu, tapi tetap saja aku tak menemukannya.
"No no no~ kau tak akan menemukannya." Aku mengendus kesal mendengar ocehannya, aku rasa dia memang bergeser otaknya. "Ah ya Ciel, kau mau lihat catatan pemeliharaanmu?"
Hah? Catatan pemeliharaan?
"Nih." Sebastian membuka telepon genggamnya dan membacakan isinya. "Tanggal 1 Mei kau semakin cerah setelah ku beri makan sayur, terus rambutmu semakin halus setelah aku menyisirmu 2 jam, terus—"
"Hentikan! Aku bukan peliharaan! Hanya orang mesum yang mau di pelihara!"
"Aih~ Berarti aku mendidikmu menjadi mesum ya? Senangnya…"
Si sialan ini!
KRESEK KRESEK *ceritanya ini bunya speaker nyala*
'Perhatian-perhatian!'
Eh? Pemberitahuan kah? Super sekali sekolah ini, speaker dimana-mana supaya pengumuman terjangkau kemana saja.
'Untuk even drama yang di adakan setiap tahun, kali ini mengambil judul Romeo and Juliet. Peran Juliet akan dimainkan oleh siswa termanis yang akan di jatuhkan pada anak kelas 1. Ciel Phantomhive! Selamat!'
A-apa!
'Untuk pemeran Romeo masih di pegang oleh jawara kita dari tahun lalu. Ketua OSIS kita, Sebastian Michaelis! Dan untuk pemeran selanjutnya—'
Hah? Ini gawat! Perayaan macam apa ini?! Kenapa pasanganku harus si mesum ini sih? Juliet? Kenapa harus Juliet! Sekolah ini benar-benar gila!
"Ciel, kita harus ke ruang drama untuk minta naskah."
Pria ini, oh Tuhan. Cobaan macam apa lagi ini?
"Baiklah, aku juga ingin menolak drama itu."
"Ehem, Ciel Phantomhive, lahir 14 Desember, suka makanan manis, benci sayur, berhenti ngompol ketika SD, mengganti kaus kaki 3 hari sekali dan pernah ketiduran dan ngiler saat—"
"Iya iya! Aku ikut!" Potongku ketika ia terus saja mengoceh tentang aibku.
Sial. Orang ini mengerikan. Dia bahkan tahu aku berhenti mengompol ketika SD? Kaus kaki pun juga. Bisa mati aku jika itu tersebar. Image jenius dan kaku ku bisa hancur seketika jika orang ini menyebarkan aibku.
Dengan berat hati, aku mengikutinya menuju ruang drama. Kenapa kali ini cobaan datang bertubi-tubi sih? Apa salahku?
.
.
Diruang drama, aku, Sebastian dan pemeran yang lain menghadiri briefing. Setelah itu kami mulai berlatih. Kami memiliki waktu sebulan untuk penampilan terbaik, ternyata Sebastian hebat sekali berakting. Ah…kenapa orang ini begitu sempurna? Hanya saja sifat mesum dan otaknya yang sinting saja minusnya.
"Kenapa aku harus berperan sebagai wanita?" Tanyaku kesal.
"Yah, kau tahu disini hanya ada pria. Salah satunya supaya tidak bosan ya begini." Jelas Sebastian.
"Kenapa harus aku?"
"Apa aku harus menjelaskan bahwa kau adalah siswa termanis di sekolah ini? Wajahmu itu cantik seperti perempuan."
Aku masih tak mengerti kenapa sekolah elit ini sangat aneh? Aku juga masih belum terima dengan peran yang ku dapatkan. Aku membuka-buka naskah sambil membaca pelan di tempat tidur.
"Ayo coba katakan baris ini." Ujar Sebastian.
Aku bangun dari tempat tidur dan berniat membaca seperti suruhannya. Ah…ini. Bagaimana caranya?
"O Romeo, Romeo! Wh-wherefore art th-thou Ro-romeo."
Sebastian menggebrak meja.
"Hei! Kau berperan sebagai Juliet! Bukan gagap!" Tegas Sebastian. "Jika kau menjadi Juliet, maka dalami perannya."
"Aku tidak mengerti artinya. Bagaimana bisa aku mendalami?"
Sebastian menghela nafas. Oke, sudah bereapa kali aku bilang aku tidak menyukai sastra. Sekarang aku harus memerankan drama yang salah satu dari sastra. Aku tidak mengerti bahasa dulu!
"Hyuhhh~ Baris ini, Juliet bertanya-tanya kenapa Romeo itu harus Montague. Seperti yang kau tahu keluarganya, Capulet, selalu berseteru dengan Montague."
"Oh gitu. Aku tidak mengerti perasaan Juliet."
"Ah, bagaimana kalau kita menjadi sepasang kekasih? Pasti lebih mudah memerankannya." Seringai Sebastian muncul. Aku benci itu.
"Itu tidak akan terjadi."
"Pasti terjadi." Kata Sebastian memegang pundakku.
Orang ini ngotot sekali. Itu tak'kan mungkin terjadi 'kan? Kita ini sama-sama laki-laki kan?!
'Tapi di perlakukan seperti itu oleh orang hebat apa kau tidak berdebar?'
Tiba-tiba pernyataan Alois muncul kembali di otakku. Berdebar?
DEG!
Wajahku memanas seketika. Dengan cepat ku lepaskan pegangannya pada pundakku, menarik selimut lalu membelakanginya. Aku harus lepas darinya! Kalau tidak, jantungku akan melompat keluar dari rongga dadaku spontan.
Keesokkan harinya, di ruang teater, kami mulai berlatih bersama-sama. Karena aku masih saja kaku dan tidak mendalami peran, Sebastian mengambil alih mendidikku berakting dengan embel-embel tugas seorang OSIS. Dia memang penjilat. Menyebalkan! Tapi…dengan latihan bersama-sama dengan yang lainnya, ia tidak mengeluarkan sifat mesumnya sama sekali. Dari penjilat sekarang bermuka dua. Benar-benar…kenapa aku harus terjebak bersamanya sih?
"Hei, bagian ciuman ini di skip kan?" Tanyaku pada ketua klub drama.
"Tidak bisa. Itu bagian sangat penting di akhir cerita." Jelas si ketua klub. "Dan namaku bukan 'hei'. Aku William T Spears. Ingat itu baik-baik."
"Tapikan…"
"Ciuman itu pura-pura." Jawabnya datar.
Tch!
Sekolah ini benar-benar gila. Aku bisa gila jika ini terus-terusan terjadi. Tapi karena sekolah ini menerimaku dengan beasiswa penuh, aku mencoba untuk bertahan. Kalau aku keluar dari sekolah, aku akan jadi gembel di jalan. Aku tidak mau!
Dan begitulah aku memulai hari-hari belajar drama yang menyebalkan.
ϮϮϮ
Hari ini sudah sebulan kami latihan, beberapa jam lagi penampilan kami akan dimulai dan kami sedang bersiap. Yah…aku telah berhasil melewati semua bagian cerita dengan bagus menurut ketua klub. Sebastian dan yang lainnya juga memujiku karena aku bisa dengan cepat mempelajari drama itu. Aku benci mengakui hal ini, tapi…ini juga berkat Sebastian yang dengan tegas mengajariku. Dan tujuanku yang lain adalah ingin cepat-cepat bisa karena aku sudah tidak tahan dengan kelakuan Sebastian yang mesum itu. Aku ingat sekali ketika aku tidak bisa mendalami peran, dia mengancam akan menciumku di depan teman-teman klub. Gila kan?
"Ah~ nh~ ah~"
"Rileks, Ciel."
"Ahh~ Se-sebastian! Itu sakit!"
Sial ini benar-benar sakit!
"Tidak apa-apa. Nanti setelah itu akan enak kok."
"A-aahh! Pelan-pelan kek!"
Enak apa? Ini sakit! Aku benar-benar kesusahan mengambil nafas!
"Kalau pelan-pelan gak akan selesai."
"Sakit! Jangan terlalu kasar! Tolong lebih lembut."
Sa-sakit! Cepat berhenti!
"Sebentar. Ini agak sempit. Bagus, iya begitu, sebentar lagi selesai."
"Hoi! Kalian itu lagi pakai baju atau ngapain sih?!" Teriak Bard—pemeran Mercuito teman Romeo—yang terusik dengan suara-suara yang kami buat.
"Maaf, Mercutio. Gaun Juliet agak sempit berbeda dari kemarin."
Ah! Akhirnya selesai juga. Yah ampun, baju itu tadinya pas denganku, kenapa agak sempit sekarang! Jangan bilang berat badanku naik! Aku butuh lebih tinggi, bukan berat badan! Ini gara-gara Sebastian menyuruhku makan terus!
"Tapi please~ Jangan buat suara seperti itu. Itu seperti kau sedang melakukan adegan panas di ranjang, you know?"
A-a-a-a-appaaa?!
Wajahku memanas mendengar pernyataan Bard. Bard sialan! Kau mengatakan itu depan Sebastian yang mesum? Tuh kan! Sekarang Sebastian menatapku dengan senyuman penuh arti! Mati aku!
"Hehehe…nanti kita lanjutkan nanti malam lagi ya, Ciel. Sudah waktunya tampil."
JEDER!
Aku benar-benar tidak tau harus bilang apa!
Pertunjukkan dimulai, dimulai dari 2 pemuda Montague bertemu dengan pemuda Capulet lalu bertengkar, menyebabkan Pangeran Verona marah. Kemudian pesta keluarga Capulet. Aku harus bisa mengatasi kekesalanku pada Sebastian. Aku harus professional berperan.
.
.
Ah ini sudah di akhir cerita!
"Ah, Juliet, kenapa kau begitu cantik? Aku akan menemanimu dalam kematian, selamanya."
Aaaaaaa! Dia mendekat! Dia mendekat!
Sebastian mendekatiku yang terbaring dalam peti bening. Tangan besarnya menyentuh pipiku, mengusapnya lembut. Se-sebastian…itu tidak ada dalam naskah! Aku merasakan ia menatapku lama. Ia mendekat! Dekat! Terlalu dekat! Hembusan nafasnya semakin terasa di wajahku. Aku yakin dia berbohong soal pura-pura berciuman. Di-dia dekat! Dan…
Arggghhh! Tuh kan! Dia menciumku. Cepat lepaskan bibirmu! Grrr! Sial aku tidak bisa bangun sekarang! Lepaskan! Hei! Aku masih bisa mentolerir jika ia hanya menempelkan bibirnya. Tapi dia sengaja menciumku berulang kali! Aku meremas sprei yang mengalasi tidurku berharap ia cepat melepaskan ciumannya. Sayup-sayup ku dengar penonton sedikit riuh dengan adegan ini. Aku rasa mereka juga tidak waras.
Sebastian melepaskan ciumannya. Aku bersyukur sekali! Awas kau Sebastian!
"Dengan racun ini, aku akan menemanimu tidur selamanya, cintaku."
Giliranku kah?
Aku membuka mataku. Terbangun dari peti ku dan melihat Sebastian sang Romeo sudah terkapar di lantai. Muncul niatku untuk mengerjainya.
"Romeo!" Jeritku.
Aku mendekati Sebastian dan SENGAJA menginjak jari tangannya ketika aku lewat. Haha, lihat dia menahan sakit dan masih berakting mati.
"Racun? Pasti ini penyebab kematianmu."
Apa lagi ya? Ah ya…aku menaruh tanganku di bahu Sebastian dan mencubitnya kencang dengan tersembunyi supaya penonton tidak melihat. Lihat! Dia meringis. Hahahahaha….ini pembalasanku!
"Kenapa kau menghabiskannya dan tidak menyisakan sedikit untukku?"
Yak adegan Juliet mencium Romeo. Oh...jangan harap kau mendapatkan ciumanku lagi sialan. Ku dekati wajahku ke wajahnya berpura-pura mencium pipi Sebastian lalu menggigitnya. Yak oke selanjutnya mengambil pisau Romeo kan? Aku pun mengambil pisau kecil yang ada di pinggang Sebastian.
"Romeo, aku akan datang menemanimu."
Aku menusukan pisau kecil itu dan mati. Aku sengaja menimpanya dengan tubuhku. Hahaha…
Tepukan riuh dari penonton mengakhiri drama kami. Tirai panggung menutup menandakan untuk kami bersiap-siap tampil bersama untuk pengenalan tokoh. Aku pun bangun dari akting mati ku dan berdiri, begitu pun Sebastian. Aku menatapnya sinis lalu baris dan bergandengan tangan dengan pemeran lainnya.
Tirai terbuka. Kami semua telah stand by menghadap penonton, kemudian kami membungkukan badan kami memberi penghormatan buat penonton. Sekali lagi aku mendengar tepuk tangan riuh. Ah..begini ya rasanya jadi artis? Lumayan juga…
Pertunjukan kami selesai. Rasanya lelah ketika drama ini telah selesai. Tentu saja, sebulan kami latihan dan hari ini harus sempurna. Jadi tenaga kami terkuras banyak. Aku melepaskan gaunku dan mengganti pakaianku menjadi kaus lengan panjang berserta celana jeans. Gaun tadi aku gantung di ruang kostum kemudian berlari ke toilet karena aku sudah menahan buang air kecil dari tadi.
Lega…
Aku menoleh kesana kemari mencari keberadaan Sebastian. Sepertinya tidak ada. Okay~ Aku akan buru-buru ke asrama. Aku lelah dan ingin beristirahat total.
Ku langkahkan kaki ku menuju asrama, beberapa orang menyapaku Juliet. Grr! Aku Ciel, buka Juliet. Aku mepercepat langkahku menuju kamarku dengan kesal. Ketika sampai, aku merogoh kantung celanaku dan mengambil kunci kamar.
CEKLEK
Aku membanting tubuhku di kasur empuk milikku. Lembut…oh nyamannya…aku merindukanmu guling, aku merindukanmu bantal. Ku pejamkan mata menikmati kenyamanan yang di berikan kasur tercinta pada tubuhku. Tak berlangsung lama karena tiba-tiba ku mendengar pintu kamar mandi terbuka.
Ku dapati Sebastian keluar dari sana. Ia memakai celana pendek dengan handuk kecil yang masih menggantung di kepalanya sambil menyeringai padaku. Dadanya yang bidang dan tubuh atletisnya terekspos dengan butiran-butiran air yang sedikit mengalir dari rambutnya yang basah. Aku merasakan firasat buruk!
"Kau sudah datang?"
Aku terdiam. Terlalu malas menjawab pertanyaan yang seharusnya tidak membutuhkan jawaban. Ku balikkan badanku menghadap tembok supaya tak melihatnya.
"Oh ya, aku mempunyai gateau chocolate untukmu."
Aku kembali berbalik menghadap Sebastian. Gateau Chocolate…kesukaanku! Aku merubah posisi menjadi duduk di pinggir tempat tidur. Jangan Ciel! Dia menjebakmu. Tahan nafsumu pada kue itu kau tahu bahwa mahkluk di depanmu itu sangat berbahaya.
Sebastian membuka kotak kue itu lalu memotongnya kecil untukku dan duduk di tempat tidurku.
"Kau tak mau?"
Aku menggeleng. Padahal sebenarnya hatiku berteriak meminta kue indah itu. Aku sangat menginginkannya!
"Ya sudah ku makan."
Sebastian memotong kecil kue dan memasukannya dalam mulutnya. Aku menelan ludah mengingat rasa kue itu. Cokelat yang lumer di lidahmu, sensasi itu…ahhh! Aku ingin! Tak sadar aku menatapnya, dan aku terkejut ketika dia kembali menatapku dengan seringainya.
DEG!
Sebastian tidak mengunyah kuenya? Ia juga menaruh kembali kue itu di meja yang menempel pada tempat tidurku. Dia menatapku. Hiyy! Dia mendekatiku, semakin mendekatiku. Aku mundur sedikit demi sedikit ketika ia semakin maju mendekatiku. Tiba-tiba tangannya yang besar mengunci kedua tanganku di atas kepalaku. Aku yang terbaring dengan posisi ini benar-benar tidak menguntungkan karena tidak bisa lari. Cengkramannya begitu kuat.
Wajahnya mendekat padaku dan secepat kilat mengunci bibirku dengan bibirnya. Lidahnya yang basah kurasakan menyentuh bibirku dan mencoba masuk. Si-sial! Aku tidak boleh buka!
Tapi semua usahaku sia-sia, ia menggigit bibirku yang membuatku membuka mulutku. Lidahnya seperti mendorong sesuatu ke dalam mulutku. Manis…itu gateau chocolate itu kan? Ia memaksaku untuk mengunyahnya tapi ia tidak berhenti bermain di mulutku. Menyebalkan!
Bodoh! Aku bisa tersedak jika begini! Ciumannya semakin lama semakin berbeda. Tanganku, argh! Tidak bisa lepas meskipun sudah meronta. Hen-hentikan!
"Hosh…hosh…" Aku mengambil nafas setelah perlakukannya padaku. Tapi ia tetap mengunci tanganku, seringai muncul dari bibirnya yang tipis. Membuatku semakin kesal padanya.
"Gimana kuenya? Enak?"
"Sialan! Apa yang kau lakukan, hah?!"
"Apa aku perlu menjelaskan kalau aku menyuapimu makan?"
Percuma saja, Ciel. Dia itu sinting. Jika kau marah, ia akan semakin senang. Aku menarik nafas panjang untuk meredakan amarahku.
"Aku baik kan? Kau bisa merasakan kalau aku tidak pernah marah padamu dan terus berjuang dengan berani walau di injak-injak kan?"
Ugh! Kata-kata itu menohok hatiku.
"Sudah ah mainnya. Ayo makan dulu kuenya. Lalu setelah makan kue, gosok gigi dulu sebelum tidur. Ini hadiah karena kamu telah berkerja keras sebulan ini."
Eh?
"Aku sempat khawatir karena sepertinya aku tidak bisa mengangkat semangatmu dalam drama. Aku senang akhirnya kau melakukannya dengan baik. Seharusnya aku tak perlu khawatir terlalu berlebihan karena aku tau kamu pasti bisa mengatasinya."
Sebastian tersenyum lembut padaku. Aku hanya bisa membuang muka supaya ia tidak melihat wajahku yang merona. Dia memikirkanku?
DEG!
Tuhan, apa ini? Kenapa seperti ada yang menggelitik dadaku? Seperti ribuan kupu- kupu memaksa keluar dari perutku. Perasaan senang dan sesak bercampur menjadi satu. Ah! Dia tersenyum…kenapa senyuman itu sangat hangat? Seakan membakar wajahku karena sekarang wajahku sangat panas. Aku meremas sprai menahan semua gejolak hatiku dan berharap perasaan ini cepat pergi.
.
.
.
TBC
Gimana chapter yang ini? Apakah memuaskan? Seru? Atau jelek?
Saya sangat mengharapkan review, kritik dan saran. Hanya saja…yang lembut ya? _
Terima kasih sudah menyempatkan waktu kalian untuk membaca ff saya. *nunduk-nunduk*
