Saya mengucapkan terimakasih buat para readers dan yang me-review. saya benar-benar senang. Hehehe… Seminggu ini saya banyak sekali tugas. Jadinya agak lama update hoho..

Dicchan Takaminata-n: Terima kasih buat reviewnya. :D Sebastian memang maniak stalker mesum. XD keliatan cinta banget yah berarti si Sebastian.

Alif ryeosomnia: Ah memang saya juga merasa alurnya kecepatan. Saya coba perbaiki deh buat chapter selanjutnya. Terima kasih ya reviewnya.

Chernaya: Terima kasih reviewnya. Um…saya gak berani buat ini humor. Soalnya saya itu garing. ==" Jadi humor cuma selingan aja. Tapi…terima kasih masukannya. :D

Oke okeh, sekarang sudut pandang normal yah~

Kuroshitsuji © Yana Toboso

~Arrogant Master and Lunatic Servant~

Typo maybe happens.

Please enjoy the story…

Chapter 3:

.

.

.

"Se-sebastian!"

"Sudah ku bilang kan aku harus menghukummu."

Sebastian mengecup singkat bibir Ciel. Tentu saja jeritan Ciel terdengar setelah kecupan singkat itu. Sungguh sore hari yang heboh buat mereka.

"Kenapa hukumannya harus ciuman sih?!" Ujar Ciel sambil melempar Sebastian dengan buku yang ia bawa.

"Aih lucunya~ habisnya Ciel gak disiplin sih. Karena ciuman bisa memberimu rasa gugup. Bagiku, itu adalah hadiah. Jadi itu pas jadi hukuman."

"Oh! Jadi kau tahu itu menggangguku? Menyedihkan."

"Enggak menyedihkan tuh. Soalnya aku suka melihat orang yang ku suka berwajah gembira atau kesal. Itu manis!"

Ciel berdecih mendengar jawaban Sebastian yang menurutnya mesum itu. Jawabannya tidak pernah serius.

Oh kalian tahu kenapa Ciel bersama Sebastian sekarang? Apa? Karena Ciel memang selalu bersama Sebastian? Salah! Hehehe…Baiklah akan ku ceritakan. Hari ini Ciel mendapat sial lho. Pertama, ia lupa membawa PR yang ia kerjakan semalam mati-matian. Kedua, karena lupa bawa PR, ia di hukum oleh guru membersihkan toilet. Ketiga, ketika membersihkan toilet ia harus terpeleset dan jatuh, membuat bajunya basah semua. Sabun pel terkena tendangannya yang mengakibatkan tumpah kemana-mana. Gurunya yang semakin kesal pun membawa Ciel ke ruang ketua OSIS dan memintanya menghukum Ciel.

"Hei hukumanku lebih ringan dari pada membersihkan toilet kan?"

"Aku lebih baik membersihkan toilet."

"Oh~ dan main basah-basahan?"

Ciel benar-benar kesal. Ingin rasanya ia menonjok wajah tampan Sebastian untuk melampiaskan kekesalannya. Kesal! Sudah jelas kan kalau dia bukan bermain basah-basahan? Memangnya Ciel masih anak TK yang suka main air di mana saja?

"Ciel. Kembalilah ke asrama. Bajumu yang basah itu akan membuatmu masuk angin." Ujar Sebastian yang kembali serius.

Dengan kesal ia membalikkan badan dan melangkah ke pintu keluar. Namun langkahnya terhenti karena Sebastian menahan tangannya dan memakaikannya blazer.

"Jangan lupa mandi. Kau bau toilet. Hahahaha…"

Ciel membanting ruang ketua OSIS dengan kesal. Kurang ajar sekali Sebastian itu. Setelah keluar, Ciel perlahan mengendus bau tubuhnya sendiri. Dan…hoek…bau toilet! Tapi…blazer Sebastian…wanginya begitu harum. Ciel berhenti mengendus bau di tubuhnya lalu buru-buru pergi ke asrama.

.

.

Di sebuah kamar yang sangat besar dengan tembok berwarna putih bersih, terdapat dua ranjang tidur. Lemari, meja belajar dan kamar mandi masing-masing satu. Dengan lampu tidur tempel berbentuk bintang yang banyak menempel di langit-langit tidak akan membuat kamar itu gelap ketika mematikan lampu. Di kamar itu, terdengar suara shower yang di matikan dari arah kamar mandi kemudian keluarlah remaja berambut grayish dengan baju lengan panjang berwarna putih yang memamerkan leher putihnya dipadu dengan celana pendek 5 cm di atas lutut berwarna hitam. Tidak lupa handuk kecil menutupi kepalanya yang basah.

"Sebastian belum pulang kan? Lebih baik aku tidur dulu."

Remaja bertubuh kecil itu mengeringkan rambutnya, lalu handuk yang ia pakai buat mengeringkan rambut ia letakan di kursi meja belajar. Dengan langkah gontai ia mendekati ranjangnya, meletakan tubuhnya lalu menarik selimut. Tidak sampai 2 menit, ia sudah jatuh ke alam mimpi.

Di ruang ketua OSIS, Sebastian sibuk menandatangani berkas-berkas keperluan siswa. Belum lagi harus membaca dulu tulisan yang banyak sebelum ia menyetujui atau tidak berkas-berkas itu. Baginya, mengerjakan seperti ini, sama saja belajar menjadi pewaris perusahaan ayahnya. Membosankan dan…hampa. Biasanya jam-jam segini dia sudah di asrama bersama Ciel. Mengerjai, belajar ataupun makan bersama. Itu lebih menyenangkan dari pada mengurus lembaran kertas yang selalu ada tiap hari.

Tapi jika ia terus-terusan merasa terbebani, tugas ini tidak akan selesai. Maka dari itu, Sebastian memikirkan Ciel sebagai target. Kalau pekerjaan ini selesai, hadiahnya adalah Ciel. Woohh…dia jadi semangat mengerjakannya.

Tak terasa hari semakin gelap, Sebastian sangat lega ketika tugas OSISnya sudah selesai. Ia meregangkan semua badannya sambil tersenyum senang. Secepat kilat ia membereskan berkas-berkas yang berantakan lalu pergi dari ruangannya karena ia sudah tidak sabar melihat Ciel.

"Malaikatku sedang apa ya?"

Sambil senyam-senyum Sebastian berlari menuju asrama. Tapi, keinginannya untuk bertemu dengan Ciel tertunda ketika Alois dan Soma mencegat Sebastian.

"Kak Michaelis, kami minta waktumu sebentar dong untuk mengajari kami sastra." Ujar Alois dengan manis. Soma yang melihat Alois hanya menggeleng-geleng kepala. Kenapa? Karena Alois itu jika membicarakan Sebastian, dia mengucapkan nama Sebastian. Tapi jika bertemu langsung, dia sok-sok memakai adat 'memanggil nama keluarga' Sebastian.

Sebastian menghela nafas panjang. Rasanya ia ingin menolak permintaan Alois karena ia belum makan sejak siang dan ingin bertemu dengan Ciel, namun ia tidak bisa menolak. Mengajari adik kelas merupakan kebaikan yang harus dilakukan OSIS kan?

"Oke. Sebentar saja ya."

"Yah kakak pelit, segitunya. Giliran Ciel aja diajarin terus." Alois yang pura-pura marah membuat Sebastian tak enak hati.

"Bukan begitu…aku belum makan. Aku juga lelah sekali seharian di ruang OSIS jadi aku hanya punya waktu sebenar mengajarimu lalu tidur."

"Ih kakak, Ciel di layani terus setiap hari. Masa kami minta diajari saja hari ini pelit?"

DEG!

Sebastian terdiam. Ia tidak mungkin bilang kan jika ia melayani Ciel agar Ciel selalu di sisinya karena ia jatuh cinta pada Ciel sejak penerimaan siswa baru? Bisa-bisa ia di bunuh Ciel karena mempermalukannya. Meskipun Sebastian terlalu masa bodo orang tahu bahwa dirinya menjadi seorang gay karena mencintai Ciel pada pandangan pertama, tapi tidak begitu dengan Ciel. Dengan berat hati, ia menyetujui permintaan Alois dan Soma untuk mengajari mereka.

.

.

Ciel terbangun dari tidurnya. Ia mendapati ranjang Sebastian masih sama seperti ketika ia tidur. 'Apa Sebastian belum pulang? Ini sudah pukul 9', pikirnya. Hari ini begitu sepi tanpa Sebastian yang biasanya menemaninya atau menjahilinya seharian.

"Ah, ngapain mikirin Sebastian? Bukannya malah enak dia tidak ada?"

Namun ia di kejutkan dengan pintu kamarnya yang tiba-tiba terbuka. Ah itu Sebastian. Ciel melihat Sebastian agak aneh, biasanya orang ini selalu berisik dan iseng. Tapi kali ini wajahnya benar-benar kusut, dasinya berantakan, rambutnya juga berantakan. Ia seperti orang stress.

"Wajahmu terlihat lelah."

Sebastian menatap Ciel bingung lalu ia tersenyum. Ia senang mendengar Ciel bisa tahu bahwa dirinya memang sangat lelah.

"Yah…jika kau memberiku sebuah ciuman, lelahku pasti hilang."

"Jangan harap." Jawab Ciel dengan cepat.

KRUYUUKKK

Ciel dan Sebastian saling pandang. Seketika wajah Sebastian memerah membuat Ciel tertawa.

"Kau lapar?" Tanya Ciel. Sebastian hanya tersenyum malu.

"Ya. Aku belum makan dari siang. Aku terlalu sibuk dengan tugas OSIS belum lagi tadi temanmu si Alois dan Soma memintaku mengajari mereka. Aku jadi tidak sempat makan."

"Cih~Siapa yang bertanya apa yang kau lakukan sampai tidak makan? Aku hanya bertanya apa kau lapar?"

"Aku kan hanya laporan." Kata Sebastian pura-pura ngambek.

"Ayo ke dapur sekolah. Aku juga lapar. Tapi kau yang masak."

Sebastian membelalakan matanya, ia tidak percaya Ciel mengajaknya makan bersama. Dari mulutnya langsung lho bilangnya! Tentu saja Sebastian senang sekali mengingat Ciel adalah orang sok jaga image. Sebastian pun mengangguk cepat.

"Sebentar aku ganti baju dulu." Sebastian buru-buru mengganti bajunya dan setelah itu mereka pergi ke dapur.

Di dapur sangat sepi, yah asrama jam segitu memang sudah sepi orang yang lalu lalang. Apa lagi dapur. Sebastian membuka lemari pendingin untuk melihat bahan apa saja yang bisa ia gunakan untuk memasak.

"Kau mau makan apa, Ciel?"

"Nasi goreng, maybe? Ini sudah malam, lebih baik yang gampang saja."

Sebastian mengangguk mengerti lalu mulai memasak. Ciel menatap Sebastian yang sedang memasak dengan serius. Ia tidak habis pikir mengapa tuan muda seperti dia bisa melakukan hal-hal yang biasanya tidak dilakukan? Memasak contohnya. Dia begitu terampil dalam memasak seperti sekarang ini. Ia terlalu mandiri untuk ukuran seorang tuan muda.

"Kenapa memandangku? Kau mulai jatuh cinta padaku?" Ledek Sebastian.

"Ugh! Percaya diri sekali kau, bodoh." Ciel membuang muka, ia lebih baik tak menatap Sebastian kembali karena orang itu pasti akan semakin percaya diri. "Hei Sebastian."

"Ya?" Tanya Sebastian masih sambil memasak.

"Kok kau bisa masak?"

"Bisalah. Kan belajar."

"Ayahku pernah bilang, laki-laki tidak masalah tidak bisa masak."

"Memang, tapi apa salahnya bisa memasak? Membagikan cinta dalam masakan itu menyenangakn lho!"

Ciel berdecih.

"Aku pernah membuatkan ibuku masakan dengan cinta. Tetap saja gosong." Ujar Ciel disambut oleh tawa Sebastian.

"Tapi ada pepatah mengatakan 'dengan cinta semua rasa menjadi enak' kan?"

"Dan kau percaya? Jangan bodoh, bagaimanapun rasa dari gosong itu tidak bisa disebut enak meskipun dengan cinta."

Sebastian hanya bisa tertawa mendengar Ciel berbicara sambil menuangkan nasi goreng buatannya ke atas piring lalu memberikan pada Ciel dan ia duduk menghadap Ciel dengan sepiring nasi gorong juga.

"Seberapa pun cintamu pada seseorang, jika makanan buatannya tidak enak kau pasti menolaknya. Kau tak ingin ambil resiko dari memakan makanan tak layak kan?"

"Yah mungkin kau benar."

Mereka memakan makanan mereka dengan tenang. Ini bukan suasana yang menyenangkan buat Sebastian, ia tidak suka terlalu tenang seperti ini dengan orang yang masih belum menjadi miliknya seutuhnya. Ia memilih mencairkan suasana.

"Ciel."

"Jangan bicara kalau makan. Kau tahu etika makan kan?"

"Besok weekend. Ayo kita keluar asrama dan kencan."

ϮϮϮ

Sabtu pagi yang cerah menyelimuti kota London. Dua pemuda duduk bersama dalam sebuah mobil hitam mengkilat. Hanya berdua, ya cukup hanya berdua. Mereka pergi ke Westfield Stratford—pusat perbelanjaan terbesar di Eropa—untuk berbelanja. Dari tadi si remaja bertubuh lebih kecil itu hanya bisa menganga melihat kemana orang yang mengajaknya itu pergi.

"Kau ingin apa?" Tanya Sebastian.

"Hah? Tidak. Aku tidak membeli apapun karena aku hanya menemanimu."

"Jangan begitu. Ayo!"

Sebastian menggenggam tangan Ciel meskipun sudah berapa kali Ciel mencoba melepaskan diri. Ciel tidak suka tatapan orang padanya ketika mereka bergandengan. Itu seperti mereka menelanjangi dirinya hanya dengan tatapan. Itu membuatnya kesal.

"Sebastian, lepaskan. Aku tidak suka."

Sebastian tertawa.

"Hei, kau kan anak kecil disini. Nanti hilang susah."

"Tapi…"

"Abaikan saja yang lainnya."

Akhirnya mau tidak mau ia menyetujuinya. Ia malu mengakuinya tapi…sekarang jantungnya berdebar kencang. Ciel menatap Sebastian yang tengah mengandenganya, tampaknya Sebastian biasa saja, apa hanya dia yang berdebar?

Ciel hanya berdiam saja ketika Sebastian mengajaknya kesana kemari. Sebenarnya bukan karena Sebastian yang bingung memilih-milih apa yang ia ingin beli, Sebastian kesana kemari karena Ciel ditawari apapun hanya menggeleng.

"Ah ayolah beli sesuatu. Aku yang bayar kok."

"Tidak."

Sebastian menghela nafas panjang. Ia berpikir apa salah mengajaknya berbelanja? Ia pun tersadar. Bagaimanapun Ciel adalah orang yang berharga diri tinggi. Tidak mungkin bagi Ciel meminta sesuatu pada pelayannya kan?

"Baiklah, bagaimana kalau ke toko kue?"

Ciel memandang Sebastian terkejut, matanya memancarkan harapan ingin dibawa kesana. Dan menurut Sebastian itu sangat manis, mungkin lebih manis dari semua kue disana nantinya. Tanpa dapat jawaban apapun dari Ciel, Sebastian segera mengajaknya ke toko kue.

Di toko kue itu, mata Ciel sangat berbinar. Sebastian senang sekali melihat Ciel yang suka lupa diri jika menyangkut soal kue. Setibanya di toko kue, mereka mencari tempat duduk paling pojok. Seorang waitress datang menghamiri mereka dan memberikan buku menu.

"Kau mau yang mana?" Tanya Sebastian tersenyum.

"Umm..aku bingung. Tadinya aku mau gateau chocolate. Tapi….red velvet juga enak. Apricot and matcha millefeuille juga. Aku bingung." Ciel masih sibuk melihat buku menu bergambar.

"Apa kau mau semuanya masing-masing sepiring?"

Ciel mengangguk senang.

"Saya pesan gateau chocolate, red velvet dan apricot matcha millefeuille masing-masing sepiring."

"Bagaimana dengan minumnya, Sir?" Tanya waitress itu.

"Aku pesan kopi." Sebastian menatap Ciel. "Kau ingin apa?"

"Darjeeling tea, please?"

"Baiklah, tunggu sebentar ya tuan dan nona."

UGH! Ciel mengepalkan tangannya menahan kesal. Nona katanya tadi? Apa ia perlu menunjukan tubuhnya bahwa ia laki-laki? Oke itu tidak perlu, nantinya justru Sebastian yang akan kesenangan.

"Kau tidak memesan kue apapun?" Tanya Ciel.

"Aku tidak suka sesuatu yang manis. Kecuali kau tentunya, Nona Ciel."

Ciel menjitak Sebastian, Sebastian tertawa sambil memegangi kepalanya yang sakit terkena jitakan Ciel. Tak perlu menunggu lama, waitress itu kembali membawa pesanan Ciel dan Sebastian.

"Terima kasih ya." Ucap Sebastian ramah. Ciel hanya mengendus kesal melihat Sebastian yang bermuka dua itu.

"You're welcome, sir. Selamat menikmati kencannya ya tuan dan nona." Waitress itu tersenyum.

"Hei! Kami tidak kencan! Dan aku ini laki-laki! Laki-laki!" Ucap Ciel yang tidak terima dibilang nona.

"Sudah Ciel, kau memang manis. Dan kita memang kencan, oke?"

Ucapan Sebastian membuat Ciel dan waitress itu terbelalak. Waitress itu dengan canggung meminta izin untuk pergi. Sebastian dengan tenangnya hanya tersenyum, namun Ciel tidak. Wajahnya memerah dan menahan kesal.

"Makanlah. Aku akan menunggu." Ucap Sebastian tersenyum.

Remaja berwarna kelabu itu mulai mengambil garpu dan menyuapkan potongan kue itu kemulutnya. Pemandangan indah itu tak di lewatkan oleh Sebastian, ia memegang telepon genggamnya dan tanpa Ciel sadari, ia memotret Ciel yang sedang memakan kuenya.

Saat ini kami sedang makan kue di Heaven Cake. Ciel memakan gateau chocolate, red velvet dan apricot matcha millefeuille masing-masing sepiring. Oh ya dia juga memesan Darjeeling tea. Dia sangat manis! Tak heran dia begitu manis karena makanan yang ia suka kebanyakan manis.

Begitulah yang ia tulis beserta foto yang tadi ia tulis ke dalam telepon genggamnya. Setelah selesai dengan telepon genggamnya, ia menatap Ciel kembali dengan senyuman. Tatapan penuh cintanya membuat sekeliling orang yang melihat mereka merasa iri. Ciel yang merasa di tatap mencari sumber tatapan itu. Tak susah mencarinya karena sang penatap ada di depannya. Mata indah antara ruby dan sapphire bertemu. Perpaduan yang sangat indah melihat kedua arti dari warna mata itu bertolak belakang. Ruby yang terlihat membara dan sapphire yang terlihat tenang.

Wajah Ciel kembali merona dan sedikit salah tingkah ketika Sebastian terus-terusan menatapnya dengan senyum. Siapapun akan merasa meleleh mendapat tatapan penuh cinta dari seorang pria tampan dan hebat bukan?

"Ja-jangan memandangku seperti itu. Aku tidak bisa berkonsentrasi makan, tahu!"

"Makan saja. Aku kan tidak mengganggumu." Jelas Sebastian masih dengan menatap Ciel. Tatatpannya lurus hanya pada Ciel, mungkin bisa dibilang Ciel merupakan titik fokus pandangannya sekarang.

Ciel memakan kuenya dengan risih. Namun ia sedikit bingung ketika Sebastian terlihat terkejut. Sebastian dengan cepat mencari saputangan dari kantung celananya yang berwarna hitam lalu mengusap pipi Ciel dengan saputangan itu.

"Kau itu benar-benar seperti anak kecil. Belepotan makannya."

"Hei!" Tepis Ciel. "Aku bukan anak kecil!"

"Bukan ya? Hemm…kalau kau bukan anak kecil, bagaimana kalau kita bermain permainan orang dewasa?"

"Tolong hentikan pikiran mesummu di publik."

"Jadi kalau di asrama boleh?" Ciel semakin kesal dengan jawaban Sebastian. "Tapi memangnya hal mesum apa yang kupikirkan, hah?"

Sebastian memangku dagunya dengan tangan kanannya dengan tatapan mesum dan seringai. Membuat Ciel takut.

"Mesum ya mesum!"

"Maksudmu bercinta?"

"Hei!"

"Memangnya aku berpikiran seperti itu?" Sebastian tertawa. "Permainan orang dewasa tidak hanya bercinta bukan? Permainan orang dewasa yang ku maksud itu kartu."

Ciel menatap Sebastian bingung. Kartu katanya?

"Ini semacam permainan seperti Truth or Dare. Hanya saja ini menggunakan kartu remi. Kita bermain kartu seperti biasa, yang kalah harus memilih truth or dare."

"Boleh. Aku pasti akan menang!"

.

.

Mereka berdua kembali ke asrama. Ciel sudah tak sabar bermain kartu dengan Sebastian. Ciel pasti akan membuat ia kalah!

Setelah sampai di kamar mereka, Sebastian menaruh semua belanjaannya di meja belajar dan membagi-baginya.

"Ciel, ini barangmu ya."

"Aku tidak beli apapun kan, kenapa ada barang?"

"Aku yang membelikan. Terima ya, anggap saja sebagai hadiah karena kau jadi anak baik. Heheh.."

"Ayo cepat main!"

"Aduh gak sabar banget sih. Sabar dong. Andai saja kau seperti itu jika—"

"Jangan bicara mesum, oke?"

Sebastian tertawa. Ia mengambil kartu remi yang ia beli tadi. Sebastian duduk di kasur Ciel dan mereka saling berhadapan. Nama permainan itu adalah Kyu Kyu. Oke biasanya permainan ini memakai kartu domino, hanya saja Sebastian ganti menjadi remi. Bisa juga kan?

Sebastian memisahkan kartu Joker, King, Queen dan Jack. Yang tersisa hanyalah kartu dengan angkad dan AS sebagai angka 1. Lalu mengocok kartu itu, membagikan kartu 4 lembar.

"Kau tahu kan permainannya?" Tanya Sebastian.

"Ya."

"Tapi permainan ini kartu asli ya. Tidak boleh bertukar. Paling tinggi angka 99."

"Aku mengerti, Sebastian."

Mereka membuka kartu mereka masing-masing. Wajah kedua orang itu sama-sama tenang. Mungkin saja mereka mendapat angka bagus?

"Siap?"

"Oke, ayo buka kartumu Sebastian."

"Sama-sama ya."

Mereka membuka kartu mereka. Ciel terperanjat melihat angka kartu Sebastian yang berjumlah 9-8. Sedangkan ia 9-7. Sial padahal sedikit lagi Ciel bisa menang.

"Truth or Dare, Ciel?"

"Truth."

Ciel meminta Truth, ia terlalu takut menggunakan Dare. Karena Sebastian sangat menakutkan.

"Truth? Oke." Sebastian memutar otaknya untuk berpikir. "Umm…warna dalaman apa yang kau pakai hari ini."

"Hei Sebastian!"

"Kau memilih Truth kan?"

Ciel tak bergeming, wajahnya merona menahan malu. Masih saja Sebastian mengatakan hal mesum. Tapi karena ia memilih Truth, ia harus mengatakan dengan jujur kan?

"Me-merah."

"Merah? Segitu cintanya kau padaku sampai memakai warna mataku? Hahaha!"

"Hentikan! Ayo lanjut! Kali ini kau pasti kalah!"

Mereka pun memainkan permainan itu lagi. Kali ini Ciel yang menang. Ciel tersenyum bangga.

"Truth."

"Oke, kenapa kau…mencintaiku sedangkan kita sama-sama laki-laki?" Tanya Ciel pelan.

Sebastian memasang wajah sok berpikir, membuat Ciel kesal saja. Tapi kemudian ia tersenyum.

"Hal yang ku yakini adalah, cinta tak perlu alasan. Kalau aku mencintaimu, itu artinya aku mencintaimu kan?"

"Itu bukan jawaban, Sebastian." Ucap Ciel kesal.

"Itu jawabanku, Ciel. Aku memang sudah jatuh cinta tanpa alasan ketika aku melihatmu dari podium."

Ciel terdiam. Dengan senyuman, Sebastian mengocok kartu itu lagi. Dan hasilnya adalah dirinya yang menang.

"Dare." Ucap Ciel.

"Jawaban dikunci yah. Serius kau ingin Dare?"

Ciel menatap Sebastian takut. Pikirannya mengatakan Truth tapi kenapa mulutnya berkhianat mengatakan Dare? Ciel tahu pasti Sebastian akan menyuruhnya aneh-aneh.

"Si-sial." Ucap Ciel pelan.

"Cium aku yang lama."

Mata Ciel membulat. Tuh kan benar! Argh! Ciel merasa kesal sekali.

"Ayo, kau sudah memilih." Sebastian memasang wajah kesal.

Dengan berat hati, Ciel mendekati wajahnya dan mencium pipi Sebastian.

"Hei, bukan itu yang ku mau. Cium di bibir! Yang lama!"

"Kok kau yang mengatur?!"

"Kau memilih Dare kan?"

Ciel menguatkan hatinya dan kembali mendekati wajah Sebastian dengan mata tertutup karena takut. Sebastian menyeringai melihat Ciel yang manis itu melakukannya. Hatinya sudah tak tahan melihat Ciel yang manis itu. Diraihnya kepala Ciel untuk menggapai bibirnya. Mereka berciuman. Kesempatan emas yang di miliki Sebastian tidakia sia-siakan. Sebastian mendorong tubuh kecil Ciel hingga terbaring di kasurnya sehingga ia berada diatas Ciel sambil terus menciumnya.

Jantung Ciel berdebar sangat kencang menerima perlakuan Sebastian padanya. Ia ingin memberontak tapi tubuhnya tidak mampu bergerak yang ia lakukan hanya meremas seprai untuk menyalurkan semua perasaannya. Wajahnya memerah, ia tak berani membuka matanya. Nafasnya tersengal-sengal dan perasaannya kacau. Namun entah apa yang Ciel pikirkan sekarang, tangannya berhenti meremas seprai lalu mengalungkannya di leher Sebastian. Tentu saja itu membuat Sebastian tersenyum dalam ciuman panasnya. Sedikit berpikir Ciel mulai menyambut perasaannya…

ϮϮϮ

Oke bagaimana? T_T kali ini saya buat panjang ceritanya karena teman saya ngomel-ngomel karena ff saya selalu pendek.

Yah, saya memohon review ya, readers. Kritik dan saran diperlukan, hanya saja…yang lembut ya? Soalnya saya takut. XD *nunduk2*

Semoga kalian menikmatinya ya.