Ah~ Terima kasih untuk readers dan yang mereview. Hohoho~

Kali ini saya datang dengan sedikit badai (?)

Saya mau cuap-cuap dulu sebentar ya. Hehhe

: Ehehehe…terima kasih reviewnya. Semoga kamu menikmati chapter ini ya. *smile*

Dicchan: Ugh! Sebenarnya saya gak suka konflik, tapi saya coba membuatnya dan saya rasa kurang dapet. Tapi tidak tahu menurutmu. XD Semoga kamu menikmati chapter ini ya. *smile* Kan kata L dalam Death Note, makanan manis itu tidak akan membuat berat badan kalau di pakai berpikir keras. ==" Atau memang udah turunannya Ciel yang tepos-tepos? XD

Kuroshitsuji © Yana Toboso

~Arrogant Master and Lunatic Servant~

Typo maybe happens.

Please enjoy the story…

Chapter 4:

.

.

.

"Good morning, Master."

Sebastian mengecup singkat bibir Ciel yang dari tadi masih belum bangun dari tidurnya karena tahu kecupan pasti akan membangunkannya.

"Gyaaa! Apa yang kau lakukan!" Jerit Ciel sambil mendorong Sebastian menjauh hingga terjatuh. Orang yang ia dorong hanya cekikikan melihat kelakuan Ciel karena kecupannya.

Sebastian bangun dari tempatnya terjatuh sambil sesekali membersihkan baju-bajunya yang sama sekali tidak kotor.

"Yah ampun, Ciel. Aku sudah menciummu berpuluh kali tapi kau belum pernah terbiasa ya. Hohohoho…tapi itu menyenangkan."

"Please, jangan mencium sembarangan!"

"Kau tahu, Ciel? Ciuman bisa membuatmu sehat. Selain memperpanjang umur, ciuman juga bisa membakar kalori tanpa harus olahraga. Jadi aku menciummu untuk tujuan yang baik." Sebastian tertawa. "Ciuman juga membuat kau mulai menyukaiku, kan?"

DEG!

Wajah Ciel memanas teringat bahwa ia akhirnya menikmati ciuman Sebastian yang menggairahkan kemarin malam. Kehangatan tubuh Sebastian membuatnya lupa jika ia tidak suka dengan kemesuman Sebastian yang tingkat dewa itu. Sebastian yang tahu Ciel malu semakin cekikikan.

"D-diam!"

"Kau malu mengakuinya ya?"

"Diam kubilang!"

Sebastian menghela nafas panjang supaya berhenti meledek karena itu sangat membuang waktu mengingat rencananya hari ini. Ia menarik selimut Ciel dan melipatnya dengan rapih lalu menumpuk bantalnya.

"Sana mandi. Hari ini hari Minggu, ayo kita kencan lagi! Season 2!"

ϮϮϮ

Sejak pagi mereka berdua sudah pergi dari asrama untuk memenuhi keinginan Sebastian tentang berkencan. Karena jika ditolak, Sebastian akan terus mengoceh tak henti dan itu membuat Ciel semakin stress tingkat akut.

Dengan sweater hitam bertudung serta celana panjang dan bersepatu kets dengan warna senada membuat Sebastian tampak begitu keren. Tidak lupa sebuah earphone merah –semerah warna matanya—menggantung di lehernya membuat Ciel yang melihat hanya ternganga melihat betapa tampannya makhluk ini jika ia tidak mesum. Sepertinya Sebastian sangat niat berkencan dengannya. Pastinya Sebastian selalu niat.

Ciel menatap dirinya sendiri didepan cermin besar melihat karya Sebastian yang mau tidak mau ia pakai juga. Kaus deep blue seperti warna matanya dibalut dengan rompi cokelat yang belakangnya diikat pita. Celana pendek diatas lulutnya mempunyai warna senada dengan rompi, ia juga memakai sneakers biru laut untuk menyamakan warna kausnya. Sangat manis bocah ini.

Mereka pun pergi menggunakan mobil Sebastian seperti sebelumnya.

"Hei ini kan...Shakespeare's Globe Theatre!" Jerit Ciel kagum. Sebastian tentu saja tersenyum bangga akan kelakuannya ini.

"Well, aku tahu kau tak suka sastra. Tapi…kau tidak sepenuhnya benci kan? Aku tahu kau selalu membaca karya Shakespeare di perpustakaan. Jadi ku pikir kau akan suka aku ajak kesini."

Sebastian tersenyum melihat Ciel begitu terkesima dengan bangunan tua yang sudah direnovasi berkali-kali. Bangunan tua ini sebenarnya rekonstruksi dari Globe Theatre, sebuah rumah teater bergaya Elizabethan. Disini karya-karya drama indah Shakespeare yang jenius itu di pentaskan. Andai saja Ciel hidup di zaman Elizabethan, ia pasti dengan senang hati kemari melihat pertunjukan Shakespeare.

"Ya aku suka sekali!" Ciel tersenyum senang. "Kau tahu? Aku ingin sekali kesini ketika di desa. Tapi ketika aku menginjakan kaki di asrama, aku lupa sangat ingin kesini. Aku tidak suka mengatakannya tapi…terima kasih!"

Laki-laki bermata ruby itu tersenyum senang ternyata pemikirannya benar tentang Ciel. Ciel tipe yang tidak suka dibelikan macam-macam, dia hanya suka diberikan apa yang dia suka kemudian kau akan melihat senyuman indahnya terpancar jika kau mengerti hal itu.

Ciel yang senang berjalan-jalan menatap keindahan bangunan antik itu sedangkan Sebastian sibuk dengan telepon genggamnya. Yah kalian pasti tahu apa yang ia tulis. Catatan pemeliharan Ciel tentunya.

"Hei Ciel, kau sudah puas?"

"Belum! Ayo ke lantai atas, Sebastian!"

Ciel menarik tangan Sebastian menaiki tingkat dua tempat teater itu, mungkin menurut Sebastian lantai dua sama saja dengan lantai dasar. Toh hanya cuma sudut pandang penonton saja kan? Apa yang membuat Ciel begitu senang? Tapi yang pasti, semua pertanyaan di otaknya hanya ia simpan karena jawabannya adalah senyuman Ciel dan ia juga tidak mau melewatkan sensasi bahagia ketika tangannya yang ditarik Ciel.

"Hei Sebastian, kau tahu? Disini adalah tempat yang pas untuk menonton pertunjukan, karena dari sini, semua pemain terlihat jelas tanpa yang menghalangi."

Sebastian sedikit terkejut, seakan Ciel tahu apa yang ia pikirkan sekarang. Itu membuat Sebastian hanya tersenyum geli mendengar jawaban Ciel yang masih sibuk terpesona oleh gedung itu.

"Lalu lantai 3 bukannya sama?"

"Tidak, lantai 2 bagian tenggara dan barat daya itu tempat yang paling pas buat duduk menonton. Tidak terlalu jauh, tidak terlalu dekat, pas."

Sebastian mengangguk mengereti. Ternyata Ciel sangat suka sesuatu yang pas. Satu lagi kesukaan Ciel Sebastian tulis dalam telepon genggamnya yang touchscreen berbeda dari kemarin. Kapan ia membelinya? Pikir Ciel. Tapi ia tak mau berkomentar soal itu, toh itu bukan urusannya mengetahui Sebastian adalah seorang tuan muda yang bisa mengganti telepon genggamnya sesukanya.

"Mau ku foto di tempat ini?"

"Ya."

Ciel bersandar di sebuah tiang yang menjulang sambil tersenyum. Sebastian pun mengambil gambar Ciel dengan background teater yang terlihat indah dari sudut yang ia potret menggunakan telepon genggamnya. Tentunya, pemandangan itu terlihat lebih indah karena ada sesosok malaikat manis yang tengah tersenyum bagi Sebastian.

Tapi senyuman Sebastian memudar ketika telepon genggamnya berbunyi, ia menerima sebuah SMS, raut wajahnya mengatakan bahwa ia membencinya dan Ciel hanya terdiam tak berani bertanya. Sebastian mengacuhkan SMS itu dan kembali menaruh benda canggih itu kedalam sakunya dan kembali tersenyum cerah pada Ciel.

.

.

Setelah itu, mereka pergi ke taman ria. Ciel agak takjub dengan tempat itu sih karena ada bianglala raksasa, jet coaster, rumah hantu, dan banyak lagi macamnya. Entah sebenarnya Sebastian membawa Ciel ke taman ria adalah murni ingin mengajak berkencan atau justru ia hanya meminta Ciel menemani. Karena justru Sebastian yang sangat antusias bermain di taman ria.

"Ciel! Ayo kesini!"

Sebastian menarik tangan Ciel menuju sebuah bangunan mengerikan, karena Ciel tidak tahu mau kemana hanya mengikuti Sebastian. Setelah memberikan tiket pada petugas, mereka berdua pun memasuki bangunan itu. Sebastian tampak datar melihat isi bangunan tua itu. Gelap, antik, ada makam, dan suara-suara aneh terdengar.

Ciel memegang ujung baju Sebastian supaya ia tak terus berjalan.

"Se-sebastian…ini…rumah hantu?" Tanya Ciel gemetar.

"Iya. Ku pikir seseram apa rumah hantu. Ternyata cuma begini."

Sebastian tetap memasang wajah datarnya meskipun ada sesosok hantu di depan wajahnya untuk menakuti. Justru Ciel yang terpental karena kaget bukan main, wajahnya tampak terlihat sangat takut.

"Kau kenapa? Terkejut sama hantu-hantuan ini?" Tanya Sebastian sambil menunjuk hantu-hantuan yang ia sebut tadi.

"Aku benci hantu! Ayo cepat keluar dari sini!"

"Eh?"

Melihat reaksi Ciel, seringai muncul di wajah Sebastian. Otaknya berpikir suatu rencana karena apa jadinya jika tidak bisa mengambil kesempatan dalam kesempitan? Sambil tersenyum mesum, Sebastian mengulurkan tangannya untuk membantu Ciel berdiri lalu memeluknya. Ciel merasakan hembusan nafas di telinganya, membuat wajahnya merona dan berdebar.

"Kalau ingin keluar, cium aku dulu."

"WHAT?!" Jerit Ciel kaget.

"Kalau tidak mau ya sudah. Bye~"

Sebastian melepas pelukkannya dan berjalan seorang diri sambil beberapa kali menghina dengan suara pelan tentang hantu-hantuan yang sama sekali tidak membuatnya takut. Apanya yang rumah hantu kalau cuma begini saja? Pikir Sebastian. Ciel yang sedari tadi di goda hantu berlari menuju Sebastian dan menarik bajunya. Matanya terpejam ketakutan. Sebastian hanya menahan tawa.

"Jadi kau terima tawaranku?"

Ciel mendekat ke wajah Sebastian dan mencium pipi Sebastian. Tentu saja Sebastian tidak puas dengan ciuman itu. Ia jadi cemberut sambil menggerutu, bagaimana mungkin Sebastian yang selalu menciumnya di bibir akan puas jika dicium di pipi?

"Tidak suka. Ayo cium yang benar. Kalau tidak aku tinggal."

Mau tidak mau Ciel mencium bibir Sebastian berat hati sesingkat mungkin. Ia membuang wajahnya agar Sebastian tidak tahu bahwa dirinya merona meskipun sesungguhnya Sebastian tahu. Sesuai janji, Sebastian membawa Ciel selamat keluar dari rumah hantu.

Belum sempat Ciel mengambil nafas ketakutan, Sebastian kembali menarik tangannya menuju jet coaster. Wajah Ciel terlihat pucat melihat kemana ia akan di bawa dan mendengar jeritan-jeritan dari jet coaster yang akan mulai berhenti. Tapi usahanya tak cukup untuk menghentikan keantusiasan Sebastian yang sudah menariknya menuju bangku jet coaster yang segera meluncur kembali.

Alhasil Ciel muntah-muntah setelah mereka turun dari jet coaster. Sebastian yang tak enak hati menyuruh Ciel duduk dulu di bangku taman dan meminta izin pergi membeli minuman untuk Ciel. Ciel hanya mengangguk tak sanggup berkata apa-apa.

Remaja kelabu itu menyenderkan tubuhnya pada kursi taman sambil memejamkan mata. Mencoba menata kembali harga dirinya yang sempat jatuh ketika muntah tadi. Ketika ia sedang santai menunggu Sebastian kembali, seorang gadis berambut perak dengan mata emerald-nya duduk di sampingnya. Ciel mencoba tidak peduli tapi gadis itu mengajaknya bicara.

"Bolehkan duduk disini?" Tanya gadis itu dengan senyuman yang membuat siapapun terpesona. Hanya saja Ciel tidak terpesona sedikit pun.

"Tentu saja. Tidak ada tulisan 'dilarang duduk disini' kan?" Ucap Ciel biasa disambut oleh tawa dari gadis cantik disebelahnya.

"Kau lucu sekali." Tawa gadis itu. Padahal Ciel sama sekali tidak melawak. "Siapa namamu?"

"Ciel Phantomhive."

"Aku Victoria. Dan boleh aku memanggilmu Ciel?"

Ciel mengangguk tak peduli. Toh ia berpikir bahwa gadis itu hanya angin lalu. Nanti juga tidak akan bertemu lagi.

"Kau kesini dengan siapa?" Tanya gadis itu lagi tapi Ciel tak menjawab. "Kau sedang kencan ya." Wajah Ciel merona namun tetap tak menjawab. "Ah…aku ingin sekali kencan dengan tunanganku. Tapi dia sama sekali tidak menghiraukanku. Jadinya aku pergi bersama temanku deh. Tapi temanku lagi berduaan dengan pacarnya, akhirnya aku kesini tak ingin mengganggu mereka."

Oke, gadis itu memulai sesi curhat dengan Ciel meskipun Ciel telah berusaha mengacuhkan gadis itu sambil berharap Sebastian cepat datang. Ia bosan mendengar celotehan gadis yang sebenarnya cantik jika diam.

Ciel terdiam. Ia bingung dengan pikirannya yang mengabaikan gadis cantik disebelahnya. Biasanya dulu di desa ketika melihat gadis cantik, Ciel merona. Sekarang? Apa dia sudah tidak menyukai wanita? Ciel menghela nafas panjang. Ini pasti gara-gara Sebastian mesum itu!

Dari jauh ia melihat Sebastian berlari kearahnya dengan wajah tersenyum lebar sambil membawa 2 minuman dan 2 crepes. Wohh…seketika jantung Ciel berdebar kencang.

"Ciel, lihat aku bawa apa? Crepes! Kau suka kan? Aku lupa kalau kita belum makan dari pagi."

"Kau lama sekali, Sebastian!" Ucap Ciel sambil merebut crepes dan minuman yang memang dibelikan untuknya.

Sebastian tertawa lebar sambil mengusap-usap kepala Ciel. Lalu ia tersadar oleh gadis disebelah Ciel yang menatap dirinya. Matanya membelalak kaget ketika mengetahui bahwa gadis itu orang yang ia kenal, begitupun gadis itu.

"Darling?!"

"Victoria?"

Ucap mereka bersamaan. Ciel hanya diam melihat keduanya beradu pandang. Darling, katanya? Apa mungkin tunangan yang ia maksud itu Sebastian?

"Darling, kenapa kau disini? Kau bilang kau selalu sibuk. Tadi pagi ku SMS tidak balas." Tanya gadis itu memeluk Sebastian.

Wajah Sebastian berubah menjadi datar. Tatapan mesum dan keceriaannya yang biasa ditunjukan Ciel hilang entah kemana membuat Ciel bingung. Sebastian yang kehilangan mood melepaskan pelukan Victoria membuat gadis itu menatapnya sedih.

"Ciel, ini tunanganku yang kuceritakan tadi. Eh? Kalian sudah kenal kan ya? Hehehe.." Ucap gadis itu canggung pada Ciel.

Ciel memaksakan senyuman yang sebenarnya ia tidak ikhlas pada Victoria. Ia merasa di permainkan oleh Sebastian. Orang yang katanya cinta, yang selalu menciumnya, ternyata mempunyai tunangan? Eh? Ciel memikirkan mengapa ia begitu tidak ikhlas tersenyum untuk kedua orang itu. Dan oh! Setelah ia mulai berpikir keras—meskipun ia ingin sekali menyangkal—tapi ia tahu perasaan apa itu. Oke, Ciel cemburu. Cemburu seperti ini merupakan suatu gejala cinta bukan?

Betapa ia menjadi perusak hubungan orang karena ia mulai menyadari ke tidak ikhlasannya tersenyum pada Victoria dan Sebastian dikarenakan ia mulai menyukai Sebastian, orang yang selalu mesum dan membuatnya tidak bisa tenang. Telat memang mengingat Ciel selalu berdebar di dekat Sebastian.

Sebastian menatap Ciel sejenak yang tidak memandangnya sama sekali dan diam tak bergeming sambil memakan crepesnya. Sedikit raut wajah Sebastian menunjukan kekecewaan karena Ciel diam tak mengatakan apa-apa. Remaja bermata ruby bertanya-tanya apa yang sedang Ciel pikirkan sekarang dibalik wajah datarnya.

"Aku tak pernah menganggap ataupun menginginkanmu menjadi tunanganku. Itu paksaan ayah, bukan keinginanku." Ucap Sebastian ketus.

Kedua orang—Ciel dan Victoria—yang mendengarkan terkejut. Ciel yang sedng makan crepes tiba-tiba terbatuk lalu dengan cepat membuka minuman yang tadi diberi Sebastian. Sedangkan Sebastian hanya menaikan satu alisnya.

Ciel sangat bimbang dengan apa yang ia rasakan. Ia tahu bahwa Victoria mencintai Sebastian yang sebagaimana terlukis dimatanya dan berpikir tidak boleh egois dengan perasaan yang baru menyukai Sebastian karena rasa suka mereka sangat berbeda kadarnya. Memang sedikit sesak, tapi…ia baru menyukainya kan? Perasan itu bisa saja hilang karena berlum terfondasi. Rasanya ia ingin mengatakan 'jangan begitu pada wanita, Sebastian' tapi bibirnya terkunci rapat meskipun ia melihat gadis berparas cantik itu mulai menangis. Hati kecilnya ingin Sebastian memihaknya tapi buru-buru menepis perasaannya.

"Cepat enyah dari hadapanku. Kau merusak moodku."

"Kamu…bisa tertawa bersama Ciel. Tapi denganku…kau sama sekali tidak pernah seperti itu. Dia hanya temanmu dan aku adalah tunanganmu."

DEG!

Jantung Ciel berdebar, ia merasakan sakit seperti tertusuk ribuan pisau. Kata-kata itu sungguh menohok hatinya. Teman…ya ia hanya sebatas teman dengan Sebastian meskipun berulang kali Sebastian mengatakan cinta padanya. Ciel yang membuat dinding pertemanan itu, membuatnya tak punya hak atas Sebastian sedikitpun. Ia tersenyum kecut karena ia sempat ingin Sebastian memihaknya.

"Apa kau tuli? Aku sudah bilang kalau aku tidak menginginkanmu menjadi tunanganku." Sebastian menatap dalam Victoria dengan amarah di dalamnya. "Jadi berhenti merengek pada ayahku dan aku untuk terus menjadi tunanganku!"

"Tapi ayahmu setuju!"

"Aku akan meminta lagi ayah untuk membatalkannya."

Mereka semua terdiam. Sebastian masih menatap Victoria dengan kesal. Belum sempat Sebastian melanjutkan marahnya pada Victoria, tangan Ciel menarik ujung baju Sebastian. Sebastian pun menoleh pada Ciel yang semakin meremas ujung bajunya. Sebastian dibuat bingung karena tak biasanya Ciel seperti ini. Tapi yang jelas, ia melihat jelas Ciel meringis seperti menahan kesakitan. Tapi tiba-tiba ia mengadah menatap Sebastian yang berdiri disampingnya kemudian tersenyum.

"Aku pulang ya." Jelas Ciel. Remaja kelabu itu melepaskan tangannya dari ujung baju Sebastian lalu membersihkan remah-remah crepes dari pinggir bibirnya kemudian membuang kertas crepes dan minuman yang sudah habis ke tong sampah.

"Ci-Ciel!"

Ciel bangkit dari kursinya dan mulai berjalan kearah Victoria. Ia merogoh saku celananya untuk mengeluarkan saputangan lalu ia berikan pada gadis perak itu sambil tersenyum.

"Jangan menangis. Gadis cantik tidak pantas menangis. Apa lagi menangis untuk orang sinting ini." Ucap Ciel sambil memberikan saputangan itu pada Victoria. Victoria menerimanya dengan sedikit terkejut karena Ciel benar-benar gentle tak seperti Sebastian.

"Hei!" Teriak Sebastian tidak terima.

Tak hanya Victoria, sebenarnya Sebastian pun kaget dengan perlakuan Ciel. Selama ini Ciel sepertinya belum pernah tersenyum padanya. Tapi tunggu! Kenapa senyuman itu terlihat aneh? Mungkin memang tidak kentara, tapi Sebastian dapat merasakannya karena Sebastian tak pernah sedikitpun memanglingkan wajahnya dari Ciel ketika mereka berdua bersama.

"Sudah kau disini saja temani tunanganmu. Aku mau pulang."

"Hei kita kan sedang ken—aww!" Jerit Sebastian ketika Ciel memotong pembicaraannya dengan menendang tulang kering Sebastian untuk membungkam mulutnya.

"Aku permisi dulu…emmm…siapa namamu tadi?" Tanya Ciel manis.

"Victoria."

"Oke Victoria, aku permisi dulu."

Ciel melangkahkan kaki menjauh dari mereka berdua. Sebastian menatap Victoria dengan kesal lalu tanpa mengatakan apa-apa ia mengejar Ciel, menarik tangannya dan mereka terlihat bertengar. Seperti kekasih yang melihat pasangannya berselingkuh dengan orang lain. Ciel terus-terusan menepis tangan Sebastian dan terus berjalan meninggalkan Sebastian.

Gadis itu melihat kepergian tunangan dan teman barunya dalam diam sampai mereka menghilang ketika berbelok. Ia mencoba berpikir apa yang terjadi beberapa saat lalu. Memang Sebastian adalah orang yang perhatian dengan teman-temannya. Tapi yang ini berbeda, tatapan matanya ketika melihat Ciel seperti ada…cinta.

ϮϮϮ

"Kau tahu bahwa aku selalu mencintaimu jadi kau tak perlu marah dan mendiamiku seperti ini, Ciel." Ucap Sebastian serius.

Sebastian duduk tak tenang di pinggir ranjangny sambil menatap Ciel yang sedang mondar-mandir—membereskan buku pelajaran. Sejak pulang tadi Ciel tak berbicara sepatah kata pun pada Sebastian, remaja ruby itu tersiksa sekali melihat Ciel selalu diam. Setidaknya beri tahu mengapa ia diam terus.

"Apa kau cemburu?"

Buku yang Ciel pegang terjatuh diikuti Ciel yang tiba-tiba tidak bergerak. Namun dengan salah tingkah ia buru-buru memungut buku itu, memasukan ke tas, lalu berbaring di kasurnya menghadap tembok. Ciel sama sekali tidak ingin berbicara dengan Sebastian sekarang.

"Apa itu tandanya kau menyukaiku?"

Ciel tetap terdiam. Bahkan sekarang ia menarik selimutnya dan menutupi dirinya sampai ke kepala. Sebastian menghela nafas panjang, ia tahu bahwa Ciel marah. Tapi ia juga sedikit tersenyum mengetahui sikap Ciel sekarang, Ciel cemburu. Terbukti tadi ia sempat salah tingkah dan menjatuhkan buku ketika ditanya. Anak itu sama sekali tidak bisa berbohong pada Sebastian.

"Akan kujelaskan. Victoria memang ditunangkan denganku, tapi aku sudah berkali-kali menolak."

Sebastian menjeda kata-katanya untuk melihat reaksi Ciel. Tapi nyatanya bocah kecil itu masih tidak peduli padanya.

"Tapi, mereka akan membatalkannya jika aku mempunyai pacar. Maka dari itu, ketika melihatmu pertama di podium, aku bersyukur bisa jatuh cinta padamu. Yahh…meskipun aku juga tidak tahu apa reaksi ayahku jika tau aku menyukai laki-laki juga." Jelas Sebastian santai.

"Kau itu benar-benar bodoh, ya?"

"Hah?"

Sebastian tak mendengar lagi Ciel berbicara. Sebastian memajukan bibirnya kesal, ia kesal Ciel mengacuhkannya lagi. Ditariknya selimut Ciel dan ia ingin segera mengeluarkan kekesalannya, tapi malang nasibnya ketika selimut dibuka Ciel sudah tertidur lelap.

"Gah! Bocah ini."

Remaja berambut hitam itu tersenyum tipis, membetulkan selimut si mungil yang dicintainya kemudian mematikan lampu. Sekarang ruangan itu hanya bercahaya kehijauan redup di langit-langit. Sebastian mendekati ranjangnya dan ia membaringkan tubuhnya kemudian menyelimuti diri sendiri. Ia lelah, bukan karena kencan dengan Ciel, hanya saja lelah karena ia tak berhasil meyakinkan Ciel. Lagian siapa yang akan percaya jika ada seseorang yang sudah mempunyai tunangan malah mencintai orang lain?

.

.

.

Haaaahhh….chapter ini saya rasa gak memuaskan sama sekali. Bagaimana menurut kalian? Tapi saya memcoba yang terbaik disini. Tapi ya sudahlah~

Review please. m(_ _)m