Yo~ Apa ada yang merindukan saya? Hahaha…pasti gak ada. *miris*

Terima kasih untuk kalian semua, readers. Karena Anda membaca atau me-review membuat saya ingin melajutkan ceritanya. Karena pasti nggak enak kan menanti cerita yang discontinue atau ongoing. =="

Alif ryeosomnia: Hehehe…iya dia suka nyosor kayak soang. XD Dan mereka memang harus selalu sweet. XD semoga kamu selalu melting membacanya. XD

Okay~ Ini Ciel POV lagi ya. =="

Kuroshitsuji © Yana Toboso

~Arrogant Master and Lunatic Servant~

Typo maybe happens.

Please enjoy the story…

Chapter 5:

.

.

.

"Emmhh…."

Aku mengerang mencari posisi lebih nyaman dan sepertinya hari sudah pagi karena aku mendengar suara burung berkicauan tapi tetap saja mataku tak mau membuka. Yang lebih aneh lagi, ini pertama kalinya ranjangku begitu hangat dan…eh? Suara jantung berdetak? Ranjang itu benda mati kan? Kenapa berdetak?

Aku mencoba membuka mataku yang masih sangat berat ini dan aku sangat terkejut! Ku lihat seorang laki-laki bertelanjang dada sedang memelukku, jadi ini kah kehangatan nyaman yang kurasakan itu? Dengan jantung berdebar, aku mendongakkan kepalaku mencoba melihat siapa laki-laki itu dan aku terkejut kembali karena laki-laki kurang ajar yang tidur diranjangku dan memelukku itu adalah pangeran mesum yang selalu membuat hari-hariku sial!

"Ah…Selamat pagi, dear. Semalam menyenangkan ya?" Kata Sebastian sambil mengecup kelopak mata kiriku lalu bibirku dengan cepat.

HAHHHH?

Dan kemudian ritual bangun pagiku di kejutkan oleh pernyataan si mesum sialan yang selalu menghancurkan hidupku.

.

.

"Jadi apa maksudmu dengan semalam yang menyenangkan?" Tanyaku kesal sambil menyuapkan sarapan pagi ke mulutku. Dengan suara pelan tentunya.

Sebastian masih membungkam mulutnya dengan senyuman sambil mengambilkan beberapa makanan penutup dan teh di ruang makan yang memuat banyak sekali siswa-siswa yang melakukan hal sama dipagi hari, yaitu sarapan.

"Kau yakin ingin aku mengatakannya?" Tanya Sebastian. Aku hanya mengangguk.

.

Sudah seminggu Ciel melancarkan serangan mendiami Sebastian karena kejadian di taman ria waktu itu. Tentu saja Sebastian tidak tinggal diam, ia juga melancarkan serangan membuka aib Ciel yang ia dapatkan langsung pada Ciel, mengoceh panjang lebar tanpa henti, morning kiss, dan kesempatan dalam kesempitan lainnya tapi Ciel tetap bungkam meskipun ia menahan kesal yang mendalam karena tidak bisa meluapkan emosinya.

Malam itu, Ciel sudah tertidur pulas karena takut di kerjai lagi oleh Sebastian. Sedangkan Sebastian tidur diranjangnya sendiri sambil menatap wajah Ciel yang lembut dan manis saat tertidur.

"Sebastian…nyem...nyem…nyem..."

Ciel menggeliat lalu membalikkan badannya ke tembok, sekarang Sebastian hanya bisa menatap punggung bocah manis itu dan agak terkejut ketika namanya di panggil dalam igauannya. Tapi ekspresi terkejutnya berubah menjadi senyuman lembut dari sang pencinta.

Laki-laki berambut hitam itu bangun dari ranjangnya lalu berdiri disebelah ranjang remaja kelabu sambil menatapnya dalam. Ciel menggeliat lagi lalu berbalik lagi ke arah Sebastian, membuat Sebastian bisa melihat jelas lagi wajah malaikatnya, orang yang memanah hatinya hanya dalam pandangan pertama.

"Kau sangat manis, Ciel."

Sebastian membungkuk mendekati wajah Ciel, ia heran mengapa Ciel tidur seperti orang mati. Dia tidak akan bangun apapun situasinya kecuali satu, yaitu ciuman Sebastian. Seperti dalam cerita dongeng jika seorang pangeran mencium bibir puteri, dia akan bangun—seperti Aurora atau Snow White—itu berlaku juga buat Ciel mungkin? Hanya saja Sebastian bukan pangeran, melainkan pelayan baginya. Oleh karena itu, Sebastian hanya mengusap lembut rambut Ciel.

Ketika Sebastian ingin kembali keranjangnya, seperti ada sesuatu yang menahannya. Ciel menggenggam kain celana Sebastian seakan tidak memperbolehkannya pergi, karena itu Sebastian memutuskan untuk ikut berbaring di ranjang Ciel.

Ciel benar-benar tidak bisa diam, dari tadi ia berguling ke kanan atau pun ke kiri. Mungkin ia merasa ranjangnya menjadi sempit karena adanya Sebastian, ia menaiki badan Sebastian.

"He-hei!" Pekik Sebastian.

Tapi karena Ciel masih saja tidur dengan polosnya, Sebastian hanya bisa pasrah saja dan memeluk Ciel. Belum sempat Sebastian memejamkan mata, Ciel bergerak lagi ke arah tembok.

"Dasar bocah, tidurnya lasak banget." Sebastian menggeleng-geleng. "Kalau jatuh bagaimana?"

Remaja bersurai hitam itu pun memiringkan tubuhnya guna menutupi pinggir ranjang agar Ciel yang lasak tidak terjatuh. Tapi tetap saja, dari tadi Ciel grasak-grusuk tak tenang dalam tidurnya hingga membuat Sebastian jatuh beberapa kali dari ranjang. Meskipun begitu, Sebastian tak menyerah juga. Ia kembali berbaring di ranjang Ciel, lalu ketika Ciel kembali grasak-grusuk, Sebastian menangkapnya dan memeluknya erat. Dan saat itu juga Ciel tidak bergerak lagi, malah justru Ciel mencari kehangatan lebih lagi dalam pelukan Sebastian.

.

"IMPOSSIBLE!" Jeritku kencang. Seketika semua mata tertuju padaku, benar-benar membuatku malu. Ku tutup mulutku sambil memandang sinis ke arah Sebastian sialan itu tapi dia malah tersenyum terus tanpa dosa sambil menumpuk piring makanku yang telah selesai.

"Kan sudah ku bilang, apa kau yakin? Dan kau terus mendesakku untuk memberitahu."

"Ta-tapi itu tidak mungkin…."

"Apa yang menurut yang lain tidak mungkin, itu sangat mungkin bagiku."

Cih! Orang itu benar-benar terlalu percaya diri. Tapi….entah mengapa aku…menyukainya.

"Sudah ah aku mau ke kelas."

Aku berjalan meninggalkan Sebastian yang aku rasa memandangiku yang semakin lama menjauh. Tatapan orang yang tak menyukaiku semakin banyak dan semakin terasa menusuk sampai ke tulang-tulangku, membuatku merinding saja. Mungkin mereka berpikir aku adalah anak miskin yang sombong luar biasa yah namun aku terus mencoba tuk tidak peduli dan berharap supaya aku pun bisa bersikap tidak peduli pada si hitam itu.

xxx

Sepanjang hari ini aku terdiam. Meskipun kejadian itu membuatku berdebar tetap saja aku…tahu bahwa ia bukan milikku. Sudah seminggu lebih aku berusaha mengabaikannya mencoba untuk melupakannya tapi yang ada aku malah semakin dan semakin menyukainya. Ini menyebalkan! Sadar Ciel kalau Sebastian itu sudah punya tunangan. Tunangan yang cantik bersurai perak, warna mata yang seperti batu emerald, dan terlebih lagi dia adalah seorang wanita.

"….hive…"

"….hive…"

Samar-samar ku mendengar suara yang seakan memanggilku, tapi aku masih tak ingin memanglingkan pandanganku dari jendela—yang entah apa yang ku pandang—sambil terus berpikir. Namun sebuah tangan besar membuatku kembali pada kenyataan tentu saja aku mendongak mencari pemilik tangan besar itu. Dia adalah seorang pria atau wanita emm….oke sebut saja dia waria yang berambut merah panjang senada dengan blazernya. Namanya adalah Mr. Grell Sutcliff—guru sejarah sekolah kami. Oh tidak, wajahnya begitu menakutkan.

"Bocah Phantomhive, apa pemandangan luar lebih menyenangkan?" Tanyanya padaku. Tentu saja aku terdiam karena aku tak mau membuatnya mengoceh berjam-jam karena ini. Kemudian ia melirik ke arah pemandangan luar jendela dan tiba-tiba saja wajahnya menjadi sumringah. Buru-buru ia membuka jendela lalu berteriak "Oooohhh my Sebby! Awas kulitmu jadi hitam jika berolahraga di siang bolong seperti ini! I love you, Sebas-chan! Kyaaa...kyaaa…kyaaa…" Karena orang ini heboh, tentu saja teman sekelas kami—termasuk aku—melihat pemandangan apa yang sedang diributkan oleh wari—eh guru kami ini. Ternyata sekumpulan kakak kelas yang sedang berolahraga.

Oh ya tadi Mr. Sutcliff memanggil Sebby? Kucari kemana arah mata Mr. Sutcliff dan…Geh! Ada Sebastian, apa dia Sebby? Hahaha…dia di goda oleh waria ini? Lihat wajahnya terlihat tak suka namun tetap memaksa untuk tersenyum. Aku tertawa pelan sambil menutup mulutku.

Ketika aku melirik lagi Sebastian sedang memandangiku, membuatku berhenti tertawa. Dia terus menatapku dengan senyum lembut lalu menggerakan tangannya. Eh gerakan tangan apa itu? Ia menunjuk dirinya sendiri, apa itu bisa kuartikan sebagai 'aku'? Kemudian tangannya membentuk hati. Oh tidak-tidak! Aku tau apa lanjutannya! Tuh kan benar! Ia menunjukkan jarinya ke arahku dan mengedipkan sebelah matanya! Aku segera memanglingkan wajahku karena aku tahu wajahku memerah sekarang.

"I love you too, Sebby darling!" Jerit Mr. Sutcliff. Tentu saja Sebastian memasang wajah sweatdrop ketika yang menjawab adalah Mr. Sutcliff. Aku bersyukur orang-orang ini tak tahu jika si mesum itu mengatakan itu padaku. Bukan karena aku terlalu percaya diri atau bagaimana jika pernyataan itu untukku. Entah bagaimana aku merasa itu memang buatku mengingat matanya yang tak lepas padaku. Kulihat Alois dan Soma cekikikan melihat tingkah guru kami yang…apa ya? Mungkin menjijikan?

"Mr. Sutcliff, apa bisa kita lanjutkan pelajarannya?" Tanyaku agar aku tak harus melihat si mesum itu lebih lama lagi karena orang itu terus melambai padaku sambil sesekali memberikan kissbye. Itu menjijikan!

"Tch." Mr. Sutcliff berdecih tak suka karena aku mengingatkannya, lalu ia menatapku dengan tajam. "Kau bocah Phantomhive, ketika pelajaranku berlangsung kau melamun. Sekarang kau menggangguku melihat Sebbyku. Sebagai hukuman, ayo sebutkan keenam istri dari Raja Henry VIII secara lengkap nasib mereka!"

Hah? Serius?

"Cepat."

"Umm…saya hanya tahu 3 istrinya yang paling terkenal saja, Sir eh Madam eh..." Jawabku ragu pada jawaban dan panggilanku pada Mr. Sutcliff. Well…Itu bukan urusanku kan tahu semua istri Raja Henry VIII? Aku kan bukan si Henry itu. Lalu…em…aku bingung harus menyebutnya guru ini dengan apa mengingat orientasi seksualnya tak jelas.

"Oh Phantomhive! Setengah tahun aku mengajarmu dan kau masih tidak tahu harus memanggilku apa? Bocah menyebalkan." Katanya sambil bertolak pinggang. "Panggil Madam. Oke?"

Heek! Waria ini~ Benar-benar membuatku naik darah. Aku tahu dia lebih tua dariku, tapi itu bukan berarti dia bisa memanggilku bocah. Aku sudah puber tahu! Aku sudah remaja, bukan bocah!

Aku mengendus kesal, apa lagi Alois semakin cekikikan membuat ku semakin kesal saja hari ini.

"Ya sudah, ayo sebutkan!"

"Istri pertamanya adalah Catherine of Aragon. Dia diceraikan karena tidak mampu memberikan anak laki-laki untuk mewariskan tahta. Yang kedua Anne Boleyn. Dia mati dihukum pancung karena tidak setia. Yang ketiga Jane Seymour, dia mampu memberikan anak laki-laki tapi meninggal ketika melahirkan."

Mr. Sutcliff mengangguk membenarkan jawabanku lalu ia menyambungkannya dengan pembahasan materinya yang memang sedang menjelaskan tentang sejarah keluarga kerajaan sekitar tahun 1509-an ketika Raja Henry VIII menggantikan ayahnya naik tahta. Aku mencoba serius mendengarkan materi ini karena aku lumayan suka sejarah ini dari pada yang sebelumnya ia jelaskan—makanya aku tadi sempat melamun karena bosan.

Tapi…otak dan keinginanku berbeda pendapat. Keinginanku ingin memahami materi yang diajarkan Mr. Sutcliff, tapi otakku mulai bercabang kemana-mana mengingat Sebastian tadi mengatakan itu di depan semua orang. Aku mulai berpikir apa dia gila ya? Atau memang sekolah ini hanya berbohong soal 'peraturan ketat'? Di sekolah ini ada gay—oke aku memang sepertinya termasuk karena mulai menyukai Sebastian—lalu ada waria, kemudian penyogokan yang dilakukan Sebastian untuk meminta agar aku sekamar dengannya. Itu jauh dari kata ketat kan?

"Psstt…hei Ciel." Bisik Alois.

"Apa?"

"Sainganmu berat melawan Mr. Sutcliff." Katanya sambil terkekeh pelan.

Hah? Satu lagi orang tak waras lainnya. Dia membuatku membenarkan pendapatku soal kebohongan dari peraturan ketat di sekolah ini. Sepertinya tak seharusnya aku ke London mengejar sekolah berasrama ini kalau tahu isinya seperti ini.

Aku hanya bisa cemberut mendengar Alois soal saingan karena aku benar-benar tidak minat memperebutkan Sebastian. Bisa-bisa dia besar kepala.

"Hei, nanti makan siang sama-sama ya."

.

.

Jam makan siang pun tiba, sesuai keinginan Alois tadi aku pun pergi bersamanya dan Soma ke kantin. Rasanya sudah lama sekali kami berkumpul seperti ini mengingat Sebastian selalu mengambil alih waktuku yang tentu saja Alois dan Soma selalu membiarkannya.

"Ciel, sudah lama ya gak begini? Aku rindu makan siang bersamamu." Ucap Alois sambil memelukku. Astaga pelukkannya begitu maut! Aku sesak!

"Le-lepaskan aku…" Untungnya Alois mendengarkanku. Ahhh…lega.

Beberapa saat kemudian, orang-orang di kantin terdengar begitu ribut. Kudengar banyak bisikan-bisikan yang mengatakan kalau orang hebat atau tampan dan sebagainya. Euhh…aku tahu siapa yang mereka ributkan itu. Pasti si mesum.

Aku mengarahkan pandanganku ke arah orang itu dan benar itu adalah dia. Tapi ini tidak biasa…selama setengah tahun, aku baru melihat dia berkumpul bersama teman-temannya—yang juga anggota OSIS. Yang berambut shaggy perak disebelahn kirinya itu Charles Grey—putra pemilik sekolah ini—yang menjabat sebagai wakil ketua, orang India disebelahnya adalah Agni—kakak dari Soma—yang menjabat sebagai ketua kedisiplinan, yang kenakan-kanakan itu adalah Ronald Knox sebagai sekretaris, William T Spears sebagai bendahara—dan juga ketua klub drama, ummm….satu lagi itu…siapa?

"Ciel…disebelah kak Knox siapa? Rambut hitam yang indah…dan memakai kacamata. Oh! Dia tampan!" Ungkap Alois dengan sedikit berbisik.

"Aku tidak tahu." Yah…karena aku memang baru melihatnya.

Aku melirik kearah Sebastian yang ternyata sudah memandangku sambil membawa nampan makanannya. Oh tidak…dia kemari bersama teman-temannya…

"Hei Ciel! Kami boleh kan duduk disini?" Huuhhh Sebastian berbasa basi. Sudah tahu jawabanku tapi tetap bertanya. Tentu saja tidak kan?!

"Tentu saja boleh kakak!" Sambar Alois. Aku menatapnya tak percaya karena ia membiarkan si sialan ini duduk di meja kami. Kesal!

"Maaf ya Soma kami mengganggu. Soalnya kantin sudah penuh." Kali ini laki-laki India yang basa basi. Tentu saja Soma tidak bisa menolak.

"Tentu kak."

"Kau memang adik yang baik."

Hooohhh…keluarga yang menyenangkan ya sampai-sampai aku mau muntah melihat pemandangan ini.

"Kak Michaelis, ini siapa?" Geh…Alois benar-benar to the point ya…ia langsung menunjuk orangnya.

"Ahhh…maaf lupa mengenalkan." Jawab Sebastian tersenyum. "Ini adalah Claude Faustus. Dia murid baru di kelas 2 sekaligus sepupuku. Karena dia masih asing disini jadi dia bersama kami."

"Claude Faustus." Jawabnya dingin. Huh…orang ini kelihatan menyebalkan.

"Aku Alois! Alois Trancy!" Oh my…Alois langsung menyodorkan tangannya pada orang yang bernama Claude ini dengan semangat. Sepertinya dia menyukai orang ini.

Claude pun menjabat tangan Alois dengan tetap berekspresi dingin. Lihat, Alois menatap tangannya yang tadi untuk berjabat tangan dengan makhluk itu dengan senyum yang sangat sumringah. Lalu Soma juga berjabat tangan dengannya. Tapi tetap saja wajahnya itu tak berubah.

"Ciel, ayo kenalkan dirimu."

"Huh, siapa kau berani memerintahku?" Jawabku ketus. Kupikir Sebastian akan marah, tapi yang terlihat kesal justru Charles Grey. Errr…suasana yang tidak enak.

"Ayolah Ciel. Sini ulurkan tanganmu. Meskipun kau boleh melakukan itu padaku, setidaknya bersikaplah sopan dengan yang lain ya."

Tch…Aku tahu itu, bodoh! Tak perlu kau beri tahu pun aku sudah tahu. Dengan berat hati aku mengulurkan tangaku untuk berjabat tangan dengannya.

"Ciel Phantomhive."

"Senang berkenalan denganmu, Phantomhive."

Eh? Apa aku tak salah lihat? Tadi ia sedikit tersenyum padaku lho! Apa aku terlalu percaya diri? Tapi serius dia menatapku sekarang. Membuatku risih saja. Euuhhhh!

Aku tetap terus memakan makan siangku dengan tenang meskipun Claude menatapku, oh tidak bukan hanya Claude. Sebastian kini memperhatikanku dan Claude sambil menyipitkan mata tanda tak suka hemph…masa bodoh ah. Bukan urusanku juga.

xxx

Aku baru saja sampai ke asrama dan mendapati Sebastian sudah berada didalamnya dan sedang duduk dengan gelisah di pinggir kasur. Dan ketika aku masuk ia buru-buru mengunci pintu kamar dan menarikku duduk di sebelahnya dan kemudian berteriak, membuatku kaget saja.

"Pokoknya kau tidak boleh dekat-dekat dengannya!"

Siapa yang dimaksud 'nya' itu? Aku mengangkat satu alisku dan menunjukan ekspresi tidak mengerti karena memang aku tak mengerti.

"Claude Faustus. Jangan dekat-dekat dengannya. Aku tidak suka dia memandangmu seperti itu." Katanya sambil menggenggam tanganku yang buru-buru aku lepaskan. Aku tidak suka detak jantungku ketika aku diperlakukan seperti itu. Sakit rasanya.

"Dia sepupumu. Kenapa kau malah seperti membuatnya terlihat tidak baik?"

"Dia memang sepupuku. Tapi bukan berarti dia boleh menatapmu seperti itu. Dan, kamu belum tahu siapa dia. Grrr…Jangan dekat-dekat dengannya. Kau itu milikku!"

"Aku bukan milikmu dan…" Aku berat mengatakannya. "Aku tidak pernah melarang kau dekat dengan siapa pun termasuk tunanganmu itu. Jadi kau juga tidak berhak mengatur siapa saja yang boleh dekat denganku."

Aku beranjak dari dudukku lalu berjalan melewati Sebastian yang terdiam. Masa bodo dengan apa yang ia pikirkan sekarang lebih baik aku mandi, ya kan?

Aku membuka blazerku dan menggantungkannya di lemari bagianku, mengambil baju ganti dan mengambil handuk.

"Kenapa kau masih membawa-bawa soal tunanganku itu?"

Aku menengok ke arahnya dengan sinis. Dia itu ya…memberikan pertanyaan yang tidak bisa ku jawab!

"Kau cemburu?" Katanya lagi.

Hah? Aku tak mengerti yang ia maksud. Cemburu katanya? Hah! Bikin ingin tertawa saja. Tapi melihat wajahnya yang serius membuatku mengurungkan niatku untuk tertawa.

"Jangan konyol." Kataku sinis.

Aku melangkahkan kakiku menuju kamar mandi dan berusaha mengabaikannya tapi lagi-lagi langkahku terhenti karena ia mengatakan sesuatu.

"Kalau sampai aku melihatmu berdua dengannya—apapun alasannya—kamu tidak akan pernah aku izinkan keluar kemana pun kecuali ke kelas."

Aku merasakan kesungguhan di dalam kata-katanya hanya saja aku terlalu malas mendengarkannya toh aku memang tidak menyukai Claude dan ogah jika harus berdua dengannya. Dengan cepat aku membuka dan menutup kembali pintu kamar mandi lalu menguncinya. Satu-satunya yang bisa membuatku rileks sekarang adalah berendam air hangat, ahh…betapa nyamannya. Membuatku bisa berpikir dengan santai.

Disaat aku sedang rileks, kata-kata Sebastian soal cemburu terngiang di otakku. Sepertinya aku memang cemburu. Bagaimana ini…aku berniat untuk tak menyukainya tapi sepertinya aku tidak bisa berbalik arah lagi mengingat aku masih akan bersama dengannya 1 ½ tahun lagi.

Di desa, karena aku tak punya orang tua lagi, aku memutuskan untuk tidak terlalu membebani kak Lau dan kak Ran-mao berserta keluarganya dengan bersekolah di London dengan beasiswa penuh. Sebelum ke London, aku selalu menabung dan giat belajar agar aku bisa sampai sejauh ini dan aku tak pernah memikirkan tentang cinta sedikit pun. Ternyata setelah aku ke London, aku malah mengecewakan mereka, aku menyukai seseorang dan terlebih lagi dia adalah seorang laki-laki. Aku tidak bisa kembali lagi ke desa karena itu pasti akan mempermalukan keluarga mereka.

Memang, dengan beasiswa penuh ini aku tak membayar apapun kecuali aku pergi keluar dari sekolah dan sekolah ini bisa merekomendasikanku kuliah dimana pun dengan beasiswa juga. Tapi tetap saja…aku tak bisa pulang ke desa. Aku hanya menjadi aib dan beban untuk mereka karena aku menyukai laki-laki. Desaku masih belum bisa menerima keputusan Ratu Elizabeth II yang menyetujui tentang pernikahan sesama jenis, karena itu…dari pada aku di usir lebih baik aku tak pulang.

Miris memang ketika kau menjadi seorang gay karena seseorang dan ternyata orang itu memiliki seorang tunangan. Sudah patah hati, sudah begitu tidak bisa pulang kerumah. Hemph…mungkin nanti ketika masuk kuliah aku akan mencari pekerjaan untuk membiayai hidupku. Semua gara-gara orang itu…

.

.

Tak terasa ternyata aku ketiduran di bathtub saking nyamannya. Buru-buru aku mengeringkan tubuhku, memakai baju dan keluar kamar mandi untuk melajutkan tidurku tadi di ranjang.

Ketika aku keluar dari kamar mandi, aku mendapati Sebastian tengah tertidur di ranjangku. Dasar orang itu…bikin orang kesal saja. Ku dekati orang itu untuk membangunkannya.

"Hei, pindah sana aku mau tidur."

Berulang kali aku menggoyang-goyangkannya untuk bangun tapi ia tetap tertidur. Benar-benar menyebalkan!

"Ish nyebelin!"

Aku berniat untuk mengambil air dari kamar mandi dan mencipratkannya ke wajah mesum Sebastian itu tapi memang aku tak pernah beruntung bila bersamanya, ketika aku beranjak, dia menarik tanganku—membuatku kehilangan keseimbangan—dan terjatuh dalam pelukkannya. Argh!

"Hoi! Lepaskan!"

Sial, aku tahu meskipun aku mencoba beberapa kalipun aku tak akan pernah menang dari si sialan ini. Ia terlalu kuat memelukku hingga aku tak bisa bergerak sedikitpun. Apa lagi sekarang ia mengunci tubuhku seperti memeluk guling. Aku tak bisa bergerak!

"Kau tahu bahwa aku selalu mencintaimu jadi kau tak perlu cemburu, Ciel." Aku terdiam sambil terus memberontak ketika ia membisikan kata-kata itu di telingaku dengan lembut. "Kalau aku cemburu itu wajar, karena kau terlalu rapuh dan tak berdaya jika di pelakukan begini oleh orang lain meskipun aku tahu kau menyukaiku."

Sial! Dia berbicara seperti itu di telingaku! Apa dia sengaja membuatku merinding seperti ini? Kau tahu Sebastian? Kata-kata lembut dan nafasmu itu membuatku kacau. Seperti ada getaran yang menjalar dalam tubuhku, ada rasa geli dan jantungku terus berdebar.

"Janga konyol, Sebastian! Cepat lepaskan!"

"Kau tahu, Ciel? Claude itu tidak seperti kelihatannya. Dia itu pemangsa dan dia bukan orang lembut sepertiku, dia lebih pemaksa dan tak mau mengalah. Tadi ketika ia melihatmu, dia mengeluarkan aura untuk menerkammu. Aku takut…"

Dia bergetar….

"Aku takut kehilanganmu."

Kata-katanya penuh kesakian…

"Aku tak mau kau di ambil siapapun. Temasuk olehnya."

Dadaku menyesak. Ini terlalu sakit Sebastian mengingat kau berkata seperti ini sedangkan kau mempunyai tunangan. Tapi ini juga terasa begitu hangat karena kau menghawatirkanku.

Aku tak mengerti dengan perasaan ini dan lelah menahan perasaanku yang terus aku sembunyikan. Tapi apa boleh aku berharap untuk bisa terus seperti ini?

.

.

.

Hah~ akhirnya chapter 5 update setelah seminggu ini saya merasa galau tingkat akut. Bulan ini, adalah akhir semester 4. Jadi banyak sekali tugas dan belum lagi persiapan UAS di akhir bulan. Dan juga operasi di bulan juli membuat saya semakin galau.

Yah…tapi harus tetep senyum deh biar sembari nikmati hidup meskipun galau.

Haha…oh ya saja juga lagi suka anime Mahouka Koukou no Rettousei sama anime Soredemo Sekai wa Utshukushii. Hooo~~Ada yang suka juga? Anime ongoing itu menyebalkan ya?

Dan Kuroshitsuji 3 yey! Katanya mau tayang ya di bulan July? Tentang Noah Ark katanya. Semoga aja gak ada adegan Sebastian dan Beast seperti di komik. NO!

Okeh sampai sini dulu cuap-cuap saya.

Semoga kalian masih mau menunggu chapter selanjutnya.

Jaa ne~

Tertanda,

Aku yang mencintaimu #plakk

Lolexis