Yo kembali lagi bersama saya si author gaje nan maniak—Lolexis dalam acara cuap-cuap!

Terima kasih buat semua readers, review, fav, dan followers ff saya yang saya rasa kurang oke. Saya sangat senang! *tebar bunga*

Guest: Umm…iya dong saya lanjutin! Pasti! *kasih jempol* Victoria itu yang…ratu itu lho yang masih muda dan cantik di animenya. Tau kan? Pasti tau dong? Makasih ya udah mau baca dan mereview. :)

Dicchan: Gehehehee… *bingung juga mau ngomong apa* XD Uhhh…segitu mengerikannya kah Claude? Ini udah update lho. Semoga kamu menyukainya ya. :)

Oh tidak bisa~~ *geret Ciel terus lempar ke Sebastian* Makasih ya udah review. :)

Dan buat Kou—uke editorku yang baik hati mau membantu meski diminta malem-malem. Makasih banget deh, kita sama-sama ngeditorin ya, ko-u-cha-n~ *gaya Grell* XD

Maaf juga karena gak tau kamu sakit. T_T Cepert sembuh ya dan lanjutin ffmu itu. Gak sabar deh. :)

Kuroshitsuji © Yana Toboso

~Arrogant Master and Lunatic Servant~

Typo maybe happens.

Please enjoy the story…

Chapter 6:

.

.

.

Sepulang sekolah Ciel tak langsung pulang ke asrama seperti biasanya karena Mr. Sutcliff memberikan tugas makalah kelompok dan dikumpulkan sebelum liburan musim panas, maka dari itu ia pergi ke perpustakaan bersama Alois dan Soma untuk mencari referensi. Tapi mengharapkan Alois dan Soma mencari bahan di perpustakaan tidak menghasilkan hasil yang baik, karena itu Ciel mengumpulkan sendiri buku-buku yang akan di pakai sedangkan kedua makhluk itu duduk manis.

Tak terasa buku-buku tebal sudah menumpuk di meja, hatinya agak bingung bagaimana membawa buku sebanyak itu sendirian. Tapi ia tak mau merepotkan orang, ia tidak suka dan benci sekali membalas budi pada orang-orang yang menolongnya. Akhirnya ia memutuskan untuk membawanya sendiri. Buku-buku tebal tadi ia angkat oleh tangan kecilnya, terlalu banyak memang hingga pandangannya telah tertutup oleh gundukan kertas-kertas tebal menyebalkan itu. Namun bukan Ciel namanya jika ia tidak bersikeras ingin membawanya sendiri tanpa bantuan orang lain padahal ia pun sudah sangat kewalahan sampai-sampai ia tidak tahu bahwa ia akan menabrak orang karena itu.

"I'm so sorry." Kata Ciel sambil memungut buku-bukunya yang terjatuh tanpa memandang siapa yang ia tabrak. Peduli amat, pikirnya.

Orang yang ia tabrak juga tidak berbicara sepatah kata pun, yang Ciel tahu, orang yang ia tabrak tadi tengah membantunya membereskan bukunya juga. Baru Ciel ingin berterima kasih dengan mendongak melihat orang itu, tapi semua itu ia urungkan karena orang itu adalah seorang laki-laki bersurai hitam. Oh bukan Sebastian—karena saat ini orang itu sedang ada rapat mengingat sebentar lagi akan ada liburan musim panas—melainkan si hitam satu lagi yaitu Claude Faustus.

"Tak apa." Jawabnya. "Biar ku bantu bawa."

"Oh tidak perlu." Potong Ciel sambil menatap sinis Claude dengan cerulean indah miliknya yang justru membuat Claude menyeringai. "Aku masih mampu membawanya sendiri."

"Dan menabrak orang lagi?"

UGH! Alis Ciel berkedut tanda kesal. Sepertinya ia tahu bahwa mahkluk di depannya ini sama menyebalkannya dengan Sebastian. Jelas saja! Mereka itu sepupu, wajar jika ada sifat yang mirip, bukan?

"Bukan urusanmu."

Ciel kembali membawa buku-buku berat itu, namun si hitam berkacamata ingin tetap membantunya karena melihat tubuh kecil Ciel yang pasti sangat kewalahan. Mereka berdebat kecil sampai petugas perpustakaan men-deathglare mereka dengan kesal dan menyuruh mereka diam dengan isyarat tangan karena berisik. Akhirnya—meski sudah di tolak berkali-kali dan di tegur petugas secara tak langsung tadi—Ciel tidak bisa menolak lagi ketika Claude mengambil sebagian buku yang ia bawa secara paksa. Ciel hanya bisa berdecak.

Mereka berdua pun berjalan menghampiri Alois dan Soma yang tengah duduk manis dengan gadget mereka masing-masing. Tentu saja melihat siapa yang datang Alois langsung girang bukan main.

"Kakak kenapa di sini?" Tanya Alois antusias.

Melihat Alois sibuk bersukacita karena ada Claude, Ciel menaruh buku yang ia pegang ke meja. Lalu ia mendekati Claude dan langsung merebut buku yang Claude bawa dengan sinis. Oh well~ Mungkin Ciel bersikap begitu karena Sebastian memintanya jangan dekat-dekat Claude? Mungkin saja.

"Seperti yang kau lihat, aku membantunya membawa buku." Jawab Claude seperti biasa.

"Oh! Terima kasih sudah membantunya, kak! Ciel tidak suka di bantu, dia mengancam tidak mau sekelompok denganku lagi jika aku tidak diam disini. Tapi aku tidak tahu ia mau dibantu olehmu kak." Alois menatap curiga Ciel dengan cemberut. Melihat Ciel memasang wajah datarnya, ia tahu bahwa bukan Ciel pelakunya. Ia lalu menatap Claude kembali.

"Kau benar. Ketika aku ingin membantu, kami harus berdebat dulu."

"Sudah hentikan…Ciel sudah kesal tuh, kalau kau terus membahas yang tidak perlu bisa-bisa…" Ucapan Soma terhenti ketika Ciel memotong pembicaraannya.

"Benar kata Soma. Ayo Alois, kerjakan bagianmu dan jangan banyak ngobrol. Kalau tidak selesai hari ini juga makalahnya, kau yang akan mengerjakan semuanya dan harus kau berikan padaku besok pagi sudah lengkap." Ancam Ciel.

"Kau benar-benar Hitler, Ciel! Makalah kan dikumpulkannya minggu depan!"

xxx

Remaja bersurai hitam sedang gelisah di dalam kamar asramanya. Sejak tadi ia mondar-mandir kebingungan atau sesekali ia duduk lalu beranjak kembali. Crimson-nya memandangi pintu, menanti seseorang yang ditunggunya segera membuka pintu itu. Namun sayangnya pintu itu tidak terbuka juga.

Ketika ia menengok jam Rolex peraknya, waktu telah menunjukan pukul 7 malam. 1 jam lagi merupakan makan malam, tapi yang ditunggu belum datang juga. Ia semakin gelisah karena ia tak tahu kabar dari remaja kelabu favoritenya itu. Saking kesalnya ia membanting gadget di ranjangnya dan menggerutu, bukan menggerutu karena Ciel lho! Ia menggerutu karena ia bisa-bisanya membiarkan Ciel pergi kemana-mana tanpanya dan sekarang ia bingung setengah mati kemana anak itu.

"Seharusnya aku belikan dia HP biar aku tak uring-uringan begini!" Katanya sambil terus mondar-mandir. "Dan mungkin memperbanyak microchip dan menempelkan di setiap pakaiannya supaya aku tak kehilangan jejaknya."

Sebastian bukannya tak mau mencari Ciel. Hanya saja ia tidak mau mencarinya sia-sia dengan tujuan yang tak pasti. Siapa tahu ketika ia mencari Ciel, dia sudah ada di kamar, ya kan? Kan jadinya percuma. Kecuali jika microchip sudah ada di bajunya, baru ia akan pergi mencarinya

Beberapa menit berlalu dan ketika ia kembali melihat jam tangannya, waktu sudah menunjukan pukul 7.30 pm namun Ciel juga belum datang. Kesal, jengkel, khawatir, dan takut semuanya menjadi satu. Tidak biasanya bocah itu belum pulang mengingat betapa malasnya anak itu keluar asrama jika bukan sesuatu yang penting. Sebastian sudah terlalu malas berada di kamarnya dan berkutat pada smartphone nya yang sedari tadi ia banting karena dentingan pesan singkat masuk beberapa kali yang tak lain adalah SMS dari tunangannya yang terlalu menggilainya.

Oh bukannya orang lain akan senang jika ia di gilai? Awalnya memang menyenangkan, tapi lama-lama menjengkelkan dan hidupmu penuh dengan penguntit. Itulah yang ia pikirkan. Termasuk Victoria. Well~ meskipun begitu, ia lebih suka jadi penguntit Ciel dibanding di kuntit.

Sebastian menatap smartphone-nya yang begitu mewah—bertabur black diamond dan kaca layar berbahan dasar batu safir—mengingatkannya pada safir Ciel. Ia menerawang mengingat mengapa ia memilih smartphone ini. Tentu saja karena black diamond itu seperti dirinya dan safir seperti Ciel! Alasan tak masuk akal memang, hanya saja Sebastian suka design ini karena merasa itu cocok dengannya dan Ciel. Tak lupa gantungan bergambar kucing hitam di ujung iPhone itu.

"Apa nanti kubelikan seperti ini juga ya?" Tanyanya pada dirinya sendiri. "Tapi aku justru takut dia malah di rampok orang."

Sebastian menggaruk-garuk pelipisnya yang tak gatal sambil menimbang-nimbang akan membelikan smartphone apa yang pas untuk Cielnya tersayang. Hitung-hitung sembari menunggu Ciel yang lama datang.

"Mungkin yang kecil? Jari-jarinya yang kecil pas jika aku memberikan yang kecil."

"Apa sih yang kecil, mesum?"

Pemuda berambut harajuku itu terdiam sejenak mendengar suara yang sangat familiar baginya dengan cepat ia menengok ke arah pintu. Ia mendapati sosok remaja tanggung berambut kelabu itu sedang membuka sepatunya kemudian masuk sambil menenteng sepatunya.

"Kau dari mana? Kenapa tidak beritahu kalau pulang jam segini? Apa yang kau lakukan? Dengan siapa?"

Pertanyaan beruntun membuat Ciel semakin pusing lantaran dia habis pulang dari perpustakaan mengerjakan makalah yang seharusnya minggu depan dikumpulkan tapi ia memaksa harus selesai hari ini. Remaja kelabu itu menjatuhkan dirinya di ranjang sambil menghela nafas panjang membiasakan diri menahan emosi pada partner kamarnya yang terlalu menggilainya.

Mengetahui Ciel sangat amat lelah, Sebastian tak bertanya hal tadi lagi. Ia belum makan dan melihat keadaan Ciel ia juga mengerti jika Ciel pasti belum makan malam. Senyuman tulus pun tersungging dari bibirnya dan mendekati Ciel yang terbaring, tangan besarnya mengusap helaian kelabu lembut milik Ciel. Kali ini Ciel hanya terdiam, tak menepis tangan Sebastian seperti biasa ataupun marah-marah.

"Mau makan?"

"Aku sedang muak di sekolah. Lebih baik tidur."

KRUYUUKKK~~~~

KRUYUUKKK~~~~

Ciel terbangun dari ranjangnya dan menatap Sebastian dengan wajah memerah, begitu pun Sebastian. Mereka tak menyangka perut mereka yang lapar membuat mempermalukan mereka satu sama lain. Keheningan terjadi beberapa saat sampai Sebastian mencairkan suasana kembali.

"Mau ke Heaven Cake lagi?" Tanya Sebastian lembut.

"Kau tidak suka yang manis bukan? Kita ke tempat lain saja."

"Oh! Kau mengingatnya? Ku pikir kau tidak akan mengingatnya jika aku tak suka apapun yang manis." Sebastian menyeringai mesum pada Ciel, remaja kelabu itu berdecih pelan mengetahui bahwa ia salah berbicara. "Kecuali manisnya dirimu lho~ Kalo itu, aku tidak tahaaannn~~~~" Kata-kata terakhir Sebastian membuat Ciel bergidik.

"Tapi, memangnya boleh keluar asrama jam segini?"

"Hehehe…kau lupa siapa aku? Aku bisa melakukan hal itu dengan mudah."

.

.

"Ow yeah! Here we go, darl!" Ujar Sebastian. Sepertinya ia sangat senang.

Mereka telah berhasil keluar dari asrama menggunkan mobil. Bagaimana bisa? Oh itu ra-ha-si-a. Yang pasti, Ciel masih sedikit shock dengan apa yang Sebastian lakukan tadi. Entah itu perasaan jijik, mual, dan rasanya ingin bunuh diri. Masih ingin tahu? Oh well~ aku beri clue. Penjaga asrama itu adalah Mr. Undertaker. Dan kalian pasti sudah tahu apa yang dilakukan Sebastian guna mendapatkan keinginannya, bukan? Oke jangan bertanya lagi soal kenapa bisa membuat Ciel jijik dan tak mau mengingatnya lagi karena aku sudah bilang itu rahasia.

"Jangan panggil aku 'darl', itu mengingatkanku pada panggilan menjijikan yang Victoria berikan padamu."

"Aiihhh~~ Kamu cemburu. Hehehe…bagaimana kalau 'honey'?" Ledek Sebastian.

"Honey itu lengket. Itu menggelikan."

"Bagaimana kalau sweety?"

"Hentikan Sebastian. Mana mungkin kau samakan aku dengan burung kenari kecil berwarna kuning abad 19?" Jawab Ciel dengan wajah datarnya menghadap lurus kedepan melihat jalan.

"Itu Tweety!" Jawab Sebastian dengan senyum sweat drop. "Cium juga nih."

"Emang pengen banget?"

"Bangeetttttt~~~~"

"Cukup Sebastian, kau jadi semakin mirip dengan Mr. Sutcliff."

"Ah masa? Tapi suka kan, Ci-el?"

"Mesum!"

"Terima kasih."

Sebastian tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Ciel yang semakin lama bisa mengantisipasi gombalannya dengan plesetannya. Itu sangat lucu, you know?

"Tapi aku tak menyangka kau suka Looney Tunes seri dari Warner Bros. Itu jadul sekali, kau tahu?" Tanya Sebastian sambil terus menyetir mobilnya. "Aku suka sekali dengan karakter Marvin the Martian. Kau tau yang suka memakai helm hijau dan diatasnya seperti sikat toilet? Hahaha…"

"Aku tahu." Ciel hanya menanggapi Sebastian datar.

"Kau suka yang mana?"

"Bugs Bunny."

Setelah itu mereka terdiam. Percakapan ini rasanya terlalu garing dengan mengungkit kartun 2 abad silam meskipun mereka berdua sama-sama menyukai kartun suguhan jaman orang tua mereka kecil. Ingin sekali Sebastian melanjutkan bicaranya, hanya saja mereka sudah sampai di restoran yang mereka tuju.

Mereka berdua melangkahkan kaki mereka masuk kedalam restoran yang bertuliskan Lolitious. Restoran yang interiornya sangat klasik dengan meja kursi yang terbuat dari kayu terbaik serta lampu kristal gantung besar. Lolitious bukan berarti loli yang seperti gadis Jepang yang imut dan mungil lho! Karena semua pelayan disini normal. Mungkin karena masakan disini sebagian besar mengandung unsur loli atau bisa dibilang manis. Kalian tahu lollipop kan? Manis kan? Oke abaikan itu.

Meskipun restoran ini sebagian besar berisi dengan masakan manis, namun mereka juga menyediakan makanan biasa yang tidak mengandung unsur manis. Yah…hitung-hitung mengantisipasi jika ada pelanggan yang berpasangan dengan dua selera berbeda. Sebastian dan Ciel contohnya.

SKIP~

Setelah makan malam, mereka rencananya ingin pulang. Namun Sebastian melihat beberapa toko smartphone yang masih buka dan ingin mampir. Ingat kan jika Sebastian keteteran khawatir kemana Ciel?

Ciel sebenarnya merasa bingung dengan apa yang Sebastian ingin lakukan. Padahal ia baru mengganti smartphonenya dua hari yang lalu. Orang kaya susah deh, pikirnya.

"Kau ingin yang mana?" Tanya Sebastian. Orang yang di tanya hanya menatap bingung remaja yang lebih tua darinya itu.

"Maksudmu?"

"Aku ingin membelikanmu. Aku benar-benar stress ketika tak tahu dimana kamu tanpa kabar."

"Tapi aku tak membutuhkannya."

"Ayolah…kalau kau mau menerimanya, aku akan membelikanmu cake manapun yang kau inginkan selama sebulan."

Setelah menimbang-nimbang tawaran Sebastian yang menggiurkan itu, yah tak ada salahnya kan mempunyai handphone? Ia jadi bisa menghubungi keluarga yang telah menampungnya dulu. Terlebih lagi cake…oh my…

"Ya sudah. Terserah kau saja."

Sebastian mengangguk mengerti. Ia pun bertanya pada pemilik toko dengan berbisik membuat Ciel curiga. Tapi terserahlah, ia sedang tak ingin berdebat dengan mahkluk sempurna itu.

Setelah semua selesai—termasuk dengan sim card dan isinya—mereka pun buru-buru pulang. Ciel sudah cuap-cuap seperti ibu-ibu rumah tangga sedang bergosip. Ia takut gerbang asrama sudah di tutup dan tidak bisa masuk. Kalau Sebastian sih malah senang bisa menyewa hotel 1 hari bersama Ciel tercintanya.

.

.

Tak lama mereka pun sampai di asramanya, Sebastian menaruh bawaannya di ranjang Ciel lalu duduk. Begitu pula Ciel. Sebastian mulai mengeluarkan HP yang akan di berikan pada Ciel.

"Lihat, namaku di list nomor 1." Tunjuk Sebastian. "Kalau kau butuh sesuatu, kau tinggal pencet angka 1 dan pencet gambar telpon ini untuk panggilan cepatku."

"Siapa yang menyuruhmu men-set nomormu di list pertama?" Umpat Ciel.

"Ummm…kata hatiku." Seringai muncul di bibirnya yang tipis itu. " Oh ya rencana liburan musim panas gimana? Kau pulang ke desa?"

"Tidak. Aku tinggal di asrama."

"APA?"

Sebastian terperanjat. Bisa-bisanya liburan musim panas yang menyenangkan di buang sia-sia di asrama sekolah?! Come on! Ini liburan musim panas! Dimana semua orang berbahagia bermain di pantai atau bagi yang tinggal di asrama bisa pulang dan berkumpul bersama keluarga.

"Kenapa?" Tanya Ciel polos.

"For God sake! Kenapa katamu?!" Jawab Sebastian dengan tak santainya mendengar pertanyaan Ciel. "Bagaimana kalau kamu kenapa-kenapa di asrama? Bagaimana kalau kamu gak makan sedangkan kamu gak bisa masak? Bagaimana kalau nanti kau dirampok?" Tanya Sebastian beruntun. Tapi Ciel tahu bahwa Sebastian sangat mengkhawatirkannya.

"Kau berlebihan."

"Berlebihan katamu? Aku ini khawatir tahu! Bagaimana mungkin aku meninggalkan separuh hidupku disini sedirian?!"

Separuh hidup…ya, Sebastian sudah menganggap Ciel sebagai separuh hidupnya yang berharga. Memang mereka masih SMA, tapi Sebastian serius akan cintanya pada Ciel. Tak ada kebohongan di sana. Ia bahkan mendedikasikan hidupnya jika itu memang di perlukan. Semua untuk Ciel.

Lain lagi dengan Ciel, dia terdiam mendengar kata terakhir yang Sebastian ucapkan barusan. Separuh hidup? Kata itu merupakan kata-kata terberat yang pernah ia dengar.

"Kau harus ikut liburan musim panas ke rumahku. Aku tidak mau kau protes." Tegas Sebastian.

"Hei, disini aku master-nya, kau ingat?" Ujar Ciel kesal.

"Aku tahu kapan aku berperan sebagai pelayan dan kapan aku berperan sebagai orang yang mencintaimu." Rasanya Ciel ingin sekali memukul wajah tampan Sebastian karena dengan mudahnya mengatakan cinta, membuat jantung Ciel berdebar tak karuan serasa ingin keluar dari rongganya. "Jadi mengertilah sedikit jika aku sangat mengkhawatirkanmu, My Love."

"Berhenti memanggilku dengan panggilan menjijikan itu."

"Aku tak mau tahu dan tak ingin tahu, yang penting kau harus ikut. Kau tahu kan jika rahasia memalukanmu itu ada ditanganku? Apa aku harus sebutkan? Ummm…waktu berumur 4 tahun jatuh ke selokan ketika habis membeli donat. Waktu sekolah dasar ketika mengendarai sepeda kau juga jatuh ke selokan."

GLEK!

Ciel menelan ludah dengan bersusah payah. Kadang ia berpikir apa pekerjaan orang tua Sebastian sehingga anaknya pun jadi stalker kelas kakap yang mampu menjatuhkan dirinya kapan saja. Kejadian memalukan itu sudah lama sekali, bahkan sebelum orang tuanya meninggal. Jadi dari mana Sebastian tahu hal sedetail itu? Mengerikan bukan?

"Ah atau pertama kali kamu puber? Kau mulai mengalami mimpi ba—"

"Enough! Oke aku ikut liburan musim panas denganmu, puas?" Potong Ciel sebelum ia benar-benar malu setengah mati akibat ulah si mesum berambut jet black itu.

Seringai mesum terlukis di wajah Sebastian yang pucat tanda puas dan Ciel hanya bisa cemberut seperti biasanya. Imut dan…manis, membuat siapa pun yang mengetahuinya akan mencoba membuatnya kesal berkali-kali. Kau bodoh Ciel, wajah cemberutmu itu membuat Sebastian semakin menyukaimu, tahu?

Gadget Sebastian berbunyi menandakan pesan singkat masuk. Biasanya Sebastian malas sekali membuka pesan singkat, paling juga dari tunangannya. Tapi matanya terlihat penasaran setelah melihat nama di pesan singkatnya. Setelah membaca pesan itu, wajah Sebastian benar-benar berubah menjadi cemberut. Aura hitam kekesalannya berkobar jika saja orang lain dapat melihatnya.

"Hei, tadi kenapa kau pulang telat ke kamar?" Tanya Sebastian masih dengan wajah kesalnya.

"Mengerjakan makalah di perpustakaan." Jawab Ciel. Ia merasa heran kenapa Sebastian kembali menanyakan pertanyaan tadi ketika ia pulang. Sekarang pun wajah tampan Sebastian menunjukan kekesalan. Jangan bilang ia tahu jika Claude ada disana, pikirnya.

"Dengan?"

"Alois dan Soma." Kali ini Ciel merasa sudah tahu kemana pertanyaan itu akan menjurus. Jantungnya berdegup kencang takut.

"Hanya mereka?"

Ciel kembali menelan ludah. Tapi jika ia berbohong soal Claude, Sebastian semakin kesal bukan? Meskipun Sebastian bukan siapa-siapanya, ia tahu jika dibohongi bukan perasaan yang menyenangkan.

"Akan ku jelaskan." Ciel menunggu reaksi Sebastian, tapi karena Sebastian tidak berkata apa-apa lagi, ia melanjutkan bicara. "Memang tadinya aku bertiga dengan Alois dan Soma. Ketika aku membawa buku banyak, aku menabrak seseorang. Ternyata itu Claude. Ia memaksa membawakan buku-bukuku meskipun aku sudah menolaknya berkali-kali dan di tegur oleh petugas perpustakaan. Itu bukan salahku karena aku sudah menolaknya."

Sebastian menatap Ciel curiga. Melihat wajah datar Ciel, Sebastian tahu bahwa Ciel tidak berbohong. Ia sudah diajari oleh orang tuanya bagaimana cara membedakan orang berbohong dan mana yang tidak. Jadi tak sulit sama sekali melihat Ciel yang emosinya masih dibilang labil.

Hidung bangir Sebastian menghela nafas panjang dan tersenyum yang sulit diartikan Ciel. Tapi Ciel tak mau berkata apapun. Ia merasa kejujurannya sudah cukup, apa lagi katanya Sebastian mencintainya, bukan? Kejujuran paling penting dalam suatu hubungan.

Hubungan?

Ciel menepis semua pikirannya. Apa maksud dari hubungan? Bahkan ia pun tidak punya hubungan apapun dengan Sebastian. Teman pun sepertinya bukan karena ia merasakan hal yang berbeda dari kata teman.

"Oke, aku percaya padamu. Aku tahu kau tak akan mengkhianatiku, dear."

xxx

2 weeks later~

"Sudah siap semuanya, Ciel?"

"Ya."

"Baiklah. Ayo cepat."

Pemuda hitam membantu pemuda kelabu yang lebih muda darinya menggeret koper menuju mobilnya. Benar, liburan musim panas sudah tiba dan kebanyakan penghuni asrama pulang kerumah mereka masing-masing melepas rindu bersama keluarga. Begitupun Sebastian, ia sangat senang bisa pulang kerumah apa lagi bersama Ciel. Rasanya liburan kali ini lengkap. Tapi mengingat ini liburan musim panas, pikirannya melayang pada dua makhluk menyebalkan. Victoria dan Claude. Euhhh...

Dengan hati sukacita, Sebastian mengendarai mobilnya sambil bersiul-siul girang. Bagaimana tidak? Ini saatnya mengenalkan Ciel pada ayahnya. Ia tak sabar mengenai apa tanggapan ayahnya soal pemuda manis yang sekarang tengah duduk di sampingnya, semua itu membuatnya cengengesan.

"Kenapa kau cengengesan, mesum?" Tanya Ciel yang sedari tadi heran melihat Sebastian terdiam sambil tertawa sendiri. Seperti orang gila saja.

"Karena aku bisa bersama denganmu, dear." Ucap Sebastian sambil mengedipkan sebelah matanya. Ciel berdecak kesal.

"Aku bukan hewan berkaki empat dengan tanduk yang bercabang, sialan." Sebastian sedikit sweat drop mendengar jawaban Ciel yang seakan serius dan tak nyambung sama sekali. Dia bermain plesetan lainnya!

"Itu DEER, Ciel!" Sebastian menekankan kata deer sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Belajar dari mana heh pelesetan seperti itu?"

Sebastian mencubit gemas pipi Ciel yang tentu di tepis oleh Ciel setelahnya. Pemuda bermata ruby itu tertawa bahagia.

"Oh ya Ciel, mungkin dirumah nanti akan ada Claude dan Victoria." Ciel terdiam tak berkata sepatah kata pun. "Tapi aku punya firasat bagus tentang mengenalkanmu dengan ayah." Seulas senyum tergambar tipis di wajahnya yang tampan. Ciel mengangguk ragu.

Setelah itu mereka tak berbicara satu sama lain. Ciel sedang tak ingin banyak bicara, ia sangat mengantuk mengingat bagaimana Sebastian membangunkannya dengan paksa dan menyuruhnya bangun untuk cepat berangkat dengan alasan takut macet. Sebastian? Dia mah sudah biasa tidur tengah malam dan bangun pagi-pagi sekali entah apa yang ia lakukan di jam segitu.

Pemuda hitam itu tersenyum tulus melihat pujaannya tertidur lelap ketika mobilnya berhenti karena lampu merah. Tangan pemuda itu buru-buru mengambil jaketnya yang ia gantung di sandaran jok dan menyelimuti Ciel lembut. Mata crimson-nya menatap Ciel terus sampai sebuah klakson dari belakang menyadarkannya untuk kembali menyetir.

Ahhh….rasanya begitu bahagia hanya bisa bersama. Menghabiskan waktu dengan menatap pusat hidupnya yang tertidur manis. Ingin sekali ia menyentuh kulit porselen milik Ciel yang sangat lembut membuatnya kehilangan fokus sesaat.

"Sudah-sudah. Lama-lama aku bisa nosebleed jika terus menatapnya. Yang ada nanti malah kita mati berdua karena aku tak fokus."

.

.

Beberapa jam perjalanan, mereka pun sampai pada sebuah manor megah bahkan pintu gerbangnya saja berlapis emas. Mobil hitam Sebastian memasuki gerbang itu dan mulailah terlihat di sebelah kanan dan kiri ada halaman yang ditumbuhi pohon dan rumput terpelihara beserta paviliun klasik putih di setiap pojoknya. Di depan—tepatnya ditengah—main house-nya terdapat patung malaikat berdoa sambil berlutut juga terlihat indah.

Sebastian memarkirkan mobilnya di depan tangga menuju pintu dan membangunkan Ciel lembut. Seperti yang Sebastian tahu, itu tidak akan mempan. Ciel hanya akan bangun jika di cium oleh Sebastian. Itu pun Sebastian tidak pernah melakukan hal lain selain ciuman untuk membangunkannya.

Begitulah akhirnya Sebastian membangunkan Ciel dengan lembut. Tentu saja yang di cium marah-marah.

"Kita sudah sampai. Ayo masuk." Ciel mengangguk.

Sebastian membuka pintu mobilnya. Ia sudah di sambut oleh beberapa pelayan yang sedari tadi sudah menunggu kedatangannya, Tuan muda mereka. Pemuda jet black itu meminta salah satu pelayannya untuk menaruh mobilnya ke bagasi sementara ia membantu Ciel mengangkat kopernya.

"Selamat datang, Young Master dan temannya." Sapa mereka.

"Ehem, jangan temannya dong. Itu tidak enak di dengar. Panggil dia Lady Ciel atau apa begitu yang lebih enak di dengar." Pernyataan Sebastian tadi membuatnya terkena deathglare dari Ciel. Ia tertawa.

"Baik, Young Master. Silahkan masuk Lady Ciel."

Mendengar itu, si sensitif Ciel tentu saja kesal sekaligus ingin menghajar pemuda yang menyebabkan ia kesal. Tentunya si penggoda tertawa. Namun tawa pemuda bermata ruby itu menghilang setelah mendengar derap sepatu hak menuju ke arahnya.

"Kau datang, dar...ling?"

.

.

.

TBC

Yoyoyo! Gimana? Aneh? Membosankan?

Apa? Iya? *Pundung dibawah meja*

Terima kasih ya buat readers sekalian. :)

Review please. :) Kritik dan saran di perlukan. Tapi~ remember…yang lembut. Karena saya nanti gak lanjutin lho *ngancem ceritanya*

See you~