Akhirnya saya menyelesaikan Chap 7! XD

Jujur agak susah menyelesaikannya karena saya tidak pernah buat kerangka karangan untuk mengerjakannya. Jadi mengalir begitu saja. Karena itu, untuk inspirasi begitu lama. :( Ehhh~~ Jadinya buat ff one-shoot deh. Hihihi… *ketawa undertaker*

Saya mau balas review dulu ya. Yang punya akun atau enggak saya balas di sini.

Alif Ryeosomnia: Lole? XD abisan ratu Victoria di anime yang masih muda itu cantik dan menggoda saya (?). Oke ini lanjutannya ya~

Dicchan: iya. T_T semoga Ciel selamat ya. #lho? Oke ini lanjutannya~

Guest 1: Saya kangen kok. *Cium reader* Kenapa ya Claude suka Ciel? Aku juga gak tau. #Plaakkk Ini lanjutannya ya~

Deer-san: Ehehehe…maaf deer-san, nama 'deer' di pake di chap 6. _

Minaaa: Iya ini sudah lanjut~ hohoho *tanaka mode on*

Guest 2: Aduh…saya terharu karena segitunya buat review ff saya. Saya senang. T_T *berlinang air mata* Oke ini udah update ya~

Oke, terima kasih buat pembaca yang sudah review maupun silent reader. Saya senang lho ada yang mau baca ff saya. T_T

Sekedar info nih~ Lolexis main di chap 7 lho. Hahahah! Gak apa-apa kan ya eksis sedikit. *ditampol* Yak, mari saja di mulai ya ceritanya~ cekidot XD

.

.

.

Kuroshitsuji © Yana Toboso

~Arrogant Master and Lunatic Servant~

Warning: OOC, OC, gaje, et cetera

Typo maybe happens.

Please enjoy the story…

Chapter 7:

.

.

.

Di sebuah ruang makan yang luas, di tengah langit-langitnya ada sebuah lampu gantung kristal, sangat cocok dengan berabotan bernuansa abad 18. Disana Tuan Michaelis sedang berkumpul untuk breakfast bersama anak semata wayangnya yang datang tepat jam 8 pagi berserta ponakannya—Claude Faustus—dan dua tamunya. Tak ada satu pun yang memulai percakapan untuk mencairkan suasana karena memang etika makan adalah tidak berbicara saat makan. Sungguh suasana yang tidak menyenangkan.

Tuan Michaelis menatap sekeliling dengan tidak nyaman. Memang ia selalu tidak bicara jika makan, tapi ini pengecualian. Ia ingin bertanya banyak hal pada anaknya yang sudah lama sibuk di asrama. Karena itu dia memberanikan diri untuk berbicara.

"Jadi…siapa Lady ini, Sebastian? Setahu ayah, asramamu itu khusus pria kan? Apa kau berkenalan di luar sekolah?" Tanyanya ramah sambil menatap Ciel yang tiba-tiba terbatuk. Refleks Sebastian mengambil serbet—menyodorkannya untuk membersihkan mulut Ciel—dan mengusap punggung Ciel supaya ia lebih tenang.

Seramah apapun Tuan Michaelis itu, tetap saja satu kata itu sangat menohok hati Ciel yang paling dalam. Lady…kata-kata itu sangat menyebalkan!

"Dia Ciel, ayah."

"Wah…cantik seperti namanya." Ujar sang ayah dengan senyum yang masih terukir di wajahnya yang mulai menua.

"Dia laki-laki. Teman sekamarku di sekolah dan juga juniorku." Jawab Sebastian dengan senyum.

"Oh maaf, Nak Ciel. Saya kira Anda seorang gadis."

Alis Ciel berkedut kesal. Namun ia harus tetap menjaga image-nya dengan bersikap tenang. Ia tidak ingin membuat kesan pertama pada orang yang lebih tua menjadi jelek. Karena itu, meskipun kesal, ia harus tersenyum.

"Tak apa, Tuan Michaelis."

"Ah! Kau sopan sekali, Nak Ciel." Sambutnya.

Sebastian tersenyum penuh arti melihat ayahnya sepertinya senang bersama dengan Ciel. Sedangkan Victoria dan Claude hanya bisa terdiam mendengarkan.

"Kau benar-benar sopan, nak." Tuan Michaelis tersenyum. "Rasanya terlalu formal dan kurang akrab jika memanggil nama keluarga, ya. Panggil saja Diederich, Ciel."

"Ya, Diederich." Senyum terukir dari bibir tipis Ciel.

"Oh ya, ayah…" Diederich menatap putra semata wayangnya dan mendengarkan dengan sabar. "Dia itu kekasihku." Ucap Sebastian.

Tiba-tiba suasana menjadi hening seketika. Ekspresi kaget bermunculuan dari Claude, Victoria dan tentu saja Ciel! Ia tak menyangka Sebastian bisa mengucapkan itu di depan ayahnya. Victoria terbatuk-batuk dan Claude saking kagetnya melepaskan sendok ke sup dan membuatnya berceceran kemana-mana. Dan Ciel? Dia hampir saja menyemprotkan sup yang baru ia suapkan kedalam mulutnya.

Sepertinya Sebastian tidak bisa mengambil kesempatan yang baik mengingat pernyataan seperti itu ia lakukan di saat breakfast, dan tentunya di depan tunangannya pula tanpa basa-basi. Tapi menurut Sebastian, ia lebih baik mengatakannya sekarang. Ayahnya yang selalu bekerja dan jarang di rumah membuatnya selalu berbicara langsung pada intinya meskipun itu saat yang tidak tepat.

"Apa mak—hemph!" Sebastian membekap Ciel.

"Begini ayah. Aku menyukai Ciel. Oke kami belum pacaran, hanya saja aku benar-benar mencintainya. Tidak mungkin aku membawanya jika tak ada maksud kan, Ayah? Bagaimana?"

Ciel men-deathglare Sebastian meskipun masih di bekap. Tanpa di duga, Diederich tertawa terbahak-bahak. Oh ayolah! Itu membuat semua orang di ruangan itu bingung. Ini bukan bercandaan.

Sebenarnya ayah Sebastian sudah tahu jika anak semata wayangnya ini menyukai sesama jenis. Ia dapat membedakan bagaimana sifat penyuka sesama jenis itu. Ia juga mengerti bagaimana perasaan sakit ketika dipisahkan karena gender mereka yang sama, Jadi ia tak bisa meminta Sebastian untuk menjadi normal, yang penting Sebastian bisa serius soal Cinta.

"Kalau begitu…kau menyanggupi perjanjian yang kita buat, Sebastian?"

Sebastian terdiam. Sebenarnya ia agak lupa perjanjian dengan ayahnya. Memang jika ia punya kekasih, pertunangannya di batalkan. Hanya saja ia harus menanggung resiko atas pilihannya. Ia belum siap, tapi ia juga tidak ingin melanjutkan tunangan dengan Victoria.

Diederich menatap anaknya yang masih terlihat bingung itu, "baik, kita akan membicarakan hal ini lagi nanti. Tak enak berbicara tentang ini di depan Victoria."

Gadis bersurai perak itu melap bibirnya dan bangkit dari kursinya. Wajahnya tampak tak suka dan kesal. Bahkan sepertinya matanya mulai berkaca-kaca. Ia tak terima dengan semua ini. Setelah mereka di tunangkan selama 2 tahun ini dan hari ini pertunangan mereka terancam batal. Apa lagi saingannya itu adalah laki-laki!

"Tidak apa-apa, paman. Aku yang akan pergi." Tanpa persetujuan tuan rumah, Victoria meninggalkan ruangan itu dengan cepat.

Sambil pergi ia berpikir apa yang kurang darinya? Cantik iya, kaya iya, pintar lumayan, masak dia pun jago. Sudah tak tahan ingin menangis, gadis bermata emerald itu segera mempercepat langkahnya keluar dari ruangan itu. Meskipun hatinya begitu sakit, ia tetap berusaha tersenyum sebelum ia benar-benar pergi.

Ciel menatap kepergian Victoria dengan sendu. Ia merasa agak tidak enak dengan Victoria. Bagaimana pun ia merasa sebagai orang yang merusak hubungan Sebastian dan Victoria.

"Oke, Sebastian. Kalau kau ragu seperti biasanya, pilihanmu hanya menikahi Victoria."

Sebastian masih terdiam masih menimbang-nimbang. Sejak kelas 2 SMP, Sebastian sangat nakal dan bergonta-ganti pacar tiap hari. Ia tak pernah serius dengan apapun kecuali belajar dan kucing. Mengetahui hal itu, Diedrich memutuskan untuk bertindak serius akan kelakuan anaknya. Ia memberikan Sebastian pilihan tetap melakukan hal itu tapi jadi penerus perusahaan atau ia bebas tentang pekerjaan yang ia ingini nanti dengan syarat menikahi Victoria yang merupakan anak dari temannya. Dan Sebastian yang memang dasarnya tidak suka mewarisi perusahaan ayahnya dengan berat hati memilih Victoria agar ia bebas. Diederich juga menambahi perjanjiannya tentang; kalau punya pacar maka pertunangan batal dan ia harus menjadi pewaris.

Awalnya ia menyanggupi, tapi lama kelamaan Victoria semakin menyebalkan. Hidupnya jadi tidak tenang dan ia tak tahan. Ketika bertemu dengan Ciel, entah cupid saat itu sedang mengantuk atau bagaimana hingga salah menusukan panah cintanya ketika Sebastian masih memegang teguh soal perjanjian yang dilakukan ia dan ayahnya, ia terpesona oleh manisnya Ciel yang tertidur dari podium. Ia mirip sekali dengan sosok kucing yang ia cintai. Pipinya yang sama empuknya dengan cat's paw, atau wajah tidurnya yang manis, rambut kelabunya yang halus. Pokoknya Sebastian cinta! Sampai-sampai ia lupa perjanjiannya dengan ayahnya.

"Okay, ayah berangkat kerja dul—"

"Aku menyanggupinya, ayah."

.

.

"Bloody hell! Apa yang kau lakukan tadi, hah?" Ujar Ciel seraya berteriak pada si iris merah. Tentu saja yang di teriaki tersenyum mesum.

"Yah…ayahku sering bilang kalau ingin mengatakan sesuatu ya katakan saja. Karena ayah jarang dirumah, sekalinya bertemu harus bilang semua yang ingin di katakan." Sebastian tersenyum lagi. "Nah, ini kamarmu. Kamarku di sebelahmu ya. Kalau mau minta apa-apa pencet bel saja. Kalau kau ingin memanggilku, kau sebut namaku 3x. Hahaha…"

"Yang terakhir itu tidak penting."

Sebastian membantu Ciel memasukan kopernya ke kamar. Kamar yang terlalu luas mungkin buat bocah bernama Ciel ini. Sebastian tanpa izin merebahkan dirinya di kasur yang nantinya akan di tiduri oleh Ciel, ia hanya mendengus kesal.

"Oh ya, maksudnya perjanjian itu apa?"

"Kau mau tahu?"

Ciel mengangguk pelan. Ia tahu bahwa orang yang tengah tiduran di calon kasurnya itu pasti tak akan memberi tahunya. Namun apa daya ketika rasa penasaran lebih kuat?

"Haha…kalau kamu ingin tahu, kemarilah. Peluk dan cium aku. Baru aku akan mengatakannya." Kata Sebastian yang masih tiduran itu ambil merentangkan tangannya.

"Aku lebih baik mati dari pada melakukan itu."

"Masa? Huh, tubuhmu saja lebih jujur dari pada kau."

Semburat warna pink menghiasi wajah remaja kelabu itu. Ia berusaha menyembunyikan itu dengan pura-pura menata kopernya. Ia memilah-milah baju dan memasukkannya dalam lemari. Ciel menaruh ponselnya di meja rias dan mendekati Sebastian lagi.

"Hari ini kita melakukan apa? Bosan kan harus di kamar?" Tanya Ciel.

"Ah…aku akan mengajakmu berkeliling. Mau?"

Dengan sekali anggukan Ciel menyetujui usul Sebastian. Dirumah—atau yang mungkin disebut manor—ini terlalu besar untuk Ciel. Ia tak ingin tersasar nantinya jika keluar dari kamarnya.

Pertama-tama Sebastian menunjukan ruangan-ruangan berpintu, mulai dari ruang bermain, ruang kerja ayahnya, kamarnya, kamar untuk tamu, ruang makan, et cetera. Lalu beralih dari itu, mereka tengah berjalan menuju taman belakang yang di penuhi mawar merah. Kemudian berkeliling-keliling lagi. Setelah lelah, mereka pergi ke taman yang pertama kali mereka lewati ketika mobil Sebastian memasuki gerbang. Mereka pun berteduh dari teriknya matahari di salah satu paviliunnya.

"Panas banget!" Ujar Ciel sambil sesekali mengipas-ngipaskan tangan kecilnya ke leher.

"Namanya juga summer. Kalau dingin mah namanya winter."

"Tak perlu kau beritahu pun aku sangat tahu."

Sebastian tertawa, "musim panas begini enaknya ke pantai lalu berjemur."

Ciel terdiam. Dia sebenarnya tidak suka musim panas. Itu membuatnya mengeluarkan tenaga lebih. Dan apa tadi ke pantai? Ugh! Ciel paling malas cuaca panas keluar rumah. Tak heran warna kulitnya terlihat pucat.

"Aku…tidak suka panas-panasan seperti itu."

"SERIUS?!" Ciel mengangguk. "Lalu apa yang biasanya yang kau lakukan di musim panas seperti ini?" Tanya Sebastian lagi dengan antusias.

"Tidak ada."

"Hah?"

Lalu perbincangan selesai. Sebastian bingung harus berbicara apa lagi untuk berbicara dengan Ciel-nya itu. Mungkin memang bukan keahlian Sebastian basa-basi dengan bertanya hal-hal seputar minat Ciel karena toh nanti mengalir sendiri. Tapi sekali-sekali ia ingin tahu dengan bertanya langsung.

"Lalu, musim apa yang kau suka?"

"Tak ada."

"Tak ada? Mengapa?"

"Musim panas terlalu panas, musim semi terlalu banyak serbuk bunga bertebaran, musim gugur sampah dimana-mana, musim dingin terlalu dingin…dan mengingatkan aku kematian ayah dan ibu."

"Jadi selama ini tinggal dengan siapa?"

"Memangnya harus aku beri tahu?"

Sebastian mengerucutkan bibirnya. Tentu saja Sebastian ingin Ciel memberitahunya, bahkan kalau boleh semua hal tentang Ciel ia ingin tahu. Baginya semua hal tentang Ciel harus ia tahu, bahkan kalau perlu berapa banyak helai rambutnya pun kalau bisa ia ingin tahu. Memang kelihatannya berlebihan, tapi memang itulah yang Sebastian pikirkan.

"Tentu!"

"Malas ah."

"Cih! Oke, kau tidak perlu beritahu, aku akan mendapatkan informasinya meski mengeluarkan uang lagi. Weeekkkk!" Sebastian menjulurkan lidahnya melihat si kelabu berdecak kesal. "Sebagai ganti uang itu, kau hutang 1 ciuman untukku."

"Kau gila!"

"Kalau menjadi gila kau semakin menyukaiku, aku rela kok."

"Menjijikan."

Sebastian tertawa. Tapi ia serius tentang itu. Ciel menatap Sebastian dengan serius, menimbang-nimbang untuk bercerita atau tidak. Ia menghela nafas panjang dan memutuskan untuk menceritakannya. Dimulai dari kedua orang tuanya yang meninggal karena kecelakaan dan hanya Ciel yang selamat dalam kecelakaan itu. kemudian bagaimana warga sekitar menolongnya dan bahkan bersedia mengambilnya menjadi anggota keluarga.

Sebastian yang mendengarnya agak tersentuh mendengar ceritanya. Di umur yang masih kecil Ciel harus kehilangan kedua orangtuanya. Ia mengerti benar bagaimana rasanya kehilangan ketika ibunya, Maria, meninggal karena sakit dan ayahnya sibuk. Ia kehilangan kasih sayang dari orangtuanya menyebabkan ia mencari pelampiasan bermain dengan wanita atau pria untuk mendapatkan kasih sayang meskipun akhirnya ia bosan karena kasih sayang mereka palsu semata-mata karena mereka hanya mengincar uang Sebastian. Sedangkan Ciel ia mampu melampiaskannya dengan belajar saja. Sebastian benar-benar malu telah melakukan hal konyol dengan bermain hanya untuk kasih sayang.

"Jadi keluarganya kak Lau dan kak Ran-mao yang mau menampungku. Mereka sangat baik meskipun kak Lau itu agak gak jelas atau kak Ran-mao yang datar." Ujar Ciel sambil menunjukan foto dirinya bersama keluarga barunya itu dari dompetnya."

"Mereka Chinese? Kau kecelakaan di Hong Kong atau bagaimana?" Tanya Sebastian tidak mengerti.

"Ya, mereka Chinese tapi aku kecelakaan bukan di Cina, masih di Inggris kok. Kebetulan saja yang menampungku keluarga Chinese."

"Hahaha..tapi kau lucu pake baju Chinese gitu."

Sebastian tertawa melihat wajah Ciel yang sepertinya terpaksa memakai baju Cina ketika di foto meskipun Sebastian agak kesal juga sih melihat orang yang kalau tak salah namanya Lau itu merangkul Ciel dan wanita bernama Ran-mao.

"Lau dan Ran-mao itu adik kakak?" Ciel mengangguk. "Serius? Mereka lebih terlihat seperti berpacaran." Ujar Sebastian tak yakin.

"Kau juga berpikir begitu?" Kali ini Sebastian yang mengangguk. "Aku juga merasa begitu. Mereka terlihat seperti pasangan." Ciel tersenyum.

"Iya, seperti kita, ya?"

xxx

Beberapa hari keemudian, pemuda berambut harajuku terlihat sibuk dan terburu-buru sampai-sampai Ciel pun merasa Sebastian ada banyak saking cepatnya pemuda hitam itu bergerak kesana kemari. Meskipun Ciel penasaran dengan apa yang di lakukan Sebastian karena ia sangat rapi pagi itu, Ciel tetap terdiam tak ingin bertanya. Ia tahu bahwa dengan bertanya akan membuat Sebastian besar kepala dan meluncurkan ke-gombalannya.

"Ciel, ayahku lupa membawa berkas untuk presentasinya. Jadinya aku harus mengantarkannya. Sarapan sudah di siapkan di ruang makan, kau makan sendirian tak apa, ya? Aduuuhhhhhh! Aku tinggal ya, ini sudah sangat mepet! Oh GOD! Aku lupa sepatuku! Ayah menyebalkan!" Begitulah pesan Sebastian yang buru-buru sambil menggerutu. Ciel yang mendengarnya pun bingung karena ini pertama kalinya Sebastian terlihat begitu heboh selain membicarakan dirinya.

Kemudian Ciel mengikuti Sebastian yang melangkah cepat menuju pintu meskipun langkahnya tak bisa mengimbangi Sebastian. Oh...ini seperti seorang istri mengantar suaminya ke pintu sebelum kerja kan? 'Tidak! Tidak! Ini beda!' Tepis Ciel.

Sebastian menatap kearah sang pujaan hatinya sebelum memasukki mobil dan mencium kening Ciel yang sukses membuat Ciel terkejut, "Aku pergi dulu ya, sayang. Aku akan pulang sesudah makan siang. Jaga dirimu baik-baik. Dahhh…" Kata Sebastian tanpa mempersilahkan Ciel berbicara karena ia sudah masuk kedalam mobilnya dan melesat pergi.

"Tch…orang itu…" Desis Ciel sambil mengusap-usap keningnya yang tadi di cium Sebastian. "Tumben tidak mencium di bibir…GEHHH! Ngapain juga aku mikir begitu?! Kan bagus!" Ucap Ciel lagi sambil masuk kembali ke dalam.

Pemuda beriris safir itu masuk ke ruang makan sendirian. Ia duduk manis sambil menunggu hidangan yang di ambilkan oleh pelayan Sebastian. Setelah di ambilkan, ia memakannya perlahan sambil mengutuki Sebastian yang meninggalkan tugasnya sebagai pelayan Ciel seperti yang tertera pada perjanjian.

Karena Ciel makan sangat sedikit, tak berapa lama ia pun cepat selesai dan meninggalkan ruang makan. Ia berjalan menuju kamarnya kembali dengan malas. Ciel merasa hari ini pasti membosankan dan berencana untuk menghabiskan waktu di kamar.

Di dalam kamar, Ciel memutuskan untuk merebahkan dirinya di atas kasur king size-nya itu sambil memainkan ponsel yang di belikan Sebastian untuknya. Ia mencari nama seseorang di kontak teleponnya dan mulai mengetik pesan singkat. Tak berapa lama, ponselnya berdering tanda inbox masuk dan dia tertawa pelan.

"Kak Lau memang aneh. Pasti sekarang dia lagi pamer pada mama karena aku punya ponsel." Ujarnya pelan. Ia jadi membayangkan ekspresi mama, yang tak lain ibu dari Lau dan Ran-mao, sesenang apa karena mereka akhirnya mudah bertukar kabar.

Ciel meletakan ponsel di sampingnya dan memejamkan mata. Tiba-tiba saja pintu kamarnya di ketuk seseorang dari luar sana. Agak bingung juga karena siapa yang mau mengetuk pintu kamarnya? Kalau memang pelayan, ia pasti mengucapkan kata 'permisi, tuan' atau yang lainnya. Sebastian? Jangan tanya, dia pasti langsung menyelonong masuk seenaknya. Si kelabu dengan malas beranjak dari kasurnya dan membuka pintu.

Di lihatnyalah gadis bersurai perak tengah menyapanya dengan senyuman yang paling manis. Dengan canggung ia membalas senyuman gadis di depannya.

"Good morning, Ciel. Boleh aku masuk?" Tanyanya lembut. Ciel mengangguk pelan dan langsung saja gadis itu masuk dan duduk di sofa yang di sediakan di tiap kamar.

Tanpa menutup kamar, Ciel langsung saja duduk berhadapan dengan gadis perak. Si gadis perak itu tersenyum kembali. Ciel merasakan perasaan tak enak tapi langsung saja ia tepis karena melihat senyuman sang gadis merekah begitu indah. Sempat saja ia berpikir kenapa Sebastian melepas gadis cantik yang kini sedang duduk di kamarnya ini.

"Aku ingin mengembalikan ini." Ujarnya seraya mengambil saputangan dari tas hitamnya. "Terima kasih untuk waktu itu."

"Ya, tak masalah. Aku yang seharusnya meminta maaf soal kemarin." Balas Ciel canggung.

"Oh ya, Ciel. Sebastian kemana?" Tanyanya tanpa membalas permintaan maaf Ciel. Ciel menatap Victoria yang masih saja tersenyum manis di depannya.

"Ke kantor ayahnya, mungkin."

Victoria tersenyum. Tapi kali ini berbeda, Ciel merasakannya. Tiba-tiba saja seseorang dari belakang datang membekap mulut Ciel sedangkan yang satu lagi dengan cepat mengikat tangan dan kaki pemuda kecil itu lalu melemparkannya ke kasur.

Ciel yang begitu shock terus meronta dan berteriak, tapi semua percuma karena mulutnya pun kini telah di sumpal kain. Ia menatap sekelilingnya dan mendapati Victoria yang memegang sebuah kamera, pemuda bermata gold dengan kacamata yang tersenyum sinis serta seorang lagi pemuda yang tampaknya tak nyaman membantu kedua temannya. Ciel menatap pemuda yang terdiam tak nyaman itu sejenak namun pemuda yang ia tatap memalingkan wajahnya penuh kesedihan.

"Lolexis! Ambil foto mereka!" Ujar gadis bersurai perak. Pemuda yang sejak tadi gelisah itu berjalan ragu dan mengambil kamera silver Victoria. "Claude, giliranmu."

Pemuda yang bernama Lolexis itu mendekat kearah ranjang Ciel dan menatap Ciel sendu siap mengambil foto sambil berguman yang Ciel rasa adalah permohonan maaf, lalu Claude yang masih saja tersenyum menyeramkan naik ke atas kasur Ciel dan langsung saja membelai pipi mulus Ciel lembut. Pemuda bersurai kelabu menatap jijik kearah Claude, rasanya kalau saja mulutnya tidak di sumpal ia ingin sekali meludahi wajah orang di depannya ini dan memukulnya dengan tongkat baseball, sayangnya ia tidak bisa melakukan apa-apa.

Claude tidak bicara apapun, namun matanya tetap menatap mata Ciel yang indah dari atasnya. Tangan nakalnya menelusuri leher dan tulang selangka Ciel yang terekspos kausnya. Wajah Ciel memerah, ia kembali memberontak dan berharap Claude melepaskannya tapi justru sebaliknya, Claude melepas kacamatanya dan membenamkan wajahnya pada leher pemuda kecil yang terikat itu lalu menjilatnya. Tak hanya itu, ia bahkan mencium bibir kecil Ciel dengan rakusnya. Pemuda kelabu itu menahan tangisnya ketika Claude dengan kasar memberikan tanda merah keunguan pada leher, bahu bahkan tulang selangkanya. Belum lagi cengkraman Claude yang begitu kencang membekas pada bahunya yang putih bersih. Setitik air mata jatuh dari sudut mata Ciel berharap semua ini akan selesai.

"Sepertinya sudah cukup, Claude. Jangan melakukan yang lebih." Ujar gadis bermata emerald itu sambil tersenyum manis. "Kau sudah memfoto semuanya, Lolexis?"

"Ya." Jawab pemuda itu lirih.

"Bagus."

Claude memakai kacamatanya kembali dan melepas ikatan Ciel. Kesempatan itu pun tak Ciel lewatkan, ia segera memukul Claude dengan tangan kecilnya dan itu pun sekali lagi ku bilang percuma. Claude menangkap tangan itu dengan mudah sambil menatapnya dingin.

"Kalau kau mau meninggalkan Sebastian, aku berjanji tidak akan menyebarkan foto itu kemana pun. Benar, Victoria?" Ujar Claude, Victoria hanya mengangguk. "Ku beri waktu seminggu untuk memikirkannya."

Ciel terdiam. Kalau saja mereka mengatakan itu lebih awal mungkin Ciel akan meninggalkan Sebastian dengan mudah. Tapi sekarang, ia tak ingin menjauh dari Sebastian. Ia juga berpikir akibat dari foto memalukannya jika sampai tersebar adalah di keluarkannya ia dari sekolah. Dan itu berarti ia akan menjadi gelandangan di jalan. Dua pilihan sulit terus berputar di otaknya sunguh membuat pemuda kelabu itu bingung.

"Oh ya satu lagi, jika kau mau bersamaku, ku jamin hidupmu bahagia, Ciel." Ujar Claude lagi.

"Aku tidak sudi."

Claude tertawa dan melepaskan cengkramannya pada Ciel. Dengan tanpa bersalah, dua makhluk itu—Claude dan Victoria—pergi meninggalkan kamar Ciel duluan. Lolexis masih berdiri di sana dengan wajah menyesalnya mendekati Ciel yang kelihatan sangat berantakkan.

"Maafkan aku, Ciel. Pilihan sulitmu juga menimpaku dan aku tak punya pilihan lain. Sekali lagi maafkan aku." Ujar Lolexis sebelum ia meninggalkan Ciel seorang diri.

Ponsel Ciel berdering sejenak menandakan pesan singkat masuk. Ia menatap layar flat ponselnya dan melihat nama Sebastian tertera disana. Tangan kecilnya meraih ponsel di sampingnya dan membuka pesan itu.

Sepertinya aku pulang sebelum makan malam.

Ayah mengerjaiku!

Maaf ya...

Prince Pervert

.

.

.

Di sebuah perusahaan yang sangat besar seorang pemuda berambut jet black tengah menggerutu pada pria lanjut usia di sebelahnya. Sepertinya pria lanjut usia itu mengerjai si muda hingga membuat si muda ini terus menggerutu.

"Ya ampun Michelis muda, kau ini hanya di suruh ayah sehari mengurus rapat saja sudah terus menggerutu seperti ini. Kan nanti kau akan mengambil alih bisnis ini, anggap saja sebagai latihan." Kata si pria lanjut usia sambil tertawa.

"Tapi ayah! Kalau tahu rapat di undur jam 10, aku akan membawa Ciel ikut. Belum lagi ternyata aku yang harus presentasi!" Jawab si muda dengan raut wajah kesal. "Aku sampai tidak sarapan untuk menemani Ciel sebentar karena ayah bilang sudah mau mulai rapatnya."

"Aduh…pasangan baru sampai segitunya berpisah sebentar."

"Bukan begitu, ayah. Terlalu berbahaya meninggalkan Ciel yang kecil itu sendirian dirumah. Kalau ada sesuatu yang terjadi, bagaimana? Dia itu terlalu rapuh ayaaaahhhhhh!"

Pria lanjut usia itu tertawa sebentar. Tiba-tiba saja ingatannya kembali ke masa lalu ketika ia pertama kali bertemu dengan seseorang yang sama manisnya dengan kekasih anaknya itu. Ia bertanya-tanya apakah orang itu sehat? Apa ia sudah berkeluarga? Tapi senyumnya memudar mengingat sejak pernikahannya dengan Maria, mereka tidak saling menghubungi satu sama lain. Ia jadi merindukannya.

"Ayah, kau dengar aku?" Tanya Sebastian.

"Kau bilang apa tadi?"

"Ayah ini…ayah sakit? Tadi ku bilang aku ingin cepat pulang. Boleh kan?"

"Oke, pulanglah. Ciel mungkin sudah menunggumu."

Dengan cepat, Sebastian menaiki mobilnya. Ia ingin memberikan kejutan pada pemuda kecilnya karena ia pulang lebih awal dari jadwal seharusnya. Hatinya sangat senang karena akhirnya ia bisa bertemu Ciel, orang yang selama di kantor ia pikirkan.

"Ciel aku akan mengejutkanmu!"

.

.

.

TBC

Please, jangan bunuh saya karena saya bantuin Claude dan Victoria.

Maaf juga buat penyuka Claude jika membuat Claude seperti ini. T_T

Akhir kata, mind to review?