Summary : Kurama berlari kelantai bawah dengan mimik panik, menuju kearah kaa-sannya yang sedang menonton televisi sambil sesekali menyesap coklat hangat miliknya. Tanpa basa-basi Kurama menyeret kaa-sannya ke kamarnya dan Naruto.
Disclaimer : Naruto belong to Masashi Kishimoto
Genre : Family (?)
Rated : T
Cast : U. Naruto ; Kyuubi/Kurama ; N. Minato ; U. Kushina
Warnings : Gaje ; typos ; kurama as Naruto's twin ; AU ; vamfict ; OOC ; slight crossover Vampire Knight (for the Vampire Class and blood pill) ; and other stuff
DON'T LIKE DON'T READ
READ AND REVIEW PLEASE
A/N : Minna Arun mau mau ngucapin Minal Aidzin wal Faidzin ne~ Selamat Hari Raya Idul Fitri. Enjoy this Fict
.
Chapter 2 : Naruto and Winter
~Lost Son~
.
.
Dua bulan telah berlalu semenjak kedatangan Jiraiya ke Konoha dan memberitahukan tentang ramalan yang ia temukan di Uzushio saat dia berkunjung kesana. Ramalan itu, jujur saja membuat Kushina dan Minato shock—sangat shock malah. Mereka berdua kini semakin over-protective terhadap Kurama dan Naruto, suami istri itu takut jika ramalan yang diberitahukan pada mereka terjadi dalam waktu dekat.
Setidaknya jika hal itu terjadi, meraka ingin berada di dekat Kurama dan Naruto serta berharap telah memberi mereka kasih sayang yang cukup bagi keduanya. Mungkin.
Ramalan yang diberitahukan oleh Jiraiya pada Yondaime Hogake dan istrinya, tidak mereka sebarkan pada siapapun, hanya mereka bertiga yang tahu. Keduanya berasumsi bahwa memberi tahu orang lain tentang ramalan ini akan mempercepat hilangnya anak mereka dan baik Kushina maupun Minato tidak menginginkan hal itu. Tidak dalam waktu dekat, mereka sangat menyayangi anak mereka. Dan belum siap jika harus kehilangan salah satunya.
.
~Lost Son~
.
Waktu terus bergulir, hari berganti bulan, bulan berganti tahun dan takkan ada mampu untuk menghentikan sang waktu meskipun hanya sedetik. Umur si kembar kini sudah satu tahun, dan mereka berkembang seperti layaknya bayi seumuran mereka. Membuat baik Minato maupun Kushina merasa sedikit lega. Tapi tetap saja mereka harus tetap waspada jika tidak ingin hal yang tidak mereka inginkan terjadi.
Tahun kedua semua nya masih berjalan dengan normal, Kurama dan Naruto sudah mulai bisa berbicara walaupun agak susah. Ada satu hal yang membuat baik Minato maupun Kushina kecewa saat sikembar mengucapkan kata pertama mereka. Apa sih yang si kembar katakan? Apa mereka mengucapkan kaa-san, kaa-chan, kaa-sama? Bukan! Atau tou-san, tou-chan, tou-sama? Juga bukan! Lalu?
Jujur saja walaupun sang Yondaime Hokage dan istrinya kecewa karna salah satu dari mereka tidak menjadi kata pertama yang diucapkan oleh si kembar tapi dalam hati mereka senang. Ya senang. Mengetahui bahwa si kembar memiliki ikatan yang kuat. Maksudnya? Kau tahu, mereka memanggil nama satu sama lain saat mengucapkan kata pertama mereka…
"Nalu.." ini yang diucapkan oleh Kurama saat itu dan untuk Naruto
"Kuu…"
Mengejutkan bukan? Hah, ikatan batin yang sungguh kuat, dan jujur saja membuat kedua orang tua mereka iri sekaligus bangga.
Tahun ketiga pertumbuhan mereka di jalani dengan menetap di dalam rumah. Baik Minato maupun Kushina melarang mereka untuk keluar rumah tanpa ada yang mengawasi. Kalau kau bertanya bagaimana perasaan si kembar, tentu saja mereka kesal. Mereka juga ingin bermain dengan anak seumuran mereka, pergi ke taman atau tempat lainnya dengan teman.
Tapi apa daya sang Hokage dan istrinya melarang si kembar untuk hal itu. Tahu sendiri alasannya bukan? Tidak? Itu mudah, mereka hanya ingin kedua anaknya tetap berada di bawah pengawasan, apalagi mengingat tentang ramalan itu benar-benar membuat mereka cemas.
Waktu terus berjalan, tak terasa usia si kembar kini menginjak tahun ke 4. Kushina dan Minato sepakat untuk memasukkan si kembar ke dalam sebuah playgroup yang terletak tak jauh dari rumah mereka. Di umurnya yang sudah menginjak 4 tahun, si sulung Kurama sudah bisa berbicara dengan lancar, sementara si bungsu Naruto masih cukup kesulitan.
Mereka tumbuh menjadi anak lelaki yang tampan. Untuk Naruto ia lebih terlihat manis, jika ia dipakaikan pakaian yang lebih feminim mungkin orang lain akan mengira Naruto itu bergender perempuan. Hal ini sering membuatnya digoda oleh beberapa anak laki-laki lain di sekolahnya—yang menurut Kurama dan Naruto merupakan tempat untuk mencari teman pada awalnya—membuat Kurama marah—sangat malah—serta jengkal.
Bukan, Kurama bukan marah karena dia ada perasaan pada adik kembarnya—dan ini juga bukan fict incest—tapi murni karna Kurama ingin melindungi adiknya. Kembarannya. Separuh dari dirinya. Karena ikatan batin mereka yang kuat. Tak kurang dan tak lebih.
Kalau kau bertanya seperti apa ekspresi saat dia melihat adik tersayangnya di goda, maka aku akan memberitahumu. Dia akan memberikan Death-glare terbaiknya padamu, dan jika Death-glare itu mampu membakarmu, maka dalam hitungan detik kau akan habis terbakar dengan api biru. Pastinya kau bisa membayangkan apa reaksi orang yang menggoda Naruto kan? Apa? Tidak? *sigh* Yang pasti jika mereka masih bisa berpikir jernih mereka akan mundur secara perlahan, menjauh dari sang Namikaze sulung jika tidak ingin melihat dirinya mengamuk.
Lebih parahnya Naruto, walau merasa risih jika digoda tetap akan bermain bersama mereka tanpa menyadari Death-glare yang diberikan kakak kembarnya pada orang-orang yang bermain bersama si Namikaze bungsu. Polos, terlalu polos malah. Juga baik, lebih tepatnya terlampau baik ditambah Naruto mudah sekali percaya pada orang lain. Hal ini membuat si kecil Kurama frustrasi. (etto anak umur 4 tahun bisa frustrasi juga kan?)
.
.
~Lost Son~
.
.
Saat ini musim dingin sedang berlangsung, dan Kurama sangat menyukai musim dingin. Lain halnya dengan Naruto, dia sangat membencinya. Naruto menyadari suatu hal saat musim dingin berjalan 1 minggu, dia lemah terhadap dingin. Setiap malamnya ia akan menggigil kedinginan walaupun dia memakai 3 buah selimut yang salah satunya merupakan selimut tebal khusus musim dingin. Jangan lupakan pakaian yang dipakainya ia memakai sweater panjang dan Hell dia men-double sweater yang ia pakai dengan sebuah jaket musim dingin dan dia masih kedinginan. Bayangkan sendiri rasanya.
Lalu fakta bahwa di kamarnya—Naruto satu kamar dengan Kurama hanya berbeda ranjang—terpasang alat pemanas tidak mengurangi dingin yang menusuk hingga ke tulang.
Lebih parahnya kedua orang tua mereka tidak—belum—tahu mengenai hal ini.
Hey jangan bilang apa yang kutulis ini tidak logis atau tidak bisa diterima akal sehat! Salahkan saja Naruto saja yang terlalu pintar. Sebelum orang tuanya—tepatnya Kushina—berniat membangunkan mereka, Naruto sudah merapikan semuanya.
Meletakan 2 selimut tambahannya ke dalam lemari lalu melepas jaket musim dinginnya dan menggantunnya di dinding kemudian berpura-pura tidur, sampai Kushina masuk dan membangunkan mereka dengan lembut.
Kurama hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pada sang adik kembar, jika dia selesai melakukan ritual pagi musim dinginnya. Apa? Aku tak salah dengar kan? Kau bilang kenapa Kurama tidak memberitahukan keadaan Naruto pada kaa-san atau tou-sannya? Itu karena Naruto sendiri yang memintanya, permintaan itu baru berumur beberapa hari. Hari itu adalah salah satu hari terdingin yang pernah ada. Saat itu Kurama berujar pada Naruto
"Naru, aku panggilkan Kaa-san atau tou-san ne~" Naruto hanya menggelengkan kepalanya dengan lemas
"Ii'e Kuu. Jangan belitahu kaa-chan atau tou-chan ne~" balas Naruto dengan senyum mengembang di bibir birunya dan gigi bergemeletuk menahan dingin
"Tapi Naru..."
"Kuu, Nalu mohon. Jangan belitahu meleka. Nalu tidak mau membuat meleka khawatil ne~ Kuu cayang cama Nalu kan?" Kurama menghela napas panjang, mengangguk lalu berucap
"Tentu saja Kuu sayang sama Naru, jadi Kuu tidak mau melihat Naru terus kedinginan seperti sekarang. Tapi Kuu menghargai keputusan Naru. Hanya saja jika keadaan Naru bertambah buruk mau Naru setuju atau tidak Kuu pasti akan memberitahu kaa-san dan tou-san." Naruto ber-humm singkat lalu mulai menutup kedua kelopak matanya kemudian tertidur setelah disuruh oleh Kurama.
Malam itu Kurama memutuskan untuk tidur satu ranjang dengan Naruto, dia ingin membuat adik tersayangnya—Naruto—merasa sedikit lebih hangat dengan berada di sisinya. Dia tidak tega, sungguh. melihat adiknya merasa tersiksa di musim dingin yang notabene merupakan musim favoritnya.
.
.
~Lost Son~
.
.
Musim dingin sudah berlangsung cukup lama, tinggal menghitung hari lagi untuk menyambut tahun baru. Tiap malamnya keadaan Naruto semakin buruk. Seperti malam ini, badannya panas dan dia menggigil kedinginan. Kesadarannya juga mulai menipis. Kurama yang tidak tega melihat keadaan adiknya akhirnya berniat memberitahukan masalah Naruto kepada orangtuanya.
Minato belum pulang, rapat dengan para Council masih berjalan, dirumah hanya ada Kushina yang tengah menonton televisi sambil sesekali menyesap coklat panasnya saat Kurama datang dengan tergesa-gesa ke arahnya.
"Ada apa Kuu? Kenapa kau berlari?" tanya Kushina sebelah alisnya terangkat tanda ia tak mengerti tentang sikap putra sulungnya.
Tanpa menjawab pertanyaan kaa-san nya, Kurama menarik tangan Kushina ke kamarnya dan Naruto. Sesampainya disana Kushina disuguhkan pemandangan dimana Naruto tengah tak sadarkan diri dibawah tiga selimut, jaket dan sweater yang dikenakannya untuk menghangatkan badan.
Tanpa ba-bi-bu lagi Kushina menghampiri putra bungsunya, kemudian mengecek keadaannya—panas—kata itulah yang pertama terlintas dipikiran Kushina saat menyentuh kening Naruto. Dia lalu menyuruh Kurama untuk mengambil termometer, baskom, handuk kecil serta obat penurun panas. Dalam beberapa menit Kurama kembali membawa apa yang diminta oleh kaa-sannya, sementara Kushina langsung mengecek suhu badan bocah bersurai pirang cerah itu sembari mengisi baskom dengan air dingin yang ia ambil dari kamar mandi.
Suhu badan Naruto membuat Kushina shock, sementara Kurama terus memegang tangan tan adikknya yang terasa panas. 40 derajat celcius, beberapa derajat celcius diatas suhu normal. Dengan sigap Kushina meletakkan handuk basah yang sudah diperas itu ke kening putra bungsunya. Begitu terus berlanjut, sampai beberapa menit berikutnya.
Kurama sudah tertidur dalam posisi duduk sambil terus memegangngi tangan adiknya, sementara kepalanya menyandar di tepian ranjang yang ditiduri si pirang. Melihat putra sulungnya tertidur dalam posisi seperti itu, Kushina memindahkan posisinya menjadi terbaring di sebelah Naruto. Wanita bersurai merah panjang itu bisa mengerti saat ini Kurama ingin berada disisi adiknya. Jadi apa salahnya membaringkan si bocah bersurai orange di sebelah bocah bersurai pirang cerah kan?
.
.
Waktu sudah menunjukan pukul 11 malam. Sudah 2 jam Kushina terus mengganti kompres untuk putra bungsunya dengan telaten dan sabar. Dia beryukur kepada kami-sama karena suhu badannya mulai turun, walau masih diatas normal. Eh? Kenapa tidak membawa Naruto ke rumah sakit?
Itu mudah, orang waras mana yang mau menerobos salju yang tengah turun dengan derasnya di malam hari? Yang pasti bukan Kushina. Dan kalau dia tetap nekat menerobos salju yang ada malah keadaan Naruto tambah membuatnya cemas.
Apa? Kenapa tidak meminta Minato untuk mengantar putra bungsunya ke Rumah sakit? Seperti yang kusebutkan di awal Minato sibuk rapat dengan para Civilian Council, mengingat dirinya yang menjabat sebagai Hokage. Dan tentu saja dia tidak bisa seenaknya meninggalkan pekerjaannya. Walaupun dalam hati ia merasa cemas, apalagi setelah menerima pesan singkat sang istri yang diterimanya mengenai keadaan Naruto.
Akhirnya setengah jam kemudian, tepatnya pada pukul 11.30 p.m, Minato langsung meninggalkan Hokage Tower dengan sihir Jikuukannya yang ia berinama 'Hiraishin' (避雷針?) sambil meninggalkan sebuah kilat berwarna kuning. Lalu tanpa ba-bi-bu lagi, pria yang kini menjadi seorang ayah itu bergegas menuju kamar si kembar.
Melihat keadaan Naruto sekarang membuat hati Minato tak tega. Ia merasa gagal menjadi ayah, bagaimana bisa ia tidak mengetahui keadaan putranya sendiri? Padahal Ia yakin bahwa dia cukup banyak memberikan perhatian pada kedua anaknya. Kushina yang menyadari kehadiran suaminya menoleh kearah sang Yondaime. Matanya merah dan sedikit bengkak tanda bahwa ia sempat menangis sebelum kedatangan Minato. Tanpa basa-basi Minato duduk di sebelah Kushina berusaha menenangkan sang istri tercinta.
"Apa yang terjadi pada Naruto Kushi-chan?" tanya Minato dengan nada lembut sembari mengelus punggung istrinya berusaha untuk menenangkan san istri yang kini sudah menjadi seorang ibu. Dia (Minato) menyadari ada sesuatu yang aneh pada putra bungsunya, yang sekarang tengah tertidur dengan sebuah handuk kecil di keningnya.
"Naru... Dia..." kata-kata Kushina terpotong oleh suara isakan dan air mata yang mulai mengalir turun dari kedua manik berwarna violet miliknya. Sembari terisak wanita yang menyandang istri dari Yondaime Hokage itu mulai menceritakan semuanya.
Dari saat Kushina ditarik oleh Kurama yang berlari menuruni tangga dengan tergesa-gesa dengan raut wajah yang sarat akan kekhawatiran saat dirinya sedang menonton tv, sampai saat dia menemukan kondisi putra bungsunya, sementara Minato hanya mendengarkan sembari sesekali melirik kedua puranya yang tengah tertidur berdampingan dalam satu ranjang.
"Kau tahu anata? Saat aku *hiks* menemukan Naru-chan *hiks* kondisinya lebih buruk dari ini *hiks*. Demamnya mencapai angka *hiks* 40 derajat celcius *hiks*. Tubuhnya bergetar hebat *hiks* bibirnya membiru *hiks*. Jujur saja anata, aku sungguh tidak tege melihat keadaan *hiks* Naru-chan *hiks* yang seperti itu." Kushina menjelaskan keadaan Naruto sambil terus terisak air mata tak kunjung meninggalkan kedua matanya walaupun ia telah menciba menghapusnya.
Minato sebenarnya sudah mengetahui keadaan si blonde dari pesan singkat yang dikirim oleh Kushina. Namun saat melihat dan mendengar cara istri tercinta mendeskripsikan bagaimana keadaan bocah bermanik sama dengan miliknya itu membuat seluruh tubuhnya melemas.
Tak kuasa menahan tubuhnya lagi ia terduduk di ranjang milik Kurama yang kini tidak ada yang menempati. Ia sungguh tak mengerti apa sebenarnya yang terjadi pada putra bungsunya,
"Sepertinya Naruto lemah terhadap dingin, apalagi sekarang musim dingin tengah berlangsung." kata Minato setelah berhasil menenangkan dirinya. "Tapi aku sungguh tak habis pikir bagaimana ini bisa terjadi pada putra kita padahal sebelumnya hal ini tidak terjadi,"
"A-aku juga tidak tahu anata. Hal ini terjadi secara mendadak. Tidak. Terlalu mendadak. Aku belum bisa menerima hal ini, aku takut ramalan itu akan terjadi tak lama lagi anata. Aku takut, sungguh takut." Kishina mulai berbicara kembali sambil berjalan menuju kearah suaminya lalu memeliknya erat dan melepaskan semua air mata yang sedari tadi berusaha ia bendung.
Malam semakin larut, beruntungnya suhu badan Naruto mulai kembali normal. Kushina dan Minato merasa lebih lega saat mengetahuinya, merekapun tertidur di ranjang milik Kurama yang tidak ditempati.
.
~Lost Son~
.
Pagi datang, burung-burung kecil dan besar saling berebut untuk meramaikan suasana pagi ini dengan kicauan mereka. Walaupun sinar matahari mulai menghangatkan kota Konoha yang semalam mengalami hujan salju yang cukup lebat, suhu udara masihlah cukup dingin. Namun Naruto yang notabene lemah terhadap dingin bangun paling awal dikarenakan sinar matahari yang menyusup tanpa ijin dari jendela kamarnya.
"Kepala Nalu pucing.." katanya lirih sambil memegangi kepalanya, tak lama kemudian bocah bersurai blonde itu menyadari dirinya tidak sendiri. Tertidur disebelahnya sang kakak kembar, sementara di ranjang bocah bersurai orange tertidur kedua orang tuanya. Satu hal yang lalu disadari oleh Naruto
"Apa kemalin keadaan Nalu membuluk? Campai-campai tou-chan dan kaa-chan teltidul di kaculnya Kuu, lalu Kuu teltidul dicebelah Nalu." Naruto mulai mem-pout-kan bibirnya
"Hal inilah yang cidak Nalu cuka. Nalu cidak cuka kalo tou-chan sama kaa-chan cemas. Nalu benci mucim dinyin. Kenapa mucim dinyin itu halus ada. Kan Nalu jadi celing kedinyinan."
.
.
To be Continue
.
.
A/N : etto, gomen. Arun re-publish chapter ini. Ada beberapa kalimat yang ditambah dan maaf jika banyak yang ga suka cerita Arun. Arun mau ngucapin Terima kasih buat yang baca fict Arun, nge-review, nge-follow sama nge-fave. Dan Arun minta maaf buat waktu yang Arun ambil buat update ke chapter berikutnya. Jujur aja kegiatan LKS SMK banyak nyita waktu serta pikiran Arun. Jadi mohon dimaklumi ne.
.
.
Words : 2443
Page : 10
Publish : 28 July 2014
Re-publish : 31/07/2014
