"Ahjussiiiiii…. Andweeee! Jangan bergerak! Angkat tangan kalian! "

Kyuhyun maupun Changmin sontak kaget mendengar pekikan beserta peringatan tersebut. Kyuhyun perlahan membalikan badan untuk menghadap pada asal suara. Matanya makin membelalak lebar kala mendapati ujung pistol yang sudah tertodong kearahnya. Namun bukan karena pistol itu yang membuat dirinya benar-benar terkejut, melainkan orang yang memegang pistol tersebut yang membuat persendian kakinya melemas seketika.

" Sungmin-ssi…."

~~…PERHAPS YOU…~~

.

.

KYUMIN

Slight. JungMin

EunHae

And Other…

Rate : T to M

Genre : Hurt/Comfort, Crime, Romance

YAOI, OOC, Abal, GAJE, EYD amburadul dan Typo dimana-mana

-REVIEW DI TUNGGU!-

Don't Like? Don't Read…!

Don't COPAS… !

.

.

Happy Reading…. ^^

.

.

Chapter 5

.

.

Suara halus gemelutuk gigi beserta desahan nafas berat itu kembali terdengar dari bibir tipis sang Detective cantik yang masih mengepalkan kedua tangannya resah. Tepukan menenangkan di sekitar bahunya seolah tak berfungsi sama sekali. Kedua foxy indahnya masih menghujam telak dua sosok yang masih terduduk gelisah di hadapannya..

"Sekali lagi aku bertanya. Apa yang kalian lakukan di tempat itu?" Suara tenor yang terlihat menahan amarah itu kembali terdengar.

"Jawabanku tetap sama. Aku hanya melakukan perintah ayahku untuk mengunjungi tempat tersebut. Dan kalaupun pertanyaan setelah ini masih sama dengan pertanyaan-pertanyaan sebelumnya, jawabanku juga masih sama. Kang Gilroo adalah nae samchoon. Dan aku tidak tahu menahu dengan kejadian yang baru saja kita alami sekarang ini. Aku pun sama shocknya dengan kalian. Apalagi, orang yang menjadi korban saat ini adalah keluargaku sendiri." Changmin menjawab pertanyaan sang Detective dengan jelas dan berani. Karena memang dirinya tak merasa bersalah, tak ada rasa takut sedikitpun saat introgasi berlangsung.

Yah, memang sudah 3 jam lamanya dia dan juga Kyuhyun berada di dalam sebuah ruangan kedap suara tempat introgasi. Dan pertanyaan yang terlontar dari bibir tipis sang Detective sejak tadi hanya berputar-putar seolah menginginkan kedua orang yang di introgasi, ah ani. Lebih tepatnya satu orang yang di introgasi, -karena sejak awal hanya Changmin lah yang menjawab semua pertanyaan yang di tanyakan pada mereka.- mengatakan beberapa kalimat yang dia harapkan, yaitu. "Ya, saya mengetahui semuanya." Namun nihil.

Brakk…

Detective cantik yang tak lain adalah Lee Sungmin itu kembali menggebrak meja di hadapannya. Meskipun tak terlalu keras, namun cukup untuk membuat ketiga namja yang berada di ruangan itu terlonjak kaget.

"Katakan padaku. Apa kau mengetahui sesuatu? Aku yakin kau mengetahui sesuatu yang Kang ahjussi ketahui!" Kilat kecewa dan kesedihan terpancar jelas dari dalam manic rubah yang sedikit berkilat akibat air mata tertahan itu.

"Sungmin-ah.. Tenangkan dirimu." Lagi-lagi namja paruh baya sang kepala polisi yang duduk tepat di samping Sungmin mengusap halus bahu sang detective berusaha menangkan.

"Jeongmal mianhamnida Sungmin-ssi, bukankah sudah ku katakan sebelumnya? Jawaban atas semua pertanyaanmu pasti akan sama." Kini Changmin sedikit melembut. Dia tak seformal sebelumnya. Dia tahu namja cantik yang kini menatap tajam kearahnya sedang terguncang.

Kyuhyun memang tak terlalu banyak bersuara. Karena dia mempunyai alasan yang kuat. Yakni "Hanya mengantar Changmin. Tanpa tahu apa-apa" namun di balik diamnya, sorot tajam kedua obsidian itu tak pernah luput dari paras sang Detective yang terlihat sangat kacau. Seandainya saja dia bisa, sejak tadi dia ingin sekali menenangkan namja cantik di hadapannya, merengkuh bahu bergetarnya dan membawanya ke dalam dekapan hangat tubuhnya agar sang Detective merasa tenang. Namun apa daya, dia hanya bisa melihat kekalutan Sungmin dalam diam, hanya kedua kepalan tangannya yang sejak tadi terkepal kuat. Entah kenapa, sebagian hatinya merasa sakit melihat Sungmin seperti itu. Apa kasus yang sebenarnya Sungmin hadapi saat ini? Terlebih lagi, ini menyangkut nyawa paman sahabatnya, Changmin. Dan kenapa dia begitu cemas melihat Sungmin yang sangat kacau seperti sekarang ini? Apakah mungkin, dia sudah mulai tertarik pada Detective cantik itu?

Tok..Tok..

Ketukan di luar pintu membuat keempat namja yang berada di ruangan tersebut dengan serentak memalingkan wajah mereka pada pintu kokoh di samping mereka.

"Kepala Polisi, hasil sidik jari telah keluar." ucap seseorang saat pintu ruangan tersebut terbuka, yang di sambut dengan raut cemas oleh ke empat namja yang memandangnya.

Kepala Polisi paruh baya yang tak lain adalah Kim Yesung itu membuka map yang berisi tulisan-tulisan yang tidak dimengerti oleh Kyuhyun dan juga Changmin.

Lama dia meneliti isi map tersebut. sampai akhirnya sebuah fakta menenangkan keluar dari suara tegasnya.

"Kyuhyun-ssi, Changmin-ssi, sudah kuduga. Bukan kalian pelakunya. Jeongmal mianhamnida."

"Benarkah ahjussi?" Sungmin yang sedari tadi duduk gelisah, buru-buru bangkit dan mengambil alih map yang berada di tangan Yesung. Kedua manic rubahnya berbinar. Terpancar kelegaan kala membaca deretan huruf yang terdapat dalam map tersebut.

"Tapi, yang menjadi pertanyaan terbesar saya, kenapa kalian ingin menemui Kang Gilroo tengah malam seperti itu?" Yesung kembali duduk dan menatap kedua namja tampan dihadapannya.

Changmin yang kembali menjawab "Bukankah sudah saya katakan? Kang Gilroo adalah paman saya. Saya mendapat telepon dari ayah saya di AS. Beliau bilang, ada yang ingin paman Kang beri tahukan padanya, pembicaraan mereka tak bisa melewati telepon. Jadi beliau menyuruh saya untuk menemuinya. Sebenarnya saya juga sudah meminta untuk bertemu keesokan harinya, mengingat hari sudah sangat larut. Tapi beliau bilang tak ada waktu. Saya juga kurang mengerti dengan maksudnya. "

"Mianhae.." Sungmin berucap dengan penuh penyesalan. Menyesal karena telah berlaku sedikit kasar pada Changmin beserta Kyuhyun. Dan juga menyesal karena tak bisa mendapatkan jawaban yang dia harapkan. ini akan semakin rumit.

"Tak apa Sungmin-ssi, kami juga memang salah. Tak seharusnya kami berada disana." kali ini Kyuhyun yang bersuara. Setelah memandang Sungmin sejenak, dia kembali berkata.

" Tapi.. ini kasus pembunuhan. Siapa sebenarnya yang membunuh Kang ahjussi? " ucapnya yang lebih pantas di sebut pertanyaan. Dan memang itulah yang sedang berada di benak Sungmin dan juga Yesung.

"Kami akan menyelidikanya. Kalian tenang saja. Aah Changmin-ssi, apakah Kang Gilroo masih mempunyai keluarga?" Yesung kini bertanya yang di tujukan pada namja tinggi di samping Kyuhyun.

"Setahu saya dia sudah tak mempunyai siapa-siapa." Changmin berpikir sejenak. "Kepala Polisi, bisakah saya yang mengurus pemakaman Kang shamchoon?"

"Tentu saja boleh Changmin-ssi. Tapi untuk saat ini kami masih membutuhkan jasadnya untuk pemeriksaan lebih lanjut."

"Baiklah saya mengerti. Setelah selesai, saya harap anda bersedia menghubungi saya."

"Tentu saja Changmin-ssi. Sekali lagi, saya minta maaf telah menyusahkan kalian" Yesung berucap dengan penuh penyesalan.

"Gwaenchanna. Kami yang seharusnya meminta maaf karena membuat kalian bingung." Kyuhyun menimpali ucapan maaf Yesung. Dia merasa bersalah juga karena memang secara tidak langsung dia dan Changmin bersalah, untuk apa coba malam-malam ke tempat seperti itu? Dan mereka juga yang pertama kali menemukan mayat Kang Gilroo. Jadi mereka memang mempunyai kewajiban menjadi saksi, setidaknya.

"Baiklah. Kyuhyun-ssi, Changmin-ssi. Sekarang kalian boleh pulang. Kalian pasti sangat lelah semalaman tidak tidur, dan harus berada di kantor polisi." Yesung menatap miris kedua namja tampan di hadapannya.

"Terimakasih kepala polisi Kim." ucap Kyuhyun dan juga Changmin bersamaan.

"Panggil saja saya Yesung ahjussi, bukankah kalian teman Sungmin juga?"

"Aah ne… Kalau begitu kami pamit. A..Ahjussi, Sungmin-ssi." ucap Kyuhyun sedikit gugup dengan panggilan "Ahjussi" untuk Yesung sambil menunduk hormat yang diikuti Changmin disampingnya.

"Ne.." ucap Sungmin pelan. Sangat terlihat jelas kalau dia belum merasa tenang. Namun walaupun begitu dia masih sanggup untuk mengantar keduanya -Kyuhyun+Changmin- sampai ke depan pintu ruangan tersebut.

.

"Hyung, kalian sudah akan pulang? Benarkan kalau kalian tidak bersalah?" Donghae yang baru saja tiba, berucap riang pada Changmin dan Kyuhyun yang belum berjalan jauh dari ruang Introgasi. Bahkan Sungmin masih bisa mendengar pembicaraan mereka.

"Seperti dugaanmu. Detective Kim" ucap Changmin dengan membalas senyuman tampan namja yang jauh lebih pendek darinya itu.

"Aah hyung. Ini kunci mobilmu. Mianhae, dengan terpaksa aku harus memeriksa mobilmu." namja pecinta ikan itu menyerahkan kunci kearah Kyuhyun.

"Tidak apa-apa Hae-ya. Kau sudah bekerja keras hari ini." tangan sebelah kiri Kyuhyun mengacak sayang surai hitam Donghae, sedangkan tangan sebelah kanannya menerima benda yang Donghae sodorkan.

"Baiklah, kami pulang dulu Donghae-ya, sampai bertemu lagi."

"Ne. Hati-hati di jalan hyung.." setelah keduanya berlalu, Donghae masih berdiri di tempatnya melihat kepergian dua namja yang lebih tua darinya itu dengan tatapan yang teramat sulit untuk diartikan.

.

.

*KYUMIN*

.

.

Sungmin memilih untuk menyendiri di bangku taman yang tak jauh dari kantor polisi. tatapannya kosong, hatinya masih belum puas dengan apa yang dia dapatkan hari ini.

"Apa yang kau pikirkan Minnie-ya?" sambil mendudukan dirinya di samping namja cantik yang terlihat merenung itu, Yesung menyodorkan segelas coffe hangat ke hadapannya.

"Gomawo ahjussi." Sungmin menerima gelas yang disodorkan Yesung. Sesaat, dia menghela nafas berat dan sesak. "Ahjussi, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan." Lanjutnya.

"Bicaralah. Ada apa?"

"Kau tahu ahjussi? kenapa aku bisa menemukan Kang ahjussi? Sebelum kejadian, dia menghubungiku."

"Eh?"

"Ya. Dia menghubungiku. Dan memintaku untuk bertemu dengannya di tempat itu" Sungmin tertunduk, hatinya makin sakit kalau mengingat kunci yang dia cari selama ini kini telah tiada.

"Apa dia mengatakan hal lain selain memintamu untuk bertemu?"

Yesung menatap sendu namja cantik yang telah dia anggap sebagai anaknya sendiri itu. Perlahan, tangan kekar sang kepala polisi itu terangkat untuk mengelus punggung sempit Sungmin sayang. Berharap dapat menenangkannya.

"Kau tahu Minnie? Aku sangat menyayangimu. Kalau ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, aku siap mendengarkan semua keluh kesahmu."

Sejenak Sungmin masih diam. Hingga dia mengangkat wajahnya dan memberikan senyuman tulus pada namja paruh baya disampingnya.

"Dan kau juga pasti tahu ahjussi, kalau aku lebih menyayangimu."

Keduanya tersenyum. Sungmin meneguk coffe dalam gelasnya sejenak, menghirup aroma khas yang tercium hidung bangirnya. Hatinya kembali tenang. Yesung memang orang kepercayaan sekaligus termasuk salah satu orang yang Sungmin sangat sayangi. Sejak dulu, Yesung yang selalu menggantikan sosok appanya, Kangin. Kalau Kangin sedang tak berada di sisinya.

"Ahjussi.." panggilnya.

"Emm? Bicaralah.. "Yesung beralih mengusap rambut Sungmin sayang.

"Sebenarnya kemarin Kang ahjussi mengatakan sesuatu."

Yesung memilih diam menunggu Sungmin berucap kembali.

"Dia bilang, ada yang ingin dia katakana mengenai.. Guixian."

Sungmin kembali diam. Mengucapkan satu nama itu terasa berat dan terasa sakit.

"Benarkah?"

"Ne.. Ahjussi, apakah kematian Kang ahjussi ada kaitannya dengan insiden 17 tahun yang lalu?" kini Sungmin menatap Yesung dalam.

"Semuanya masih belum pasti Sungmin-ah."

"Ahjussi, bisakah kasus 17 tahun lalu kembali di buka secara resmi? bukankah kau yakin kalau itu bukan kasus perampokan?" Sungmin menatap Yesung penuh harap.

"Itu kasus sudah lama sekali Sungmin-ah, akan sangat sulit kalau kita membukanya secara resmi. Untuk saat ini, kita lakukan seperti ini saja. Masih diam-diam. Kalau ada kemajuan, aku akan mengusahakannya agar kasus ini di buka kembali secara resmi."

"Ne. Aku mengerti ahjussi."

Kini giliran Yesung yang terdiam. Diapun mempunyai kecemasan yang sama dengan Sungmin. Namun dia masih bisa menjaga kecemasannya agar tak terlalu terlihat dan membuat Sungmin makin drop.

"Kau jangan terlalu khawatir Sungmin-ah. Aku akan berusaha semampuku untuk memecahkan teka-teki ini."

"Gomawo ahjussi.." kini tubuh mungil Sungmin telah meringkuk(?) nyaman dalam dekapan hangat sang kepala polisi yang mengusap punggungnya sayang.

.

.

"Yyaa! Kalian berdua seperti anak dan ayah saja. Appa! Sebenarnya anak appa itu aku atau Sungmin hyung?" Suara sexy seorang Kim Donghae memecah kemesraan antara kedua namja di bangku taman tersebut.

"Aku anaknya. Hae-ya.. Kau mungkin anak tetangga yang nyasar kerumah Yesung ahjussi." dengan sedikit bercanda, Sungmin membetulkan posisi duduknya yang kini sudah terlepas dari dekapan Yesung.

"Yyaa! tega sekali kau hyung!"

"Sudahlah.. Hae-ya, kau antar hyungmu pulang. Appa khawatir dia tak bisa menyetir dengan baik." tak ingin terjadi pertumpahan darah *Abaikan*, Yesungpun menengahi perdebatan kekanakan mereka.

"Itu justru membuatnya senang ahjussi. Dengan begitu dia bisa bertemu dengan kekasih aktifnya." Sungmin masih menggoda Donghae yang kini sedang senyum-senyum mesum membayangkan sang kekasih.

"Lihatkan ahjussi, wajahnya sudah mesum begitu." lanjutnya.

"Kalian ini. Sudahlah. Sekarang kan libur, kalian istirahat sana. Jangan keluyuran diluar. Semalam kalian tidak tidur. Dan kau, Hae-ya! kalau kau mau istirahat di tempat Sungmin, istirahat yang benar. Jangan " Yesung menatap sang anak dengan menekankan kata di akhir untuknya. Sedangkan Donghae hanya dapat mencibir perkataan ayah berkepala besarnya. Dia tahu apa maksud ayahnya dengan 'Macam-Macam' itu.

Sungmin hanya terkikik geli melihat wajah Donghae yang menahan kesal sekaligus malu yang kini menekuk wajahnya yang sudah memerah bak kepiting rebus.

.

.

*KYUMIN*

.

.

Skip Time…

Sungmin memasuki Apartmentnya dengan lesu, setelah berpamitan pada Donghae, dia menuju kamarnya.

"Kalian baru pulang? Apakah semalaman kalian tidak tidur?" Eunhyuk mengambil sebotol air dari lemari pendingin kemudian menghampiri Donghae yang masih berdiri memandang pintu kamar Sungmin yang sudah tertutup rapat.

"Kau benar chagi.." setelah mengecup sekilas bibir sang kekasih, Donghae melangkah menuju kamar Eunhyuk yang belum dibereskan sama sekali. Dia bisa menebak, pasti Eunhyuk baru bangun.

"Yyaa! kau akan tidur disini?" Eunhyuk menatap heran Donghae dari pintu kamarnya.

Setelah membuka jaketnya, namja pecinta ikan itu langsung merebahkan diri pada kasur empuk di kamar sang kekasih. Matanya terpejam untuk menghirup aroma kekasihnya yang selalu menenangkan hati.

"Aku lelah sekali. Aku ingin beristirahat di sini. Kemarilah." ucap Donghae saat membuka mata dan menatap Eunhyuk yang masih berdiri di pintu kamar. Tangan Donghae melambai mengisyaratkan agar sang empu kamar untuk ikut berbaring dengannya.

"Tapi aku baru saja bangun sayang.." Enhyuk mendekat kearah ranjang kemudian berdiri di samping Donghae dan sedikit mencondongkan badannya untuk mengecup bibir sexy kekasihnya sekilas.

"Tak apa-apa. Temani saja aku berbaring. Kajja" Donghae menarik tangan namja manis itu yang membuat Eunhyuk langsung berbaring di sampingnya.

"Hari ini aku sangat lelah" Donghae membenamkan wajahnya pada perpotongan leher Eunhyuk. Menghirup dalam aroma khas yang dengan cepat menguar dari namja dalam pelukannya.

"Apakah kasus kali ini benar-benar berat?" Dengan balas memeluk sang kekasih, Eunhyuk membenarkann posisi tidurnya agar namja pecinta ikan itu merasa nyaman. Dia tahu, pasti kekasihnya itu sedang mengalami masa-masa yang sangat sulit.

Dengan sayang, telapak tangan Eunhyuk menepuk-nepuk pelan punggung sang kekasih berharap dapat memberikan ketenangan dan sedikit kekuatan.

"Emm.. Aku sangat lelah. Lelah sekali.." ucap Donghae semakin mengeratkan pelukannya, seolah dia tak ingin terpisah dari namja manis itu walau sedetikpun. Batin dan pikirannya benar-benar lelah, lelah untuk menerima kebenaran yang baru saja dia temukan.

.

.

.

Sementara itu di kamar lain dalam Apartment tersebut..

Sungmin menatap siluet tampan -namja belia yang baru berumur 10 tahun kala itu- di dalam pigura yang selama ini selalu menemaninya.

"Xiannie, kenapa semuanya begitu sulit? Ini sangat menyakitkan. Bantu aku Xiannie. Bantu aku untuk menemukan kebenarannya." jemari lentik Sungmin mengusap pigura di tangannya dengan gemetar, hatinya kembali sakit. Setiap dia kembali seorang diri, hatinya selalu sakit. Kenyataan pahit selalu menghantuinya.

"Xiannie, aku tahu. Kau pasti tak akan pernah meninggalkanku. Kau sudah berjanji akan selalu berada disisiku. Ku mohon, bantu aku."

Hikz,,

Isakan yang kesekian kalinya lolos dari bibir shap-m itu. Dengan kasar, Sungmin kembali menghapus jejak-jejak air mata yang mengotori pipi mulusnya. Pukulan-pukulan kecil tak pernah berhenti tepat pada dadanya yang semakin sesak.

Drrrtt…. Drrrttt….

Tangan bergetar Sungmin meraih ponsel yang tergeletak di meja nakas di samping ranjangnya. Dengan kembali menyeka air mata yang masih berdesakan di sudut matanya, Sungmin mengangkat panggilan tersebut. Dia berdehem sejenak, untuk menstabilkan suaranya.

"Yeoboseo"

"Sungmin-ah, gwaenchanna?" ucap di sebrang –yang ternyata Jungmo- khawatir. Sepertinya dia menyadari adanya perubahan pada suara namja cantiknya itu.

"Gwaenchanna. Jungmo-ya.. "

"Apa kau sakit? Kau sepertinya tidak baik. Apa aku perlu kesana sekarang?"

"Aku baik-baik saja. Jangan terlalu khawatir. Aku hanya sedikit lelah."

"Apa ada kasus yang sangat serius?"

"Tidak. Hanya saja, semalam kami harus bekerja ekstra. Hanya satu kasus pembunuhan."

"Apa kau yakin baik-baik saja? Atau aku kesana sekarang?"

"Tak usak khawatir Jungmo-ya. Kau ingat? Ada Dokter Hyukjae di sini. Kalau aku sakit, dia akan sangat tanggap menanganinya. Aku hanya sedikit lelah. Hanya dengan istirahat sebentar, semuanya akan baik. "

"Kau yakin?"

"Tentu saja. Jangan khawatir."

"Baiklah kalau begitu, kau istirahat saja. Besok aku akan menemuimu."

"Ne.."

Saat sambungan terputus, kristal bening kembali mengalir deras menuruni pipi mulus Sungmin.

"Mianhae Jungmo-ya.."

Sungmin bukannya tak menyadari betapa besar cinta Jungmo untuknya, bahkan dia paling tahu dari siapapun, bagaimana perhatiannya Jungmo selama ini. Namun dia juga tak bisa membohongi perasaanya, dia belum bisa melupakan Cinta masa lalunya, Jungmo tak bisa menggantikan posisi Guixian di hatinya. "Mianhae Jungmo-ya, jeongmal Mianhae…"

Hanya kata-kata maaf yang selalu keluar untuk namja yang kini bersetatus sebagai tunangannya itu.

.

.

*KYUMIN*

.

.

Dua minggu setelah hari ulang tahun Sungmin…

Hari ini adalah hari peringatan meninggalnya Leeteuk sang eomma.

Untuk kedua kalinya -setelah perayaan ulangtahunnya dua minggu yang lalu-, Sungmin melangkahkan kakinya di tempat ini.

Atap gedung Hotel milik keluarganya.

Sungmin berdiri memandang lurus kedepan dengan tatapan kosong. Air mata seolah telah lelah keluar dari manik indahnya. Meskipun tak ada kristal bening yang menetes dari kedua manic rubah tersebut, namun helaan nafas beserta cengkraman kuat pada dadanya seolah dapat menjawab, kalau namja cantik itu tengah merasa sesak dan sakit.

.

"Sungmin-ssi?" Sungmin menolehkan kepala pada asal suara.

"Kyuhyun-ssi?"

Dan lagi-lagi, untuk kedua kalinya mereka bertemu di tempat tersebut.

"Ini kedua kalinya kita bertemu di tempat ini." Kyuhyun mengamati raut namja cantik di hadapannya. Terlihat jelas kesedihan tengah menyelimuti wajah polos tersebut.

"Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" lanjut Kyuhyun. Dia tak ingin berpura-pura tak mempedulikan raut sedih Sungmin kali ini.

"Kau benar Kyuhyun-ssi, ini kedua kalinya kita bertemu di tempat ini. Dan kau selalu mendapati aku yang sedang dalam kondisi rapuhku."

"Apa aku bisa mendengarkan sedikit ceritamu? Kau tahu? orang bilang cara yang paling ampuh untuk membuat hati lega itu dengan membagi masalahmu dengan orang terdekatmu."

"Tapi kita tidak dekat. Bahkan seharusnya aku menghormatimu sebagai kolega terpenting di Hotel kami."

Kyuhyun tersenyum mendengar ucapan Sungmin. "Bukankah sudah ku bilang, jangan bersikap seperti itu. Usia kita tak jauh beda. Kita bisa berteman?" ucapnya dengan senyum tulus terukir di bibir tebal nan sexy itu.

"Dan sepertinya memang begitu. Sejak awal bertemu, kau sudah melihat kelemahanku Kyuhyun-ssi. Sebenarnya aku sangat malu harus memperlihatkan kelemahanku yang selalu aku sembunyikan dari siapapun."

"Tak usah malu. Kita sudah berteman bukan? Emm?"

Sungmin menatap namja yang lebih tinggi darinya itu. Bibirnya perlahan mengukir senyum, walau masih samar.

.

Keduanya terdiam..

Setelah beberapa saat, Sungmin mulai bersuara. "Sebenarnya… Hari ini adalah peringatan meninggalnya eomma." bisiknya. Namun Kyuhyun dapat mendengar bisikan tersebut dengan jelas.

"Oh.. Mian Sungmin-ssi." ucapnya menyesal.

"Gwaenchanna. Dan hari ini juga bertepatan dengan hari peringatan meninggalnya kedua orangtua Eunhyukkie."

"Ne?"

"Aahh.. Kau belum tahu rupanya. Eunhyuk bukan adik kandungku. Kedua orang tuanya telah meninggal."

Kyuhyun menganggukan kepalanya beberapa kali pertanda mengerti.

"Dan juga…" Sungmin terdiam sebentar. Kyuhyun menunggu apa yang akan Sungmin katakan selanjutnya.

"Bertepatan dengan hari ini, aku kehilangan seseorang yang sangat berharga." Sungmin menatap Kyuhyun sejenak, sebelum akhirnya kembali bersuara

" Dan di tempat ini.. Kami bertemu untuk yang terakhir kalinya." pandangan keduanya bertemu. Sungmin menatap Kyuhyun tepat pada obsidian menawannya. Sementara Kyuhyun, seolah dapat merasakan apa yang Sungmin rasakan, hatinya sakit. Entahlah, perasaan macam apa yang dia rasakan saat ini.

DEG….

Lagi-lagi jantung Sungmin seakan di pompa dengan kecepatan tinggi kala tatapan mereka bertemu. Ada perasaan hangat yang menjalar tepat pada jantungnya yang terdalam.

.

.

.

Atap Gedung Hotel 1997

Malam itu, tepat dua minggu setelah perayaan ulang tahun Sungmin dan Guixian.

Sungmin lagi-lagi mengusap kristal bening yang jatuh menghiasi pipinya. Sesekali isakan kecil terdengar dari bibirnya yang tipis.

.

"Miiiing…" Guixian berlari kearah Sungmin berdiri.

"Aku tahu, kau pasti disini." Sungmin tak menoleh ataupun mempedulikan Guixian yang saat ini tengah berdiri disampingnya.

Yah, Atap gedung Hotel merupakan tempat favorit keduanya. Setiap hari, setiap mereka pulang sekolah pasti mereka akan ke tempat itu hingga larut malam dan pulang bersama kedua ayah mereka. Atap gedung Hotel itu bagaikan rumah kedua untuk mereka. Bahkan kalau ada salah satu diantara mereka yang sedang merajuk atau bersedih seperti Sungmin saat ini, tak usah pusing mencari, karena di Atap gedung itulah mereka bisa ditemukan.

"Aku rindu eomma.." ucap Sungmin akhirnya. Guixian tahu, hari ini adalah peringatan meninggalnya eomma Sungmin. Dan Sungmin yang memang tidak pernah tahu paras sang eomma, pasti akan seperti ini setiap tahunnya. Bahkan tak jarang Sungmin selalu menyalahkan dirinya sendiri atas kematian sang eomma. Guixian merengkuh bahu Sungmin dan mendekapnya dengan hangat.

"Ming, kau lihat kesana." tunjuk Guixian pada bintang yang bertebaran dilangit luas. Sungmin mengikuti arah yang Guixian tunjuk.

"Kalau kau merindukan seseorang, tataplah langit beserta bintang." Sungmin menoleh pada Guixian sebelum akhirnya Guixian melanjutkan. "Eommamu ada di atas sana."

Guixian ikut menoleh kearah Sungmin dan memberikan senyuman hangat sebagai penyemangat untuk namja cantik yang tengah rapuh itu.

"Bagaimana kalau aku merindukanmu?" Tanya Sungmin kemudian

"Kau juga hanya perlu menatap langit dan bintang, karena dimanapun kita berada, kita hanya akan menatap langit yang sama. Dan kita akan merasa dekat" Guixian kembali menatap langit yang diikuti oleh Sungmin.

"Tapi kita tak akan pernah berpisah jauh. Aku akan selalu ada disisimu" lanjut Guixian tanpa mengalihkan pandangannya dari langit malam.

"Kalau kita terpisah, bagaimana?"

Guixian menatap wajah polos di sampingnya. Dan dengan yakin, dia berkata.

"Aku akan menemukanmu, dimanapun kau berada Ming."

"Kau janji?" Sungmin kembali mengalihkan pandangannya menghadap Guixian dan menyodorkan jari kelingking imutnya.

"Emm! Aku janji!" Guixian menyambut jari kelingking Sungmin, mengaitkan jari kelingking keduanya. Seolah mengikat janji suci diantara mereka.

.

"Kemarilah Ming" Guixian menarik tangan Sungmin dan membawanya kebangku kayu yang terdapat di sana.

Guixian membaringkan tubuhnya di sana dengan kedua tangan yang terlentang. "Tidurlah disini " ucapnya menepuk lengan sebelah kiri. Sungmin yang mengerti maksud Guixian ikut berbaring disebelahnya dengan lengan namja tampan itu sebagai bantal.

Lama mereka terdiam dalam posisi seperti itu. Meskipun mereka saat ini baru menginjak Umur 10 tahun, namun hati mereka selalu berdebar kala bersama, dan mereka menyadari itu. Mereka menyadari kalau mereka saling tertarik, mungkin terlalu dini menamakan ini sebagai Cinta. Tapi perasaan tak bisa dibohongi, mereka saling membutuhkan, mereka selalu merindukan satu sama lain saat tak bertemu walau hanya satu hari.

"Xiannie.." akhirnya Sungmin memecah keheningan diantara mereka.

"Hmmm.." jawab Guixian tanpa mengalihkan pandangannya dari langit dan bintang yang makin terlihat indah kala mereka melihatnya dalam posisi seperti itu.

"Aku ingin kita terus seperti ini" lirih Sungmin "Aku takut kita terpisah" lanjutnya.

Guixian mengganti posisinya dari terlentang jadi menyamping dan menghadap Sungmin. Tangan sebelah kanannya yang bebas, dia beranikan untuk memeluk tubuh mungil di sampingnya.

"Bukankah aku sudah janji? Dimanapun kau berada aku akan menemukanmu Ming." Guixian makin mengeratkan pelukannya yang kini dibalas oleh Sungmin yang makin menyusupkan kepalanya lebih dalam pada dada Guixian.

.

.

.

" Xiannie.." suara seseorang menginterupsi kegiatan mereka. keduanya serempak menoleh keasal suara. Yang ternyata Cho Hangeng.

"Appa?" Guixian bangkit dari posisi tidurnya, beruntung saat itu mereka hanya tidur bersebelahan, tidak dalam posisi berpelukan seperti beberapa saat lalu.

"Kemarilah sebentar" Hangeng melambaikan tangan kearah Guixian sebagai isyarat agar anaknya segera datang.

"Chamkamman. Ming" Guixian memandang Sungmin sebelum menghampiri Ayahnya yang di angguki Sungmin.

.

"Waeo Appa?"

Hangeng menarik Guixian sedikit menjauh. "Xiannie, apakah appa bisa mempercayaimu?"

Hangeng menolehkan kepala melihat Sungmin yang saat ini tengah kembali memandang langit malam.

"N.. Ne.. Appa." Guixian yang masih bingung dengan sikap sang ayah, hanya dapat mengangguk ragu.

"Xiannie, bawa ini bersamamu. Sekarang juga! simpan di tempat yang menurutmu paling aman" Hangeng menyerahkan amplop coklat besar -yang berisi berkas penting-. Itulah yang sekiranya dipikirkan Guixian.

"Appa.. Ige mwoya?" Guixian menatap sang appa semakin bingung.

"Berjanjilah Xiannie, sekarang juga simpan ini di tempat yang menurutmu paling aman." Hangeng memasukan berkas tersebut kedalam tas Guixian.

"Xiannie, berangkatlah sekarang juga. Simpan benda itu baik-baik. Appa mempercayaimu anakku."

"Appa…"

"Berjanji pada Appa, jangan sampai ini jatuh pada tangan siapapun. Kau harus menyimpannya sendiri. Appa percaya padamu."

"Appa.." Guixian mengerutkan kening. Apa yang sebenarnya terjadi? dia tak pernah melihat ayahnya se serius ini sebelumnya.

"Cho Guixian, kebanggan Appa. Appa menyayangimu. Sangat menyayangimu.."

"N.. Nado. Appa.."

Hangeng memeluk Guixian erat seolah itu adalah pertemuan terakhir keduanya. Guixian yang masih bingung dengan sikap Appanya hanya membalas pelukan sang ayah tak mengerti. 'Apa yang sebenarnya terjadi?' pertanyaan itu yang kini terus-terusan berkecamuk di dalam hatinya.

.

Setelah sang Appa meninggalkannya, Guixian kembali menghampiri Sungmin.

"Ming, sepertinya aku harus pulang sekarang. Apa kau akan ikut pulang bersamaku?" Ajak Guixian kemudian.

"Apa terjadi sesuatu? Xiannie?" Sungmin menangkap kebingungan di raut tampan Guixian.

"Entahlah. Tapi semoga saja semuanya baik-baik saja. Apa kau akan pulang bersamaku sekarang?"

"Aku akan menunggu appa saja Xiannie."

"Baiklah. Aku pulang duluan. Ne?"

Guixian bersiap meninggalkan Sungmin. Namun, baru 2 langkah Guixian berbalik dan memeluk tubuh Sungmin erat. Entah apa yang membuatnya berpikir untuk melakukan hal itu. Dia hanya merasa hatinya sedikit tak tenang. Entah karena apa, dia merasa takut. Namun dia tak tahu apa yang dia takutkan. Guixian hanya ingin merasakan dekapan hangat Sungmin sebelum dirinya pulang. Dia memeluk Sungmin makin erat seolah tak ingin jauh dari namja mungil itu barang sedikitpun. Sungmin pun merasakan hal yang sama, maka dia memeluk Guixian lebih erat.

Mereka seolah dapat merasakan, kalau itu adalah pertemuan terakhir keduanya.

.

.

.

"Hyuuuung.." Teriakan cempreng Eunhyuk mampir di telinga Kyuhyun dan juga Sungmin.

"Hah.. Ternyata kau ada disini. Aku mencarimu kemana-mana. Kau pergi sejak pagi. Aku mengkhawatirkanmu. Dan sekarang, aku menemukanmu di tempat ini. Apa kau baik-baik saja Hyung? " perkataan beserta pertanyaan Eunhyuk yang bertubi-tubi mengalihkan perhatian Kyuhyun dan juga Sungmin yang masih saling menatap.

"Eunhyuk-ah, kau terlalu berlebihan." Sungmin mengacak gemas surai pirang sang adik.

"Eh? Kyuhyun Hyung, kau disini juga?" Eunhyuk yang menyadari bahwa hyung cantiknya tidak sendiri, membungkuk hormat pada namja tampan yang kini tersenyum hangat kearahnya.

Kyuhyun hanya mengangguk dan mengikuti jejak Sungmin tadi -mengacak gemas surai pirai Eunhyuk-. yang kini sukses membuat namja aktif itu membenarkan tatanan rambutnya sambil mengerucutkan bibir kesal atas ulah kedua namja yang lebih tua darinya itu.

"Sudahlah. Kau kemari untuk menjemputku bukan?"

"Aah iya. Yesung Abbeonnim sudah menunggu. Kajja." ucapnya dengan menggandeng Sungmin.

"Kyuhyun-ssi, maaf kami harus pergi. Dan terimakasih sudah mau mendengarkan cerita membosankanku." Sungmin kembali mengalihkan fokusnya pada namja tampan yang masih berdiri di antara mereka.

"Ne.. Jangan sungkan Sungmin-ssi. Pergilah, Yesung ahjussi pasti sudah menunggu."

"Hyung, kami pergi dulu. Annyeong.." Kini giliran Eunhyuk yang pamit.

"Ne. Eunhyuk-ah.."

.

Kyuhyun memandang kedua punggung dihadapannya yang semakin jauh. Sampai menghilang dibalik pintu kokoh atap gedung tersebut, tatapannya berubah sendu. Senyum indah di bibir tebalnya samar-samar menghilang di gantikan dengan raut wajah yang sangat sulit diartikan.

.

.

*KYUMIN*

.

.

"Bagus! Kalian telah bekerja keras. Kalian tidak meninggalkan jejak sedikitpun bukan?"

"Tentu saja. Semuanya beres Tuan. Tapi Tuan, ada sesuatu.."

"Apa?"

"Sepertinya Kang Gilroo menyembunyikan sesuatu. Kami sempat menyadap teleponnya. Dia menghubungi Detective Lee dan menyebutkan soal Guixian."

"Detective Lee? Lee Sungmin? tentang Guixian? Lalu, apa kalian berhasil mengetahuinya juga?"

"Jeossohamnida Tuan.."

"BODOH! Kenapa kalian tak membuatnya bicara?"

"Jeossohamnida Tuan. Saat kami akan mendekatinya, kami mendengar suara berisik dari luar. Karena gugup, kami langsung membunuhnya."

"Daras BODOH!"

Braakk…

Plak,,,

Plak,,,,

.

.

.

_T.B.C_

.

.

.

Hoaaaammmm…. #Nguap

kayanya ini Chapter yang paling panjang sepanjang sejarah FF ini terbentuk. *AlayDeh*

Mian kalo membosankan pemirsaah.. gx tau kenapa, si ilham lancar banget waktu nulis ini..

Dan bagi yang meminta Thank You, sabar yaaa… si ilham sedang tidak bersahabat dengan FF yang satu itu. Susah bgt idenya..

tapi tenang saja, sayyah usahakan update secepatnya setelah ini.. ^^

*Kritik, saran yang membangun sayyah terima dengan lapang dada. apalagi kalo ada yang bersedia memberitahu letak typo yang tak bisa lepas dari diri sayyah. Cuma, untuk typo fatal di chapter kemarin, sayyah belum bisa perbaiki. coz, FFN belum bisa kebuka juga di Lappy. ini sayyah masih update via HP. hikz… TT_TT

*Buat yang sudah Review di chapter kemarin, jeongmal gomawoooooo…. #KissHugAtu2

Review lagi di chapter ini yaa.. biar sayyah makin semangat.. *Kedip2

Ayo ripiuuuuuuuuuu….

Calanghaeeeeee…. :*