~~…PERHAPS YOU…~~

.

.

KYUMIN

Slight. JungMin

EunHae

And Other…

.

.

Rate : T to M

Genre : Hurt/Comfort, Crime, Romance

Disclimer : Lee Sungmin dan Cho Kyuhyun milik Tuhan

YME, keluarga mereka dan milik diri mereka sendiri,

namun mereka saling memiliki. dan FF abal ini murni

100% Milik saya…!

- WARNING! YAOI, OOC, Abal, GAJE, EYD amburadul

dan Typo dimana-mana

-review di tunggu!-

Don't Like? Don't Read…!

Don't COPAS… !

.

.

Happy Reading…. ^^

.

.

Chapter 6

.

.

Donghae, namja pecinta ikan itu kembali mengeratkan pelukannya pada tubuh kurus sang kekasih yang bergetar hebat. Meskipun tidak ada isakan dan air mata, namun dia tahu bahwa sang kekasih tengah menangis dalam diamnya.

Eunhyuk, kekasih aktifnya memang selalu pintar menyembunyikan air mata. Tak ingin membuat orang merasa khawatir akan dirinya. Meskipun dengan diamnya dia yang menahan tangis justru lebih membuat orang-orang yang menyayanginya semakin khawatir.

Seperti biasa, setiap tahun. Setiap hari peringatan keluarganya yang telah meninggal, Eunhyuk selalu menginap di rumah keluarga Kim -Rumah Donghae-. Hanya di sini lah dia bisa menumpahkan semua kesedihannya, dan hanya keluarga ini juga lah yang selalu menemani di saat-saat waktu terpuruknya. Yesung dan juga Ryeowook yang merupakan orang tua kandung sang kekasih sudah menganggapnya sebagai anak sendiri, begitupun dirinya. Sejak kecil, sejak dari 17 tahun lalu, saat dia kehilangan seluruh keluarganya, hanya keluarga ini lah yang dengan sabar selalu menemani, mengurus, dan membesarkannya hingga dia seperti sekarang ini. Adapun Sungmin yang telah dia anggap sebagai kakak kandungnya sendiri, setiap hari peringatan tiba dia tak berani berada di sampingnya. Bukan apa-apa, dia tahu, Sungminpun sama terpuruknya.

Eunhyuk yang selalu bersikap tegar, namun di hari peringatan dia selalu tak bisa menyembunyikan kesakitannya. Oleh sebab itu, dia memilih untuk berada di tengah-tengah keluarga Kim daripada harus membuat Sungmin semakin terpuruk karena melihat dirinya yang sama-sama rapuh. Dalam keluarga inilah Eunhyuk bisa tenang. Dekapan sang kekasih selalu membuat dia kembali kuat.

Ah ani! Sepertinya, setiap hari peringatan yang dia butuhkan bukan Donghae. Karena sampai detik inipun dia masih menahan tangis dengan tubuh bergetarnya. Setiap hari ini tiba dia selalu membutuhkan pelukan hangat dari seseorang yang telah dia anggap sebagai ayah. Seseorang yang selama ini menggantikan sosok ayah untuknya.

"Hae-ya, biar appa yang menemani Hyukkie. Kau tidur di kamar tamu dulu. Ne?"

Dialah orangnya. Yesung. Ayah Donghae yang sudah seperti ayah kandung sendiri untuknya.

Dan terbukti. Saat Donghae menganggukan kepala kepada sang ayah yang di susul dengan bisikan menenangkan seperti "Aku selalu ada di sampingmu" kemudian mengecup pucuk kepala Eunhyuk sayang sebelum meninggalkannya, kini namja yang selalu terlihat aktif itu sangat nyaman berada dalam dekapan namja paruh baya di sampingnya.

Perlahan namun pasti, krystal bening itu tumpah memenuhi pipi tirusnya. Sangat berbeda jauh kala dirinya berada dalam pelukan Donghae beberapa saat lalu yang terus berusaha menahan lelehan bening yang kini telah sukses membanjiri pelupuk matanya yang terpejam.

"Menangislah chagii.. Itu akan membuatmu merasa lega. Jangan menahannya." Bisik Yesung seraya mengusap punggung kekasih putranya dengan sayang. Demi tuhan! Dia juga merasa sakit.

Eunhyuk semakin menenggelamkan kepalanya pada dada bidang sang kepala Polisi. Setiap tahun, memang Yesunglah yang selalu bisa menenangkan getaran-getaran dalam tubuhnya. Hanya Yesung yang dapat menenangkan hatinya. Yesung merupakan pengganti Hangeng untuknya. Dan Yesungpun memang bertekad dalam hati kalau dia yang akan menggantikan orangtua namja rapuh yang kini tengah menumpahkan seluruh air mata di dalam dekapannya itu.

"Abbeonim di sini chagi.. Tenanglah."

Kata-kata menenangkan beserta dekapan hangat dan elusan sayang di punggung Eunhyuk selalu Yesung berikan.

Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir mungil Eunhyuk. Hanya isakan dan isakan lah yang menghiasi indra pendengaran sang kepala Polisi. Dia tak mempermasalahkannya, yang terpenting namja kecil dalam dekapannya sekarang ini merasa tenang.

.

Satu jam Yesung dalam posisinya -mendekap erat Eunhyuk yang meringkuk dalam pelukannya-, kini dia merasakan nafas teratur dari dalam dekapannya. Dan dapat dia pastikan kalau saat ini Eunhyuk tengah jatuh tertidur. Mungkin karena terlalu cape menangis membuat Eunhyuk tidur dengan air mata yang masih menggenangi pipi putihnya.

Dengan pelan, Yesung menggerakan ibu jarinya untuk menyeka lelehan air mata yang dengan beraninya mengotori pipi halus Eunhyuk.

Sapuan-sapuan kecil ibu jarinya terhenti. Kini jemarinya terkepal kala menatap wajah namja bergumy smile di hadapannya. Hatinya bergemuruh kuat setiap melihat wajah terluka Eunhyuk.

Sampai kapan dia akan terus merasakan hal seperti ini? Perasaan bersalah yang teramat sangat besar selalu mengganjal di hatinya. Pangkat kepala Polisi yang selalu orang lain banggakan dan hormati serasa tak ada gunanya di hadapan namja kecil itu. Dia merasa berdosa, amat sangat berdosa. Dia sangat malu dengan pangkatnya saat ini. Kepala Polisi!? Cih.. Kepala Polisi macam apa yang tak berani mengambil resiko untuk mengungkapkan semuanya?

Mengungkapkan semuanya? Ya! Mengungkapkan semua kebenarannya yang jelas-jelas dia ketahui. Dan lagi-lagi hanya sebuah bukti dan fakta lah yang selalu menjadi patokannya dalam mengubur rapat-rapat kebenaran tersebut. Dia memang Polisi yang cerdas. Maka dari itu pangkat kepala Polisi tersemat di dirinya. Dan karena kecerdasan itulah dirinya menjadi pendosa besar. Seorang pendosa yang tak bisa berbicara walaupun tahu kebenarannya.

.

.

.

1997

Malam kejadian..

Yesung dan juga Ryeowook sang istri tengah asik tertawa melihat putra kecil mereka Donghae yang selalu menggoda Eunhyuk di sampingnya. Terkadang bocah lima tahun yang mempunyai senyum ciri khas itu mengerucutkan bibirnya kesal, terkadang dia juga meminta pertolongan kepada orang dewasa -yakni YeWook- jika merasa kewalahan menghadapi sifat jahil Donghae.

Kring… Kring… Kring…

Bunyi telepon di rumah yang penuh suka cita itu menginterupsi kegiatan orangtua dan para bocah yang masih asik dalam candanya.

Donghae dan juga Eunhyuk hanya beberapa detik menghentikan aksinya kala deringan telepon itu berbunyi. Dan detik berikutnya mereka kembali membuat Ryeowook yang masih menemani mereka merasa pusing karena melihat tingkah lucu keduanya.

Sedangkan Yesung, dengan sedikit malas karena harus kehilangan moment dua bocah lucu itu, memutuskan untuk beranjak dan menerima panggilan tetepon yang menurutnya sangat mengganggu.

"Yeob-"

"…"

Belum juga Yesung merampungkan kata-katanya, seseorang di sebrang telepon menginterupsinya dengan terburu-buru.

"Ada apa? Tenanglah. Katakan sesuatu!"

"…"

"Siapa? Siapa yang kau maksudkan?"

"…"

"MWO? Iya. Eunhyuk ada di sini. Kau sekarang di mana?"

"…"

"Jangan takut. Aku akan segera kesana. Jangan keluar dari persembunyianmu. Tunggu ak- YYAA!"

"…"

"Apa dia menemukanmu? YYa! Kau sedang berlari? Aku akan segera kesana! Tunggu aku. Tetaplah berlari untuk menghindarinya. Aku kesana seka-"

"Aaaaaaaaaaaaaakkkkhhhhh…."

"Y.. Yeoboseo? YEOBSEO! APA YANG TERJADI? KATAKAN SESUATU! JANGAN MEMBUATKU TAKUT! YEOBSEOOO..! YYAA! BICARALAH!"

Tuuuutt… Tuuuut..

Sambungan terputus. Dan seketika itu juga tubuhnya bergetar hebat. Jemari yang menggenggam teleponnya seakan tak bernyawa lagi hingga menimbulkan telepon rumah yang masih di pegangnya jatuh ke lantai.

Prraakk..

"Yeobo? Waegeure? Yeobo..?"

Ryeowook yang sejak beberapa saat lalu melihat gelagat aneh suaminya semakin khawatir kala sang suami berteriak yang di akhiri dengan telepon rumah mereka yang terjatuh kelantai.

Dengan panik, dia menggoyang-goyangkan tubuh Yesung yang mematung di tempatnya.

Tak ada jawaban yang berarti dari Yesung. Hanya bisikan-bisikan yang tidak Ryeowook mengerti yang keluar dari bibir bergetar suaminya.

"Tidak mungkin.. Ini tidak mungkin.."

"Yeobo! Waegeura? Katakan sesuatu." Ryeowook semakin panik kala tubuh kekar suaminya melorot dan bersimpuh di lantai. Dengan cepat dia memegang kedua bahu sang suami agar duduk tegak memandang kearahnya.

"Tidak mungkin.. Dia tidak mungkin melakukannya!"

"Yeobo!"

Kini kedua bola mata sang Polisi mulai berkaca-kaca, dia memberanikan diri untuk memandang istrinya yang terlihat khawatir.

"Yeobo, katakan ini tidak benar. Dia tidak mungkin sebodoh itu melakukannya!"

"Sebenarnya apa yang kau maksud Kim Yesung? Apa yang terjadi?" Karena sangat kesal, Ryeowook menyentak Yesung dengan menyebutkan namanya. Ada apa sebenarnya?

Yesung beralih menatap bocah mungil yang baru berusia 5 tahun yang saat ini tengah menatapnya polos. Hatinya bergemuruh sakit. Bagai ada ribuan paku tajam yang menusuk jantungnya. Apa yang harus dia katakan pada bocah kecil itu?

Jemarinya menggenggam tangan Ryeowook dengan sangat kuat hingga membuat Ryeowook meringis merasakan ngilu.

"Ryeowook-ah, jaga Eunhyuk baik-baik. Aku harus segera pergi."

Setelah menyentuh wajah bulat Eunhyuk dengan tangannya yang bergetar, Yesung meninggalkan keluarganya dengan sejuta pertanyaan di benak Ryeowook.

.

Sampai akhirnya beberapa jam kemudian seluruh Negeri di kejutkan dengan berita pembunuhan yang menewaskan seluruh anggota keluarga Cho yang merupakan salah satu orang terpandang di Negeri ginseng tersebut. Dengan statusnya yang merupakan salah satu orang terkaya di Negaranya, kabar kematian itu sangat cepat menyebar, karena saking banyaknya awak media yang memburu berita menggemparkan tersebut.

Melebihi kegemparan yang terjadi, Yesung. Sang Polisi yang langsung memeriksa TKP merasakan seluruh persendiannya lemas seketika. Bagaimana bisa kasusu itu di nyatakan kasus perampokan yang di sertai pembunuhan? Padahal dengan jelas dia mengetahui pelakunya siapa saat di telepon beberapa saat lalu. Ini bukan kasus perampokan! Tapi pembunuhan di sengaja. Bagaimana ini bisa terjadi? Pelakunya bermain sangat halus dan bersih. Tak ada bukti sedikitpun. Polisi berkepala besar itu hanya dapat meremas rambutnya frustasi. Bagaimana dia harus memecahkan kasus ini? Dia Polisi yang sangat pintar. Sudah tentu tahu kalau dia tak bisa mengusut masalah ini tanpa bukti.

.

.

*KYUMIN*

.

.

Sungmin kembali terisak dalam pelukan Jungmo. Jujur! Dari hatinya yang terdalam. Saat ini dia ingin sendiri. Tpi dia tahu, setiap tahunnya Jungmo tidak akan pernah membiarkannya sendiri.

Seperti saat ini, setelah beberapa saat lalu Jungmo terus memaksa untuk tetap menemaninya, akhirnya Sungmin dengan pasrah hanya bisa mengiyakan keinginan Jungmo.

Sejak 3 jam yang lalu mereka duduk membisu di sofa empuk yang berada di ruangan tengah Apartment Sungmin.

Dengan sabar, Jungmo menenemani namja cantik yang berstatus sebagai tunangannya dalam diam. Berada di samping Sungmin dan dapat memeluk tubuh ringkih itu, sudah sangat cukup membuat Jungmo tenang. Meskipun dia sadar, kalau kehadirannya tak akan berarti apa-apa. Dia menyadari semuanya. Dia menyadarinya kalau dia tak akan pernah bisa menggantikan posisi Guixian di hati namja cantik yang berada dalam pelukannya. Terkadang, hatinya berbisik, menyuruhnya untuk menyerah. Dia memang sangat mencintai Sungmin, tapi hati kecilnya pun menginginkan kebahagaiaan sang tunangan. Dan itu bukan dirinya. Dia sadar, selama ini Sungmin hanya nyaman bersamanya karena menganggapnya sebagai teman baik. Bukan sebagai tunangan. Hanya saja, egonyapun bekerja. Dia ingin Sungmin memberikan sedikit hatinya. Dia akan terus menunggu dan menemani Sungmin di sampinya sampai hati Sungmin terbuka untuknya.

"Mianhae.." Bisik Sungmin serak. Setelah lama diam akhirnya bibir tipis itu berucap.

"Untuk?"

"Aku belum bisa membuka hatiku." Seolah tahu apa yang Jungmo pikirkan, Sungmin berucap sambil menatapnya dengan manik rubah yang masih penuh dengan air mata.

Jungmo membenarkan duduknya yang kini sudah tak memeluk Sungmin. Jemarinya terangkat untuk menghapus genangan bening di foxy cantik Sungmin.

"Gwaenchanna. Bukankah dari awal aku sudah bilang, tidak akan memaksakan hatimu untukku?"

Ya. Pertunangan ini memang kehendak kedua orang tua Jungmo dan juga ayah Sungmin –Kangin-. Awalnya Sungmin tak menginginkan pertunangan ini berlangsung. Karena dia tak ingin membuat Jungmo kecewa. Ayolah.. Jungmo adalah teman baiknya. Dan dia sudah mengetahui semuanya. Dia tahu kemana hati Sungmin telah berlabuh. Namun, Sungmin akhirnya menyetujui pertunangan mereka saat Jungmo mengatakan padanya bahwa itu hanya untuk membuat dua keluarga senang. Dan Jungmo pun berjanji untuk tidak berharap lebih dari Sungmin. Dia akan tetap menjadi Jungmo yang dulu. -Sahabat baik Sungmin sejak kecil-.

Terdengar egois memang. Itu pasti sangat tidak adil buat Jungmo yang merasakan cinta sepihak. Dan juga Sungmin yang harus terbebani dengan status tunangan dari orang yang tidak di cintainya. Namun keduanya sudah sepakat untuk memilih jalan itu selama hubungan dua keluarga tetap baik. Meskipun Jungmo tetap dalam penantiannya, dan Sungmin tetap mengunci hatinya.

"Gomawo.." Suara serak Sungmin akibat tangis kembali mengalun indah.

"Untuk?" Jungmo kembali mengulang pertanyaan yang sama.

"Karena kau selalu menemaniku. Meskipun aku belum bisa membuka hatiku untukmu Jungmo-ya. Terutama di hari ini. Terimakasih kau selalu ada di hari peringatan ini."

Jungmo kembali merengkuh tubuh bergetar Sungmin. Di elusnya dengan sayang surai pirang Sungmin. Batinnya kembali bergemuruh. Tentu saja dia tidak akan pernah meninggalkannya di hari ini. Karena dia tak ingin sesuatu yang buruk kembali terjadi. Dia tak ingin kehilangan Sungmin.

.

.

.

Satu minggu setelah acara pemakaman keluarga Cho..

Jungmo kembali berdiri di depan pintu kamar Sungmin. Selama satu minggu ini Sungmin tak pernah keluar kamar. Bahkan Jungmo sangsi apakah Sungmin memakan makanan yang di bawakan maid di rumahnya atau tidak. Bahkan untuk sekedar membasahi kerongkongannyapun Jungmo ragu apakah Sungmin melakukannya atau tidak. Karena yang sering dia dapatkan saat mendatangi kamarnya, semua piring yang berisi makanan untuk sang namja cantik yang menyembunyikan tubuh bergetarya di dalam selimut itu telah hancur berkeping-keping karena di lempar oleh sang empunya kamar. Entah sudah berapa puluh piring yang telah hancur akibat ulahnya.

Seperti saat ini, Jungmo kembali meringis kala membuka kamar serba pink milik Sungmin. Dia bisa melihat dengan jelas warna putih air susu yang bercampur dengan selai strawberry dari roti tawar yang berserakan di lantai kamar tersebut. Dan jangan lupakan pecahan-pecahan kaca dari gelas dan piring ikut menyemarakan lantai dingin kamar tersebut.

Jungmo melangkahkan kakinya perlahan. Selama satu minggu ini dia selalu menemani Sungmin, walaupun hanya duduk diam di pinggir ranjangnya. Karena Sungmin tak pernah sedikitpun membukakan selimut tebal yang menutupi tubuhnya.

"PERGIIII…! TINGGALKAN AKU SENDIRI!" Teriakan histeris Sungmin kembali terdengar. Kalau sudah seperti itu, Jungmo dengan terpaksa harus beranjak dari tempat duduknya. Dia tidak akan sepenuhnya keluar dari rumah besar Sungmin. Dia akan tetap berada di depan pintu kamar Sungmin untuk berjaga-jaga kalau terjadi hal buruk pada namja cantik itu. Bukah hal mustahil, orang akan berbuat nekad di saat kalap.

.

"Terima kasih kau selalu ada untuk Sungmin. Jungmo-ya." Kangin menepuk bahu Jungmo, kemudian ikut mendudukan diri di sofa yang berada di depan pintu kamar sang putra.

"Aku akan selalu menemaninya. Ahjussi. Bolehkah?" Ucap dan tanyanya pasti pada ayah Sungmin.

"Tentu saja. Kau harus selalu ada di sampingnya."

Kemudian mereka diam. Tenggelam dalam pikirannya masing-masing.

.

.

Hari berikutnya..

Benar apa yang Jungmo takutkan. Dengan cemas, Kangin mengerahkan semua orang kepercayaanya beserta semua maid yang berada di kediamannya untuk mencari namja cantik yang tiba-tiba menghilang dari kamarnya.

Jungmo yang tahu pasti kemana harus mencari Sungmin, langsung menuju tempat tersebut. Sepertinya Kangin melupakan satu tempat yang selalu di datangi Sungmin saking cemasnya.

Dan benar saja. Jungmo menemukan sang namja manis di tempat itu. Tempat di mana Sungmin selalu menghabiskan waktunya bersama orang tercinta yang kini tidak ada di sampingnya.

Sejenak, Jungmo mengulas senyum kala menemukan Sungmin. Namuan, senyumnya langsung berubah khawatir saat sesuatu yang janggal terjadi di hadapannya. Bagaimana tidak, namja cantik yang tengah rapuh itu sedang berusaha memanjat pagar besi yang terdapat di setiap tepian atap gedung tersebut.

Oh.. Tidak!

Sepertinya pemikiran negative Jungmo benar adanya. Sungmin akan melakukan tindakan bodoh!

"ANDWE! SUNGMIN-AH!"

Hup!

Saat satu kaki Sungmin sudah berhasil menjangkau pagar besi, dengan cepat Jungmo mendekap dan menurunkan tubuh mungil Sungmin yang kini meronta hebat.

"LEPASKAN! LEPASKAN AKU! AKU INGIN MENYUSUL XIANNIE!" Jeritnya menyayat hati.

"Kau bodoh lee Sungmin! Sadarlah!"

"LEPASKAN AKU!" Sungmin kembali berteriak frustasi.

Jungmo semakin mendekap tubuh Sungmin yang makin berontak liar. Hampir saja Jungmo kewalahan untuk mengendalikan tubuh mungil tersebut. Hingga teriakan Jungmo yang tak kalah keras berhasil membuat Sungmin diam seketika.

"APA KAU YAKIN GUIXIAN SUDAH MENINGGAL? EOH!"

Sungmin diam.

Merasa tubuh Sungmin sudah kembali tenang, Jungmo melonggarkan dekapannya.

"Jungmo-ya.."

"Emm?"

"Apa maksudmu?" Kini Sungmin sudah sepenuhnya lepas dari dekapan Jungmo. Manik rubah itu menatap namja yang sedikit lebih tinggi di hadapannya tajam.

"Sungmin-ah, dengarkan aku. Bukankah jasad Guixian belum di temukan? Apa kau yakin dia sudah meninggal?" Ucap Jungmo melunak. Memang ada benarnya juga apa yang Jungmo katakan. Sampai saat ini Polisi belum menemukan jasad Guixian. Mereka menyimpulkan kematian Guixian karena namja belia tampan itu terjatuh ke dalam jurang yang sangat curam. Dan secara logika tidak mungkin akan selamat. Tapi, bisa saja kan keajaiban terjadi?

Sungmin mengerjapkan manik rubahnya yang basah oleh air mata.

"Kau benar Jungmo-ya. Polisi-Polisi itu sangat bodoh bila menyimpulkan hal yang belum pasti."

Senyum terulas di bibir Jungmo. Meskipun dia meragukan perkiraan konyolnya yang mengira Guixian masih hidup, selama bisa menenangkan Sungmin, kemungkinan apapun akan dia pikirkan.

.

.

"Jungmo-ya.."

Setelah lama diam, Sungmin kembali bersuara. Kini dia sudah kembali tenang.

"Ne?"

"Aku ingin menjadi Detective!"

"Eh?"

"Aku ingin menemukan Guixian dan mencari kebenarannya!"

Jungmo tersenyum miris. Namun setelahnya dia mengusap kepala Sungmin sayang.

"Baiklah. Dan aku akan selalu menemanimu." Ucapnya.

Dan sejak saat itu dia berjanji akan selalu berada di samping Sungmin.

.

.

*KYUMIN*

.

.

Malam ini, sang namja tinggi yang mempunyai ketampanan di atas rata-rata yang walaupun telah terjadi sedikit perubahan di wajahnya –dan tak mengurangi ketampanannya sedikitpun-. Bergerak gelisah dalam tidurnya. Keringat dingin telah membanjiri sekujur tubuhnya.

"Andwe.. Andwe.!" Gumaman kecil terdengar lirih dari bibir tebalnya.

Lehernya terasa tercekik. Dadanya sesak, hingga membuatnya susah untuk bernafas dengan benar. Hatinya sakit. Teramat sangat sakit. Peluh semakin deras membasahi baju tidurnya.

"Appa…"

.

.

Aah.. Appa di sana rupanya. Tapi siapa dia? Siapa yang bersama appa di taman belakang? Sudahlah. Mungkin dia teman kerja appa. Appa hutang penjelasan. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa appa memberikan map mengerikan ini? Aku tak percaya dengan isi map ini. Appa harus menjelaskan semuanya!

Deg..!

Appa! Kenapa….

Apa yang orang itu lakukan pada appa? Kenapa perut appa berdarah? Appa! Lihat aku! Tolong lihat aku appa!

Benar. Aku di sini appa. Apa yang sebenarnya terjadai?

Tidak appa! Ini lelucon! Apa maksud isyarat matamu itu? Appa menyuruhku pergi? Pergi kemana? Aku ingin menanyakan hal penting appa. Kau pasti tengah bermain sandiwara bukan? Mulai dari menyerahkan map sialan ini? Appa tak bisa mengerjaiku. Ini tidak lucu!

SHIT!

Kenapa air mata bodoh ini keluar dari mataku? Hey! Apa yang sebenarnya terjadi dengan tubuhku? Kenapa aku meras lemas sekali?

Tidak appa! Appa jangan bercanda. Apa yang ingin kau katakana sebenarnya? Apa kau menyuruhku untuk berlari? kenapa? Ini tidak lucu appa!

Appa! Buka matamu! Kenapa kau tertidur? Eoh? Aku belum mengerti apa yang kau maksud dari isyarat matamu tadi.

Oh! Shitt! Shitt!

Kenapa ini? Air mata bodoh! Sialan! Kenapa aku jadi cengeng seperti ini? Appa sedang bercanda bukan? Appa! Buka matamu. Atau aku tidak akan memafkanmu!

Oh tuhan! Kenapa lagi dengan lututku? Kenapa aku tak bisa bergerak sedikitpun? Kenapa lututku lemas sekali?

"KENAPA DIA MELAKUKAN INI PADA KAMI? KENAPA? KENAPA DIA MAU MEMBUNUH KAMI?"

Eomma?

Eomma! Kenapa eomma menjerit pada orang itu? Siapa dia eomma? Apakah eomma dan appa sedang bersekongkol mengerjaiku? Bersama ahjussi mengerikan itu? Eomma ini tidak lucu! Haiiisshh.. Berhentilah air mata bodoh! Aku bukan namja cengeng!

"DIA BENAR-BENAR BUKAN MANUSIA!"

Eomma! Kenapa eomma terus berteriak? "Dia" siapa? Apakah "Dia" yang eomma maksud sama dengan orang yang appa maksud dalam map sialan ini? Tidak! Itu tidak mungkin! "Dia" bukan orang seperti itu kan?

Kalian keterlaluan! Kalian semua mengerjaiku! Ulang tahunku sudah terlewat dua minggu yang lalu eomma! Appa!

"Aaakhh.."

Sialan! Air mata brengsek! Kenapa keluar deras seperti ini! Eomma bangun! Eomma! Eomma jangan bercanda seperti appa. EOMMAA BUKA MATAMU!

.

.

.

"EOMMAAAAAAA….. Hoshh.. Hosh.."

Brakk..

"KYU! Ada apa? Apa kau bermimpi lagi?"

.

.

_T.B.C_

.

.

Hallooooooo… mian kelamaan. Kemarin sayyah fokus dulu sama Thank You yang baru ending. #Nyengir

Jujur, waktu sayyah ngetik ini, sayyah kehilangan feelnya. Haahh entahlah ini bagaimana hasilnya. Semoga kalian tidak kecewa sama chapt ini ya.. ^^

*Kebanyakan plesbek? Gx ada KyuMin moment? Iya.. Kebanyakan plesbek di sini. #trus?

Mian pemirsah.. Chapter2 yang akan datang bakalan banyak lagi KyuMin moment ko.. #Mewek

*Jeongmal gomawo buat yang udah review di chapter kemarin.. #CivokAtu2 :*

Sekarang silahkan suntik lagi semangat sayyah dengan review kalian… ^^

*Welcome to new readers.. Gomawo udah mampir di FF abal nan GaJe ini.. ^^ *Civok

Calanghaeeeeeeeeeee All….. ^^

*Mian for typo(s). Sayyah miss typo yee.. Hueeee… T_T