"EOMMAAAAAAA….. Hoshh.. Hosh.."
Brakk..
"KYU! Ada apa? Apa kau bermimpi lagi?"
Kyuhyun mengatur nafasnya yang tersenggal. Peluh telah membasahi sekujur tubuhnya. Ia rapuh juga. Saat-saat seperti inilah dirinya rapuh.
"Apa kau memimpikan kedua orang tuamu?" Changmin menyodorkan segelas air putih kehadapan Kyuhyun.
"Ini bukan mimpi Changmin-ah.. Ini kenyataan pahit yang selalu hadir dalam mimpi burukku."
~~…PERHAPS YOU…~~
.
.
KYUMIN
Slight. JungMin
EunHae
And Other…
.
.
Rate : T to M
Genre : Hurt/Comfort, Crime, Romance
Disclimer : Lee Sungmin dan Cho Kyuhyun milik Tuhan
YME, keluarga mereka dan milik diri mereka sendiri,
namun mereka saling memiliki. dan FF abal ini murni
100% Milik saya…!
- WARNING! YAOI, OOC, Abal, GAJE, EYD amburadul
dan Typo dimana-mana
-review di tunggu!-
Don't Like? Don't Read…!
Don't COPAS… !
.
.
Happy Reading…. ^^
.
.
Chapter 7
.
.
5 hari kemuian…
Pagi tadi, Yesung menghubungi Sungmin dengan terburu-buru. Bahkan, sang Detective masih asik dalam mimpi indahnya.
Dan sekarang…
Setelah beberapa jam bertemu dengan Yesung, efeknya masih terasa pada Sungmin.
Dengan tangan yang terkepal kuat di depan dadanya yang terasa sesak, manik rubahnya telah berembun. Siap menumpahkan buliran bening yang sejak tadi di tahannya.
Dadanya sakit, bahkan untuk bernafas saja teramat sulit. Kepalan tangannya makin menguat, hingga sesuatu dalam genggamannya terasa menggores telapak tangan halus sang Detective cantik itu.
"Xiannie.." Bibir tipisnya bergetar hebat, hanya satu kata, ah ani. Satu nama yang keluar dari bibir tipis tersebut.
Perlahan, kepalan tangannya melonggar, menampakan kilauan liontin yang tersorot langsung oleh matahari senja. Liontin beserta kalung yang selalu bertengger indah di leher mulus sang Detective selama 17 tahun lamanya.
Tes…
Tetesan-tetesan bening akhirnya lolos dari manik rubahnya. Membasahi liontn yang saat ini di pandanginya. Senyum getir terulas di bibir shap-m yang kini di gigitnya kuat. Meredam isakan yang akan lolos dari sana. Seolah takut ada orang lain yang akan mendengar isakan pilu tersebut. Meski kenyataannya, tak akan ada satu orang pun yang mengetahui kerapuhannya, mengingat saat ini dirinya berada di atap gedung hotel milik sang ayah. Sendirian!
.
Kedua manik rubahnya mengerjap beberapa kali, kepala cantiknya berdenyut hebat. Sekelebat ingatan kembali memenuhi otak cerdasnya. Ingatan akan pertemuannya pagi tadi bersama kepala Polisi. Kim Yesung.
"Ahjussi, apa yang ingin kau bicarakan?" Sungmin menatap namja paruh baya di hadapannya intens. Menuntut jawaban.
"Sungmin-ah, kami menemukan sesuatu dari balik sepatu Kang Gilroo." Ucap sang kepala Polisi sedikit ragu.
"Bukti?"
"Bisa dibilang begitu. Kang Gilroo ternyata sangat pintar. Ia menyembunyikan info penting di balik alas sepatunya."
"Apa yang kau temukan ahjussi?" Terlihat sekali sang Detective berada dalam puncak kepenasaranannya.
"Ini…" Yesung menyerahkan kertas lusuh kehadapan Sungmin.
Seketika kening indah Sungmin berkerut bingung. Hanya ada deretan angka di sana. Dan ia sama sekali tak mengerti. "Ini… Apa maksudnya?"
"Kami pun awalnya tak mengerti. Tapi setelah kami telusuri, ternyata ini sebuah symbol-symbol yang biasa di jadikan alat untuk komunikasi. Ada banyak symbol sebenarnya. Hanya saja Kang Gilroo menggunakan symbol angka."
"Lalu, apa kau sudah menemukan jawabannya?"
"Ne. Anggota Porensik kami ada yang mengerti symbol tersebut."
"Lalu, apa yang Kang ahjussi tulis?" Sungmin makin tak sabaran dengan sikap Yesung yang terlalu bertele-tele. Menurutnya.
"Ia menuliskan tenrang… Guixian."
Deg..
"Guixian?"
"Emm. Guixian. Ia hanya menulis. Guixian kunci utama kasus 17 tahun yang lalu." Ucap Yesung ragu. Dengan haru ia memperhatikan raut muka Sungmin yang langsung berubah tegang.
"Itu berarti… Xiannie masih.. Hidup?"
"Sepertinya begitu. Sungmin-ah.."
.
.
.
"Aakkh.." Jemari lentik sang Detective dengan brutal meremas surai pirangnya. Berharap dapat mengurangi rasa nyeri di kepala bagian kanannya.
Sementara tangan yang lainnya kembali menggenggam erat liontin yang di kenakannya. Liontin yang berbentuk hati dengan ukiran inisial 'KM' di atasnya. Liontin beserta kalung yang dulu di haiahkan oleh orang tercintanya. Cho Guixian.
"Aakhh.." Kepalanya semakin berdenyut nyeri. Nafasnya semakin tersenggal.
Tidak! Ini bukan waktu yang tepat. Kenapa anemianya kambuh di saat seperti ini? Bahkan ia masih berada di atap gedung seorang diri.
Matanya mulai berkunang-kunang, air mata semakin tumpah ruah mengotori pipi halusnya. Kesadarannya mulai berkurang. Dan ia pasrah bila saat ini ia harus tergeletak di atap gedung tersebut.
Pertahanannya roboh. Ia sudah tak bisa menopang tubuhnya yang kian melemah. Denyut nyeri di kepalanya semakin menjadi. Tubuhnya limbung. Dan akan menghantam lantai. Sebelum akhirnya..
Greepp..
Tubuh mungilnya dengan pas berada dalam dekapan seseorang.
Dengan sisa kesadarannya, sang Detective mengarahkan fokusnya. Meskipun tak jelas karena terhalang oleh air mata, namun indra penglihatannya dengan telak menghunus kedua bola mata di hadapannya. Jemarinya refleks terangkat, meraba wajah tampan yang berada sangat dekat dengannya. Merasakan kulit wajah yang sedikit kasar di telapak tangannya.
"Xiannie…" bisiknya sebelum kedua manik foxy itu tertutup rapat. Tak sadarkan diri.
"Ne. Aku di sini. Ming.."
.
.
*KYUMIN*
.
.
Donghae, berjalan dengan tergesa memasuki lift sebuah Apartment tempat sang kekasih tinggal. Namun bukan namja bergumy smilenya yang saat ini ia tuju. Ia dengan tergesa ingin menemui Sungmin yang menghilang dari kantor sejak siang tadi. Kalaupun ada tugas yang harus di selesaikan, seharusnya ia tahu bukan? Mengingat posisinya saat ini sebagai anak buah sang Detective cantik.
Hari ini Sungmin bersikap aneh. Dan otak yang sedikit cerdasnya cepat tanggap atas sikap sang Detective yang sudah di anggapnya sebagai hyung itu. Ia yakin pasti ada sesuatu yang terjadi.
.
Langkah pendeknya terhenti kala menangkap sosok yang ia kenali tengah membopong tubuh sang Detective di pangkuannya. Ia memutuskan untuk sedikit mengawasi gerak gerik namja tinggi yang kini tengah berhasil memasuki Apartment milik Sungmin.
Donghae mengernyit bingung, namun detik berikutnya senyum menawan tersungging di bibir sexynya. Dengan perasaan yang bercampur aduk, namja pecinta ikan itu berjalan lurus kedepan, membuka pintu Apartment Sungmin dengan perlahan, seolah takut keberadaannya di ketahui oleh sosok yang baru saja memasuki Apartment tersebut.
Semuanya sudah terbukti bukan? Bahkan sosok yang kini diamatinya mengetahui kode pada kunci Apartment Sungmin. Sungmin memaki tanggal peringatan kematian sang ibu yang bertepatan dengan hilangnya Guixian sebagai kode. Siapa lagi yang mengetahui itu selain…..
.
.
"Guixian hyung…"
Tubuh tinggi yang baru saja membaringkan Sungmin di atas kasur itu menegang seketika. Ia hanya berani menegakan tubuhnya tanpa berani menoleh ke belakang. Dimana Detective tampan pecinta ikan kini menatap punggungnya intens.
"Aku tahu kau pasti kembali. Hyung.." Indra pendengarannya bisa menangkap dengan jelas suara di belakangnya bergetar menahan tangis.
Tangannya terkepal. Hatinya bergemuruh hebat, perasaan haru, lega, kaget beserta takut bercampur menjadi satu. Persendiannya seolah terpaku di tempat. Sangat enggan untuk di gerakan. Haruskah ia berbalik? Memberikan senyum beserta pelukan pada namja ikan di belakangnya? Ataukah ia berpura-pura acuh?
.
.
.
.
Dan di sinilah mereka…
Donghae menatap namja tampan di hadapannya dengan air mata yang sudah terkumpul di pelupuk matanya.
Baiklah. Katakan ia cengeng. Karena Eunhyuk pun sering mengeluhkan tentang hal itu.
Suasana tenang sebuah Apartment yang berhadapan langsung dengan Apartment milik Sungmin membuat suasana semakin tegang.
Namja tampan yang menatap Donghae di hadapannya menggigit bibir kuat. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir tebal itu. Mungkin ia terlalu shock.
Dan hanya kicauan terbata Donghae lah yang terdengar sejak beberapa detik lalu saat mereka tiba di tempat itu.
"Kyuhyun hyung.. Kau… Guixian hyung! Dan aku sudah tahu itu. Hikz.." Lagi-lagi isakan cengeng terdengar dari bibir sexy Kim Donghae..
Yah! Kini mereka tengah berada di Apartment Kyuhyun. Dan Kyuhyun, merasakan ngilu di dalam dadanya kala melihat Donghae yang terus menerus menyebut namanya dengan buliran bening yang tak pernah berhenti keluar dari kedua bola matanya.
"Hae-ya.. Jeongmal mianhae.." Akhirnya bibir tebal itu mengeluarkan suara.
.
Dengan satu tarikan nafas, Kyuhyun membawa tubuh kecil Donghae kedalam pelukannya. Pelukan rindu beserta sayang yang ia rasakan untuk sang Detective yang sudah di anggapnya adik sejak dulu.
"Mianhae.. Aku baru menemui kalian sekarang. Mianhae.. Jeongmal mianhae.."
"Hyung… aku senang kau masih hidup. Aku sangat merindukanmu. Apalagi Hyukkie dan Sungmin hyung."
"Dan aku lebih merindukan kalian."
Kyuhyun melonggarkan pelukannya. Dengan sayang, kedua ibu jarinya menghapus aliran bening di pipi Donghae.
"Kau Detective. Jangan cengeng. Hae-ya.." Ucapnya dengan senyum yang tersungging di bibir tebalnya yang menawan.
"Tapi.. Hae-ya, Sejak kapan kau mengetahuinya?"
"Mulut bisa berbohong hyung. Tapi tidak dengan ini." Donghae mengeluarkan sesuatu dari dalam tas ranselnya. Sebuah pistol mainan berwarna biru dengan kelinci imut tergantung di ujung pelatuknya.
"Aku menemukan ini di mobilmu waktu itu. Dan aku pastikan kau pasti kelabakan mencari benda berharga ini." Tebak Donghae yang memang benar adanya.
Senyum kembali tersungging di bibir tebal Kyuhyun. "Sudah kuduga. Karena aku tak pernah lupa di mana menyimpan benda itu. Dan sikap anehmu saat itu sudah menjadi jawaban di mana benda ini berada."
"Jadi kau sudah tahu kalau aku yang mengambilnya hyung?" Kedua mata kecil Donghae mengerjap polos.
Kyuhyun terkikik geli. "Sebenarnya aku menunggu kau mendatangiku. Karena jujur, saat aku mengetahui benda ini hilang, aku sangat khawatir. Apalagi saat aku yakin kalau kau yang mengambilnya. Karena benda ini hilang saat introgasi waktu itu. Dan siapa lagi yang di tugaskan menggeledah mobilku selain kau. Ikan."
"Aku juga awalnya tak berpikir itu benda yang sama dengan yang aku berikan padamu 17 tahun lalu. Karena pistol mainan seperti itu banyak di jual di pasaran. Meskipun modelnya sudah ketinggalan jaman. Tapi yang membuatku yakin kalau kau adalah Guixian hyung kami, adalah gantungan kunci kelinci ini. Ini pemberian Sungmin hyung bukan? Meskipun dulu aku baru berumur 7 tahun, tapi aku tahu, ada inisial kalian di perut kelinci ini." Tunjuk Donghae pada kelinci imut di tangannya.
"Kau memang seorang Detective Hae-ya.. Jujur aku sangat khawatir. Takut kau memberitahu Sungmin tentang hal ini."
"Aku tak sebodoh itu hyung. Aku tahu bagaimana perasaan Sungmin hyung dan juga Hyukkie kalau mereka tahu kau adalah Guixian kami."
"Terimakasih. Hae-ya.."
"Untuk?"
"Karena selama ini kau telah menjaga Hyukkie dan Sungmin dengan baik. Dan juga terimakasih karena kau tak memberitahu mereka masalah ini." Ucap Kyuhyun tulus.
"Tapi hyung. Yang masih menjadi pertanyaan besarku. Kenapa kau bisa menjadi Kyuhyun Jo? Dan bagaimana caranya kau selamat 17 tahun yang lalu?" Kening Donghae berkerut semakin menunjukan sisi Detective di dalam dirinya.
"Ceritanya sangat panjang. Yang pasti, orang yang menyelamatkanku adalah Kang Gilroo ahjussi."
"Kang Gilroo yang kemarin menjadi korban pembunuhan?"
"Kau benar. Intinya, ia menyelamatkan nyawa ku. Dan ayahku yang saat ini adalah dewa penolong bagiku."
"Ayahmu?"
"Bukankah saat ini aku putra Yeunghwan Jo? Beliau adalah dewa penolongku. Lain kali aku akan menceritakan detailnya padamu Detective Kim." Kekeh Kyuhyun. Ia benar-benar geli melihat tampang serius Donghae yang diliputi keingin tahuan.
"Baiklah. Kau hutang penjelasan padaku hyung. Dan sebenarnya masih banyak lagi yang ingin aku ketahui."
"Untuk saat ini cukup sampai di sini. Kau cukup mengetahui kalau aku sudah kembali. Tapi.." Kyuhyun mengambil jeda sejenak. Raut mukanya berubah serius, kemudian kembali berkata.
"Jangan sampai ada yang tahu kebenaran ini. Termasuk Eunhyuk dan juga Sungmin kalau perlu. Karena aku tak tahu bahaya apa yang akan menghampiri kalian kalau kalian mengetahui kebenarannya."
Meskipun bingung dengan perkataan berat Kyuhyun, Donghae akhirnya menganggukan kepala.
"Baiklah hyung. Yah, walaupun aku tak yakin kalau Sungmin hyung belum mengenalimu. Ikatan kalian terlalu kuat."
"Kalaupun begitu, untuk saat ini. Selama Sungmin belum benar-benar menyadarinya kau harus menutup mulut. Tolong jaga Eunhyuk untukku Hae-ya.."
"Sedari dulu, aku selalu menjaganya. Karena aku tak bisa hidup tanpa adikmu itu. Hyung."
Kyuhyun mengulum senyum. Bersyukur ada yang begitu tulus mencintai dan menjaga adik semata wayangnya.
"Dan ada satu hal lagi yang harus benar-benar kau ingat! Sekarang ini aku bukan Cho Guixian. Tapi Kyuhyun Jo. Jangan sampai kau salah memanggil namaku. Bukannya aku tak mau menggunakan nama pemberian orang tuaku. Tapi ini semua demi kita semua. Biarlah Cho Guixian tetap hidup di dalam hati kita masing-masing."
Lagi-lagi Detective pecinta ikan itu menganggukan kepala setuju.
Mulai saat ini, meskipun ia belum sepenuhnya faham dengan apa yang terjadi, ia bertekad akan selalu menjaga kekasih hatinya Cho Hyukjae. Dan akan selalu membantu Kyuhyun apapun yang terjadi.
Keduanya kembali menyunggingkan senyum lega yang berakhir dalam dekapan hangat.
Kyuhyun merasa bebannya berkurang setelah Donghae mengetahui dirinya yang sebenarnya. Namun, tidak dengan ke khawatirannya. Ke khawatiran akan orang-prang yang di sayanginya semakin besar. Namun ia akan tetap berusaha melindungi orang-orang tersayangnya.
.
.
.
Setelah Kyuhyun menyuruh Donghae untuk kembali ke Apartment Sungmin agar tak menimbulkan kecurigaan, Donghae memasuki Apartment itu dengan langkah ringan. Perasaan lega yang menyelimuti hatinya membuat moodnya sangat baik saat memasuki Apartment tersebut.
Senyuman khas sang kekasih menyambutnya. Membuat hatinya semakin tenang. Betapa besar keinginannya untuk berteriak. Memberitahu Eunhyuk dan juga Sungmin kalau Guixian mereka masih hidup dan berada dekat dengan seruan itu harus ia telan kembali mengingat pesa-pesan Kyuhyun yang berkilah demi keselamatan mereka.
"Apa Sungmin hyung sudah sadar?" Tanyanya seraya merangkul pundak sang kekasih, setelah sebelumnya mendaratkan kecupan singkat di pipi tirus namja bergumy smile itu.
"Emm.. Ia di kamarnya. Apa kau mau kesana?"
"Ne. Kajja."
.
"Hyung…"
"Hae-ya. Masuklah."
Donghae menarik kursi kerja Sungmin agar berhadapan dengan Detective cantik yang terlihat pucat itu, sedangkan Eunhyuk mendudukan diri di samping ranjang Sungmin. Menggenggam jemari Sungmin yang masih terasa sedikit panas.
"Apa kau sudah merasa baikan hyung?"
"Ne. Keundae(tapi). Hae-ya, ada yang ingin aku tanyakan padamu."
"Apa yang ingin kau tanyakan hyung?"
"Hyukkie bilang kau yang menghubungi dia. Berarti kau tahu aku sakit. Dan kau juga pasti tahu siapa yang mengantarku kemari. Iya kan?"
"Ee.. Eh.. Itu.." Donghae tergagap. Ia tak menyangka Sungmin akan bertanya hal itu.
"Kau pasti ada di sini bukan? Tak mungkin orang lain tahu kode kunci pintu Apartmentku. Siapa yang mengantarkanku kesini?" Sungmin menatap Donghae intens. Ia benar bukan? Kalau bukan Donghae yang membuka pintu Apartmentnya siapa lagi. Meskipun hatinya sangat berharap kalau pemikirannya benar. Bahwa 'Dia' lah yang mengantarkannya.
Dan Donghae melupakan fakta kalau Detective cantik di hadapannya mempunyai tingakat kepenasaran yang tinggi.
"Aah.. Kau benar hyung. Aku memang kemari. Aku berniat menemuimu saat melihat kau diantar pulang oleh Shin ahjussi." Ucap Donghae akhirnya.
"Shin ahjussi?" Tampak raut kecewa di wajah cantik Sungmin.
"Ne. Shin ahjussi yang mengantarkanmu. Hyung." Donghae menarik nafas lega. Setidaknya di saat gugup seperti ini ia masih bisa berpikir mengambing hitamkan seseorang. Dan Shin ahjussi sepertinya tepat. Mengingat dia adalah supir pribadi Kangin. Sudah pasti dia ada di hotel saat kejaian terjadi. Bukankah Kyuhyun bilang Sungmin pingsan di atap gedung hotel?
"Aah.. Shin ahjussi.." Sungmin menganggukan kepalanya sekilas. Raut mukanya berubah sendu. Ada sedikit kekecewaan di sana. 'Kau bodoh Lee Sungmin! Bagaimana bisa ia ada di sini!' rutuknya dalam hati.
.
.
*KYUMIN*
.
.
Weekend…
Pagi-pagi sekali, namja tampan sang Detective yang sangat mirip dengan ikan itu sudah membuat suasana Apartment Sungmin berisik dengan rengekannya yang membuat Eunhyuk serasa ingin menggoreng ikan kesayangannya.
Bagaimana tidak. Ini masih pukul 8 pagi. Tapi dengan aktifnya, Donghae meminta Sungmin dan juga Eunhyuk yang kebetulah sama-sama libur untuk bermain ke Lotteworld. Sangat kekanakan memang. Tapi ia berkilah kalau itu untuk menghilangkan penat mereka. Mereka juga belum tentu bisa bermain bersama kalau sedang sibuk. Maka saat mereka semua di beri waktu libur, Donghae ingin memanfaatkan waktu langka tersebut.
Setelah aksi saling teriak antara dirinya dan juga Eunhyuk yang sangat bertolak belakang. -Eunhyuk ingin menghabiskan waktu liburan dengan tidur di rumah-, akhirnya dengan kata bijak Sungmin Donghae bersorak gembira karena akhirnya mereka akan pergi berlibur juga. Dan Donghae sangat berterima kasih dengan ucapan Sungmin yang mengatakan "Tak ada salahnya sekali-kali berlibur".
Oh seandainya saja bisa, saat ini ia ingin terbang ke planet terjauh sekalipun saking senangnya. Karena apa? Karena di balik bakwan ada ikan teri.#Abaikan#
Di balik rengekannya sedari tadi ada maksud tertentu. Maksud yang sudah ia pikirkan beberapa waktu lalu hingga ia tak bisa tidur pulas memikirkan maksud hatinya itu.
"Kyuhyun hyung. Apa kau mau pergi juga?"
Yah.. Sepertinya maksud hati mulia sang namja ikan akan segera terkabul saat melihat namja tampan keluar dari Apartmentnya.
Sungmin dan juga Eunhyuk yang berada di samping kanan dan kiri Donghae hanya menatap Kyuhyun polos. Sedangkan Kyuhyun sedikit mengernyit melihat kode-kode yang tidak ia mengerti dari mata Donghae.
"Ti.. Tidak. Aku tak ada acara hari ini."
Yupz.. Itulah yang Donghae harapkan.
"Kebetulan. Apa kau mau ikut bersama kami? Kami akan ke Lotteworld. Kalian tak keberatan bukan?" Ajak Donghae sambil meminta persetujuan HyukMin.
"Tentu saja tidak. Lebih banyak orang lebih seru bukan?" Ucapan riang Eunhyuk beserta anggukan Sungmin yang tak mengetahui maksud tujuan sang kekasih semakin melancarkan rencana mulia Donghae.
"Baiklah. Kalian tunggu saja di bawah. Aku akan mengambil beberapa barang dulu sebentar."
.
.
.
.
Dan disinilah mereka..
Tak memerlukan waktu lama. Karena jarak ke taman bermain itu tidak terlalu jauh.
Donghae menghampiri Kyuhyun yang baru saja menutup pintu mobilnya. Mereka memang tidak menggunakan satu mobil. Kyuhyun membawa mobil sendiri, sedangkan Eunhyuk dan juga Donghae menggunakan mobil Sungmin.
"Hyung, nikmati waktumu." Bisik Donghae. Kemuian kembali berbalik dan menarik tangan Eunhyuk.
"Chagiya… mari kita bersenang-senang.." Ucapnya.
"Kau seperti anak kecil yang di ajak bermain oleh orang tuanya." Desis Eunhyuk sebal. Menurutnya saat ini Donghae sangat kekanakan. Dan.. Aneh.
"Terserah apa yang ingin kau ucapkan. Yang penting saat ini, mari kita semua bersenang-senang."
"Memalukan!"
Sungmin terkikik geli melihat tingkah dua adiknya yang selalu ribut, namun sangat manis. "Sudahlah. Kalian jangan bertengkar di sini." Lerainya.
"Kami tidak bertengkar hyung. Ini bentuk kasih sayang kami."
"Kasih sayang palamu!"
Sungmin memutar bola mata jengah melihat pasangan ajaib sang adik yang akan kembali berulah. Sedangkan Kyuhyun hanya menggelengkan kepala melihat tingkah lucu keduanya.
"Sudahlah chagi.. Kajja ikut aku!"
"Yyyaa! Lepaskan tanganku!"
Dengan cepat, Donghae menarik lengan sang kekasih, kemuian berlari meninggalkan Sungmin yang mulai berteriak gelisah.
"yyaa! Kalian mau kemana? Tunggu aku.." Teriaknya nyaring. Ia tak ingin di tinggal sendirian di tempat ramai seperti ini.
"Kau bersama Kyuhyun hyung saja. Hyuuung.." Teriak Donghae dari kejauhan.
Sungmin mengerjap. Ia melupakan seseorang. Ia lupa kalau ada Kyuhyun bersama mereka.
Dan kini suasana mendadak canggung. Meskipun mereka sudah memutuskan untuk berteman saat di atap gedung waktu itu, tapi tetap saja kalau di tempat seperti ini berdua, terlihat seperti sedang.. Berkencan?
"Apa kau ingin menaiki salah satu wahana di sini?" Kyuhyun memutuskan untuk bersuara.
"Sepertinya tidak. Kepalaku masih sedikit pusing. Apa kau ingin menaikinya Kyuhyun-ssi? Biar aku menunggumu di sini."
"Tidak juga. Kalau begitu, kita berkeliling saja dulu. Eotte?"
"Baiklah.."
.
.
.
Suasana kembali canggung. Tak ada yang membuka suara setelah mereka duduk di salah satu bangku yang terdapat di dekat rumah hantu yang sedikit sepi. Mengingat hari ini hari libur, di semua tempat penuh. Hanya tempat itu yang sedikit sepi. Sepertinya saat ini orang-orang tak berminat dengan tempat menyeramkan itu. Namun itu merupakan tempat ternyaman bagi Kyuhyun dan juga Sungmin. Setelah berjalan kesana kemari, akhirnya mereka menemukan tempat istirahat yang nyaman.
"Ekhm.. Kyuhyun-ssi. Bolehkan aku bertanya sesuatu?" Setelah lama saling diam, akhirnya Sungmin membuka suara.
"Tentu saja. Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Apa kau percaya keajaiban?"
"Eh?" Kyuhyun memalingkan wajah tampannya. Tepat menghadap Sungmin yang duduk di sampingnya.
"Emm. Keajaiban." Sungmin ikut memalingkan wajah imutnya. Seketika itu juga manix foxynya bertatapan langsung dengan kedua obsiian Kyuhyun.
Deg..
Ada desiran hebat di dalam hatinya. Desiran yang membuatnya merasa gugup sekaligus tenang. Dengan cepat, ia memutuskan kontak mereka. Kemuian kembali menatap lurus kedepan.
Kyuhyun masih dalam posisinya. Kini, ia bisa memandang Sungmin dengan sangat dekat. Wajah cantik itu sangat ia rindukan. Seandainya saja ego menguasainya saat ini. Ia ingin sekali merengkuh tubuh mungil di hadapannya. Memberikannya kehangatan dan bisikan sayang. Agar wajah cantik Sungmin kembali bersemi seperti dulu.
"Keajaiban apa yang kau maksudkan. Sungmin-ssi?" Ucapnya. Kemuian mengikut arah pandang Sungmin. Kembali menatap lurus ke depan seolah semuanya baik-baik saja.
"Apa kau masih ingat seseorang yang aku ceritakan?"
Kini giliran Kyuhyun yang menegang. Ia yakin yang Sungmin maksud adalah dirinya. –Guixian-.
"Seseorang dimasalalumu?" Tanyanya setenang mungkin.
"Ne. Jika seandainya ia masih hidup. Bukankah itu keajaiban?"
Dengan susah payah Kyuhyun menelan ludahnya yang terasa mengganjal di tenggorokan. Ia merasakan wajahnya memanas. Kalau tidak salah tebak, saat ini Sungmin tengah memandang kearahnya. Ia berusaha terlihat tenang dalam posisinya. Dan sebisa mungkin. Tetap memandang lurus kedepan, memasang pose berpikir. Karena ia yakin, kalau ia menghadap Sungmin beserta membalas tatapan dari manik rubah itu, ia pasti akan goyah. Dan itu akan semakin memperparah keadaan kalau sampai Sungmin tahu siapa dirinya.
"Bisa saja."Dengan mengangguk-anggukan kepala tanda berpikir, Kyuhyun berucap tanpa memandang Sungmin.
.
Suasana hening sejenak. Kyuhyun sudah merasakan hatinya kembali tenang, iapun memberanikan diri untuk menatap Sungmin yang kini tertunduk di tempatnya. Entah apa yang tengah di pikirkan Detective cantik itu.
"Tapi, bagaimana bisa kau mengira ia masih hidup?" Kyuhyun sedikit merutuki perkataan yang keluar dari bibir tebalnya. Ingin menarik kembali pertanyaan tersebut, tapi sudah sangat terlanjur.
Sungmin mengangkat kepalanya, menoleh sekilas kearah Kyuhyun dengan senyum manis. Kemuian kembali memandang kedepan sambil berucap. "Aku bisa merasakannya kalau ia masih hidup."
Kyuhyun terpaku. Benar apa kata Donghae, mereka memiliki ikatan yang sangat kuat. Dan iapun merasakan hal itu. Karena ia sangat mencintai namja cantik di sampingnya.
"Itu sudah sangat lama Sungmin-ssi. Kalaupun keajaiban itu ada. Apakah kau masih bisa mengenalinya? Kalau tidak salah ingat, kau kehilangannya 17 tahun yang lalu." Pertanyaan Kyuhyun sudah di luar batas. Namun, apapun yang terjadi nanti, ia sudah meyakininya. Mereka sudah lama berpisah. Dan lagi banyak perubahan di wajahnya saat kejaian itu. Sangat mustahil bagi Sungmin untuk mengenalinya.
"Aku tak pernah melupakan wajahnya."
"Tapi itu saat kalian masih kecil."
"Kau benar Kyuhyun-ssi. Tapi meskipun ia telah banyak berubah, aku masih bisa mengenalinya."
"Eh?"
Kyuhyun kembali menatap Sungmin yang kini di balas oleh namja cantik itu. Dan tak ayal, kedua manic indah mereka bertemu. Saling mengunci dalam tatapan masing-masing.
"Aku bisa mengenali ia lewat tatapan matanya. Aku tahu betul cara ia menatapku."
Dan Kyuhyun salah! Seberapa banyak ia berubah, kedua manik kelamnya itu tak pernah berubah sedikitpun.
.
.
Drrrtttt… drrrttt…
Getaran ponsel berhasil memutus kontak mereka. Dengan sedikit gelagapan, keduanya merogoh kantong kemeja masing-masing. Benar saja, ponsel mereka berbunyi bersamaan.
"Ne Changmin-ah / Ne ahjussi.." Ucap keduanya bersamaan.
Setelah saling pandang sambil menyunggingkan senyum sebagai isyarat 'permisi'. Sungmin sedikit menggeser duduknya menjauh dari Kyuhyun. Kyuhyun pun melakukan hal yang sama. Karena sepertinya ada sesuatu yang ingin Changmin katakan.
Hingga akhirnya mereka kembali berucap. Ani. lebih tepatnya berteriak bersamaan. "MWO? AKU AKAN SEGERA KESANA! / MWO? AKU AKAN SEGERA KESANA!"
.
.
.
.
Okkee! Silahkan baca cuap-cuap sayyah..
*mian pemirsah, karena Bulan Ramadhan sudah tiba, untuk "Perhaps You" akan stop di sini dulu. Soalnya chapter-chapter yang akan datang ada sedikit smut-smut kecil.. Gx enak updatenya.. Tunggu setelah lebaran saja yaa.. Kkkk,,,
Tapi, untuk "My Love My Brother" yang masih dalam chapter2 aman, insya alloh masih akan terus update di Bulan Ramadhan. Doakan saja sayyah selalu semangat lanjutnya..
*Mian gx bisa balas review kalian satu-satu.. Yang jelas review kalian sangat bermanfaat bagi sayyah.. ^^
Selamat menunaikan ibadah puasa… ^^
*Jeongmal gomawo buat yang udah review di chapter kemarin.. #CivokAtu2 :*
Sekarang silahkan suntik lagi semangat sayyah dengan review kalian… ^^
Masalah siders, sayyah sudah coba mengabaikannya. Tapi beneran deh, lama kelamaan itu berdampak juga sama semangat nulis sayyah.. T_T
Kalau mau FFnya tetap lanjut, silahkan review..
*Welcome to new readers.. Gomawo udah mampir di FF abal nan GaJe ini.. ^^ *Civok
Calanghaeeeeeeeeeee All….. ^^
*Mian for typo(s). Sayyah miss typo yee.. Hueeee… T_T
