~~…PERHAPS YOU…~~
.
.
KYUMIN
Slight. JungMin
EunHae
And Other…
.
.
Rate : T to M
Genre : Hurt/Comfort, Crime, Romance
Disclaimer : Lee Sungmin dan Cho Kyuhyun milik Tuhan
YME, keluarga mereka dan milik diri mereka sendiri,
namun mereka saling memiliki. dan FF abal ini murni
100% Milik saya…!
- WARNING! YAOI, OOC, Abal, GAJE, EYD amburadul
dan Typo dimana-mana
-REVIEW DI TUNGGU!-
Don't Like? Don't Read…!
Don't COPAS… !
.
.
Happy Reading…. ^^
.
.
Chapter 8
.
.
Lee Sungmin. Sang Detective cantik yang memiliki tanggung jawab tinggi terhadap pekerjaannya itu, melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Padatnya jalanan yang ia lalui tak menyurutkannya untuk tetap menginjak kuat pedal gas di bawah kakinya. Bahkan, tak jarang pemilik kendaraan yang berhasil ia dahului mengumpat kasar kearahnya.
Namun, itu semua tak pernah ia hiraukan. Karena hanya Satu yang ada di benaknya saat ini. Cepat sampai pada tempat tujuan!
Setelah mendapat panggilan darurat dari Kim Yesung sang kepala polisi yang merupakan teman ayahnya sekaligus orang terpercayanya itu, tanpa pikir panjang Sungmin langsung pamit kepada Kyuhyun yang saat itu tengah bersamanya. Kemudian bergegas meninggalkan namja tampan itu seorang diri.
.
.
30 menit kemudian..
Sungmin menepikan mobilnya di depan gang sempit yang terdapat di pinggiran kota seoul. Sesaat ia melirik mobil dinas Yesung yang terparkir tak jauh dari tempatnya saat ini. Keningnya sedikit mengernyit kala ia juga melihat mobil dinas lainnya berada di sana. Apakah Yesung membawa anak buah? Pikirnya.
Tapi, Sungmin tak ingin memikirkan hal kecil itu. Karena ada sesuatu yang lebih penting saat ini.
.
Dengan tergesa, Sungmin mulai menapaki gang kecil di sana. Tak lupa, sebuah pistol yang selalu ia bawa sudah bertengger indah dalam genggamannya. Manik rubahnya melihat sekitar dengan waspada. Ia belum tahu di mana Yesung berada. Karena saat di telepon tadi, Yesung hanya mengatakan kalau dirinya harus memasuki gang itu tanpa memberitahukan detail lokasinya.
.
.
"Sungmin-ah..." Bisikan kecil menghampiri indra pendengaran Sungmin. Dengan waspada, kedua manik rubahnya menangkap sosok tegap Yesung di balik tembok salah satu bangunan yang berada di ujung gang tersebut.
Tak mau mengulur waktu, Sungmin langsung menghampiri sang kepala polisi.
"Ahjussi, apa kau yakin kalau putra Kang ahjussi masih hidup?" Pertanyaan terbesar Sungmin sejak tadi akhirnya lolos juga melalui sebuah bisikan-bisikan penuh kewaspadaan.
"Nde. Aku yakin 100%. Anak buahku sudah mengawasinya sejak 2 hari yang lalu. Minho, putra Kang Gilroo di tahan di tempat itu" bisik Yesung sambil menunjuk bangunan tua yang tengah mereka pantau.
"Tapi... Bukankah Changmin bilang kalau putra Kang ahjussi sudah meninggal?" Heran Sungmin.
"Aku juga awalnya mengira kalau anak buahku salah orang. Tapi dia yakin kalau itu putra Kang Gilroo. Lihatlah foto yang berhasil dia ambil saat anak itu di bawa paksa kedalam rumah itu." Yesung menyerahkan sebuah foto pada Sungmin.
"Dan ini foto putra Kang Gilroo. Mereka orang yang sama bukan?" Lanjut Yesung sambil menyerakhan satu lembar foto lagi pada Sungmin.
"Tapi... Kenapa Changmin...?" Sungmin makin mengerutkan dahinya kala memperhatikan kedua foto yang di serahkan Yesung. Ia juga semakin di buat bingung dengan pernyataan Changmin. Kenapa Changmin membohongi pihak kepolisian?
"Akupun sama bingungnya denganmu Sungmin-ah.. Kita akan tahu jawabannya setelah mendapatkan putra Kang Gilroo." Yesung menepuk pundak sang Detective pelan.
"Ahjussi, aku yakin ini ada hubungannya dengan kasus 17 tahun yang lalu. Tapi.. Kenapa putra Kang ahjussi menjadi tawanan?" Sungmin mengepalkan tangannya kuat. Hatinya bergemuruh setiap kali mengingat kejadian 17 tahun yang lalu.
Yesung, sekali lagi menepuk pundak Sungmin yang sedikit bergetar.
Jujur. Sebenarnya ia tak ingin melibatkan Sungmin dalam masalah ini.
Tapi.. Mengingat keinginan kuat Sungmin untuk mengungkap kejadian pada 17 tahun yang lalu, dengan amat sangat terpaksa Yesung mengikuti keinginan Detective cantik tersebut.
"Satu hal lagi ahjussi. Kalau ini berhubungan dengan kasus 17 tahun yang lalu, kenapa ahjussi membawa banyak anak buah kemari? Bahkan aku lihat, Detective lain ada di sini" Ucap Sungmin masih berbisik sambil memperhatikan rekan-rekan kerjanya yang siap dalam posisi masing-masing.
"Apa ahjussi sudah mendapat ijin dari atas? Bukankah kalau ini ada kaitannya dengan kasus itu hanya kita saja yang menyelidikinya?" Lanjut Sungmin yang di liputi rasa kepenasaran besar.
"Nanti aku akan memberitahumu Sungmin-ah, sekarang kita fokus saja untuk menyelamatkan Kang Minho, dan meringkus pelakunya." Final Yesung akhirnya.
Mau tak mau, Sungmin pun meng'Iya' kan apa yang Yesung katakan. Toh, kalau ini memang ada hubungannya dengan kasus yang tengah Sungmin selidiki, ia juga memang ingin sekali meringkus pelakunya lebih dari pada siapapun.
.
.
.
Hampir 20 Menit Sungmin dan juga Yesung memantau salah satu rumah yang mereka yakini sebagai tempat penyekapan Minho. Putra tunggal Kang Gilroo.
Namun, hingga menit ke 25, baik Sungmin maupun Yesung, beserta seluruh petugas yang memantau tempat tersebut, belum melihat adanya tanda-tanda kalau rumah itu berpenghuni. Terlalu tenang dan juga sepi. Bahkan, Sungmin sempat tak yakin kalau 'mangsa' mereka ada di dalam sana.
Brukkhh...
Bruuukkhh...
Suara gaduh dari dalam rumah tersebut dengan cepat membuat semua anggota kepolisian itu membetulkan posisi mereka dengan waspada. Sebuah pistol dengan peluru penuh sudah siap di tangan masing-masing.
TAP...
TAP..
TAP..
Suara langkah kaki khas orang berlali menghampiri indra pendengaran mereka. Di susul dengan keluarnya dua orang namja berpakaian serba hitam dari dalam rumah tersebut.
"Sial! Mereka tahu kita mengintainya!" Umpat Yesung
"Kejar!" Lanjutnya memberi perintah. Sebelum akhirnya ia pun ikut berlari dengan anak buahnya yang sudah terlebih dahulu mengejar kedua tersangka itu.
.
Sungmin ikut berlari menyusul Yesung.
Namun, saat di depan bangunan rumah tua yang tadi mereka pantau, Sungmin tidak lagi mengikuti langkah lebar Yesung.
Justru ia malah masuk ke dalam rumah tersebut. Instingnya yang cerdas mengatakan ada kejanggalan di sini. Bukankah Yesung bilang mereka menyekap Kang Minho di dalam sana?
Oh Sial! Kenapa Yesung melupakan fakta itu?
.
"SHIT! Mereka mempermainkanku!"
Dan benar saja.
Sungmin menggeram kala melihat tali yang melilit sebuah kursi kosong yang ia yakini pasti sebelumnya Minho lah yang di ikat di sana. Pintu yang terbuka lebar menandakan sang pelaku telah berhasil membawa lari anak itu melalui suatu ruangan yang tembus pada lorong rahasia di belakang rumah tersebut.
Dengan cepat, Sungmin berlari memasuki lorong asing itu, manik rubahnya tetap waspada melihat sekeliling.
.
Namun, sejauh Sungmin berlari, ia tak menemukan apapun di sana. Bahkan sekedar bunyi langkah kakipun tak ia dengar. Dan itu menandakan, kalau mereka telah kehilangan 'Mangsa' yang sebenarnya.
"Aaarrrggghhh... Sial!" Sekali lagi, Sungmin mengeluarkan kemarahannya.
Padahal, beberapa saat yang lalu ia berharap dapat mendapatkan putra Kang Gilroo. Ia yakin, kalau Kang Minho mengetahui sesuatu. Makanya para penjahat itu menginginkannya.
"Sungmin-ah..." Tepukan halus Sungmin rasakan pada bahunya.
"Ahjussi... Kita kehilangannya." Cicit Sungmin. Sarat akan kekecewaan.
"Tidak semuanya. Kami berhasil menangkap dua orang yang mengalihkan perhatian kita tadi. Kita bisa mengintrogasi mereka. Setidaknya, kita pasti akan menemukan sedikit jawaban dengan mengintrogasi mereka."
Yesung berusaha mengembalikan keyakinan Sungmin. Meskipun sejujurnya, ia pun tak yakin akan membuahkan hasil.
.
.
*KYUMIN*
.
.
"CEPAT BUKA MULUT KALIAN! SIAPA DALANG DARI SEMUA INI?! SIAPA BOS KALIAN? DAN DI MANA KALIAN MENYEMBUNYIKAN KANG MINHO?!"
BRAAKH...
Teriakan Sungmin beserta gebrakan pada meja introgasi memenuhi ruangan kedap suara tersebut.
Peluh sudah membasahi wajah cantiknya. Kedua tangnnya terkepal kuat. Hingga buku-buku jarinya memutih. Menahan marah sekaligus kecewa.
Karena semenjak introgasi di lakukan, kedua tersangka tampak enggan untuk membuka mulut mereka. Seolah tak takut sama sekali atas ancaman keras sang Detective.
Justru, mereka malah balik menatap paras cantik itu tanpa ekspresi. Yesungpun tak tahu apa maksud tatapan mereka.
BRAAKKH...
"SIALAN! KATAKAN PADAKU SIAPA BOS KALIAN!" Sungmin makin berteriak frustasi. Bayangan kelam 17 tahun yang lalu saat dirinya kehilangan orang tercinta kembali terbayang. Sungmin menatap kedua tersangka yang tadi ia ketahui masing-masing berumur 45 dan 47 tahun itu dengan sengit.
.
Tetap tak ada jawaban. Kedua namja paruh baya itu tetap bungkam. Seolah melindungi sesuatu yang lebih besar. Dan itu justru membuat Sungmin semakin penasaran dan juga marah.
"Sungmin-ah.. tenanglah..."
Yesung berusaha menenangkan hati sang Detective yang telah ia anggap sebagai anaknya sendiri itu.
"TIDAK AHJUSSI! AKU HARUS MENDAPATKAN JAWABAN DARI MEREKA!" Sungmin menepis tangan kekar Yesung yang mengelus pundaknya.
Kedua manik foxy Sungmin memerah akibat menahan bendungan air mata dan juga amarah yang luar biasa besar. Hatinya bergemuruh liar. Nafasnya sudah tak beraturan akibat marah.
.
"Sungmin-ah... kita bicara sebentar." Dengan sabar, Yesung tetap berusaha menenangkan Sungmin. Ia tahu, ini bukan waktu yang tepat untuk Sungmin memulai introgasi. Saat ini, Sungmin sedang emosi.
Senyum kecil tersungging dari bibir Yesung kala Sungmin tak lagi menolak sentuhannya. Bahkan, kini Sungmin menurut saja kala Yesung menggiringnya keluar dari ruangan tersebut.
.
Satu isyarat Yesung berikan pada dua orang polisi yang bertugas di sana untuk mengawasi kedua tersangka. Kemudian, setelahnya ia kembali fokus pada namja cantik yang mengikuti langkahnya pasrah.
.
.
"Minumlah dulu.. dan tenangkan hatimu. Sungmin-ah.." Yesung menyerahkan satu cangkir air putih kehadapan Sungmin. Berharap dengan meminumnya bisa membuat Sungmin rileks.
.
"Sungmin-ah.. Sepertinya cukup sampai di sini.."
Sungmin yang semula memutarkan jemarinya abstrak pada permukaan atas cangkir yang Yesung berikan, tiba-tiba menghentikan kegiatannya kala mendengar perkataan ambigu sang kepala Polisi.
"Apa maksudmu ahjussi?" Tanyanya dengan kedua manik rubahnya menatap Yesung lekat.
"Maksudku, kau serahkan kasus ini padaku. Lagi pula aku sudah mendapat ijin untuk membuka kembali kasus ini." Ucap Yesung hati-hati.
Sungmin berpikir sejenak. Pantas saja Yesung membawa banyak anak buahnya. Ternyata kasus ini sudah mendapat ijin untuk kembali di selidiki. Ada kelegaan di hati Sungmin. Dengan begitu ia dan juga Yesung tak perlu menyelidinya secara diam-diam lagi bukan? Dan ini tidak akan sesulit saat menyelidinya secara rahasia.
Tapi...
Apa yang Yesung katakan tadi? Berhenti?
"Tidak ahjussi! Bukankah ahjussi juga tahu, kalau aku lah yang lebih ingin menyelidiki kasus ini? Ahjussi juga tahu kan betapa besarnya keinginanku untuk menangkap orang yang telah membunuh kedua orang tua Eunhyuk, dan telah menyebabkan aku kehilangan Guixian? Dan sekarang, ahjussi ingin aku berhenti? Jangan konyol ahjussi!"
"B.. Bukan begitu Sungmin-ah..." Yesung berusaha selembut mungkin. Ia tahu memang akan seperti ini kalau ia nekad meminta Sungmin untuk berhenti.
Tapi.. Dengan di bukanya kasus ini, ia takut.. Amat sangat takut...
"Aku tak ingin kau terus menerus menahan sakit. Bukankah tadi kau sudah merasakannya saat mengintrogasi kedua orang itu? Aku tak tega melihatmu seperti itu Sungmin-ah.. Berhentilah. Dan tunggu hasilnya. Aku yang akan menyelidiki kasus ini sampai tuntas." Ucap Yesung berusaha meyakinkan Sungmin.
"Tidak! Ahjussi jangan lagi memintaku berhenti! Karena aku tidak akan pernah berhenti!" Tandas Sungmin final.
Yesung hanya dapat menghembuskan nafasnya berat. 'Ini akan sangat menyakitkan untukmu. Sungmin-ah..' lirihnya.
.
.
*KYUMIN*
.
.
Sementara itu di tempat lain...
"K... Kau..."
Kyuhyun membulatkan matanya kala satu wajah yang tak mungkin ia lupakan seumur hidupnya berada di hadapannya saat ini.
Sungguh! Dari ribuan wajah di dunia ini, hanya satu yang membuatnya lemah seketika. Bayangan kelam masa lalunya kembali hadir. Saat-saat dirinya menyaksikan langsung kedua orang tua tewas di hadapannya, kembali membuka luka yang sudah perlahan ia sembuhkan.
Wajah itu...
Orang itu...
Kyuhyun berusaha setenang mungkin tetap berdiri di posisinya. Meskipun tak dapat di pungkiri, kalau tangan kanannya yang menodongkan pistol pada orang di hadapannya bergetar hebat. Hingga siapapun itu lawannya pasti akan menang melawan kegugupan Kyuhyun.
"Ohoo.. Siapa ini? Sungguh keajaiban yang luar biasa. Bukankah kau Cho Guixian? Wajahmu yang sedikit berbeda hampir saja berhasil menipuku. Tapi..." Suara yang menggema di lorong sepi itu membuat Kyuhyun semakin kebas. Di tambah seringai mengerikan yang ia dapatkan dari orang tersebut.
"Wajah ketakutanmu itu masih sama seperti dulu Guixian-ie!" Lanjutnya semakin membuat Kyuhyun geram.
"Jangan samakan aku seperti dulu! Aku tak selemah yang kau kira! Lepaskan anak itu!"
Kyuhyun mencoba untuk menggertak sang lawan dengan berusaha setenang mungkin. Jangan sampai kenangan pahit masa lalu melemahkannya.
"Oww. Kau membuatku takut nak..." Ucap sang lawan meremehkan.
Lengan kirinya mengapit leher remaja berusia 17 tahun dalam dekapannya. Sedangkan tangan kanannya dengan cekatan mengarahkan pisau yang di genggamnya di depan wajah remaja manis itu. "Kau menginginkan dia?" Lanjutnya sinis.
Kyuhyun semakin geram. Jika ia salah mengambil langkah, maka remaja itu akan terluka.
"Aku kira kau sudah bertobat! Ternyata kau masih menjadi budaknya sampai saat ini"
Kyuhyun berucap dengan tak kalah sinisnya. Kini ia sudah dapat menguasai diri. Ia tak boleh kalah oleh emosinya. Ia harus berusaha melawan ketakutannya.
"Siapa yang kau sebut budak?! Eoh!"
Kyuhyun mulai rileks. Ia sudah berhasil mengimbangi lawannya.
"Serahkan Kang Minho padaku!" Gertak Kyuhyun.
"Kau sudah berani rupanya. Kau benar-benar menginginkan anak ini?"
.
"K.. Kyuhyun.. Hyung..."
Kyuhyun mengepalkan tangannya. Kala sang lawan makin mencengkram leher Minho. Ia harus berusaha setenang mungkin untuk menyelamatnya.
Minho adalah satu-satunya orang yang tahu apa yang ia cari. Dan lebih dari itu, Kyuhyun merasa mempunyai tanggung jawab untuk melindungi putra dari orang yang telah menyelamatkan nyawanya itu. Sudah sepantasnya ia membalas semua kebaikan Kang Gilroo padanya.
"Apa kau ingin menyaksikan anak ini tewas di hadapanmu? Aah.. Seperti kejadian dulu saat aku membunuh kedua orang tuamu? Oh.. Pasti sangat menyenangkan" Ucapan yang di sertai seringai menyebalkan dari hadapan Kyuhyun membuatnya mau tidak mau kembali tersulut emosi. Kalau sudah menyangkut kematian kedua orang tuanya, Kyuhyun tak bisa jamin kalau ia akan tetap bersikap tenang.
"H.. Hyung.. akh..."
Satu goresan kecil pada pipi halus remaja 17 tahun itu makin menyulut emosi Kyuhyun. Tapi, ia masih bisa menguasai dirinya. Nyawa Minho ada di tangannya saat ini.
"Lepaskan anak itu!" Kyuhyun kembali menggertak. Pistol yang sedari tadi di genggamnya semakin ia todongkan kearah sang lawan.
"Tck! Aku sudah cape bermain-main dengan mu. Baiklah! Kalau itu maumu. Apa kau bisa membawa anak ini dari genggamanku?"
Ujung pisau yang sangat runcing dan juga tajam kini berada tepat di depan hidung mancung Kyuhyun. Namun, tangan kiri sang lawan tetap kuat mengapit leher Minho di depan dadanya.
.
Kedua obsidian Kyuhyun berkilat marah. Kebencian beserta keinginan untuk membalas dendam dalam dirinya berkumpul dalam sorot tajam kedua manik hitam itu. Seandainya saja tidak ada Minho di antara mereka, sudah di pastikan Kyuhyun menarik pelatuk pistolnya dan menembak langsung ulu hati orang di hadapannya.
Namun, keselamatan Minho lebih penting dari pada pertumpahan darah anatara dirinya dengan orang yang telah merenggut nyawa kedua orang tuanya itu.
"Cho Guixian! Aku sarankan kau berhenti untuk mengungkap semuanya. Bahkan kau lebih tahu dari pada siapapun kalau kau mengungkap semuanya, orang yang kau cintai akan terluka." Sang lawan mencoba untuk kembali melemahkan Kyuhyun. Sambil menunggu reaksi Kyuhyun, dia tetap waspada menodongkan pisau tajamnya kearah Kyuhyun.
.
Kyuhyun kembali merasakan sakit dalam dadanya. 'Sungmin-ah..'
Sang lawan benar-benar mengalahkannya telak.
.
.
.
DOR!
Suara tembakan menggema dalam lorong sepi itu.
Sreettt...
Setelahnya, satu sayatan yang cukup dalam Kyuhyun rasakan di atas pusarnya.
"Akh..."
"HYUNG!" Minho yang telah terlepas dari cengkraman sang pelaku langsung menghambur kearah Kyuhyun. Menekan darah yang mulai mengalir dari luka yang Kyuhyun dapatkan.
.
"Kyu! bawa Minho kedalam mobil! Aku akan mengejarnya. Kaki dia terluka. Dia tak akan bisa berlari jauh!"
Changmin berhasil melumpuhkan lawan. Minho pun berhasil terlepas. Namun mereka belum bisa bernafas lega karena sang lawan berhasil lari setelah menerima tembakan pada kakinya. Dan satu lagi, Changmin tidak tahu Kyuhyun berhasil di lukai sang pelaku.
.
.
.
"Sial! Dia benar-benar kuat. Aku sudah menembak kakinya tapi dia berhasil lolos" Umpat Changmin saat memasuki mobilnya.
"Changmin-ah, bawa Minho ke tempat yang aman. Jangan bawa dia ke Apartment kita."
Kyuhyun yang sudah berada di jok belakang berusaha berbicara senormal mungkin. Walau nyatanya ringisan kecil tetap terlihat kala ia menahan sakit yang teramat sangat di bagian perutnya.
"Kau benar Kyu. Kita harus menyembunyikan Minho." Setelah melihat Minho yang duduk di samping Kyuhyun, Changmin menimpali sambil siap menyalakan mesin mobilnya.
.
"Aku akan kembali ke Apartment seorang diri. Kau bawa dulu Minho ke tempat yang aman. Dan obati luka di wajah Minho"
"T... Tapi.. Kyuhyun hyung.." Minho gelagapan. Ia tahu benar Kyuhyun terluka. Mana bisa Kyuhyun pergi seorang diri.
Namun, tatapan tajam Kyuhyun yang seolah menyuruhnya untuk diam berhasil membungkamnya.
Dan setelah Changmin meng'iya' kan apa yang Kyuhyun katakan, Minho hanya dapat menatap nanar bayangan Kyuhyun dari dalam mobil. Ia janji, akan membalas semua yang Kyuhyun lakukan untuknya.
.
.
*KYUMIN*
.
.
Hari sudah gelap...
Kyuhyun, terbaring lemah di atas ranjangnya. Keringat dingin sudah membanjiri seluruh tubuhnya. Pandangannya yang mengabur tak bisa menangkap apapun di hadapannya.
Gelap...
Yah.. Ia memang tak menyalakan lampu di dalam kamarnya. Bahkan, seluruh ruangan dalam Apartment itu terlihat gelap.
Sepertinya, Kyuhyun tak punya daya untuk sekedar menyalakan seluruh lampu di dalam Apartmentnya. Atau mungkin... Ia memang tak berniat menyalakannya.
Karena, dengan dirinya berada dalam kegelapan, ia tak perlu lagi melihat semua yang ada di dalam kamarnya. Semua barang yang berkaitan dengan namja cantik yang teramat di cintainya.
Mulai dari hadiah yang dulu ia terima dari sang namja cantik, boneka-boneka kesukaannya, dan juga foto-foto yang terpajang di dinding kamarnya. Semakin Kyuhyun melihat paras cantik itu, semakin sakit juga hatinya. Di tambah lagi, satu orang yang membuka kembali luka hatinya beberapa jam yang lalu.
Orang itu...
Yang di suruh untuk membunuh kedua orang tuanya. Bahkan mungkin sekarang ini orang itu juga akan kembali di suruh untuk membunuhnya. Dan juga orang-orang yang ia cintai. Satu yang mengganggu pikirannya saat ini. Keselamatan adik Hyukjae.
"Nngghhh..."
Erangan kesakitan lolos dari bibir tebal Kyuhyun. Luka di perutnya semakin mengucurkan banyak darah.
Sakit yang ia rasakan tak sebanding dengan kekhawatirannya akan orang-orang yang di sayanginya. Saat ini, pasti keberadaannya sebagai Cho Guixian akan di ketahui. Dan itu semakin membuatnya takut akan keselamatan orang-orang yang di cintainya itu.
"Cho Guixian! Aku sarankan kau berhenti untuk mengungkap semuanya. Bahkan kau lebih tahu dari pada siapapun kalau kau mengungkap semuanya, orang yang kau cintai akan terluka."
Perkataan itu kembali terngiang di ingatannya. Kepalanya semakin sakit menahan perih di hatinya dan juga perih pada luka yang semakin parah di perutnya.
"Uuhh..."
Keringat dingin semakin membanjiri tubuh Kyuhyun. Ia sudah tak kuat menahan semua luka sendirian. Ia membutuhkan seseorang.
.
.
Brakkkk...
Plaasshh..
"YAK! CHO KYUHYUN!"
Suara pintu yang di buka paksa di susul dengan cahaya terang yang langsung menyilaukan kedua manik hitam Kyuhyun beserta teriakan penuh ke khawatiran memenuhi kamar Kyuhyun yang kini terang benderang.
Sosok tinggi orang yang paling Kyuhyun percaya, langsung menghambur kearahnya. Memaki dirinya dengan keras. Memaki kebodohannya. Dan memaki karena mengkhawatirkannya.
"Kau bodoh! Apa yang kau pikirkan sebenarnya? Eoh?"
Changmin membuka paksa baju yang menempel pada tubuh Kyuhyun.
"Tck... Lukamu sangat serius. Kalau kau terus keras kepala, ini akan infeksi!" Lanjutnya tak henti.
"Suaramu sangat menggangguku.." Ucap Kyuhyun berusaha bersikap kuat. Namun tetap saja suaranya terdengar sangat lemah.
"Apakah Minho sudah aman?"
"Bukan itu yang harus kita bahas saat ini! Kau terluka bodoh!" Changmin bergegas mengompres luka di perut Kyuhyun dengan air hangat dan handuk kecil yang sudah ia siapkan.
Beruntung Minho memberitahunya saat mereka sampai di tempat yang aman. Kalau tidak, Changmin tidak akan pernah tahu kalau Kyuhyun terluka.
"Berhenti bersikap kuat. Bodoh!" Changmin tak henti menghardik Kyuhyun saking khawatirnya.
"Aku akan membawamu ke Rumah Sakit." Lanjutnya. Kemudian bersiap untuk membawa Kyuhyun keluar.
Tapi, pergerakannya terhenti kala tangan Kyuhyun mencengkram lengannya kuat.
"Jangan! Saat ini mungkin 'Dia' sudah tahu keberadaanku. Obati saja aku di sini" Ucap Kyuhyun tersendat.
"Kau!" Changmin menghela nafas. Kyuhyun benar-benar keras kepala.
.
.
.
Satu jam Changmin mencoba mengompres luka di perut Kyuhyun. Namun, selama itu pula keadaan Kyuhyun semakin parah. Bahkan saat ini Kyuhyun terserang demam yang sangat tinggi.
Changmin bergerak gelisah. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Kyuhyun sudah kehilangan kesadarannya.
.
Dan detik berikutnya, Changmin menguatkan diri untuk mengambil langkah ini. Apapun yang akan terjadi nanti, ia tak mempedulikannya. Yang terpenting saat ini Kyuhyun bisa di obati dengan benar.
.
.
Dan di sinilah Changmin berada..
Tangannya dengan ragu menekan tombol yang terdapat di pinggir salah satu pintu Apartment di tempat ia dan juga Kyuhyun tinggal.
Dengan was-was Changmin menunggu sang empunya rumah membuka pintu.
.
Namun.. sudah beberapa kali ia membunyikan bel, pintu kokoh di hadapannya tak kunjung terbuka.
'Apa tak ada orang di dalam?' Pikirnya.
Changmin semakin bergerak gelisah. Pada siapa lagi ia harus meminta pertolongan?
"Changmin-ssi?"
Suara lembut di belakangnya berhasil membuat Changmin bernafas lega. Ia membalikan tubuh dengan segera.
Sejenak ia berpikir. Ternyata benar di dalam sana tidak ada penghuninya. Namun, ia lega mengingat kini orang yang ia cari berada di hadapannya.
"Apa kau mencariku?"
"S.. Sungmin-ssi.. Jebal.. Dowajusseo..(Tolong aku)"
.
.
*KYUMIN*
.
.
Changmin memperhatikan namja cantik di hadapannya yang tengah telaten merawat luka di perut Kyuhyun. Senyum kecil tersungging di bibirnya.
Entahlah.. Ia merasa sangat lega.
"Sungmin-ssi, ternyata kau terampil juga dalam mengobati orang. Apakah sebelumnya kau pernah belajar tentang kedokteran juga?" Ucapnya memecah keheningan di dalam kamar bernuansa hitam putih tersebut.
"Aah.. Tidak juga. Aku hanya tahu sedikit dari Eunhyukkie. Pekerjaanku sebagai Detective kerap kali membuatku terluka. Dan di saat itu terjadi, aku tak pernah sekalipun pergi ke rumah sakit, karena ada Eunhyuk yang selalu mengobatiku. Dari situ, sedikit banyak aku jadi mengetahui apa yang harus di lakukan untuk menangani luka seperti ini." Jawab Sungmin tenang. Namun tidak dengan hatinya.
Sejak memasuki sebuah kamar yang penuh dengan wajah dirinya di dinding kamar itu, hati Sungmin sudah mencelos. Apa yang menjadi pertanyaannya selama ini terjawab sudah.
"Beruntung luka Kyuhyun-ssi tidak perlu di jahit. Hanya di obati dan di beri perban, aku yakin lukanya tidak akan infeksi, dan cepat sembuh." Lanjutnya dengan memberikan senyuman hangat kearah Changmin.
Changmin tersenyum kaku membalas senyuman sang Detective. Apa yang mereka bicarakan beberapa saat yang lalu saat Sungmin memasuki kamar Kyuhyun, pasti akan membuat Kyuhyun marah padanya. Tapi itu semua bisa ia selesaikan nanti. Yang terpenting saat ini, kesembuhan Kyuhyun.
.
.
.
.
Sungmin mendudukan dirinya di samping tubuh jangkung Kyuhyun. Beberapa kali ia mengucap syukur. Setelah perdebatan sengit bersama Yesung di kantor polisi, Yesung memaksanya untuk pulang dan beristirahat. Sungmin yang tadinya bersikeras menolak, akhirnya menyerah juga. Dan menuruti permintaan Yesung untuk pulang ke Apartmennya. Karena kalau tidak, ia tidak bisa membayangkan bagaimana Changmin yang kebingungan mencari bantuan untuk mengobati Kyuhyun.
.
Kedua tangannya menggenggam sebuah pistol mainan berwarna biru cerah yang di hiasi gantungan kelinci di ujung pelatuknya dengan hati yang bergetar.
Kini, di dalam kamar itu hanya tinggal dirinya dan juga Kyuhyun yang tertidur tenang. Manik rubahnya mulai berkaca-kaca.
Dengan sayang, Sungmin menyentuh permukaan tangan Kyuhyun. Setelah ia meletakan pistol mainan milik Kyuhyun di atas nakas yang terdapat di sisi ranjang, Sungmin beralih menggenggam jemari kekar Kyuhyun dengan kedua tangannya. Seolah menyalurkan semua kerinduan yang ia pendam selama ini. Di usapnya jemari itu dengan penuh kasih.
.
Sungmin menggigit bibir bawahnya dengan kuat. Air mata yang telah menumpuk di pelupuk matanya sudah tak bisa terbendung lagi. Hingga perlahan jatuh menuruni pipi halusnya.
Satu tangannya bergerak naik untuk menyentuh wajah tampan Kyuhyun, mengelusnya beberapa kali, kemudian kembali naik untuk merapikan rambut ikal Kyuhyun yang sedikit berantakan.
"Cepatlah sembuh.." Bisiknya.
.
.
.
Setelah memastikan kondisi Kyuhyun sudah mulai membaik, Sungmin berniat untuk beranjak dari tempatnya duduk.
Tapi..
Ia merasakan cengkraman pada jemarinya yang masih berada di atas punggung tangan Kyuhyun.
Sungmin kembali terduduk kala melihat satu tangan Kyuhyun mencengkramnya kuat.
"Ming.."
Kyuhyun mengigau dalam tidurnya. Atau mungkin, dalam ketidak sadarannya ia memang merasakan kehadiran Sungmin di dekatnya.
"Ming.. Kajima.." Igau Kyuhyun dengan kedua mata yang masih terpejam.
Sungmin menepuk-nepuk dada Kyuhyun dengan lembut, mencoba untuk menenangkan Kyuhyun. Senyum cantik menghiasi bibir tipisnya.
.
Perlahan namun pasti, entah itu di sadarinya atau tidak, Sungmin beringsut naik ke pinggir Kyuhyun, ikut berbaring di samping tubuh jangkung tersebut. Memeluknya dengan penuh sayang, sambil terus memberikan tepukan halus di dada Kyuhyun.
"Aku disini.. Aku akan tetap berada di sisimu. Xiannie…" bisik Sungmin lirih. Sebelum kedua foxynya ikut terpejam.
.
.
*KYUMIN*
.
.
"MWOOO? KAU KEHILANGAN ANAK ITU? DASAR BODOH!"
"T.. Tapi tuan.. Ada sesuatu yang harus tuan ketahui."
"APA ITU?"
"Cho Guixian masih hidup."
"ARA! BUKANKAH TEMANMU SUDAH MEMBERITAHUKU? APA KAU SUDAH MENEMUKAN DIMANA CHO GUIXIAN?"
"Saya bertemu dengannya. Dan Kang Minho sekarang ada bersamanya. Saya juga berhasil melukai perutnya. Dan ada satu hal lagi tuan."
"APA? CEPAT KATAKAN!"
"Cho Guixian memiliki nama lain tuan. Yaitu Kyuhyun."
"KYUHYUN? KYUHYUN JO MAKSUDMU?"
" Kang minho memanggilnya seperti itu."
"Baiklah. Kau tetap bersembunyi dan obati lukamu!"
PIP…. Sambungan telepon terputus.
Namja paruh baya dengan kacamata tebal yang bertengger di atas hidungnya mengepalkan tangan kuat.
"Kyuhyun Jo! Cho Guixian! Kau berani bermain-main denganku rupanya!"
.
.
.
_T.B.C_
.
.
.
Hallooooo…. Sayyah kembali hadir dengan Chapter yang super duper GaJe.
Jujur. sayyah gx PD sebenarnya sama Chapter ini. niat bikin Action yang menegangkan, malah alay banget.. Jeongmal Mianhaeeee kalau kalian kecewa sama Chapter ini. Hikz…
Welcome to New Readers… ^^
Jeongmal Gomawooo buat semua yang udah Review di Chapter sebelumnya… ^^
Sekarang Review lagi yaaa… ^^
Mau FF ini lanjut? Silahkan Review!
*Mian for typo(s). Sayyah miss typo yee.. Hueeee… T_T
Kamsahamnidaaaaaaaaa….. ^^ #Bungkuk
