~~…PERHAPS YOU…~~
.
.
KYUMIN
Slight. JungMin
EunHae
And Other…
.
.
Rate : T to M
Genre : Hurt/Comfort, Crime, Romance
Disclaimer : Lee Sungmin dan Cho Kyuhyun milik Tuhan
YME, keluarga mereka dan milik diri mereka sendiri,
namun mereka saling memiliki. dan FF abal ini murni
100% Milik saya…!
- WARNING! YAOI, OOC, Abal, GAJE, EYD amburadul
dan Typo dimana-mana
-REVIEW DI TUNGGU!-
Don't Like? Don't Read…!
Don't COPAS… !
.
.
Happy Reading…. ^^
.
.
Chapter 9
.
.
Namja cantik bermarga Lee itu sekali lagi mengerjapkan matanya. Memasang baik-baik indra pendengarnya. Masih belum yakin dengan apa yang baru saja ia dengar dari mulut namja paruh baya berwibawa yang saat ini duduk di hadapannya.
"Ap.. Appa.." Ucapnya ragu.
"Sungmin-ah, Appa dan keluarga Kim sudah merencanakan ini jauh-jauh hari. Dan Appa rasa memang ini sudah saatnya. Bukankah kalian sudah bertunangan?" Ucap namja paruh baya yang ternyata Lee Kangin tegas.
"Nde Appa. Tapi.. Ini terlalu mendadak. Dan dua minggu itu sepertinya terlalu singkat." Sungmin berusaha bersikap tenang.
Meskipun tak bisa dipungkiri, Kangin melihat jemari sang putra meremas bantalan sofa dalam pangkuannya.
"Dua minggu sudah lebih dari cukup Sungmin-ah. Kau tidak perlu melakukan apapun. Semua sudah di persiapkan. Undanganpun akan segera selesai di cetak. Kau dan juga Jungmo cukup menunggu dan menerima semua beres." Kangin makin meyakinkan tekad hatinya.
"Tapi.."
"Sungmin-ah.. Appa hanya memilikimu seorang. Appa ingin melihatmu hidup bahagia. Dan Appa yakin, Jungmo adalah namja yang baik untukmu. Dia pasti bisa membuatmu bahagia." Kangin dengan cepat memotong ucapan Sungmin yang siap melayangkan protes kembali. Dan ia yakin, Sungmin pasti akan menurut setelah dirinya mengeluarkan jurus terampuh.
Selama ini mereka hanya hidup berdua dengan harta yang melimpah ruah. Sungmin yang sudah hidup tanpa seorang ibu sejak di lahirkan sudah pasti sangat menyayangi Kangin sebagai ayahnya. Dan apapun itu yang Kangin minta, tak pernah sekalipun di tolaknya. Apalagi, jika Kangin sudah membawa-bawa keadaan mereka yang hanya hidup berdua. Sudah pasti Sungmin akan luluh.
Seperti saat ini. "Nde Appa." Sungmin kembali meng'iya' kan apa yang Kangin minta.
.
Sungmin memandang wajah tegas yang masih terlihat tampan di hadapannya. Ayahnya yang paling ia sayangi. Sama halnya ia meyayangi seseorang -yang kini baru kembali padanya-.
Kangin adalah segalanya bagi Sungmin. Sejak ia melihat dunia ini, yang Sungmin punya hanya seorang ayah. Seorang ayah yang sangat membanggakan. Dan seorang ayah yang selalu menjadi inspirasinya selama ini.
Senyuman tulus Sungmin berikan untuk Kangin. Berharap sang ayah merasa senang dan juga lega mendengar kesanggupannya.
Namun… senyuman tulus Sungmin sangat bertolak belakang dengan gejolak di hatinya.
Benarkah keputasan yang ia ambil?
.
.
*KYUMIN*
.
.
Sungmin sudah kembali dari mansion besar milik ayahnya. Sebelum pulang, Kangin meminta Sungmin untuk menginap di sana. Tapi, bukannya Sungmin tak ingin menemani sang ayah yang hanya tinggal bersama beberapa orang maid dan orang terpercayangnya. Hanya saja, jika berada di mansion megah itu, Sungmin selalu teringat akan masa kelamnya dulu saat dirinya kehilangan seseorang. Seseorang yang baru ia temukan kembali.
.
Dengan tatapan kosong, Sungmin berdiri di samping jendela kamarnya. Kegiatan yang selama beberapa menit lalu ia lakukan.
Hatinya kembali berdenyut sakit kala mengingat pembicaraannya bersama Kangin.
"Xiannie, apa yang harus aku lakukan? Kenapa keadaanya menjadi seperti ini? Baru saja kita bersama pagi tadi."
.
.
.
06.00 waktu setempat..
Namja tampan itu menggeliat tak nyaman. Ia merasakan tubuhnya sulit untuk di gerakan. Ada sesuatu yang menghambat pergerakan tubuhnya. Cahaya matahari yang menerobos masuk melalui celah jendela kamarnya membuat kedua obsidiannya mau tak mau harus mengerjap beberapa kali.
Tangan kanannya terangkat untuk memijat pelipisnya yang terasa pening. Sepertinya demam semalam belum sepenuhnya mereda. Sekali lagi ia mencoba untuk bergerak. Namun tetap terasa susah.
Otak pintarnya langsung bekerja. Ada sesuatu yang tidak beres.
Dengan perlahan, kedua Manik hitamnya terbuka sempurna. Melirik sesuatu yang berada di sampingnya. Ah ani. Lebih tepatnya mendekap tubuhnya.
"M.. Mm.. Ming?"
Kesadarannya sudah kembali dengan sempurna. Manik obsidiannya membulat tak percaya akan apa yang ia lihat saat ini.
Apakah ini hanya mimpi? Apakah dirinya masih tertidur?
"Nngg…" namun, lenguhan halus di hadapannya bagai menampar dirinya dan memaksanya untuk tersadar. Kalau itu bukanlah sebuah mimpi.
Obsidiannya masih memperhatikan pergerakan kecil dari jemari mungil yang masih mendekap tubuhnya. Beralih mengucek mata yang masih terpejam. Membuat wajah polos yang hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya itu terlihat sangat lucu. Mungkin karena merasakan tidurnya terganggu.
.
.
Manik rubah itu perlahan terbuka, menampakan kemilau bening dari dalam retina matanya. Mengerjap lucu kala belum tersadar sempurna.
"Xiannie..?" Detik berikutnya kedua Manik rubah itu membulat lucu. Di ikuti dengan gerakan refleks dari tubuhnya yang langsung terduduk di atas kasur.
Perasaan kaget, takut dan juga was-was bercampur menjadi satu.
"S.. Sungmin-ssi.."
Namja tampan yang kini bernama lengkap Kyuhyun Jo itu bergerak perlahan. Mengangkat tubuhnya agar dapat terduduk di hadapan sang Detective yang tengah menatapnya nanar.
"Akh…" rasa nyeri dengan segera menghampiri perutnya kala ia mencoba untuk bergerak. Dan barulah Kyuhyun menyadari kalau tangannya merasakan sesuatu dari balik kaos putih yang di kenakannya. Luka yang ia dapatkan kemarin sore sudar di perban rapi.
"Xiannie? Gwaenchanna?"
Kyuhyun yang sudah setengah duduk kembali mengalihkan fokusnya pada namja yang kini mencondongkan tubuh sambil menahan pergerakannya.
Tidakkah ia salah dengar? Sungmin memanggilnya… Xiannie?
"S.. Sungmin-ssi, bagaimana..?" Kyuhyun masih belum bisa mencerna keadaan yang sebenarnya. Bagaimana bisa Sungmin berada di dalam kamarnya? -yang menurutnya sangat terlarang untuk Sungmin-.
Dan lebih dari itu, bagaimana bisa, dirinya terbangun dengan Sungmin yang memeluk tubuhnya? Apakah….?
"Ak.. Aku.. Sudah mengetahui semuanya." Cicit Sungmin.
Manik rubahnya sudah berkaca-kaca. Dengan sayang, ia menatap langsung kedua Manik kelam milik Kyuhyun. Menggerakan tangannya secara refleks, hingga mendarat di pipi kanan Kyuhyun.
"Xiannie.. Kau masih hidup? Hikz.." Isakan lolos dari bibir semerah cherynya. Dengan susah payah, Sungmin menahan arus bening dari kedua matanya. Tapi tak berhasil. Genangan air mata itu tetap menuruni pipi halusnya dengan tak sabaran.
.
Mereka masih diam dalam posisi masing-masing dengan saling pandang. Kyuhyun yang tak mempunyai persiapan apapun merasakan shock luar biasa. Bagaimana bisa Sungmin ada bersamanya saat ini?
Shim Changmin. Yah.. Sudah pasti dia orangnya.
"Xiannie…" bisikan halus Sungmin kembali menarik kesadarannya.
"M.. Ming.." Akhirnya bibir tebal itu berucap dengan ragu.
"Xiannie.." Bagai tak pernah bosan, Sungmin mengucapkan panggilan sayangnya untuk Kyuhyun dulu. Seolah satu kata itu sudah siap di tenggorokannya sejak lama. Menyebutkannya dengan penuh kasih dan cinta seperti saat ini. Sambil memandang orang yang memang memiliki panggilan sayang tersebut.
.
Baik Kyuhyun maupun Sungmin, keduanya tak menyadari siapa yang memulai. Kini bibir mereka saling bertaut. Melumat dengan lembut dan terkesan sangat hati-hati, menyecap rasa manis yang langsung menjalar pada indra perasa mereka. Menyalurkan kerinduan yang selama 17 belas tahun mereka pendam. Meskipun tetap, Kyuhyun lebih mendominasi ciuman manis itu.
Mengabaikan penjelasan yang ingin mereka ketahui, keduanya memutuskan untuk terbuai dalam ciuman hangat terlebih dahulu. Mewakili kata-kata penuh kerinduan yang ingin mereka lontarkan.
.
Setelah merasa oksigen semakin mereka butuhkan, keduanya melepas tautan bibir masing-masing secara perlahan. Mengatur nafas dengan kening yang saling menempel. Tersenyum dengan tulus dengan hati yang luar biasa bahagia.
Kyuhyun menggerakan kedua tangannya. Membawa tubuh mungil Sungmin ke dalam pelukan hangat. Membelai punggung sempit Sungmin dengan sayang. Menciumi pucuk kepala Sungmin berkali-kali. Setelahnya, dengan perlahan Kyuhyun membimbing tubuh mungil itu untuk kembali berbaring dalam dekapannya. Dengan tangan kiri Kyuhyun sebagai bantal namja cantik itu.
Lama mereka dalam posisi seperti itu. Merasakan kehangatan dalam dekapan tubuh masing-masing. Mengaktifkan kembali debaran jantung yang sudah lama tidak mereka rasakan. Menghirup dalam-dalam aroma yang mereka rindukan. Aroma tubuh masing-masing yang masih sama seperti dulu, kehangatan yang masih sama seperti dulu, dan perasaan penuh cita beserta detak jantung yang berdetak seirama masih sama seperti dulu. Kini mereka menemukannya kembali. Menemukan apa yang mereka cari selama ini, sesuatu yang sudah hilang dari diri mereka.
.
"Ming…" Kyuhyun memecah keheningan di antara mereka.
"Hmmm.."
"Sejak kapan kau tahu?"
"Sejak pertama kita bertemu. Dimalam pesta ulang tahunku yang juga merupakan hari ulang tahunmu." Sungmin menjawab pertanyaan Kyuhyun dengan masih menenggelamkan kepalanya pada dada bidang Kyuhyun. Yang di susul dengan dekapannya yang semakin erat pada tubuh jangkung itu.
Kyuhyun mengerutkan kening. "Jinjja? Tapi… Kenapa kau tidak memberitahuku?" Ucapnya.
Sungmin mendongak, menatap wajah tampan di atasnya. Satu tangannya terulur untuk menyentuh wajah tampan Kyuhyun.
"Saat itu aku masih belum yakin." Cicitnya lembut.
"Lalu, kapan kau merasa yakin? Hem?" Kyuhyun membalas tatapan Sungmin sambil membelai surai pirang milik namja cantik-Nya.
"Saat kau menolongku di atap gedung Hotel waktu aku pingsan. Aku tahu itu kau. Bukan supir ayahku. Dan juga, kedua bola mata ini…" Sungmin menyentuh permukaan mata Kyuhyun, hingga membuat obsidian itu refleks terpejam, sambil melanjutkan. "Hanya ada satu orang yang memiliki tatapan tajam sepertimu. Dan hanya ada satu orang yang menatapku penuh kehangatan sepertimu. Aku tak akan pernah bisa melupakan tatapan tajam penuh cintamu itu." Sungmin mengakhiri perkataanya dengan jujur.
Kyuhyun tersenyum. "Dan kau lebih yakin setelah memasuki kamarku bukan?" Ucap Kyuhyun yang di balas senyuman manis Sungmin.
Keduanya mengalihkan fokus mereka pada dinding kamar Kyuhyun yang di penuhi dengan potret cantik Sungmin dengan berbagai macam gaya. Bahkan Sungmin tak tahu kapan dirinya di potret seperti itu. Dari masa dirinya mengenakan seragam senior high scool sampai dirinya menjadi Detective seperti sekarang ini semuanya ada. Kumplit.
"Xiannie, sejak kapan kau menjadi penguntit?" Canda Sungmin yang takjub dengan pose-pose dirinya.
"Sejak aku mengingat kembali dirimu."
"Kau hilang ingatan?" Sungmin kembali menatap Kyuhyun. Kini tatapan khawatir ia berikan.
"Ceritanya sangat panjang. Nanti. Nanti aku akan menceritakannya." Kyuhyun mendekap tubuh Sungmin, memberikan usapan-usapan halus di punggung namja cantik itu.
.
.
"Ming.."
"Emm?"
"Bagaimana dengan Jungmo?"
Sungmin terkesiap. Untuk sesaat ia melupakan statusnya yang sudah memiliki tunangan. "Dari dulu sampai sekarang, hati ini tetap milikmu. Aku tak pernah bisa berpaling darimu. Meskipun itu Jungmo."
"Tapi sepertinya, bibir ini sudah menjadi miliknya." Kyuhyun mencomot gemas bibir shap-m Sungmin, mencoba menggodanya.
"Yak! Jangan asal bicara!" Sungmin mendelik kearah Kyuhyun, satu pukulan kecil ia layangkan pada lengan Kyuhyun yang memeluknya.
Tapi setelahnya, kedua pipi bulat Sungmin merona. Sungmin kembali membenamkan kepalanya di atas dada Kyuhyun sambil berucap lirih. "Ini.. Emm.. Itu.. Ciuman tadi…"
Kyuhyun mengangkat sebelah alisnya. Merasa lucu melihat tingkah malu-malu Sungmin. Ada apa dengan namja cantik itu? Jangan katakan….
"Ming…" Kyuhyun sedikit menyentakan tubuhnya. Berusaha agar Sungmin kembali menatap wajahnya. Tapi sepertinya Sungmin tetap keukeuh pada pendiriannya. Tak sedikitpun ia menggerakan kepalanya.
"Nde! Tadi itu ciuman pertamaku! Jungmo tak pernah sekalipun menyentuh bibirku." Ucapnya dengan mempoutkan bibir lucu.
Kyuhyun terkekeh. "Jeongmalyo? Jungmo tak pernah menciummu? Pantas saja ciumanmu sangat kaku." Ucapnya semakin menggoda sang bunny.
"Nde! Kau puas?" Sungmin mengangkat kepala. Menatap langsung pada manik Kyuhyun dengan tatapan sinis. "Dan sepertinya kau sangat pintar dalam berciuman Mr. Cho! Ah.. Mr. Jo! Kau pasti sering mencium wanita-wanita bul-… Hhhppfftt.."
Kyuhyun dengan cepat menarik kepala Sungmin, menautkan kembali belahan bibir mereka. Menyesap bibir atas dan bawah Sungmin bergantian, hingga membuat Sungmin sedikit berontak. Walau tetap saja, akhirnya Sungmin diam menerima perlakuan sedikit kasar namun manis dari Kyuhyun.
Chup..
Bibir mereka terlepas. "Jangan suka menyimpulkan sesuatu yang belum jelas. Aku tak pernah mencium siapapun selain dirimu. Saat ini." Ucap Kyuhyun yang berhasil membuat Sungmin kembali merona.
Sungmin buru-buru menyembunyikan rona wajahnya dengan kembali tidur di atas dada Kyuhyun. Hatinya berdetak tak karuan. Kyuhyun benar-benar mengalahkannya telak.
.
"Xiannie…" setelah berhasil menenangkan kembali detak jantungnya yang bekerja di atas normal, Sungmin bersuara dengan masih mendekap tubuh Kyuhyun.
"Hmmm..?"
"Sekarang kau sudah kembali. Bagaimana kalau aku memberitahu appa? Dia pasti akan senang sekali." Ucap Sungmin.
Kyuhyun menghentikan usapannya di kepala Sungmin. Setelah mengatur nafasnya, ia berkata. "Jangan dulu Ming.. Sebisa mungkin jangan dulu ada yang tahu kalau aku masih hidup. Bukankah kau yakin kasus 17 tahun lalu itu bukan perampokan?"
Sungmin menganggukan kepala. Mengingat apa yang sedang ia selidiki selama ini.
"Hmm.. Itu pembunuhan. Dan kalau si pembunuh tahu kau masih hidup, bukan hanya kau yang berada dalam bahaya. Tapi Eunhyuk juga."
"Kau memang seorang Detective yang sangat pintar sayang.. Maka dari itu, berpura-puralah kau tidak tahu. Karena tidak menutup kemungkinan kau juga dalam bahaya." Ucap Kyuhyun sambil mengeratkan pelukannya. Merasa takut dengan kata-katanya sendiri.
"Baiklah.."
.
"Ming.."
"Nde?"
"Bagaimana dengan Jungmo?" Kyuhyun kembali menanyakan hal yang sama.
Sungmin diam. Tak tahu apa jawaban yang paling tepat untuk menjawab pertanyaan Kyuhyun barusan. Jujur! Ia pun tak tahu harus bagaimana pada Jungmo. Namja yang saat ini berstatus sebagai tunangannya itu sudah sangat baik padanya. Sungminpun tak sampai hati untuk melukai hatinya.
Tapi.. Saat ini keadaanya berbeda. Guixian-nya sudah kembali. Cinta dan kebahagiaannya sudah ia dapatkan kembali.
Sungmin mengeratkan pelukannya. Mendekap hangat tubuh yang sangat ia rindukan. Biarlah saat ini ia merasakan kehangatan itu. Melampiaskan kerinduannya yang terpendam.
Dan kamar luas itu menjadi saksi pertemuan kedua insan yang tengah melepas rindu dengan bahagia tersebut.
.
.
*KYUMIN*
.
.
"Xiannie.. Eotteokhae?" Sungmin kembali mermonolog ria.
Setelah menganggukan kepala ambigu, sang Detective beranjak dari tempatnya berdiri. Berjalan dengan tergesa menuju pintu kamarnya. Satu yang harus ia tuju saat keluar dari kamarnya. Sebuah Apartment yang berada di seberang Apartment miliknya.
"Sungmin-ah.." Tapi sayang. Sang tunangan sudah berada di hadapannya.
Sepertinya Sungmin terlalu resah hingga tak menyadari kalau Jungmo memasuki Apartmentnya. Dan kini, namja itu sudah berada di hadapannya. Menatap Sungmin dengan perasaan khawatir. Kedua Manik rubah Sungmin yang memerah dan juga bengkak, siapapun pasti akan merasakan ke khawatiran yang sama seperti Jungmo saat ini. Dan Jungmo yakin, manik cantik itu sudah mengucurkan ribuan butir air mata sejak tadi.
Dan lagi-lagi Jungmo yakin dan sangat tahu apa yang menyebabkan kedua mata indah itu membengkak.
"Gwaenchanna?" Jungmin menyentuh kedua bahu Sungmin.
"Nan gwaenchanna Jungmo-ya.." Jungmo kembali menguatkan hatinya, kala senyuman yang amat di paksakan itu ia terima dari Sungmin. Kalau boleh jujur, setiap Sungmin mengatakan dirinya baik-baik saja dengan senyuman yang selalu di paksakan, itu membuatnya sangat merasa bersalah.
"Apa kau akan pergi ke suatu tempat?" Tanya Jungmo. Ia bisa menerka, saat dirinya masuk tadi, Sungmin tengah terburu-buru, sampai tidak menyadari kedatangannya.
.
Sungmin menggigit bibir resah. "A.. Anio. Aku tidak akan pergi kemana-mana." Bohongnya.
"Bisa kita bicara?"
"Tentu saja."
Sungmin melangkahkan kakinya menuju sofa yang di ikuti Jungmo.
.
Hening…
Setelah keduanya duduk berhadapan. Hanya kebisuan yang menemani mereka. Baik Jungmo maupun Sungmin, sepertinya mereka sama-sama sedang memilih kata yang tepat untuk di ucapkan pertama kali.
"Eunhyuk belum pulang?" Pertanyaan basa-basi Jungmo membuka pembicaraan mereka.
"Kurasa dia lembur di RS." Jawab Sungmin.
Keduanya kembali terdiam. Beberapa kali Sungmin menggigit bibir bawahnya. Memikirkan bagaimana sikap yang harus ia ambil saat ini.
"Sungmin-ah.. Ku rasa, Kangin ahjussi sudah membicarakannya denganmu." Ucap Jungmo akhirnya.
Sungmin menghela nafas. "Nde.." Cicitnya.
"Bagaimana menurutmu? Haruskah kita menikah dua minggu lagi? Sesuai rencana ayahmu dan juga kedua orangtuaku?" Jungmo mulai memasuki pokok pembahasan mereka.
Ya betu! Pembicaraan Sungmin dan juga Kangin beberapa jam yang lalu tentang rencana pernikahannya dengan Jungmo yang di percepat.
"Aku…" ucap Sungmin ragu. Jemarinya meremas kuat celana yang ia kenakan. Manik rubahnya bergerak gelisah.
"Kalau kau belum siap, kau bisa menolaknya Sungmin-ah.." Jungmo yang melihat gelagat Sungmin langsung bersuara.
"A.. Anio Jungmo-ya. Bukan seperti itu. Hanya saja.. Ini terlalu mendadak." Ucap Sungmin akhirnya.
Namun, bukan Jungmo namanya bila ia tidak mengetahui apa yang sebenarnya ada di dalam hati Sungmin. Hidup menjadi sahabat selama bertahun-tahun yang berujung pergantian setatus menjadi tunangan namja manis itu sudah cukup membuatnya tahu bagaimana perasaan Sungmin jika sudah membahas hubungan mereka.
Jungmo sudah susah payah untuk tidak membahas hubungan mereka yang sudah terikat cincin pertunangan selama ini. Karena Jungmo tahu, hal itu hanya akan membuat Sungmin sakit seperti sekarang ini. Mata bengkak nan memerah Sungmin sudah menjelaskan semuanya. Menjelaskan kalau namja cantik sang Detective itu menderita dengan ikatan mereka.
Tapi.. Sekali lagi Jungmo harus bersikap egois jika menyangkut perasaannya. Jujur! Ia juga ingin memiliki Sungmin seutuhnya. Hanya sata, hati kecilnya selalu bertolak belakang jika sudah melihat keadaan Sungmin yang seperti ini. Ia harus kembali pada kenyataan bahwa hati Sungmin selamanya tidak akan pernah ia miliki.
.
"Sungmin-ah.. Mianhae.."
Sungmin menatap Jungmo. Hatinya semakin sakit. Selain ia harus memaksakan diri untuk menerima semua keputusan ayahnya yang menginginkan dirinya bersama Jungmo, Sungmin juga harus sakit karena selalu membuat namja di hadapannya terluka. Salahkan dirinya yang belum bahkan tidak akan pernah bisa berpaling dari Guixian.
"Jungmo-ya, aku yang seharusnya meminta maaf. Jeongmal mianhae Jungmo-ya.. Selama ini kau sudah banyak menderita karenaku."
Sungmin menundukan kepala. Semakin meremas celana yang di kenakannya. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Sesungguhnya Sungmin tak ingin mengecewakan Jungmo yang sudah menemaninya selama ini.
Tapi… hatinyapun tak bisa berhenti berontak. Apalagi saat ini, Guixian-Nya sudah kembali. Kekasih hatinya berada dekat bersamanya.
Apa yang harus ia lakukan?
.
.
*KYUMIN*
.
.
Drrrttt…. Drrrtttt…
Kyuhyun melihat nama pemanggil yang muncul di layar ponselnya. Bibirnya menyunggingkan smirk mengerikan.
Baiklah… saat ini ia sudah siap menghadapi lawan sesungguhnya. Ia sudah memiliki persiapan yang sangat matang. Selama bertahun-tahun Kyuhyun menyiapkan diri untuk melawannya.
"Yeoboseo?"
"Ternyata kau…!" Ucap di sebrang penuh penekanan.
"wae? Apakah anda terkejut mengetahui saya masih hidup? Tck.. Ternyata peliharaanmu sudah memberitahu semuanya." Ucap Kyuhyun masih bersikap tenang. Meskipun hatinya was-was.
"Kau masih bocah kecil buatku. Jangan harap kau bisa melawanku."
"Saya sudah tidak takut lagi dengan ancamanmu tuan."
"Bagaimana dengan keselamatan adikmu? Hah?"
Kyuhyun terkesiap. Ini yang ia takutkan. Tapi Kyuhyun sudah mempersiapkan semuanya dari awal. "Ancamanmu memang sangat menakutkan. Tapi aku tidak takut lagi. Bertobatlah tuan. Kau sudah tua. Jangan membuat orang-orang di sekitarmu kecewa." Ucap Kyuhyun dengan bibir bergetar.
"Brengsek! Apa yang kau inginkan sebenarnya?"
"Tidakkah ucapanmu terlalu kasar tuan? Aku tidak menginginkan apapun. Aku hanya ingin kau menyerah."
"JANGAN HARAP! YANG ADA KAU YANG HARUS MENYUSUL KEDUA ORANGTUAMU!"
Tut.. Tut.. Tut..
Sambungan telepon terputus. Kyuhyun merasa lututnya bergetar. Sungguh ia tak sepenuhnya kuat. Ketakutan luar biasa kini menyelimutinya. Apalagi jika sudah ada yang mengungkit kedua orangtuanya.
Dengan bergetar, jemarinya menekan kembali tombol-tombol yang ada di dalam ponselnya. Menghubungi seseorang.
"Hyung.." Teleponnya tersambung.
"Hae-ya.. Apakah Hyukkie baik-baik saja?"
"Tenang saja hyung. Semuanya sudah beres. Dia aman bersamaku."
"Jeongmal gomawo hae-ya.."
"Nde.. Hati-hati hyung."
.
.
.
.
Namja pecinta nemo itu meletakan kembali ponselnya dengan ragu. Merasakan tatapan tajam dari sampingnya.
"Nugu?"
Donghae menelan ludah susah payah. Kekasihnya pasti tidak akan pernah merasa puas dengan jawaban-jawabannya yang tak masuk akal.
"Kim donghae! Jelaskan sekarang juga! Siapa yang meneleponmu? Dan kenapa kau menyuruhku cuti dari Rumah sakit dan juga Kampus? Bukankah kau juga tahu sekarang ini aku sudah berada di semester akhir? Dan aku masih menjadi Residen di Rumah sakit itu. Bagaimana kalau aku tidak lulus?!" Eunhyuk kembali membulatkan matanya. Menunggu jawaban dari sang kekasih.
"Eunhyuk-ah…"
"Dan tunggu! Kau membawaku kemana? Ini tempat siapa?" Eunhyuk kembali memotong ucapan Donghae. Pandangannya ia edarkan pada seluruh penjuru tempat. Sebuah Apartment yang sangat asing untuknya.
Cklekk…
Pintu salah satu kamar yang ada di sana terbuka. Menampakan sosok manis yang berdiri di ambang pintu.
"Donghae hyung.. Dia.."
"Aahh... kau sudah bangun? kenalkan. Dia Cho Hyukjae. Kekasihku."
"Yak! Kim Donghae! Apakah dia selingkuhanmu? Kau membawaku ke tempat selingkuhanmu?" Eunhyuk yang memiliki sifat aktif dan pemikiran pendek lagsung mengira yang tidak-tidak.
"Tck.. Tenang dulu chagi.. Dia bukan.."
"Jangan berbohong lagi padaku! Kau sudah mengkhianatiku Kim Donghae!"
Donghae semakin kebas. Kekasihnya memang akan sulit untuk di jinakan. Tapi, di samping itu Donghae juga bernafas lega karena Eunhyuk sepertinya melupakan kepenasaranannya tenatang siapa yang meneleponnya tadi.
"Kalian sudah datang?" Suara lembut seorang wanita yang baru memasuki Apartment itu akhirnya berhasil membuat Eunhyuk bungkam.
Siapa lagi dia?
"Noona. Maaf merepotkanmu." Donghae langsung menghampiri sang yeoja, kemudian mengambil beberapa kantong plastik yang di bawa yeoja tadi. Dan itu semakin membuat Eunhyuk membulatkan matanya marah.
"Yak!" Eunhyuk kembali bersuara lantang.
"Kau pasti Cho Hyukjae? Kenalkan. Aku Victoria Song. Duduklah dulu." Yeoja yang ternyata Victoria -kekasih dari Changmin- itu berusaha menenangkan Eunhyuk.
Dan sepertinya cara lembut Victoria berhasil membuat Eunhyuk tenang. Iapun menatap Victoria yang kini duduk di sampingnya. Sambil menggenggam tangannya.
"Eunhyuk-ah.. Untuk sementara kau tinggal di sini bersamaku dan juga Minho." Ucap Victoria sambil melirik Minho yang masih berdiri di ambang pintu.
"Aku tidak mengerti. Kenapa aku harus tinggal di sini?"
"Eunhyuk-ah.. Ada sesuatu yang belum saatnya kau ketahui. Tapi yakinlah. Ini semua demi keselamatnmu juga. Kau tinggallah di sini." Victoria dengan sabar mengajak Eunhyuk berbicara.
"Tapi kenapa?" Eunhyuk yang tidak pernah bisa diam sebelum mengetahui semuanya semakin mengerutkan kening bingung.
"Chagiya, suatu saat nanti kami akan menceritakannya. Yang terpenting saat ini kau menurut saja. Untuk beberapa bulan kedepan kau jangan pernah keluar dari sini." Donghae ikut bersuara. Kemudian duduk di samping lain Eunhyuk, dan medekap tubuh kurus itu dengan sayang. Memeberitahukan kalau semuanya baik-baik saja lewat pelukan hangatnya.
"Untuk saat ini, jangan dulu banyak bertanya. Ini semua demi kau juga chagi.." Lanjut Donghae.
Eunhyuk yang semula berniat kembali protes. Tapi, saat melihat ketulusan hati Donghae dan juga tatapan menenangkan dari Victoria akhirnya memutuskan untuk diam dan menuruti apa yang mereka inginkan. Toh kalau itu demi kebaikannya kenapa ia harus menolak.
"Tapi, bagaimana dengan Sungmin-hyung?" Tanyanya kemudian.
"Aku akan langsung memberitahunya. Dan dia pasti akan setuju. Karena percayalah. Sungmin hyung juga menginginkan yang terbaik untukmu." Eunhyuk menganggukan kepala. Kalau ini memang untuk dirinya, ia hanya bisa berdoa agar semuanya cepat selesai.
Yah! Eunhyuk dan juga Minho bersembunyi di tempat Victoria. Untuk saat ini memang itulah tempat teraman bagi mereka.
.
.
*KYUMIN*
.
.
Kyuhyun mengerutkan kening kala merasakan seseorang memeluk tubuhnya dari belakang. Matanya yang terpejam belum sepenuhnya tertidur. Sejak beberapa menit yang lalu ia hanya memejamkan mata dalam posisi menyamping di atas ranjangnya.
Ia menerka siapa sosok yang ada di belakang tubuhnya. Changmin saat ini berada di Amerika karena mendapat telepon dari ayahnya. Hanya ada satu tersangka yang mengetahui kode kunci Apartmentnya.
"Kau sudah datang sayang?" Kyuhyun menyenth lengan yang melingkar di tubuhnya tanpa membuka mata. Merasakan perasaan hangat yang langsung menjalar di punggungnya.
"Hikz.. Eotteokhae..?" Kyuhyun kembali mengernyit. Pendengarannya tidak salah. Ia mendengar isakan dari belakang.
Kyuhyun membalikan tubuhnya hingga berhadapan langsung dengan tubuh mungil namja cantik-Nya. Tangannya terulur untuk menyentuh helaian pirang yang menutupi mata berair itu.
"Waegeure? Hem?" Tanyanya lembut.
"Xiannie, apa yang harus kita lakukan? Hikz.."
"Ssstttt… Uljima.." Kyuhyun merengkuh tubuh mungil Sungmin, memberikan usapan-usapan halus dari kepala hingga punggung yang bergetar itu. Berusaha memberikan ketenangan untuk namja yang sangat di cintainya.
"Aku.. Appa.."
"Jangan dulu berbicara. Tenangkan dulu dirimu sayang.." Kyuhyun terus memberikan usapan sayang di punggung sempit Sungmin.
"Kyunnie…" Sungmin melonggarkan dekapannya. Mendongak untuk menatap wajah Kyuhyun.
Kyuhyun tersenyum. Panggilan baru yang sangat manis. "Hem? Ada apa?"
"Appa mempercepat pernikahan kami."
Kyuhyun menegang. Pernikahan?
"Dua minggu. Dua minggu lagi kami akan menikah. Eotteokhae?"
Kyuhyun mendekap kembali tubuh Sungmin. Memberikan ciuman-ciuman kecil pada surai pirang sang Detective.
"Tenanglah.. Kita akan mencari jalan keluarnya bersama." Ucapnya.
Sebenarnya Kyuhyun ragu dengan ucapannya. Selama ini Jungmo sudah terlalu baik pada Sungmin. Ia ragu apakah akan menemukan jalan keluar untuk masalah ini.
Sungmin makin mendekap tubuh Kyuhyun. Mencari ketenangan dalam dekapan hangat orang yang masih sangat di cintainya dari dulu hingga sekarang itu.
.
.
*KYUMIN*
.
.
Jungmo melangkahkan kakinya dengan tergesa. Satu yang ia tuju. Ruangan kerja sang ayah. Rencana pernikahan dirinya dan juga Sungmin terlalu cepat. Dan ia tidak mau Sungmin bersedih karena masalah itu.
Beruntung ruangan kerja ayahnya tidak tertutup rapat. Jungmo memutuskan untuk buru-buru masuk ke dalam sana.
"Mwo? Kalian tidak menemukan dimana Cho Hyukjae berada?"
Langkah Jungmo terhenti. Jemarinya berada di atas handle pintu yang siap ia buka.
'Siapa yang tengah berbicara dengan ayahnya di telepon? Kenapa ayahnya menyebut nama Eunhyuk?'
Jungmo mengurungkan niatnya. Kepenasaranannya membuat Jungmo sedikit lancang untuk menguping pembicaraan ayahnya.
"Baiklah kalau begitu kau awasi Kyuhyun Jo. Sepertinya dia tahu dimana keberadaan adiknya."
Adiknya?
Perasaan Jungmo mulai tidak enak. Ada apa sebenarnya? Dan.. Siapa yang di maksud adik Kyuhyun?
"Arraseo.. Aku akan menghubunginya sekarang juga."
Jungmo semakin menajamkan pendengarannya.
"Dan satu lagi. Sepertinya Sungmin sudah mengetahui kalau Kyuhyun itu Guixian. Awasi mereka!"
Jdeeerrr…
Bagai tersambar petir di siang bolong, Jungmo menegang di tempatnya berdiri. Cengkraman pada handle pintu menguat. Lututnya terasa lemas. Hatinya bergemuruh.
Kyuhyun adalah Guixian? Guixian masih hidup?
.
.
_T.B.C_
.
.
Anyyeooongg….. Saya kembali.
Mau curhat dikit boleh? Tadinya sayyah mau naikin rating di chapter ini.
Tapi….. Tapiii…. Karena beberapa hal, naskah harus di ubah. Gx enak juga sama abang momo kalau KyuMin 'ah uh oh(?)'sementara dia masih bersetatus sebagai tunangannya. Sayyah baik kan sama abang momo? #digorokJungmo
Yah… intinya tunggu z kapan sayyah naikin ratingnya. Yang pasti, tulisan T itu bakalan berubah jadi M pada waktunya. Tsaaaaahhhhh…..
Ada yang minta Jungmo kembali hadir. Tuh udah saya munculin. Dan memang naskahnya mengharuskan dia hadir di chapter ini. Maaf kemarin2 dia lagi ngambek gx mau muncul. #ApaDah..
Sayyah juga terharu ada yang merindukan FF Thank You yang sudah kelaut. Di sini Hurtnya kurang? Ya ampuuuunn… sayyah lagi gx tega nyiksa KyuMin. #DilemparBom
Ukkey! Jeongmal gomawo buat yang udah review di chapter sebelumnya. Sayyah sangat mencintai kalian. Karena review kalian lah yang membuat sayyah semangat. ^^
Sekarang review lagi ya…
Mau tetep lanjut kan?
*Mian for typo(s). Sayyah miss typo yee.. Hueeee… T_T
Kamsahamnidaaaaaaaaa….. ^^ #Bungkuk
