Baca cuap-cuap dibawah! (yg ini maksa)

.

.

.

Full Play

Kyungsoo sedang memasak di dapur kesayangannya, saat bel di depan berbunyi. Kyungsoo mengaduk supnya lalu mengecilkan api kompor sebelum melepas apronnya dan bergegas membuka pintu.

Ckleek~

Pintu dibuka dan menampilkan Nyonya Wu membawa banyak paper bag ditangannya. Kyungsoo kaget dan segera menyapa ibu dari kekasihnya, "Nyonya, ada apa kemari?". "Apa tidak boleh mengunjungi calon menantu. Dan juga jangan panggil nyonya. Panggil saja Mama! Atau jika Kyungsoo belum terbiasa, boleh panggil mama dengan anda. Lebih enak daripada nyonya." Nyonya Wu masuk ke dalam apartemen dengan Kyungsoo yang mengekorinya dari belakang. "Nyo- maksudku Mama, anda sudah makan? Aku sedang membuat sup." Kyungsoo masih berdiri sedangkan Nyonya Wu duduk dan menata bawaannya diatas meja. "Oh benarkah? Wah, kebetulan sekali. Mama belum makan." Nyonya Wu berjalan mencari dapur dan setelah sampai mengamati dapur dan isinya. "Dimana Kris? Dia tidak masuk kerjakan?" Nyonya Wu duduk dikursi meja makan dan menyilangkan tangannya. Menatap Kyungsoo dengan senyum manis, walau menurut Kyungsoo itu sangat mencurigakan. "Kris sedikit demam pagi ini. Jadi aku membuat sup hari ini." Kyungsoo menuangkan air putih di gelas tinggi, dan meletakkannya didepan Nyonya Wu. " Apa anda ingin teh?" Kyungsoo menawari Nyonya Wu dengan bahasa yang formal. Karena susah bagi Kyungsoo untuk menggunakan bahasa yang lebih luwes pada orang yang pernah menentang hubungannya dengan Kris. "Tentu, sayang! Teh adalah kesukaanku. Sayang Kris tidak menyukai teh." Kyungsoo menyerngit saat mematahkan kayu manis dan memasukkannya ke teko kecil yang berisi air panas. "Maksud anda?" Kyungsoo menuangkan madu dan menambah mint di tekonya. "Suamiku dan Kris sangat menyukai kopi. Sedangkan aku lebih menyukai teh. Apalagi teh dengan kombinasi jahe." Kyungsoo mengangguk-angguk mendengar cerita wanita kepala empat didepannya, mengaduk tehnya setelah memberikan sedikit serbuk teh kedalamnya, teh racikan kesukaannya. "ah anda benar. Kris sangat menyukai kopi." Kyungsoo tersenyum dan menuangkan teh ke dalam cangkir porselen dan memberikannya kepada Nyonya Wu.

"Mama?" Kris telah berdiri didapur, dengan celana training dan kaos singlet yang melekat ditubuhnya menonjolkan tubuh sixpacknya. Nyonya Wu dan Kyungsoo menatap Kris dengan pandangan berbeda. Kyungsoo tersenyum sedangkan Nyonya Wu mencibir. "hei anak manja,hanya panas sedikit saja tidak masuk kerja. Sangat kekanakan, Kau lihat Kyungsoo jadi repot mengurus bayi besar sepertimu." Nyonya Wu berkata sinis kepada anaknya, Kris hanya menampilkan wajah datar. "Mama kenapa kesini hah?" Kris berjalan menuju Kyungsoo yang sedang menata meja makan. "Dasar kurang ajar! Mama kesini ingin menengok calon menantu Mama! Dan juga Kyungsoo harus membeli gaun pengantin hari ini." Kris memeluk Kyungsoo dari samping dan mencium pelipis turun ke pipi Kyungsoo. "Hah?" Kris melongo menatap ibunya. "Kenapa? Bukannya kau sudah melamar Kyungsoo?" Kris melepas pelukannya dari Kyungsoo dan duduk berhadapan dengan ibunya. Kyungsoo hanya diam memperhatikan percakapan antara ibu dan anak itu dari tadi. "Iya, tetapi aku belum berpikir untuk menikah." Kris mengutarakan pikirannya. Kyungsoo masih diam, menatap ikan yang sedang digorengnya diteflon dengan sedikit minyak didalamnya. "Apa? Kau ingin mempermainkan Kyungsoo?" Nyonya Wu memandang Kris tidak percaya, "Ini permintaan Kyungsoo." Mendengar namanya disebut, Kyungsoo berbalik dan menatap Nyonya Wu, "saya hanya belum siap saya dan keluarga saya disorot oleh media. Itu sama saja menggangu privasi keluarga saya." Kyungsoo tersenyum, dan kembali menyelesaikan ikan gorengnya. "tapi kenapa sayang? Kita bisa melangsungkan pernikahan secara diam-diam. Lagipula suatu saat anak kalian akan menanyakan siapa mama dan papanya." Kyungsoo ikut duduk setelah menata semua masakannya, dan menyendok sup untuk Nyonya Wu. "Tentu mama papanya kami. Siapa lagi memangnya?" Kris menimpali Nyonya Wu yang menghela nafas dan memijat keningnya, "Aish.. Ibu tidak bisa menjelaskan, tapi yang pasti kau akan menyesal tidak menikahi Kyungsoo."-"Baiklah-baiklah! Besok panggil pendeta! Kita tinggal mengucapkan janji didepan tuhan dan mendaftarkan pernikahanku dan Kyungsoo. Gampangkan?" Kris meremehkan sembari menyendok nasi di mangkok kecilnya. "YAK! Kau pikir pernikahan itu main-main ha? Kau pikirkan perasaan Kyungsoo juga Kris! Pasti Kyungsoo ingin menggunakan gaun besar dan berjalan dialtar. Itu mimpi semua wanita!" Nyonya Wu ikut makan dengan muka yang hampir ditekuk. Kyungsoo sedikit tidak enak dengan Nyonya Wu dan Kris yang cekcok karenanya. "Sayang, apa kau mau merayakan pernikahan kita?" Kris memandang Kyungsoo dengan wajah memelas membuat Kyungsoo tersenyum. "Kita bisa pikirkan nanti Kris." Nyonya Wu yang melihatnya hanya memutar bola matanya malas. Sarapan pagi itu akhirnya berjalan tidak biasa karena perdebatan antara Kris dan Mamanya yang tidak pernah berhenti. Dan Kyungsoo yang merasa ada yang berbeda dengan apartemennya kali ini.

.

.

.

Kyungsoo sedang mengeringkan rambutnya dengan hanya menggunakan bathrobe. Hari ini dirinya ada janji dengan Baekhyun dan Luhan untuk berjalan-jalan di Mall seperti kebiasaannya. Kyungsoo membuka semua paperbag yang dibawa Nyonya Wu untuknya. Ada gaun, sepatu, parfum, gaun lagi, alat make up. Semuanya merek ternama dan Kyungsoo tidak bisa menjamin semuanya lebih dari 100.000 won. Bahkan Kyungsoo tidak berani membeli merek mahal seperti ini.

Cklek

Pintu terbuka menampilkan sosok Kris yang tampak pucat. Kyungsoo khawatir melihatnya, lalu memindahkan paperbag dari atas kasurnya dan menuntun Kris untuk berbaring. "Kenapa kau tambah panas heum? kan sudah kubilang jangan terlalu banyak berfikir." Kyungsoo mengomel saat memegang dahi Kris dan mengetahui bahwa Kris tambah demam. "Bagaimana tidak banyak berpikir, omongan Mama susah untuk dilupakan." Kyungsoo menutupi Tubuh Kris dengan selimut, lalu memasang kompres didahi Kris. "Apa benar kau ingin menikah? Memakai gaun dan berjalan di altar?" Kris menatap langit-langit kamarnya, Kyungsoo kembali mengeringkang rambutnya yang sedikit tertunda. "Jangan dipikirkan kata Mamamu. Tidak menikah seperti lainnya pun aku tidak apa." Kata Kyungsoo walau sedikit tidak rela, perlu diingatkan, bahwa Kyungsoo adalah wanita yang egois jika itu menyangkut keinginannya. "Kenapa aku bodoh? Bukankah orang tuamu segera menginginkan kamu menikah saat itu. Betul juga, Aku harus memikirkan nasib anakku." Perkataan Kris yang terdengar bodoh atau memang Kris yang terlalu dewasa. Tapi, yang diucapkannya seratus persen benar. "Sudahlah, Kita pikirkan yang terbaik saat kau sudah sembuh. Sekarang aku harus bertemu Baekhyun." Kyungsoo mulai memakai pakaian, celana jeans panjang robek di lututnya yang sedikit ketat, dan juga Dress dengan belang merah putih. Kyungsoo memoles bibirnya dengan lip ice strawberry dan menguraikan surai panjangnya. Tampilannya seperti remaja dan tidak tampak bahwa dia sedang berbadan dua. Setelah selesai Kyungsoo meraih handbag merk armani berwarna putih yang ada di lemarinya. Tas pemberian Kris yang sangat disayangi Kyungsoo. Sudah banyak barang pemberian Kris dilemari dan semuanya bermerk dengan harga yang fantastis. Kyungsoo beralih menggunakan low heels senada dengan warna tasnya. Kyungsoo memang cukup fashionable. Terkadang Kyungsoo mengupload fotonya di akun instagram yang terkenal banyak pengikutnya. Kyungsoo berjalan mendekati Kris yang sudah tertidur pulas, /Cup/ Kyungsoo mencium pipi tirus Kris dan berbisik ditelinganya "Yeobo, Aku pergi dulu ne~" Kyungsoo lalu meninggalkan Kris yang masih sakit dengan tidak rela.

.

.

.

Starbucks cafe di departement seoul siang itu sangat ramai, orderan sana sini dari pelayan cafe mondar-mandir dijalan. Baekhyun, Luhan dan Kyungsoo duduk di pojok cafe terkenal tersebut. Kyungsoo memesan Iced Green Tea Latte dan Beef Sausage Croissant kesukaannya. Saat ini ketiga perempuan mapan ini tengah bergosip mengenai laki-laki.

"Kau tau, Chanyeol mengajakku berjalan-jalan besok!" Baekhyun tersenyum bangga menampilkan puppy smilenya. "Bukannya kemarin dia juga mengajakmu jalan-jalan?" Luhan menyesap Caramel Frappuccino'nya dan menatap sebal temannya itu. "Ish.. Tapi setiap kami pergi pasti spesial." Baekhyun dan Kyungsoo tertawa bersama.

Tiba-tiba seorang perempuan tinggi menyapa gerombolan Kyungsoo dan duduk disamping Luhan. "Kyung, Baek, kenalkan ini sepupuku Tao dan Tao kenalkan ini temanku Kyungsoo dan Baekhyun!" Kyungsoo memandang Tao dengan pandangan tidak suka sedangkan Baekhyun tersenyum manis. "Hai Tao! Namaku Byun Baekhyun! Panggil saja Baekhyun!" Baekhyun menyapa Tao dan dibalas senyum manis dari bibir kucing Tao. Baekhyun menyenggol Kyungsoo yang masih diam ditempatnya, mengisyaratkan untuk menyapa sepupu temannya. Kyungsoo tersenyum terpaksa dan mengenalkan diri dengan bahasa formal. "Annyeong haseyo! Wu Kyungsoo imnida!" Baekhyun dan Luhan menyerngitkan dahinya. Kenapa Kyungsoo memakai marga Kris. "Eum.. Kyung kenapa kau memakai marga Wu?" Luhan bertanya karena penasaran, Kyungsoo tersenyum manis hingga terlihat seperti seringaian didepan ketiga temannya. "Bukankah sebentar lagi aku juga berganti marga menjadi Wu?" Baekhyun dan Luhan kaget. Sedangkan Tao mematung didepannya. "Benarkah?!" Baekhyun mengeraskan suaranya. "Ne!" Luhan dan Baekhyun tersenyum lebar ditempatnya, "Waah.. chukae!" Luhan dan Baekhyun memberi selamat, menggenggam kedua tangan Kyungsoo erat. Sedangkan Tao sedang berusaha menahan kekecewaannya dengan bersikap biasa.

"Lu, kenapa aku tidak pernah tau kau punya sepupu Tao?" Baekhyun penasaran setelah suasana antara ketiga temannya hening. "Ah.. Tao ini sepupu jauhku. Terakhir bertemu saat aku berumur sepuluh tahun. Saat aku pindah kesini aku kehilangan kontak dengan dia." Luhan tersenyum sembari merangkul Tao yang lebih tinggi darinya. "Ah begitu. Lalu bagaimana kalian bisa bertemu?" Baekhyun masih penasaran dan bertanya kembali. Kyungsoo hanya diam dan sesekali meminum minumannya dan mendengarkan percakapan antara Baekhyun dan Luhan. "Tao ke Seoul karena ingin bertemu calon tunangannya." Hampir saja Kyungsoo tersedak air di dalam mulutnya. "benarkah Tao? Apa kau sudah bertemu dengannya?" Tao hanya tersenyum, "Ne! Kami bahkan sudah tidur bersama"

.

.

.

tbc~

Apa ada yang penasaran dengan lanjutannya? :v

Akhirnya saya sudah menemukan feeling Ff ini. Dan memperbaiki di beberapa bagian. Karena ada beberapa kesalahan yang sangat fatal.

Pertama yaitu penyebutan panggilan. Saya masih kagok dengan panggilan kris ke ibunya? Baca ch 6 sm yang ini, penyebutannya udah beda. Yaudh, kukonfirmasi saja, Kris manggil ibunya dengan panggilan mama!

Kedua, karakter Kyungsoo berubah menjadi gadis lemah lembut, padahal dari awal Kyungsoo itu perempuan yang fashionable dan egois.

Ketiga, Kris di awal ch disebutkan suka bermain di malam hari. Dan akhirnya aku ga nulis bagian yang menegaskan Kris suka main malem. Yasudah, anggap saja Kris sudah tobat! #Dibakar masa

Keempat, karena aku udah dapet feeling, jd aku nambahin adegan" perang dingin antara Kyungsoo dan Tao. Jadi biar konfliknya ga datar karena ibu Kris dan Kyungsoo. Wkwkwk...

Ya itulah 4 kesalahan yang aku atau saya sadari. Jika masih ada, tolong diingatkan yaa? Karena author masih amatiran u_u

Nyonya Wu sudah mulai sayang sama Kyungsoo ya kayaknya? Tapi eits, belum seratus persen Nyonya Wu bener-bener sayang sama Kyungsoo. Masih ada konflik kok sama mereka.

Terimakasih yang udah review :'

Banyak hlo yang pengen anak Kyungsoo laki"! Aku curiga dia orang yang sama karena sama" ga punya akun dan reviewnya hampir sama dan berurutan. Tapi jika memang benar, aku terimakasih banyak hlo :') karena kamu sudah mem'full'kan ffku u.u huhuhu

Lanjut review ya readerku yang kuper! :') #dicincang readers

Yah tunggu saja kelanjutannya~

Follow my twitter KimDo_ororo (aku suka ngepost foto couple boyslove kpop hlo .-.)

Dan Add facebook aku 'Siska Sofika'

Kali aja kalo aku udah lupa nglanjutin ff ada yang ngingetin.. Hehehe :D

#Bow