Author : Itami Shinjiru
Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto. Sedikit bumbu "Parody" dari Eragon dan How to Train Your Dragon.
Note : Semua nama naga, peralatan, atau kemampuan dan seluruhnya yang tidak terkait dengan Naruto merupakan hasil pemikiran Author dan TIDAK terkait dengan fanfiction manapun, semirip apapun judul atau plotnya.
Warning : Alternate Universe, Out Of Characters, Typo
Pair : Akan tersingkap seiring berjalannya cerita
Genre : Fantasy, Adventure, Romance, Friendship
Author's Note :
Jumpa lagi di chapter 2, readers !
Ok, saya sangat berterimakasih atas semua review yang masuk, yang semuanya sudah saya terima. Saya sebenarnya sempat pesimis lho tentang tema cerita kali ini, kalau-kalau tidak banyak yang suka. Weleh, ternyata baru beberapa menit publish sudah ada yang review. Oleh karena itu terima kasih banyak sekali lagi.
By the way, beberapa readers review dan saran tentang POV atau sudut pandang. Naruto atau jadi orang ketiga ? Di awal sini saya akan menjawabnya.
Yaa...sebenarnya fic ini tetap menggunakan sudut pandang orang pertama pelaku utama, yaitu Uzumaki Naruto. Terus kenapa waktu Lee mengobati Manidens pada chapter 1 sudut pandang seperti terlihat ke orang ketiga ? Itu karena Naruto tidak ada disana, jadi dia seolah hanya menceritakan sesuatu yang dilihatnya pada pembaca. Karena itulah, Naruto tampak seperti 'orang ketiga' untuk sementara.
Biar begitu, saya menghargai semua review yang masuk, biar cuma satu huruf ! (Emang ada ?). Dan saya berterimakasih pada pembaca yang teliti dan memperhatikan aturan fanfic. Dan...akan saya tuliskan POV jika memang ganti POV.
Enjoy read chap 2 !
PARADOX
Chapter Dua :
Destiny
Angin berdesir pelan. Membawa butiran debu yang entah berapa jumlahnya terbang bersama mereka dengan ketinggian rendah, membentuk badai pasir mini dalam lingkup area sempit. Air yang entah berapa tetes banyaknya di bawah sana, terus bergejolak pelan sembari tak pernah jemu memantulkan cahaya surya yang menembus permukaannya, menimbulkan sisi gelap-terang yang kontras.
Daun-daun pepohonan bergemerisik. Jika saja mereka punya bahasa, mereka pasti sedang membicarakan seorang anak manusia, dimana dia mengira dia hanya seorang manusia biasa, tampak bingung dan terduduk mematung dalam hening di tebing tepi danau ini.
Tebing ini cukup curam. Biar begitu, formasi batuannya yang kokoh dan nyaris tidak pernah labil atau retak membuatku nyaman duduk atau berdiri diatasnya. Tebing ini mengarah langsung pada danau. Danau yang sama dimana aku ketiduran dan bermimpi berbicara dengan seekor naga. Disinilah aku biasa melarikan diri dari masalah yang menghantui pikiranku dan berusaha mencari alternatif jalan keluar yang bagus.
Tapi tidak kali ini.
Aku meremas rambut kuningku sambil memejamkan mata dan menyatukan gigi atas dan bawahku keras-keras.
.
Aku tidak bisa !
.
Aku tidak mengerti !
.
Aku tidak mau !
.
Kenapa, Kami-sama...?
Kenapa harus aku...?!
.
Tidak ada gunanya. Aku tahu aku bukan tipe orang cerdas, tapi kalaupun iya, memikirkan ini selama seminggu pun hanya mengulur waktu !
Sudah dua jam sejak orang tua bernama Jiraya dan naga ungu besarnya meninggalkan kami untuk memberiku kesempatan berpikir jernih. Dia bilang dia menunggu di warung barbeque sampai matahari terbenam untuk menunggu jawabanku. Jika iya, aku harus pergi ke sana. Jika tidak ?
Entah apa yang terjadi.
Ya ampun, aku samasekali tidak kenal Jiraya. Atau bahkan berminat pada makhluk bernama naga. Semua terasa asing bagiku. Aku tidak habis pikir kenapa hidupku bisa berubah total dari seorang remaja biasa yang punya banyak waktu untuk bersenang-senang dan tidak memikirkan urusan berlebihan apapun dengan hanya menjalani hidup selayaknya manusia biasa MENJADI seorang remaja luar biasa yang memegang kunci perdamaian dunia dan mengatur kehidupan antara manusia dan naga.
Aku sungguh tidak siap untuk ini.
.
Suara kepakan sayap mendadak terlacak oleh indera pendengaranku. Makin lama makin besar. Seekor naga ungu, Bryptops –sepertinya milik Jiraya- mendarat tak jauh dariku dan menghentakkan kakinya ke tebing.
Seketika beberapa bagian tebing itu runtuh ke danau, membuat jalur yang landai untuk dituruni.
Naga itu turun, membuka mulut besarnya dan melahap air danau untuk memuaskan rasa hausnya.
Aku meliriknya dengan tidak berminat.
Begitu naga itu selesai, dia memandangku. Memandang dengan mata yang tidak pernah kujumpai di manapun.
Mata penuh harapan.
Aku membisu. Seekor naga saja berharap padaku ?
"Apa yang kau inginkan ?" Kataku ketus.
Dia terdiam.
"Kalau kau ingin aku menyelamatkan dunia, entah untukmu atau untuk Jiraya, aku tidak mau !" Seruku pelan sambil membuang muka.
Aku meliriknya lagi.
Ia tertunduk. Ekornya bergelayut lemas, kedua sayapnya layu ke bawah, dan kepalanya menunduk. Sepertinya dia sedih.
"Argh !" Aku mendengus kesal lalu berjalan cepat ke rumahku tanpa mempedulikan dia lagi.
Aku membanting pintu dan masuk dengan kaki menghentak seperti tentara yang siap memarahi antek-anteknya yang molor sampai siang.
.
Krieeettt...
.
BRUK
.
.
Bodohnya aku.
Aku baru sadar kalau seluruh ruang tamu rumahku sudah hancur. Sofa hangus. Sebuah meja bahkan bertengger di atap karena terlempar oleh sinar abu-abu naga sialan itu tadi siang. Pintu untungnya masih tegak karena desainnya cukup kuat, tapi tetap saja jadi sangat rapuh begitu diterjang naga sebesar bus besar itu. Walhasil, daun pintu itu ambruk begitu kubanting seenaknya.
Aku meracau tak karuan, entah untuk siapa, entah isinya apa, lalu merebahkan diri di tempat tidurku karena kelelahan dengan kejadian seharian ini.
Aku menerawang ke langit-langit. Paradox... Draco P... Gunung Myoboku... Jiraya... Pertapa Suci... Anak-yang-diramalkan ...
...Dracovetth...
.
.
Sebentar ! Dracovetth ?!
Seingatku ayahku juga Dracovetth ! Bahkan ibuku juga ! Aku langsung tersadar. Apakah mungkin mereka mengetahui soal ramalan ini dan menduga kuat bahwa anaknya kelak akan jadi penyelamat dunia ? Aku mulai berpikir keras. Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya.
Masuk ke kamar mereka.
Aku memutar-mutar anak kunci dengan tidak sabar. Sudah sebulan aku tidak keluar-masuk kamar ini. Kamar kedua orangtuaku, yang memang masih ada dan jadi bagian dari rumahku sekarang.
CKLEK
Suara itu terdengar juga. Pelan-pelan aku membuka pintu.
Dan tampak olehku pemandangan yang entah kenapa, sangat kurindukan, walau baru sebulan tidak melihatnya.
Sebuah ranjang berukuran besar, di sebelahnya berdiri meja rias dengan cermin besar. Lemari pakaian yang masih kokoh terlihat di sisi kamar yang lain. Di sebelahnya ada rak buku kecil. Sederhana saja.
Aku berjalan mengitari kamar, membelai semua benda yang ada di dalamnya, lantas mendudukkan diri ke kasur. Kupandang lekat-lekat foto pernikahan mereka berdua. Namikaze Minato si Kilat Kuning Konoha dan Uzumaki Kushina si Cabai Merah Panas.
Aku memegang album. Kubuka satu persatu halamannya. Membuat mataku berkaca-kaca. Sungguh indah masa-masa pascapernikahan mereka. Ayah dan ibuku terlihat sangat, sangat serasi. Seolah takdir memang menghubungkan mereka dan akhirnya menyatukan mereka disini. Sungguh ironis takdir itu berakhir terlalu awal. Mereka mati muda demi desa mereka. Mungkin juga...
...demi anak mereka.
Aku tersenyum sendiri melihat foto-foto ayah dan ibuku yang tampak begitu mesra. Hanya satu album. Kalau aku hidup bersama mereka sekarang, mungkin sudah ada tiga atau empat album. Mungkin sepuluh malah !
Sampai pada halaman terakhir.
.
.
.
Huh, apa ini ?
.
Tampak jelas bahwa halaman terakhir album ayah dan ibuku ditutupi. Ditutupi oleh sebuah kertas tebal. Begitu tebal, berwarna coklat. Sampai aku tidak bisa melihat ada apa dibaliknya. Susah payah berusaha kulepaskan, tapi tidak berhasil juga. Di sisi lain, aku takut merusak album kenangan ini.
Mendadak mataku menangkap sesuatu yang sejak tadi ada di sudut kanan atas kertas. Tulisan kanji.
"Segel".
.
.
Aku termagu. Seberapa penting halaman ini...sampai mereka menutupinya ?
Keningku berkerut. Kupandangi lekat-lekat kertas ini, kuraba permukaannya. Kasar. Mendadak aku teringat sesuatu.
Segera saja aku berlari ke ruang keluarga, ruang tengah rumah dimana terdapat lemari dan rak buku besar setinggi dua meter yang berisi cukup banyak buku. Yahh, bisa dibilang rumah ini jadi terlihat seperti perpustakaan kecil. Almarhum ayahku memang hobi membaca mulai dari selebaran, koran, sampai novel dan buku-buku ilmiah.
Kutelusuri punggung-punggung buku dengan jari telunjukku sampai aku menemukannya. Segera saja kutarik buku itu dari kawanannya.
'Macam-macam Segel'.
Aku tersenyum. Ada untungnya juga kau memiliki banyak buku di rumahmu. Kubuka satu persatu sampai aku menemukannya.
.
Kertas segel coklat dengan tekstur permukaan kasar... merupakan jenis segel Othlothon...
.
Ini dia yang kucari. Tapi aku harus langsung ke bagian bagaimana cara melepaskannya.
.
...dibuat oleh...
...berfungsi untuk...
...cara melepaskan segel ini adalah...
.
Ini dia.
...harus berdiri dan menginjak kertas segel dengan kaki kanan, tangan kiri terangkat melebihi kepala, dan mengucapkan sebuah kata yang telah disepakati oleh pembuat segel dan orang yang akan melepasnya...barulah segel itu bisa terbuka.
Aku terdiam.
Oke, walau terlihat seperti orang sinting, berdiri, menginjak kertas segel dengan kaki kanan, tangan kiri terangkat melebihi kepala aku masih bisa melakukannya. Tapi mengucapkan sebuah kata yang telah disepakati kedua belah pihak ? Oh, aku bahkan tidak tahu kata apa yang bisa membuka segel itu !
Frustasi lagi, aku menghempaskan buku itu ke sofa.
Secarik kertas sobekan kecil tampak menyembul dari balik satu halaman buku itu, yang entah kenapa, terasa sangat menggangguku. Aku bergegas menyelidikinya. Membuka buku itu lagi dan mengambil sobekan kertas yang sudah menguning dan lapuk dimakan waktu.
'007-6-138'
Apa ini ? Batinku. Kode ? Kode apa ? Mmm...kode rahasia mungkin ? Tapi kode rahasia apa ? Aku mulai berpikir keras atas semua pertanyaan beruntun yang memenuhi kepalaku. Sungguh membuatku penasaran.
Aku tersadar. Sobekan kertas itu ada di halaman Segel Othlothon yang baru kubuka tadi ! Apa...apa ini...artinya...?
Mungkinkah ?
Mungkinkah ini kode untuk membuka segel di album itu ?
Tapi kenapa hanya angka ?
Dan tidak mustahil juga kan ini hanya sobekan buku sembarang yang secara tidak sengaja terselip disitu ?
Aku berpikir begitu, sampai aku menemukan sebuah selotip bening yang sudah usang tampak di sudut halaman sebelah kiri.
.
BENAR ! Ini pasti kodenya ! Aku bersorak sekaligus khawatir dalam hati.
Segera kubuka album hingga ke tempat kertas itu ada, lantas menginjaknya dengan kaki kanan lalu mengangkat tangan kiriku di atas kepala.
"Tujuh, enam, seratus tigapuluh delapan" kataku pelan.
Tidak terjadi apa-apa. Mungkin nol-nya harus disebut juga ?
"Nol, nol, tujuh, enam, seratus tigapuluh delapan" kataku lagi.
Masih tidak terjadi apa-apa.
"Nol, nol, tujuh, strip, enam, strip, seratus tigapuluh delapan" kataku akhirnya.
Dan tidak terjadi apa-apa juga.
"Ugh !" Seruku emosi. Berpikirlah jernih, Naruto...emosi hanya akan membuat pikiran-pikiran cemerlang dan positif menjauh...hiburku pada diriku sendiri.
Aku menghela nafas. Biar kucoba alternatif lain. Kupelototi angka pertama.
Tujuh.
Tujuh...bagaimana...bagaimana kalau buku ketujuh dari rak buku itu ? Ayahku semasa hidupnya selalu menandai buku-bukunya dengan nomor, pikirku. Segera saja aku kembali ke ruang tengah dan mencari buku ketujuh.
Aku menemukannya. Sebuah novel.
Kutarik keluar dan kucermati sampulnya.
'Kisah Dracovetth Bertekad Baja'
'Oleh...'
'Jiraya'.
.
.
HAH ? Aku melongo seperti orang dungu.
J-Ji-Jiraya ? Maksudnya kakek-kakek dari Myoboku itu ?! Jantungku berdegup kencang. Keringat dingin menetes dari dahiku. Jangan-jangan...
... Jangan-jangan ayahku kenal baik dengan Jiraya itu ?!
... Jangan-jangan buku ini adalah kunci pembuka segel itu ?!
... Jangan-jangan ... ?!
.
Aku merutuki diriku sendiri yang menghabiskan banyak sekali waktu di rumah ini tapi malas membuka-buka buku ayahku. Kalau saja aku lebih rajin, aku mungkin sudah tahu semua teka-teki ini dari dulu ! Buru-buru kubuka halaman 6 persis seperti di kode selanjutnya. Lalu...maksudnya 138 apa ya ? Paragraf, mungkin ? Ugh, tentu tidak ada buku dengan satu halaman ada lebih dari seratus paragraf ! Kalau begitu, satuan yang lebih kecil dari paragraf...
...
Kalimat.
Merepotkan, tapi demi memuaskan rasa ingin tahu yang terus memberontak dalam diriku, kucari juga kalimat ke-138. Tapi aku memang bodoh, ternyata kalimat pun terlalu besar untuk satu halaman. Satu halaman itu tidak sampai seratus kalimat ! Kalau begitu coba yang terakhir.
Kata.
Kembali kutelusuri kata ke-138.
.
.
Awalnya, aku sudah menduga akan ada hal yang lebih mengejutkanku dibanding penemuan album, segel, kode, hingga novel ini. Tapi aku tidak mengira akan menemukan sesuatu yang sangat mengejutkan bagiku secepat ini.
Di kalimat urutan ke-138, tampak jelas sekali.
'Naruto'.
Aku meneguk ludah.
Inikah... inikah kunci segel itu ? Bulu kudukku merinding. Entah kenapa aku merasakan hawa sekitar jadi berubah drastis.
Bukan, bukan jadi dingin dan mencekam seperti tanda-tanda kau akan bertemu hantu, bukan !
Melainkan hangat dan nyaman... seolah kedua orangtuaku ada disini sekarang, berdiri di hadapanku sambil tersenyum menyaksikan putra tunggal mereka akhirnya menemukan sesuatu yang lama mereka sembunyikan.
Aku menatap kosong ke depan.
Sudah saatnya aku tahu semua ini !
Dengan mantap, aku kembali melakukan posisi itu di kertas segel dan mengucapkan sebuah kata.
"Naruto" seruku sejelas mungkin.
SRRIIINNGGG...
Segel itu bercahaya. Aku mengangkat kakiku. Kertas itu menghalus menjadi rata, berubah putih, hingga tulisan 'segel' di ujung kertas itu hilang. Kini kertas itu hanya kertas biasa.
Buru-buru kubuka. Dalam hati, aku mengerti, walau sudah sejauh ini kupecahkan misteri dibalik teka-teki segel album almarhum ayah dan ibuku, teka-teki ini baru dimulai.
Yang kujumpai sekarang hanya sebuah kertas.
Aneh, memakai kertas untuk menyegel kertas ? Aku terpaksa berpikir lagi. Aku mencium kertas berwarna putih itu.
Bau minyak ? Aneh sekali. Kenapa masih bisa berbau ? Oh, benar ! Di buku segel tadi dijelaskan bahwa segel jenis Othlothon dapat menyimpan bau atau rasa sesuatu yang disegel dan dapat bertahan hingga beberapa dekade. Sungguh luar biasa.
Tapi apa maksudnya ? Kenapa isi segel ini hanya secarik kertas berbau minyak ?! Kemana penghargaan semua usaha kerasku sampai otakku yang hampir meledak karena demikian bingungnya memecahkan misteri yang tidak pernah kuketahui ?! Sampai-sampai harus melihat novel karangan Jiraya yang membuatku bertambah bingung ! Apa maksudnya ini ?!
"ARGH !" Seruku keras. Tanpa sadar aku menghembuskan api dari kedua tanganku. Celakanya, salah satu hembusan itu mengenai kertas dan karena kupikir masih berminyak, jadi mudah terbakar.
Dan terbakarlah kertas itu.
Aku meliriknya. "SIAL !" Seruku keras-keras. Kuinjak-injak kertas yang membuat kepalaku panas itu sampai apinya padam.
Eh, apa ini ?
Kertas itu bersinar perlahan dan ukurannya segera bertambah empat kali lipat. Pelan-pelan, sebuah sketsa tampak hingga utuh.
.
Itu adalah...
.
Denah rumah ini.
.
Aku memeriksanya. Semuanya cocok. Sampai ruang bawah tanah yang kugunakan untuk berlindung dari Hidalgo tadi siang juga ada.
Tapi ada satu ruangan yang belum pernah kumasuki. Jangankan dimasuki, kuketahui juga tidak.
Ruang bawah tanah yang lain...yang menurut denah ini...
.
.
Ada tepat dibawah lemari pakaian kedua orangtuaku.
.
Susah payah kukerahkan seluruh tenagaku. Lemari ini berat sekali ! Rasanya mustahil digerakkan tanpa bantuan banyak orang...atau seekor naga.
Setelah beberapa menit terus mendorong, lemari itu tetap kokoh di tempat semula, tidak bergeser sesenti pun. Aku nyaris menyerah lalu merebahkan diri di kasur kamar kedua orangtuaku sambil membaca ulang peta itu.
Mataku menyapu dan memindai semua sudut kertas. Hingga aku menemukan sebuah tulisan samar-samar lagi, tepat di sebelah gambar ruangan bawah tanah rahasia itu.
'Tanpa judul'.
Cih, ternyata teka-teki ayah dan ibu belum selesai. Sebaliknya, rasanya ini bahkan baru dimulai !
Aku mengerang frustasi dan menelungkupkan tubuhku di ranjang. Kulirik koleksi buku almarhum ayah dan ibuku di rak kecil sebelah lemari itu. Semuanya buku tebal, yang memiliki bagian punggung yang bisa dilihat sebagai pengarang, penerbit, dan...
Judul.
Hingga mendadak mataku menangkap sebuah buku bersampul hijau terang yang samasekali tidak tertulis apa-apa di punggungnya. Itu satu-satunya buku tanpa judul diantara puluhan buku lain di rak itu.
Tanpa judul ?
Aku merasa menemukan titik terang lagi. Perlahan kudekati rak itu dan kutarik buku itu. Mungkin ada petunjuk di dalamnya. Tapi nyatanya tidak perlu repot-repot, karena baru ditarik saja, terdengar suara berderak dari lemari pakaian ayah dan ibuku. Lemari itu...ternyata terbagi menjadi tiga bagian, dan kini bagian yang tengah-yang paling kecil, terpisah dari dua bagian yang mengapitnya dan terangkat ke atas hingga menyentuh langit-langit.
Pelan-pelan, aku mendekat dengan takjub. Ini benar-benar rumah yang menyimpan banyak rahasia. Dan bodohnya aku karena baru mengetahuinya. Dalam hati aku sangat bersyukur karena Hidalgo tadi siang tidak menghancurkan ruang tengah dan kamar ayah dan ibu ini.
Lantai batu yang terlihat sangat keras, berwarna biru kehijauan dan terlihat sedikit kusam, tampak di bawah bagian lemari yang sudah terangkat itu. Di permukaannya terpahat sebuah cekungan berbentuk tangan manusia. Sebuah tangan lengkap dengan lima jarinya.
Mungkin ini semacam alat pengidentifikasi. Iseng, kucoba meletakkan tangan kananku tepat di cekungan itu.
Pas.
DRRRKK... Lempeng batu itu bergetar lalu terangkat dan tergeser ke arah luar. Kini tinggallah sebuah lubang persegi berdiameter 50 cm yang menganga ke bawah. Ini pasti jalan masuknya.
Kuambil senter dan langsung masuk ke dalam. Ada tangga besi yang menyatu langsung dengan dinding. Aku turun dengan hati-hati, hingga akhirnya aku mencapai dasarnya, yang menurut perkiraanku berada sekitar sepuluh meter dari permukaan tanah.
.
Hmm...karena aku hanya membawa sebuah senter, yang walaupun besar, hanya bisa menerangi sebagian kecil dari ruangan, tapi aku menduga ruangan ini sebenarnya lumayan luas, bahkan mungkin bisa setengah dari luas rumah di atasnya dan...ruangan itu cukup tinggi, mungkin sekitar enam meter !
Pertama-tama aku disambut oleh sebuah globe berdiameter satu setengah meter. Benar-benar mirip 'dunia' asli, bahkan area yang menunjukkan pegunungan, lembah, dan perbukitan pun seolah terpahat begitu tepat. Globe itu terpancang dengan sebuah lempengan berbentuk setengah lingkaran yang terbuat dari emas, dimana di permukaannya terukir angka-angka dan skala, menunjukkan pedoman untuk garis lintang dan garis bujur. Lempengan itu sediri juga menyatu dengan globe di Kutub Utara dan Kutub Selatannya, dan berujung pada sebuah tiang yang terbuat dari perak di dasar globe yang terhubung ke sebuah meja lebar setinggi 30 cm yang terbuat dari kayu yang terlihat kuat sekali.
Mendadak, cahaya senterku menangkap sebuah saklar. Aku berjalan ke arahnya dan menekannya.
Klik.
.
Langsung saja lampu-lampu di ruangan itu menyala.
Dan segera, ruangan rahasia ini menampakkan semua objek yang ada di dalamnya.
Di sebelah kiri, agak ke belakang globe, tampaklah kerangka raksasa...yang menurut perkiraanku pasti kerangka seekor naga. Dan ini... adalah naga (atau kerangka naga) paling besar yang pernah kulihat ! Panjangnya saja sekitar 20 meter dengan tinggi hingga puncak kepalanya mungkin sekitar lima meter. Dan ruangan ini tidak beda jauh dengan yang di atas –dipenuhi banyak buku, hanya saja lebih besar dan lebih tebal. Mulai dari kamus berbagai bahasa asing hingga atlas lokal dan dunia, peta tematik, kontur, hingga hasil bumi dan kekayaan satwa.
Aku meneruskan perjalanan makin dalam ke ruangan. Terlihat sebuah etalase besar dengan kaca tebal berteralis perak metalik di sebelah kanan, dimana di dalamnya terlihat segala macam combat suit seperti milik Jiraya, sementara di sebelah kiri terdapat berbagai macam senjata mulai dari kunai dan shuriken dalam berbagai model, ukuran, dan jenis, pedang, tongkat, perisai, tameng, tombak, sampai Soshuuga. Sungguh kalau dipikir-pikir rumahku terlihat seperti museum.
.
Hingga akhirnya aku sampai pada ujung ruangan.
.
Di dinding tampak...terpahat dengan jelas...
Hmm, agak sulit menjelaskannya, tapi sepertinya terlihat menyerupai ukiran timbul dari seekor naga yang besar. Nyaris sama besar dengan kerangka yang terlihat di depan, tapi anatominya berbeda. Naga itu terlihat jelas mempunyai janggut lebat di dagu hingga rahang bawah belakangnya, tanduk berulir di hidung, tanduk menyerupai rusa besar di alisnya, semacam embel-embel yang menyerupai telinga, kerah kulit di leher atas, barisan duri halus di leher bawah, sebuah berlian besar, yang tampak tertanam di dadanya, sepasang sayap besar di punggung plus sepasang lagi yang lebih kecil di pangkal ekornya, dengan empat kaki ramping dan berotot seperti kaki kuda, tapi bercakar. Kaki depan atas bagian belakangnya berbulu, dan penampilannya dilengkapi dengan ekor panjang yang indah yang berujung pada bongkahan kristal segienam. Plus, tiga berlian lain di sisi tubuh bagian atas.
Ya ampun, naga macam apa ini ? Kelihatannya 'mewah' sekali.
.
.
"Butuh penjelasan ?"
Aku terperanjat. Suasana ruangan begitu sepi sehingga suara pelan itu bahkan terdengar seperti teriakan. Aku menoleh ke belakang dengan tubuh basah kuyup oleh keringat. Jiraya !
"Bagaimana kau bisa masuk kesini ?" Tanyaku cepat.
Dia tersenyum kecil. "Akhirnya kau mengetahuinya..." desisnya misterius tanpa mempedulikan pertanyaanku sebelumnya.
Aku mengernyit. "Jadi...kau sudah tahu, Jiraya-san ?" Selidikku.
Dia mengangguk. "Aku menulis banyak novel, dan novel yang tadi kau teliti adalah novel pertamaku. Asal kau tahu saja, Naruto... Ayahmu menamaimu berdasarkan tokoh utama di novelku itu..." cerita Jiraya membuatku tercengang.
"Kurasa tidak bijak aku membeberkan semua yang kutahu tentang ayah dan ibumu. Akan lebih bagus kalau kau mengetahuinya sendiri. Aku juga dari tadi melihat kok, sejak kau melihat-lihat album kenangan itu sampai kau mendorong lemari ini. Akhirnya aku mengikutimu dan berusaha tidak terlihat sampai di ruangan rahasia ini" tambahnya dengan wajah tak bersalah.
"Hehehe. Sekarang mungkin aku akan menjelaskan semuanya" katanya mengalihkan pembicaraan. "Terserah padamu, mulai dari mana" tambahnya.
AKU TIDAK TAHU harus mulai dari mana. Semuanya membingungkan ! Sangat membingungkan !
"Ehm, baiklah. Kalau semua terasa membingungkan, mari kita mulai dari ruangan ini" cetus Jiraya akhirnya, seolah bisa membaca pikiranku.
"Ini ruangan rahasia yang dibangun begitu ayahmu, Namikaze Minato, menjadi Hokage Keempat dari Konohagakure" Jiraya mengawali cerita.
"Soal kerangka naga di depan...itu adalah spesies Venator. Salah satu spesies naga terganas, terbuas, dan terkuat dimasanya, paling ditakuti". Jiraya menceritakan naga itu dengan hiperbolik. Aku memutar bola mata malas.
"Hehe. Ehm, ayahmu dan ibumu-lah yang membunuh naga itu. Naga itu sempat meneror Konohagakure selama sebulan hingga bertemu mereka dan dikalahkan dengan tidak makan waktu lama. Ayahmu sangat kuat dan cepat memahami situasi, juga mau menerima masukan dan tak segan bertanya. Sedangkan ibumu yang berasal dari Uzushigakure pernah bertemu Venator sebelumnya, jadi dialah satu-satunya orang yang mengetahui kelemahannya. Kushina menyuruh Minato untuk menguliti semua daging, tendon, hingga organ dalam naga ganas itu setelah 'dibunuh'. Karena berapa kalipun naga itu dibunuh, dia akan tetap hidup selama masih ada sisa organ yang melekat di tulangnya" ceritanya bersemangat.
Mataku berbinar. "Nah, kau tahu julukan ayahmu. Kilat Kuning ! Tentu dengan teknik spesialnya itu dia berhasil menguliti semua bagian naga itu hingga tak tersisa. Mereka segera disebut pahlawan" Jiraya mengakhiri cerita pertama.
"Adapun semua baju perang dan persenjataan ini...adalah koleksi Minato dan Kushina...juga koleksiku yang kuserahkan pada mereka...dan bahkan koleksi Hokage Pertama sampai ketiga ada disini" ceritanya bangga. Aku manggut-manggut takjub.
"Lalu...ukiran ini...?" Aku akhirnya bertanya.
Jiraya melangkah perlahan mendekati ukuran dinding sisi terakhir itu, membelainya di beberapa bagian, memastikan tidak ada yang salah. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan-pelan.
Waktu terasa berlalu dua kali lebih lambat ketika ia berbalik padaku dan bersiap menceritakan sebuah cerita...
... Dimana aku terkait dengannya.
.
"Uzumaki...Naruto..." panggilnya terbata-bata. Aku mengangkat satu alis.
"Kau ingin tahu siapa naga yang diukir disini ?" Selidiknya.
Aku mengangguk.
"Kau...benar-benar...ingin tahu ?"
"Tentu, cepat jelaskanlah" jawabku cepat tapi berusaha sabar.
"Dia... adalah..."
"..."
"..."
"...Paradox...".
.
Aku menghela nafas malas. "Jadi Paradox seperti semacam naga keramat yang suci, hmm ? Kelihatannya ia seperti pemimpin seluruh kehidupan saja, sampai-sampai sangat dihormati ! Kedengarannya ia seperti dewa saja, padahal dia hanya naga, bukan ? Memang apa keistimewaan seekor Paradox sih, sampai-sampai seantero dunia menghormatinya ?" Aku mulai penasaran.
"Husshh ! Kau ini ! Belum juga tahu apa-apa sudah bicara begitu ! Kau lihat saja dia disini, dia tampak begitu menawan kan ? Tidakkah kau ingin menaiki naga sehebat ini ?" Desis Jiraya memperingatkan.
Aku menguap. "Lama-lama ini membosankan" cetusku. "Memang dari yang terlihat naga ini sangat mewah, ada empat...eh, tujuh berlian tertanam di kulitnya dan seluruh sayap dan kerahnya tampak dihiasi ornamen yang indah" jawabku seadanya.
"Tunggu sampai kau melihatnya" desis Jiraya. "Legenda mengatakan bahwa dia adalah naga abadi" ceritanya.
"Ha ? Naga abadi ?" Aku membeo. Dia mengangguk.
"Tidak ada yang tahu darimana dia berasal. Tidak ada yang tahu dimana dia tinggal. Faktanya, kami mengetahui tentangnya sama sedikitnya dengan orang yang menjadi penunggangnya".
"Hmph. Lalu apakah dia digambar, atau dipahat, atau semacamnyalah, di setiap rumah atau di setiap ruangan rahasia suatu rumah seperti ini ?" Desisku penasaran.
Jiraya terdiam sejenak.
"Hahahahahaha !" Dia tertawa terbahak-bahak.
"Apa yang lucu ?" Dengusku kesal. "Hei, beritahu aku, Pertapa Nakal !"
"Kukira kau adalah pemuda yang sangat cerdas dan berpikiran cepat seperti ayahmu, buktinya kau sanggup memecahkan teka-tekinya, tapi ternyata memahami hal sepele begini kau sampai sekarang belum selesai juga ? Lucu sekali !" Serunya sambil tetap tertawa.
Aku menggaruk kepala bingung.
Tawa Jiraya akhirnya berhenti. "Begini, Nak" ia berusaha susah payah menjelaskan.
"Ayahmu..."
"...adalah..."
"...penunggang Draco P..."
.
Aku terdiam.
Jadi...
.
Benar kecurigaanku.
Ayah dan ibuku pasti tahu kalau aku adalah Anak-yang-diramalkan !
Mereka pasti sudah merancang semua ini !
Semua ini untukku, satu-satunya anak mereka !
Ayahku adalah pengendara Draco P !
Dan aku akan meneruskan jejaknya ?!
"Tapi...tapi kalau sudah pernah ada satu, atau beberapa pengendara Draco P sebelum aku, kenapa dunia ini masih belum stabil juga ?! Apa mereka hanya bermalas-malasan dan menunggu keajaiban terjadi ?" Berondongku bertubi-tubi seperti orang kesurupan.
"Itulah masalahnya, Nak !" Seru Jiraya tak kalah keras dan tegas mencoba meyakinkanku.
"Draco P belum menemukan seorang Dracovetth-pun yang benar-benar bisa menyatu dengannya ! Semua pengendara Draco P semata-mata hanya berhubungan seperti seseorang dengan pakaiannya atau hubungan antara seseorang dengan sandal dan sepatunya ! Belum pernah ada Dracovetth yang menyatu dengannya seperti hati dan jantungnya sendiri, atau istrinya sendiri, atau anaknya sendiri !" Jelas Jiraya mencoba menjelaskan padaku.
"Itulah arti sebenarnya dari Anak-yang-diramalkan. Akan datang seorang Dracovetth yang mampu bersatu dengan Dia dan bersama-sama mempersatukan umat manusia dan bangsa naga..." lanjutnya lirih.
Akh...aku tidak pernah mengerti dengan ini semua... "SESEORANG, TOLONG JELASKAN PADAKU !" Tanpa sadar dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku berteriak sekeras-kerasnya, membuat Jiraya yang berada di dekatku sampai gelagapan karena terkejut.
.
"Ada apa...dengan...hidupku..."
.
"...Siapa...sebenarnya...aku... ?" Rintihku.
.
"Dasar bodoh !" Seru Jiraya tidak sabar.
"Kau akan mencari Dia dan akan bersatu dengannya !" Lanjutnya.
"Kenapa aku ?!" Seruku.
"Karena itu takdirmu".
.
.
.
Bersambung . . . . .
Author's Note (2):
Yoshaaa...akhirnya selesai juga chapter 2 ! Hehehe, lebih cepat daripada perkiraan saya. Fuuh, masih rada-rada prolog ya, readers ? Tenang, makin lama akan makin menanjak ! Untuk sementara ini memang masih agak fokus dengan Naruto dan keluarga serta sejarah mereka.
Tokohnya terlalu sedikit, hmm ? Memang. Tapi jangan khawatir, karena dalam petualangannya Naruto dan Jiraya akan didampingi teman-teman yang lain, yang akan terlihat di chapter berikutnya !
Soal pair...teruslah menebak-nebak, readers ! Yang jelas pair memang saya rahasiakan sampai kalian tahu sendiri...hehehe...
Kembali saya ingatkan, jangan sungkan memberi review yach...Sesingkat apapun atau sesepele apapun itu akan sangat berguna, dan kalau-kalau kalian punya ide untuk fic ini, cantumkan saja ide itu.
See you again in chapter 3 !
-Itami Shinjiru-
-Dragons List in Chapter Two :
Venator
Strength : Ekstrim
Ukuran : Panjang 20-30 meter, berat 18 ton
Kecepatan terbang : 20-185 km/jam
Spesial : Hanya bisa mati sepenuhnya jika dikuliti bersih
Tipe serangan : Menembakkan hembusan api secepat angin, membakar sekaligus mengaburkan
Kategori : Perang
Elemen spesial : -
Level bahaya : Gila
Pemilik : Tidak ada (yang baru ditampilkan).
