Author : Itami Shinjiru

Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto. Sedikit bumbu "Parody" dari Eragon dan How to Train Your Dragon.

Note : Semua nama naga, peralatan, atau kemampuan dan seluruhnya yang tidak terkait dengan Naruto merupakan hasil pemikiran Author dan TIDAK terkait dengan fanfiction manapun, semirip apapun judul atau plotnya.

Warning : Alternate Universe, Out Of Characters, Typo

Pair : Akan tersingkap seiring berjalannya cerita

Genre : Fantasy, Adventure, Friendship


Author's Note :

Jumpa lagi di chapter 3, readers !

Ok, sekali lagi saya sangat berterimakasih atas semua review yang masuk, yang semuanya sudah saya terima. Saking banyaknya sampai-sampai mungkin akan makan sekitar 500-an words kalau dibahas semua disini !

Dan...kali ini banyak yang tanya soal misteri, yakni perwujudan Paradox itu sendiri sekaligus...pair.

Pair di fic ini apa ya ? Hehehe, di atas sudah tertulis 'akan tersingkap seiring berjalannya cerita', jadi jalan satu-satunya jalan untuk mengetahuinya ya sabar menunggu sampai ada sebuah bab dimana pair tersirat disitu. Biar begitu, tebakan readers hebat-hebat lho. Apakah Naru akan bersama Hinata, Sakura, Ino, Tenten, Temari...atau Dracovetth perempuan lain ? Apakah dia OC ? Atau jangan-jangan dia... (*nunjuk-nunjuk kawanan naga betina*) 'Ada yang mau jadi pasangannya Naru ?'

"OGAH !"

Enjoy read chap 3 !


PARADOX

Chapter Tiga :

Journey

TENG

.

TENG

.

TENG

.

TENG

.

TENG

.

TENG ...

.

Sebuah jam kuno dari kayu berwarna coklat gelap yang masih terlihat kokoh (yang baru kusadari ada di dekat kami) berdentang enam kali.

Pukul enam sore. Berarti sudah genap satu jam sejak aku menelusuri teka-teki ini sampai pikiranku yang lsudah uar biasa kacaunya sekarang.

Aku tertawa kecil sampai bahuku berguncang. Aku melakukannya seolah tanpa sadar.

"Apa yang lucu ?" Selidik Jiraya padaku.

"Tidak ada" kilahku. Ia mendelik tak percaya.

"Hehe. Aku hanya heran" jawabku akhirnya.

"Heran kenapa ?"

"Hidupku berubah seperti siang menjadi malam dalam waktu yang sepandan. Pagi tadi aku masih normal, sekarang saat matahari terbenam aku sudah dianggap luar biasa" jelasku sekenanya.

Jiraya menghela nafas.

"Atau lebih tepatnya, abnormal, Jiraya. Dari normal menjadi gila" koreksiku.

"Kau harus melakukannya, Naruto. Aku tahu ini pasti sulit bagimu, aku tahu kau tidak berminat dengan semua ini, tapi ingatlah. Tidak selamanya hal yang kau sukai itu baik bagimu, dan tidak selamanya hal yang kau benci itu buruk bagimu" nasihat Jiraya.

"Tapi bagaimana caranya agar aku rela ? Maksudku, ayolah ! Ini rumahku, tempatku menghabiskan sebagian besar hidupku. Apa yang akan kulakukan pada rumah ini, termasuk ruangan rahasia yang baru kuketahui beberapa belas menit lalu ini ketika aku pergi menyelamatkan dunia ?" Berondongku.

"Selain itu bagaimana dengan teman-temanku, Hinata, Lee, Kiba, dan yang lainnya ! Bagaimana dengan mereka semua, siapa yang menjaga rumah ini, terlebih desa yang kucintai ini, atau bahkan sekedar album kenangan almarhum orangtuaku ?" Belum sempat Jiraya menjawab, aku sudah membebaninya dengan pertanyaan-pertanyaan lain.

"Dan...aku tidak menguasai kemampuan apapun selain sisa-sisa beladiri sederhana yang pernah kupelajari, Jiraya-san. Bagaimana aku bisa menghadapi musuh, naga, atau apapun yang kau sebutkan, yang menentangku dan menentang kebenaran ?" Aku masih belum puas bertanya.

"Untuk itulah aku ada disini" kata Jiraya bangga sambil menepuk dada.

"Ha ?"

"Aku akan mengajarimu semua yang kutahu, dari teori sampai praktek. Dari dasar sampai kompleks. Dari pisau dapur sampai pedang. Dari pukulan lembut sampai jurus luar biasa..." jelasnya bersemangat.

Aku mengangkat sebelah alis. Ragu.

"Hahahaha... ! Hey Naruto !" Godanya.

"Apa ?" Jawabku malas.

"Menurutmu aku terlihat seperti apa ? Seorang kakek tua pensiunan yang tidak bisa melakukan apa-apa dan butuh orang lain untuk memecahkan kulit kacang yang ingin disantapnya... atau..."

Ia menggeser kaki kanannya ke depan lalu memutarnya perlahan ke samping bersama dengan kedua tangannya yang mengangkat ke depan dan belakang. Ia kemudian menundukkan kepala, membiarkan rambut putihnya yang sangat banyak dan lebat itu jatuh menutupi wajahnya, kemudian mendadak menegakkan lagi kepalanya sehingga membuat rambutnya terlempar ke belakang.

Dia berpose...

"Akulah Jiraya Sang Pertapa Legendaris dari Myobokuzan ! Tidak ada hal yang tidak bisa kulakukan di dunia yang fana ini !" Serunya keras.

Aku cengo. "Dasar. Mengerikan sekali kau, Pertapa Genit !" Semburku.

Dia terkekeh. "Naruto-kun...kau akan menjadi muridku dan aku akan menjadi gurumu mulai detik ini. Sekarang ayo kita pergi dari sini" ajaknya.

"Apa ? Pergi ? Serius kau ?! Aku butuh lebih lama lagi untuk melihat ruangan sehebat ini !" Tolakku tegas.

"Kita akan pergi dari ruangan ini. Dari rumah ini. Bahkan dari Konohagakure. Bahkan dari Hi no Kuni kalau perlu" kata Jiraya tak kalah tegas.

"Tapi...mereka..." desisku pelan.

Jiraya menghela nafas, lantas melepaskan gulungan besar yang sedari tadi dibawanya di pinggangnya dan membukanya beberapa meter.

Ia berdiri dan memejamkan mata, berkonsentrasi dan melakukan beberapa handseal.

"FUIN !" Serunya tiba-tiba dengan keras sambil mengarahkan kedua tangannya yang terbuka lebar ke pajangan combat suit dan persenjataan.

DRRRKKK... Mendadak semua pakaian dan senjata itu lepas dari pajangan mereka dan melayang di udara. Aku mundur selangkah karena takjub sekaligus takut.

Namun tidak ada yang perlu kutakutkan, karena ternyata semua senjata dan pakaian itu melayang cepat dan masuk ke gulungan yang dibuka Jiraya-semuanya sekarang menyatu dengan gulungan besar itu !

Setelah semua masuk dengan sempurna, Jiraya segera menggulung kembali perkamen besarnya dan menepuk-nepuknya dalam keadaan berdiri.

"Nah, sekarang semua senjata dan pakaian yang keren-keren itu sudah masuk kesini. Kita tinggal perlu membukanya, memberikan sedikit materi genetik kita pada segel apapun yang kita inginkan, dan mereka akan bisa kita gunakan" jelasnya riang.

"M-materi genetik ? M-maksudmu apa ?" Selidikku terbata-bata.

"Yaaa...tentu saja bagian dari tubuh seseorang untuk bisa diidentifikasi... dalam hal ini yang paling mudah adalah darah" jelasnya.

"Jangan khawatir, hanya sedikit darah yang diperlukan untuk ini. Setengah tetes saja sudah cukup dan nanti akan kuajarkan bagaimana cara mengendalikan semuanya" tambahnya begitu melihat raut wajahku yang sedikit jeri.

.

.

Kami berdua terdiam sesaat.

"Oke, Naruto-kun. Sebaiknya kita keluar. Akan kujelaskan rencana kita nanti" desisnya sambil mengedipkan mata. Aku mengangguk pelan.

.

.

Kami berjalan ke arah tangga lalu akhirnya sampai kembali ke kamar ayah dan ibuku, dimana lemarinya masih terbuka. Begitu kami berdua sudah keluar, barulah lemari itu bersatu kembali dan semuanya kembali ke posisi seolah tidak terjadi apa-apa.

"Ingat, hanya ayahmu, ibumu, aku, kau, dan Shodaime Hokage sampai Godaime Hokage yang sekarang yang tahu tempat rahasia ini. Shodaime sampai Yondaime, alias ayahmu juga ibumu, telah tiada, jadi sampai saat ini hanya tiga orang yang tahu dan semua bisa dipercaya. Jangan ceritakan ini pada siapapun" bisik Jiraya begitu kami keluar. Aku mengangguk mantap. Mana mungkin aku menceritakan sesuatu yang seharusnya hanya diketahui orang lingkup terdekat, yang bisa termasuk Top Secret ini ?

.

"Lama sekali Anda, Jiraya-sama" mendadak sebuah suara yang sudah kukenal tertangkap oleh indera pendengaranku.

Aku menoleh ke sumbernya.

Kiba !

Dan disana ada... Lee... dan juga Hinata !

"Sedang apa kalian disini ?!" Aku segera melancarkan serangan. Pertanyaan sambutan yang terdengar sangat klise.

"Hmph, Jiraya-sama tidak menceritakannya padamu, ya ?" Selidik Kiba balik bertanya. Aku mengangguk walau masih bingung.

Aku memalingkan mukaku pada pertapa yang baru setengah hari kukenal itu.

Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Hehe...yaa...sebelum kesini aku sudah bertemu mereka bertiga duluan, jadi aku meminta mereka untuk menjaga daerah sekitar rumahmu ini sampai aku selesai dengan urusanku" akunya.

Aku menghela nafas. "Kalian kenal orang ini ?" Selidikku sambil menunjuk Jiraya. Lee mengangguk.

"Bagaimana mungkin aku tidak kenal. Jiraya-sama adalah pertapa Myobokuzan yang paling terkenal ! Aku sudah lama tahu beliau hebat, walau baru pertama kali bertemu dengan beliau dan aku sangat senang karena itu !" Sembur Lee padaku.

"Kau sendiri sih, kurang pergaulan dan informasi soal dunia naga. Memangnya duniamu hanya rumahmu sendiri, hah ?" Ledek Hinata padaku.

"Aku memang tidak terlalu tertarik" kilahku.

"Awalnya" aku segera mengoreksi.

"Baiklah" Jiraya berjalan pasti ke sebuah karung tebal yang terlihat berat. "Ini persediaan makanan kita berempat untuk sementara sampai kita kehabisan dan harus mencarinya langsung dari alam" katanya sambil menepuk-nepuk karung berwarna coklat terang itu.

Aku, Kiba, Lee, dan Hinata mengangguk serempak. "Kita akan pergi naik naga ?" Selidikku. Ugh, lagi-lagi aku merasa pertanyaan ini sangat klise. Bukan merasa lagi sekarang, tapi memang begitu !

"Tentu saja, Dracovetth P ! Memangnya siapa yang mau mengelilingi dunia dengan berjalan kaki ?" Hinata kembali meledekku.

"Kalian ini ! Kalian masih punya masa depan yang panjang untuk kalian gapai dan nikmati ! Kenapa kalian mau menyia-nyiakan hidup kalian yang tidak jelas akan bermuara di mana seperti ini ?! Aku tidak akan rela melihat satu saja diantara kalian terluka atau lebih buruk lagi, hanya karena berusaha melindungiku, dan itu adalah alasan paling konyol untuk mati !" Seruku tak percaya.

"Kami temanmu dan kami akan ikut denganmu, titik" balas Kiba.

"T-tidak ! Tidak bisa ! Kalian, bahkan kami sendiri saja tidak tahu apa bahaya yang mengancam di luar sana ! Ikuti nasihatku ini dan pergilah, teman-teman ! Jangan ikut campur urusan yang bahkan aku sendiri belum paham !" Aku masih mencoba mencegah mereka ikut.

"Kita adalah teman, Naruto-kun. Tidaklah disebut teman jika tidak saling menolong dalam suka maupun duka" kilah Lee.

"Aku bukan pembaca pikiran, tapi aku tahu kau juga tidak ingin kehilangan kami, kan ?" Selidik Hinata.

"Justru itu ! Kenapa kalian mau-maunya seperti ini ? Apa memangnya arti teman bagi kalian, hah ?! Mati bersama ?" Seruku keras. Aku sungguh tidak ingin hidupku penuh dengan penyesalan karena pengorbanan orang lain.

"Kami akan ikut, apapun yang terjadi" Kiba bersikeras.

"Itu juga yang akan kukatakan" sambung Lee cepat.

"Dan begitu pula aku" susul Hinata.

Aku menghela nafas berat. Tanggungjawabku serasa berkali-kali lipat sekarang.

"Kami akan selalu ada di sisimu, Naruto-kun !" Seru Lee tiba-tiba sambil memegang bahuku.

Aku menatap wajah mereka satu persatu.

Dan terdiam dalam hening.

Semuanya.

.

.

.

"Terserahlah !"

"Hohoho, bagus ! Terimakasih, Naruto ! Akhirnya aku bisa keluar dari rutinitasku yang membosankan begini" seru Kiba lega.

Jiraya tersenyum melihat kami.

"Kita akan pergi begitu matahari terbit keesokan harinya. Inuzuka Kiba ! Rock Lee ! Hyuuga Hinata ! Izinlah pada orangtua kalian terlebih dahulu dan berusahalah untuk meminjam naga dari keluarga, terserah apapun spesiesnya. Jika kalian memang ingin ikut perjalanan yang tidak menentu ini, silakanlah berusaha sampai titik darah penghabisan untuk mendapat izin dan restu ! Jelas semuanya ?" Seru Jiraya memberi komando.

"Jelas, Jiraya-sama !"

"Bagus. Sekarang bubar. Akan kutunggu kalian saat fajar. Dan kau Naruto, tidurlah yang cukup dan nyenyak. Biar aku yang urus semua perbekalannya dan segalanya. Besok adalah hari yang besar" tudingnya padaku. Mau tak mau, aku mengangguk dan segera berjalan ke kamarku, langsung tenggelam diantara bantalku yang terasa sekeras batu. Memecahkan teka-teki ekstra dari peninggalan almarhum ayah dan ibuku dan penjelasan takdirku dari Jiraya –yang segera akan kutambahi embel-embel 'sensei' membuatku merasa sangat lelah.

Aku menarik secarik kertas yang agak licik dari saku bajuku.

Foto mereka berdua.

.

Lama kupandangi mereka.

"Ayah..."

.

"Ibu..."

.

"Tega sekali kalian meninggalkanku dengan semua ini" desisku. "Aku yang lemah dan bodoh begini" sambungku dengan berbisik.

"Walau sepertinya itu akan berubah" tambahku.

"Setidaknya..."

"...terimakasih untuk semuanya".

.

.


Fajar menyingsing mulai tinggi. Aku melirik jam dinding. Pukul lima pagi. Aku beranjak dari tempat tidur. Semalam terasa lama sekali... dan nyaman sekali... seolah mereka berdua memang hadir di sekelilingku.

Aku pergi ke halaman belakang. Menjajaki rerumputan yang masih basah dan segar oleh embun pagi dengan kaki tanpa alas. Kurenggangkan kedua tanganku lebar-lebar menyambut dunia baru yang sebentar lagi akan kujajaki. Kuhirup nafas dalam-dalam, entah berapa molekul oksigen dan nitrogen yang masuk melalui hidungku dimana mereka disaring dengan santai dan longgar karena udara pagi yang masih segar, lantas langsung masuk ke tenggorokan dan melesat ke kedua paru-paruku, hingga akhirnya menelusuri bronkiolus-bronkiolusku dan bermuara ke jutaan alveolus dimana proses difusi oksigen terjadi.

Setelah melakukannya berkali-kali, tubuhku terasa jauh lebih segar dan ringan, dan segera melakukan pemanasan kecil. Aku tidak tahu apa yang akan kuhadapi sejam setelah ini, jadi sebaiknya aku bersiap-siap saja.

.

Pergi lagi.

Ke tepian tebing danau.

Untuk itu aku harus melewati depan rumahku.

Dan benar dugaanku, Kiba, Lee, dan Hinata sibuk membereskan semua perlengkapan mereka. Mereka semua ikut.

Aku tidak tahu apakah harus tersenyum, marah, atau sedih.

.

Tersenyum karena aku tidak hanya bersama Pertapa Genit itu dan mencerminkan betapa pedulinya mereka padaku ...

.

Marah karena mereka tidak mematuhi nasihatku ...

.

Atau sedih karena selalu ada kemungkinan akan kehilangan teman-temanku yang berharga dalam perjalanan ini ...

.

Dan itu semakin menambah keinginanku untuk pergi ke tempat itu. Setidaknya aku selalu merasa lebih baik disana.

.

Akhirnya aku sampai. Aku duduk memeluk lutut karena udara masih agak dingin, dan terus memandangi riak-riak danau yang setia menemaniku dan mendengarkan keluh kesah hatiku selama bertahun-tahun ini...

...Yang akan segera kutinggalkan.

Aku menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Sampai menggoyangkan beberapa rumput yang telah tumbuh terlampau tinggi hingga membentuk ilalang.

.

"Naruto".

Aku menoleh.

"Hinata ? Kenapa kau kemari ?"

"Sedang apa kau disini ?"

.

Sementara kami terdiam. Aku bertanya 'Kenapa kau kemari ?' bersamaan dengan Hinata bertanya 'Sedang apa kau disini ?'. Jadi kedua pertanyaan itu bercampur dan tidak terdengar jelas.

Aku segera menyadari apa yang ditanyakannya. Ah, lagipula pertanyaanku rasanya tidak begitu penting.

"Aku... biasa kemari... saat sedang bingung atau semacamnya..." jelasku.

Hinata tampak bernapas lega. "Fyuh, sempat terlintas di benakku kalau kau ingin bunuh diri dengan terjun dari sini, tahu" candanya.

"Memang aku senaif itu" kilahku kesal.

"Hahaha, bercanda, Naruto-sama..." balasnya.

"Naruto-sama ?" Aku memastikan apa yang kudengar.

"Iya... kau kan calon pengendara Draco P sekarang... jadi kurasa aku harus membiasakan diri memanggilmu begitu, penghormatan... hehe" Lagi-lagi ia beralasan. Aku memutar bola mata malas.

"Hinata" panggilku setelah kami terkurung dalam jeda beberapa detik.

"Ya ?"

"Kau yakin ingin ikut ?" Selidikku.

"Memang kenapa ? Kau meragukan kemampuanku ? Jangan mentang-mentang kau Draco P sekarang, kau bisa meremehkanku" sindirnya.

"Dengar, Hinata" desisku tegas. Aku mencoba tidak meladeni semua candaannya lagi karena aku merasa sekarang waktunya serius.

.

.

"Aku..."

.

"...Tidak tahu berapa lama aku akan pergi" jelasku lirih.

"Atau apakah aku akan kembali" tambahku.

Ia menatapku tajam.

"Kau tidak akan pergi terlalu lama dan kau pasti kembali kesini, Naruto ! Dan janganlah kau berbicara seperti itu ! Lagipula kau kan pergi bersama kami, lupakah kau ?! Kau tidak sendirian !" Serunya sambil mengguncang bahuku.

"Ini perjalanan mencari Dia dan menyelamatkan dunia, bukan liburan" aku mencoba mencari celah.

"Dan kau manusia, bukan makhluk immortal" balas Hinata.

Jiah, mati langkah aku.

.

"Hoi kalian ! Kemari cepat !" Seruan Kiba mengagetkan kami berdua. Segera saja aku dan Hinata berlari ke arahnya. Di depan rumahku mereka semua berkumpul.

Ya, mereka semua.

Seluruh penduduk sekitar rumahku, sub-desa Konoha itu...

Sialan, sepertinya mereka bertiga menyebar gosip lebih cepat daripada yang kukira ! Eit, ini bukan gosip. Ini kabar nyata paling hangat, bahkan terlalu hangat sehingga bisa dibilang sangat panas, yang pernah didengar dunia abad ini...

.

.

.


Kiba bersiap diatas Ingenia-nya.

Lee sedang mengencangkan sanggurdi yang terpasang bersama pelana dan tali kekang pada naganya, seekor Wlythlea. Naga dengan ekor mematikan penuh duri-yang mengarah ke belakang dan jauh lebih pendek daripada duri di ekor Bryptops milik Jiraya, empat kaki dimana kaki depannya lebih kecil daripada kaki belakang, plus sepasang sayap kokoh di punggungnya.

Sedangkan Hinata kini mendekati seekor Pomona, naga berwarna hijau lembut dengan sayap menyerupai bentangan daun, empat kaki, dan aksesori seperti mahkota bunga di ujung ekornya.

"Aku sendiri naik yang mana ?" Selidikku bingung.

"Kau bersamaku diatas Bryptops. Tenang saja, selisih jarak antardurinya lumayan jauh, jadi kau tidak perlu takut pantatmu tergores" jawab Jiraya setengah bercanda.

Oh ya, perlu sekali diingatkan, bahwa hampir semua naga memiliki duri, paling tidak satu atau dua, entah itu di punggung, kepala, ekor, atau kaki. Dan duri runcing, panjang, rapat, apalagi beracun dan terletak di punggung adalah masalah besar untuk seorang Dracovetth, baik laki-laki maupun perempuan.

Yah, kurasa kau sendiri tahu masalahnya dimana. Jika kita terlalu sembrono duduk –lebih-lebih terlalu bersemangat menjatuhkan pantat begitu saja tanpa memeriksa punggung atau leher naga yang akan kita kendarai, rumah sakitlah yang jadi tujuan pertamamu.

Pantat terluka tidak terlalu jadi masalah, karena sekarang sudah ada sesuatu untuk membuatnya cepat sembuh. Akan jauh lebih mengerikan, naas, dan menyakitkan jika duri itu lebih kecil dan sedikit condong ke belakang.

Yes, pastinya 'barang' milikmu akan terluka. Minimal tergores.

Beruntungnya, aku tidak pernah (atau belum) mendengar kabar bahwa ada Dracovetth yang sampai tewas gara-gara 'salah duduk' seperti itu. Maka, keberadaan pelana yang tebal dan nyaman mutlak diperlukan.

Sorak-sorai membahana begitu kami, terutama aku, naik ke punggung naga masing-masing. Banyak orang melambai tangan, melempar topi, hingga berteriak untuk kemenangan dan perdamaian yang seolah sudah pasti kubawa. Hatiku sendiri bergetar begitu indera pengelihatanku menyaksikan ribuan orang menaruh kepercayaan mereka padaku. Pada kami.

Untuk membawa perubahan pada dunia dan menarik kembali timba perdamaian sejati dari sumur ketiadaan dan ketidakadilan.

.

"Naruto, berjuanglah !"

"Kau pasti bisa !"

"Kami mengandalkanmu !"

"Kau pahlawan, Naruto !"

.

Itu sempat membuatku besar kepala...tapi hanya untuk sekian detik saja. Aku hanya mengangguk dan melambai tangan. Berharap suatu hari nanti aku akan kembali kemari dengan sambutan yang sama.

Jiraya menoleh ke arahku yang duduk di belakangnya. Aku mengangguk. Ia balik memastikan ke ketiga temanku. Kiba dan Hinata mengangguk, sementara Lee mengacungkan jempolnya. Jiraya mengangguk.

"Kau sudah siap, Naruto-kun ?" Tanyanya padaku untuk memastikan.

"Aku siap" jawabku tegas.

"Siap dengan segala kemungkinan ?" Dia bertanya lagi.

Aku mengangguk mantap.

Jiraya tersenyum.

"Pasukan Double P, BERANGKAT !" Seru Jiraya dengan suara menggelegar. Empat naga meraung hebat membelah atmosfer sekitar, sebelum akhirnya melesat ke angkasa setelah mengepakkan sayap mereka sekali, diiringi seruan penuh semangat dan harapan yang tak kunjung padam.

Dari orang-orang yang mempercayai kami...

.

Dari orang-orang yang mempercayaiku...

.


"Semua, BERHENTI !" Seru Jiraya keras sambil menepuk naganya keras-keras. Bryptops yang kami naiki mendarat perlahan diikuti naga milik Lee, Kiba, dan Hinata di sebuah padang rumput. Lebih tepatnya, akhir dari sebuah padang rumput luas dimana di depan terhampar sungai yang berbatu, dengan air jernih mengalir deras karena sisa-sisa energi dari air terjun setinggi dua puluh meter yang berada tidak jauh dari situ. Di seberang sungai yang dangkal dan masih sangat alami itu, terhampar hutan lebat khas Hi no Kuni.

"Kiba-kun, Lee-kun, Hinata-chan" panggil Jiraya.

"Dengarkan aku. Aku tidak bisa menjamin keselamatan kalian. Aku tidak bisa menjamin semua akan aman hanya karena aku ada disini. Oleh karena itu aku minta kalian untuk terus berhati-hati. Pasang mata dan telinga kalian baik-baik. Mulai dari sini, kita akan meninggalkan Desa Konohagakure dan menuju ke pedalaman Hi no Kuni serta menemui desa-desa lainnya. Mengerti ?" Komandonya.

Ketiga temanku mengangguk. Aku hanya bisa menelan ludah kecut, berharap semuanya selamat sampai akhir.

"Kita tidak tahu apa yang akan kita hadapi sejam setelah ini" lanjut Jiraya sambil menatap dalam-dalam ke hutan di dekat kami. "Kita akan terbang dengan ketinggian sedang. Kiba, awasi bawah. Hinata, awasi sekitar. Lee, awasi belakang. Depan bagianku" perintahnya lagi.

Jiraya duduk di sebuah batu datar diikuti kami berempat. Ia segera membuka sebuah gulungan dari kulit, yang ternyata adalah sebuah peta.

"Kita berada di tepi Barat Desa Konohagakure. Namun, itu masih lumayan jauh dari tepi barat Hi no Kuni. Aku akan jelaskan rencana perjalananku pada kalian semua disini sekarang, sehingga kalau-kalau kita terpisah, kita masih bisa menuju ke arah yang benar saat kalian semua ingat rencananya" jelasnya. Kami berempat mengangguk.

Jiraya menuding sebuah bidang pada peta. "Kita di sini" katanya. Ia lantas menggeser sedikit demi sedikit jarinya di permukaan peta itu. "Kita akan terbang ke Barat, ke arah Sunagakure dan mengelilingi bagian luar Kaze no Kuni. Kemudian kita akan pergi ke Kota Besar Rouran, yang dekat dengan Iwagakure di Tsuchi no Kuni. Setelah mencari di Iwagakure dan Tsuchi no Kuni dan kita yakin, kita akan pergi ke Kori no Kuni. Jika sampai sana kita tidak menemukan Dia juga, kita meneruskan ke Kaminari no Kuni terutama di Kumogakure. Setelah itu, kita menyeberang lautan ke Kirigakure di Mizu no Kuni. Jika usaha seluas itu tidak berhasil juga, kita akan jelajahi juga negara-negara kecil seperti Kusagakure, Otogakure, Takigakure, dan Amegakure" jelas Jiraya.

"Jelas kalian semua ?" Selidiknya. Semua mengangguk. Aku juga mengangguk, walau sebenarnya aku masih kurang jelas. Tapi berpikir lebih lanjut bahwa aku akan berada di samping Jiraya-sensei dan mendapat perlindungan ekstra darinya, aku merasa tidak perlu khawatir. Toh aku percaya orang se-handal dan se-terampil dia tidak akan membuat celah sekecil apapun untuk lengah sedikit saja. Lagipula kecil kemungkinan aku terpisah darinya selama perjalanan yang sudah bisa dipastikan berbahaya ini. Aku hanya bisa berharap penuh semoga teman-temanku baik-baik saja...

"Oke, semua. Ayo kembali bergerak sesuai formasi pengamatan dan perlindungan yang sudah kukatakan tadi" perintahnya.


Matahari akhirnya condong ke Barat juga. Kami sedang terbang dengan kecepatan konstan ke arah Barat, jadi silaunya menghalangi pandangan kami, bahkan naga-naga yang kami tunggangi. Walhasil, Jiraya akhirnya menyuruh kami semua untuk mendarat. Kebetulan di dekat situ, terdapat sebuah gua yang sangat besar, cukup besar dan tinggi untuk bisa dimasuki semua naga kami.

Plus...sebuah telaga sekitar lima puluh meter dari situ.

.

"Ayo, Naruto, atau siapa saja, kita pergi ke telaga" ajak Jiraya begitu kami selesai mengemasi barang.

"Untuk apa ?" Selidikku tidak berminat.

"Mandi !" Balas Jiraya.

"HAH ?!" Aku, Lee, Kiba, -terutama Hinata, langsung terkejut seperempat mati.

"Tentu saja memancing, hahaha !" Jiraya segera mentertawakan ekspresi kaget kami dengan leluconnya yang biasa.

"Kalau begitu aku ikut" sambut Lee semangat. "Aku yakin akan mendapatkan ikan lebih banyak dari kau, Naruto-kun !" Serunya sambil menunjuk hidungku.

Merasa tertantang, akhirnya aku ikut juga. "Yang dapat ikan paling sedikit harus membakarnya !" Sambutku.

"Siapa takut ?" Kata Lee sambil memainkan senar pancingnya, dan kami pun sprint sampai ke telaga, meninggalkan Jiraya yang masih mematung dengan wajah bingung.

.

.

.

.

"Naruto" panggil Jiraya.

Aku menoleh tanpa menjawab.

"Latihanmu akan dimulai malam ini" desisnya. Mataku berbinar.

"Apa yang akan kau ajarkan pertama kali padaku, Jiraya-sensei ?" Selidikku penasaran.

"Teknik dasar Taijutsu. Teknik tubuh. Kau harus menguasai dasar-dasar semacam beladiri untuk menguasai teknik selanjutnya. Dan juga, aku akan mengajarkanmu Kenjutsu. Teknik pedang" terangnya singkat.

"Kenjutsu ? Bisakah kita mulai itu dulu sebelum Ta...ju...anu..." Aku kesulitan mengeja.

"Taijutsu ? Tidak. Kau tidak akan menguasai Kenjutsu dengan baik jika belum menguasai Taijutsu dengan baik" sanggah Jiraya.

"Oh" jawabku pendek. Aku baru saja ingin mengatakan sesuatu lagi ketika tiba-tiba Lee berteriak senang.

"Dapat lagi ! Ini sudah yang keempat kali !" Serunya girang. Di ujung senar pancing, atau lebih tepatnya, seekor ikan berwarna keperakan menggantung disana, terjebak dalam kail Lee.

"Naruto-kun, bersiaplah untuk menyediakan pemanggangnya" ejeknya sambil mengedipkan mata ke arahku. Aku mendengus.

"Aku adalah penunggang Draco P, aku tidak akan kalah darimu, Alis Tebal ! Lihat saja, ikan-ikan di telaga ini pasti akan mengerubungiku !" Seruku agak keras. Sebenarnya itu lebih mirip seruan pesimis daripada semangat, huh.

Jiraya hanya geleng-geleng kepala.

Mendadak, air telaga di dekatku beriak. "Awas, ikan besar" Jiraya memperingatkan. "Beritahu aku kalau kau merasakan sesuatu yang berat di..."

.

BYUURRR ! Belum sempat Jiraya bicara lebih lanjut, sesosok makhluk besar keluar dari telaga itu tepat di depanku !

Kulitnya berwarna biru cerah dengan dua tanduk segitiga di ujungnya. Empat kumis panjang di dekat hidungnya, dan sebuah corak hijau yang mengelilingi matanya. Makhluk yang sepertinya spesies naga itu memiliki guratan insang seperti goresan di lehernya, persis insang hiu. Dan walau dari air, ia memiliki sepasang sayap, walau keempat kakinya juga berselaput. Ia memandang sekeliling. Jiraya dan Lee bersiap bertarung.

"Ada yang mengatakan soal Draco P barusan ?" Desisnya. Kami bertiga terkejut.

"Kau bisa bicara ?" Serobot Jiraya. Naga itu mengangguk.

"Namaku Neve, bangsa Severin. Aku tinggal disini" jelasnya singkat. "Sekali lagi, ada yang mengatakan soal Draco P barusan ?" Ia kembali ke topik utama.

Aku mengangkat tangan. "Aku".

"Siapa kau, Nak ?" Tanya naga itu langsung ke inti pembicaraan.

"Ehm, Neve. Kau sedang berhadapan dengan seorang penunggang Draco P" jelas Jiraya.

Matanya yang hanya sebesar bola pingpong dan berwarna kuning lemon jernih itu membelalak. "Sungguh ?" Decaknya.

Aku mengangguk.

"Suatu kehormatan bisa bertemu denganmu, Nak ! Siapa namamu, wahai kawan Draco P ?"

"Naruto. Uzumaki Naruto" jawabku berusaha tetap santai.

"Uzumaki Naruto. Akan kuingat itu. Dan...siapa kalian ?" Selidiknya pada Jiraya dan Lee.

"Aku Jiraya, Pertapa dari Gunung Myoboku dan ini Rock Lee dari Konohagakure, Hi no Kuni" Jiraya memperkenalkan dirinya dan Lee pada Neve.

"Jadi...kau spesies Severin ya ? Naga yang tinggal di air itu ?" Selidik Lee. Neve mengangguk.

"Kami bisa terbang dan berjalan di darat juga...tapi paling baik di air" koreksinya. "Kalian tinggal disini ?" Lanjutnya.

"Tidak. Kami berkelana ke seluruh penjuru dunia untuk menemukan Dia dan ini baru permulaan. Kami akan tinggal disini hanya untuk malam ini saja" jelas Jiraya. Neve mengangguk-angguk mengerti.

"Kalau begitu selamat datang. Tidak perlu khawatir tentang apapun, aku akan menjamin keselamatan kalian disini" katanya ramah.

"Apa kau minum Getah Erfmyst ?" Selidikku. Tak urung aku penasaran juga mengenai naga yang bisa bicara.

"Ahahaha, tidak. Semua spesies naga Severin bisa bicara, Nak" jawabnya sambil tertawa kecil. Aku manggut-manggut. Sungguh sekarang aku menyadari aku sangat kuper tentang naga.

"Aku sempat berpikir kalian adalah pemburu atau semacamnya. Tapi aku putuskan untuk berpikir lebih lanjut dan mendengarkan pembicaraan kalian sampai aku mendengar salah satu dari kalian adalah penunggang Draco P" jelas Neve pada kami.

"Neve, apa kau tahu dimana Dia berada ?" Tanya Jiraya.

Neve menggeleng. "Jangankan manusia, kami para naga pun hanya mengetahui sedikit tentang Dia" jawabnya dengan nada kecewa karena tidak bisa membantu. "Dia seperti hantu. Selalu dibicarakan tapi tidak pernah terlihat. Tanyakan pada spesies naga pengembara atau penjelajah langit, benua, dan samudera, maka kemungkinan kalian untuk mengetahui dimana Dia berada masih sangat kecil sekali" tambahnya.

Aku merinding. Berkelana ke seluruh dunia hanya untuk menemukan seekor naga ? Kenapa tidak dia saja yang mendatangi penunggangnya dan mengatakan semua ini ? Itu kan lebih mudah, batinku.

"Hei, kalian lapar ?" Tanya Neve tiba-tiba. Sejurus kemudian, ia tenggelam di bawah permukaan air yang berkilauan terkena sinar matahari senja dan segera kembali dengan mulut penuh ikan.

"Oh, terima kasih. Kau naga yang pemurah" puji Lee. Neve tersenyum.

"Aku akan melakukan apapun untuk pengendara Draco P, jika itu benar" kata Neve ramah. "Tapi jika kalian palsu, kalian akan mati di tanganku" lanjutnya, membuat wajahku jeri.

"Haha, bercanda. Kalian tahu, akulah satu-satunya Severin di daerah ini. Dulu teman-temanku ada banyak sekali, tapi sekarang mereka semua telah mati" cerita Neve pendek.

"Mati ?" Ulang Lee terkejut. Naga itu mengangguk.

"Beberapa bulan lalu, sekelompok pemburu naga hadir di tempat ini. Mereka membawa peralatan canggih. Senapan, batu lontar, tombak, segala jenis pedang, kunai, dan shuriken. Kami melawan. Pertarungan terjadi. Jumlah mereka puluhan. Banyak diantara mereka mati, begitu pula teman-temanku. Invasi itu terjadi hingga tiga kali hingga akhirnya semua temanku ditangkap. Mereka diperjualbelikan semudah manusia memanen gandum dan menjualnya" dengus Neve kesal sekaligus sedih.

"Aku selalu berharap Dia datang. Tapi kalian tentu tahu, Dia tidak akan datang jika penunggangnya belum menemukannya" lanjutnya.

"Lanjutkan ceritamu malam ini, Neve. Datang saja ke perkemahan kami di gua sebelah sana" ajakku.

"Benarkah ? Terimakasih kalau begitu. Jika begitu, aku permisi dulu, pengendara Draco P" Dia pamit, lalu menenggelamkan diri lagi di telaga.

Meninggalkan kami yang termagu tentang betapa dilematisnya naga dan manusia.

"Jiraya-sensei" panggilku.

"Hmm ?"

"Sebenarnya kenapa 'Dia' tidak mau menemuiku ?" Tanyaku.

"Ya, itu sangat egois, kan ?" Dukung Kiba di dekatku.

"Hmm, yah. Ada banyak hal, bahkan sangat banyak hal yang tidak diketahui tentang Dia. Sifatnya, bentuk fisik secara sempurnanya, kemampuannya" jelas Jiraya.

"Tapi pasti sudah ada pengendaranya selama berabad-abad sebelumnya, kan ? Kalau begitu pasti sudah banyak yang diketahui orang !" Bantahku.

"Masalahnya, Naruto... pengendara Draco P selalu berselang berabad-abad setelah yang lain" Jiraya bersiap menjelaskan. "Sejauh ini, yang diketahui pernah menjadi penunggangnya adalah Rikudo Sennin, Dracovetth pertama. Kemudian disusul Senju Hashirama, Shodaime Hokage kita, lalu Namikaze Minato, ayahmu".

Aku menyemburkan teh yang baru memasuki mulutku.

"Ayahku seorang Draco P ?!" Seruku.

Jiraya mengangguk. "Untuk waktu yang singkat. Hanya beberapa bulan sebelum kematiannya" desisnya.

"Kalau begitu selisih antara ayahku dan aku yang sama-sama jadi penunggang tidak sampai 20 tahun, kan ?! Lagipula selisih ayahku dan Shodai Hokage hanya terpaut seratus tahun ! Bagaimana bisa dunia melupakan segalanya tentang naga itu jika dia se-terkenal ini ?" Aku masih tidak bisa menerima keadaan.

Jiraya mendekatiku. "Pinjamkan telingamu" desisnya. Aku melongo, tapi akhirnya kudekatkan telingaku pada mulutnya.

Ia berbisik. "Salah satu kemampuan magis yang dimiliki Paradox... adalah..."

"...tidak ada satupun otak manusia selain penunggangnya sendiri yang dapat menyimpan memori tentangnya lebih dari seminggu..."

.

"Benarkah ?" Desisku. Jiraya mengangguk.

"Dalam hatiku, aku yakin aku pernah melihatnya. Tapi, karena kemampuan magis Dia-lah semua orang yang pernah melihatnya kini hanya lupa-lupa ingat. Lupa tapi ingat. Ingat tapi lupa. Dan hanya saat Dia menemukan pengendara yang bisa menyatu dengannya-lah Dia dapat diingat selamanya" jelasnya lagi.

"Lebih rumit dan menyusahkan dari yang kukira" tanggapku.

"Lihat sudah jam berapa sekarang. Ayo tidur. Besok, pagi-pagi benar aku akan melatihmu tentang Taijutsu. Setelah matahari tinggi, barulah kita akan melanjutkan perjalanan" Jiraya mengakhiri pembicaraan. Mau tak mau aku harus menurut.

Ah, diam-diam aku jadi tidak sabar ingin segera bertemu dengan naga itu...

.

.

.

.

Bersambung . . . . .


Author's Note (2):

Chapter 3 selesai ! Disini diceritakan Naruto dan kawan-kawan yang akhirnya memulai petualangan mereka untuk mencari Paradox. Dan ini baru awal petualangan. Tidak seru kalau tidak ada musuh, bukankah begitu ? Nah, saya akan menghadirkan musuh sebentar lagi, jadi silakan menebak-nebak.

Pssst, petunjuk tentang Pair ! Petunjuk pertama dan kedua, saya tidak akan mencantumkan pair Yaoi atau Yuri ! Dan petunjuk ketiga, pair Naruto bukan OC ! Sisanya, silakan menebak-nebak sendiri ! Soal setting, saya menggunakan campuran dunia modern dan dunia tradisional shinobi seperti di anime/manga aslinya. Tapi perlu diingat, disini tidak ada mobil mewah, laptop, tablet, atau smartphone ya ! (Namun komputer dan mobil standar masih ada). Dan mulai chapter ini, LIST DETAIL PARADOX AKAN DILIHATKAN ! Tapi banyak data akan kosong, dan akan terisi seiring berjalannya cerita dan seiring terungkapnya identitasnya...

Dan perlu saya beritahukan, kemungkinan besar Paradox Chapter 4 baru akan dirilis sekitar awal April karena jadwal sekolah saya padat banget. Biar begitu, saya akan terus berusaha agar fic ini tidak discontinued alias HARUS SAMPAI TAMAT !

Kembali saya ingatkan, jangan sungkan memberi review yach...Sesingkat apapun atau sesepele apapun itu akan sangat berguna, dan kalau-kalau kalian punya ide untuk fic ini, cantumkan saja ide itu. Saya juga sangat berterimakasih atas readers yang mau me-review Paradox ! Tidak ada yang bisa saya lakukan untuk membalas kebaikan kalian semua kecuali terus meneruskan fic ini !

See you again in chapter 4 !

-Itami Shinjiru-


-Dragons List in Chapter Three :

Wlythlea

Strength : Tinggi

Ukuran : Panjang 12 meter, berat 4 ton

Kecepatan terbang : 20-100 km/jam

Spesial : Bergerak dengan baik di air, darat, dan udara

Tipe serangan : Menembakkan api-semicair dan bergerak bebas, dapat menghindari rintangan untuk mencapai target

Kategori : Monster

Elemen spesial : -

Level bahaya : Mematikan

Pemilik : Rock Lee (yang baru ditampilkan)

Pomona

Strength : Tinggi

Ukuran : Panjang 13 meter, berat 5 ton

Kecepatan terbang : 20-140 km/jam

Spesial : Regenerasi luka pribadi, mengobati naga lain

Tipe serangan : Menembakkan serbuk bunga yang memusingkan musuh

Kategori : Mirakel

Elemen spesial : -

Level bahaya : Medium

Pemilik : Hyuuga Hinata (yang baru ditampilkan)

Severin

Strength : Semi-tinggi

Ukuran : Panjang 8,5 meter, berat 3 ton

Kecepatan terbang : 20-48 km/jam (Kecepatan renang 40 km/jam)

Spesial : Naga amfibi, bernafas dengan paru-paru dan insang

Tipe serangan : Menembakkan cairan korosif

Kategori : Mirakel

Elemen spesial : -

Level bahaya : Medium

Pemilik : Tidak ada (yang baru ditampilkan)

PARADOX

Strength : Abadi

Ukuran : ? ? ?

Kecepatan terbang : ? ? ?

Spesial : ? ? ?

Tipe serangan : ?

Kategori : ? ? ?

Elemen spesial : ? ? ?

Level bahaya : ? ? ?

Pemilik : Rikudo Sennin, Senju Hashirama, Namikaze Minato