Author : Itami Shinjiru

Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto. Sedikit bumbu "Parody" dari Eragon dan How to Train Your Dragon.

Note : Semua nama naga, peralatan, atau kemampuan dan seluruhnya yang tidak terkait dengan Naruto merupakan hasil pemikiran Author dan TIDAK terkait dengan fanfiction manapun, semirip apapun judul atau plotnya.

Warning : Alternate Universe, Out Of Characters, Typo

Pair : ?

Genre : Fantasy, Adventure, Friendship


Author's Note :

Jumpa lagi di chapter 4, readers !

Ok, saya kembali harus mengucapkan bahwa saya sebagai author sangat berterimakasih atas semua review yang masuk, yang semuanya sudah saya terima.

Demi memuaskan keingintahuan readers sekalian, saya buat chapter 4 ini sedikit lebih panjang daripada chapter-chapter sebelumnya. Dan...kali ini saya juga akan menampilkan tokoh-tokoh baru yang akan ikut serta dalam petualangan Naruto untuk mencari 'Dia'. Siapa sajakah mereka ?

Apakah fic ini terinspirasi dari film ? Yaa, sebenarnya begitu. Film Eragon yang menceritakan penunggang naga terakhir bersama naga birunya, Saphira. Tapi saya sengaja buat beda, kali ini naga yang ada jauh lebih banyak, tidak hanya seekor, dan jika penunggang naga mati naganya tidak ikut mati.

Dan juga...musuh, tentunya. Hidup takkan seru dan berwarna jika kau tidak menemukan musuh, dan setiap pahlawan pasti punya penentang mereka. Siapa musuh Naru dan kawan-kawan ? Apakah Akatsuki atau nukeDracov semacam Orochimaru ? Teruslah menebak, karena tirai akan tersingkap sedikit di chapter ini bersamaan dengan awal dari pair ! Biar begitu, jangan terlalu cepat menduga, ya, readers, karena...

...Saya bocorkan...

...Pair Naru lebih dari satu orang...

Enjoy read chap 4 !


PARADOX

Chapter Empat :

The Shadow of Darkness

-Kantor Hokage-

"Nara Shikamaru, Yamanaka Ino, Akamichi Chouji !"

"Siap, Hokage-sama !"

"Bersama Kakashi... kalian kuperintahkan hari ini juga untuk mengejar kelompok pencari Draco P yang kabarnya beranggotakan lima orang. Sekarang aku menerima informasi bahwa mereka sedang berada di Hi no Kuni bagian Barat. Temukan mereka dan segera kawal mereka ! Ini akan jadi perjalanan yang berbahaya, apalagi jika mereka hanya beranggotakan tim sekecil itu" titah seorang Dracovetth perempuan berusia 51 tahun (dengan tampang seperti perempuan usia 20-an) dengan rambut pirang diikat ekor kuda dua sisi sepanjang bahu bawah, iris coklat dan kulit putih.

"Uzumaki Naruto... si bocah yang dianggap penunggang Draco P itu ?" Selidik sebuah suara santai dari seorang laki-laki tinggi berambut perak dengan masker menutupi separuh wajahnya. Orang bergelar Hokage, pemimpin Desa Konohagakure itu, hanya mengangguk.

"Hatake Kakashi...pastikan kau mengawasinya juga" tambahnya.

"Kukira dia sudah bersama Jiraya-sama, Tsunade-sama. Bukankah dia Sannin Legendaris sama sepertimu ?"

"Memang, tapi aku yakin dia tidak akan terbiasa begitu cepat dengan semua dunia yang menurutnya masih baru ini. Kalian mutlak dibutuhkan. Lima orang dengan kemampuan seadanya tidak akan sanggup menjelajahi dunia sendirian".

"Tugas kalian adalah menemukan mereka, mengawal mereka, dan menyukseskan misi kali ini. Dan ini bisa jadi merupakan misi tertinggi yang pernah kuberikan. Karena itu jangan sia-siakan kepercayaan yang sudah kuberikan pada kalian berempat. Selamat atau tidaknya dunia ini bergantung pada kalian dan juga mereka, terutama Naruto" lanjutnya.

"Sudah cukup jelas, semua ?" Tsunade-sama memastikan.

"Ya, Hokage-sama" Dracovetth yang bernama Kakashi segera menjawab. "Kami akan segera berangkat" sambungnya.

.

"Permisi, Hokage-sama" sebuah suara menyapa dari luar ruangan.

"Masuk !"

Seorang perempuan berperawakan sedang dengan rambut hitam sebahu yang senada dengan iris matanya masuk membawa sebuah gulungan. "Dari Kaminari no Kuni, Kumogakure" katanya singkat.

"Apa isinya ?" Tanya perempuan itu beberapa saat kemudian.

"Shizune, bersiap untuk menjaga ketat keamanan desa sementara aku pergi" jawab Tsunade. "Kumogakure akan mengadakan rapat Aliansi Lima Negara Besar untuk membicarakan soal pengendara Draco P yang mendadak muncul" terangnya.

"Jadi mereka sudah tahu secepat itu" tabrak Shikamaru. Tsunade mengangguk.

"Rapat dimulai besok. Aku harus segera bersiap. Yang terpenting, kalian awasi Naruto".


BUUUMMM... !

.

DRAAAKKK ...

.

DHUUAAAARRRR ...

.

"WAAA !"

.

"Awasi mereka !"

"Awas di atasmu !"

GROAAARRR... ! ! !

.

"Mereka ada di mana-mana !"

.

"Naga-naga sialan !"

.

"Naruto, dimana Naruto ?!"

"Dimana dia ?! Kukira dia sudah berjanji akan datang !"

"Sial, kita tidak ada waktu !"

"NARUTO ... !"

.

.

"HAAAAAAHHH !"

.

Aku terbangun. Nafasku tersengal-sengal seperti pelari maraton yang baru sampai garis finish. Butuh beberapa detik sebelum aku berusaha mengatur kembali pernafasanku. Kuraba leherku. Berkeringat. Sudah jelas aku mimpi buruk. Tapi...tentang apa, ya ?

Aku memutar otak, berusaha mengingat isi dan segala gambaran yang kupunya tentang mimpi barusan. Tapi seperti yang orang-orang bilang, mimpi hanya mimpi. Secepat itu terjadi, secepat itu pula hilang dari memori. Tapi sepertinya begitu realistis...ini lebih mirip sebuah pertanda daripada mimpi !

Aku memandang sekeliling.

Shuriken berbagai ukuran, kunai, sampai pedang, berserakan di sekitarku. Banyak diantara mereka menancap entah dimana atau karena apa, sedangkan sisanya tergeletak begitu saja diatas tanah yang padat.

Aku mendongak. Langit-langit batu. Ah, aku ingat sekarang.

Gua.

Kami tidur di sebuah gua. Aku kembali mengingat kejadian yang menurut perkiraan otakku terjadi beberapa jam yang lalu.

Aku berlatih bersama Jiraya. Jiraya-sensei. Pertama aku mempelajari Taijutsu, berlatih menendang, memukul, menampar, menepis, berlari dengan berbagai cara, melompat dengan berbagai cara pula, melempar sesuatu, sampai gerakan-gerakan akrobatik seperti handstand dan rol samping.

Entah karena aku jenius, atau sebab latihan itu dimulai benar-benar pagi (bahkan terlalu pagi) sehingga aku berpikir lebih cepat, atau karena bawaan lahiriah secara genetik dari ayah atau ibuku, atau karena aku memiliki bakat khusus sebagai seorang pengendara Draco P, aku mampu secara menakjubkan menyelesaikan semua latihan Taijutsu tadi dalam waktu dua jam.

Jiraya memperlihatkan arlojinya tepat pukul setengah tiga pagi saat aku latihan. Itu berarti aku tidur pukul setengah lima pagi karena aku ingat betul, seusai latihan, aku langsung terkapar bagai naga yang kelaparan sebulan.

Aku mendekati guruku yang tengah tertidur pulas di sebuah batu besar datar dengan selimut seadanya. Kulirik arlojinya. Pukul setengah enam pagi. Artinya aku hanya tidur satu jam saja.

Aku berjalan ke luar gua untuk menghirup udara segar. Sudah kebiasaanku di rumah aku selalu berjalan ke halaman depan atau belakang rumahku untuk melemaskan otot-otot tubuhku yang kaku setelah semalaman di atas kasur. Dan kebiasaan yang menurutku baik untuk tubuh itu tidak bisa kutinggalkan, bahkan disini.

Baru saja pemanasan lima menit, Neve muncul mengagetkanku.

"Ada apa ?"

"Maaf mengganggu, Naruto-sama" sapanya ramah.

"Naruto-sama ?" Ulangku. "Jangan panggil aku begitu. Naruto saja sudah cukup, apa-apaan kau ini" tuturku.

"Ahaha, kau adalah Draco P, tidak heran kan aku memanggilmu begitu ?" Sambutnya. "Ah, benar. Ayo naik ke punggungku, ada sesuatu yang wajib kau saksikan" ajaknya sambil menurunkan salah satu sayapnya sebagai tempat berpijak ke punggungnya.

"Ke mana ?" Selidikku.

"Tidak terlalu jauh dari sini" balasnya cepat.

Aku berpikir sejenak. Apa dia bisa dipercaya ?

"Kau ini. Aku naga yang akan selalu melindungimu, Naruto-sama. Bahkan walau harus berkorban nyawaku sendiri, apapun akan kulakukan" katanya seakan bisa membaca pikiranku.

"Oke, aku menyerah" kataku sambil naik ke atas punggungnya-yang untungnya tidak berduri itu.

"Tapi jangan terlalu ce..."

WUUSSSHH ! Belum selesai aku bicara, kami berdua sudah melesat ke udara. "Tunggu ! Aku belum pamit pada mereka semua ! Bagaimana kalau mereka mencariku ?!" Seruku sambil tetap berpegangan. Aduh, betapa sulitnya menaiki seekor naga tanpa pelana, sanggurdi, dan tali kekang !

"Tenang ! Aku akan sebentar saja, hanya melihat sesuatu berskala besar !" Seru Neve tak mau kalah. Ia justru mempercepat terbangnya. Aku hanya bisa pasrah dan berusaha berpegangan seerat mungkin pada apapun yang bisa terjamah tanganku.

Beberapa menit kemudian, kami menjumpai sebuah gunung. Lumayan tinggi, dengan puncak lancip dan penampang curam. Aku bergidik ngeri. "Kita akan melewati gunung itu ?" Tudingku. Neve mengangguk.

"Tentu, kecuali aku punya bor ekstra cepat, Naruto-sama ! Pegangan !" Serunya keras.

Neve menukik ke atas dengan kecepatan penuh. Sayapnya tidak dikepakkan. Tubuhnya kini lurus dan kaku seperti gagang sapu.

"Huuwwaaaa !" Aku berteriak histeris sambil berpegangan erat-erat.

WUUUSSSSHHH...

.

.

Akhirnya kami sampai di sisi lain dari lereng gunung itu. Kabut menutupi pandanganku, tapi sepertinya naga spesies Severin punya kemampuan untuk melihat dibalik kabut, dan entah mungkin karena kabut kali ini tidak begitu tebal, ia dengan lincah meliukkan badan ke suatu arah dan perlahan menurunkan ketinggian.

"Bersiaplah, Naruto-sama" katanya cepat.

"Bersiap untuk apa ? Jangan katakan kalau tadi baru satu diantara yang lain !" Seruku sedikit panik.

"Bukan. Kita akan melihat sesuatu..."

"...segera..."

.

Kabut tersingkap. Atau lebih tepatnya, kami berhasil terbang hingga ke daerah tanpa kabut. Neve melayang seratus meter diatas tanah.

Tunggu, itu tanah ? Itu lebih mirip hamparan arang dan kayu bakar daripada tanah !

Aku ternganga. Matahari telah menyembul dari Timur. Sinarnya yang kuning keemasan menerpa Bumi, terpantul kembali ke mata siapapun yang melihatnya. Seratus meter di bawahku, hampir semua tanah yang kulihat berwarna hitam. Pohon-pohon sekitarnya sudah tidak berdaun lagi. Warnanya pun hitam. Nyaris tidak ada satupun pohon yang masih meninggalkan warna asli kulitnya yang indah itu. Cabang-cabang mereka yang gundul semakin menambah suasana mengerikan di bawah sana. Banyak pohon juga tumbang.

Di sela-sela pemandangan seperti itu, mataku menangkap objek-objek tak bergerak yang mirip tumpukan daging.

Para naga.

Aku tidak bisa menduga, tapi kemungkinan mereka semua satu jenis. Satu jenis naga dalam jumlah yang sangat besar...

...Melawan umat manusia.

Nyatanya, aku juga melihat tubuh-tubuh tak bernyawa tergeletak di bawah sana, tewas dalam berbagai posisi. Banyak diantara mereka memakai baju zirah, beserta tombak, pedang, perisai, dan panah yang berserakan tak karuan di bawah sana.

Sudah jelas. Semuanya sudah jelas.

Baru saja ada pertempuran disini.

Kenapa aku bisa berpikir baru saja ada pertempuran ? Karena beberapa percikan api masih menyala dan beberapa mayat yang gosong dan hitam itu masih berbau dan mengeluarkan asap.

"Neve..." bisikku tertahan.

Naga itu mengangguk. "Semalam" jelasnya singkat.

"Tapi...jaraknya tidak sampai dua kilometer dari gua, kan ?! Kenapa kami bisa tidak dengar ?!" Seruku.

"Kalian di gua, Naruto-sama. Suara-suara ini masih mungkin didengar saat di luar, tapi gua itu menyerap bunyi dengan cukup baik beserta batu-batu besar berongganya. Kau berteriak di dalamnya pun terdengar seperti bicara biasa" Neve berusaha menjelaskan.

"Kau...melihatnya ?" Selidikku. Neve mengangguk.

"Lalu kenapa kau tidak memberitahu kami ?!" Seruku. Ia tertunduk.

"Kalau aku memberitahu, kau pasti bersikeras ke sini. Tidak aman berada di sini saat perang, aku saja tidak berani. Tidak ada satupun manusia yang dalam hatinya masih tersisa harapan untuk perdamaian dunia antara naga dan manusia menginginkan kau mati, Naruto-sama. Lagipula jikalau kau menjelaskan bahwa kau adalah penunggang Draco P, tidak akan banyak yang percaya. Separuh dunia sudah kehilangan harapan" jelasnya lirih.

"Perang antara naga dan umat manusia... ini nyaris sama dengan kejadian yang menimpa teman-temanku" sambungnya.

Aku termagu. "Apa kejadian seperti ini...sudah...dianggap...biasa...?" Tanyaku pelan. Neve mengangguk.

Kuremas tanganku sendiri sekeras yang kubisa. Gigi-gigiku bergemeletuk. Tunggu sebentar.

Mimpi itu ?

.

Ya ! Aku semalam bermimpi berada di tengah kekacauan perang ! Bisa jadi...yang ada dalam mimpiku semalam adalah perang yang terjadi disini ?! Tapi...bagaimana bisa ? Apa jangan-jangan 'Dia' sudah dekat, lebih dekat dari yang kukira sehingga dapat mengirimkan semacam 'telepati' atau 'sinyal' pada otakku sehingga membuatku melihat kejadian yang akan atau sedang terjadi ? Tapi itu sekilas terdengar amat mustahil, bukan ?

Aku menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya pelan-pelan. Begitu terus sampai aku merasa lebih baik.

"Kau baik-baik saja, Naruto-sama ?" Tanya Neve.

Aku hanya diam.

"Naruto-sama ?" Panggilnya untuk yang kedua kalinya.

"Neve".

"Ya ?"

"Ayo pulang".

Dia mengangguk. "Aku akan terbang lebih tinggi sekarang supaya kita tidak perlu menukik ke atas terlalu tinggi seperti tadi" katanya.

"Aku turut berduka" desis Neve tiba-tiba setelah kami terbang dalam hening beberapa menit.

Aku mengernyitkan dahi heran. "Untuk siapa ?"

"Mereka...maksudku, banyak manusia mati sia-sia, kan ? Apa kata istri dan anak mereka serta teman-teman mereka nanti..." jelas Neve.

"Tidak. Seharusnya aku yang meminta maaf. Manusia memang terlalu emosional. Sedikit saja mereka tersinggung, semua akan berubah. Kurasa banyak naga sudah dibantai oleh rasku. Akulah yang seharusnya minta maaf" tabrakku.

Dalam hati, aku memberontak. Jika semua naga bisa bicara, kurasa konflik bisa diminimalisir atau bahkan hilang samasekali. Memang, komunikasi benar-benar dibutuhkan untuk menciptakan perdamaian. Para naga tidak sekejam yang manusia kira. Buktinya Neve sempat-sempatnya mengucap belas kasihan begini. Aku meremas tanganku sendiri. Bertekad.

.

Bagaimanapun, aku akan menemukan Dia dan menstabilkan dunia ini !


"Semua, sudah siap untuk melanjutkan perjalanan ?" Seru Jiraya begitu kami selesai mengemasi barang-barang.

"Semua beres, Jiraya-sama !" Sambut Lee.

Jiraya mengangguk. "Baguslah. Kita akan teruskan hingga ke ujung Barat Hi no Kuni. Bersiaplah kalian, karena untuk perjalanan hari ini kita akan menempuh lebih jauh daripada sebelumnya !" Serunya memperingatkan.

"Apapun itu, aku siap" sambut Kiba.

"Jiraya-sensei" panggilku. Dia menoleh. "Kita tidur begitu lelap dan santai sampai tidak mengetahui mereka yang meregang nyawa tidak jauh dari sini".

Semua pandangan tertuju ke arahku. "Apa maksudmu ?" Tanya Jiraya.

"Yah, semalam ada pertempuran beberapa kilometer dari sini, dan kita samsekali tidak tahu, sampai aku dijemput Neve dan langsung terbang ke lokasi" ceritaku singkat. "Aku bahkan baru tahu kejadian sekejam ini sudah dianggap lumrah di dunia ini" lanjutku kecewa.

"Jangan cengeng" Jiraya justru bicara begitu. "Untuk itulah kau ada".

Mendadak, suara raungan naga terdengar oleh kami.

"Sial...kenapa kita tidak bisa menghemat waktu sedikit saja ?" Gerutu Kiba. "Hinata, gunakan Byakugan-mu ! Apa yang sedang mendekati kita ?" Serunya tak sabar.

"Arah jam dua belas...seekor Gorongosa !" Seru Hinata sambil terus berkonsentrasi.

"Gorongosa ? Kedengarannya kurang bagus" timpal Jiraya. "Kawan atau lawan ?" Sambungnya.

"Sebentar...naga itu membawa empat orang di punggungnya... hei ! Itu kan Hatake Kakashi, Nara Shikamaru, Yamanaka Ino, dan Akamichi Chouji !" Seru Hinata girang.

"Hah ? Rupanya InoShikaCho dan Taring Putih Konoha sudah datang !" Seru Jiraya tak kalah terkejut. "Kurasa Tsunade mengirim bantuan untuk kita. Yaah, akhirnya aku punya teman yang tidak membosankan yang selalu membaca karya-karyaku tanpa protes sedikitpun !" Serunya sambil terkekeh.

"Novel-novelmu ?" Sambungku. Dia mengangguk senang.

Semenit kemudian, seekor naga berbentuk ular tanpa sayap dengan sepasang kumis yang sangat panjang di hidungnya, lempengan tulang di sekujur punggungnya, dan kulit bersisik berwarna biru cerah mendarat tidak jauh dari kami.

"Baiklah, akhirnya kita bertemu juga" sambut seorang Dracovetth berambut perak jegrak. Aku mengernyit.

"Kakashi ! Lama tak jumpa" sambut Jiraya.

"Kami diperintahkan Hokage-sama untuk mengawal kalian berlima" jelas Kakashi tanpa diminta.

"Naga ini panjang sekali" kagumku tanpa mempedulikan perintah atau alasan kenapa mereka ada disini. Tentu, karena Gorongosa adalah naga terpanjang yang pernah kulihat !

"Ahahaha. Gorongosa panjangnya mencapai 26 meter, Naruto ! Dia bahkan cukup lapang untuk bisa kita semua naiki sekaligus" terang Shikamaru.

"Jadi kenapa kita tidak membawa seekor ini saja ?" Tanyaku.

"Kau ini ! Satu naga takkan cukup untuk mengatasi entah berapa naga yang mungkin akan menyerang kita dalam perjalanan !" Seru Ino. "Lagipula kita bisa mengurungkan niat para penyerang jika makin banyak naga yang kita miliki" lanjutnya.

"Ck. Kau masih cukup lugu dan polos untuk seorang Dracovetth, Naruto-kun" imbuh Kakashi sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Biar begini, aku menguasai Taijutsu dalam waktu dua jam" sungutku.

"Sudah, sudah. Baiklah, untuk mempersingkat waktu, ayo kita berangkat sekarang ke bagian Barat" Jiraya mengakhiri perdebatan kami.

Terbang adalah hal yang menakjubkan. Dan kami tidak perlu membayar sesen pun untuk bisa melakukan itu, kalau kau punya naga. Itu sebabnya transportasi paling jarang di dunia ini adalah pesawat udara. Kalaupun ada, hanya beberapa unit dan hanya dipakai bagi mereka yang di daerah tempat tinggalnya samasekali tidak ada Dracovetth seorangpun. Tak jarang seorang atau beberapa Dracovetth punya penghasilan cukup untuk menghidupi keluarga mereka dengan menjadikan naganya sebagai jasa penumpangan komersial.

Kali ini, kami terbang diatas sebuah hutan boreal, dengan pepohonan batang lunak yang menjulang tinggi hingga lima puluh meter lebih dan dedaunan lebat di atasnya, aku yakin tempat ini akan seperti area penancapan obor raksasa jika hutan semacam ini sampai terbakar.

Pemandangan yang cukup eksotis, yang membuat Jiraya (yang sekarang semakin berlagak sebagai kapten) mengarahkan naga-naga kami untuk terbang rendah agar bisa melihat langsung ekosistem di kanopi-kanopi kecil hutan yang sangat luas ini.

"Apa di hutan serapat ini juga ada naga, Jiraya-sensei ?" Tanyaku penasaran.

Ia melirik. "Hmm, ada. Tapi tidak terlalu banyak. Sebagian berukuran sedang. Sejauh ini yang kita semua ketahui tentang naga di bioma semacam ini adalah hanya satu spesies yang ukurannya lumayan...besar" jelasnya.

"Tentu, di hutan boreal dengan pohon-pohon rapat dan lebat seperti ini para naga, khususnya yang berukuran panjang lebih dari 20 meter akan kesulitan bergerak apalagi terbang" tambah Kakashi.

"Kuharap kita tidak menemukan salah satunya" tambah Shikamaru.

"Telat" Ino menimpali.

"Hm ?"

"Itu".

Ino menuding sebuah...hmm, apa ya ? Pasalnya benda itu lumayan besar dan berbentuk persegi panjang, diam tak bergerak diantara pepohonan. Benda itu bermotif, dan sepertinya tidak terlalu tebal dan ada sepasang dan berjarak tidak terlalu jauh dari tempat kami yang sedang terbang santai.

"Apa itu ?" Tanya Kiba.

"Apa lagi ?" Ino malah balik bertanya.

Benda itu bergerak. Tersembul diantara dedaunan kasar berwarna hijau tua yang seragam, tampak cukup mencolok dengan kombinasi warna coklat dan oranye muda yang tampak seperti kulit pohon.

Dia menyembulkan kepalanya.

Ya ampun, kenapa aku baru sadar ?! Dia seekor naga !

Seekor naga ? Aku berpikir dua kali. Tapi yang satu ini...

...sangat besar.

Sepasang tanduk alisnya yang bercabang-cabang-lah yang pertama terlihat dari kanopi pepohonan. Disusul rahang bawah dan rahang atasnya yang terbuka lebar, menyimpan deretan gigi-gigi tajam yang mengarah ke belakang. Lehernya tidak terlalu panjang tapi terlihat kekar. Dialah pemilik sepasang sayap itu...

Yang mengejutkanku, di mulutnya kini tampak seekor rusa, dan kini naga raksasa itu mengatup-ngatupkan rahangnya beberapa kali. Dia menelan rusa malang itu utuh-utuh (termasuk tanduknya !) semudah manusia menelan permen coklat !

"Fuuh, kuharap dia sudah kenyang" desis Chouji. "Karena jika tidak, kita tahu apa yang terjadi" tambahnya.

"Benar. Semua, tambah kecepatan. Naga itu memang tidak bisa bergerak cepat, tapi alangkah bagusnya..."

SWING

BVOOOOMMM...!

.

KURASA BARU SAJA Jiraya memikirkan tentang ini ketika sekelebat lidah api berwarna hijau terang melesat tak jauh dari naga-naga kami hingga mengenai beberapa pohon-yang segera terbakar.

"CEPAT !" Seru Jiraya akhirnya. Raungan keras menggelegar dari belakang. Naga itu tahu, dan dia pasti belum kenyang !

Aku memeriksa belakang, memastikan semua baik-baik saja. "Kakashi-san ! Ekor nagamu terbakar !" Seruku sambil menunjuk-nunjuk ekor Gorongosa yang berapi.

"Tenang, Naruto. Gorongosa dapat mengubah seluruh tubuhnya menjadi air, jadi terbakar seluruh tubuhpun tidak masalah" timpal Kakashi sambil menepuk-nepuk naga itu. Yaa, benar saja, dalam sekejap ekor naga itu berubah menjadi air, walau masih dalam bentuknya yang sebenarnya, sehingga api itu padam dan ekor itupun kembali ke wujud semula.

"Kita harus cepat !" Jiraya memfokuskan pembicaraan dan perhatian kami semua. Terdengar suara gemuruh dan dahan-dahan retak dan patah di belakang. Aku menoleh.

Naga itu terbang ! Bahkan dengan tubuh sebesar itu dia masih bisa terbang !

"Semua ! Naga itu terbang !" Seruku memperingatkan.

"Sial...tambah ketinggian !" Kali ini Kakashi mengomando dan kami semua terbang cepat ke atas.

Naga itu membuka mulutnya yang seperti terowongan.

Dan...

Lidah api hijau seperti sapu raksasa segera berhembus keluar ! Cih, tidak hanya ukurannya yang bikin gentar, kemampuannya pun mengerikan.

"Kakashi-san, bisakah kau menyemprot naga itu dengan air dari naga itu ?" Seruku keras-keras.

"Tidak ! Api sebanyak itu tidak bisa dipadamkan dengan air dari Gorongosa !" Serunya tak kalah keras.

Aku baru menyadari besarnya naga itu saat dia di udara. Begitu besar dan terlihat berat, rasanya catatan Gorongosa sebagai naga terpanjang yang pernah kulihat pun harus direvisi secepatnya !

Naga itu terus menembaki kami, tak peduli setinggi apa kami berusaha terbang. "Sebenarnya dia spesies apa ?!" Seruku keras.

"Gigantostoma ! Naga terbesar yang menghuni area hutan ! Dia bahkan lebih panjang daripada lebar sebuah lapangan kasti, Naruto-kun !" Teriak Lee menjawab pertanyaanku.

"Setengah panjang lapangan kasti, untuk lebih tepatnya" koreksi Ino.

"Adakah cara mengalahkannya ?!" Aku berteriak lagi.

"Berisik ! Jika kita dengan naga seperti ini dan tidak dikejar waktu, mungkin bisa ! Tapi lihatlah matahari, sekarang sudah jam sepuluh ! Kita harus melarikan diri dari naga ini, itu rencana terbaik yang bisa kupikirkan !" Seru Jiraya.

"Huh, tadi yang bilang kita terbang rendah dan santai siapa" desisku, walau tak digubrisnya juga.

"Sudah cukup tinggi, Jiraya-sama !" Seru Kakashi memberi penanda. "Kita akan menukik turun sekarang, mengambil keuntungan dari energi potensial dan kinetik yang tersisa, lalu melesat secepatnya ke depan dan meninggalkan naga ini di belakang, dengan begitu kita bisa pergi tanpa harus bertarung !" Tambahnya cepat.

Jiraya mengangguk. "SEMUA BERPEGANGAN !" Serunya keras-keras.

Naga itu makin dekat...

...dekat...

...dan sekali lagi menembakkan lidah api raksasa dari mulutnya, kali ini nyaris mengenai kami...

...tapi kami lebih cepat dan lebih dulu menukik sebelum lidah api itu menyambar satupun naga yang ada, lalu segera meluruskan sayap dan terjun ke bawah sampai cukup dekat dengan permukaan hutan, dan segera mengepakkan sayap sekuat tenaga untuk lolos dari Gigantostoma itu.

.

"Hhhh...merepotkan. Untung hanya satu" ucap Shikamaru lega sambil mengusap peluh di dahinya dengan punggung tangan.

"Dia memang besar, tapi staminanya dalam terbang tidak terlalu bagus. Sangat kuat dan berukuran raksasa, tapi tidak lincah" Hinata menganalisa.

"Jiraya-sensei" panggilku sambil berusaha mengatur nafasku yang masih terengah.

"Ya ?"

"Apa...Paradox...sebesar itu ?" Tanyaku penasaran.

Jiraya terdiam sejenak. "Seingatku tidak. Dia bahkan lebih kecil daripada Bryptops ini" katanya sambil menepuk-nepuk naganya seolah mengatakan 'kerja bagus, kawan'. Aku menghela nafas. Lebih kecil dari naga yang sedang kutunggangi ? Bisa apa dia ?


Kaminari no Kuni, Gedung Konferensi

"Baiklah" sebuah suara berat yang tegas memenuhi ruangan rapat.

"Tsunade, Hokage dari Konohagakure, Hi no Kuni..."

"Gaara, Kazekage dari Sunagakure, Kaze no Kuni..."

"Onoki, Tsuchikage dari Iwagakure, Tsuchi no Kuni..."

"Mei Terumi, Mizukage dari Kirigakure, Mizu no Kuni..."

"...dan saya sendiri sebagai Raikage dari Kaminari no Kuni".

"Dengan ini saya nyatakan Konferensi Aliansi Lima Negara besar, dibuka..."

"...untuk membahas masalah penunggang Draco P yang dikabarkan muncul dari Konohagakure..."

"Tidak usah basa-basi, langsung saja ke intinya" potong Onoki santai.

"Sabar, dasar kakek tua keras kepala" balas Raikage sarkastik.

"Hmph, kita disini bukan untuk adu debat atau saling mengejek" Gaara akhirnya meluruskan tujuan. "Langsung saja, bagaimana Anda menangani Uzumaki Naruto yang kabarnya menjadi penunggang Draco P itu, Hokage-sama ?" Gaara kembali berbicara.

"Dia sudah pergi dikawal beberapa Dracovetth berbakat sekaligus Jiraya, pertapa dari Myobokuzan. Tidak akan terjadi apa-apa" jawab Hokage.

"Sungguh ? Kurasa kau harus lebih mengkhawatirkan dia lebih dari siapapun sekarang, Tsunade-hime. Aku tahu sebagai Draco P, nyawanya tidak mustahil sedang diincar, oleh siapapun itu" tanggap Tsuchikage Onoki.

"Sekarang dia sedang melakukan perjalanan ke Barat Hi no Kuni, begitu dia sampai di Kaze no Kuni dan seterusnya ke Utara, kemudian ke Timur, ke Selatan, dan akhirnya ke Barat lagi, aku ingin kalian semua menjamin keselamatannya saat mencari 'Dia' di negara kalian masing-masing" jelas Tsunade panjang lebar.

Raikage mengangguk. "Sudah barang pasti kami menjaminnya. Dia orang nomor satu di dunia sekarang. Walau aku sedikit terkejut juga dia muncul sebagai Draco P dengan selisih waktu yang sangat sebentar antara Yondaime Hokage dan Godaime Hokage" dukung Mei.

"Terimakasih atas dukungan Anda, Mizukage-sama".

"Tidak masalah. Sekarang bagaimana caranya kita menjaga keselamatannya di negara-negara kecil ? Kita semua tahu tidak sedikit dari mereka yang wilayahnya tidak aman bahkan cenderung berbahaya. Sebut saja, Amegakure" lanjut Mei.

"Hokage, apa bocah Uzumaki itu sudah bisa menjaga dirinya sendiri ?" Selidik Raikage.

"Sepertinya belum. Dia hanya remaja biasa tiga hari yang lalu. Hidupnya berubah total saat mengetahui kebenaran orangtuanya. Sekarang bisa jadi dia baru menguasai sebagian kecil dari semua kemampuan yang harus dikuasainya untuk menjadi seorang Dracovetth yang handal. Naga saja dia belum punya" jelas Tsunade rinci.

"Hhh, dia terdengar seperti salah satu Dracovetth terburuk yang pernah kudengar" keluh Tsuchikage. "Terburuk sekaligus terbaik" koreksinya.

"Jangan begitu. Naruto adalah anak dari Namikaze Minato. Orang sejenius itu, dengan talenta luar biasanya, hanya muncul sekali dalam beberapa generasi. Tapi bukan hal yang mustahil apabila kejadian langka itu terulang kembali langsung pada anaknya. Buktinya 'Dia' langsung memilih keturunan pertamanya sebagai pengendaranya untuk menggantikan ayahnya sebelumnya, kan ?" Gaara mengajukan argumentasi kuat.

Para Kage begitu asyik berdiskusi sehingga tidak menyadari bahwa sosok misterius diam-diam mengamati gedung konferensi dari jarak menengah.


Matahari akhirnya tumbang ke Barat. Pukul setengah enam sore, kami mendarat dan beristirahat hingga pagi-pagi buta untuk berangkat lagi.

Aku melangkah ke sebuah sungai kecil yang tidak begitu jauh dari perkemahan kami untuk membilas muka. Air yang dingin dan segar kembali membuatku bersemangat. Aku menengok ke kanan-kiri. Ini masih area hutan boreal, walau sudah agak ke pinggiran. Siapa tahu naga itu, atau naga yang lain, mengejar kami sampai sini.

.

TAK

.

Baru kusadari sebuah kunai melesat dari belakang dan tepat melewati lengan kanan bagian atasku. Baju di daerah itu tergores. Sampai ke kulitku. Tubuhku mendadak kaku. Jika hanya bercanda dan ternyata orang yang melemparku ini adalah salah satu dari temanku, pasti sudah kumarahi habis-habisan.

Aku berbalik.

Dan harapanku terlalu tinggi.

Beberapa meter di belakangku, berdiri seorang remaja kira-kira sebaya denganku, dengan mata hitam legam, kulit putih, dan rambut hitam dengan model yang mengingatkanku pada...pantat ayam.

Ia memakai jubah abu-abu dengan kerah tinggi. Sebilah pedang terselempang di pinggangnya. Sepertinya dia yang melemparku barusan.

Aku akhirnya berdiri tegak seraya berkata lantang. "Apa maumu ?"

Ia diam saja. Justru...mengeluarkan sebilah kunai dari jubahnya.

Aku meneguk ludah. Aku hanya bawa tiga kunai di tas kecil di belakang. Apa cukup untuk menghadapi orang yang terlihat handal menggunakan senjata ini ?

Walau ragu, akhirnya aku keluarkan juga sebilah kunai dari tasku. Aku memasang kuda-kuda bertarung.

"Siapa kau ?" Tanyanya tegas.

"Seharusnya aku yang bertanya begitu" timpalku. Aku nyaris menjawab namaku dan posisiku sebagai Draco P, tapi kuurungkan karena siapa tahu kalau orang di depanku ini adalah pembunuh bayaran atau semacamnya ? Wow, aku tidak akan bisa menghitung berapa harga untuk kepala seorang Draco P...

Ia melesat ke arahku.

TRANG ! Dua kunai bertubrukan. Aku sekuat tenaga berusaha mengimbanginya agar kunainya tidak lolos dari tangan dan berkelebat menusukku. "Aku bukan orang jahat !" Seruku berusaha menetralisasi keadaan.

"Tidak ada penjahat yang mengaku jahat" balas orang itu dingin.

Aku mendecih. Selagi masih mempertahankan posisi, aku merogoh sakuku. Ada sebuah shuriken. Tanpa pikir panjang kulempar benda berbentuk bintang segi empat itu ke arahnya.

Orang ini dengan mudah menangkisnya dengan kunai yang lain, tapi itu membuatnya sedikit lengah dan aku berhasil membebaskan pertahananku dan siap menyayatnya dengan kunaiku...

Tapi dia lebih gesit.

Dengan sekali gerakan, ia kembali menangkis kunaiku dengan kunai di tangan kirinya, dan sekarang tangan kanannya melempar sebilah kunai ke arahku. Beruntung sekali aku bisa menghindar, walau aku merelakan baju sebelah depanku harus tergores sedikit.

TRANG !

Aku mengeluarkan satu lagi kunai di tasku. Sekarang kami berdua seimbang. Dan bunyi itu terus terdengar, menandakan kami tenggelam dalam pertarungan mendadak yang sejauh ini berada di wilayah abu-abu antara menang dan kalah.

Sampai akhirnya aku terpojok. Di belakangku, tepat menjulang sebuah pohon konifer. Aku menengok ke kanan-kiri dengan panik. Dia melempar ketiga kunainya. Aku tidak punya pilihan lain selain berjongkok, dan tidak kusangka itu berhasil. Ketiga kunai itu mengenai batang pohon, dan sekarang aku bersiap dengan serangan Taijutsu.

Namun ia juga lumayan handal dengan Taijutsu. Kepalang basah, aku memutuskan untuk tetap meneruskan pertarungan.

Sehandal-handal lawanku waktu itu, sepertinya aku sedang berada diatas angin. Kali ini kulayangkan satu pukulan penuh ke arahnya ketika dia oleng. Namun...

TAK

Ia mengeluarkan pedangnya ! Nyaliku mulai ciut. Bagaimana bisa seorang berkemampuan pas-pasan sepertiku melawan pedang ? Belum lagi semua kunai dan shurikenku sudah terpakai.

"Sudah kubilang aku bukan orang jahat, kalau itu maksudmu !" Seruku sambil tetap berusaha menghindari pedangnya.

"Omong kosong" tanggapnya acuh.

Sial, harusnya ada yang menolongku di saat seperti ini. Tapi aku sadar, tidak selamanya aku bergantung pada mereka. Aku adalah seorang Draco P, aku harus menyelesaikan ini sendirian !

"Berhenti menghindar !" Bentakannya membuyarkan lamunanku. Segera, aku mendapat ide. Kupancing dia ke area pepohonan, hingga tiba saatnya...

"Rasakan ini !" Serunya sambil mengayunkan pedang secara horizontal ke arahku. Tindakan yang salah.

BETT !

Alih-alih mengenaiku, pedang itu menancap lumayan dalam ke batang pohon konifera di belakangku. Sebelum ia sempat menariknya dan menyerangku lagi, segera saja kutendang wajahnya dengan kaki kananku, membuatnya terlempar beberapa meter menubruk tanah.

Aku mencabut pedangnya. "Sudah kubilang kan" desisku sambil mengatur nafasku yang ngos-ngosan. Baru kali ini aku diserang seperti ini, dan baru kali ini juga aku bisa menang dari orang asing yang menyerangku ! Hehe, perasaan ge-er ku mulai tumbuh.

Ia mengusap pipi kirinya yang sedikit lebam, lantas berdiri dan melakukan handseal.

Ge-er ku mendadak layu lagi. Dia bisa menggunakan Ninjutsu !

"為火:玉要素の術 !"

Katon: Goukakyu no Jutsu

(Elemen Api: Jurus Bola Api)

Sekarang, yang kulihat adalah bola api yang meluncur dari mulut orang itu ke arahku ! Aku gelagapan, tapi tidak ada waktu untuk berpikir. Segera saja aku berlari menjauh, menghindar dari area serang. Bola api itupun meleset dan membakar beberapa pohon.

"Kau cukup hebat sebagai pengembara penyendiri, sampai aku harus menggunakan Ninjutsu. Tapi cukup sampai disini" desisnya dingin.

Jangan-jangan...

Ia membentuk handseal lagi. Mati aku, aku tidak handal menguasai Ninjutsu, lagipula tiupan angin malah akan memperbesar api !

"為火:多重玉要素の術 !"

Katon: Tajuu Goukakyu no Jutsu

(Elemen Api: Jurus Bola Api Berganda)

WUUUSSHH ! Empat bola api mengepungku. Sialan, aku tidak bisa berbuat apa-apa ! Berlaripun rasanya sia-sia karena kali ini ada empat...

"為土:壌素土壁 !"

Doton: Doryuheki

(Elemen Tanah: Dinding Tanah)

Sebuah seruan mengagetkanku. DRAAKKK ! Belum selesai aku terkejut, sebentuk tanah terangkat dan melindungiku dari serangan beruntun empat bola api itu sampai selesai.

Aku menoleh ke sekelilingku. Tampak oleh mataku seorang pria berambut hitam dengan kulit putih, mata hitam, dan tanda garis kerutan memanjang ke arah luar hidungnya. Agak mirip orang yang menyerangku tadi.

"Sasuke. Sudah kubilang berapa kali padamu agar tidak menyerang sembarang orang yang mendekati Perkampungan Uchiha walau kelihatannya mencurigakan, bukan begitu ?" Selidiknya kesal.

"I-Itachi-nii, bukan begitu ! Dia memang kelihatannya mencurigakan, lihat saja pakaiannya yang sudah kusut dan rombeng begitu !" Tuding orang yang dipanggil Sasuke itu.

Aku cengo. Ya, memang aku tidak ganti baju dua hari ini, tapi setidaknya aku terlihat lebih beradab kan, daripada mereka-mereka yang menggelar tikar dan tidur di jalanan itu ?

"Maaf sebelumnya. Kalian ini siapa ?" Aku akhirnya buka suara.

Orang berkeriput itu menghela nafas. "Benar kan. Dia saja tidak tahu siapa kita" katanya.

"Maafkan adikku karena telah menyerangmu, anak muda. Namaku Uchiha Itachi dan dia Uchiha Sasuke, kami bersaudara. Kami tinggal di Perkampungan Uchiha yang tidak jauh dari sini. Kurasa dia menyerangmu karena salah paham mengira kau mata-mata atau penyusup atau semacamnya" jelasnya sopan.

Aku mengangguk. Jelas sudah sekarang. "Terimakasih kau sudah menolongku, Itachi-san" sambutku.

"Apa Sasuke melukaimu ?" Tanyanya cemas. Aku menggeleng.

"Tidak apa. Kurasa adikmu juga tidak terlalu ambisius tadi, jadi aku masih bisa mengatasinya. Hanya sekedar luka lecet kecil saja" jawabku. Sengaja berusaha berkepala dingin. Padahal dalam hati aku ingin menonjok pemuda bernama Sasuke itu karena terlalu cepat berprasangka buruk.

"Luka tetap luka. Untuk membayar kesalahan adikku, bagaimana kalau kau istirahat sebentar di kediaman kami ? Ah, iya, siapa namamu ?"

"Uzumaki Naruto dari Konohagakure" jawabku jujur. Belum terlalu jujur sih.

"Konohagakure ? Hebat juga kau bisa bepergian dari desa sejauh itu kesini, sendirian dengan jalan kaki" sinis Sasuke.

Aku menahan kesalku. "Terimakasih banyak, Itachi-san. Tapi aku tidak sendiri, ada teman-temanku di sisi lain belukar itu" aku menuding semak belukar besar di seberang sungai. "Aku harus pergi kesana sebelum mereka mencariku, aku baik-baik saja" sambungku.

"Naruto, kau tak apa ?!"

Sebuah seruan mengagetkan kami bertiga. Di seberang sungai, mereka segera tampak. Mereka semua ! Kecuali naga yang mereka bawa.

"Tidak, aku baik-baik saja ! Hanya mendapat teman-teman baru disini !" Seruku sambil melambaikan tangan. Mereka semua mendekat.

"Siapa mereka ?" Selidik Shikamaru.

"Shikamaru, ini Uchiha Itachi, ini Uchiha Sasuke. Uchiha bersaudara, ini Shikamaru, temanku" aku memperkenalkan. "Ada apa kalian datang semua kemari ?" Selidikku.

"Shikamaru melihatmu bertarung bersama seseorang. Ia memanggil kami dan memberitahukan apa yang terjadi. Karena itu kami kemari" jawab Ino.

"Lain kali kau harus ditemani kapan dan kemanapun kau akan pergi, sedekat apapun itu" simpul Kakashi.

Kami semua terdiam sejenak.

"Ehm, ngomong-ngomong siapa kalian ? Pengembara ?" Tanya Sasuke.

"Pengembara ? Yang benar saja kalian tidak tahu !" Seru Kiba.

"Anu...Kiba...kurasa sebaiknya..." Kata-kataku terpotong oleh seruan Kiba berikutnya.

"Orang berambut kuning yang kau lawan ini, dia adalah penunggang Draco P ! Beruntung dia baik, kalau dia bertangan dingin, kau sudah tergeletak tak bernyawa dari tadi disini !" Cerocos Kiba pada Sasuke.

Sial, batinku. Siapa yang mengira sikap klan Uchiha seperti mereka bisa menoleransi ini ?

Mata Sasuke dan Itachi membesar dan membulat.

"Dra...co...P...?!" Desis Itachi terbata-bata. "Benarkah itu, Naruto-kun ?" Selidiknya.

Aku terpaksa mengangguk. "Begitulah" jawabku sekenanya.

"Naruto-kun, Shikamaru-kun, dan semuanya. Pindahkan semua barang dan naga kalian kemari dan ikuti kami. Kami akan mengantar kalian ke Perkampungan Uchiha".

.

.


Uchiha Village

Yang kulihat kini adalah deretan rumah berjajar rapi. Atapnya berwarna hijau kebiruan dengan simbol dominan khas klan Uchiha, kipas berwarna merah dan putih. Dinding beton tebal berwarna putih terang mengelilingi perkampungan ini. Mungkin untuk menghindari serangan naga. Ciri khas orang-orang yang kami temui di perkampungan ini mirip-mirip, yaitu kulit sawo matang terang hingga putih, rambut hitam walau dengan berbagai gaya, mata berwarna onyx hitam, dan satu hal yang penting, jarang ada laki-laki dewasa yang memelihara kumis.

"Kalian sudah tinggal disini berapa lama ?" Aku akhirnya bertanya.

"Cukup lama. Bisa dibilang sekitar dua ratus tahun. Beberapa generasi pernah hidup disini. Dan asal kalian tahu saja, kami para Uchiha baru memanfaatkan dengan optimal sekitar setengah dari seluruh lahan dibalik benteng ini. Setengahnya lagi kami biarkan untuk warisan anak cucu kami kelak, karena kami tahu pasti populasi manusia makin bertambah dari tahun ke tahun, dan disini bukan tempat yang teramat aman untuk membesarkan mereka. Ancaman naga selalu ada, apalagi diantara mereka yang merupakan Pembantai Bersayap" jelas Itachi panjang lebar.

"Pembantai Bersayap ?" Ulangku penasaran. Dia mengangguk.

"Simpan pertanyaan kalian semua saat sudah berada di kediaman kami, sebentar lagi. Kami masih belum bisa menjelaskan kalian pada orang-orang yang menatap kalian bagai pengembara tersesat" potong Sasuke sinis. Aku mencibir.

Tidak lama, kami sampai di sebuah rumah bertingkat tiga. Sebuah kolam ikan kecil dengan jembatan yang melintasinya berada di bagian depan. Jalan setapak dari batu dan beberapa pohon palem yang masih muda turut memperindah suasana sekitar. Walau rumah itu besar, tidak ada kesan sesak samasekali. Sepertinya rumah yang lengang.

"Kaa-san ! Tou-san ! Ada tamu !" Seru Sasuke ketika kami semua sudah memasuki beranda rumah.

Seorang pria berperawakan sedang, umur kira-kira 40 tahunan dengan gaya rambut mirip Itachi keluar menyambut kami.

Tch, tentu ia tidak mengira kalau dua putranya membawa tamu sebanyak ini –yang juga bahkan belum ia kenal !

"Itachi, Sasuke" panggilnya. Mereka berdua mendekat. Pikirku, mereka pasti akan dinasihati habis-habisan kenapa mereka berani membawa tamu sebanyak ini ke rumah mereka. Sudah pasti persediaan makanan akan langsung menipis untuk menjamu kami semua, apalagi untuk Chouji.

"Kalian serius ?" Bisik orang itu.

"Benar, Tou-san. Melihat rombongan sebanyak ini dari Konohagakure, terlebih salah satu dari mereka adalah Jiraya sang Pertapa Suci dari Myobokuzan, kurasa kecil sekali kemungkinannya anak Uzumaki itu bukan Draco P" balas Itachi sambil berbisik pula. Tapi setidaknya agak keras.

"Cih, aku tidak tahu ide gila macam apa itu, bukankah sudah berkali-kali ayah bilang agar kalian tidak mempercayai orang begitu saja dari penampilan luar mereka ? Bicara adalah termasuk penampilan luar, tahu" ayah mereka tetap keras hati.

"Justru itu. Sasuke awalnya malah mengira Naruto-kun adalah seorang pengembara yang berniat jahat pada desa kita, karena itu ia sempat terlibat perkelahian dengannya. Sampai-sampai otouto mengeluarkan Ninjutsu Katon, itu bahaya" jelas Itachi panjang lebar.

"Permisi, saya tidak tahu apa yang Anda bicarakan, tapi bisakah kita menghemat waktu ? Kami harus pergi segera, lagipula kami tidak ingin meninggalkan naga-naga kami lebih lama" Kakashi akhirnya buka suara.

"Kemana tujuan kalian ?" Serobot pria itu sebelum Itachi atau Sasuke membalas pertanyaan.

"Ke Barat. Setelah melewati Hi no Kuni, kami akan ke Kaze no Kuni dan terus ke Utara, ke Timur, dan ke Selatan" jelas Kakashi rinci.

"Itu sama saja kalian mengelilingi dunia" timpal Sasuke. Kakashi mengangguk.

"Karena itu kami harus pergi sekarang. Jika, maaf, kedatangan kami merepotkan kalian semua, lebih baik tidak perlu. Terimakasih atas kebaikanmu, Itachi-san, tapi waktu sangat berharga. Kami harus segera menemukan 'Dia' kalau ingin perwujudan takdir itu cepat terlaksana" balas Kakashi sambil memberi penekanan pada kata 'Dia'.

Pupil mata pria itu mengecil. "Jadi...bocah Uzumaki ini benar-benar pengendara...?"

Kakashi mengangguk. "Kalian tidak bercanda, kan ?" Selidik orang itu lagi.

"Saya belum pernah bercanda" jawab Kakashi tegas.

.

"Naruto-kun dan Jiraya-sama, termasuk Anda" kata orang itu. "Masuklah ke dalam. Yang lain, harap tidak keberatan untuk menunggu sementara disini. Jangan khawatir, jauh-jauh hari kami sudah membangun tempat penginapan tamu di sebelah Timur. Sasuke, tolong antar tamu-tamu kita ke tempat peristirahatan" perintah orang itu. "Namaku Uchiha Fugaku, pemilik rumah ini sekaligus kepala Desa Uchiha. Saya juga ayah dari Itachi dan Sasuke" Pria bernama Fugaku itu memperkenalkan diri.

"Mari masuk".

.

.

Kami disambut oleh beberapa pelayan rumah, yang kemudian mengantarkan kami bertiga ke sebuah ruangan. Sepertinya ruangan khusus untuk rapat. Kami bertiga duduk di kursi yang tersedia, sementara Fugaku bersama dengan Itachi dan Sasuke duduk berhadapan dengan kami.

Suasana tegang dan penasaran kami pada orang-orang itu hanya dibatasi sebuah meja kayu yang kokoh diantara kami waktu itu.

"Uzumaki Naruto...rasanya aku familiar dengan ciri fisikmu. Hmm, apa ya ?" Fugaku bertanya padaku dengan tatapan menyelidik dan berusaha mengingat-ingat sesuatu.

"Rambutnya mungkin" jawab Sasuke asal-asalan. Fugaku menjentikkan jari.

"Hahaha, putraku memang cerdas. Benar ! Aku ingat sekarang, rambut kuning durianmu itu mirip sekali dengan rambut Namikaze Minato, Yondaime Hokage !" Cetus Fugaku puas.

Tebakan jitu, pikirku. "Sebenarnya, Fugaku-sama, dia adalah anak dari Yondaime" sambung Kakashi.

Fugaku terdiam. Lumayan lama. Sampai akhirnya ia menatapku tajam dan berkata. "Buah memang tidak pernah jatuh dari pohonnya. Tapi kurasa ini lebih mirip air cucuran hujan yang jatuhnya ke pelimbahan juga".

"Haha, dia mungkin akan terlihat aneh kalau berambut merah seperti ibunya. Apalagi kalau modelnya jegrak seperti Kakashi" Jiraya tertawa.

"Bukan itu yang kumaksudkan, Jiraya-sama" koreksi Fugaku. "Ayahnya adalah pengendara Draco P juga, kan ?" Lanjutnya. Kakashi dan Jiraya mengangguk bersamaan.

"Aku tidak menyangka samasekali pengendara Draco P ada di dunia ini dalam selang waktu yang sangat singkat. Sebelumnya selalu cukup lama, minimal seabad" cetus Fugaku takjub. "Tapi tidak heran kalau 'Dia' bergegas menunjukkan dirinya pada dunia lagi, sebab ancaman yang besar juga sudah mulai membuat perkampungan ini resah".

"Apa maksud Anda ?" Tanya Kakashi penasaran.

Itachi dan Sasuke, yang masing-masing duduk di sebelah kanan dan kiri kursi ayah mereka, berpandangan sesaat lalu menengok ke ayah mereka dan mengangguk.

Fugaku menghela nafas. "Baiklah. Tidak ada untungnya juga kalau aku simpan" katanya sok misterius. Kami bertiga memasang telinga baik-baik.

"Naruto-kun, karena kau baru di dunia naga ini, aku rasa aku harus menyampaikan sesuatu yang wajib diketahui semua orang yang hidup" katanya padaku. Aku mengangguk. "Perlu kau ketahui, tidak semua Dracovetth itu baik. Ada beberapa, ehm, maksudku ada banyak Dracovetth yang jahat, meski jumlahnya tak sebanding dengan yang baik".

"Dan sekitar seratus tahun yang lalu, ada seorang Dracovetth yang jadi benar-benar jahat" lanjutnya. Aku merinding. "Namanya..."

.

.

"...Uchiha..."

"...Uchiha...Madara..."

.

.

.


Gedung Konferensi

BUUUUMMMM ! ! ! !

"Apa itu ?" Sontak Mizukage bertanya. Kelima Kage saling pandang sesaat.

"Akan kupastikan" desis Darui, tangan kanan Raikage, sambil berlari cepat ke luar.

"Cih, bisakah mereka meminimalisir keributan yang ada, bukan malah membuat gangguan seperti ini ?" Gerutu Onoki. "Jangan bilang kalau rakyat desamu tidak berkenan dengan diadakannya konferensi ini, Raikage" sambungnya.

Pemimpin desa Kumogakure itu jelas merasa sedikit tersinggung, tapi ia memutuskan tetap berkepala dingin selagi permasalahannya tidak terlalu dalam. Lagipula membuat keributan tidak etis bagi seorang Kage Lima Negara Besar...

DUUAAAARRRR !

"Dasar bodoh ! Apa yang sedang kalian lakukan di luar hah ?!" Bentak Raikage akhirnya. "Darui ! Cee ! Eff ! Apa yang terjadi ?!" Serunya keras berusaha mendapatkan jawaban dari tiga orang kepercayaannya.

Mendadak, seorang perempuan berambut pirang dengan kulit putih lari tergopoh-gopoh ke ruangan. "Raikage-sama ! Empat Kage yang lain, ini terdengar lancang, tapi saya perintahkan kalian semua untuk pergi dari sini segera !" Serunya sambil mengatur nafasnya yang ngos-ngosan. Peluh bercucuran dari leher dan dahinya.

"Samui, tenangkan dirimu ! Dimana Omoi, Karui, Darui, Cee, dan Eff ?!" Serobot Raikage tak sabar.

"Mereka semua..."

BUUUUMMMMM !

Dinding di belakang Samui runtuh dan menampakkan sosok naga raksasa yang tampak dibalik asap. Mata kuning dengan iris merahnya menyala, dan kini mulut berisi gigi-gigi tajam itu membuka dan meraung keras.

"Erlik..." desis Gaara. "Siapa yang memanggil naga sebesar itu ?" Lanjutnya.

"Pengawal ! Kita akan melindungi Lima Kage ! Samui, kau juga !" Seru Kapten Yamato yang bertindak sebagai pengawal Hokage. Temari dari Suna mengangguk. Begitu pula Kurotsuchi dari Iwa dan Ao dari Kiri. "Naga sebesar ini pasti datang sendiri. Tidak ada yang..."

.

"Kalau belum melihat, jangan seenaknya mengeluarkan opini, Yamato-san". Sebuah suara dingin terdengar di sela-sela keributan dan ketegangan itu. Seperti ada tombol yang mengatur, semua orang di ruangan itu menoleh ke sumber suara.

Seorang pria berkulit putih dengan mata merah, rambut panjang sepinggang berwarna hitam dan jubah ungu gelap dengan lambang klan Uchiha di punggungnya dibalik combat suit berwarna merah, menatap mereka sinis.

Sharingan.

Ia membentuk satu handseal.

KRRAAAAKKK... Sebuah aura biru gelap mengelilingi bangunan konferensi yang sudah mulai hancur, terus menutupinya hingga membentuk sebuah kubah raksasa dimana bangunan dan seluruh penghuninya terkurung di dalam situ.

"Namaku Uchiha Madara".

"Aku akan menjelaskan sesuatu pada kalian, setelah itu aku akan bertanya tentang konfirmasi kalian atas hal itu" lanjutnya dingin.

Mendadak, Raikage langsung melompat dari tempat dan melancarkan serangan. Seluruh tubuhnya diliputi petir kecil dan ia menggeram ganas...

Namun sebelum itu terjadi, ekor Erlik menghempas ke arahnya dan menghancurkan beberapa bagian ruangan. "Raikage ! Jangan gegabah !" Seru Onoki.

"Tidak akan ada rencana orang jahat yang berakhir bagus. Apa yang kau mau ?" Seru Raikage kesal.

"Aku akan menjelaskan sesuatu pada kalian. Semua tergantung pada jawaban kalian nantinya. Karena ini akan makan waktu, biarkan aku duduk" kata Madara santai lantas duduk bersila diatas salah satu meja 'amfiteater konferensi' yang ditempatinya tadi.

"Jelaskan apa tujuanmu !" Seru Tsunade kesal.

"Tidak akan ada lagi ketidakadilan, penindasan, dan pengurasan harta dan kemampuan manusia untuk manusia yang lain..." desis Madara misterius.

"Apa maksudmu ?" Selidik Gaara.

Madara tertawa kecil. "Kalian adalah pemimpin dari Lima Negara Besar, bukan begitu ?" Sinisnya. "Kalian menggunakan sistem kasta dalam dunia ini" lanjutnya.

"Aku tidak mengerti apa yang sedang kau bicarakan" sungut Mei.

"Lima Negara Besar...Hi, Kaze, Mizu, Kaminari, dan Tsuchi... mendapatkan bayaran ketika Dracovetth-Dracovetth mereka berhasil melaksanakan misi, bukankah begitu ?" Lanjut Madara. "Itu sama saja kalian menggunakan dan memanfaatkan perang untuk kesejahteraan pribadi. Lima Negara Besar saling berlomba untuk menjadi negara dengan kualitas Dracovetth yang terbaik. Entah secara kuantitas atau kualitas, secara tidak sadar kalian telah menerapkan pendidikan yang salah untuk dunia yang sedang berkembang ini".

"Kalian melaksanakan misi...dan misi itu hanya istilah ameliorasi untuk penyebutan perang...setelah misi sukses, kalian memperoleh bayaran. Apakah itu tidak keterlaluan namanya ?" Jelasnya cepat. "Kalian, Lima Negara Besar, hidup damai dan sejahtera di atas penderitaan dan kesengsaraan negara-negara kecil...kalian bagai pemangsa dan mereka yang di luar sana adalah mangsa. Kalian tidak memberi kesempatan bagi negara-negara kecil untuk berkembang. Sebaliknya, kalian justru menindas mereka. Dan kalian menganggap ini semua beradab ?"

"Jadi apa maumu ?" Potong Raikage akhirnya.

"Serahkan pengendara Draco P itu padaku..."

"...dan semua ini selesai..."

.

.

.

"Apa maksudmu !" Seru Raikage mulai marah. "Kau datang tak diundang disini, dan tiba-tiba menuntut sesuatu yang tidak mungkin kami lakukan ?"

"Cukup mengejutkan juga melihat Uchiha Madara masih hidup" kata Onoki. "Tapi kenapa seorang Dracovetth berkemampuan sepertimu melakukan hal ini ? Agak memalukan. Bukankah kau sendiri tentunya memiliki kekuatan untuk melakukan hal ini sendirian ?" Katanya lagi.

"Cedera yang kualami saat berperang dengan Shodaime Hokage, Senju Hashirama, terlalu parah. Kau bisa menganggap aku sendiri hanya tong kosong sekarang" jawab Madara santai.

"Jadi ini adalah sebuah rencana untuk memulihkan dirimu ?" Tebak Temari.

"Bisa dibilang begitu. Tapi tidak semuanya. Aku akan membuat semua menjadi satu denganku...menjadikan diriku sendiri sebagai dewa dan mengatur dunia ini ke dalam perdamaian abadi...yang belum pernah ada sebelumnya..." jelasnya ambigu.

"Menjadi satu ? Menyatukan semua ? Apa yang akan kau lakukan ?" Tanya Onoki menyelidik. Ia berusaha tetap sabar.

"Uchiha memiliki tablet batu kuno...itu masih ada sampai sekarang dibawah Desa Konoha. Ditulis dengan rahasia, diukir oleh Rikudo Sennin sendiri. Kau tidak bisa membacanya kecuali kau memiliki kekuatan. Sharingan, Mangekyo Sharingan, dan Rinnegan. Semakin besar kekuatan yang kau miliki, isinya jadi semakin terlihat" jelasnya.

"Ceritamu tidak benar" sangkal Onoki. "Rikudo Sennin hanya legenda. Bahkan aku masih setengah-setengah meyakini Paradox itu benar-benar ada" lanjutnya.

"Tidak. Mereka benar-benar ada. Dan mereka meninggalkan Tablet Batu. Aku telah menguasai Mangekyo Sharingan Abadi, dimana aku berhasil menyingkap dua pertiga dari seluruh isi yang ada. Dan, jika aku memiliki Rinnegan, aku akan dapat membaca semua isi tablet tersebut dan mengetahui rahasia tentang Mereka Berdua" lanjutnya. Madara memberi penekanan pada kata 'Mereka Berdua'.


Uchiha Village

"Lawan dari Paradox ?!" Seruku terkejut. Kakashi dan Jiraya bahkan sama terkejutnya. Fugaku mengangguk.

"Ada kebaikan, pasti ada kejahatan. Semua di dunia ini memiliki lawan, dalam arti lain, pasangan. Laki-laki dan perempuan. Hitam dan putih. Tarik dan dorong. Pasang dan surut. Menang dan kalah. Besar dan kecil. Yin dan Yang..."

"...Paradox..."

"...dan Ortodox..."

.

"Jadi...kau pernah melihat Ortodox ?" Selidik Kakashi penasaran. "Kau tidak bercanda kan ?"

"Tentu tidak. Itu ada dalam Tablet Batu Uchiha. Itulah tablet rahasia yang membeberkan informasi tentang asal-usul Dracovetth, para naga, sampai Dua Bersaudara yang dikenal dengan Paradox dan Ortodox. Mungkin kau biasa menyebut mereka dengan Draco P dan Draco O" terang Fugaku sambil bersedekap. "Asal kalian tahu saja, kami para klan Uchiha memiliki pengetahuan tentang sesuatu yang magis dan aneh dari dunia manusia dan naga lebih baik daripada klan manapun berkat tablet batu itu, yang konon diukir sendiri oleh Rikudo Sennin" tambahnya. Ini semakin membuatku penasaran.

"Ironisnya, Uchiha Madara adalah yang terkuat diantara kami seratus tahun lalu, sampai ia membangkitkan kekuatan yang bahkan menurutku terlampau besar sehingga ia berhasil menafsirkan dua pertiga Tablet Batu Uchiha dan pergi mengkhianati kami semua".

"Jadi sebenarnya, Fugaku-sama, kalau boleh kami tahu, apa tujuan Uchiha Madara ?" Aku terpaksa bertanya karena rasa penasaran yang mendesak.

"Siapa yang tahu ?" Fugaku balik bertanya. "Tapi selalu ada kemungkinan dia akan mengincarmu, Naruto-kun" balasnya. Wajahku jeri.


"M-Mereka...ber...dua...?" Ulang Tsunade dengan suara gemetar.

Madara mengangguk kecil. "Paradox memang sering disebut naga paling langka dan paling kuat. Tapi jangan lupakan sisi lain dari itu. Ortodox...bahkan lebih jarang menampakkan diri ke dunia. Dan kita semua tidak tahu sekuat apa mereka berdua..." jelasnya mengintimidasi.

"Tujuanku adalah mencari Ortodox, dan bertempur melawan Paradox. Bersama pengendaranya kalau bisa. Aku akan mengambil tujuh berlian Paradox dan menggunakannya untuk memperkuat kekuatanku sampai bisa membangkitkan Rinnegan sempurna. Setelah itu, aku akan membangkitkan makhluk terbesar yang pernah hidup di Bumi..."

"...Droconos..."

.

.

.

Bersambung . . . . . . .


Author's Note (2):

Chapter 4 selesai ! Naruto akhirnya bertemu Uchiha Sasuke dan tokoh antagonis utama muncul, Uchiha Madara. Konflik makin panas dengan beredarnya rumor tentang Dua Bersaudara, Draco P dan Draco O. Siapa mereka ? Dan, siapa sebenarnya Droconos yang ingin dibangkitkan Madara ?

Disini adegan fight-nya udah ada sedikit. Gimana readers, apakah kurang detil atau kurang seru ? Yaa, karena Naruto saja belum terlalu kuat, jadi saya akan pastikan adegan fight pada chapter-chapter selanjutnya akan lebih dahsyat.

Well, soal pair, saya janji akan tambahkan romance di bab 5. Seperti apa, tunggu saja ! By the way soal update, saya memang tidak bisa tepat memprediksi. Yang diprediksi akan telat kadang justru lebih maju, yang diprediksi maju justru telat. Hehe, itu semua tergantung kondisi sekolah saya dan juga ide-ide saya tentunya.

Kembali saya ingatkan, jangan sungkan memberi review yach...Sesingkat apapun atau sesepele apapun itu akan sangat berguna, dan kalau-kalau kalian punya ide untuk fic ini, cantumkan saja ide itu. Saya juga sangat berterimakasih atas readers yang mau me-review Paradox ! Tidak ada yang bisa saya lakukan untuk membalas kebaikan kalian semua kecuali terus meneruskan fic ini !

P.S : Saya punya pertanyaan untuk readers semua. Begini, jika saya akan memunculkan lebih banyak naga, apakah readers berkenan jika saya mengambilnya dari legenda/cerita di dunia nyata ? (Misal: Hydra, Leviathan, Wyvern, dan sebagainya). Kalau banyak yang setuju akan saya tambahkan, kalau tidak banyak, saya akan pakai naga dari imajinasi saya sendiri.

See you again in chapter 5 !

-Itami Shinjiru-


-Dragons List in Chapter Four :

Gorongosa

Strength : Sangat tinggi

Ukuran : Panjang 26 meter, berat 9,5 ton

Kecepatan terbang : 20-90 km/jam

Spesial : Dapat merubah diri menjadi air

Tipe serangan : Menembakkan air bertekanan tinggi, larutan korosif dan mudah terbakar

Kategori : Mirakel

Elemen spesial : -

Level bahaya : Medium

Pemilik : Hatake Kakashi (yang baru ditampilkan)

Gigantostoma

Strength : Ekstrim

Ukuran : Panjang 36 meter, berat 27 ton

Kecepatan terbang : 20-50 km/jam

Spesial : Ukuran raksasa, menghancurkan dengan mudah

Tipe serangan : Api hijau terang, bersuhu hingga 770 derajat Celcius

Kategori : Mighty

Elemen spesial : -

Level bahaya : Jauhi !

Pemilik : Tidak ada (yang baru ditampilkan)

Erlik

Strength : Ekstrim

Ukuran : Panjang 35,6 meter, berat 26 ton

Kecepatan terbang : 20-55 km/jam

Spesial : Cakar raksasa sepanjang 2 m di kaki depannya

Tipe serangan : Bola ungu gelap padat, menyebabkan kerusakan besar dalam jarak serang sangat jauh (Mirip Bijuu Dama)

Kategori : Mighty

Elemen spesial : -

Level bahaya : Gila

Pemilik : Uchiha Madara (yang baru ditampilkan)

PARADOX

Strength : Abadi

Ukuran : Panjang kurang dari 15 m

Kecepatan terbang : ?

Spesial : ?

Tipe serangan : ?

Kategori : Dewa

Elemen spesial : ?

Level bahaya : ?

Pemilik : Rikudo Sennin, Senju Hashirama, Namikaze Minato

ORTODOX

Strength : ?

Ukuran : ?

Kecepatan terbang : ?

Spesial : ?

Tipe serangan : ?

Kategori : Dewa

Elemen spesial : ?

Level bahaya : ?

Pemilik : Tidak ada (yang baru ditampilkan)