Permainan Terlarang
.
.
.
.
Vocaloid bukan milik saya, tetapi milik Yamaha Corporation etc.. Tapi cerita ini adalah milik saya sepenuhnya.
.
.
.
.
Chapter 2
.
.
.
.
Mereka terus bersenda gurau, seolah dunia milik mereka berdua. Ya …, begitulah orang pacaran. Beberapa saat kemudian, mereka pun tiba di seberang pintu masuk taman. Mereka pun menyebrang, sambil terus menggombal.
" … aah, Kaito-kun bisa saja!" kata Miku tersipu karena gombalan Kaito.
Kaito pun tersenyum tipis melihat wajah Miku yang memerah dan terlihat manis itu. Namun beberapa saat kemudian senyumnya memudar ketika melihat truk yang melaju kencang menuju sang kekasih.
"MIKU-CHAN!" teriaknya.
.
.
.
.
Klang!
Gumi menoleh pada tumpukan CD yang ada di meja kecil yang dia taruh di pojok kamarnya. Karena merasa bahwa bunyi tersebut berasal dari sana, Gumi bangkit dari ranjangnya dan benar saja, ada sebuah CD yang terjatuh dari tumpukan CD lain. Mungkin CD itu jatuh karena CD itu berada di tumpukan paling atas dan tumpukannya miring ke salah satu sisi. Gumi pun melihat tulisan yang ada di CD tersebut,
"Miku dan Kaito …"
Bacanya pelan. Oh! Rupanya CD itu berisi lagu yang dinyanyikan Miku dan Kaito. Lagu yang mereka nyanyikan adalah lagu berbahsa Inggris yang disukainya.
Oh iya, Gumi memang menyimpan lagu-lagu kesayangannya di dalam CD, termasuk lagu yang dinyanyikannya dan teman-temannya. Mereka memang suka menghabiskan waktu untuk menyanyi di tempat karaoke, dan Gumi suka merekam lagu yang mereka nyanyikan dan dimasukannya ke dalam CD. Hasil rekaman yang dimasukkan oleh Gumi ke dalam CD sudah sangat banyak, yaitu sekitar puluhan CD, dengan lima lagu di setiap sebuah CD. Kadang, Gumi memutar CD dengan lagu yang ingin didengarkannya di laptopnya. Gumi memang kuno, tapi itulah hobinya.
Gumi pun murung ketika ingat bahwa dia dan teman-temannya—termasuk Miku dan Kaito—sedang bertengkar karena permainan itu.
Gumi pun bangkit dengan maksud ingin memutar CD itu di laptopnya, siapa tahu dapat menenangkan hatinya yang masih khawatir akan permainan itu. Namun, ketika dia menuju laptopnya yang ada di ranjangnya, tiba-tiba CD itu langsung terjatuh dan langsung retak.
"Kyaa! Retak!" pekik Gumi sambil memungut CD itu cepat-cepat.
Gumi memperhatikan retakan di CD itu. Retakannya lumayan besar, dan mungkin saja membuat CD itu tak bisa di putar lagi. Kemudian Gumi mulai heran, mengapa CD yang jatuh bisa langsung retak seperti itu, padalahal biasanya tidak sampai retak begitu. Gumi pun penasaran apa CD itu masih bisa diputar atau tidak dengan memutarnya di laptopnya.
Ternyata benar, CD itu rusak.
Gumi pun mendapat firasat buruk akan Miku dan Kaito karena peristiwa yang barusan terjadi—retaknya CD secara abnormal. Gumi sempat mendengar bahwa saat mereka bermain kemarin, mereka mendapat ramalan bahwa mereka akan tewas dalam kecelakaan. Gumi khawatir kalau mereka benar-benar mengalami kecelakaan hari ini …
Tapi Gumi segera mengusir firasat itu dan berpikir bahwa mereka berdua tidak apa-apa, sampai handphone-nya berdering menandakan bahwa ada telepon masuk.
"Ha-halo?" kata Gumi saat dia menjawab telepon yang ternyata dari Luka itu.
"Halo, Gumi! Cepat ke rumah sakit yang ada di dekat rumahmu!"
"Hah? Ke rumah sakit? Kenapa? Siapa yang masuk UGD?!"
"Tidak usah banyak tanya, sekarang kamu harus ke rumah sakit, ke UGD! Sekarang!"
Gumi tak memikirkan apa-apa lagi selain memikirkan firasat buruknya. Dia khawatir kalau yang masuk UGD adalah Miku dan Kaito yang mengalami kecelakaan, seperti bunyi ramalan mereka. Dia takut kalau mereka sudah mati saat dia sampai di rumah sakit, karena itu dia segera berlari menuju garasi setelah pamit kepada ibunya. Dia mengeluarkan sepedanya dan segera mengayuhnya dengan cepat ke rumah sakit yang dimaksud Luka. Untung saja rumah sakit itu tidak terlalu jauh, jadi Gumi tidak terlalu lama memkirkan firasat buruknya.
Sesampainya di tempat parkir rumah sakit, ternyata Gakupo sudah menunggu Gumi. Tanpa bicara, Gakupo langsung mengajak Gumi ke UGD.
"Gakupo, siapa yang masuk UGD?! Jangan katakan kalau—"
"Kau akan melihat, Gumi." Jawab Gakupo dengan nada datar dan penuh kesedihan. Gumi makin tak enak.
Saat pintu kamar UGD dibuka, ada seorang dokter dan perawat, Luka, Rin, dan Len berdiri di depan dua ranjang yang berdekatan. Firasat Gumi makin kuat tanpa kehadiran sepasang kekasih itu. Gumi pun melirik ke arah ranjang itu. Tubuh orang yang ditidurkan di sana tertutup dari ujung kaki sampai ujung kepala, dan hanya memperlihatkan sebuah tangan yang berlumuran darah yang masih segar. Gumi pun mendekat ke dua orang yang sudah menjadi mayat itu dan membuka selimut yang menutupi wajahnya.
Wajah itu terluka, berlumuran darah, dan salah satu sisi wajah itu remuk karena terlindas sesuatu, membuat Gumi ingin muntah karena ada kulitnya yang agak terkelupas. Matanya masih terbuka dan membelalak, membuat Gumi agak ngeri. Wajah itu menampakkan rasa sakit yang luar biasa, membuat Gumi menangis ketika menyadari bahwa mayat itu berambut hijau toska yang di twintail.
"Miku-chan …" isak Gumi. Luka pun mendekat ke arah Gumi yang terisak.
"Iya, Gumi. Itu Miku! Hatsune Miku, teman kita! Dan itu Kaito! Mereka begini karena kecelakaan!" seru Luka diselingi isakan. Dia menekankan kata Kaito, karena dia sangat terpukul atas kematian Kaito.
Gumi ingat, ketika mereka masih kelas dua SMP, Luka pernah bilang kepadanya kalau Luka menyukai seorang Kaito Shion. Bahkan sampai sekarang, dia hanya memendam rasa itu. Makanya dia seirng menolak Gakupo mentah-mentah. Dan sekarang? Kaito mati, kemungkinan saat menyelamatkan Miku dalam kecelakaan itu.
Sekarang, Gumi telah mengetahui apakah firasatnya benar-benar terjadi atau tidak.
.
.
.
.
Beberapa hari setelah kematian sepasang kekasih itu, mereka kembali ceria seperti semula dan berbaikan dengan Gumi, walau masih murung kembali ketika ada yang menyebut nama Kaito dan Miku.
Tapi, tak ada seorangpun yang mengingat tentang ramalan itu dan tak ada yang sadar kalau kematian Kaito dan Miku itu sesuai dengan ramalan mereka kemarin, kecuali Gumi. Tapi sekarang Gumi sudah agak melupakan ramalan itu, supaya hidupnya tenang tanpa memikirkan nasib teman-temannya setelah memainkan permainan yang menurutnya terlarang dan terkutuk itu.
Bel pulang sudah berbunyi beberapa puluh menit lalu, tetapi Gumi baru keluar dari ruang guru karena baru mengumpulkan tugasnya kepada sensei-nya di jam pulang sekolah. Karena lumayan terlambat dalam mengumpulkan tugasnya, Gumi diceramahi sensei-nya dulu. Dan sekarang dia baru bisa pulang. Di depan lokernya, dia bertemu dengan Rin.
"Gumi-nee!" sapa Rin.
"Eh, Rin! Kok kamu baru pulang?" tanya Gumi.
"Tadi aku piket dulu." Kata Rin. "Kalau Gumi-nee?"
"Eh …, baru ngumpulin tugas ke Kiyoteru-sensei. Tapi aku diceramahin dulu sebelum aku boleh pulang," kata Gumi.
"Oooh … ya, begitulah. Kiyo-sensei memang hobi banget berceramah. Bayangkan, saat aku dan Len terlambat masuk kelas karena baru kembali dari kantin, dia langsung nyeramahin kami sampai satu jam."
"Ahaha … aku pernah berpikir, apa Kiyoteru-sensei pernah kehabisen gagasan berceramah atau tidak. Tapi kata teman-teman sekelasku, tidak."
Mereka pun tertawa bersama. Padahal, Rin dan Gumi tidak terlalu akrab. Rin itu akrab dengan Miku, sedangkan Gumi akrab dengan Luka.
Gumi pun membuka loker sepatunya. Dia ingin mengambil sepasang sepatunya dan segera pulang setelah memasangnya.
Namun Gumi menghentikan aktivitasnya—yaitu mengambil sepatunya dari loker sepatunya karena melihat Rin yang kesulitan menarik kuncinya dari lubang kunci di pintu loker milik Rin sendiri.
"Aduuh! Aku mau pulang nih! kalau enggak dikunci, bisa-bisa ada yang jahiiil!" kata Rin sambil terus menarik kuncinya.
"Sudahlah, Rin! Nanti lokernya jatuh kalau kamu terus-terusan menarik kuncinya!" kata Gumi, mengingat loker sepatu mereka adalah lemari besi yang mudah terjatuh karena ringan. Tapi, walaupun ringan, kalau lemari itu jatuh dan menimpa kita, kepala kita bisa saja bocor.
"Uuuugh! Cepat lepaaaas!" kata Rin sambilterus menarik kuncinya dengan rasa gemas.
Melihat loker yang bergoyang, Gumi pun panik.
"R-Rin! Lemarinya sudah goyang!" seru Gumi.
"Ugh! Tak apa, Gumi-nee! Lemarinya gak bakal jatuh, kok!" kata Rin sambil terus berusaha menarik kuncinya.
Gumi makin panik ketika Rin mulai menarik kunci itu dengan kuat, dan saat itu juga lemari besi itu mulai miring ke arah Rin …
.
.
.
.
"Syalala~ dududu~"
Gakupo bersenandung sambil menikmati langit sore yang indah dari atap sekolah. Dia memang suka memandang langit sore sepulang sekolah. Kadang, dia teringat wajah Luka—gadis yang dipujanya—saat melihat langit sore yang berwarna oranye. Padahal, jelas-jelas Luka itu identik dengan warna merah muda, bukan warna oranye seperti langit sore.
"KYAAAAAA!"
Tiba-tiba ada teriakan histeris yang mengganggu Gakupo yang sedang dimabuk Luka—ralat—langit sore itu. Tanpa pikir panjang, Gakupo segera turun dari atap dan mendatangi asal suara itu. Dia mendatangi asal suara itu bukan karena ingin tahu apa yang terjadi sampai-sampai ada yang berteriak seperti itu, melainkan ingin memarahi si empunya suara karena telah mengacaukan suasana sorenya yang indah. Yah, teman-teman sekelas Gakupo-bahkan tukang kebun sekolah—sudah tahu kalau Gakupo bukanlah seseorang yang berpikiran panjang.
Setibanya di tempat dimana suara tersebut terdengar sangat jelas—yaitu di deretan loker sepatu, Gakupo malah ikut-ikutan berteriak.
"WAAAAA! LUKA-CHAN! TOLONG!"
("Hatsyiii!" Luka pun bersin. "Pasti ada yang nyebut namaku, nih.")
Ternyata yang berteriak tadi adalah Gumi. Di sampingnya ada sebuah lemari besi yang jatuh, dengan darah segar yang mengalir di bawahnya. Ada sebuah tangan terjulur dari bawah lemari itu. Tangan … seorang Kagamine Rin.
"Gakupo! Tolong bantu aku mengangkat lemari ini!" kata Gumi. Namun Gakupo tetap berteriak histeris. "GAKUPO!"
Akhirnya Gakkupo connect juga. Dia pun membantu Gumi mengangkat lemari besi yang sudah terkena darah itu. walaupun ringa, tapi lemari itu bisa melukai orang juga, kan?
"Kagamine-chan?!" seru Gakupo, setelah sadar bahwa orang yang tertimpa lemari itu adalah Rin.
Mereka pun ngeri ketika melihat kondisi Rin engan jeli. Kepalanya bocor, dengan mata membelalak dan darah yang mengalir dari setiap bagian di kepalanya, terutama hidung, karena hidungnya patah.
"Rin! Gakupo, cepat panggil Teto dan Miki! Setahuku mereka belum pulang!" kata Gumi.
"Kenapa?"
"Mereka petugas UKS!"
"Tapi, kulihat mereka sudah pulang sebelum kejadian ini terjadi!"
Mereka pun bertambah panik. Untungnya beberapa detik kemudian mereka teringat akan Len, kembaran Rin. Tanpa aba-aba, Gumi pun menelpon Len.
"Moshi-moshi, ini Len, kan?!" kata Gumi setelah teleponnya.
"Iya, Gumi-san. Oh iya, Rin mana? Tadi, katanya dia piket! Tapi kok sampai sekarang dia belum pulang?"
"Itu masalahnya, Len! Kamu harus cepat ke sekolah!"
"Buat apa?"
"Cepatlah! Ini gawat!"
"Baik, aku berangkat sekarang."
Telepon pun diputus.
Mereka berdua makin cemas karena setengah jam berlalu namun Len belum juga sampai. Mereka berdua lupa kalau rumah keluarga Kagamine itu lumayan jauh dari sekolah mereka. Mereka pun berinisiatif untuk memanggil ambulans saja.
Sekarang, Rin berada di penghujung hidupnya akibat mengeluarkan banyak darah. Apakah semua ini karena permainan itu? Akankah Rin tertolong? Atau …
.
.
.
.
To be continued …
.
.
.
.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Hello again, my lovely readers~~~! Ups, hanami-nyan jadi alay nih. Ehm … Kalau menurut readers, chapter ini ratingnya T atau M? Soalnya kan ada bagian bloody, dimana detail para korban itu , readers siap-siap aja. Terus, tetap budidayakan RnR, ya. Plis. Saya mau dikasih saran supaya saya enggak salah pilih rating. Arigatou, dan sampai jumpa di chapter selanjutnya~~
