Author : Itami Shinjiru

Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto. Sedikit bumbu "Parody" dari Eragon dan How to Train Your Dragon.

Note : Semua nama naga, peralatan, atau kemampuan dan seluruhnya yang tidak terkait dengan Naruto merupakan hasil pemikiran Author dan TIDAK terkait dengan fanfiction manapun, semirip apapun judul atau plotnya.

Warning : Alternate Universe, Out Of Characters, Typo

Pair : ? ? ?

Genre : Fantasy, Adventure, Friendship, (*Romance*)


Author's Note :

Jumpa lagi di chapter 5, readers !

Ok, saya kembali harus mengucapkan bahwa saya sebagai author sangat berterimakasih atas semua review yang masuk, yang semuanya sudah saya terima.

Maaf kalau agak lama, tapi chapter 5 akhirnya update, chapter yang akan menjawab beberapa pertanyaan yang masih menggantung di chapter-chapter selanjutnya. Sekaligus...awal dari pair. Yaps, di chapter ini saya akan tampilkan seorang kunoichi (ups, Dracovetth perempuan maksudnya) yang akan jadi pair pertama Naruto. Pertama lho, jadi ada yang kedua (Disini Narutonya beruntung banget sih -_- ).

Dan terimakasih banyak kepada readers yang mem-vote naga yang harus saya masukkan ! Karena ternyata banyak yang mengusulkan saya juga memakai naga-naga dari berbagai mitologi di dunia. Eits, tapi naga-naga OC saya tetap ada lho ! Cuma saya kurangi jumlahnya, karena memang, salah satu naga OC saya-lah yang akan menjadi naga pertama Naruto.

Soal Madara...aye ! Memang disini yang muncul langsung Madara asli.

(Madara: "Kayaknya ada yang ngomongin ane deh")

(Author: "Berisik lo, nti juga lo kebagian dialog, dah sana pergi")

Selamat membaca dan semoga kualitas chapter ini nggak beda jauh dari chapter sebelumnya.

Enjoy read chap 5 !


PARADOX

Chapter Lima :

Beautiful Knight

Fugaku's Residence

"Hebat. Awalnya aku hanya remaja biasa yang hanya tahu soal kail dan pancing, kemudian beralih ke Dracovetth penyelamat dunia, dan sekarang aku harus menghadapi seseorang yang akan memburuku kemanapun aku pergi" kataku. Dari kalimat itu saja aku sudah bisa menerka apa yang mereka pikirkan. Aku gila ? Ya, mereka mungkin berpikir begitu. Tapi ayolah, logislah sedikit. Hidupku jadi luar biasa hebatnya begini dalam waktu kurang dari seminggu ? Apa yang akan kalian lakukan jika kalian mengalami hal seperti ini ?

"Naruto-kun" panggil Itachi dari kursi seberang. Aku menoleh malas.

"Kami tahu kau tidak siap. Bukan hanya kau, dari Shodaime Hokage sampai ayahmu saja, maaf saja, mereka tidak ada yang siap" jelas Itachi. Mungkin hanya berusaha membuatku tenang saja.

Aku tertunduk. Teh yang disajikan di meja kami sejak sepuluh menit lalu itu samasekali tidak kusentuh. Kakashi memegang bahuku.

"Kau bicara begitu seolah-olah kau menganggap kami tidak ada" sindirnya. "Ayo, Naruto-kun. Kau tidak sendirian. Ada kami disini. Kami akan lakukan apapun agar perjalanan ini lebih mirip wisata atau permainan petak umpet raksasa daripada kewajiban menyelamatkan dunia" katanya sambil mengedipkan sebelah mata. Setidaknya...sensei yang satu ini pintar menghibur. Aku bisa tersenyum lagi, walau rasanya cukup tipis.

"Untuk menambah keamanan, kurasa sebagai semacam penebus kesalahan, Perkampungan Uchiha akan merelakan satu Dracovetth berbakat mereka untuk ikut serta dalam perjalanan mencari Dia bersamamu dan tim-mu, Naruto-kun" Fugaku akhirnya bicara.

"Itachi, kaulah yang akan ikut" tunjuknya setelah berpikir beberapa detik.

Itachi menggeleng. "Suatu kehormatan yang besar bisa melakukan perjalanan bersama kalian semua" katanya pada kami. "Tapi saya rasa saya tidak bisa melakukannya. Ada banyak Gigantostoma yang masih berkeliaran di hutan dekat sini. Mereka bisa menjebol dinding dengan mudah jika mereka mau. Jika itu terjadi, aku ragu jutsu elemen api Uchiha bisa menghentikannya" katanya memberi alasan.

"Ayolah Itachi, kau Dracovetth muda yang sangat berbakat" bujuk Jiraya.

"Yaahh, apa yang kau katakan sebenarnya masuk akal sih. Kakashi-san, Jiraya-sama, Naruto-kun, biasanya kalau ada naga diatas 20 meter panjangnya menyerbu desa, Itachi-lah yang selalu menghentikannya dengan Amaterasu, api hitam yang tidak bisa padam kecuali penggunanya menghendakinya padam. Ia bisa melakukan hal itu berkat Mangekyo Sharingan-nya" jelas Fugaku sambil bersedekap.

"Jika Itachi mempunyai Mangekyo Sharingan, itu berarti dia bisa menafsirkan Tablet Batu kan, walau tidak semuanya ?" Tabrakku. Fugaku mengangguk.

"Tapi itu percuma. Madara telah menafsirkan lebih banyak dan dia mengetahui apa yang tidak kita ketahui" desahnya kecewa.

"Tapi...bukankah Madara berasal dari masa lalu, Fugaku-sama ? Rasanya agak mustahil dia bisa hidup di zaman yang terpaut satu abad dari masa kejayaannya. Bahkan Senju Hashirama yang dikenal sebagai salah satu Dracovetth terhebat dan terkuat sepanjang sejarah dunia naga saja tidak hidup selama itu" Kakashi beragrumentasi.

Fugaku mengangguk. "Entah bagaimana caranya, tapi rumor yang beredar mengatakan dia kembali. Bisa jadi ada bagian rahasia untuk memperpanjang usia di Tablet Batu Uchiha yang belum bisa kami baca" terangnya.

"Cukup dengan semua pembicaraan ini" kata Sasuke tiba-tiba. Semua perhatian tertuju ke arahnya, termasuk aku.

"Aku yang akan ikut dengan tim Naruto".

"APA ?" Seru Fugaku terkejut. "Aku lebih condong untuk menyuruh Uchiha lain seperti Shisui daripada kau" sambungnya.

"Tidak perlu, Tou-san. Alasan pertama, aku dan Naruto sudah mengenal satu sama lain. Melalui pertarungan dadakan tadi sore, kami sudah mengetahui kemampuan kami masing-masing. Dan lagi, kurasa aku perlu mengajari Naruto Ninjutsu dan mungkin, Genjutsu, kalau itu memang tipenya. Selama 16 tahun aku hidup terkurung dalam dinding dan Perkampungan Uchiha ini seperti hewan ternak. Aku bosan. Kurasa sekarang saatnya aku melihat dunia bersama mereka, melepaskan diri dari rutinitasku dan melangkah ke dunia yang belum pernah kurasakan bersama orang-orang yang baru pula. Bagaimana, Tou-san ?" Sasuke berbicara panjang lebar ke ayahnya.

Skakmat. Kurasa ayahnya akan menyerah dan kami 'terpaksa' menambah satu anggota lagi. Walau kedengarannya bagus sih.

Fugaku menghela nafas lalu memijit-mijit dahinya. Ia mengisyaratkan Sasuke untuk mendekat dan mereka bertiga berunding dengan bisikan. Seperti perencanaan strategi mendadak di tengah permainan olahraga atau semacam itulah. Kami bertiga hanya bisa menunggu semoga mereka menghasilkan keputusan yang terbaik.

"Apa boleh buat" kata Fugaku kemudian. Benar kan.

"Kau yakin bisa jaga diri, Sasuke ?" Selidik Itachi. "Kalau kau sampai berlagak hanya karena kau Uchiha, setelah Naruto menemukan Draco P akan kuhukum kau dengan mencium kaki naga itu dua kali kanan-kiri" ledeknya lagi. Aku tertawa geli membayangkan sosok Uchiha Sasuke membungkuk-bungkuk bahkan mungkin bersujud di hadapan seekor naga sambil mencium kakinya.

"Kau bukan kakak yang baik. Itachi-nii" sungut Sasuke pura-pura kesal. Kakaknya terkekeh sambil mengacak-acak rambut raven pantat ayam adiknya.

"Makan malam sudah siap. Kalian akan berada disini malam ini, besok pagi kita berangkat" Sasuke langsung mengomando.

Kami mengangguk dan segera menuju ruang makan. Samar-samar kudengar percakapan patah-patah Sasuke dengan kakaknya.

"Jangan gunakan kekuatan itu kecuali sangat terdesak".

"Aku bisa menjaga diri, tenang sajalah".

.

Aku tidak sempat bertanya karena Kakashi-sensei menyuruhku cepat-cepat...


Gedung Konferensi Kumogakure

"Droconos ?" Ulang Onoki.

"Aku tidak pernah mendengar nama itu" sambung Mei.

"Kalian benar-benar naif" sindir Madara. Raikage mulai mengeluarkan petirnya lagi.

"Kalian seharusnya tahu, di dunia ini terdapat delapan naga dewa yang disebut Etatheon. Mereka adalah Paradox, Ortodox, Hermes, Beleriphon, Parthenon, Styx, Pyrus, dan Droconos..." jelas Madara pongah.

"Takdir berkehendak lain, walau kedelapan naga itu ada untuk keseimbangan dunia, tiga diantaranya berkhianat. Mereka adalah Ortodox, Styx, dan Droconos. Dari ketiga tersebut, hanya Styx yang sering menampakkan diri ke dunia. Ia membangun bala tentara naga dimana beberapa naga kuat legendaris juga tergabung bersamanya, sebut saja Wyvern di Bumi Utara, Sphinx di Bumi Barat, Ogopogo di Bumi Timur, Hydra di Bumi Selatan, dan Amsesthyst di Bumi Tengah" jelas Madara lagi. Tidak diragukan ia berhasil menyingkap 66,66 persen dari isi Tablet Batu. Kelima Kage beserta pengawal mereka masing-masing hanya bisa menatap Madara antara benci dan takjub.

Yeah, pengetahuan memang lebih membuatmu disegani dibanding kekuatan. Dan Madara punya keduanya.

"Jadi...tujuanmu membangkitkan Droconos adalah...?" Tsunade mereka-reka. Madara tersenyum sinis.

"Tidak kusangka kalian baru tahu sekarang" ejeknya. "Tapi akan kujelaskan. Setelah Droconos bangkit, aku akan bersekutu dengan dua naga dewa lain berikut pengikut mereka yang lain, memusnahkan, atau jika lebih baik, menyerap semua kekuatan dari lima naga dewa yang tersisa, membangkitkan Rinnegan, dan menjadi Dewa Perdamaian dunia. Aku akan mengatur dunia yang kacau balau ini ke jalan yang benar, sebuah dunia tanpa perang dan perselisihan" jelas Madara dengan suara penuh keyakinan.

"Hmph, tidak akan jadi begitu jika kau yang membuatnya" ejek Raikage sinis.

"Jadi apa yang ada di dunia semacam itu ? Rencanamu ini kedengarannya belum selesai dan kekanak-kanakan" dukung Mei.

"Menyatukan dunia ya ? Menurutku, alih-alih menyatukan, itu lebih terdengar kau ingin menciptakan duniamu sendiri" lanjut Onoki.

"Ada tidaknya harapan, itu hanya jawaban spekulasi untuk melarikan diri dari kenyataan" cetus Gaara.

Tsunade terdiam sesaat. "Empat Kage menolak mentah-mentah. Aku tidak akan jadi Hokage jika aku tidak menolak juga" dukungnya kemudian. "Maaf kami tidak bisa menerima idemu, Uchiha Madara. Kami lebih suka mencari dan mendapatkan perdamaian dengan cara kami sendiri" imbuhnya.

Madara tertawa kecil meremehkan. Ia memejamkan mata sesaat. Begitu membukanya, Kelima Kage bisa melihat corak di matanya yang telah menjadi Mangekyo Sharingan Abadi.

"Semua telah dibicarakan, namun apa yang kalian capai ?" Sindirnya. Mata merahnya menyala.

"Biar kuberitahu..."

.

.

.

"...TIDAK ADA YANG NAMANYA PERDAMAIAN..."

"Karena perdamaian itu hanya kata lain dari MENYERAH ! Itu...hanya sinonim saja..."

"Dasar sombong ! Biar aku buktikan siapa yang akan benar ! Uchiha Madara, kau akan berakhir disini oleh Lima Kage !" Seru Raikage berang lantas bersiap menyerang.

BZZZZZTTT... Kini kedua lengannya dilapisi bor petir yang menyambar-nyambar. Gaara bersiap dengan pasir pembunuhnya. Mei melakukan handseal. Onoki bersiap dengan elemen tanahnya dan Tsunade mengambil ancang-ancang.

"Semua, serang. Jangan ragu. Dia jelas kalah jumlah" geram Tsunade. Yamato, Temari, Ao, Samui, dan Kurotsuchi akhirnya bersiap juga.

"HIIIAAAA ! ! ! !" Raikage langsung melesat menyerang. Erlik milik Madara tidak tinggal diam, ia menghalangi tubuh penunggangnya dengan tubuh besarnya sementara ekornya bersiap menebas manusia bertubuh kekar dengan kulit coklat kental itu.

.

BUAGH

Erlik meraung keras. Perutnya ditabrak oleh dua tangan berotot Raikage, yang langsung melemparnya keluar gedung.

"Yondaime Raikage memang sangat kuat" puji Yamato.

"Fokus ke Madara, SERANG ! !" Seru Onoki.

.

.

Ledakan besar terlihat dari kejauhan. Gedung konferensi bagai diserang Bakuton raksasa. Gemuruh ledakan dan angin hembusan tersebar kemana-mana, menandakan serangan dahsyat dari para Kage telah mengenai target. Gedung itu hancur seketika, hingga tinggal beberapa bagian saja yang masih berdiri.

Madara tersenyum meremehkan. "Aku memang kalah jumlah" desisnya.

"Tapi kalian jelas kalah tanding" sesumbarnya. "Perlu kuakui, serangan kalian lumayan hebat. Tapi apa gunanya kalau melawan ini ?"

Aura biru itu. Telah membentuk sosok raksasa setinggi tiga setengah meter dengan sepasang pedang bergelombang. Sosok yang melindungi pemiliknya dari serangan dahsyat para Kage.

"須佐能乎 !"

Susano'o

Sosok raksasa dengan gigi taring yang menyembul itu mengibaskan kedua pedangnya, membuat efek angin yang sangat kuat sehingga semua orang yang ada di dekatnya terpental beberapa meter membentur sisa-sisa bangunan yang masih ada.

"Cih, itu Susano'o..." desis Onoki. Melihat Raikage tetap keras kepala dan sedang menyiapkan serangan selanjutnya, ia berseru. "Tidak perlu, Raikage. Chakra-mu hanya akan terbuang percuma ! Susano'o tidak bisa ditembus serangan apapun !"

"ELBOW !" Mendadak Raikage sudah melesat ke bagian belakang, serangannya mengarah ke punggung Madara.

BLAAAARRRR ! ! !

"Tch...tidak berhasil..." desis Raikage lalu mundur.

"Sudah kubilang, dasar keras kepala" balas Onoki.

"Kau sendiri keras kepala juga melebihi aku" kilah Raikage.

"Oi, oi, oi. Apa begini sikap para Kage, hmmm ? Dengan begini kalian tidak akan bisa menang dariku. Lagipula aku tidak mau buang-buang waktu, ada sesuatu yang harus kupersiapkan. Kalaupun aku bertarung melawan kalian disini sekarang pasti tidak akan seru karena akan ada banyak serangga yang mengganggu nantinya" potong Madara setengah menyindir. "Kuberi kalian dua pilihan".

.

"Menyerahkan pemuda Uzumaki itu padaku...dengan konsekuensi kalian akan menghormati sepenuh hati padaku..."

"...atau memilih bertahan dengan ideologi kekanak-kanakan kalian...dengan konsekuensi akan ada perang..." Ancam Madara dengan tatapan horor.

Kelima Kage bungkam. Ini bagai makan buah simalakama. Dilema yang besar antara memilih kehancuran dunia atau dipimpin seorang tirani.

"Kami akan melindungi Naruto" jawab Tsunade tiba-tiba. Keempat Kage lainnya beralih padanya.

"Kau serius, hime ?!" Seru Onoki. Tsunade mengangguk tegas.

"Tidak akan kubiarkan orang jahat sepertimu menguasai dunia !" Serunya tiba-tiba seperti kesetanan.

"Jika demikian" sambung Raikage. "Akupun takkan menyerahkan dunia padamu" lanjutnya.

"Aku setuju dengan mereka" imbuh Mei.

"Begitu pula denganku" sambung Gaara.

"Hmph, jika ini berdasarkan suara terbanyak, aku ikut mayoritas saja" ujar Onoki akhirnya.

Madara tersenyum sinis. "Baiklah jika itu yang kalian mau" jawabnya dingin. "Aku sendiri tidak punya banyak kekuatan..."

"...tapi aku punya kekuatan dari tiga naga dewa dan lima prajurit mereka yang terkuat. Kalian takkan punya kesempatan menang" intimidasinya.

"Kami tidak akan menyerah" timpal Mei.

.

"Jika kalian memang bersikeras tidak mau menyerahkan pengendara Draco P, biar kucari sendiri. Aku pergi" katanya singkat. Susano'o-nya menghilang, lalu dalam sekejap giliran tubuh Madara yang menghilang dibalik asap putih. Erlik pun terbang dengan kecepatan penuh menjauh dari Kumogakure.

.

.

"Sialan Madara" gerutu Tsunade. "Kita harus menyiapkan sesuatu. Kelima Negara Besar harus bersatu untuk menghadapi Madara. Sekarang ini seluruh kepentingan pribadi tiap desa harus dikesampingkan. Madara adalah ancaman serius yang membayangi Naruto, tidak, kita semua !" Serunya sambil mengepalkan tangan.

"Aku kagum pada Hokage yang selalu berpikir cepat dan tanggap" puji Mei. "Tapi apa yang akan kita lakukan ? Pengetahuan Madara tentang seluk-beluk dunia ini malah lebih luas dari kita" lanjutnya khawatir.

"Madara baru menunjukkan sebagian kecil kekuatannya. Kita tidak tahu sekuat apa dia setelah lebih dari 80 tahun 'menghilang' dari dunia. Pastinya dia lebih kuat dibanding saat aku melawannya ketika masih muda bersama Muu-sama dulu" cerita Onoki.

"Sekarang ini yang bisa kita lakukan adalah menjamin perlindungan bagi Naruto di negara kita masing-masing. Kurasa tidak lama lagi dia akan sampai di Kaze no Kuni" cetus Gaara. "Ngomong-ngomong, adakah diantara kalian yang memiliki informasi tentang keberadaan 'Dia' ? Sesedikit atau sekecil apapun itu akan sangat bermanfaat" lanjutnya.

"Wow, apa maksudmu, Kazekage ?" Tabrak Onoki.

"Begini, Tuan Tsuchikage" Gaara bersiap menjelaskan. "Jika kita tahu dimana Dia sebenarnya, kita hanya perlu mencarinya dalam lingkup yang jauh lebih sempit dan sederhana. Itu akan memberikan persentase keberhasilan yang lebih besar, dengan menemukan Dia, kita bisa memberitahunya bahwa pengendaranya telah datang, dan kita bisa menggiring Naruto dan kawan-kawannya ke tempat dimana Draco P berada. Begitu mereka bertemu, kita takkan terkalahkan" jelas Gaara yakin.

"Bagaimana kau bisa seyakin itu ?" Tentang Onoki. "Kita tidak tahu karakter Draco P seperti apa. Apa dia keras kepala, lemah lembut. Apa dia berkepala dingin atau keras hati. Mungkin saja Madara telah mengetahui karakternya lebih awal dan lebih rinci sehingga dengan beraninya menerapkan strategi begini tanpa pikir panjang".

"Aku tidak setuju" tabrak Raikage.

"Paradox dan Ortodox sama-sama misterius. Bahkan aku ragu Ortodox, yang juga berhati gelap, mau mengikuti rencana Madara dengan menjadikannya semacam Rikudo Sennin kedua. Aku ragu ! Sesama orang jahat sama halnya dengan sesama kutub magnet. Saling menolak. Walau awalnya mereka tampak kompak, pasti ada celah yang bisa meruntuhkan kerjasama mereka" Raikage menjelaskan idenya. "Madara juga mengambil resiko tiga naga dewa dan pengikutnya yang belum tentu sependapat dengannya. Jika tidak, mengapa dia datang untuk bernegoisasi ? Terlalu sulit bagi Madara, di negara lemah, untuk mendapatkan Naruto. Karena itu ia berharap bisa menangkapnya saat perang" tambahnya.

"Tapi apa yang terjadi jika tiga naga dewa itu benar-benar di pihaknya ? Kita akan hancur, Raikage. Bahkan aku tidak tahu apakah Paradox benar-benar sangat kuat untuk menghadapi tiga naga sejenisnya sekaligus, terlebih salah satunya adalah saudaranya sendiri" Onoki tetap menentang pendapat.

"Kau lupakan satu hal" desis Tsunade tiba-tiba.

"Apa ?"

"Masih ada Hermes, Pyrus, Beleriphon, dan Parthenon. Masih banyak naga lain yang turut membela kebenaran dan menentang penindasan. Semua naga dewa benar-benar kuat, itu yang kita ketahui. Yang harus kita lakukan adalah menemukan mereka dan memperingatkan ancaman dari Madara dan menyusun serangan balik. Bagaimanapun caranya, kita harus memenangkan peperangan ini atau DUNIA AKAN BERAKHIR" jelas Tsunade dengan penekanan penuh pada tiga kata terakhir.


Panekuk bertabur keju dengan sirup coklat dan hiasan daun mint di atasnya kutatap dengan malas. Kulirik sebelah, tampak minuman soda dengan krim yang masih dingin. Chouji seperti orang yang berlomba makan. Dengan beraninya ia minta dua porsi panekuk setelah menghabiskan yang pertama, dasar tukang makan. Walhasil, Shikamaru dan Kakashi-sensei pun bolak-balik meminta maaf baik pada pelayan rumah ini maupun pada dua bersaudara Uchiha dan ibu mereka, yang sekarang duduk di meja makan yang sama untuk sarapan terakhir Uchiha Sasuke di rumahnya. Ehm, kedengaran sedikit menyeramkan.

"Makan, Naruto" Hinata yang duduk di sebelahku menyikutku. Aku menatapnya malas.

"Panekuk ini enak lho. Sekali-sekali kita tidak perlu makan sarden atau ramen terus. Anggap saja ini liburan" katanya lagi. Tapi aku tidak berminat.

"Aku tidak suka panekuk" kilahku malas.

"Kau ini. Mana ada panekuk rasa ramen atau sarden ?"

Aku meletakkan garpu dan pisauku diatas meja dan hanya meminum minuman soda krim itu. Itupun hanya setengah gelas.

"Makan atau kuterawang perutmu" ancam Hinata.

"Seperti kau berani melakukannya saja" ledekku.

Untunglah pembicaraan Itachi dan Sasuke menarik perhatianku. Walhasil akhirnya aku makan juga.

"Naruto, Jiraya-sama, kalian tak keberatan kan bila aku naik Bryptops bersama kalian ?" Tanya Sasuke padaku dan Jiraya.

Aku nyaris memuntahkan panekuk yang kumakan. Dia mau menumpang, YANG BENAR SAJA ? Sungguh tidak etis bagi seorang putra bungsu keluarga terhormat kepala desa Uchiha !

"Haha, boleh-boleh saja, tidak masalah. Benar kan, Naruto ? Daripada Sasuke repot-repot mencari tunggangan lain" sambut Jiraya. Ia sepertinya tak keberatan. Tapi aku keberatan. Yah, mau bagaimana lagi, akhirnya aku mengangguk. Setidaknya Bryptops memang cukup besar dan 'luas'. Jangankan tiga orang, sepuluh orang bisa muat di punggungnya.

"Pastikan kau tidak merepotkan mereka, Sasuke" cetus Mikoto.

"Baiklah, waktu adalah uang, mari kita berangkat sekarang" ajak Sasuke begitu kami semua selesai makan. Aku memutar bola mata malas. Ah, Sasuke, awas kalau kau sampai jadi parasit di grup kami ya !

"Jaga baik-baik dirimu, Sasuke. Dan yang terpenting, jaga kesopananmu. Banyak orang terkenal ikut dalam perjalanan ini termasuk penunggang Draco P itu sendiri. Termasuk, kau-tahu-apa. Jangan gunakan itu kecuali terdesak, oke ?" Itachi kembali menasihati.

"Aniki cerewet seperti biasanya" Sasuke malah menanggapi dengan malas-malasan. Ia menggendong ranselnya lalu menyusul kami. Bertambahlah satu anggota perjalananku.

Sikap Sasuke pada Itachi plus relasi mereka berdua turut dengan ayah mereka, Uchiha Fugaku dan ibu mereka Uchiha Mikoto. Ah, diam-diam aku ingin seperti mereka. Punya keluarga normal, kecil tidak apalah. Aku memang tidak mungkin punya kakak, tapi jika ayah dan ibuku masih hidup, mungkin aku bisa punya adik. Keluarga kecil yang hangat dan menyenangkan.

Tapi itu tidak akan pernah terjadi.

Kecuali...aku membangun keluargaku sendiri.

Ah, kutepis pikiran itu jauh-jauh. Aku sedang dalam semacam misi. Misi yang menentukan kemana ujung dunia ini.


Senja akhirnya tiba dengan cepat. Kami mendarat di sebuah hutan kecil. Hanya sepuluh kilometer dari sebuah padang pasir terdekat, paling Barat dari Hi no Kuni. Hanya sepuluh kilometer lagi –alias besok, kami akan meninggalkan Hi no Kuni dan beralih mengembara di Kaze no Kuni yang terkenal akan iklimnya yang paling panas diantara Lima Negara Besar.

Sore ini Kakashi-sensei yang melatihku. Karena aku sudah menguasai Taijutsu dan Kenjutsu dengan baik di latihan-latihan sebelumnya, dia berkata akan mengajariku Ninjutsu, yang langsung membuatku bersorak kegirangan. Sebentar lagi aku akan punya cukup kekuatan untuk menantang Sasuke.

"Tahap pertama dari latihan Ninjutsu adalah kau harus mengetahui jenis elemen chakra-mu, Naruto-kun. Ada lima elemen dasar dalam Ninjutsu, yaitu Suiton atau air, Doton atau tanah, Katon atau api, Raiton atau petir, dan Fuuton atau angin. Nah, pegang ini" kata Kakashi sambil memberikanku sebuah kertas berwarna coklat muda.

"Ini kertas indikator khusus yang dapat bereaksi jika kau mengeluarkan chakra. Jika kertas ini basah berarti elemenmu air. Jika hancur berarti tanah, jika terbakar berarti api. Jika kusut berarti petir, dan jika terbelah, berarti angin. Perhatikan ini" Kakashi memposisikan kertas itu dengan menyelipkannya diantara jari telunjuk dan jari tengahnya. Beberapa detik kemudian, kertas itu menjadi kusut. Aku terkejut.

"Jadi elemenmu petir, Kakashi-sensei ?" Selidikku mulai paham. Dia mengangguk.

"Lakukan seperti yang kulakukan" instruksinya.

Aku mengangguk. Lantas memosisikan kertas itu sama seperti yang dilakukan guru berambut perak ini dan berkonsentrasi mengalirkan segenap chakra ke kedua jariku.

SREK

Kertas itu terbelah.

"Angin" simpul Kakashi-sensei. "Sepertinya perlu kujelaskan padamu sekarang, Naruto-kun. Tentang keterkaitan antara lima elemen, masing-masing memiliki serangan kritis pada elemen lain sekaligus kelemahan. Air lemah terhadap tanah. Tanah lemah terhadap petir. Petir lemah terhadap angin, dan angin lemah terhadap api. Begitu pula, api lemah terhadap air, sehingga siklus keterkaitan lima elemen ini lengkap" jelasnya.

"Jadi jangan sembarangan melawan pengguna elemen api" lanjutnya. Aku meringis malas teringat jutsu pertama yang digunakan Sasuke padaku adalah api. Waduh, bahkan sebagian besar naga menyemburkan api ! Kenapa tidak ada elemen air yang dahsyat untukku ?

"Umm, sensei" tanyaku. Dia menoleh.

"Apa hanya lima elemen yang bisa dikuasai seorang Dracovetth ?" Selidikku penasaran.

"Tidak" jawabnya singkat. Mataku melebar.

"Tingkatan khusus diatas elemen dasar disebut Kekkei Genkai. Jutsu elemen pertalian darah" jelas Kakashi-sensei singkat.

"Pertalian darah ? Kedengaran seram" tanggapku. Dia mengangguk.

"Tidak terlalu. Maksud dari pertalian darah adalah jutsu ini merupakan teknik yang terkait dengan faktor genetik. Seperti misalnya, seorang laki-laki mempunyai Kekkei Genkai, maka dia bisa saja menurunkan kemampuan itu pada anak, cucu, atau cicitnya" jelas Kakashi. "Kekkei Genkai dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mencampurkan dua unsur elemen dasar yang berbeda untuk menghasilkan elemen baru" sambungnya. "Yang termasuk dalam Kekkei Genkai adalah Mokuton, elemen kayu, yang hanya bisa digunakan Shodaime Hokage Senju Hashirama dan Kapten Yamato. Selain itu ada Hyoton atau elemen es, Shooton atau elemen kristal, Youton atau elemen lava dan Futton atau elemen uap, yang keduanya dimiliki Godaime Mizukage, Ranton atau elemen badai, Shakuton atau elemen panas, Jiton atau Kooton yang mengendalikan besi, Bakuton atau elemen peledak, dan Meiton, elemen kegelapan" jelas Kakashi-sensei panjang lebar.

"Oke, cukup penjelasanku. Sekarang mari kita berlatih".


Uchiha Temple

"Mereka meremehkanmu, Styx" sebuah suara dingin dari pria Uchiha berambut panjang sepinggang terdengar sedikit menggema di ruangan berukuran sedang itu.

"Hmph, tunggu sampai aku muncul dan mengutuk semua hidung mereka jadi sedatar danau" balas suara lain dari kegelapan. Dimana pemiliknya bahkan belum menunjukkan batang hidungnya.

"Apa kau sudah tahu dimana pengendara Draco P itu, Madara ?" Tanya suara itu lagi.

"Sopanlah sedikit. Aku yang membebaskanmu dari segel kan" kata Madara mengintimidasi.

"Hahaha, tidak berubah juga kau. Jika bukan karena aku, sekarang kau sudah jadi mayat yang melebur di dalam kubur, Uchiha sialan. Tapi baiklah, Madara-sama. Apa Anda sudah menemukan dimana dia ?" Suara itu melunak sedikit setelah menyepelekan orang di dekatnya.

"Belum. Sebentar lagi, kurasa. Pertunjukan harus tetap berjalan. Cepat atau lambat kita akan menemukan mangsa kita" balas Madara tak acuh.

"Aku akan menyuruh Sphinx untuk bersiap. Aku yakin mereka akan melewati Sunagakure beberapa hari setelah ini. Aku harus memerintahkannya untuk menjaga perbatasan Tsuchi no Kuni dengan pertanyaan yang membingungkan yang tidak bisa dijawab manusia manapun" kata suara itu. "Hmm, jika memperhitungkan rute mereka, kelompok akan pergi ke Utara. Jika saja mereka berhasil melewati Sphinx, mereka akan bertemu Wyvern. Kemudian jika ke Timur, mereka akan menemui Ogopogo. Aku ragu mereka bisa hidup sampai selama itu kecuali mereka menemukan Dia duluan" sambungnya.

"Tidak perlu terlalu terburu-buru. Kalau kau mau Sphinx menyiapkan teka-teki sulit, silakan saja. Dia mungkin akan mati dibabat kelompok Draco P jika mereka suka kekerasan. Lagipula aku ingin merasakan sendiri bertarung melawan penunggang Draco P. Sekarang kabarnya dia masih terlalu lemah. Aku bersedia menunggu sampai dia cukup kuat untuk bertahan barang hanya setengah jam untuk bisa bertarung denganku" kata Madara santai.

Pemilik suara itu mengangguk, lantas berderap keluar dengan keempat kakinya yang kurus mengerikan dan membentangkan sayapnya lalu terbang cepat ke Barat. Terbang ? Ya.

Dia seekor naga.

"Madara-sama, Anda yakin dia bisa dipercaya ?" Selidik sebuah suara lain, yang mendadak terdengar di ruangan itu.

Madara mengangguk pelan. "Kami punya tujuan yang sama" jelasnya singkat.

"Baiklah, aku mengerti. Tapi jangan pernah lengah, Madara-sama. Naga tetap naga, manusia tetap manusia. Pula, naga itu bukan sembarang naga. Dia adalah Styx, salah satu naga Dewa-Iblis alias pengkhianat Etatheon. Tanduk tunggal di hidungnya dapat menyegel siapapun yang dikehendaki sekaligus mematikan satu atau beberapa pancaindera korban sekaligus. Tidak heran dia disebut Naga Pengutuk, kan ?" Jelas suara itu panjang lebar.

"Dia setia pada Ortodox. Itu yang kuketahui. Kita bisa memanfaatkan sifatnya itu untuk membangkitkannya" tambah Madara.

"Baiklah, terserah Anda, Madara-sama. Saya hanya menyarankan" suara itu merendah.

"Zetsu...mata-matai dia sampai di Sunagakure. Setelah kau yakin dia tidak melenceng dari rencana kita, kembalilah. Dalam waktu bersamaan, suruh klon-mu pergi ke hutan paling Barat Hi no Kuni" titah Madara pada manusia berambut hijau dengan tubuh setengah hitam setengah putih itu.

"Baik, Madara-sama".


TRAK

Pedangku –ralat, pedang Jiraya-sensei, memotong cabang-cabang pohon rendah dengan pasti. Begitu jatuh, mereka kukumpulkan dan kuikat. Bahan untuk api unggun kami malam ini.

Sebenarnya Jiraya-sensei melarangku untuk ikut mencari kayu bakar sore-sore begini, tapi aku bersikeras. Toh aku sudah menguasai beberapa Ninjutsu dengan cukup baik, menurut Kakashi-sensei. Yah, itu menurutnya. Menurut Jiraya, aku bahkan belum bisa disebut Dracovetth kelas D.

(Dracovetth di fic ini digambarkan setara dengan shinobi di anime aslinya. Ada kelas-kelas kemampuan Dracovetth yang berkisar dari Dracovetth kelas E sampai kelas S, dan ini diukur berdasarkan keahliannya mengendarai naga sekaligus keahliannya mempertahankan diri sendiri dengan menguasai Taijutsu, Ninjutsu, dan Genjutsu serta Kenjutsu).

Sebuah kepulan asap menarik perhatianku. Aku berjalan pelan ke arah itu.

Dan...aku menemukan kobaran kecil api berwarna hijau pekat. Api... berwarna hijau ?! Aku memutar memori. Aku pernah melihat api ini. Tentu ! Di hutan boreal, saat menghindar dari serangan Gigantostoma. Naga raksasa itu juga menyemburkan api berwarna hijau ! Kakiku mulai gemetar. Jangan-jangan ada salah satu dari mereka yang berada di dekatku sekarang ?

Aku meneguk ludah. Kayu bakarku baru setengah dari cukup. Aku mengamati api itu. Jauh lebih kecil daripada api Gigantostoma tempo hari. Dan lebih pekat. Aku mulai ragu ini api dari naga itu begitu aku mencium bau yang mirip telur busuk dari tempat itu.

Raungan terdengar. Tapi aku segera sadar kalau raungan itu berasal dari naga yang tidak terlalu besar. Tapi apa ini ? Tiga raungan bersahut-sahutan, itu berarti jumlah mereka lebih dari satu.

Baru kusadari, cabang-cabang dan batang pohon di sekitar situ sudah penuh dengan goresan. Sepertinya pertarungan baru saja terjadi. Karena penasaran, kuikuti jejak kerusakan kecil-kecilan itu. Makin ke dalam hutan, makin banyak yang terlihat. Api hijau itu makin sering, begitu pula goresan. Sebuah pohon kecil bahkan sampai tumbang.

Bekas gigitan terdapat di salah satu pohon. Dua di yang lain. Melihat bekas-bekas itu, aku semakin yakin jumlah naga itu sepertinya lebih dari satu dan tidak terlalu besar.

Aku mendengar sekali lagi raungan, sepertinya dibawah tebing. Ditambah semburan api hijau pekat, membuatku makin yakin sedang ada pertarungan disana. Kalau itu pertarungan antarnaga, aku memilih pergi daripada dituduh 'setor nyawa'. Tapi kalau pertarungan manusia melawan naga ?

Masa bodoh, aku harus menyelamatkan dia (atau mereka) ! Toh aku yakin delapan puluh persen bahwa 'Dia' takkan membiarkan calon penunggangnya mati begitu saja.

Itu hanya delapan puluh persen.

Dua puluh sisanya ?

Aku tidak tahu !

Raungan bersahut-sahutan diiringi suara pohon yang tertebas pedang makin keras dan terasa dekat...aku segera berlari ke sumber suara menurut perkiraanku dan mengamatinya dari jauh.

Bingo.

Aku melihat, di bawah tebing setinggi sepuluh meter ini, tampak seorang perempuan kira-kira sebaya denganku, berambut pink sebahu, berkulit putih, sedang bertarung mengatasi seekor naga berukuran sedang dengan tiga kepala. Ya ampun, rasanya aku pernah melihat naga itu ! Tapi dimana, ya ? Aku mencoba mengingat-ingat. Kurasa lebih tepatnya, mengenalnya dari buku Bingo. Ya, naga itu adalah Ceberus.

Ceberus, naga ganas dengan panjang hingga lima meter dengan tiga kepala. Ekornya adalah seekor ular berbisa sebesar lengan manusia dewasa yang membawa maut bagi siapapun yang digigitnya. Ketiga kepalanya itu sulit dipenggal, masing-masing dapat menyemburkan api hijau kental walau untuk jarak pendek dan menengah, tapi rahang mereka sangat kuat dan dilengkapi air liur hijau beracun. Seluruh unsur itu, api, mulut, dan racun, mengeluarkan bau yang memuakkan macam telur busuk.

Naga paling menakutkan yang pernah kukenal, sekarang kulihat langsung ! Beruntung aku tidak melawannya. Tapi bagaimana dengan gadis di bawah sana ? Rasanya tidak mungkin dia bisa bertahan barang hanya lima menit setelah ini. Satu-satunya kabar baik mengenai Ceberus yang pernah kubaca adalah, mereka tidak punya sayap, jadi tidak bisa terbang.

BWOOMM ! Hembusan api nyaris mengenai gadis merah muda itu, yang sangat gesit berkelit dari segala serangan. Di belakang, ular berbisa itu siap memagutnya, namun ia segera mengibaskan pedangnya dan, ekor hidup beracun itu langsung terpisah dari pantat naga berkepala tiga itu. Aku menatapnya kagum. Kurasa dia bisa bertahan lebih lama daripada yang kuperkirakan.

Ah, apa yang kupikirkan ? Seseorang sedang berjuang lepas dari maut yang mengancam, yang bisa dibilang sudah berada kurang dari satu meter darinya, dan aku disini hanya diam menonton ? Apa yang akan kulakukan seandainya Ceberus itu berhasil membunuh perempuan itu lantas beralih kepadaku ? Jika aku jadi gadis itu, apakah aku akan melakukan hal yang sama, membahayakan nyawa sendiri untuk menolong orang lain ?

Ya.

Aku merogoh tas pinggang belakangku. Tiga kunai, empat kertas peledak, empat shuriken. Plus sebilah pedang di tanganku sekarang, ditambah kemampuan Taijutsu, Kenjutsu, dan Ninjutsu yang sudah lumayan. Tanpa pikir panjang aku langsung menuruni tebing. Sepatuku serasa menggeram ganas saat alasnya bergesekan cepat dengan tanah berbatu yang kasar. Untunglah tebing itu tak terlalu curam. Begitu aku sampai di tanah datar, segera kukeluarkan sebilah kunai dan membidik sasaran. Kulempar kunai itu sekuat tenaga bersamaan dengan bantuan chakra angin untuk mempercepat dan memperbesar keakuratannya.

CRAK !

Nasibku sedang baik. Kunai itu tepat mengenai mata kiri kepala paling kanan. Kepala itu meraung-raung kesakitan. Karena bantuan chakra angin, benda tajam itu menancap cukup dalam sampai menarik perhatian dua kepala yang lain. Sial, dia, maksudku, mereka, berbalik ke arahku !

Aku meneguk ludah. Ketiga mulut berbau busuk itu meraung ganas, lalu mengerahkan keempat kakinya untuk berjalan cepat ke arahku, yang sekarang hanya bisa ancang-ancang dengan sebuah pedang. Ekor Ceberus itu menjuntai makin lama makin panjang. Hingga akhirnya sebentuk kepala utuh terbentuk dari ujungnya. Ular berbisa itu tumbuh lagi !

Dia mendesis, bersiap menyerangku pertama kali sebelum...

BATS !

Gadis itu berlari cepat ke belakang Ceberus dan memotong ekornya untuk kedua kalinya, lalu menebas kaki belakang kiri naga itu. Kepala paling kiri menoleh dan menyemburkan api hijaunya, tapi dia berkelit ke bawah perut Ceberus dan muncul di sisi kanan naga itu, kemudian langsung menebas semua kaki bagian kanan sehingga membuat naga itu pincang sebelah. Kepala kanan dan tengah menyemburkan api. Dia menghindar ke belakang.

Ini kesempatanku.

Kurogoh sebuah kunai di tasku lalu secepatnya mengikatnya bersama dua kertas peledak sekaligus. Kulempar senjata itu hingga tepat mengenai hidung Ceberus di kepala paling kiri. Kedua kertas peledak yang melambai-lambai ditiup napas naga itu terpercik hingga terbakar. Aku segera menjauh. "Awas ledakan !" Seruku memperingatkan perempuan itu agar tidak mendekat.

DUUAAARRR ! ! !

Asap mengepul. Aku membuka mata. Berhasil ! Kepala kiri sekarang bentuknya sudah tidak beraturan lagi. Aku tersenyum menang. Sebelum menyadarinya, dua kepala sisanya mengamuk marah dan langsung menyemburkan api ke depanku. Aku terdiam di tempat...

BRUUUSSHHH ! ! ! Semburan air berbentuk lengan menghalangiku dari api hijau Ceberus. Aku membuka mata. Gadis itu, dia melindungiku dengan air barusan. Segera saja, ia mengarahkan kedua tangannya ke arah naga itu, membuatnya terhanyut bersama arus air yang deras, yang mendadak muncul dari sungai di dekat situ dan langsung menabrakkan Ceberus dengan keras ke sebuah tebing.

Ia menatapku.

Aku baru sadar.

Matanya hijau.

Tapi dari pandangannya, aku tahu dia tidak menghawatirkanku. Seolah hanya memastikan aku baik-baik saja, ia berpaling dan bersiap menghabisi naga yang masih tepar itu.

Aku mengamati tubuhnya...kulitnya...

Dia tidak berkeringat sedikitpun.

Caranya berjalan...gerakan tangannya...sampai tatapannya...

...Kurasa orang ini bukan perempuan biasa.

Dan lagi, ia tidak mengatakan apapun padaku ! Sungguh mengherankan. Tapi aku akan tetap disini sampai naga itu terselesaikan.

Ceberus bangkit begitu merasakan kehadiran lawannya. Ia menggeram ganas. Ekornya tumbuh kembali. Gadis itu menyiapkan handseal.

Sebentuk naga dari air mulai terlihat, bertambah tinggi dan besar sampai membentuk sosok naga air yang sempurna, kemudian menukik menyerang target. Ceberus mengelak, walau percikan mematikan naga air itu berhasil mengenai beberapa anggota tubuhnya. Begitu ia mendarat, perempuan itu sudah berada di belakangnya dan langsung menebas ekor hidup itu sebelum ia sempat melihat sasaran. Dua kepala yang tersisa menyemburkan api ke segala arah, berusaha mengenai gadis itu.

Akh, bodoh sekali memikirkan aku hanya disini menonton ! Aku segera berlari ke arah mereka dan melempar kunai dengan kertas peledak lagi. Tidak peduli kena atau tidak.

TAK

Ceberus langsung menyadari hal itu dan melompat menjauh. Gerakan yang salah karena gadis itu sudah berada di sisi yang berlawanan dan langsung menyabetkan pedangnya ke leher kepala paling kanan.

BAATTSS !

Kepala itu terpenggal ! Sekarang tinggal satu lagi ! Aku maju lalu mengeluarkan sebuah shuriken, mengalirinya dengan chakra lalu melemparnya.

"手裏剣影クローンの術 !"

Shuriken Kagebunshin no Jutsu

(Jurus Shuriken Bayangan)

JEB

JEB

JEB

Sekujur tubuh bagian kiri naga itu kini penuh dengan senjata berbentuk bintang yang menancap. Ia mengerang, mengalihkan pandangannya ke arahku lalu menyemburkan kobaran api yang mengerikan. Aku berkelit menghindar, tapi kakiku terkena. Aku mengerang kesakitan. Kaki kiriku sampai batas mata kaki terbakar !

Gadis itu melirikku dengan ekor mata. Ia kendalikan air, membentuk sebuah tangan raksasa yang menggenggam naga itu dengan erat lalu melemparkannya. Ia bergegas mendekatiku.

Aku sudah mencelupkan kaki kananku ke sungai. Tapi rasa sakitnya masih sangat terasa. Tanpa seizinku, ia melepas sepatuku dan memegang kakiku dengan kedua tangannya. Aku meringis kesakitan. Apa maksudnya ?

Chakra hijau keluar dari kedua telapak tangannya. Aku mengerti –ninjutsu medis ! Jadi selain petarung yang hebat, ia ternyata menguasai jutsu medis juga ! Lukaku perlahan mulai sembuh.

"Terimakasih" ucapku singkat. Dia hanya melirikku sekejap, lalu (mungkin) setelah dirasanya cukup, ia meninggalkanku dan kembali mengeluarkan pedangnya dari sarungnya, kembali menantang makhluk haus darah yang belum sepenuhnya mati itu. Aku berusaha bangkit, tapi rasa nyeri di kakiku tidak mengizinkanku untuk bertindak lebih jauh. Aku hanya bisa mengamatinya ketika ia menebas keras kaki belakang kiri naga itu sampai putus sepenuhnya. Satu-satunya kepala yang tersisa sekarang menyerangnya dengan membabi-buta, tapi ia selalu berhasil menghindar dan menepis serangan itu dengan elemen airnya.

Lama-lama naga buas itu kelelahan, ia menjulurkan lidahnya dan meneteskan banyak air liur busuk, membuatnya terlihat seperti anjing setan yang kelelahan. Gadis itu mendekat lantas melakukan handseal.

Sebungkus air langsung menyelimuti kepala terakhir. Membekukannya hingga mengeras, lalu dengan sekali hantaman dari kepalan tangannya yang entah mengapa sangat kuat itu, kepala terakhir itu hancur bersama dengan kepingan es yang memerangkapnya.

Kalah. Naga itu sudah kalah ! Bagus sekali, ini pertama kalinya aku mengalahkan naga (walau lebih tepatnya sepertiga dari semuanya). Aku tertunduk dan berusaha mengatur nafasku yang ngos-ngosan. Dia berkemas, memunguti beberapa peralatannya yang terjatuh dari ranselnya lalu bersiap pergi seolah tidak ada siapa-siapa disitu.

Seolah tidak ada siapa-siapa.

Tapi hanya seolah.

"Tunggu !" Seruku. Dan itu sukses membuatnya membatu.

"Hey...terimakasih" desisku ragu. Ia menoleh. Aku terdiam.

"Sama-sama" jawabnya pendek lalu bersiap melesat.

"Boleh aku tahu namamu ?" Aku melancarkan jurus terakhir sambil berusaha bangun. Sungguh tidak etis kan melihat seorang laki-laki terlihat tidak berdaya di hadapan seorang perempuan yang ternyata ksatria tangguh macam dia ?

"Sakura" jawabnya singkat.

Sakura.

Akan kuingat.

"Aku Uzumaki Naruto" balasku agak keras karena ia sudah mulai berjalan cepat. Terserah sudah mau digubris atau tidak. Yang penting aku selamat disini sekarang. Yang penting aku sudah mengetahui namanya.

Tapi tak terduga, dia menghentikan langkahnya dan berbalik.

Mata hijaunya yang jernih itu melebar. "Uzumaki Naruto dari Konohagakure ?" Selidiknya. Aku bungkam, tapi kemudian mengangguk.

"Jadi kau yang bernama Uzumaki Naruto. Aku sempat mengira akan bertemu pria yang lebih hebat daripada yang bermain-main dengan senjata kecil seperti itu" candanya. Suasana mulai mencair.

"Kau tahu aku ?" Selidikku penasaran. Ya ampun, aku bahkan tidak melihat desa di sekitar sini !

Dia mengangguk. "Draco...P...kan...?" Katanya terbata-bata. Memastikan.

Aku mengangguk pelan. Bagaimanapun juga, aku tidak tahu siapa dia sebenarnya. Dan aku telah mengumbar identitas rahasiaku yang baru diketahui sebagian kecil manusia di Bumi –sekaligus naga di planet ini, pada seorang gadis yang samasekali tidak kuketahui segala tetek bengek-nya bahkan baru kukenal ?

"Kau pasti tidak sendirian" sambungnya. Entah kenapa ia jadi terasa cerewet.

"Teman-teman dan guruku disana" aku menuding atas tebing. "Kau mau bertemu dengan mereka ?" Lanjutku.

"Untuk apa ?" Gadis itu balik bertanya.

"Emm, sebenarnya kau sangat hebat" aku mulai kesulitan bicara. Ia mengangkat satu alis. "Bagaimana ya ? Kau petarung yang tangguh, dan bahkan menguasai Hyoton. Kau juga...Dracovetth medis yang hebat" kataku sekenanya. Itu cukup membuatnya tersipu.

"Begitukah menurutmu ?"

"Sungguh" kataku mendadak yakin. "Kurasa akan sangat sangat berguna kalau kau mau ikut dalam petualangan kami mencari 'Dia', Sakura...chan..."

Aku tidak bisa mencegah mulutku melayangkan kata-kata itu begitu saja. Jiah, belum juga kenal satu menit, sudah menambahkan embel-embel –chan ?

Ia tersenyum kecil. "Kalau aku tidak mau ?" Selidiknya.

"Aku memaksa" jawabku sambil tersenyum asal. Kami-sama, sebenarnya aku tidak mau kami berpisah terlalu cepat setelah pertemuan tak disengaja ini...Ah, aku benar-benar naif.

Ia terdiam sesaat. "Baiklah kalau kau memaksa, Naruto" katanya akhirnya.

Yes.

"Ayo" ajakku bersemangat. Kami berdua mendaki tebing lalu berjalan ke arah perkemahan. Setelah kembali mengumpulkan kayu bakar, tentunya.

.

.

.

TANPA kami berdua sadari, mayat naga berkepala tiga (atau empat, satu di pantat) yang sudah mengeluarkan bau busuk dan dikira telah hilang nyawanya itu beregenerasi kembali, menumbuhkan kembali ketiga kepala utamanya dan kini ekor ularnya pun ikut tumbuh seperti sediakala. Ceberus mendesis, bersama dengan ularnya. Tak cukup sampai disitu.

"Ssshh...kita sudah menemukan dia..." desis kepala paling kiri.

"Haruskah kita ikuti dia ?" Sambung kepala paling kanan.

"Tidak perlu. Kau seperti tidak tahu saja rencana kita. Satu-satunya yang harus kita lakukan adalah melapor pada Madara-sama bahwa si pengendara kuning cerewet yang sok jagoan itu sudah termakan jebakan kita" sahut kepala tengah.

"Gadis merah jambu sialan, akan kucincang dia begitu ada kesempatan, huh" gerutu kepala paling kanan.


"Naruto-kun ! Akhirnya, kau ini kenapa kok lama seka..."

Suara Lee yang riang menyambutku langsung putus begitu melihat Sakura berjalan di belakangku, mengikutiku.

"Siapa ?" Dia memberi isyarat.

"Anggota baru" jawabku sambil terkikik.

Seluruh orang yang kukenal kini memandangku terkejut. Aku membawa satu orang tanpa seizin satupun dari mereka.

Terlebih dia perempuan.

"Semua, ini Sakura. Dia di hutan tadi, bertarung melawan seekor Ceberus. Kurasa dia sendirian, dan karena dia Dracovetth petarung dan medis yang sangat handal, jadi kupikir tidak ada salahnya dia ikut dalam tim kita" kataku memperkenalkan.

Jiraya mendekatiku lalu mengambil pedangnya. "Sedikit berkarat..." katanya setelah mengamati. "Kau ikut bertarung melawan Ceberus ?" Selidiknya curiga. "Api dan lendirnya itu korosif terhadap logam, walaupun hanya sedikit. Dan baunya minta ampun" jelasnya.

Aku menggaruk kepala sambil tertawa kecil. "Aku memenggal satu kepalanya. Dua sisanya Sakura yang lakukan. Kaki kananku pun sempat terbakar sampai batas mata kaki, tapi Sakura berhasil menyembuhkannya" lanjutku seadanya.

"Dasar Naruto. Jangan mentang-mentang kau pengendara Draco P kau bisa nekat dengan modal berani melawan naga seganas itu !" Seru Jiraya kesal. Sesaat kemudian, ia membekap mulutnya sendiri. Sepertinya ia mengira sudah keceplosan menyebut Draco P.

"Tidak apa-apa, Jiraya-sama. Saya sendiri yang berinisiatif bergabung bersama kelompok ini. Saya juga mengharapkan kedatangan 'Dia'. Akan sangat bagus jika dalam sejarah hidup saya ada bagian dimana saya menolong pengendaranya dengan segenap kemampuan saya" ucap Sakura berusaha menetralisir keadaan. "Naruto sudah mengenalkan dirinya sendiri sebagai pengendara dan saya percaya padanya" imbuhnya.

"Namamu Sakura ?" Selidik Lee tiba-tiba. Pertanyaan tidak bermutu, batinku. Atau ada maksud tertentu ?

Sakura mengangguk.

"Maksudku, hanya Sakura...atau ada...nama klan...atau marga..."

"Haruno. Haruno Sakura" gadis berambut pink itu segera mengoreksi.

"Yang kutahu sebagian besar marga Haruno berada di Hi no Kuni sebelah Timur. Bagaimana kau bisa ada di pengujung Barat seperti ini ?" Selidik Kakashi. Aku jadi merasa tidak enak pada Sakura karena ia tampak seperti sedang diinterogasi.

"Saya pengembara" jawabnya enteng.

"Jadi bagaimana, Jiraya-sensei, Kakashi-sensei ? Sakura bisa bergabung bersama kita kan ? Dia akan cukup berguna" pintaku penuh harap.

"Itu..."

.

BUM

.

"Hoi Chouji ! Kan sudah kubilang jangan menggunakan teknik rahasia klan-mu yang konyol itu kalau hanya sekedar mau mengambil makanan yang jatuh ke jurang !" Seru Ino setengah bercanda.

"Aku disini, Ino" cetus pemilik nama bertubuh gempal itu sambil mengunyah sebuah roti. "Aku tidak kemana-mana atau melakukan Baika no Jutsu dari tadi kok" sambungnya.

"Lalu ?"

.

Geraman pelan terdengar. Serasa begitu dekat. Karena memang dekat.

Hanya sepuluh meter di belakang kami. Seekor Gigantostoma berjalan dengan keempat kakinya dan mengendus udara. Aku maklum –karena untuk alasan yang tidak diketahui, naga raksasa itu menutup kedua matanya yang tampak kecil dibanding tubuh dan kepalanya.

"Dia tidak melihat, tapi mencium bau. Gigantostoma tidak peka pada bau kurang sensitif diantara bau menyengat, jadi pastikan kalian sedekat mungkin dengan api unggun" Kakashi-sensei berbisik tapi dapat kami dengar cukup jelas, karena suasana saat itu benar-benar hening.

Ia menyeringai. Gigi-gigi pelumat itu masih bersih, menandakan dia sudah lama tidak makan. Aku meneguk ludah. Jiraya dan Kakashi saling pandang, sepakat lalu mengangguk, melakukan handseal bersamaan.

Naga itu membuka mulutnya sedikit. Tapi, hembusan nafas keluar dari situ. Makin lama makin panas, hingga akhirnya sebuah lidah api hijau terang melesat liar dari mulut raksasa itu.

Tepat waktu ketika Jiraya dan Kakashi selesai. Dinding tanah raksasa langsung muncul dari bawah, menghalau serangan api itu dan memberikan waktu bagi kami untuk pergi.

"KEMASI YANG PENTING SAJA ! KALAU PERLU HANYA NYAWA !" Jiraya berteriak keras-keras.

"Jiraya-sensei ! Kakashi-sensei ! Kenapa naga itu menutup matanya ?!" Tanyaku tak kalah keras.

"Untuk alasan yang tidak diketahui, atau barangkali dia memang buta !" Jawab Jiraya sambil memberi isyarat ke naganya. Bryptops mengumpulkan cahaya hitam di mulutnya yang terbuka lebar, lalu setelah dirasa cukup, ia menunggu sampai...dinding tanah ninjutsu itu hancur diterjang tubuh besar Gigantostoma.

DUUUMMM... ! ! !

Naga coklat raksasa itu terpelanting beberapa puluh meter ke belakang karena serangan Bryptops yang tepat mengenai dadanya. Kulitnya terkelupas dan berdarah, lecet dimana-mana, tapi ia tetap bangkit dan balas menyembur. Kobaran api dengan cepat membakar semua yang bisa dibakar, dengan kata lain, semuanya, karena dimana-mana hanya ada kayu dan daun !

"Sakura !" Seruku. Aku mengulurkan tangan padanya yang sedang berlari cepat, sementara aku sudah diantas Gorongosa. Ia meraih tanganku dan kami berdua, eh, kami semua, selamat. Setidaknya untuk detik ini.

Naga itu bagai mengamuk. Dia terbang, seolah mengacuhkan semua rasa sakit yang ada dan menyembur kami dengan membabi-buta. "Hinata ! Gunakan serangan nagamu ! Pomona bisa menembakkan sari bunga api yang melumpuhkan walau sementara, kan ?!" Seru Kiba ditengah kebisingan. "Lakukan dan akan kudukung dengan semburan abu dari Ingenia-ku !" Lanjutnya. Hinata mengangguk.

Ia memosisikan naganya berhadapan dengan Gigantostoma raksasa itu, lantas menepuk tengkuk Pomona.

Suara berdesis terus terdengar, menandakan kumpulan jutaan serbuk bunga melayang dari mulut naga magis itu dan berusaha mengenai target. Tapi di luar perkiraan, Gigantostoma lebih gesit dari yang terlihat ! Ia dengan mudah menghindari semua serbuknya, seakan bisa melihat dunia sekelilingnya padahal kedua matanya jelas-jelas tertutup.

"Menyebalkan" gerutu Kiba. Naganya langsung menyemburkan asap tebal. "Pergilah, kutangani ini" perintahnya.

CLAK ! Ingenia mengatupkan mulutnya. Segera, asap tebal darinya berubah menjadi kobaran api raksasa, memerangkap Gigantostoma di dalamnya.

"Rasakan itu".

.

.

.

"Huh ?"

Masih tidak berpengaruh, naga raksasa itu mengepakkan sayapnya dengan cepat hingga menyingkirkan semua api di tubuhnya dan melesat berusaha mengenai Kiba dan naganya...Mulutnya yang seperti gua bersiap memakan mereka berdua...

BUUKKK

Tapi itu tidak akan pernah terwujud. Sebuah pukulan super mengenai bagian depan rahang bawah naga raksasa itu hingga membuat kepalanya terhuyung ke belakang dan ia kehilangan keseimbangan –dan langsung jatuh ke hutan dengan suara berdebum yang keras.

"SEKARANG, HINATA !" Sebuah suara yang kukenal berteriak keras-keras. Naga Hinata secepatnya menyemburkan serbuk bunga sebanyak mungkin hingga naga itu tidak bergerak lagi di bawah sana.

"Wow, Sakura benar-benar hebat" kagum Lee. "Dia menjatuhkan naga itu dengan satu pukulan ! Itu pukulan terkuat yang pernah kulihat" tambahnya.

"Tidak mengherankan. Pengembara memang selalu lebih tangguh daripada rumahan" timpal Sasuke.

"Kau menyindirku ya ?" Sambungku tersinggung. "Kau sendiri tak melakukan apapun !"

"Terserah bagi yang tersindir atau tidak" jawab Sasuke tak peduli.

"Fyuh, untunglah kau berpikir dan bertindak cepat, Sakura" ucap Hinata lega.

"Ini semua takkan berhasil tanpa bantuanmu. Pomona milikmu cukup gesit untuk bisa meliuk di bawah naga sebesar itu sehingga aku bisa mendapat tempat berpijak untuk melakukan pukulan tadi" balas Sakura ceria.

"Aku ragu dia sudah mati. Semua ! Kali ini, malam ini, kita akan terus terbang ! Kita tidak tahu naga atau ancaman apa lagi yang menunggu kita. Selain itu Gigantostoma ini mungkin akan terus mengejar kita lagi, jadi tetap buka mata kalian lebar-lebar dan pasang telinga baik-baik !" Seru Jiraya mengomando.

Aku meneguk ludah. Jika saja Sakura tidak bertindak cepat tadi, Kiba mungkin sudah masuk ke perut naga raksasa itu.

Semua orang, termasuk Sakura yang baru kukenal...

Mereka akan mengorbankan nyawa hanya untuk seorang anak manusia ?

Oya, bicara soal Sakura, apakah Kakashi-sensei dan Jiraya-sensei...

"Kerja bagus, Sakura. Kau kami terima di tim Paradox. Mohon kerjasamanya" Kakashi-sensei menyeletuk ditengah keheningan. Sakura membalasnya dengan senyum seperti biasanya.

"Terimakasih banyak, Kakashi-san. Saya akan berusaha semaksimal mungkin" sambutnya.

Atmosfer sekitar terasa jauh lebih hangat. Rambut pink sebahu itu berkibar diterpa angin, menyibakkan sepasang lensa bertabur ermeland yang berkilau di senja yang mulai menghilang. Wajahnya yang polos sekaligus tangguh menentramkan hatiku. Diam-diam, aku tersenyum. Untung saja tidak ada yang mengetahui ekspresi sembunyi-sembunyiku ini.

.

.

.

Lagi-lagi tanpa sepengetahuan kami, Gigantostoma yang sudah terkapar lemas di tanah yang telah kami tinggalkan ratusan meter...

...Membuka mata.

Memantulkan cahaya merah dengan pupil sempit berwarna hitam, dikelilingi oleh tiga tomoe berbentuk angka 9 (atau 6) yang kontras dengan latar belakang merah darahnya.

.

Sharingan.

.

.

.

Bersambung . . . . . . .


Author's Note (2):

Chapter 5 selesai ! Akhirnya Naruto bertemu seorang Dracovetth perempuan bernama Sakura. Meski begitu, identitasnya masih belum terungkap sepenuhnya ! Plus tingkah laku dan pembicaraan keluarga Uchiha soal kekuatan Sasuke, apa yang sebenarnya mereka maksudkan ?

Oke, saya tahu Ceberus adalah nama anjing iblis penjaga Neraka di mitologi Yunani, tapi tidak ada salahnya saya OC-kan dia sebagai naga dengan karakteristik serupa. Well, ukuran Ceberus di mitologi hanya sebesar sapi, sedangkan disini bisa sebesar gajah. Dua bersaudara Paradox dan Ortodox serta naga-naga dewa yang lain pun masih misteri, tapi akan saya singkap mereka sedikit demi sedikit !

Ehm, saya juga minta pendapat readers nih ! Gimana soal penulisan nama jutsu yang menggunakan huruf kanji ? Keren-kah ? Gaje-kah ? Kece-kah ? Atau malah bikin bingung ? Hehe, jika kalian suka nama jutsunya ditulis huruf kanji, akan saya teruskan, kalau tidak, saya akan pakai bold italic seperti mainstream saja.

Kembali saya ingatkan, jangan sungkan memberi review yach...Sesingkat apapun atau sesepele apapun itu akan sangat berguna, dan kalau-kalau kalian punya ide untuk fic ini, cantumkan saja ide itu. Saya juga sangat berterimakasih atas readers yang mau me-review Paradox ! Tidak ada yang bisa saya lakukan untuk membalas kebaikan kalian semua kecuali terus meneruskan fic ini !

See you again in chapter 6 !

-Itami Shinjiru-


-Dragons List in Chapter Five :

Styx (Naga OC, namanya diambil dari kata 'styx' dalam Bahasa Latin dan Yunani berarti 'setan')

Strength : Ekstrim

Ukuran : Panjang 13,6 meter, berat 6,6 ton

Kecepatan terbang : 40-290 km/jam

Spesial : Tanduk depan sebagai penyegel yang hebat, sekaligus mematikan satu atau seluruh pancaindera korban

Tipe serangan : Menembakkan api kuning berbau busuk yang melumpuhkan

Kategori : Dewa

Elemen spesial : -

Level bahaya : Death-see

Pemilik : Terikat kontrak dengan Uchiha Madara

Ceberus (Diambil dari mitologi Yunani Kuno tentang anjing iblis penjaga pintu Neraka)

Strength : Medium (untuk setiap kepala)

Ukuran : Panjang 5 meter, berat 600 kg

Kecepatan terbang : Tidak dapat terbang

Spesial : Tiga kepala, masing-masing kepala memiliki tiga jiwa

Tipe serangan : Menembakkan api hijau pekat berbau busuk, ludah beracun dan ekor ular beracun

Kategori : Cryptid

Elemen spesial : Racun

Level bahaya : Jauhi !

Pemilik : Tidak diketahui

PARADOX (Jika diterjemahkan, paradox berarti 'lawan asas' dalam Bahasa Inggris)

Strength : Abadi

Ukuran : Panjang kurang dari 15 m

Kecepatan terbang : ?

Spesial : ?

Tipe serangan : ?

Kategori : Dewa

Elemen spesial : ?

Level bahaya : ?

Pemilik : Rikudo Sennin, Senju Hashirama, Namikaze Minato

ORTODOX (Jika diterjemahkan, ortodox/orthodox berarti 'aliran pertentangan')

Strength : ?

Ukuran : ?

Kecepatan terbang : ?

Spesial : ?

Tipe serangan : ?

Kategori : Dewa

Elemen spesial : ?

Level bahaya : Death-see

Pemilik : Tidak ada (yang baru ditampilkan)