Permainan Terlarang
.
.
.
.
Vocaloid bukan milik saya, tetapi milik Yamaha Corporation etc.. Tapi cerita ini adalah milik saya sepenuhnya.
.
.
.
.
Chapter 3
.
.
.
.
Sekarang Rin berada di rumah sakit bersama Gumi, Gakupo, dan Len. Mereka ada di UGD karena luka Rin cukup parah dan membuat Rin koma. Dan mereka bertiga heran, mengapa Rin sampai koma cuma gara-gara kejatuhan lemari.
"Kenapa Rin bisa sampai koma? Dia kan cuma kejatuhan lemari …" kata Len.
"Iya, aku juga bingung! Kata dokter, kepalanya bocor …, padahal dia cuma ketajuhan lemari besi yang ringan!" kata Gakupo.
Gumi cuma diam. Dia berusaha mencari jawaban, mengapa luka Rin jadi parah dan membuatnya koma, padahal lemari besi yang menjatuhinya ringan. Dan … beberapa menit kemudian dia mendapat sebuah jawaban yang bisa dibilang tepat.
Mungkin karena permainan itu.
"A-aku tahu mengapa luka Rin jadi parah!" kata Gumi, membuat Len dan Gakupo menoleh ke arah Gumi dengan cepat.
"Kenapa, Gumi?!" kata Len dan Gakupo bersamaan.
"Mungkin ... karena permainan itu." kata Gumi, membuat Len dan Gakupo bingung.
"Hah? Permainan yang mana?"
"Itu, lho! Masa kalian lupa?! Permainan yang kalian mainkan dengan Luka dan yang lainnya, yang berupa ramalan kematian itu!"
Len dan Gakupo menelan ludah. Mereka baru ingat kalau mereka pernah memainkan permainan itu, dan baru ingat kalau isi ramalan Rin mirip dengan kejadian yang sekarang Rin alami. Dan di saat itu juga, elektrokardiograf yang terhubung dengan detak jantung Rin menunjukkan detak jantung yang kacau, kadang cepat dan kadang melambat bahkan hampir berhenti. Mereka pun panik dan memanggil suster dengan bel.
Tak beberapa lama kemudian seorang suster datang. Mereka segera bilang bahwa detak jantung Rin kacau. Suster itu memeriksa Rin sebentar, kemudian keluar ruangan untuk memanggil dokter. Suster itu tidak mengatakan apa-apa saat berada di ruangan itu, membuat Gumi, Gakupo, dan Len makin panik.
"Kok suster itu gak bilang apa-apa?" kata Len.
"Gak tau!" kata Gakupo. "Kan gawat kalo begini terus!"
Dan itba-tiba suasana bertambah kacau. Detak jantung Rin semakin lambat dan melemah.
"Eh, itu dia!" kata Gumi sambil menunjuk sang suster yang berjalan di belakang seorang dokter.
"Ada apa?" kata si dokter.
"Tadi detak jantungnya kacau! Sekarang makin lambat!" kata Len panik.
"Kalau begitu, kalian keluar dulu. Biar kami yang menanganinya." Kata dokter itu. mereka bertiga pun segera keluar dengan perasaan kacau.
.
.
.
.
"Gimana, nih? Sudah lebih dari setengah jam sejak dokter dan suster itu memeriksa Rin!" kata Len panik.
"Sudah, Len …, tenang!" kata Gumi. Gakupo mengangguk, dan tak lama setelah itu, dokter dan suster itu pun keluar dengan kabar … kalian pasti tahu.
"Bagaimana, dok?!" kata Len.
"Kami … menyerah. Dia terlalu lemah untuk hidup."
Mereka bertiga langsung syok. Dengan kata lain … Rin sudah mati.
Len segera memasuki ruang Rin dan menghampiri tubuh Rin yang sudah tak bernyawa itu dan memeluknya.
"Riiiin! Oh Riiiiin!" isak Len, begitu sedih karena ditinggalkan oleh saudari kembar kesayangannya. Dia terus meraung-raung dan tak terima atas kematian Rin.
Gumi dan Gakupo hanya dapat menghibur Len walaupun mereka juga ikut sedih. Tak lama kemudian Gumi berinisiatif untuk mengabari teman-teman mereka atas kematian Rin tersebut.
.
.
.
.
Pemakaman Rin telah usai dilaksanakan. Pemakaman ini penuh air mata. Karena Rin adalah adalah anak yang menyenangkan dan baik, maka teman-teman Rin sangat sedih atas kematiannya yang mendadak itu. Apalagi orang tuanya yang tinggal di luar negeri, mereka langsung pulang ke Jepan ketika tahu kabar bahwa Rin meninggal, karena mereka sangat syok dan sedih, terutama Len, karena Rin mati terlalu cepat.
Sekarang tersisalah Len, Gumi, Gakupo, dan Luka di depan makam Rin. Mereka sgudah berbaikan dengan Gumi. Dan sekarang mereka sedang merenung di depan makam Rin yang bersebelahan dengan makam Miku dan Kaito itu.
"Uh … kenapa mereka harus mati seperti ini, ya?" kata Gakupo. Mengingat kembali kondisi ketiga temannya saat mati, dimana beberapa bagian badan mereka hancur dan tak berbentuk lagi.
Sebenarnya Gumi ingin menyinggung soal permainan itu, tapi dia takut kalau mereka marah atau kembali bersedih.
"Mungkin karena kita banyak salah ..," kata Luka pelan.
"Salah apa kita, coba pikir?!" kata Len.
"Kita punya banyak kesalahan, Len!" Kata Gumi.
"Coba sebutkan satu-satu! Miku dan Kaito itu orang baik! Apalagi Rin!" kata Len tidak terima dengan kata-kata Luka dan Gumi.
"Manusia enggak ada yang enggak punya kesalahan!" kata Gumi.
"Tapi Rin tidak punya!" kata Len masih tidak terima.
"Len, sudah. Kalau Rin memang tidak punya kesalahan, berarti kematiannya disebabkan oleh kesalahan kita." Kata Gakupo. Len pun diam, karena dia lumayan setuju dengan kata-kata Gakupo.
"Apa kesalahan kita, Gakupo?" kata Len.
Kemudian Gakupo teringat akan permainan itu.
"Hm … mungkin karena … kita pernah memainkan permainan yang berupa ramalan kemtian itu? Mungkin ramalannya menjadi kenyataan?" kata Gakupo. Luka langsung bereaksi.
"Uh, lebih baik tidak usah membicarakan hal itu." kata Luka, kemudian dia membalikkan badannya, ingin pulang. "Ayo kita pulang."
Mereka menurut saja, tanpa tahu mengapa Luka menghentikan pembicaraan mereka.
.
.
.
.
Setelah berjalan lumayan jauh dari makam Rin, Len menoleh diantara ketiga temannya yang sedang bercanda ria—berusaha menghilangkan kesedihan mereka.
Di saat menoleh, Len mengucapkan sesuatu,
"Aku akan menyusulmu secepatnya, Rin."
.
.
.
.
Beberapa minggu setelah kematian Rin.
Mereka bertiga, yaitu Gumi, Gakupo, dan Luka sudah mulai melupakan kesedihan mereka akan kematian Rin. Tapi, Len masih berada di dalam zona kesedihannya. Akhir-akhir ini dia selalu murung dan menyendiri, sangat berbeda dengan Len yang selama Rin masih hidup selalu riang gembira dan selalu berkumpul dengan teman-temannya.
.
.
.
.
Hari ini, Len kelihatan lebih murung dari biasanya. Biasanya, jika dia ditanyai guru soal pelajaran, Len masih menjawabnya. Tapi kali ini, tidak. Saat ditanyai, Len malah terus diam dan melamun, seperti kehilangan semangat hidup.
Kemudian, Len jadi tidak bernafsu makan, dan benar-benar membuat Gumi dan kawan-kawan khawatir dan mengunjungi Len yang sedang berada di rumahnya sore ini.
"Len."
Len hanya menoleh ke arah Gumi.
"Len, kenapa selama ini kamu kelihatan murung?"
Len hanya diam. Pandangannya hanya tertuju ke arah vas bunga yang ada di meja ruang tamunya, tanpa mempedulikan Gumi.
"Len! Tolong jawab. Dan tolong, jangan buat kami khawatir. Biarpun kami bukan apa-apa bagimu … tapi kami tak ingin kau murung dan kelihatan seperti mayat hidup!" kata Gumi berapi-api, walaupun Len sama sekali tidak menanggapinya, pikirannya hanya melayang bebas di udara dan dia tetap memandangi vas bunga itu dengan nanar.
"Len, kenapa dari tadi kamu cuma natapin vas bunga itu? Gaje banget tau!" kata Gakupo sambil memukul pundak Len dengan cukup keras untuk menyadarkannya.
"Vas itu … Bunga itu … Rin … Rin …"
Gumi, Gakupo, dan Luka hanya saling tatap. Mereka sudah tahu apa penyebab mengapa Len selalu murung akhir-akhir ini—yaitu karena kematian Rin. Itu sudah pasti. Dilihat dari Len yang mulai menangis sambil terus menatap vas bunga yang berbunga lili putih yang mengingatkan mereka akan Rin—yang menyukai bunga lili putih.
"Len, tolonglah! Lupakanlah Rin! Lupakanlah kematiannya! Jangan terus-terusan meratapi kematiannya itu! Kami mohon, Len!" seru Gumi sambil mengguncang tubuh Len. "Kami mohon … lupakanlah Rin … jangan terus-terusan murung karenanya … kami yakin Rin akan sedih jika dia tahu bahwa kamu jadi begini setelah dia meninggalkanmu!"
Beberapa detik kemudian, suasana menjadi hening. Dan kemudian, Len langsung menoleh ke arah Gumi dan yang lainnya dengan tatapan yang jelas berbeda dari tatapan Len yang biasanya—dipenuhi kesedihan dan kebencian.
"Kalian … bisakah kalian diam … DAN PERGILAH DARI RUMAH INI!" seru Len sambil menendang meja yang ada di depannya, membuat vas bunga itu pecah berkeping-keping. Meja itu terbuat dari kaca juga, sehingga meja itu juga ikut pecah dan hancur. Mereka bertiga hanya melihat kejadian tadi dengan tatapan tidak percaya—karena Len sangat brutal kali ini.
"PERGI! PERGI KALIAN SEMUA! ENYAHLAH DARI RUMAHKU!" seru Len sambil melemparkan semua barang yang ada di ruang tamu keluarganya ke arah Gumi, Luka dan Gakupo. Untunglah dia hanya tinggal bersama Rin—dan sekarang sudah tinggal sendiri. Dan untung saja lemparannya tak mengenai Gumi atau yang lainnya karena mereka gesit menghindar.
Karena Gumi, Luka dan Gakupo takut Len akan mengamuk lebih dari ini—bahkan sampai melukai mereka, jadi mereka memutuskan untuk keluar dari rumah Len.
"Bagus! Enyahlah dari sini!" seru Len dengan wajah senang yang menakutkan ketika Gumi, Luka dan Gakupo keluar dari rumahnya.
BLAM!
Gumi, Gakupo, dan Luka tidak langsung pulang. Mereka memutuskan untung mengintip Len dari jendela yang ada di ruang tamu rumah Len. Terlihat kalau Len sedang duduk di atas pecahan kaca yang berserakan dan membuat kakinya terluka dan sedikit berdarah—dan mereka baru sadar kalau Len sedang menangis tersedu-sedu sambil memeluk bunga lili putih tadi. Biarpun bunga lili putih itu sudah hancur karena terkena pecahan kaca dan tertimpa puing-puing meja itu, Len tetap memeluknya. Ketiga temannya itu hanya dapat melihatnya dengan perasaan iba, kemudian memutuskan untuk pulang saja.
.
.
.
.
Besoknya, Gumi, Gakupo, Luka dan teman-teman Len yang lainnya dibuat gempar sekaligus senang karena Len yang kemarin murung, kini telah ceria. Karena keceriaan Len yang telah kembali, Gumi, Luka dan Gakupo pun memutuskan untuk mendatangi Len yang sedang berada di kelasnya untuk menanyakan apa yang terjadi padanya sehingga dia menjadi ceria lagi, padahal kemarin sore dia mengamuk seperti sedang kesurupan.
"Len!" kata Gumi, diiringi Luka dan Gakupo.
"Ya, Gumi-san? Apa kabar? Oh iya, Luka-san dan Gakupo-san juga, apa kabar?" kata Len, dengan raut wajah ceria.
"Baik, Len!" jawab mereka serentak. "Oh iya, yang kemarin—"
Maafkan aku soal yang kemarin ya, Gumi-san, Luka-san, Gakupo-san!" kata Len sambil membungkukkan badan ke arah mereka.
"Eh, gak papa! Asal kamu jangan melukai kami saja … lagipula kami mau nanya, mengapa kamu sampai segitunya kemarin? Lalu kenapa kamu begitu ceria—seperti dulu kala—hari ini?" kata Gakupo.
"Kemarin kau terlalu sedih karena Rin. Aku sangat sedih. Aku ingin mengenangnya sendirian kemarin, makanya aku mengusir kalian. Maafkan aku! Kemudian, aku jadi ceria lagi karena aku sudah mengikhlaskan Rin, dan ingin membuatnya senang dengancara mengikhlaskan kepergiannya itu." kata Len.
"Sudah kami bilang gak papa kok. Baguslah, kamu sudah belajar ikhlas!" kata Gumi.
Len hanya tersenyum dan mengangguk.
"Oh iya, kami ke kelas dulu ya!" kata Gakupo. "Dah!"
"Dah!" kata Len. Dia pun menyaksikan ketiga temannya itu berjalan menjauh.
Uh, rasanya dia merasa bersalah karena telah membohongi mereka … soal keceriaannya yang kembali itu.
Sebenarnya, Len punya alasan lain atas kembalinya keceriannya itu.
Yaitu, Len merasa sudah sangat dekat dengan Rin.
.
.
.
.
Len menaruh sebuket bunga lili putih di atas makam Rin. Ya, dia sedang mendatangi makam Rin untuk sekadar menaruh bunga baru. Walaupun hanya begitu, tapi Len sempat meneteskan air mata ketika dia menaruh bunga itu, teringat pada sosok Rin yang begitu disayanginya.
Len pun berdiri. Dia menarik napas panjang, berjalan menuju pintu gerbang pemakaman. Sebelum sampai di pintu gerbang tersebut, Len sempat menoleh ke arah tanah kosong yang ada di sebelah makam Rin.
"Hmph … jika aku mati, mungkin aku akan dikuburkan di sana."
Len pun berbalik lagi dan keluar dari pemakaman itu. dan entah kenapa dia langsung terbayang akan pemakamannya nanti.
"GYAAAA! TOLONG! ADA PEMBUNUH!"
Tiba-tiba orang-orang berteriak panik seperti itu dan berlarian dari suatu gedung. Mereka berlari terbirit-birit seperti ada pembunuh yang sedang mengejar mereka. Len pun menoleh ke arah yang orang-orang tersebut jauhi.
Ternyata benar. Ada seorang lelaki dengan seringai mengerikan sedang memegang kapak dan berlari mengejar mereka. Namun, lelaki tersebut segera melihat ke arah Len.
"Hahaha! Anakku … kemari …" panggilnya. Dia berjalan dengan pelan ke arah Len dengan seringai mengerikan yang masih terkembang, membuat Len merinding.
Len langsung teringat akan psikopat yang sedang buron akhir-akhir ini. dan kemungkinan … itulah psikopatnya!
Saking takutnya, Len tak bisa berlari, dia hanya dapat mundur beberapa langkah dari psikopat itu.
"Heheheh … anakku …, ini tak sakit …"
Len benar-benar merinding. Dia membeku, tak bisa bernapas apalagi bergerak. Dia benar-benar takut!
Kapak itu sudah diangkat tinggi-tinggi dari tubuh Len. Len hanya gemetar dengan keringat dinginnya. Beberapa orang yang melihatnya beberapa kali mengatakan untuk lari, tapi Len tak bisa. Kakinya seolah terkunci.
Len benar-benar pasrah ketika kapak itu turun dengan cepat, membelah tubuhnya menjadi dua bagian. Sakitnya memang luar biasa, tapi rasa sakit Len telah sirna ketika …
… dia teringat akan senyuman Rin, orang yang akan ditemuinya sebentar lagi.
.
.
.
.
To be continued …
.
.
.
.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Halo … hanami-nyan akhirnya meng-update chap baru setelah sekian lama … habis, saya dirantai PR sama tugas sekolah sih …, jadi saya enggak bisa ngelanjutin fanfic multi-chap ini dengan cepat. Tapi kan ini sudah update, jadi kalian harus senang!
Dan kemudian, chap 4 mungkin akan di-update beberapa minggu lagi, soalnya dalam waktu dekat ini saya sudah ulangan semester. Jadi, ini terakhir kalinya hanami-nyan meng-update fanfic sebelum ulangan semester. Doakan moga hanami-nyan dapet ranking lagi dan tetap satu kelas sama best friend saya! —agar saya termotivasi untuk ngelanjutin fanfic ini dengan cepat—
Ya … sekian dan terima kasih. Wassalamualaikum wr wb. Dan … mind to review?
